
🌷🌷🌷
Readers Tercinta, mohon maaf jika masih banyak tipo karena Auto teks ataupun murni salah ketik.
Semoga tetap bisa menghibur.
🌷🌷🌷
Selamat membaca
...........
Episode sebelumnya
“Terimaksih atas waktunya mas. Mohon maaf jika nanti saya dalam berbicara agak kurang sopan atau sedikit emosi pada menantu saya. Langsung saja, Fanani… kamu itu lelaki atau bukan? Kenapa selama ini menggantung nasib istrimu tanpa kejelasan. Bahkan tidak ada itikat baik sama sekali yang kamu tunjukan, selama istrimu dirumahku tak sekalipun kamu mau menjenguk untuk menanyakan kabarnya atau mengajak dia kembali padamu. Sampai Winda mengajukan gugatan cerai pun kamu tidak memberikan respon, sekarang juga bapak minta kamu mau menandatangani gugatan cerai istrimu sekarang juga…!!!” kata ayahnya Winda.
Â
@@@****>>>>?????
…………
Episode ini
******
Fanani tak berani menatap wajah mertuanya, dia hanya tertunduk saat mertuanya memarahi dia.
“Maafkan Fanani pak, Fanani sudah mengaku salah. Fanani bingung mau bagaimana kemarin. Maunya jemput Winda pulang kerumah tapi takut karena Winda bilang gak mau tinggal dirumah orang tua saya.” Kata Fanani pada ayahnya Winda.
“Siapa yang mau mas, jika disana Winda hanya menjadi bahan bullyan keluargamu. Setiap hari selalu mereka salahkan, mending ngomong baik baik sama Winda tapi malah ngomong ke tetaangga. Yang katanya Winda mantu gak tahu diri lah, ipar yang pelit lah. Lah memang Winda harus bagaimana bersikap ke mereka sajaWinda sampai bingung. Ngomong dibilang cerewet gak ngomong dibilang angkuh. Ngerjain kerjaan rumah dibilang caper diem dikamar dibilang males. Ya mana Wind bisa betah tiap hari dibegitukan.” Ucap Winda mengeluarkan emosinya, aku hanya diam mendengarkan saja.
“Iya aku tahu, kan sudah aku usahakan cari kobtrakan buat kita tinggal berdua juga Win ?” ucap Fanani.
“Memang, mas nyari kontrakan tapi adik adik mas juga tetep saja ngrecokin rumah tangga kita. Yang katanya mending uang yang buat sewa rumah buay yang lain lah mana yang bilang kalo tinggal sendiri lebih boros karena Winda gak pinter masak. Katanya Winda hanya jajan melulu. Padahal mana pernah winda jajan sendiri ? kalopun Winda jajan juga pakai uang hasil Winda nyari sendiri, masih saja mereka bilang Winda bisanya ngabisin duit suami. Mas diajak tinggal dirumah Winda mereka bilang gak pantas suami numpang dirumah istri. Sebenarnya mau mereka itu apa. Mending mas punya sikap. Mas juga asal mengiyakan aja apa yang mereka bilang. Gak pernah kroscek dulu ke Winda.’ Seru Winda sambil menangis mengeluarkan semua keluh kesahnya kepada Fanani.
“Aku hanya gak mau ribut dengan keluargaku WInda, jadi aku memang banyak mengalah.” Jawab Fanani.
“Winda juga gak berharap kamu ribut dengan keluarga kamu mas, tapi jangan asala mengiyakan semua omongan mereka. Jika perlu bilang tidak ya harus bilang tidak, karena Winda yang jadi korban kalo mas selalu bilang iya pada mereka. Mereka bilang Winda begini begitu, mas jadi suami harus bisa bilangin Windaa. Mas Asla bilang iya saja, sedikitpun gak pernah  belain Winda meski Winda gak bersalah.” Protes Winda.
Aku jadi sedikit lebih bisa menduga sumber permasalahan mereka adalah ego kedua belah pihak. Disamping ada sedikit factor lain yang salah satunya adalah ketegasan Fanani dan kesetiaan Fanani yang kurang.
“Sekarang gini aja Fan, kamu masih mau lanjut dengan Winda istrimu atau mau berpisah. Semua ada konsekuensinya, jangan hanya digantung begini nasib Winda. Kalo mau pisah segera kabulkan gugatan cerai Winda, jika masih terus jaga perasaan Winda istrimu. Jangan sampai selalu disalahkan keluargamu, jika Winda berbuat salah itu kamu harusnya kamu yang menasehati dan membimbing. Karena istrimu itu tanggung jawabmu.” Ucap ayahnya Winda.
Suasana menjadi hening sejenak, Fanani bingung untuk menjawab ayahnya Winda mertuanya.
“Maaf pak, saya pinginya terus membina rumah tangga dengan Winda. Dan saya sudah mengakui kesalahan saya tadi, tapi saya juga minta kepada Winda agar bisa rukun dengan adik adik saya.” Kata Fanani.
“Winda gak keberatan mas kalo seandainya adik adikmu itu bisa menghargai aku sebagai kakak iparnya. Bukan menganggap Winda sebagai musuh atau orang yang merebut perhatian kamu dari dia. Sehingga adik adikmu selalu mengumbar kekurangan Winda, bahkan mengatakan sesuatau yang jelek dan tidak nyata tentang Winda.” Ucap Winda.
“Mereka itu masih anak anak winda, jadi ku harap kamu bisa memaklumi mereka. Kilah Fanani.
“Mereka bukan anak anak lagi mas, Winda kira mereka sudah cukup dewasa untuk bisa bersikap. Hanya sifat mereka yang kekanak kanakan karena sebelumnya mas selalu manjakan. Sehingga ketika Winda disana mereka merasa Winda telah merebut perhatian kamu dari dia.” Ucap Winda.
“Kalo begitu sekarang kita butuh komentar dari orang lain, maaf mas menurut mas permasalahan mereka itu bagai mana ?” Tanya Ayah Winda padaku.
“Sebelumnya saya mau bertanya dulu satu persatu dengan Fanani dan Bu Winda. Dari Fanani dulu saja. Kamu mmasih cinta dengan istrimu ?” tanyaku pada Fanani.
“Sbenarnya masih Pak !” jawab Fanani.
“Jangan sebenarnya yang pasti saja, masih cinta atau tidak ?” tanyaku menegaskan.
“Masih pak.” Jawab Fanani.
“Ok, masih Cinta ya. Tahan dulu gak usah ditambahin kalimat lain. Sekarang bu Winda, masih cinta gak dengan suaminya ?” tanyaku.
“Masih pak, tapi…!?” jawaban Winda ku potong.
“Cukup gak usah pakai tapi dulu intinya sama masih saling cinta kan ?” tanyaku untuk Fanani dan Winda.
“Masih pak.” Jawab keduanya kompak.
“Nah itu kata kunci kalian masih saling Cinta. Sekarang bu Winda lagi, masih mau kembali jadi istrinya ?” tanyaku pada WInda.
“Masih Pak.” Jawab Winda.
“Fanani masih mau menjadi Suami Winda ?” tanyaku untuk Fanani.
Masih pak dan saya berharap begitu.” Jawab Fanani.
“Baik, sekarang apa yang menjadi penghalang kalian untuk bersatu menjadi suami istri lagi. Tolong dari bu Winda dulu silahkan jawab.” Tanyaku.
“Winda mau kembali jadi istri mas Fanani jika, mas Fanani tidak selalu mementingkan adik adiknya dari pada saya. Dan berjanji tidak berhubungan dengan mantan pacarnya lagi. Itu sja pak.” Jawab Winda.
“Ok, kalo Fanani bagaimana ?” tanyaku pada Fanani.
“Saya hanya ingin Winda rukun dengan kelurga saya pak, soal permintaan Winda yang lain saya gak keberatan. Maaf waktu saya janjian dengan mantan pacar saya itu juga karena Winda lama dirumah orang tuanya gak menjalankan kewajiban sebagi istri.” Jawab Fanani.
“Ya sudah cukup, gak usah dikomentari dulu bu Winda. Biar nati saya yang menjawab.” Kataku melihat Winda sudah mau angkat bicara.
Kemudian aku melanjutkan perkataanku setelah sejenak merenung mencar inspirasi kata yang tepat untukmenyimpulkan masalah ini.
“Jadi menurut saya begini,
Pertama kesimpulan yang bisa saya ambil adalah kalian masih saling mencintai.
__ADS_1
Kedua masih sama sama berharap kembali menjadi pasangan suami istri.
sebelum saya lanjut apakah kesimpulan saya ini disepakati. Kalian berdua dan mungkin juga Pak Hendro mau mengoreksi silahkan pak.” kataku mempersilahkan Ayahnya Winda.
“Saya sudah sepakat mas dengan itu, kemudian apa lagi yang dapat disimpulkan ?”
“Baik saya lanjutkan, jika semua sudah sepakat dengan kesimpulan yang tadi.
Munculnya masalah antara kalian berdua adalah karena pihak ketiga.
Yaitu adik adik Fanani, mantan pacar Fanani dan maaf mungkin juga termasuk Om nya Winda yang kemarin itu ikut memperuncing keadaan.” Kataku.
“Maaf pak, apakah adik adik saya dianggap orang lain ?” Tanya Fanani.
“Dalam hal urusan rumah tangga, saudara bahkan dalam hal tertentu yag sifatnya Privasi suami istri orang tua pun bisa dianggap orang lain.” Jawabku pada Fanani.
“Kok bisa begitu pak, bukankah orang tua kita itu harus di hormati ?” protes Fanani.
“Betul, tapi maksutku bukan kita menganggap mereka orang lain yang artinya tidak mengakui hubungan darah kita. Tapi lebih kepada menjaga Privasi suami istri. Meskipun pada kakak kandung, adik kandung bahkan orang tua kandung sekalipun tetap ada zona privasi suami istri.” Jawabku pada Fanani yang kayaknya belum puas dengan jawabanku.
“Lah kalo dengan saudara kandung apalagi orang tua kandung bgaimana kita bisa mengatakan itu hal privasi ?” Tanya Fanani masih protes.
Mungkin memang aku harus berbicara vulgar agar Fanani paham ini, pikirku.
Ini aku terpaksa berbicara vulgar biar kamu faham Fanani, sebagai contoh ni, maaf ya bu Winda juga jangan anggap saya bicara kurang ajar dan tidak senonoh. Kalo kalian lagi bercinta malu gak dilihat saudara kandung atau orang tua kandung ?” tanyaku pada Fanani.
“Ya gak maul ah pah pastinya malu kalo begitu.” Jawab Fanani.
“Ya itu maksutku, dengan orang tua kandungpun tetap ada batas zona privasi. Apa lagi dengan saudara kandung zona privasinya lebih luas lagi. Terlebih bukan saudar dan mantan pacar misalnya, kalo kamu punya masalah dengan istrimu kemudian kamu curhat dengan wanita lain itu sama saja kamu membuka aib kamu dan istrimu. Mending jika orangnya gak punya motif lain. Coba kalo seperti mantan kamu yang muungkin memang masih suka sama kamu. Pasti di bumbuin biar kamu gak rukun dengan istrimu. Begitu juga dengan bu Winda kalo curhat ke orang lain bisa jadi di tumpangi kepentingan pribadi. Dalam hal kayak gini yang pas diajak curhat adalah orang tua, yang sudah pasti akan mencari jalan terbaik buat ankanya. Dalam ini bisa gak masuk zona privasi jka yang masuk adalah orang tua.” Kataku panjang lebar menjelaskan pada Fanani.
Fatimah sempat menyenggol aku ketika memberikan contoh dengan bahasa bercinta tadi. Aku saar mungkin itu masih dianggap tabu bagi sebagian orang, namun ketika memang harus dengan memberikan contoh ucapan seperti itu mau bagaimana lagi.
“Terus saya sebaiknya bagaimana pak ?” Tanya Fanani.
...“Kamu dan Winda masih saling Cinta, dan sama sama masih ingin melanjutkan tali pernikahan kalian. Maka rujuklah kalian, buka lembaran baru hapus lembaran lama. Hindari intervensi dari orang luar meski itu saudar kandung. Karena orang jawa bilang maaf istilahnya agak jorok ya,...
...Sedulur ki nek cedak mambu Tai, nek adoh mambu wangi....
...Yang artinya saudara itu kalo deket bau kotoran ( yang tampak kejelekanya ) dan kalo jauh bau wangi ( yang terkenang adalah kebaikanya.)...
Â
Itu sudah terbukti. Jadi menurut pendapatku. Kalian rujuk, hiduplah berdua dulu satu rumah. Jika kangen boleh berkunjung ke keluarga Fanani dan keluarga Winda juga. Tujukan kalian itu Suami istri yang harmonis. Ada masalah selesaikan berdua, jangan sering mengadu. Pahit telan sendiri kalo manis kabarkan ke keluarga. Maka orang gak akan berani intervensi pada kalian.” Penjelasanku panjang lebar kepada Fanani dan Winda.
“Saya setuju mas dengan pendapat dan kesimpulan yang mas ambil. Saya sebagai orang tuanya Winda tentu juga tidak ingin anak saya berstatus janda yang akan jadi pembicaraan masyarakat. Apa klagi janda cerai hidup image yang ada pasti buruk namun saya juga tidak ingin anak saya menderita jika dibully saudara saudara Fanani. Saya juga baru ingat ada pepatah jawa seperti yang mas bilang tadi, dan itu memag benar adanya seperti itu.” Ucap ayahnya Winda.
“Alhamdulillah, jadi saya rasa semua sepakat mereka rujuk dan Fanani harus cari tempat tinggal sendiri, mau kos atau aapapun silahkan. Anggap saja ini bulan madu kalian yang kedua.” Candaku.
“Mas iiih di dengerin beneran sama orang ujung ujungnyya pasti pakai bercanda.” Portes Fatimah istriku.
“Ha ha ha mas ini bisa juga bercanda, gak papa mbak malah menghilangkan suasana tegang kok.” Kata ayahnya WInda.
“Tapi ya gak setiap saat kali mas, ada waktunya serius juga.” Protes istriku.
“Iya, kan tadi udah seriusnya dan ini sudah sepakat mereka rujuk lagi. Jadi sedikit bercanda gak papa kali.” Kataku menggoda Fatimah istriku.
“Iya mas bener bener, saya jadi sadar jika candaan itu juga perlu.” Kata Ayah Winda.
“Betul pak, bahkan kita sebagi umat Islam juga perlu tahu bahwa junjungan kita Nabi Muhammad Saw dulu juga sering bercanda. Bahkan dengan para sahabatnya termasuk dengan Menantu sekaligus Sahabatnya Ali ibnu Abi Tholib.” Kataku pada mereka.
“Masak sih mas, mungkin bisa diceritakan pada kami biar kami tahu. Soalnya selama ini dengerin ceramahatau pengajian iti kesanya spaneng atau sangat serius.” Pinta Ayah Winda.
“Kalo say bukan penceramah pak jadi gak bisa ceramah, bisanya ya Cuma ngobrol santai begini saja. Tapi kalo mau denger cerita itu gak papa pak saya ceritakan.” Kataku.
“Gimana mas ceritanya, mungkin juga perlu anak dan menantu saya dengar.” Kata Ayah Winda.
“Jadi dulu Nabi Muhammad itu sering banget bersenda gurau dengan para sahabtnya. Suatu ketika para sahabat sedang menghadap Nabi dan mereka dijamu dengan kacang. Ketika makan kacang Menantu beliau Ali ibnu abi Tholib ketika mengupas kacang kulinya ditaruh di depan nabi. Kemudian Sahabat Ali berkata. Yaa rasulullah rupanya anda lapar sekali, makan kacang habis banyak banget, itu kulitnya sampai segitu. Kemudian Nabi gak mau kalah dan menjawab, iya Ali aku memang lapar tapi kalo kamu malah Rakus. Kenapa yaa rasulullah, Tanya Ali bin Abi tholib. Itu kamu makan kacang kulitnya kamu telan, gak ada kulit kacang didepan kamu. Jawab Rasulullah Muhammad Saw. Spontan para sahabta juga tertawa terbahak bahak. Begitu pak salah satunya dan masih banyak lagi sebenarnya cerita candaan nabi Muhammad Saw.” Ceritaku dan membuat semua ikut tertawa, termasuk fanani dan Winda.
Alhamdilillah maslah satu sudah terselesaikan, batinku.
Kemudian Winda dan Ayahnya pamit pulang, ada suasana haru tatkala Winda berpamtan pada suaminya.
“Mas, maafkan Winda juga bersalah. Winda tunggu mas jemput untuk kita bisa bersama lagi. Dan kita mulai hidup baru. Carilah tempat kos, biar sederhana gak papa yang penting kita bisa berdua saja tidak dicampuri orang lain urusan pribadi kita.” Kata Winda.
Fanani pun haru dan memeluk istrinya, ya memang mereka masih suami istri yang Syah. Akhirnya winda dan Ayahnya berpamitan dan aku hantarkan sampai kedepan pintu rumah.
“Sudah puas Fan sekarang ?” tanyaku pada Fanani sepeninggal istri dan mertuanya.
“Sudah pak, terimakasih banyak.” Kata Fanani.
“Gak cukup makasih saja dong, kamu bayar biasa konsultasi dan mediasi.” Gurauku pada Fanani. Sebenarnya aku dan Fatimah juga lebih lega karena Tidak ada lagi pengganggu Khotimah yang akan dipinang Cabdra nanti.
“he he he iya pak dengan apa saya harus membayar ?” Tanya Fanani.
“Dengan kamu besuk cari kontrakan dan segera boyong istri kamu. Setelah itu kamu tugas disini siang hari saja malam kamu temani istri kamu. Biar nanti aku sampaikan ke pak Yadi. Toh dua orang juga kurasa cukup.” Kataku pada Fanani.
“Siap pak, segera saya kan boyong istri saya, rumah yang dulu saya sewa juga masih masa kontraknya.” Jawab Fanani.
“Klo begitukamu bersihkan dan kamu atur dulu ruanganya, biar saat kamu boyong Istrimu terkesan suasan Romantis.” Kataku.
“Alaaah mas ini sama Fatimah aja dulu gak gitu.” Protes Fatimah.
“Kalo kita kan sudah Romantis forever gak perlu kayak gitu.” Jawabku.
“Huuu dasaaar…!” ucap Fatimah.
__ADS_1
Aku dan Fatimah masuk kerumah, sebentar lagi masuk waktu dhuhur nih, batinku.
“Buat makan siang masak apa hari ini ?” tanyaku pada saat sudah diruang tamu.
“Memang laper mas ?” Tanya Fatimah.
“Ya laper lah, kamu jjuga harus makan yang banyak kan buat dua nyawa sekarang.” Ucapku pada Fatimah.
“Iya mas, o iya Susu utuk ibu hamil sudah hampir habis loh. Mas kapan mau beliin lagi, sekalian nitip kebutuhan wanita ya ?” kata Fatimah.
“Apaan itu ?” tanyaku pada wanita.
“Stok pembalut udah hampir habis, buat persipan kalo khotimah dan Isti dapet tamu nanti.” Kata Fatimah menggodaku. Karena tahu kalo aku paling males dimintai tolong beliin kayak gitu.
“Ogaah biar mbak surti aja besuk, masak cowok beli kayak gituan…!” gerutuku.
“Sekali sekali gak papa kali mas, nanti kalo Fatimah ngelahirin selama masa nifas kan butuh gituan banyak juga mas.” Ucap Fatimah.
“Kan bisa minta tolong titip mbak Surti ibunya Amir, aah kamu ini ada ada aja deh.” Kataku sambil manyun.
Tiba tiba Isti dtang ikut gabung langsung komentar.
“Aah kalian ini bentar ribut bentar romantic apa sih yang diributin ?” tanya Isti.
“Gak kok Is, biasa aja Fatimah tuh lagi pingin manja aja.” Jawabku asal.
“Owh kirain, tu makanan dah siap mo makan siang sekarang apa nunggu dhuhur. Awas gak usah bilang sholat nomer dua lagi.” Ucap Isti mengancamku.
“Gaak iih curigaan amat sih, tapi aku mang dah laper nih. Makan sekarang aja yuk bareng bareng nanti terus sholat dhuhur. Mang masak apa Is hari ini ?” tanyaku pada Isti.
“Ibu tadi minta sayur lodeh, terus Khotimah goreng tempe sama biki perkedel.” Jawab Isti.
“Wah cocok nih, jadi makin laper saja nih. Yuuk makan sekarang saja.” Ajaku pada Fatimah dan isti.
Kemudian kami makan siang bersama, termasuk ada Amir dan Heri disitu juga ikut makan bareng.
Selesai makan bersama, Heri tiba tiba membuka obrolan.
“Maaf pak, saya mau bicara sebentar disini gak papa ?” Tanya Heri.
“Rahasia gak, kalo gak rahasia disini saja gak papa.” Jawabku.
“Ini soal pa Margono yang sekarang ditahan di kantor polisi pak !” kata Heri.
“Yaudah bilang saja, kenapa dia ?” tanyaku pada Heri.
“Kemarin pas saya kepasar beli pupuk, saya mendengar kalo saudar pak Margono datang dari Jakarta. Kemudian dia berencana mau mengurus agar pak Margono dikeluarkan dari penjara. Apapun caranya akan dia tempuh katanya. Karena dia gak Terima kakaknya dipenjara, hanya gara gara maslah sepele katanya.” Kata Heri menjelaskan.
“Ya biarin saja itu kan urusan dia dengan polisi bukan dengan kita.” Jawabku.
“Tapi pak kemarin katanya dia marah marah di dusun, semua perangkat dusun dimarahi katanya ngurus begituan saja gak becus. Sampai kakaknya masuk penjara, terus dia juga menyebut nama bapak dan menjadi target yang akan dibuat perhitungan. Karena telah melukai pak Margono, dan dia akan menuntut balas.” Kata Heri menambahkan.
“Udah biarin saja, aku kenal siapa adik margono itu, dulu pernah satu sekolah denganku. Mungkin dia gak tahu saja kalo yang disebut yasin itu adalah aku teman sekolahnya dulu.” Jawabaku.
“Kalo gak serahin ke aku saja Zain, biar gentian aku yang menghajar dia. Kemarin tanganku juga sudah gatal sebenarnya.” Kata Rofiq.
“Gak usah bang, gak usah diladenin percuma sama orang begitu. Besuk juga aku berniat mencabut poerkara itu kok. Sudah cukup member pelajaran pada mereka kayaknya.” Kataku menenangkan Rofiq.
Tib tiba kami dikejutkan dengan suara kaca jendela depan yang dilempar batu. Apakah itu Marjuni adiknya Margono pikirku. Harusnya dia tahu kalo ini rumahku, tiba tiba terdengar ribut perang mulut diluar antara Ardian,Fanani melawan orang yang suaranya cukup asing. Kayaknya bukan Marjuni adiknya Margono, batinku. Siapa dia berani amat membuat onar apa gak tahu disin baru diawasi polisi jaga juga.
Kalo gak tahu berarti dia bukan orang sekitar sini, taopi siapa dia ?
“Semua disini saja, biar aku sama Bang Rofiq yang keluar. Itu bukan adiknya Margono aku hafal suara adiknya Margono.” Kataku.
Kemudian aku keluar rumah bersama Rofiq, aku dan Rofiq jadi kaget melihat siapa yang bikin onar di depan rumahku.
“Kamu ngapain bikin ribut disini haa…!” bentak Rofiq pada orang itu.
“Diam kamu Rofiq. Kamu pikir aku takut kepadamu ? apa kamu gak inget pernah kuhajar waktu itu ?” jawab orang itu. meski sudah dipegangi fanani dan Ardian tapi maih saja berkoar koar.
“Biar aku yang bicara bang, dia juga pasti ingat aku kok.” Kataku pada Rofiq.
“Kamu mau ngapain bikin ribut disini, apa masih kekurangan lahan buat cari duit. Masih ingat aku juga kan, apa pingin kepalamu mau aku bikin tambah pitak lagi ?” tanyaku pada orang itu yang ternyata aalah orang yang pernah menghajar Jendul kemudian aku pukul kepalanya dengan kayu. Tapi apa urusanya dia kesini.
“Lo si Zain kan, ngapain juga lo disini. Aku mau cari orang yang bernama Yasin disini, yang katanya jagoam kemarin menghajar abang dari sahabatku.” Kata orang itu yag berjuluk si Pitak. Karena kepalnya penuh pitak karena bekas luka.
...bersambung...
Terimakasih atas dukungan dari Readers semuanya.
Komentar readers semangat Author
Author akan berusaha terus memperbaiki, bahasa retorika dan lainya.
Semoga dapat menghibur Readers semua.
...Jangan lupa dukungan berupa :...
...Like...
...Komen...
...&...
...Vote nya...
__ADS_1
...Terimakasih...
...🙏🙏🙏...