
🌷🌷🌷
Readers Tercinta, mohon maaf jika masih banyak tipo karena Auto teks ataupun murni salah ketik.
Semoga tetap bisa menghibur.
🌷🌷🌷
Selamat membaca
...........
Episode Sebelumnya
Belum jadi aku menceritakan terdengar suara jeritan Khotimah seperti kesakitan.
Semua langsung menuju ketempat suara Khotimah menjerit.
Semua terkejut, melihat Khotimah memandang yang mendekatinya dengan tatapan kosong. Tibaa tiba Khotimah yang baru didapur mengambil pisau dapur daan hendak menyerang Isti…!
“Khotimah jangaaaan….!” Teriak Isti.
*****
Episode sekarang
*****
Aku segera memegang tangan Khotimah yang memegang pisau dapur hendak melukai Isti. Namun tidak aku sangka tenaga khotimah sangat kuat, seperti bukan Khotimah saja pikirku.
“Ambilin air dari tempat wudhu cepat, aku hampir gak tahan menahan tangan Khotimah.” Pintaku pada Isti.
Isti langsung mengambil air dari tempat wudhu, kemudian menyerahkan gelas berisi air tersebut padaku.
Namun aku kesulitan menerima gelas tersebut, kerena kedua tanganku memegang tangan yang tenaganya bertambah berlipat lipat. Bahkan melebihi tenaga laki laki yang kuat sekalipun, aku memaksakan diri menahan dengan tangan satu. Sedang tangan satunya menerima gelas dari Isti, sambil melafadzkan doa kemudian air itu aku siramkan ke Wajah Khotimah. Namun agak terlambat karena tangan yang dipegang Khotimah sempat terlepas dan berhasil melukai tanganku. Untung pisau itu hanya pisa Dapur yang tidak terlalu tajam. Sehingga luka goresanya tidak terlalu tajam.
Khotimah sadar, dan jadi bingung karena wajahnya basah dan memegang pisau serta melihat aku yang memegangi tanganku yang mengeluarkan darah cukup Banyak.
“Apa yang terjadi, kok wajah Khotimah basah dan mas Yasin kenapa tanganya berdarah ?” Tanya Khotimah.
“Sudah kamu istrirahat dulu, semua kumpul diruang mujahadah sekarang…!” perintahku lantang.
Akhirnya semua berkumpul diruang mujahadah, dan Fatimah membersihkan lukaku lebih dahulu sebelum membalut dengan perban. Untung aku bisa menangkis dengan lenganku, kalo tidak mungkin dadaku yang terkena pisau yang dipegang Khotimah tadi.
__ADS_1
Selesai lenganku diperban Fatimah, ditengah suasana hening dan mencekam itu aku berkata.
“Saat ini, mereka anak buah maheso suro kembali melancarkan serangan ghaib. Kali ini Khotimah yang dijadikan alat. Kemungkinan besuk orang lain diantara kita, dan aku tadi sempat mengalami mimpi di dalam mimpi. Dimana dalam mimpiku aku terkena ilmu ‘Panggiring Sukma’ itu. kemudian dalam mimpi itu juga aku bermimpi lagi diobati oleh kang salim dan diberitahu kalo aku habis terkena ilmu ‘Panggiring Sukma’ rasanya persis seperti yang dialami Khotimah tadi. Tidak ingat siapa kita, bergerak diluar kendali dan mengikuti bisikan yang menggerakkan seluruh gerak tubuh kita. Dan salah satu cara menyadarkan adalah menyiram dengan air yang biasa kita pakai buat wudhu atau air yang dibacakan doa doa.” Kataku pada mereka.
“Owh jadi itu yang mas mau jelaskan tadi, terus terdengar jeritan khotimah sehingga belum sempat cerita ?” Tanya Fatimah istriku.
“Iya, untung saja aku tadi mendapatkan ISYAROH lewat mimpi, jika tidak mungkin gak tahu apa yang harus aku lakukan. Karena Khotimah saat dibawah kesadarannya tenaganya berubah berpuluh kali lipat dari biasanya. Aku saja hampir tak sanggup menahan tenaga Khotimah dan sempat terkena sabeten pisau tadi.” Kataku.
“Maafkan Khotimah mas, Khotimah hanya bikin mas Yasin repot saja.” Ucap Khotimah sambil nangis. Aku jadi agak menyesal dengan ucapanku tadi, harusnya gak aku sampaikan biar Khotimah gak tersinggung. Meski bukan maksutku menyinggung Khotimah begitu.
“Gak Khot, itu bukan salah kamu maafkan mas jika menyinggung mu. Itu bisa menimpa siapa saja, bahkan juga bisa saja menimpa aku Khot.” Jelasku pada Khotimah.
“Iya Khot, yang penting sekarang kita sudah tahu cara menangani sementara. Terus rencana kamu bagai mana mas ?” Tanya Isti.
“Kita adakan seaman alquran tiap hari, sediakan air dalam botol sebagai media doa dan seaman quran. Setiap ada yang mengalami gejala gejala seperti khotimah tadi, percikan air ke wajahnya. Semua harus tahu itu, sehingga tiap ada yang hampir kena bisa langsung tertangani.” Kataku.
“Cukup dipercikan saja Zain ? kok tadi Khotimah kamu guyur ?” Tanya Rofiq polos.
“Tadi darurat bang, aku sambil nahan tangan khotimah yang pegang pisau. Dan gak sempat mengambil air buat dipercikan, yaudah aku guyurkan saja. Bukan maksutku bikin Khotimah jadi basah kuyup ya Khot ?” jawabku serius.
“Iya mas gak papa kok Cuma basah air ini. terus luka mas Yasin gimana ?” Tanya Khotimah.
“Gak papa luka ringan saja, Cuma tergores dikit.” Kataku.
“Mas Rofiq ini, orang lagi serius juga malah bercanda saja.” Seru Isti.
“Gak papa Is, suamiku juga sering gitu dan kayaknya mereka memang biasa begitu.” Ucap Fatimah istriku.
Allahu Akbarullahu Akbar…
Kumandang Adzan MAghrib menghentikan pembicaraan kami. Waktu menjelang Maghrib saat pergantian waktu antara siang dan malam dalam istilah jawa ‘Candik Ala” memang waktu transisi kehidupan manusia dan makhluk halus. Manusia mulai menghentikan aktifitasnya dan bersiap menghadap pencipta-Nya. Dengan Sholat maghrib kemudian sholat Isya dan beristirahat. Sedangkan bagi makhlus halus saat itulah mereka mulai beraktifitas.
“Semua ambil air wudhu dan kita laksanakan sholat maghrib bersama. Semua ajak sholat jamaah dan kita berdoa bersama. Bahkan jika ada yang cuti pun tetap panjatkan doa doa tulak balak.” Kataku.
“Memang boleh mas kalo pas lagi cuti baca doa gitu ?” Tanya Khotimah.
“Boleh, yang tidak boleh Sholat, memegang al quran dan melantunkan ayat dengan niat tadarus. Kalo doa boleh saja.” Kataku pada Khotimah.
Kemudian semua bersiap menjalankan sholat maghrib berjamaah. Aku jadi makin was was jika mereka melancarkan serangan saat aku tidak dirumah dan tak ada yang mengontrol bisa jatuh korban, pikirku. Berarti aku harus selalu dirumah, aktifitas keluar rumah sementara aku stop dulu. Semua janji harus aku cancel, pikirku.
Seusai sholat maghrib aku minta Isti dan lainya untuk memulai seaman quran, entah kuat berapa jus, yang penting harus selalu ada yang melantunkan quran tiap hari bahkan siang dan malam secara bergantian. Aku yang memulai dengan sebelumnya hidyah fatikhah kepad rasulullah sahabat para aulia dan guru guru serta orang tua ( leluhur ) yang sudah meninggal dunia. Aku baca memulai sebelum dilanjutkan yang lain dapat 1 jus sudah hampir masuk isya maka dilanjutkan setelah isya sampai dengan jam 20.00 dan dilanjutkan mujahadah dan ditutup doa bersama.
Alhamdulillah malam itu tidak terjadi hal hal yang tidak diinginkan, kemudian seaman al quran dilanjut setelah subuh sampai dengan jam 09.00 baru menjalankan aktifitas sehari hari.
__ADS_1
Aku diruang tamu meminta tolong kepada Ardian dan Fanani untuk membantu mencabut berkas pengaduan Margono. Aku gak mau mengurusi hal hal remeh itu dulu. Aku mau focus dengan rumah tanggaku dan keluargaku agar terhindar dari orang orang yang mau mencelakai kami.
Sigkat cerita berkas pengaduan sudah selesai dicabut, dan Margono sudah dibebaskan. Aku lebih banyak menghabiskan waktuku diruang mujahadah untuk berdoa bermunajat kepada Allah. Saat ini baru merasa betapa lemahnya diriku, yang benar benar merasa tak mampu berbuat apa apa. Jika llah berkehendak seorang Khotimah wanita yang lemah bisa sekuat itu tadi.
Jika bukan karena pertolongan Allah aku pun gak akan sanggup menahan Khotimah tadi, meski itu bukan kehendak Khotimah. Meski itu bukan tenaga Khotimah sendiri, namun cukup menyadarkan aku jika memang semua kekuatan dan semua yang terjadi itu atas ijin dari Allah. Sehingga sedikitpun kita tak pantas menyombongkan diri kita yang memang tak punya apa apa.
Ilmu, kepintaran, tenaga ketampanan kecantikan semua bisa diambil Allah setiap saat. Yang kaya bisa jatuh miskin, yang pintar bisa kehilangan akal, yang tampan dn yang cantik bisa berubah jadi buruk bisa karena factor usia bisa karena kecelakaan dan sebagianya.
Aku jadi teringat akan sikapku selama ini yang masih sering didominasi oleh egoku. Seperti ketika menghadapi Margono saat sidang. Dan juga menghadapi Marjuni adiknya margono serta si pitak. Dimana aku merasa lebih dri dia dalam bertarung secara fisik. Sehingga timbul kesombongan dalam diriku.
“Mas Bapak dan ibu sedang dalam perjalanan kesini, bersama Yuyut mas Yasin disuruh mempersiapkan segala sesuatu dan mengumpulkan orang orang yang akan diajak menyerang mereka.” Ucap Fatimah istriku.
@@@@@****>>>>>?????
Readers tercinta untuk up kali ini masih dalam durasi pendek ya, mohon maaf.
...bersambung...
Terimakasih atas dukungan dari Readers semuanya.
Komentar readers semangat Author
Author akan berusaha terus memperbaiki, bahasa retorika dan lainya.
Semoga dapat menghibur Readers semua.
...Jangan lupa dukungan berupa :...
...Like...
...Komen...
...&...
...Vote nya...
...Terimakasih...
...🙏🙏🙏...
__ADS_1