
🌷🌷🌷
Reader tercinta, mohon maaf jika masih banyak typo karena Auto teks ataupun murni salah ketik.
Semoga tetap bisa menghibur.
🌷🌷🌷
Selamat membaca
...........
Episode Lalu
Setelah itu kami memulai berdoa untuk memohonkan ampun bagi para leluhur dan semua mukminin dan mukminat muslimin wal muslimat. Aku mempersilahkan kang Tohari sebagai yang tertua dari kami untuk memimpin doa tersebut.
Dan setelah berdoa bersama kami diminta singgah kerumah kang Tohari sebentar dan Kang tohari pun mengatakan jika akan ikut kerumahku barang sehari dua hari agar mengenal keluarga besarku. Dan sekaligus mau melihat sampai sejauh mana persiapanku yang akan menghadapi dalang anyi anyi. Sementara katanya untuk urusan Joyo maruto dan muridnya itu maalah sepele. Dan kang Tohari bilang aku pasti bisa mengalahkanya meski jalan yang kutempuh memang berat dan butuh keseriusan dalam berlatih dan Taqorub ilallah.
*****
Episode ini
Dalam perjalanan ke rumah kang Tohari aku mulai berpikir, saat ini pun sudah banyak isme isme aneh yang justru memecah belah persatuan. Bahkan ada yang cenderung mementingkan kelompoknya, bahkan beranggapan yang tidak sepaham dianggap kafir dan lain lain. Mereka lupa bahwa ratusan tahun lalu para ulam yang berbeda madzhab pun tetap saling menghormati dan menghargai.
Tapi kenapa sekarang orang berbeda madzhab sedikit saja sudah saling benci. Menganggap yang lain salah sesat dan sebagainya. Apakah ini berarti tantangan anak cucuku besuk justru lebih berat dari yang ku alami saat ini, batinku.
Jelas ulama dulu yang selama hidupnya dihabiskan untuk belajar dan mempelajari Agama. Hafal Al-Quran Ratusan ribu Hadits lengkap dengan sanad dan matan haditsnya mereka berbeda pendapat satu sama yang lainya namun tetap bersatu dan menghormati.
Berat sekali tugas yang harus di emban anak cucuku besuk, yang aku hadapi saat ini jelas orang orang yang sesat memuja jin jadi bisa bersikap tegas juga. Namun suatu saat jika terjadi permusuhan dengan sesame umat muslim sendiri bagaimana…???
Saat ini musuhku membaca mantera memuja JIN yang dia puja. Jelas kulawan dengan Ayat suci Al-quran. Lah kalo bermusuhan dua duanya membaca Ayat suci Al-Quran kan jadi aneh. Meras dirinya paling benar.
“Ah tapi ini juga pernah terjadi pada masa Khalifah Ali bin Abi Tholib. Beliau dibunuh oleh ibnu muljam orang Islam juga yang rajin Tahajut dan puasa sunah juga. Hanya karena merasa dirinya paling benar. Dan menganggap yang lain salah.” Batinku.
“Udah sampai rumahku, kamu mikirin apa ? mikirin Istri “ goda kang Tohari padaku.
“aah bukan kang, hanya ingat bagaimana beratnya perjuangan anak cucu kita besuk.” Jawabku.
“Ya memang, pada masa anak cucu kita besuk yang dibutuhkan adalah Pengetahuan akan berbagai bidang. Mungkin ilmu kanuragan itu sudah tidak begitu dibutuhkan. Karena kejahatan besuk sudah bukan dalam bentuk fisik. Tapi dalam bentuk system ataupun ataupun organisasi, pembunuhan bukan lagi pembunuhan fisik melainkan pembunuhan karakter melalui Fitnah dan sebagainya. Dan mana yang benar mana yang salah sudah sangat sulit di bedakan. Saat itulah dibutuhkan kecerdasan sehingga mampu menunjukkan mana yang benar dan mana yang salah ditengah samar samarnya keadaan. Yang berani berpedoman “Qulil haqo wa lau kanaa murron’ ( katakan kebenaran meskipun pahit.) Dan berkeyakinan Waqulil jaal Haqo wa zahaqol Bathil ( dan katakan kebenaran telah datang maka kebathilan akan musnah.) dan seterusnya.
Penjelasan kang Tohari justru membuat aku merinding, membayangkan betapa beratnya tanggung jawab anak cucuku besuk.
“Udah minum dulu kopinya.” Ucap kang Tohari.
Kemudian kami di perkenalkan dengan istri kang Tohari, mbakyu Zubaedah. Orangnya pendiam dan sangat hormat dengan suaminya.
“Kenalkan ini Istriku, doakan saja kami cepat diberi momongan karena sampai sekarang belum juga mendapat momongan.” Kata kang Tohari.
“Owh iya kang Aamiin semoga segera dapat momongan, perkenalkan mbakyu nama saya Ahmad Sidiq tapi sama Abah Guru saya diberi nama Yasin.”
Setelah kami selesai beramah tamah maka kami segera kembali ke rumahku. Dala perjalanan kang Tohari banyak memberikan wejangan wejangan.
Setelah perkenalan dan ramah tamah dirasa cukup, saat itu juga kami semua termasuk istri kang Tohari berangkat ke jogja.
Dalam perjalanan pulang kami isi dengan obrolan candaan agar tidak mengantuk karena waktu sudah cukup malam dan aku sendiri merasa agak lelah. Setelah malam sebelumnya melawan teluh dan tadi diuji oleh kang Tohari, sampai harus menggunakan jurus suci tingkat akhir.
*****
Di rumah Yasin
Author POV
“Yu Zulfan tu belum pernah kesini tapi kok rasanya gak asing dengan tempat ini ?” kata Zulfan pada Nurul yang menyebutnya Yu, dari kata mbak ayu ( kakak wanita ).
“Ah Kamu ngehalu aja kali Zul, mbak aja baru sekali juga kok kesini dua kali ini lah.” Ucap Nurul.
“Gak yu, kayaknya Zulfan pernah lihat rumah begini dan kamar kamar berjajar banyak juga ada gambar punakawan Semar didinding.” Jawab Zulfan.
“Apa mungkin kamu dulu waktu kecil pernah diajak kesini sama bapak ?” Tanya Nurul pada Zulfan.
“Maksut Yu Nurul gimana ?” Tanya Zulfan.
“Besuk kamu Tanya bapak saja, pasti beliau tahu jawabnya.” Kata Nurul.
“Gak usah main tebak tebakan sih Yu, Zulfan malah jadi tambah kepo aja nih.” Ucap Zulfan.
“Mbak kasih tahu tapi jangan bilang sapa sapa dulu, kamu harus janji itu.” kata Nurul.
“Se rahasia apa sih Yu, sampai segitunya ?” Tanya Zulfan.
“Ya pokoknya janji dulu, kalo gak mau ya mbak gak akan bilang.” Jawab Nurul.
“Iya wis mbak, Zulfan gak akan bilang siapa siapa.” Jawab Zulfan.
“Sebenarnya mas Yasin atau mas Ahmad Sidiq itu punya hubungan kerabat dengan kita. Dan dulu kamu yang sering diajak kemari waktu kecil.” Ucap Nurul.
__ADS_1
“Masak sih Yu ? Yu Nurul tahu dari siapa ?” Tanya Zulfan.
“Saat beberapa waktu yang lalu aku diajak kesini sama suamiku mas Sena, dan aku diperkenalkan dengan mas Yasin Mbak gak ngira jika mas Yasin itu nama Aslinya adalah Ahmad Sidiq putera pakde Azzam almarhum. Tapi begitu lihat foto pakde mbak baru tahu kalo mas Yasin itu puteranya Pak De. Kakeknya mas Yasin itu sepupuan sama kakek kita kakek Hadiyan.” Jawab Nurul.
“Masya Allah Yu, kok gak dari awal cerita. Aku baru ingat sekarang berarti mas Yasin itu dulu juga sering kerumah kita waktu kecil. Kalo habis diajak ziarah ke makam raja raja itu. kalo begitu aku kenal dia juga. Tapi dulu panggilanya mas Ahmad dan dia kalo panggil aku Fan ? masa mas Yasin juga gak ingat aku sih ? keterlaluan tu mas Ahmad lupa sama saudara sendiri.” Gerutu Zulfan.
“Tapi kamu janji gak usah bilang bilang dulu, mas Sena suamiku saja belum tahu loh !” ucap Nurul.
“Wah yu Nurul juga keterlaluan kalo begitu, namanya.” Kata Zulfan.
“Bukan begitu, Mbak hanya mau lihat sampai mana mas Ahmad gak inget kita. Dan bagaimana reaksinya jika mas Ahmad inget bahwa dulu semasa kecil kita sudah beberapa kali bertemu dan bermain bersama di rumah kita.” Ucap Nurul.
Memang Yasin Alias Ahmad Sidiq sama sekali tidak mengenali Nurul dan Zulfan meski mereka masih bersaudara. Karena dulu Yasin sering diajak ayahnya ke kakek Hadiyan kakeknya Nurul dan Zulfa yang kala itu sudah sakit sakitan.
Karena kakeknya Yasin sendiri sudah almarhum semuanya, sehingga Yasin diperkenalkan dengan kakek Hadiyan sebagi kakeknya juga. Namun memori visual Yasin memang agak lemah sehingga agak sulit mengingat wajah seseorang. Yasin lebih kuat di memori audionya dia bisa mengingat ucapan seseorang beberapa bulan kemudian tanpa mengurangi satu kata pun.
Namun jika mengingat wajah seseorang, baru bertemu saja dua hari kemudian bisa lupa dengan orang itu. jika orang itu tidak menyapa atau mengeluarkan suara. Sehingga membantu Yasin mengenal orang itu lewat suaranya bukan wajahnya.
Saat Zulfan dan Nurul sedang berbincang berdua tiba tiba Fatimah datang menyapa.
“Dik Nurul sama dik Zulfan ngobrolin apa kok kayaknya asik banget. Fatimah dikamar lagi nyususin Jafar sampai penasaran ?” kata Fatimah.
“Mbakyu tadi dengerin obrolan Nurul dengan Zulfan gak ?” Tanya Nurul ke Fatimah.
“Denger sih tapi gak jelas kalian ngobrolin apa kok kayaknya seru banget, makanya Fatimah jadi pingin ikut denger juga. Kebetulan Jafar udah bobo lagi sekarang. Dan lainya juga sudah pada tidur. Sementara Fatimah gak ngantuk.” Jawab Fatimah.
“Yu jujur saja sama mbakyu Fatimah…!” bisik Zulfan pada Nurul.
“Ada apa, kok kayaknya ada rahasia besar nih ?” Tanya Fatimah.
“Baiklah mbakyu, mungkin memang sudah saatnya Nurul membuka identitas diri Nurul dan Zulfan adikku ini.” jawab Nurul pada Fatimah.
“Lah identitas apa yang kalian rahasiakan selama ini ?” Tanya Fatimah penasaran.
“Jujur saja mbakyu, Nurul memang baru kemarin itu sampai kerumah ini, dan saat Nurul lihat foto itu ( Sambil menunjuk foto Almarhum bapaknya Yasin ) Nurul baru ingat jika Mas Yasin itu adalah sepupu Nurul yang nama aslinya adalah Ahmad Sidiq. Lah kemarin diperkenalkan dengan nama Yasin jadi Nurul gak kepikiran sama sekali kalo ternyata mas Yasin itu adalah mas Ahmad Sidiq. Yang dulu kami memanggilnya mas Ahmad.” Jawab Nurul.
Fatimah bengong mendengar keterangan dari Nurul.
“Jadi kamu dan suamiku masih saudara juga, dan ternyata suamimu dan aku juga masih saudara juga ?” sahut Fatimah.
Nurul hanya tersenyum, dan tiba tiba Fatimah menghampiri Nurul dan memeluknya.
“Yaa Allah ternyata kita semua masih saudara meski tidak mengenal sebelumnya.” Kata Fatimah sambil senyum bahagia hingga tak terasa meneteskan air mata bahagianya.
Melihat itu Zulfan pun hanya tersenyum ikut merasakan keharuan kakaknya Nurul dan Fatimah.
“Jangankan mas Yasin atau mas Ahmad mbak mas Sena suamiku saja belum tahu. Ini juga kalo bukan Zulfan yang membuka juga Nurul belum mau ngomong tadi.” Ucap Nurul.
Kemudian Nurul menceritakan dari awal ketika Zulfan merasa sudah pernah melihat rumah ini hingga kemudian Nurul membuka rahasia yang selama ini dia pendam.
“Astaghfirrullah dik Nurul, bisa bisanya kamu menyimpan rahasia begini. Tapi kamu sudah kenal Khotimah adikku waktu pertama kesini sementara denganku belum, kok bisa begitu ?” Tanya Fatimah.
“Karena saat awal menjadi istri mas Sena aku diperkenalkan dengan mbakyu Khotimah dan lainya, tapi waktu itu mbakyu Fatimah masih di pesantren jadi kita belum pernah bertemu.” Jawab Nurul.
“Kok bisa suamiku gak ngenalin kalian ?” apa kalian juga sudah lama gak pernah bertemu ?” Tanya Fatimah.
“Jujur kalo Nurul sendiri belum pernah diajak bapak kesini. Yang pernah diajak kesini dulu Zulfan, karena dulu cukup Akrab dengan mas Ahmad kecil. Dan mas Ahmad kecil dulu juga beberapa kali kerumah Nurul, hanya gak begitu akrab dengan Nurul. Jadi kalo dengan Nurul lupa itu wajar. Tapi dengan zulfan lupa itu agak aneh sebenarnya.” Jawab Nurul.
“Owh begitu, lah Zulfan sendiri tadi ketemu suamiku juga gak inget kalo dia itu saudara kamu ?” Tanya Fatimah ke Zulfan.
“Sebenarnya Zulfan ketika melihat mas Ahmad juga kayak udah kenal gitu, tapi karena panggilannya jadi mas Yasin Zulfan juga tidak menyangka kalo dia itu mas Ahmad yang dulu sering gendong Zulfan waktu kecil.” Jawab Zulfan.
“Apakah Zulfan punya kenangan dengan mas Yasin yang bisa mengingatkan mas Yasin pada Zulfan ?” Tanya Fatimah.
“Ada mbak, mas Yasin atau mas Ahmad itu dulu kalo pas nginep dirumahku selalu menemani Zulfan tidur, dan waktu itu yu Nurul juga bersamaan tidur ngampar di lantai bersama. Kemudian Zulfan selalu meminta mas Ahmad untuk cerita apa saja sampai kami tertidur.” Kata Zulfan.
“Iya, dan ada satu cerita yang tidak pernah Nurul lupakan saat mas Ahmad ceritakan tentang Hantu yang sering bikin kami ketakutan. Saat itu mas Ahmad menceritakan tentang hantu yang suka memakan anak anak. Yang dia sebut sebagai kuyang pemakan orok.” Jawab Nurul.
“Waktu itu suamiku bacain buku cerita ?” Tanya Fatimah.
“Gak mbakyu, mas Ahmad cerita lepas saja gak baca buku dan itu hanya imaginasi mas Ahmad saja. Sampai bapak ibuku waktu itu mengomentari ‘Ahmad ini pinter momong anak anak’. Karena waktu itu kalo mas Ahmad datang dan menginap anak anak tetangga juga sering ikutan dengerin cerita dia.” Jelas Zulfan.
“Sampai segitunya kok bisa lupa sih suamiku ini.” komentar Fatimah.
“Maaf mbak nanti kita kerjain saja suami mbak sekaligus mas Sena suamiku, kita beri kejutan agar mereka kaget jika mengetahui antara aku dan mas Ahmad adalah sepupu.” Kata Nurul.
“Ide bagus tuh, kita kerjain orang yang suka ngerjain orang biar tahu rasa dia.” Ucap Fatimah.
Akhirnya mereka menyusun sebuah rencana untuk mengerjai Yasin alias Ahmad Sidiq. Dengan harapan membuat kejutan besar agar Yasin kaget setelah tahu jika Nurul dan Zulfan adalah adik sepupunya juga,
Dan tak lama kemudian terdengar rombongan Yasin datang.
“Assalaamu’alaikum…!>’ ucap Yasin member Salam.
“Wa’alaikummmussalaam…!” jawab ketiganya bersamaan.
__ADS_1
Kemudian Nurul member isarat agar Zulfan dan Fatimah diam dulu agar rencana bisa berhasil dengan baik. kemudian Zulfan yang disuruh membukakan pintu.
Dan ketika pintu di buka dan semuanya sudah masuk, justru Nurul dan Zulfan yang kaget melihat ada tambahan dua orang yang datang. Yaitu Tohari dan Zubaedah istrinya.
“Loh mas Tohari dan mbakyu Zubaedah, kok bisa ikut kesini ?” teriak Nurul Spontan.
“Harusnya aku yang nanya, kenapa Kamu dan Zulfan juga ada disini ?” jawab Tohari.
Tiba tiba Zubaedah yang menyahut.
“Ya wajar lah mas, Nurul dan Zulfan disini kan dirumah kakaknya juga.” Ucap Zubaedah.
“Maksut mbakyu Zubaedah ?” Tanya Yasin bingung.
“Kamu lupa sama mereka Ahmad ?” Tanya kang Tohari.
“Gak kok kang, dia kan istri Sena saudaraku ini.” jawab Yasin masih belum paham.
“Tuh kebangetan kan mas Ahmad sama saudara sendiri sampai lupa ?” sahut Zulfan sudah gak sabar membuka identitas dirinya.
“Sebentar, aku kok seperti kenal suara kamu tapi dimana dan siapa ya aku bener bener lupa ?”
Nurul pun sudah gak tahan untuk membuka suara, dengan menahan haru dan agak terisak nurul membuka suara.
“Mas Yasin alias mas Ahmad, apa kamu lupa dulu waktu kita kecil sering kali mendengarkan kamu cerita sebelum kami bobok di lantai bersama sama. Kamu cerita tentang hantu pemakan bayi, yang mas Ahmad beri judul kuyang pemakan orok. Cerita terindah yang Nurul dan Zulfan pernah dengar dari seorang kakak.” Ucap nurul dengan linangan air mata bahagianya.
Akhirnya Yasin pun sadar dan ingat siapa Nurul dan Zulfan sebenarnya.
“Astaghfirrullah… maafkan aku Nurul dan kamu Zulfan putera lek Dimyati Imogiri bantul. Kok kamu baru bilang sekarang yaa Allah….!” Ucap Yasin memeluk Zulfan.
“Kamu dulu suka aku gendong naik tangga menuju makam, sekarang sudah sebesar ini Fan…!” kata Yasin berkaca kaca.
“Nurul kamu jahat banget gak dari awal kamu cerita kalo kamu puter pak lekku. Aku dulu sering sekali kesana dan inta uang jajan sama bapak kamu. Gimana kabar pak lek Nurul ?” Tanya Yasin kemudian.
“Alhamdulillah bapak ibu Sehat mas, maaf Nurul juga awalnya ragu karena mas Ahmad berubah nama jadi mas Yasin.” Ucap Nurul.
“Sukurlah, Sena kamu juga kurang ajar gak bilang kalo istrimu adalah adik sepupuku….!” Ucap Yasin pada Sena.
“Gak gitu mas, Sena juga baru tahu sekarang ini jika Nurul adalah adik sepupu mas Yasin.” Ucap Sena.
“Betul begitu Nurul ?” Tanya Yasin.
“Iya mas, memang Nurul belum ceritakan ke semuanya. Tadinya menunggu mas Ahmad ingat sendiri, tapi tadi Zulfan tiba tiba ingat kalo dulu pernah kesini jadi terpaksa Nurul ceritakan semuanya.” Ucap Nurul.
“Jadi kalian ini selama ini gak tahu jika masih saudaraan ?” Tanya kang Tohari.
“Iya kang, itu Nurul jahat banget, aku gak usah pakai dik lagi panggil kamu dari dulu juga panggil nama aja. Tapi panggilan kamu dulu bukan Nurul kan tapi Jannah ?” Tanya Yasin.
“Iya mas, kan memang namaku Siti Nurul Jannah mas !” ucap Nurul.
“Owh iya, kalo kamu dulu bilang mas aku ini jannah aku gak akan lupa sama kamu, dasaaar….!” Gerutu Yasin.
“Ya aku juga gak akan ragu kalo mas bilang Aku ini Ahmad Jannah.” Balas Nurul.
“Fan kamu juga kok tadi diem saja gak bilang bilang, tahu begitu mending aku ajak sekalian kan ?” kata Yasin ke Zulfan.
“Zulfan juga ragu mas Yasin ini mas Ahmad yang kukenal bukan tadinya, sampai yu Nurul ceritakan semuanya tadi.” Ucap Zulfan.
Tiba tiba Tohari menyahut.
“Lengkap sudah sekarang, kelima limanya sudah berkumpul sudah saatnya kita mengumpulkan keluarga yang terpisah dan saat ini kita bisa mencari nama leluhur kita, karena semua sudah berkumpul.” Kata Tohari.
“Yah dik Nurul scenario kita jadi gagal nih !” ucap Fatimah tiba tiba. Disambut tawa Nurul dan Zulfan sedangkan yang lain hanya bengong gak ngerti maksut ucapan Fatimah.
...bersambung...
Terimakasih atas dukungan dari Readers semuanya.
Komentar readers semangat Author
Author akan berusaha terus memperbaiki, bahasa retorika dan lainya.
Semoga dapat menghibur Readers semua.
...Jangan lupa dukungan berupa :...
...Like...
...Komen...
...&...
...Vote nya...
...Terimakasih...
__ADS_1
...🙏🙏🙏...