
🌷🌷🌷
Reader tercinta, mohon maaf jika masih banyak typo karena Auto teks ataupun murni salah ketik.
Semoga tetap bisa menghibur.
🌷🌷🌷
Selamat membaca
............
Judul Episode ‘Tewasnya Maheso Suro dan Mento Rogo’
Sampai akhirnya mereka terbangun saat Matahari sudah Tinggi dan memanaskan tubuh mereka sehingga terbangun
“Ahmad bangun sudah Dhuhur…!” ucap Kang Tohari yang lebih dulu bangun.
Yasin atau Ahmad Sidiq pun terbangun dan segera bangkit untuk mandi dan Sholat, meski mereka tidak membawa baju ganti…..!!!
“Udah dhuhur ya kang ?” Tanya Yasin pada Tohari.
“Iya kamu cepetan mandi dan ambil air wudhu sana, kita jamaah dhuhur dulu.” Ucap Tohari pada Yasin.
“Iya kang.” Jawab Yasin sambil bangkit dan berjalan turun mencari sumber air. Setelah mandi di sumber air bawah bukit Turgo Yasin meraba saku celananya.
“Lumayan, ada uang lima puluh ribu, cukup buat beli makanan di warung.” Kata Yasin dalam hati.
Kemudian Yasin terlebih dulu turun ke perkampungan, menuju ke juru kunci bukit Turgo tersebut. Yasin cukup hafal daerah itu, disamping masih satu wilayah juga beberapa kali pernah ziarah ke tempat itu. sehingga cukup kenal dengan juru kunci tempat itu, yang sekaligus buka warung.
Kemudian Yasin memesan minuman panas dibungkus plastic.
“Mau Ziarah lagi mas ?” Tanya juru kuncinya.
“Iya pak, perlu ninggalin Ktp ?” Tanya balik Yasin.
“Gak usah, mas kan udah sering kali kesini jadi gak perlu lagi.” Bisik juru kunci tersebut. karena ada beberapa pengunjung yang berniat ziarah juga malam harinya. Dan sementara transit di tempat itu. memang cukup banyak yang ziarah ke tempat itu meski tidak seramai tempat lain. Karena disamping harus jalan kaki cukup jauh menaiki bukit. Di puncaknya pun secara lahiriah tidak luas. Sehingga kadang juga harus bergantian dengan peziarah lain.
“Berarti nanti malam aku dan kang Tohari harus pergi sebelum mereka datang.” Kata Yasin dalam hatinya.
Yasin segera kembali ketempat Tohari menunggu sambil membawa bungkusan makanan dan minuman. Kemudian melaksanakan sholat dhuhur kemudian mengajak Tohari makan dan minum dulu. Karena Yasin juga sudah menahan lapar dari subuh tadi.
“Makan dulu kang, aku mampir beli makanan di bawah tadi.” Ucap Yasin pada Tohari.
“memang ada warung di bawah ?” Tanya Tohari.
“Ada lah, aku kan sudah sering kesini kang, tapi lewat jalur pendakian gak seperti tadi pagi harus manjat bergelantungan akar dan pepohonan. Karena naik lewat jalur utara.” Kata Yasin.
“Wah tahu begitu ikutan turun saja tadi, kenapa gak bilang ?” kata Tohari.
“Takutnya kang Tohari gak mau, padahal aku sudah lapar dari pagi. Habis ini turun dulu juga gak papa kang. Nanti habis maghrib naik lagi atau habis Isya Sekalian.” Jawab Yasin.
Boleh lah, aku juga mau cari sesuatu dibawah, yang mungkin bisa dipakai untuk melawan mereka.” Ucap Tohari. Kemudian Yasin dan Tohari turun dari atas bukit Turgo tersebut, mereka menempati sebuah goa kecil di bawah petilasan Syaikh Jumadil Kubro. Untuk mengatur strategi dan rencana melawan Joyo Maruto dan kedua orang Muridnya yang sama sama mempunyai ilmu iblis.
Sebuah ilmu yang tidak layak dimiliki manusia serakah yang menyalahi Qodarullah, menyalahi bahwa setiap yang hidup itu akan mati. Dan sebenarnyalah ilmu tersebut tidak akan pernah ada yang mampu memiliki. Hanya tipu daya Iblis yang menggoda manusia dengan berbagai tipu muslihatnya. Yasin dan Tohari sebagai santri meyakini itu hanya tipu daya Iblis saja. Makanya mereka yakin pasti ada titik kelemahan ilmu tersebut.
Hanya masalah waktu yang akan membuktikan, karena sebelumnya sudah ada ilmu semacam itu. yang katanya bisa hidup lagi jika menyentuh tanah dan lain sebagainya. Namun kenyataanya sampai saat ini tidak ada orang yang tidak mati. Karena itu sudah ketentuan Allah, jika semua yang hidup itu pasti mati.
Dengan bekal keyakinan tersebut Yasin dan Tohari mantap untuk mempersiapkan diri mereka menghadapi Joyo Maruto dan kedua Muridnya.
Sesampai di tempat juru kunci bukit Turgo Yasin dan Tohari memesan kopi panas untuk menghangatkan badan dan mengurangi kembung akibat kedinginan semalaman. Dan mereka sengaja mencari tempat yang agak mojok karena sedang membahas hal hal yang berbau supranatural. Selain tidak ingin didengar orang lain mereka juga tidak ingin orang beranggapan jika ziaroh ke petilasan, ataupun makam orang orang soleh itu digunakan untuk meminta minta kepada ahli kubur. Karena hal itu jelas dilarang dalam agama Islam.
Namun ziarah kubur itu merupakan pengingat akan datangnya kematian, mendoakan yang di kubur serta untuk taqorub ilallah karena dengan berziarah kita sama saja mengakui bahwa kita juga akan di kubur dalam tanah seperti mereka. Sehingga menjadikan kita tidak takabur ( sombong ) dan lebih rendah hati. Karena sejatinya manusia itu hidup di dunia hanyalah sementara, berapa pun luas tanah yang kita miliki, pada akhirnya juga hanya akan menempati tanah yang ukurannya hanya sekitar 2X1 meter persegi.
Berapapun harta yang kita miliki pada akhirnya hanya akan membawa tiga lapis kain kafan sebagai pakaian kita. Seberapa mewah mobil yang kita miliki, pada akhirnya hanya dengan keranda mayat kita di bawa masuk ke kuburan.
Jika sudah seperti itu apa sebenarnya yang dapat kita banggakan di dunia ini…?
Keluarga yang sangat kita cintai pun hanya mau mengantar kita sampai ke kubur, harta yang kita sayangi juga kita tinggalkan. Dan saat itu sesuatu yang tidak kita sukai lah yang setia menemani kita, yaitu amal ibadah kita. Yang kadang kita laksanakan setengah terpaksa, malas malasan dan terkadang juga ada unsur riya kepada manusia.
“Kang, pernah dengar cerita pewayangan dalam lakon ‘Wahyu Senopati’ ?” Tanya Yasin kepada Tohari.
“Pernah, kenapa ?” Tanya Tohari kepada Yasin.
“Dalam cerita itu di ceritakan raden Gatot Kaca berkelahi dengan raden Seteja. Yang ceritanya tiap kali mati bisa hidup lagi jika jasadnya menyentuh tanah. Karena dalam cerita itu dia adalah cucu dewa Bantolo ( Bumi ).” Kata Yasin.
“Hmm iya pernah denger juga sih, terus kenapa ?” Tanya Tohari lebih lanjut.
“Nah Joyo Maruto untuk bisa membunuhnya jangan sampai darah dan jasadnya menyentuh bumi. Seperti yang dilakukan raden Gatot kaca yang berhasil membunuh Raden Setejo dengan najang anjang Kencana ( Balai dari emas ).” Kata Yasin.
“Itu kan hanya cerita pewayangan Ahmad, masak iya kita harus mencari anjang anjang kencana ?” kata Tohari.
“Ya gak begitu juga, tapi kita bisa menisbatkan saja, agar Joyo Maruto bisa kita kalahkan kita harus mencari peti mati yang kita lapisi plastic agar darahnya tidak sampai menyentuh tanah. Barangkali itu yang membuat Khodam Jin itu tidak bisa menghidupkan Joyo Maruto lagi.” Ucap Yasin pada Tohari.
“Ya tapi mana mungkin kita bisa menyediakan itu semua. Kita sekarang hanya berdua dan nanti malam juga kita harus mulai bertarung lagi. Kapan waktunya kita bisa menyediakan itu semua ?” Tanya Tohari.
“Iya sih, tapi paling tidak kita tahu dulu kelemahan mereka, soal bagaimana mencari sarana itu soal nanti. Atau kita upayakan cara lain lagi.” Ucap Yasin.
“Boleh saja, tapi yang seperti itu kamu biasanya yang bisa mencari jalan keluar.” Jawab Sena.
“Iya kang, ini aku juga baru mencari solusi lainya.” Jawab Yasin.
“Satu hal lagi, kalo gak salah yang harus menghadapi Joyo Maruto itu adalah kamu bukan aku Ahmad…!” jawab Tohari.
__ADS_1
“Iya sih, tapi untuk saat ini kan masih menjadi lawan tanding kang Tohari bukan lawan tandingku.” Jawab Yasin.
Tohari Nampak menghela nafas sebentar, kemudian melanjutkan bicaranya.
“Sebenarnya aku juga ingin membantumu, namun dalam hal ini aku benar benar hanya bisa membantu meringankan bebanmu sementara kamu melawan kedua muridnya. Aku melawan Joyo Maruto agar tidak berbuat licik kepadamu. Dan jujur aku gak punya strategi yang bagus seperti dirimu.” Jawab Tohari.
“Aku hanya menerapkan logika kang selain menggunakan fisik juga batinku.” Jawab Yasin.
“Nah untuk kedua murid Joyo Maruto sendiri bagaimana, bukankah keduanya juga memiliki ilmu yang serupa dengan Joyo Maruto. Apakah harus kamu sediakan peti dua lagi ?” Tanya Tohari kepada Yasin.
“Ya gak lah kang, kalo itu beda caranya.” Jawab Yasin.
“Beda caranya gimana, apakah kamu sudah menemukan cara untuk mengakhiri kekejaman orang itu ?” Tanya kang Tohari.
“Yakin sih belum kang, dan ini juga dari filosofi wayang juga. Saat raden Harjuno atau Janaka penengah pandawa melawan dua raksasa kembar yang memiliki ilmu sepert Maheso Suro dan Mento Rogo. Keduanya bisa mati dengan membenturkan kedua kepala raksasa itu hingga keduanya mati bersamaan. Kalo matinya tidak bersamaan maka masih bisa hidup lagi.” Jelas Yasin.
“Owh iya aku juga ingat cerita itu, mudah mudahan saja itu bisa benar benar menjadi kenyataan dalam menghadapi kedua murid Joyo Maruto tersebut.” ucap Tohari.
Dalam hati Tohari mengagumi kecerdasan Yasin, sehingga dia memaklumi kenapa Yasin yang diangkat senopati dalam hal ini. meskipun secara ilmu kanuragan masih dibawah Tohari jauh. Tapi ilmu strateginya yang tidak dimiliki oleh Tohari.
“Iya Aku juga berharap begitu kang, mengingat ilmu orang orang itu seperti kisah dalam pewayangan saja. Mungkin saja memang dari dulu ada Khodam yang begitu, namun akan selalu kalah oleh kebenaran tentunya.” Jawab Yasin.
“Iya benar, aku jadi makin Yakin sekarang.” Jawab Tohari.
“Yakin apa kang ?” Tanya Yasin pada Tohari.
“Yakin kamu mampu mengalahkan Joyo Maruto dan kedua Muridnya. Karena kamu selalu menemukan cara untuk mengalahkan lawanmu. Bukan hanya mengandalkan fisikmu semata.” Ujar Tohari.
“Aah kang Tohari bisa aja menyanjung begitu, kalo gak kang Tohari bantu juga mungkin semalam aku sudah habis di bantai mereka bertiga.” Jawab Yasin.
“Itu perkara beda Ahmad, aku memang ditugaskan membantu kamu. Tapi kan eksekutor terakhir tetap kamu yang harus menghadapi Joyo maruto bahkan Jin penyesat itu juga !” jawab Tohari.
“Ya itu karena aku yang di beri amanat kang, dan aku hanya sami’na wa atho’na saja karena itu juga perintah guru Ngajiku Abah Thoha.” Jawab Yasin.
“Apapun itu, yang jelas tujuan kita sama membasmi kebathilan yang nyata. Peran apapun yang kita sandang tidak lah penting. Yang penting kita bisa menjalankan peran kita sebaik mungkin.” Jawab Tohari.
Keduanya berbincang bincang pelan agar tidak terdengar oleh orang lain yang ada di situ. Kemudian Yasin dan Tohari numpang istirahat sejenak di balai bambu yang lebar. Tempat itu memang disediakan bagi para peziarah yang hendak beristirahat sejenak.
Dan setelah matahari condong ke barat, Tohari dan Yasin pun berpamitan untuk mulai naik kembali ke bukit Turgo setelah sholat ashar di mushola yang di sediakan di situ.
Setelah itu, keduanya merubah rencana untuk melihat lokasi bertempur semalam agar lebih menguasai medan. Dan keduanya kemudian memeriksa bekas pertempuran semalam yang masih meninggalkan jejak jejak pertempuran.
Di saat sedang memeriksa lokasi bekas pertempuran tiba tiba Yasin teringat ketika membongkar makam korban di markas Joyo Maruto. Dia ingat ketika ada dialog antara alamarhum Rahman dan Mento Rogo yang membunuh dan memutilasi Rahman. Dalam dialog itu Rahman yang sudah terbunuh, ruhnya sempat menyumpahi Mento Rogo. Bahwa Mento Rogo akan mati dan wajahnya membusuk sebelum mati dan kematianya disebabkan oleh potongan tubuh Rahman yang di mutilasi tersebut.
Dan Yasin juga ingat jika dia pernah melukai Mento Rogo dengan menggunakan potongan kaki Rahman yang dia kira sebatang kayu. Kemudian Yasin berpikir sejenak, mungkin hal ini ada kaitannya.
Wajah Mento Rogo memang sudah berubah mengerikan sejak asin membakar Mento Rogo lantaran mau berbuat licik menggunakan ajian welut putihnya. Kemudian Yasin juga pernah melukai kepala Mento Rogo dengan potongan Tubuh Rahman.
“Nah mungkin disitulah kelemahan Mento Rogo sekaligus juga kelemahan Maheso Suro, karena ilmu keduanya seperti nyawa Kembar.” Kata Yasin dalam hati.
“Hei Ahmad, ngapain kamu senyum senyum sendiri kayak orang kesambet saja ?” Tanya Tohari kepada Yasin.
“Wkakaka… kang Tohari bisa aja, jin mana yang mau merasuki aku. Baru deket aja udah pada lari karena takut aku jadiin bahan celana…!” jawab Yasin selengek an.
“Huush kamu ini, lagi suasana begini masih juga bisa guyon !” ucap Tohari sedikit jengkel dengan tingkah Yasin yang asli.
“Kang Tohari yang mulai duluan, ngatain aku kayak kesambet segala.” Jawab Yasin santai.
“Habis ku lihat kamu senyum senyum sendiri, memang ada apa kok kayaknya ceria banget ?” Tanya Tohari.
“Nah nanya gitu kan enak, gak usah ngatain orang kesambet segala.” Jawab Yasin kemudian Yasin menceritakan apa yang dia ingat tentang Rahman, Mento Rogo Sumpah Rahman sampai pada kelemahan ento Rogo yang otomatis jadi kelemahan Maheso Suro juga.
Tohari hanya manggut manggut mendengar penjelasan Yasin yang sangat masuk akal itu.
“Iya bagus lah berarti nanti kita atur strateginya saja, menurut kamu bagaimana ?” Tanya Tohari.
“Karena kita Hanya berdua dan melawan tiga orang sekaligus, dan menurut kesepakatan awal bahwa lawan Joyo Maruto nantinya juga aku. Maka nanti malam biarkan aku dan kedua murid Joyo Maruto perang tanding saja. Kang Tohari dan Joyo Maruto tidak usah Bertanding cukup jadi penonton dan saling mengawasi agar tidak terjadi kecurangan.” Jawab Yasin.
“Tapi kamu Yakin bisa mengalahkan mereka berdua ?” Tanya Tohari yang masih mengkhawatirkan keselamatan Yasin Adik sepupunya itu.
“Insya Allah aku yakin kang, sudah semakin jelas dan terbuka melalui ‘ISYAROH’ yang aku dapatkan dari sebelumnya. Bahwa malam nanti adalah malam terkuburnya salah satu sumber kebathilan.” Jawab Yasin.
Tohari terharu mendengar jawaban Yasin yang tidak mengenal gentar sedikitpun harus melawan kedua murid Joyo Maruto itu. Tohari tidak menjawab melainkan memeluk Yasin sepupunya itu dengan penuh rasa haru.
“Baiklah, kau setuju nanti aku akan bikin perjanjian dengan Joyo Maruto agar dia juga tidak ikut campur dalam perang tanding ini.” ucap Tohari kemudian.
Setelah itu keduanya mencari tempat untuk melaksanakan Solat maghrib di sekitar tempat itu dan di lanjutkan Sholat Isya. Sekaligus bermujahadah untuk menghilangkan aura negative tempat itu. Sambil menunggu waktu pertempuran atau perang tanding di mulai.
****
Beberapa saat sebelum Joyo Maruto datang.
Yasin POV
“Kang….?” Sapaku kepada kang Tohari sebelum memulai perang tanding.
“Ada apa ?” Tanya kang Tohari kepadaku.
“Aku bukannya gentar ataupun pesimis, namun kita tidak akan tahu apa yang akan terjadi nanti. Ini hanya seandainya terjadi, aku gagal menghabisi mereka dan justru aku yang tewas. Maka aku titip anak istriku kang.” Kataku pada kang Tohari.
“Kamu gak boleh bilang seperti itu, itu namanya kamu was was…!” bentak kang Tohari.
Aku pun baru tersadar, kenapa kau bicara seperti itu. padahal sore tadi aku sangat yakin akan dapat mengalahkan Maheso Suro dan Mento Rogo.
“Astaghfirrullah… iya kang, kok aku bisa bilang seperti itu sih tadi…?” kataku bingung pada diri sendiri.
__ADS_1
“Cepat baca tiga surat terakhir dalam Al-Quran kamu sedang di tiupkan rasa was was oleh Iblis.” Kata kang Tohari. Akupun segera membaca tiga surat akhir dalam Al-Quran tersebut secara berulang ulang.
Akhirnya rasa percaya diriku kembali muncul, bertepatan dengan munculnya Joyo Maruto dan kedua muridnya.
“Auuuunnggh…. Kalian punya nyali besar juga rupanya setelah semalaman tidak mampu mengalahkan kami, auuuunnggh….!” Ucap Joyo Maruto dengan sombongnya. Soal begini adalah urusanku untuk menyumbat mulut sombong Joyo Maruto, batinku.
“Ha ha ha… kukira kalian yang gak berani datang karena semalam berkali kali udah terkapar setengah mati dan mala mini takut yang setengahnya lagi akan kami berikan jadi bisa utuh mati…!” jawabku tak kalah sombomg denga Joyo Maruto. Sombong pada orang sobong ini pikirku.
Maheso Suro dan Mento Rogo mendengar ucapanku terbawa emosi dan hampir saja langsung mau menyerangku, namun di tahan oleh Joyo Maruto.
“Nampaknya dua murid kamu itu sudah ingin segera mati, menjemput setengah yang semalam tersisa. Maka biarkanlah kalo mereka sudah tak sabar lagi.” Ucapku memanas manasi kedua murid Joyo Maruto itu.
“Auuuunnggh…. Besar mulut kamu bocah, tidak saddarkah engkau bahwa sebentar lagi kamu tidak akan mampu bersuara lagi, auuuunngh….!” Bentak Joyo Maruto.
Tiba tiba kang Tohari ikut menyahut.
“Hei Joyo Maruto, biar malam ini menjadi perang tanding kedua muridmu melawan adik ku. Kam dan aku cukup menonton saja.” Ucap Kang Tohari pada Joyo Maruto.
“Auuuunnggh…aku sepakat malam ini dua muridku yang mati atau adik kamu yang besar mulut itu yang akan mati, auuuunngh….!” Sahut Joyo Maruto.
“Jangan salah kamu Joyo, yang mulutnya besar adalah kalian karena mulut serigala. Sedangkan kami adalah mulut manusia.” Ledeku pada Joyo Maruto dan kedua muridnya itu.
Maheso Suro dan Mento Rogo pun segera melompat menghadapi aku, akupun sudah mempersiapkan diri secara lahir batinku.
Dan tanpa berucap Maheso Suro segera menyerangku secara bersamaan, dari sisi kanan dan kiriku. Aku menghindar sambil melakukan serangan balik ke arah Maheso suro lebih dahulu. Maheso Suro yang tidak mengira aku akan memberikan serangan balasan langsung jadi terkejut dan tak sempat menghindari tinju kananku yang mengarah ke perutnya. Sehingga Maheso Suro terdorong surut ke belakang, dan Mento Rogo yang ikut terkejut itu sesaat menjadi lengah dan aku melakukan tendangan memutar ke kepala Mento Rogo. Sekaligus membuktikan apakah bekas luka Mento Rogo itu benar menjadi kelemahanya atau bukan.
Dan diluar perkiraanku tendangan memutarku yang mengenai kepala Mento Rogo itu berakibat cukup Fatal. Mento Rogo terpelanting Jatuh dan pingsan. Sehingga Maheso Suro cepat mengejar untuk melompatinya. Namun kakiku sempat aku layangkan ke dada Maheso Suro sehingga dia pun ikut merasakan tumitku yang mendarat di dadanya. Hanya sedikit meleset dari ulu hatinya.
Namun membuat Maheso Suro kesulitan bernafas, sejenak. Namun dengan memaksakan dirinya Maheso Suro bangkit dan langsung melompat yang aku kira akan menyerangku. Namun ternyata dia melompati aku dan sekaligus Mento Rogo sehingga Mento Rogo bangkit meski Maheso Suro sendiri juga akhirnya jatuh menahan sakit akibat tendanganku tadi. Namun begitu Mento Rogo melompatinya Maheso Suro pun kembali segar.
Sehingga aku menghadapi musuh yang segar bugar lagi, usaha pertamaku masih gagal untuk dapat membenturkan kedua kepala mereka tersebut.
“Sampai kapan kamu akan bertahan saling melompati seperti itu, sebentar lagi kalian akan mati secara bersamaan.” Pancingku agar mereka menyerang secara bersamaan lagi.
Namun aku salah duga, karena justru setelah itu mereka menyerangku satu satu dengan yang satunya bersiap di belakangnya untuk berjaga jaga jika yang satu kesakitan atau sampai pingsan bahakan sampai mati. Dan berkali kali salah satu di antara mereka yang menyerangku dapat aku lumpuhkan yang di belakangnya melompati hingga dia kembali segar lagi.
Entah sudah berapa jurus dan berapa kali keduanya mengalami luka dan Bahkan mati tapi hidup lagi. Aku hampir kepayahan menghadapi dua musuh yang selalu mendapat hawa segar setelah dilompati satunya.
Aku melompt mundur beberapa langkah mengambil jurus pamungkas jurus ‘YA’ dan aku segera memukulkan telapak tanganku ke tanah menghantam dua makhluk tersebut hingga keduanya terpelanting jauh. Dan secepat kilat pula aku mengejar kedua sosok itu dan kuraih kepalanya dan aku adu dus kepala tersebut sampai kedua kepala mereka berlumuran darah dan diikuti lengkingan panjang. Jerit kematian keduanya yang kemudian keduanya sama sama terjatuh di tanah. Dan salah tubuh mereka aku tendang agar letaknya berjauhan, antisipasi jika salah satunya masih hidup.
“Auuuunnggh…. Awas kamu bocah, auuuunggh…!’ teriak Joyo Maruto yang hendak menyerangku namun kang Tohari segera menyambutnya dengan ajian tatar bayu nya menghadang serangan Joyo Maruto yang akan membokongku.
Dan benturan keras terjadi, dua buah ilmu Tatar Bayu dan Kelabang sayuto menimbulkan suara yang dahsyat.
Joyo Maruto terpental Jauh, dan kemudian kabur, sambil memberikan ancaman kepadaku.
“Auuuunnggh… kamu tidak akan ku biarkan lepas begitu saja dariku bocah, tunggulah pembalasanku besuk malam, auuuunnggh….!” Ancam Joyo Maruto.
“Kemudian kulihat kang Tohari sudah berhasil menguasai dan mengatur jalan nafasnya, setelah berbenturan dengan ilmu Joyo Maruto.
“Kakang gak papa kang ?” tanyaku khawatir pada kang Tohari.
“Alhamdulillah ga papa, meski agak nyeri juga tadi saat benturan, nah kamu besuk harus berhati hati menghadapi ilmu kelabang sayutonya.” Ucap kang Tohari.
“Iya kang.” Jawabku singkat. Kemudian kami segera melihat jasad dua orang pengikut iblis tersebut.
“Bagaimana kang, apakah akan kita serahkan pada ahli warisnya ?” tanyaku pada kang Tohari.
“Kamu lihat saja barang kali dia bawa KTP.” Kata kang Tohari setelah memastikan dua makhluk itu benar benar sudah tewas dan aku juga kasihan sebenarnya. Melihat kondisi mayat tersebut yang melotot dan mulut menganga lebar.
“Tidak ada pengenal apapun kang ?” jawabku.
Akhirnya aku dan kang Tohari menguburkan jasad keduanya dengan layaknya manusia, soal perbuatan mereka adalah tanggung jawab di akhirat nanti. Namun sebagai manusia mereka juga berhak mendapatkan perlakuan secara layak pada umumnya.
Ada perasaan sedih dan kasihan juga melihat dua jenazah yang aku kuburkan dengan cara minimalis begitu. Tidak terbayang bagaimana keluarga yang ditinggalkan jika tahu mereka meninggal dengan cara seperti apa dan bagaimana kondisinya. Namun dengan pertimbangan aku dan kang Tohari memilih menguburkan mereka berdua disitu juga.
Pertama kasihan keluarganya jika tahu peristiwa yang terjadi, keduanya justru takut menjadi beban keluarganya dengan rasa malu atas kenyataan tersebut.
*****************
Episode berikutnya
...bersambung...
Terimakasih atas dukungan dari Readers semuanya.
Komentar readers semangat Author
Author akan berusaha terus memperbaiki, bahasa retorika dan lainya.
Semoga dapat menghibur Readers semua.
...Jangan lupa dukungan berupa :...
...Like...
...Komen...
...&...
...Vote nya...
...Terimakasih...
...🙏🙏🙏...
“Perang tanding dengan Joyo Maruto bag 1”
__ADS_1