
🌷🌷🌷
Reader tercinta, mohon maaf jika masih banyak typo karena Auto teks ataupun murni salah ketik.
Semoga tetap bisa menghibur.
🌷🌷🌷
Selamat membaca
...........
Episode lalu
Untuk menuju komplek makam harus ditempuh dengan jalan kaki saja, karena di wilayah tersebut masih sarat dengan nuansa pedesaan. Wilayah jawa tengah yang masih dekat dengan Yogyakarta. Masih masuk wilayah Muntilan arah ke Borobudur dan masuk ke pedesaan dari jalan magelang kea rah kanan yang masih belun padat penduduk.
Sebelum memasuki area makam namun pintu gapura makam sudah kelihatan kami bertiga dihadang oleh seseorang yang tidak kami kenal. Tampaknya punya nyali besar juga orang ini menghadang kami bertiga sementara dia hanya seorang diri namun tidak menunjukkan rasa gentar sedikitpun. Apa maunya anak ini sebenarnya, batinku.
“Tunggu….! Tidak sembarangan orang diperkenankan masuk ke wilayah ini…!” kata orang itu dengan lantang…???
*****
Episode ini
“Kamu luar biasa kisanak, hanya seorang diri berani menghalangi kami. Tapi kita tidak punya niat buruk, kami kesini hanya ingin ziarah kemakam kakek kami saja.” Kataku mencoba menghindari pertikaian.
“Banyak yang bilangnya seperti itu, namun ujung ujungnya ziarah kesini hanya buat kedok untuk melakukan ritual sesat bersekutu dengan Jin dan menjadi pemuja Jin. Kalo kamu memang berniat untuk ziarah dalam arti yang sebenarnya mendoakan leluhur kamu, mau kakek kamu atau siapapun. Maka kamu harus menyebutkan siapa leluhur kamu. Jika tidak maka dengan terpaksa kalian tidak boleh masuk ke komplek makam ini.” jawab orang tersebut.
Aku Sena dan Farhan hanya berpandangan mendengar keterangan dari orang tersebut. Yang aku taksir usianya hanya terpaut sekitar dua tahu sampai tiga tahu di atasku.
“Maaf kisanak, kami benar benar mau ziarah bukan mau menjadi pengikut iblis dengan memuja Jin. Dan nama leluhur kami adalah kakek Jafar sanjaya dan kakek Munasir.” Jawab farhan dengan lembut.
“Kalian jangan mengada ada, ini sudah kesekian kalinya ada orng yang mengaku ahli warisnya kakek kakek tersebut. Namun ketika aku Tanya dari garis silsilah mana dia gak bisa menjawab. Sehingga terpaksa aku mengusirnya dengan cara kasar, karena tidak mau diperingatkan dengan halus.” Ucap orang itu yang sedikit membuat aku tersinggung. Karena jelas aku adalah cucu langsung dari kakek Jafar Sanjaya dia adalah bapak dari ibu kandungku Ningsih.
“Maaf kisanak, aku mengerti tujuan kamu baik mencegah perbuatan sesat agar tidak mengotori pemakaman ini. namun ketahuilah bahwa Aku adalah cucu langsung dar kakek Jafar Sanjaya. Jadi aku mohon jangan halangi kami baik dengan cara halus ataupun kasar. Karena aku juga bisa saja bersikap kasar jika maksut kami dihalangi.” Kataku dengan lantang.
“Terserah kalian mau bilang apa, kalo hanya bermanis mulut semua juga bisa. Yang penting adalah bukti nya bukan sekedar kata kata. Meski aku juga gak suka kekerasan tapi bukan berarti aku takut kekerasan. Meski kalian bertiga sekalipun, demi tugasku menjaga komplek makam ini aku harus tetap bersikap tegas kepada siapapun.” Tantang orang itu.
Mengingat aku punya tugas yang cukup berat dan tidak mau terlibat keributan maka aku minta tolong Farhan untuk bicara. Karena jika aku atau Sena yang bicara mungkin akan menyulut keributan panjang, pikirku.
“Maaf kisanak, sungguh kami tidak bermaksut buruk sedikitpun, saudaraku ini bernama Ahmad Sidiq bin Azzam bin Sidiq Ali. Dan ibunya bernama Ningsih binti Jafar Sanjaya. Apakah itu sudah cukup membuktikan jika kami berniat untuk ziarah bukan bermaksut melakukan perbuatan Musrik ?” Tanya Farhan ke orang itu.
“Belum cukup…!” jawab orang itu, yang hampir saja menembus batas kesabaranku jika Farhan tidak memberi kode untuk bersabar.
“Terus maksut kisanak mau minta bukti apa lagi. Bukankah saudaraku ini sudah menjelaskan silsilahku yang menghubungkan ke nasab kakek jafar sanjaya ?” kataku.
“Ada dua pilihan untuk membuktikan jika kamu memang keturunan kakek Jafar Sanjaya dan kamu boleh memilih salah satunya untuk membuktikan.” Ucap orang itu dengan kalem tapi diwarnai senyum ejekan padaku. Aku jadi muak melihat senyum sinis orang itu yang sudah berlebihan jika memang beneran dia bertugas menjaga makam itu agar tidak jadi tempat pemujaan, pikirku.
“Udahlah gak usah bertele tele katakan saja mau kamu apa, waktuku semakin sempit sekarang. Aku gak ada waktu bermain main dengan orang sepertimu.” Ucapku yang sudah mulai hilang kesabaran. Dan lebih membuat aku jengkel karena orang itu malah tersenyum seakan mengejek aku.
“Kamu yang mengaku cucu kakek Jafar, yang lain tidak perlu ikut campur. Meskipun kamu katakan dia saudaramu., tapi belum jelas juga kan saudara dari mana.” Ucap orang itu.
“Maksut kamu apa, sampai segitunya mencampuri urusan pribadi kami. Katakana saja apa dua pilihan yang kamu tawarkan tadi ?” jawabku kesal.
“Baik langsung saja, aku bisa percaya kamu cucu dari Kakek jafar Sanjaya pertama : sebutkan silsilah kamu sampai ke dua tingkat diatas kakek Jafar Sanjaya. Dan aku yakin kamu gak akan bisa karena aku tahu kamu hanya mengaku akau saja.” Kata orang itu. padahal tujuanku kesini memang untuk mencari petunjuk agar mendapatkan garis keturunan yang hilang itu.
Aku sempet bingung mau jawab apa, menghadapi orang aneh tersebut, sampai sampai tanganku sudah merasa gatal ingin memukulnya.
“Terus apa pilihan keduanya ?” tanyaku pada orang itu.
“Nah benar kan kamu gak akan mampu menjawabnya, aku sudah tahu itu. dan sebenarnya pilihan kedua itu tidak ada hanya karanganku saja. Jadi sebaiknya kalian pulang saja lah percumah gak akan bisa kamu melewati garis batas ini.” kata orang itu.
__ADS_1
“Maksut kamu apa sebenarnya, kamu sendiri tadi yang bilang ada dua pilihan dan aku boleh pilih salah satunya. Sekarang kamu bilang gak ada pilihan kedua. Kalo begitu aku pilih pilihan yang ketiga saja, yaitu menghajar kamu biar tahu diri tidak semena mena terhadap orang lain.” bentakku pada orang itu.
Aku lihat orang itu hanya menatap kami satu persatu, kemudian tertawa mengejek kami bertiga. Dan aku bilang ke Sena dan “Farhan biar ini aku yang urus, kalian gak usah ikut Campur.” Kataku berbisik pada Sena dan Farhan.
“Ha ha ha…. Kenapa bisik bisik ? aku terima pilhanmu dan sebenarnya pilihan keduanya memang kalo kamu bisa mengalahkan aku baru aku percaya jika kamu cucu dari kakek Jafar Sanjaya, dan itupun aku yakin kamu gak akan mampu.” Kata orang itu dengan sombongnya.
“Baiklah aku juga terima tantangan kamu, kamu sudah tahu nama asliku sekarang kamu sebutkan nama kamu jangan sampai aku menghajar orang yang tidak aku kenal namanya.” Tantangku pada orang itu.
“Kamu bahkan tidak berhak tahu namaku sekalipun, jika tidak bisa mengalahkan aku. Aku mau mengatakan siapa namaku jika kamu bisa mengalahkan aku. Jika tidak jangan berharap sekedar menyebutkan namaku pun aku gak mau sama orang yang tidak penting semacam kamu.” Kata orang itu yang kayaknya memang mengajak ribut denganku dari awal. Maka habislah kesabaranku, aku melompat ke arahnya dan melyangkan tinjuku ke wajah sombongnya itu.
Namun aku tak menyangka tinjuku hanya mengenai angin, karena dia menghindari tinjuku hanya dengan sedikit memiringkan wajahnya. Sehingga pukulanku hanya beberapa centi meter meleset dari wajahnya.
Kemudian aku susul dengan tendangan kaki memutar mengarah ke pundaknya, aku masih sedikit bersabar tidak mengincar kepalamu yang sombong itu, batinku.
Namun kembali aku di buat malu karena tendanganku hanya mengenai angin saja. Dia hanya memiringkan sedikit badannya dan kakiku juga hanya beberapa centi meter meleset dari tubuhnya.
Yang membikin aku marah dia tidak membalas seranganku sama sekali. Sudah dua kali serangan hanya dihindari saja sehingga kau merasa sangat dipermalukan di depan Sena dan Farhan oleh orang itu.
Aku melompat mundur sebelum memulai serangan ketigaku.
“Jangan hanya menghindar saja seperti pengecut. Jika kamu mampu lawanlah aku. Aku gak mau melawan orang yang hanya bisa menghindar saja.” Kataku geram.
“Aku mau membalas kamu pun rasanya tidak tega, jadi aku cukup menghindar saja. Aku ingin lihat kamu kecapaian dan tak mampu menyentuh aku.” Kata orang itu dengan sombongnya.
Aku memang mengakui jika dia bukan orang sembarangan Namun aku juga tidak mau disepelekan seperti ini. Joyo Maruto saja aku lawan apa lagi ini hanya orang yang tidak jelas, pikirku.
Aku segera mengambil Jurus Suci Hijaiyah untuk dapat segera melumpuhkan kesombongan orang itu.
Dan aku langsung mengambil tingkat menengah aku sambil jurus ‘JIM’ yang bisa bergerak lebih ringan seperti tidak kelihatan meskipun tak secepat sayeti Angin kakek Hadiyan atau ‘Suro maruto’ nya Joyo Maruto. Dengan cepat dan kekuatan penuh aku menggempur orang itu dengan sekali lompatan kusarangkan kibasan telapak tanganku kearah dadanya. Dengan harapan dia tak lagi dapat mengelak dan jatuh tersungkur tapi tidak sampai fatal. Karena aku juga tidak mau menjadi pembunuh, tentunya.
Namun lagi lagi aku dibuat malu kibasan telapak tanganku masih bisa dihindarinya dengan mudah. Sehingga kibasan telapak tanganku hanya mengenai ranting pohon kecil yang tadi disampingnya.
Entah sudah berapa kali serangan yang aku lancarkan dari kekuatan dan kecepatan sedang sampai tinggi dan full power semua dapat dihindari dan tanpa dibalasnya sekalipun.
Aku benar benar merasa marah dipermalukan seperti itu, maka ketika Sena menghampiriku untuk memberikan bantuan pun aku tolak.
“Gak usah aku akan hadapi dia sendiri dan aku gak akan kasih dia ampun lagi.” Jawabku geram.
“Baik kerahkan semua kemampuan kamu, kali ini aku tidak akan menghindar dan akan menyambut seranganmu dengan tanganku juga.” Jawab orang itu yang mungkin juga sudah mulai lelah menghindar terus.
Tanpa pikir panjang aku Ambil jurus akhir jurus ‘YA’ yang mampu menjatuhkan lawan dari jarak beberapa meter. Dengan menepukkan telapak tangan ke tanah. Sebelumnya aku bilang ke Farhan dan Sena agar menyingkir beberapa meter dari arena tandingku, karena aku bahkan baru mau sekali ini menggunakan Jurus itu, dalam pertempuran sesungguhnya.
Setelah jarak Farhan dan Sena cukup jauh, aku segera mempersiapkan gerkan Jurus ‘YA’ dan mengangkat tangan kananku lurus keatas, dan siap memukulkan telapak tanganku ke tanah untuk menjatuhkan orang itu.
“Maafkan aku kisanak, aku terpaksa menggunakan ini karena kamu terlalu tangguh jika ku sepelekan.” Kataku sebelum melancarkan serangan.
“Santai saja, aku juga pingin tahu seberapa besar kekuatanmu." Jawab orang itu masih menyepalekan aku. Maka apa boleh buat aku segera memiringkan sedikit pundakku dan menghantamkan telapak tanganku ke tanah. Dan terlihat aliran tenaga yang menghampiri orang itu dan siap menghantam orang itu dalam hitungan detik mungkin agar segera mengenai orang itu yang masih berdiri mematung.
Namun dengan kecepatan yang sangat sulit dilihat, orang itupun melakukan gerakan dan jurus yang sama denganku. Dan efek dan tenaganya jauh lebih besar dari jurus yang akau lancarkan. Sehingga terjadi benturan dua kekuatan sejenis sehingga membuat aku terpental ke belakang beberapa meter.
Aku segera bangkit dan bersiap untuk melakukan serangan yang sama dengan meningkatkan power yang ada.
Tiba tiba orang itu berteriak.
“Cukup Ahmad Sidiq, aku hanya mengujimu atas perintah kakek kamu Jafar Sanjaya. Aku Tohari kakak sepupu kamu yang tinggal tidak jauh dari makam ini. aku adalah putra dari Ayahku Muhsinun kakak sepupu ibumu Ningsih.” Ucap orang itu. sambil menghampiri dan memelukku.
“Kamu kakak sepupuku beneran ? urutanya bagaimana ?” tanyaku agak kurang percaya.
“Iya aku kakak sepupu kamu, ayahku adalah kakak sepupu ibumu Ningsih. Maaf memang beginilah cara penyambutan yang harus aku lakukan kepada kalian bertiga. Karena kita memang sudah saatnya bahu membahu menghentikan kebathilan. Tapi ini masih kurang satu, karena kita nanti akan berlima menghadapi musuh besar kita dalang Anyi Anyi. Kurang satupun kita tidak akan mampu menghadapinya.” Kata Kang Tohari. Aku menyebutnya Kang karena dia adalah kakak sepupu jauhku.
__ADS_1
AKhirnya kami bertiga ditunjukkan ke makam kakek Jafar Sanjaya dan Kakek Munasir oleh kang Tohari.
“Kang Tohari sering ziarah kesini berarti kang ?” tanyaku.
“Hampir tiap hari aku kesini, terutama tiap jumat sore.” Jawab kang Tohari.
“Bukan malam jumatnya kang ?” Tanya Sena.
“Tidak kalo aku ambil hari jumatnya sebagai Sayidul Anam ( Rajanya Hari ) tapi sebenarnya kapan pun boleh gak harus hari tertentu. Kamu yang namanya Sena ?” Tanya kang Tohari.
“Iya kang, dan ini mas Farhan dari jalur istri mas yasin yang katanya juga masih satu keturunan dari mbah Mustholih.” Ucap Sena.
“Iya kang Tohari perkenalkan nama saya Farhan.” Kata Farhan.
“Hmmm… berarti masih kurang satu, keturunan mbah Hadiyan yang belum kelihatan. Tapi dimana dia, karena tanpa dia atau salah satu dari kita kita tidak akan mendapatkan pencerahan garis keturunan yang hilang itu. karena jika kelimanya berkumpul dan menyebutkan dua generasi ke atas maka akan ketemu garis keturunan itu !” ucap kang Tohari.
“Maksutnya bagaimana kang ?” tanyaku penasaran.
Nama garis keturunan yang hilang itu nanti akan ketemu jika kita menyebutkan dua generasi keatas kita. Dimulai dari aku yang tertua secara Nasab, kemudian kamu Ahmad Sidiq, kemudian Farhan dan satu lagi belum ketemu orangnya. Nanti dari penulisan Nama leluhur kita secara berurutan yang disusun dari aku sampai yang kelima akan membentuk nama leluhur kita dilevel tiga dan empat. Kemudian dari nama leluhur kita level tiga dan empat akan membentuk nama leluhur kita ke lima dan ke enam. Dan dari nama leluhur kita level ke lima dan ke enam akan mengerucut pada nama leluhur kita mbah Mustolih. Itulah kenapa kita harus bersatu dan bahu membahu.” Jelas kang Tohari.
“Wah kakek kakek kita dulu sudah suka main tebak tebakan rupanya. Lah tapi kenapa kang Tohari harus mengajak aku berantem sih, untung aku kalah sama kakak ku sendiri jadi gak malu. Kalo kalah sama orang lain kan malu sama Sena dan Farhan kang ?” ucapku mulai bercanda dengan kang Tohari.
“Gak tahu juga, aku hanya mendapat wisik ( \= Isyaroh ) seperti itu. jadi yang aku jalankan saja gak harus tahu tujuanya apa. Yang jelas aku juga ingin mengukur kekuatan kamu, karena kamu nanti yang kan dijadikan senopati dari kita berlima.” Ucap kang tohari.
“Lah kenapa aku kang ? bukan kang Tohari saja yang lebih hebat ilmu kanuragannya ?” tanyaku
“Gak bisa, harus kamu yang dijadikan senopati ing ngalogo ( Senopati perang ) karena kamu yang paling dekat dengan Kakek jafar Sanjaya, sekaligus kakek Sidiq Ali. Paduan strategi dan kanuragan. Gak cukup Strategi saja dan gak cukup kanuragan saja.” Jawab Kang Tohari.
Kami semua terdiam mendengar penjelasan kang Tohari. Kemudian terkahir kang Tohari melanjutkan bicara sebelum memulai mendoakan leluhur kami.
“Ada satu hal, Kakek sidiq Ali mempunyai sebuah Stambul ( al-Quran kecil seukuran kuku ibu jari ). Tapi kayaknya itu bukan jatahnya generasi kita, akan tetapi jatahnya generasi anak anak kita. Meski belum jelas akan jatuh ke siapa. Tapi yang jelas akan jatuh ke salah satu anak anak kita. Itu semacam tongkat estafet dakwah yang harus dilanjutkan. Agar kembali membawa kedamaian, sebagai symbol ajaran agama kita yang rohmatan lil ‘alamin. Karena suatu saat akan muncul banyak isme isme aneh yang akan menjauhkan Islam dari umatnya, umat akan kehilangan ruh Islamnya. Dan Islam hanya akan menjadi Sebuah Simbol saja, jika tidak ada yang meneruskan perjuangan. Minimal di wilayah terkecil kita masing masing.” Jelas kang Tohari.
Setelah itu kami memulai berdoa untuk memohonkan ampun bagi para leluhur dan semua mukminin dan mukminat muslimin wal muslimat. Aku mempersilahkan kang Tohari sebagai yang tertua dari kami untuk memimpin doa tersebut.
Dan setelah berdoa bersama kami diminta singgah kerumah kang Tohari sebentar dan Kang tohari pun mengatakan jika akan ikut kerumahku barang sehari dua hari agar mengenal keluarga besarku. Dan sekaligus mau melihat sampai sejauh mana persiapanku yang akan menghadapi dalang anyi anyi. Sementara katanya untuk urusan Joyo maruto dan muridnya itu masalah sepele. Dan kang Tohari bilang aku pasti bisa mengalahkannya meski jalan yang kutempuh memang berat dan butuh keseriusan dalam berlatih dan Taqorub ilallah.
Episode selanjutnya :
Uji coba ilmu Gabungan Maheso suro dan Mento Rogo
...bersambung...
Terimakasih atas dukungan dari Readers semuanya.
Komentar readers semangat Author
Author akan berusaha terus memperbaiki, bahasa retorika dan lainya.
Semoga dapat menghibur Readers semua.
...Jangan lupa dukungan berupa :...
...Like...
...Komen...
...&...
...Vote nya...
...Terimakasih...
__ADS_1
...🙏🙏🙏...