
Episode 76
..........
Sepintas di jalan kulihat bapaknya Rendy disebuah tempat, aah aku dekati dia saja batinku.
Namun sayang keberadaanku ketahuan, bapaknya Rendy malah pergi menjauh dan aku kejar. Begitu dekat kutabrak motornya hingga dia jatuh.
Aku turun, bapaknya Rendy mau bangkit tapi sudah langsung kuhadiahi sebuah tendangan ke perutnya. Hingga dia jatuh meringkuk memegang perut.
“ Berani kamu macam macam dengan keluargaku, kubuat kau menyesal seumur hidup.” kataku.
“ Apa salahku ?” Tanya bapaknya Rendy.
“ Kamu gak usah pura pura polos, tadi lihat aku mau lari. Kalo gak merasa bersalah gak mungkin kamu mau lari !” jawabku.
“ Aku bukan mau lari, tapi sedang buru buru mau pergi.” Katanya.
“ Kamu berniat, mau menguasai hak rumah yang aku tempati, dan kamu berniat mau menculik Sidiq anakku. Kamu gak ingat, tanah warisan orang tuaku dulu dijual untuk membeli tanah dan membangun rumah yang kamu temoati sekarang. Itu adalah warisan untuk kakak kandungku. Jadi rumah yang aku tempati itu tidak ada hak mu lagi.” Kataku setengah membentak.
Sebenarnya aku juga malu ribut di jalan seperti itu, namun dengan situasi yang kuhadapi saat ini. Aku lebih mementingkan keamanan dan keselamatan keluargaku, dari pada sekedar image masarakat tentangku. Mau aku dinilai urakan, kasar atau apapun aku gak peduli. Bapaknya Rendy itu licik, jika tidak dengan cara kasar tidak akan pernah berhenti.
Sudah berkali kali dia mencoba melakukan fitnah dan berusaha menyingkirkan aku dengan cara keji dan licik. Terakhir kemarin memfitnah aku sebagai pelaku pembunuhan, hanya berdasarkan aku punya masa lalu yang buruk sampai aku dipanggil ke kantor polisi.
Hampir saja aku kehilangan kesabaranku, untung aku ingat sedang berpuasa. Aku lantas mengucap istighfar dalam hati, untuk merdam emosiku.
“ Astaghfirrullahal ‘adzim.” Ucapku dalam hati kemudian meninggalkan bapaknya Rendy. Aku pulang saja lah, dari pada emosiku tidak terkontrol. Dan masih lemes juga semalam tidak tidur. Urusan Maheso Suro bisa lain waktu kataku dalam hati.
Kutinggalkan bapaknya Rendy yang masih terduduk dipinggir jalan,semoga saja dia mau berpikir ulang mau membatalkaqn rencananya. Jika tidak aku bisa berbuat lebih nekat dari itu.
Sampai dirumah kembali aku sudah disambut Fatimah dengan muka cemberut.
“ Wah pasti marah nih,aku pergi sendirian gak pamit, dan tidak mengajak salah satu dari Fanani dan temanya.” Pikirku.
Benar saja belum juga masuk rumah, Fatimah sudah memberondongku dengan pertanyaan.
“ Ma situ dari mana sih, sudah dibilangin jangan keluar sendirian juga masih saja nekat. Mana gak bilang dulu mau kemana, kenapa sih kalo gak bikin khawatir yang dirumah ?” Tanya Fatimah.
“ Cuman keluar sebentar aja cari angin kok. Suntuk dirumah terus.” Kataku.
“ Gak mungkin lah, semalam mas berkelahi sama orang kan ? tadi Khotimah cerita, dia dikasih tahu Fanani. Katanya mas semalam berkelahi sama orang ?” sahut Fatimah dengan nada marah.
“ Habis gimana lagi, ada orang mau berbuat jahat masak dibiarin saja.” Kataku membela diri.
“ Ya harusnya mas nminta bantuan yang lain, seperti sebelumnya. Bukan menghadapi sendiri begitu, bahaya buat mas sendiri.” Kata Fatimah menyudutkan aku.
“ Maunya juga begitu, tapi gak sempat lah, yang lain pada tertidur.” Jawabku.
“ Mas coba hubungi Yuyut lagi deh, sapa tahu ada saran dari yuyut.” Kata Fatimah.
“ Kamu aja kalo itu, aku takut sama Yuyutmu, kalo aku yang bicara pasti dibentak bentak sama beliau !” kataku pada Fatimah.
“ Gimana gak dibentak, mas selalu ngeyel kalo dibilangin.” Jawab Fatimah.
“ Iya aku ngaku salah, tapi tetep aja aku gak berani kalo suruh bicara sama Yuyut. Kamu atau Khotimah saja lah !” jawabku.
“ Yaudah, nanti Fatimah telpun ibu, tapi kalo Yuyut mau bicara sama mas, mas harus mau !” kata Fatimah.
“ Iya nanti siang saja, aku mau tidur dulu semalam gak tidur.” Kataku sambil jalan masuk kamar.
Aku merebahkan diri di kamar, tak lama kemudian aku pun tertidur lelap. Semalaman gak tidur membuatku langsung tertidur pulas.
...*****************...
Pak Yadi POV
“ Sekarang kamu saya persilahkan kembali ke kos kamu, ini kontak person yang harus kamu hubungi jika ada sesuatu.” Kataku pada Tuti.
“ Apakah sudah aman pak kalo sekarang saya pergi ke kampus ?” Tanya Tuti.
“ No hp kamu sudah terpantau, dimana kamu berada siapa yang kamu telpon dan siapa yang menelpon kamu kami bisa memantau. Yang harus kamu lakukan adalah menjaga hp kamu dalam posisi selalu On.” Jawabku.
“ Berarti privasi saya tidak terjaga dong pak !” kata Tuti.
“ Itu sementara saja, demi keamanan kamu sampai kasus ini selesai. Setelah itu pantauan dihentikan, demi menjaga privasi kamu.” Jawabku.
“ Owh begitu ya pak ?” jawab Tuti.
Kemudian Tuti diantar ke kos nya dengan kendaraan pribadi oleh seseorang. Dan di dekat koss Tuti sudah ditempatkan orang untuk memantau pergerakan lawan yang ingin berbuat jahat pada Tuti. Tujuan utamanya adalah memancing tokoh utama kejahatan itu muncul dan bisa segera tertangkap basah tindakanya.
“ Aku harus segera kasih kabar pada pak Yasin segera.” Kataku dalam hati.
Aku berusaha mengbungi no pak Yasin berkali kali tapi tak ada jawaban. Mungkin masih tidur, karenaq semalam begadang. Aku berkata dalam hati "barang kali nanti siang saja aku kesana”.
Aku segera balik ke kantor untuk melihat keadaan Rofiq, yang katanya semalam sempat hamper kerasukan lagi.
...*********...
__ADS_1
...Flasback kejadian Rofiq semalam...
Author POV
Di dalam sel Rofiq kelihatan gelisah, entah apa yang dipikirkan. Dia tidak tidur hanya mondar mandir gelisah memikirkan sesuatu entah apa itu. Seorang petugas bertanya, “ pak Rofiq mikirn apa ?” Tanya petugas itu.
“Saya khawatir dengan keselamatan adik dan ibu saya pak bolehkah saya ketemu dia sebentar besok ?” Tanya Rofiq.
“ Justru kalo dia keluar berbahaya pak, lebih aman berdiam diri dulu dalam pengawasan kami.” Kata Petugas yang mengawasi Rofiq.
Tiba tiba Rofiq menggeram keras, seperti orang marah. Namun matanya menatap kosong dan bicaranya tidak jelas. Ingat pesan pak Yadi kemarin, jika ada sesuatu harus di berikan air doa yang diberikan pak Yadi kemarin. Secara sigap petugas itupun meminta bantuan teman nya untuk menyadarkan Rofiq kembali.
Alhamdulillah Rofiq cepat kembali sadar, sehingga tiak terlalu merepotkan petugas jaga. Setelah sadar, tiba tiba Rofiq mulai angkat bicara.
“ Pak, bolehkah saya minta sajadah dan diperkenankan sholat ? Saya mau bertaubat sekarang. Saya sudah sadar kesalahan saya kemarin, dan ingin kembali ke jalan yang benar.” Kata Rofiq.
Para petugas pun memenuhi keinginan Rofiq, memberikan Sajadah kepadanya. Kemudian member kesempatan Rofiq berwudhu untuk melaksanakan Sholat.
Itu adalah sholat pertama kali Rofiq, setelah lama dia tinggalkan. Dalam sholatnya Rofiq menangis menyesali tindakanya selama ini yang sudah salah jalan.
Setelah Rofiq selesai sholat dan berdoa, tampak Rofiq lebih tenang dan kemudian berbaring. Nampak ada tetesan air mata, yang mengalir disudut matanya. Rupanya Rofiq sudah benar benar sadar akan kesalahanya. Akhirnya Rofiq bisa tertidur pulas tanpa ada sesuatu yang terjadi.
...Flashback Off...
Pak Yadi POV
Sampai dikantor aku langsung menuju ruangan dimana Rofiq ditahan. Aku bertanya pada petugas jaga.
“ Bagaimana keadaan semalam ?” tanyaku.
“ Siap pak ! Semua aman terkendali.” Jawab petugas itu.
“ Ada laporan lain ?” tanyaku lanjut.
“ Berita bagus pak, saudara Rofiq, semalam minta sajadah dan ijin melaksanakan Sholat.” Kata petugas itu.
“ Baiklah kalo begitu, sekarang aku akan temui dia di sel !” kataku pada petugas jaga.
Kemudian aku masuk ke ruang dimana Rofiq ditahan.
“ Bagaimana kondismu sekarang pak Rofiq ?” tanyaku pada Rofiq.
“ Alhamdulillah sekarang saya lebih tenang pak, saya sudah pasrah dan taubat sekarang. Saya mau kembali ke jalan yang benar.” Jawab Rofiq.
“ Baguslah kalo begitu, semoga kamu bisa Istiqomah dalam taubatmu. Bukan hanya taubat sambal saja.” Jawabku, memancing reaksi Rofiq. Untuk melihat lebih jauh, dia taubat beneran atau tidak.
Aku jadi berpikir, jika Rofiq tulus bertaubat, bisa kuusulkan jadi tahanan luar. Biar bisa ikut membantu keamanan di rumah pak Yasin.
“ Jika kamu beneran bertaubat, aku akan usulkan kamu jadi tahanan luar, semoga Komandanku mengijinkan. Tapi jika kamu berulah, aku tak segan menembakmu nanti.” Kataku pada Rofiq.
“ Terimakasih pak, saya tidak akan berulah apapun. Tapi sebenarnya saya hanya ingin dipertemukan dengan ibu dan adikku pak ?” Tanya Rofiq penuh harap.
“ Aku tidak berani menjawab sekarang, nanti kutanyakan dulu.” Jawabku.
Kemudian aku keluar ruangan meninggalkan Rofiq, untuk menemui Komandan.
Singkat cerita, komandan member ijin Rofiq jadi tahanan luar. Namun harus ada jaminan dia tidak akan kabur dan tidak akan bertindak sendiri diluar jalur hokum yang berlaku.
Aku menyanggupi apa yang diminta komandanku, dan menyampaikan jika Rofiq akan dijadikan satu dengan Ibu dan adiknya di rumah pak Yasin.
Pimpinan menyetujui, namun meminta waktu untuk melihat kondisi Rofiq secara khusus. Dengan bantuan seorang psykiater. Yang akan memeriksa kondisi kejiwaan Rofiq. Melihat bagaimana perkembangan psikologisnya sekarang ini.
Aku sangat bersukur, jika akhirnya Rofiq berstatus tahanan luar. Harus aku kasih tahu pak Yasin, pikirku dalam hati.
Akhirnya aku ijin keluar untuk menemui pak Yasin, setelah melaksanakan sholat dhuhur.
Aku segera menuju rumah pak Yasin, untuk menyampaikan berita ini. Kemudian masih dengan pakaian dan kendaraan dinasku, aku menuju kerumah pak Yasin.
...Pak Yadi POV end....
...************************...
Di rumah Yasin ( Yasin POV )
“ Fat, kamu dah jadi telpun ibu belum ?” tanyaku pada Fatimah yang sedang bergurau dengan Sidiq dan Arum diruang Mujahadah setelah Sholat dhuhur.
“ Belum lah, nunggu mas bangun.” Jawab Fatimah.
“ Owh… sekarang aja telpon gih, biar mas bisa ikut dengar nasehatnya.” Kataku.
“ Lebih baik chat dulu aja mas, bikin janji sama ibu kalo mau telpon ketemu Yuyut.” Kata Fatimah.
“ Begitu juga boleh.” Jawabku.
“ Mas gak makan siang dulu ?” Tanya Khotimah tiba tiba.
“ Gak aku lagi puasa, kalian saja pada makan dulu sono !” jawabku.
__ADS_1
“ Owh pantes gak ada gelas bekas kopi tadi pagi.” Kata Khotimah.
Ditengah obrolanku tiba tiba, Hanif masuk.
“ Pak ada pak Yadi mencari bapak, sekarang menunggu di depan.” Kata Hanif.
“ Ya, persilahkan masuk dulu.” Jawabku.
Aku segera menuju ruang tamu tanpa berganti pakaian, masih menggunakan pakaian sholatku.
“ Assalaamu ‘alaikum pak Yadi.” Aku menyapa lebih dulu.
“ Wa ‘alaikummsalam pak, maaf ganggu gak pak, baru sholat ya ?” Tanya pak Yadi.
“ Udah selesai kok pak, tadi lanjut ngobrol saja.” Jawabku.
“ Syukurlah kalo begitu, ada yang ingin saya sampaikan tentang Rofiq. Bisakah mabk Isti diajak bergabung pak ?” Tanya pak Yadi.
“ Boleh, biar saya panggilkan dulu.” Jawabku. Kemudian kebelakang memanggil Isti. Dan mengajaknya bergabung bicara dengan pak Yadi.
“ Sekalian bikini minum pak Yadi ya ?” kataku pada Isti.
Aku kembali keruang tamu lebih dulu, sementara Isti masih bikin minuman buat pak Yadi.
“ Sebentar lagi Isti nyusul kesini pak, ada apa sebenarnya kalo saya boleh tahu ?” tanyaku pada pak Yadi.
“ Ada berita bagus pak tentang Rofiq, mungkin Rofiq akan berstatus tahanan luar. Jadi bisa ikut gabung jaga keamanan disini.” Kata pak Yadi.
Tiba tiba Isti menyahut, sambil membawa gelas minuman buat pak Yadi. Dan memberikan buatku juga. Sekedar menghormati pak Yadi sebagai tamu.
“ Benarkah itu pak ?” Tanya Isti.
“ Iya mbak, tinggal menunggu perintah, kapan kakak mbak Isti bisa di keluarkan.” Jawab pak Yadi.
“ Apa yang menjadikan dia bisa berubah status tahanan luar pak ?” tanyaku.
“ Melihat, dia cukup kooperatif dan dalam kasus yang kita tangani dia tidak terlibat langsung. Dan terakhir, dia saat ini sudah Taubat dan sudah menjalankan sholat mulai semalam.” Jawab pak Yadi.
“ Alhamdulillah jika, mas Rofiq sudah beneran taubat…!” ucap Isti sambil berkaca kaca.
“ Tapi masih nunggu hasil test psykiater mbak, semoga saja kondisi psykisnya benar benar baik.” Jawab pak Yadi.
“ Aamiin pak,,, semoga saja begitu. Sebenarnya mas saya itu dulunya orang baik. Sebelum dia dipisahkan dari Istrinya,dan menjadi depresi.” Kata Isti menjelaskan perihal kakaknya.
Kemudian Isti menceritakan perjalanan Rofiq, sampai Rofiq berubah menjadi liar. Yang dulunya pendiam, dan banyak mengalah pada orang lain. Semenjak peristiwa istrinya hilang berubah jadi brutal dan sering buat ulah. Hingga akhirnya terjerumus ke dunia hitam.
Saat kami sedang mengobrol, tiba tiba Fanani datang dan melaporkan pada pak Yadi.
“ Selamat siang pak Yadi, maaf saya mau melaporkan bahwa saat ini kos an Tuti didatangi beberapa personil yang dari gelagatnya tidak berniat baik. Informan yang ada disekitar kos an Tuti, minta bantuan personil untuk bertindak jika terjadi sesuatu. Sekian laporan selesai.”
“ Perintahkan jajaran siluman untuk merapat ke TKP, jika genting segera hubungi Markas minta bantuan !” kata pak Yadi.
“ Siap laksanakan.” Jawab Fanani.
“ Permisi pak, saya harus bersiap menuju Tkp, semoga yang mendekati umpan adalah Kakap bukan sekedar teri.” Kata pak Yadi.
“ Boleh saya ikut pak ?” tanyaku.
Tiba tiba Fatimah istriku datang ikut bicara.
“ Jangan mas, katanya mau bicara sama Yuyut…???” cegah Fatimah.
“ Tapi ini darurat Fat, kuharap kamu bisa mengerti !” sahutku.
Aku agak kecewa dengan kekhawatiran Fatimah yang berlebihan.
“ Tidak mas, Fatimah bilang jangan ikut dulu !” kata Fatimah.
...bersambung...
Terimakasi atas dukungan dari Readers semuanya.
Author akan berusaha terus memperbaiki, bahasa retorika dan lainya.
Semoga dapat menghibur Readers semua.
...Jangan lupa dukungan berupa :...
...Like...
...Komen...
...&...
...Vote nya...
...Terimakasih...
__ADS_1
...🙏🙏🙏...