
Episode 86
“Gak ada apa apa, kalian semua tetap disisni saja.” Kataku.
Sebenarnya tidak enak membuat suasana yang baru saja berbahagia mendadak
berubah jadi tegang dan menakutkan begitu.
“Bang, abang tunggu di ruang tamu dulu, aku akan menengok
keluar sebentar.:” kataku.
Aku melihat tempat biasanya Fanani dan kawan kawan berjaga,
tapi waktu itu tidak ada siapapun. Pada kemana mereka,pikirku. Aku mencoba
berkeliling melihat keadaan sekitar, belum juga melihat keberadaan Fanani
cs. Wah gawat kalo semua tahu merka bertiga
menghilang pasti tambah panik, terus apa yang terjadi dan kemana mereka
menghilang. Hatiku jadi ikut was was, biasanya usai mujahadah mereka bertiga
justru masuk keruang tamu tapi kok sekarang malah pada menghilang begini.
“Bang abang tunggu disini sebentar, aku mau periksa keadaan
diluar rumah. Kenapa Fanani dan lainya gak tampak.” Kataku pada Rofiq setengah
berbisik.
“Bagaimana dengan para wanita ?” Tanya Rofiq.
“Jangan dikasih tahu dulu tentang keadaan ini bang, biar
tidak ada kepanikan.” Jawabku.
“Ok, kamu hati hati yakin gak butuh bantuanku ?” Tanya
Rofiq.
“Insya Allah gak papa bang, mereka tidak mengincar aku untuk
dihabisi.” Jawabku.
“Baiklah, tapi meski begitu jangan sampai lengah. Situasi
saat ini sedang tidak menentu. Bisa saja mereka berubah pikiran dan merubah
strategi dan rencana yang bisa saja mengincar kamu sebagai target untuk
dilenyapkan.” Kata Rofiq.
Aku jadi tertegun mendengar ucapan Rofiq, biswa saja sih
mereka merubah rencana mencari orang lain untuk dijadikan tertuduh. Kemudian menjadikan
aku target untuk dihabisi jika sudah mendapatkan orang yang akan dijadikan
tertuduh. Karena aku termasuk saksi kunci yang bisa membongkar kasus ini, jika
benar begitu. Tapi siapa kira kira? Rofiq jelas gak mungkin, atau kemungkinan
sangat kecil. Bahkan Rofiqpun bisa jadi target yang harus dilenyapkan. Ataukah
mencari orang yang mau dibayar jadi tertuduh, dengan imbalan yang cukup besar
dan jaminan hidup setelahnya. Aku jadi terdiam sesaat memikirkan jika
kemungkinan itu benar. Aku pernah mendengar hal seperti itu, apalagi ini kasus
yang cukup besar.
Karena timbul rasa was was, aku kembali masuk mengambil
senjataku barang kali diperlukan nanti. Ada benarnya juga ucapan Rofiq tadi,
aku tidak boleh lengah,pikirku.
“Ok bang, makasih nasehatnya aku rasa aku perlu juga
menyiapkan senjata barang kali diperlukan.” Kataku.
“Iya, dan jangan sungkan jika memang membutuhkan bantuanku
bilang saja.” Kata Rofiq.
“Iya bang sudah pasti kalo itu.” Jawabku sambil tersenyum.
Aku mauk mengambil Golok dan double stik ku, double stick
lebih sering sku gunakan jika harus bertarung dibandingkan golok. Karena aku
tidak tegaan jika menggunakan golok, melihat aliran darah musuh sekalipun.
Berbeda dengan double stick yang jarang mengakibvatkan luka luar yang berdarah.
Meski dampaknya juga bisa lebih parah dari senjata tajam, disamping itu double
stick itu termasuk senjata bertahan. Bukan senjata untuk menyerang saja, maka
aku lebihmerasa nyaman dengan benda itu.
Setelah aku menganmbil barang barang yang aku perlukan dan
hendak melangkah keluar. Tiba tiba ibunya Isti menhentikan langkahku.
“Nak Yasin, ibu merasa was was sebaiknya kamu berhati hati
ya.” Ucap ibunya Isti padaku.
“Injih bu, doakan saja semoga tidak terjadi apa apa.”
Jawabku.
Belum jadi melangkah, disusul Fatimah dan isti
menghampiriku.
“Ada apa mas, kok bawa bawa senjata segala ?” Tanya Fatimah
padaku.
Entah kenapa waktu itu aku merasa lidahku kelu tak mampu
menjawab pertanyaan Fatimah. Sampai istipun ikut memberikan komentar.
“Iya mas, kayaknya ada sesuatu yang kamu sembunyikan saat
ini ?” Tanya Isti.
Aku semakin bingung dengan pertanyaan Isti, bahkan aku tak
tahu harus bilang apa. Rasanya berat sekali lidah ini digerakkan, bahkan
sekedar membuka mulutpun rasanya sangat susah.
“Mas, perasaan Fatimah kok tidak enak. Sebaiknya mas yasin
telpon pak yadi saja jika ada sesuatu. Jangan bertindak gegabah.” Pinta
istriku.
“Iya nak, ibu lihat kamu juga seperti kebingungan begitu.
Sebaiknya kamu minta bantuan jika ada masalah jangan kamu selesaikan sendiri.”
Tambah ibunya Isti.
Aku justru semakin terpojok, semakin bingung hendak bilang
bagaimana untuk mengatakan bahwa Fanani dan kawan kawanya tidak ada
ditempatnya.
“ Aaah aku belum bisa cerita sekarang, aku hanya ingin
melihat keadaan diluar saja. Bawa senjata hanya untuk jaga jaga saja kok.”
Jawabku dengan susah payah mengucapkan kata kata itu.
“Mas, perasaan Fatimah berkata lain. Kalo sekedar melihat
keadaan diluar rumah gak mungkin mas Yasin sampai terdiam lama. Ditanya berkali
kali baru jawab sekarang !” kata Fatimah.
“Gak kok, gak ada apa apa, hanya bingung kalian Tanya bareng
bareng mau jawab yang mana jadi aku terdiam.” Alasanku mencoba mengalihkan
pembicaraan.
“Fatimah sudah hafal sifat kamu mas, dan perasaan Fatimah
gak bisa dibohongi. Pasti ada yang kamu sembunyikan.” Kata Fatimah.
Aku hanya menggeleng menanggapi kata Fatimah, bagaimana
mungkin aku menceritakan sesuatu yang akan membuat mereka ketakutan dan panik.
Tapi jujur Fatimah ini memang mempunyai naluri yang sangat tajam. Berkali kali
aku ketahuan ketika menyembunyikan perkara yang kuanggap gak perlu aku
ceritakan padanya.
“Katakan saja nak, mungkin apa yang disampaikan istrimu sama
dengan yang ibu katakana tadi. Bahwa ibu merasa was was, makanya memintamu
berhati hati.” Tambah ibunya Isti yang semakin menyudutkan aku.
“Tuh kan mas, apa Fatimah bilang. Mas pasti merahasiakan
sesuatu lagi. Ingat pesan yuyut dan ibu Fatimah dulu mas !” sahut Fatimah.
Mendadak aku jadi kehilangan bahan pembicaraan untuk
berkelit, aku hanya mampu diam menghadapi mereka.
__ADS_1
“Kok aneh kamu mas, merahasiakan sesuatu terhadap istrimu
sendiri. Bahkan ibuku saja sampai memperingatkan kamu, ada apa sebenarnya ?”
Istipun ikutan menyudutkan aku.
Aku yang belum sempat menjawab kaget dengan suara Rofiq,
yang tiba tiba muncul.
“Udah ketemu senjatanya Zain, apa perlu jalan bersamaku ?”
Tanya Rofiq yang membuat lainya jadi semakin penasaran dan memberondongku
dengan pertanyaan yang menyudutkan aku.
“Nah kan, mas Yasin tu selalu begitu. Merahasiakan sesuatu,
ada apa sebenarnya mas Rofiq ?” Tanya Fatimah pada Rofiq.
Rofiqpun baru menyadari jika perkataanya akan menimbulkan
pertanyaan besar bagi para wanita. Dia lupa dengan apa yang sudah aku sampaikan
agar para wanita jangan sampai tahu. Mungkin karena aku terlalu lama tertahan
terus Rofiq menyusul, dan secara spontan dia bertanya begitu.
Aku hanya garuk garuk kepala, sambil memandangi Rofiq yang
tampak menyesali perkataanya.
“Maaf Zain, sudah terlanjur terucap, baiknya kita terus
terang saja ya !?” pinta Rofiq.
“Apa yang sebenarnya terjadi Rofiq ?” ibunya Rofiq yang
bertanya.
Jantungku jadi semakin berdebar,jelas Rofiq juga tidak akan
mampu berbohong pada ibunya. Dan itu berarti semua akan tahu jika Fanani cs
tidak berada ditempatnya.
“Eeh ini bu, tadi kami berdua melihat tempat jaga. Tapi
fanani dan dua kawanya tidak ada ditempat dan belum ketemu sekarang dimana.”
Jawab Rofiq.
Tiba tiba Fatimah langsung menghampiriku dan memarahiku.
“Mas masih juga suka berbohong ya, sudah berapa kali kamu
membohongi Fatimah. Dan sudah berapa kali mas membahayakan keselamatan mas
sendiri. Masih juga sekarang mau mengulanginya lagi ?” teriak Fatimah. Sehingga
semua jadi ikut mengerumuni aku. Khotimah dan Arum yang tadinya agak jauh ikut
menghampiri aku dan ikut bersuara menyalahkan aku.
Khotimah yang sudah tahu apa yang pernah menimpa aku saat
dirumah mertua ikut bersuara lantang.
“Mas Yasin jangan bandel kenapa, kalo mas Yasin gak sayang
nyawa sendiri sayangi nyawa anak mas yang ada dikandungan mbak Fatim dan juga
Sidiq yang sekarang baru tidur.” Kata Khotimah agak ketus.
“Iya mas, kasihan Fatimah istrimu. Arum juga gak ikhlas jika
mas nekat begitu.”
Semua yang ada saat itu menyalahkan sikapku, aku jadi tak
berkutik sama sekali.
“Udah Zain, kita ikuti saja saran mereka. Siapa tahu memang
kamu sekarang benar benar jadi target untuk dihabisi. Bahkan mungkin juga aku.
Banyak kemungkinan yang bisa terjadi.” Ucap Rofiq ikut meyudutkan aku.
“Ok aku harus bagaimana sekarang, laki laki dirumah ini
sekarang tinggal kami berdua. Aku dan bang Rofiq yang masih terjaga disini.
Sementara Fanani dan kawan kawanya belum yahu ada dimana. Apakah aku harus
berdiam diri saja ?” tanyaku.tiba tiba Isti langsung membuka Hp dan menghubungi
Pak Yadi, aku baru ingat jika Isti pun menyimpan no pak Yadi.
“Assalaamu ‘alaikum mbak Isti, ada apa malam malam telpon ?”
terdengar suara pak Yadi di telpon.
“Wa’alaikummussalaam pak Yadi, iya pak maaf mengganggu. Ini
bingung, sementara yang ada disini hanya mas Yasin dan mas Rofiq yang laki
laki.sedang lainya wanita.” Jawab Isti.
“Apa…? Baik mbak saya segera meluncur kesitu. Jangan sampai
pak Yasin dan kakaknya bertindak duluan. Biar nanti saya ajak beberapa personil.”
Kata pak Yadi di telpon
“Baik pak, terimakasih, assalaamu ‘alaikum…” Isti mengakhiri
pembicaraanya ditelpon.
“wa’alaikummussalaam..”
Aku hanya terdiam mendengar percakapan di telpon antara Isti
dan pak Yadi.
“Udah puas kan sekarang mas Yasin, bahkan pak Yadipun
mengtakan kalian jangan bertindak gegabah. Musuh manusia nekat biar yang
berwajib yang menangani, bukan kalian yang bermodal berani saja.” Ucap isti.
“Nah untung ada kamu isti, kalo gak pasti udah nekat pada
keluar tu mas yasin sama kakak kamu.” Sahut Fatimah.
Aku dan Rofiq hanya saling pandang tak mampu menjawab
apapun. Suasana kembali hening, kami kembali duduk diruang mujahadan. Sambil
menunggu kedatangan pak Yadi. Tiba tiba ibunya Isti membuka pembicaraan.
“Maaf nak, bukan ibu mau ikut campur urusan keluarga kalian.
Tapi apa yang dikatakan istrimu itu ada benarnya. Sikap hati hatimu kurang nak,
kamu juga Rofiq.” Kata Ibunya Isti.
“Injih bu, maaf saya hanya tidak ingin membuat semua jadi
panik. Barangkali masih bisa saya temukan sendiri. Tidak harus melibatka pak
Yadi.” Kataku.
“Ibu tahu maksut kamu, tapi itu membahayakan diri kalian
sendiri. Mengingat mereka adalah orang orang yang nekat dan bersenjata, serta
sudah mata gelap. Menghalalkan segala macam cara, untuk mencapaitujuan mereka.”
Ucap ibunya Isti.
“Sudah sering kali bu, kami mengingatkan begitu. Tapi ya
begitulah mas Yasin yang selalu mengikuti kemauan sendiri.” Sahut Fatimah.
Kemudian Fatiamah mengungkapkan apa yang pernah aku alami
saat dirumah mertua dari awal sampai akhir. Sehingga membuat yang seharusnya
tidak tahu pun menjadi tahu. Termasuk Arum dan Rofiq. Bahkan Rofiq pun malah
ikut mengomentari.
“Wah kamu udah gila Zain kalo sampai begitu, istri kamu lagi
hamil jangan bikin ulah begitulah.” Kata Rofiq.
“Iya mas, kata orang jawa kalo istri lagi hamil bahkan tidak
boleh membunuh binatang sekalipun. Kok kamu nekat banget sih.” Arum ikut
menimpali.
Malam itu jika pak Yadi tidak segera sampai mungkin aku akan
habis di ceramhi semua orang yang ada disitu. Untunglah pak yadi segera datang
dengan dua orang temanya. Selamatlah aku dari omelan para wanita yang hoby
menyalahkan laki laki, batinku.
*****
Pembicaraan dengan pak Yadi
“tadi selesai mujahadah, saya mencari Fanani dan kawanya.
Biasanya kumpul diruang tamu sini, kalo sudah selesai mujahadah. Tapi tadi gak
ada, sampai saya tengok ke beberapa tempat tetap saja tidak saya temukan.”
Ceritaku pada pak Yadi.
__ADS_1
“Sebelumnya tidak mendengar sesuatu pak, suara keributan
atau apapun itu ?” Tanya pak Yadi.
“Sama sekali tidak ada pak, bahkan suara teriakan kecilpun
tidak kami dengar.” Kataku.
Kemudian pak yadi memerintahkan kedua rekanya untuk melihat
keadaan sekitar. Sementara pak yadi masih menginterogasi aku dan Rofiq.
Semua kujawab sesuai kenyataan yang ada, tidak ada tanda
tanda keributan yang terjadi. Mereka bertiga begitu saja menghilang tanpa
jejak. Pak yadi sampai heran mendengar penjelasanku dan Rofiq.
“Bukankah ada rdian yang mempunyai kemampuan supra natural
juga, kenapa hal ini bisa terjadi ya pak
?” Tanya pak yadi padaku.
“Tidak ada yang tidak mungkin pak, yang dimiliki Ardian
lebih kepada kemampuanya melihat mahluk astral. Bukan kemampuan untuk menghalau
secara penuh, jadi wajar dia juga kena pengaruh gaib. Meski mungkin juga dia
bisa merasakan sebelumnya, namun tak mampu untuk menghalaunya.” Jawabku pada
pak Yadi.
“Yang aneh, kepergian mereka secara tiba tiba, berbarengan
tanpa jejak sedikitpun itu pak. Kemungkinan apa yang mungkin terjadi pak ?” Tanya
pak Yadi.
“Banyak sekali kemungkina yang mungkin terjadi pak. Kalo itu
ada unsure supra naturalnya ” Jawabku
singkat.
“Misalnya apa pak ?” desak pak Yadi.
“Ada sebuah aliran kebatinan, yang mempelajari ilmu
mempengaruhi alam sadar manusia, sehingga dia bisa memanggil seseorang dari
jarak jauh. Dan orang yang dimaksut akan mengikuti secara wadak ( jasad
lahiriyahnya ) tanpa dia sadari dia telah berjalan menuju suatu tempat yang
dikehendaki pemanggil.” Jawabku.
“Begitu ya pak ? Ada kemungkinan lain tidak pak secara supra
natural ?” Tanya lanjut pak Yadi.
“Kemungkinan lain, mereka ( Musuh ) mengirmkan jin khusus
untuk menyembunyikan Fanani cs. Dengan cara menutupi dari pandangan mata
manusia. Kalo orang jawa bilang dulu ada anak digondol wewe/ genderuwo. Ya
semacam itu, meski mungkin beda motivasi dan kronologis kejadianya.” Jawabku.
“Maaf pak, kalo untuk kasus ini yang lebih mendekati
kemungkinan terbesarnya yang mana pak ?” Tanya pak Yadi padaku.
“Saya harus melihat keluar sebentar pak, untuk melihat gejala
yang timbul baru bisa menjawab.” Kataku pada pak Yadi.
“Baiklah pak, tapi sebaiknya kita menunggu dua orang tadi
datang, biar ada laporan pengamatan sementara.” Kata pak Yadi.
“Baik pak, kita tunggu sebentar barang kali ada petunjuk
yang diperoleh nanti.” Jawabku.
Kami kemudian melanjutkan obrolan ringan, masih seputar
kasus menghilangnya Fanani cs. Meski aku sendiri juga agak heran dengan adanya
Ardian masih saja ada yang mampu mempengaruhi melancarkan serangan supra
natural tanpa ketahuan. Jelas ini bukan orang sembarangan, apakah aku harus
menghubungi kang Salim untuk meminta bantuan. Karena keselamatan keluargaku dan
Rofiq benar benar terancam saat ini.
Tak lama berselang datanglah dua rekan pak Yadi yang
tampaknya tidak berhasil membawa petunjuk apapun.
“Lapor pak, tak satupun petunjuk yang kami temukan. Tidak
ada bekas bekas keributan ataupun bekas bekas yang mencurigakan lainya.”
Laporan salah satu dari dua orang tersebut.
“Ya makasih laporanya.” Jawab pak Yadi singkat.
Pak Yadi pun tampak diam berpikir keras mencari jawaban dari
teka teki misterius ini.
“Ada saran apa pak Yasin ?” Tanya pak Yadi.
“Saya sendiri masih bingung pak, saya harus minta pendapat
dulu dengan Senior saya di pesantren. Jujur masalah ini cukup berat bagi saya
pak.” Jawabku pada pak Yadi.
“ Dan masalah lain, saya tidak mungkin meninggalkan rumah
dalam kondisi seperti ini.” Kataku.
“Susah juga ya pak ?” keluh pak Yadi.
“Baiklah pak, sekarang saya mohon ijin untuk memeriksa
keadaan diluar rumah. Siapa tahu nanti ada petunjuk, jika ada kejadian yang
irasional.” Kataku.
“Baiknya kita bersama sama pak, biar pak Rofiq yang berjaga
didalam rumah. Mari kita sma sama memeriksa.” Jawab pak Yadi.
Kemudian kami berempat memeriksa keadaan diluar rumah, pak
Yadi dan kedua rekanya waspada penuh dengan senjata di tangan. Menjaga segala
sesuatu yang tidak diinginkan, sayangnya Ardian tidak ada. Sehingga tidak ada
yang membantuku, memeriksa kondisi jejak supra natural yang ada. Atau mungkin
juga ini akibat balas dendam atas kejadian semalam,pikirku.
Dengan segenap keyakinanku aku mencoba menembus tabir gaib
untuk mencari petunjuk dimana keberadaan Fanani cs. Dengan memejamkan mata
lahiriyah dan membaca lafadz khusus pembuka mata batin aku mencoba menerawang
dimana keberadaan Fanani cs. Secara samar terlihat, adanya sebuah kabut yang
menutupi pandangan batinku. Ada kekuatan gaib yang mengganggu dan menghalangi
pandangan batinku.
Kekuatan gaib yang menghalangi itu cukup besar, sehingga aku
kesulitan menembusnya. Sehingga aku terpaksa mengerahkan seluruh inner powerku
untuk menembus kekuatan gaib itu. Tapi kekuatan gaib yang menghalangi itu juga
seakan bertambah kuat, seperti ada tambahan kekuatan yang membantu.
Keringatpun mengucur cukup deras dari wajahku, sebagai
bentuk respon tubuh akibat sedang menjalani perang batin dengan kekuatan gaib
yang kurasakan kuat sekali. Ini jelas dilakukan sekelompok orang, bukan hanya
seorang saja pikirku.
Sedikit terbuka tabir gaib yg menghalangi, secara samar aku
melihat Fanani cs disekap oleh mahluk ghoib diikat dan ditutupi kabut halimun sehingga tidak bisa dilihat
oleh mata manusia normal. Dia diikat
disebuah pohon yang taka sing lagi bagiku, pohon itu berada di dekat pemakaman
dusunku.
Saat aku menghentikan aktifitas batinku, karena sudah
berhasil membuka tabir ghoib itu. Tiba tiba aku merasakan ada sebuah benda
menmbus dadaku, dan aku terjatuh. Samar samar aku masih mendengar teriakan pak
Yadi cs.
“Paaaak…!” teriak mereka.
"Mereka di bawah pohon Preh, aku terjatuh." setelah itu semua gelap.
Bersambung.
mohon maaf agak telat up.
__ADS_1
mohon dukungan berupa like dan komen.
Terimakasih.