Isyaroh

Isyaroh
Pengakuan Fatimah istriku


__ADS_3

" Sebenarnya,.... Fatimah tahu, kalo dihati mas itu mencintai Eis, demikian juga sebaliknya. Eis juga mencintaimu, hampir seluruh Santri putri tahu " kata Fatimah.


Aku semakin deg degan menanti apa yang akan disampaikan Fatimah istriku yang sangat aku cintai.


" Sebenarnya sempat gempar, saat kita dinikahkan di pesantren waktu itu mas " lanjut Fatimah.


Aku belai rambut istriku, memberi dukungan kekuatan. Yah apapun yang akan dia sampaikan tentu berat baginya mungkin juga bagiku.


" Saat Fatimah berkemas mau pulang, hampir semua Santriwati memandangku Sinis ! " kata Fatimah disela isak tangisnya.


Sampai disitu aku potong, karena air mata Fatimah menetesi tanganku yg memluknya.


" Sebentar Sayang... Aku tidak bermaksut mengungkit masa lalu. Aku hanya ingin kita saling jujur dan terbuka. Toh kenyataan yg ada, Istriku adalah kamu.


Jadi bicaralah yg tegar, mas gak mau kamu sedih. Karena kesedihanmu menjadi luka dihatiku juga " kataku menghibur nya.


" Iya mas...! " Sela Fatimah.


Fatimah menarik nafas panjang, dan seakan beban berat yg ada di benaknya. Menghalangi tarikan nafasnya...!?!


" Dan saat Fatimah masuk kamar, ternyata Eis sudah ada didalam kamarku, menunggu Fatimah.?" katanya sambil kembali Fatimah terisak, dan kupeluk makin erat.


"Fatimah gak tahu harus bagai mana...? " suaranya terjeda isak tangisnya.


Ucapnya terhenti karena isak tangisnya, aku sabar menunggu dia sampai tenang.


" Fatimah mau nangis mau minta maaf sama Eis..?!? " lanjut Fatimah.


Hampir tiap satu kalimat terhenti karena isak tangisnya.


" Tiba tiba Eis menghampiriku...! " Fatimah terisak lagi.


....


" Dia memelukku, dia berbisik... ini bukan salahmu. Aku sudah tahu, kamu jangan merasa bersalah padaku. " begitu bisiknya padaku


Segitu tegarnya kah Eis...??? batinku.


" Kemudian Eis bilang gini...


" Fat.... kamu sahabat aku, Aku ucapkan selamat atas pernikahanmu. Soal teman teman yg salah faham padamu. Biar Eis nanti yg jelaskan ke mereka "


" Eis beruasaha tersenyum padaku, agar dia tampak tegar mas. Tapi matanya tak mampu menipuku, kulihat ada titik air mata yg menetes disudut matanya " ujar Fatimah.


Aku pun jadi pilu mendengarnya...!!


" Lalu Fatimah merangkulnya dan berkata, Eis... aku harus bagaimana ? Aku tahu kalian saling cinta. Harusnya, kamu yg ada di posisiku tadi. Eiisss... " kata Fatimah sambil menangis.


" Saat itu tangisku tidak dapat kutahan lagi, dan semua santriwati berkumpul disitu. Sebagian masuk ke kamarku. " lanjut Fatmah.


Aku sangat memperhatikan tiap kalimat, tiap kata yg diucapkan Fatimah.


" Dan tiba tiba Isti'anah merangkul kami berdua, dia berkata.


" Fatimah & Eis sahabatku saudaraku, kami teman teman sudah mendengar semuanya " Isti membuka pembicaraan.


" Buat Eis, kami salut dengan ketegaran hatimu. Dan buat kamu Fatimah,


Aku pribadi & mewakili teman teman semuanya.kami mohon maaf, sudah suudhon padamu.


Kami semua juga mengucapkan, Selamat atas pernikahanmu.


Kalo tadi kami suudhon, sekarang kami justru tau, ini juga tentu berat buat kamu.Dinikahkan dengan orang yg tidak kamu cintai.


Dan tentu kamu juga pasti merasa bersalah pada Eis, meski itu bukan salahmu bukan juga salah suamimu.


Sampaikan salam maaf kami semua, yg juga sudah suudhon dengan suamimu.


Karena kami tahu, ini juga gak mudah baginya, bagimu dan bagi Eis" kata Isti'anah sambil terisak.


" Begitulah mas yg terjadi saat itu, maka semua yg ada disitu semua menangis. Jadi tangisan waktu itu, bukan hanya sekedar perpisahan kami saja. " jelas Fatimah.


Akupun tak terasa menitikan air mata


Sekeras apapun hati seseorang jika mendengar itu sudah hampir pasti menangis haru.


" O iya mas...!satu hal lagi pesan dari Eis begini " lanjut Fatimah.


Aku hampir saja gak kuat...!!!


" Udah Sayang gak usah diteruskan, Eis itu masa lalu. Dan kamu adalah masa depanku...." kataku.


" Gak mas... ini Amanah, harus Fatimah sampaikan " sergah Fatimah.


" Apa sayangku pesan Eis sahabatmu itu..? " tanyaku.


Aku sampai tak bisa menutupi rasa haruku. Air mataku hampir saja menetes. Namun kutahan semampuku.


" Eis bilang gini mas,...


" Fat udah jangan nangis, demi Allah aku ikhlash. Aku hanya pesan satu hal buat suamimu.


Tolong nanti kamu sampaikan ke suamimu. Jika Aku Eis, dan semua santriwati disini tidak ada yg menyalahkan kamu Fatimah ataupun suamimu.


Kami semua berharap dan berdoa, kamu dan suamimu bisa saling mencintai.


Satu lagi, jika suamimu masih mau kuanggap sahabat dan saudaraku.


Maka sampaikan padanya, dia harus janji menyayangi dan mencintai kamu.


Apakah kamu bersedia Fatimah ? " kata Eis dengan berkaca kaca.


" Maka meledaklah tangisan kami semua, " jelas Fatimah.


Aku tidak tahu harus bagaimana mensikapi itu.


Yg jelas aku bangga dengan semua teman teman pesantrenku.


" Ya sudah Sayang.... ini semua sudah diatur Allah. Yang jelas, kita harus menatap masa depan. Masa lalu biar jadi kenangan jangan jadikan beban lagi." hiburku pada Fatimah.


" Iya mas... Fatimah juga sudah agak lega. Amanah sudah Fatimah sampaikan. Sebenarnya mau Fatimah sampaikan waktu mas ngajak makan berdua kemarin itu. tapi kok Fatimah ngerasa belum saatnya. Jadi hari ini saat yg tepat barangkali..." ujar Fatimah.


" iya mas faham sekali kok say.." kataku.


" Iya mas makasih mas, tapi boleh tidak tanya sekali lagi. Maaf tapi tidak akan merubah sikap Fatimah pada mas. Dan kalo keberatan gak jawab juga gak papa kok mas " kata Fatimah ragu ragu.


Aku sampai greget nungguin mau tanya apa.


" kamu mau nanya apa sayang ? kok muter muter sih ? " seruku.


" Janji gak boleh marah ya ? " ucapnya.


" Iya kapan aku pernah marahin kamu sayang " seruku sambil memeluk dan mencium pipinya.


" Aah lepasin dulu mas, gimana mau ngomongnya, kalo mas peluk erat begini...." protes Fatimah.


" Gak mau lepas ah, bilang saja sekarang. mau nanya apa ? "


" Gini mas,


Mas masih suka mikirin Eis gak ? Gak papa sih, aku tahu kok aku juga gak akan marah kok mas, sungguh. " kata Fatimah tulus.


" Kok masih gak percaya sama mas ? Gini deh.... Jujur kalo sama sekali lupa sama Eis gak. Tapi mengingatnya juga nggak. Kalo kadang ingat iya, tapi tidak sengaja mengingat.


Apa lagi dia juga sahabat kita satu pesantren, ya paling tidak ingatlah sebagai teman.


Kalo saat ini dan seterusnya, yg aku ingat yg aku inginkan ya cuma kamu sayang....! " kataku.


" ini seriusan, menghibur apa menggombal mas " tanya Fatimah sambil balas pelukanku dengan manja.


" Ini adalah janji seorang suami sayangku... Sudah ah, kita kan baru saja bahagia dengan kehamilan kamu. Jangan berpikir yang aneh aneh lagi sayang " kataku.


" Fatimah juga bahagia banget kok mas. Punya suami yg ternyata begitu penyayang. Fatimah kira mas tu dulu orangnya kejam loh " kata Fatimah.


" masa sih " tanyaku.


" Iya sungguh suamiku tercinta..." jawab Fatimah.


" Iya aku percaya, dan kita sudah seharusnya saling percaya. Bukankah kita sama sama tinggal di pesantren yg sama. Guru yg sama. Tapi... " kataku tertahan.


" Tapi apa mas, kok kayaknya ragu ragu..? " desak Fatimah.


Aku jadi ingat kekhawatiranku jika suatu saat Arum muncul dengan membawa anak, yg ternyata hasil perbuatanku dulu. Haruskah aku ceritakan saja apa adanya.


Apakah Arum dulu keguguran seperti kata warga kampungnya dulu. Sebelum mereka menghajarku dulu.

__ADS_1


Aah mungkin tidak perlu dikasih tahu dulu, maafkan aku ya istriku. Bukanya bermaksut membohongimu. Hanya tak ingin kebahagiaan yg baru kau reguk. Hilang karena cerita masa laluku. Aku ingin kamu bahagia dan trus bahagia, sampai kapanpun.


" Tapi apa sih mas....? " desak Fatimah lagi.


" Owh ini ehm tapi bahagia kan hidup denganku, yg hidupnya pas pasan ? " kataku berbohong.


" Aduuh maasss... kita kan pernah sama sama di pesantren. Pesantren yg sama lagi. Hidup pas pasan kan udah makanan kita tiap hari ? " kata Fatimah.


" Iya sih, tapi..." aku tak sanggup melanjutkan ucapanku.


" Tapi apa lagi mas ku sayang....? " desak Fatimah.


" Gak kok, aku hanya gak kebayang jika kamu sampai tidak merasa bahagia say ! " jwabku berbohong lagi.


" Gak mas aku bahagia kok, dan aku percaya sekarang jika Eis adalah masa lalumu. bukan masa depanmu " kata Fatimah.


" Sungguh ? " tanyaku.


Aku cium kening istriku, dia tersenyum manis sekali.


Haruskah aku masuk ke pembicaraan masa laluku....?


" Mas....? " Fatimah bertanya.


" Apa sayangku ? " jawabku.


" Kok kayak ada masalah sih, kayak bengong gitu ? " tanya Fatimah.


" Iya sejujurnya aku takut kamu gak bahagia, karena aku punya masa lalu " aku mencoba bicara.


" Cuman itu aja ? " tanya Fatimah.


" Iya... Sungguh cuman karena aku punya masa lalu yg gak baik..." seruku.


" Aah suamiku... Apa gunanya masa lalu. Hampir semua teman kita tahu kalo itu. Kami semua ingat saat pertama dibawa ke pondok. Habis dirawat di rumah sakit. Katanya habis dipukulin orang. Itu sudah menunjukan mas orang gak bener waktu itu pasti " ujar Fatimah.


" Owh iya ya, yaudah lupain aja masa lalu. ! " kataku.


" Nah gitu dong mas,.." ucap Fatimah.


" Say aku besuk harus ke jogja, kamu tetep disini dulu ya sampai aman ? " kataku.


" Kenapa sih gak barengan aja mas ? " tanya Fatimah.


" Aku gak mau kamu kenapa napa say, kondisi kurang aman. besuk saja kalo sudah aman aku jemput. Insya Allah gak lama. " hiburku.


" Kang Salim jadi bantui ? " tanya Fatimah.


" Owh jadi, dia besuk langsung ke jogja " jawabku.


" Owh sukurlah kalo dibantu beliau, Kalo mas sendiri rasanya Aku keberatan. bukan ngremehin mas ya, tapi aku mimpi mas dikeroyok makhluk astral sampai gak bisa apa apa "


Itu sih sudah terjadi, bisiku dalam hati.


" Eh anak kita gimana ? Boleh aku cium dari luar ? " pintaku.


" Jangan nanti ada yg iri ? " jawab Fatimah.


" Iri... ? Siapa yg iri ? " tanyaku.


Istriku senyum terus berbisik pelan.


" Ibunya yg iri minta dicium juga, hihii...!! " godanya.


Aku jd gemmesss


"Yaudah kucium ibunya dulu sini....


emmmmhuuuaah....! "


" Mas....! " panggil Fatimah.


" Apa ? " jawabku.


" gak jadi ah entar aja....? kata Fatimah.


" Iih bikin penasaran aja, sini aku mau cium anak ku " kataku.


Kudekati perut istriku,


" Aaah kok pakai daster sih, cuma bisa nyium baju ibunya donk." godaku.


" Aah kamu bikin mas ingin aja sih...?!?" kataku.


" Masa gitu aja bikin pingin ? kok kemarin kemarin lebih suka keluar dr pada ngelonin istri, hayo kenapa...??? " gurau istriku.


" Ya kemarin ku kira kamu masih setengah hati kalo lagi gituan " jawabku.


" Diih... sampai segitu dibilang setengah hati ? Aah gimana sih mas.... " protes Fatimah.


" Gak mas kira kamu sekedar memenuhi kewajiban sebagai istri saja. Gak menikmatinya, jadi sebenarnya....??? " suaraku ku tahan.


" Sebenarnya apa mas.. ? "tanya Fatimah penasaran.


" Sebenarnya mau minta jatah juga mikir, Soalnya kamu dipeluk pun kadang berontak..." jawabku.


" Owh karena itu, hihihi.." tawa Fatimah.


" Kok malah ketawa emang lucu ? " seruku.


" Ya mas kemarin kemarin kasar, gak ada Roman romanya. Tahu tahu main peluk aja. Bilang sayang dulu kek atau cinta atau apa. Main embat aja, udah gitu kalo pulang malam pingin gak permisi apalagi ngrayu kek atau gimana


eeh main buka sendiri aja. gak ada sensasi romantisnya " keluhnya.


" Habisnya tiap aku bilang sayang atau catik kamu bilang aku ngegombal ? " kataku.


Istriku tertawa.


" Ya harus gitulah.... itu artinya wanita itu butuh rayuan dengan kata kata lain gak cuma itu itu aja, kan bosen dengernya ? " serunya.


" Wah jangan janga kamu juga punya banyak pengalan ya ?" kataku.


" Maksut mas, pengalaman apa ? " tanya Fatimah.


" ya pengalan pacaran lah " kataku.


" Ya ada sih, tp jangan marah, dulu aku pacaran paling cuma telpun atau chat aja gak pernah berduaan. kalo ketemu pun aku ngajak temenku " kata Fatimah.


" Siapa temen yg kamu ajak ? " tanyaku.


" Yakin mau tahu ? " tegas Fatimah


" Iya emang siapa " desakku.


" Jangan ksget !!! ? " tegas Fatimah lagi.


" Nggak aku gak akan Kaget , siapa memang " tanyaku penasaran.


" Eis...." jawabnya pendek.


Bagai disambar petir Aku dengar nama itu.


" Berarti kamu pacaranya waktu di pondok juga ? " tanyaku.


" Iya " jawab Fatimah.


"Pas kita dinikahkan, masih pacaran " tanyaku.


Istriku diam sebentar.


" Masih...! " katanya.


" Makanya Eis juga tahu persaanku waktu itu saat kita dinikahkan " lanjut Fatimah


" Teman teman yg lain tahu ? " tanyaku.


" Santriwati yg tahu cuman Eis sama isti, santri yg cowok gak ada yg tahu kecuali yg bersangkutan. Karena orangnya pendiam gak banyak bicara dan gak mau ketahuan kita pacaran " kata Fatimah.


" Sebentar sebentar.... Jangan bilang pacar kamu Samsudin loh ya ?? " kataku.


" Memang dia pacar saya waktu itu ?! " jawab Fatimah.


" Astagjfirrullahal adhiim.


Dia kan teman Akrabku bahkan tiap bolos buat mancing kan sama dia !?! " kataku.

__ADS_1


" Iya memang... Tapi itu juga masa laluku, kuharap mas gak usah curiga apapun. Mas dah buktiin aku masih suci saat nikah dengan mu kan ? " katanya.


" Bukan itu yg aku pikirin, aku mikirin persaan dia ke aku gimana...?" kataku.


" Jadi gini kira kira 5 hari sebelum kita dinikahkan, dia kirim chat ke aku gini :


Syamsudin :


Fat....


Kayaknya kita gak bisa melanjutkan hubungan kita.


Fatimah :


Kamu sehat kan mas ?


Syamsudin :


Alhamdulillah sehat


Fatimah :


kok ngomongnya gitu ?


Sysmsudin :


Iya aku dikasih tahu bibi aku, kamu mau dinikahkan dengan orang lain


Fatimah


Bibimu siapa ? kok tahu aku dan tahu aku mau dinikahkan dengan orang lain ?


Syamsudin :


masak kamu gak kenal bibi aku ?


Fatimah :


ya belum lah kan mas belum pernah kenalin ?


Syamsudin :


Bibi aku itu teh Atikah


Fatimah ;


Istrinya Lurah pondok, kang Nursalim ?


Syamsudin:


La iya, emang ada berapa Atikah disini


Fatimah :


Kamu serius mas ?


Atau kamu sengaja mutusin aku dengan drama ini atau ngeprank ?


Syamsuin :


Gak aku serius kok, udah pokoknya aku ngucapin selamatnya sekarang saja.


karena habis ini aku harus ganti no


supaya gak gangguin kamu


dah yaa...!


Fatimsh :


jangan matiin dulu...!!!


Syamudin :


kenapa lagi ?


Pokoknya kalo belum clear. jgn pergi dulu


Syamsudin :


iya mau tanya apa lagi ?


Aku takut di tungguin teh atikah nih


Gak bolleh lama lama


Fatimah :


Mang sama siapa aku mau dinikahkan


Kamu rela aku dinikahkan dgn orang lain ?


Syamsudin :


Tenang aja, kamu bakal dinikahkan dengan teman kita juga


Aku juga rela....!!!


kalo suatu saat dia ( suamimu ) Nanyain aku, bilang saja kalo aku kamu ( Fatimah ) dan pacar dia itu hanya bisa berencana. tidak berhak menentukan


Fatimah :


dia itu siapa dan pacarnya itu siapa ?


Syamsudin :


Udah deh pokoknya kita tetep saudaraan saja.


Salam buat dia ( suamimu nanti )


Bilang ke dia, dia gak rebut kamu dari aku


Dan akupun gak rebut pacarnya dari dia.


Fatimah :


Gak mau.


Aku gak percaya.


Syamsudin :


Tunggu saja sebentar lagi akan terbukti dan kamu akan faham


Fatimah :


Enggak....


Bilang aja kalo mau putus gak usah berbelit


Kamu ternyata cowok nyebelin, aku benci kamu.


" Begitulah mas ceritanya..." Fatimah mengakhiri ceritanya.


" Jadi Samsudin itu ponakan teh Atikah, kok panggilnya teteh bukan bibi ?"


" Hadddewh berarti Samsudin dinikahkan dengan Eis. sekitar seminggu setelah kita dinikahkan ya Sayang " tanyaku.


" Iya mas jadi ribet gini urusanya ? " kata Fatimah.


" Kamu tahu dari awal kenapa baru bilang sekarang ? yg kudengar dulu Eis dinikahkan dengan orang Bandung juga katanya masih family jauhnya dan atas perjodohan kedua orang tuanya. " ucapku.


" Iya emang bener begitu...


Samsudin orang bandung juga, Samsudin masih ponakan jauh Teh Atikah. Kalo Eis masih ponakan deketnya Teh Atikah..." jelas Fatimah.


" Owh gitu ya... " seruku.


" Eh sayang, kapan kapan kita reunian pas kamu hamilnya udah agak gede, kita ketempat kang Salim kita undang samsudin dan Eis. duluan mana hamilnya, hahaha... pasti seru " ajakku pada Fatimah.


" Mas gak lagi cari kesempatan buat nemuin Eis kan ? " katanya agak cemburu.


" Suer gak, aku udah plong dia jadi istri sahabatku juga, adil kan ? " kataku.


" Boleh juga sih, tapi Fatimah ngobrolnya sama Eis, mas ngobrolnya sama mas Syamsudin,gimana ? " tanya Fatimah.

__ADS_1


" Ok setuju, memang itu rencanaku. minimal ngobrol berempat lah gak ada dua dua an pokoknya..." kataku


...bersambung...


__ADS_2