Isyaroh

Isyaroh
Tanggung jawab Marjuni


__ADS_3

🌷🌷🌷


Readers Tercinta, mohon maaf jika masih banyak tipo karena Auto teks ataupun murni salah ketik.


Semoga tetap bisa menghibur.


🌷🌷🌷


Selamat membaca


...........


Episode lalu


Tiba tiba Ardian yang datang menyampaikan, jika yang datang adalah Marjuni adik Margono.


“Pak ada yang nyari, namanya Marjuni katanya adiknya pak Margono yang sekarang di tahan di Polsek. Orangnya ngotot pingin ketemu bapak, sebaiknya bagaimana ?” ucap Ardian.


“Tuh kan mas, apa Fatimah bilang tadi ?” kata Fatimah tanpa intro langsung masuk ke nada tinggi….!!!”


 


@@@@****>>>>????


Episode ini


“Tanyain mau apa tujuanya kesini ?” kataku.


“Sudah pak, tapi tetap mau bicara langsung sama bapak katanya gak mau bicara dengan yang lain.” Jawab Ardian.


“Mas janji dulu gak pakai ribut kalo mau nenmuin orang itu !” ucap Fatimah.


“Iya, kamu disini saja gak usah keluar. Tolong bikini minum saja, biar bagaimanapun dia tamu jadi tetep harus dihormati.” Kataku.


“Perlu di temani gak zain ?” Tanya Rofiq.


“Gak usah, takutnya malah kamu yang emosi aku jadi kebawa emosi nanti.” Jawabku sambil bercanda sama Rofiq.


“Kampret lo…!” ucap Rofiq dengan kalimat harianya kalo lagi mengumpat.


Aku segera menemui Marjuni ke ruang tamu.


Setelah aku persilahkan duduk kemudian aku langsung menanyakan maksut dan tujuannya datang ke rumahku. Bahkan datang jauh jauh dar Jakarta, sengaja mau mencariku.


“Gimana kabarmu sekarang, katanya dijakarta. Terus mencari aku ada apa ? kayaknya ada urusan penting banget.” Kataku pada Marjuni.


“Aku gak nyangka kalo yang disebut Yasin itu ternyata kamu, terus aku mau nanya katanya kamu habis berantem sama kakaku Margono. Sebenarnya ada masalah apa diantara kalian ?” Tanya Marjuni.


“Kamu masih ingat kakak kandungku yang bernama Nur Hidayah, apa gak Jun ?” tanyaku pada Marjuni.


“Masih lah, kenapa mang ?” Tanya Marjuni kemudian.


“Dia itu udah meninggal, dan meninggalkan anak belasan tahun sekarang umurnya. Kemudian anak itu dituduh merusak kebun kakakmu. Padahal tidak terbukti, karena anak itu seharian dirumahku saat perusakan kebun itu. dak kakakmu dan anaknya langsung memukuli anak kakak kandungku itu. kalo kamu yang berada di posisiku kamu terima apa gak ?” tanyaku pada Marjuni.


Marjunni terdiam sejenak, agak ragu dia menjawab.


“ya gak terima lah.” Jawabnya.


“Demikian juga aku Jun, jelas aku gak terima dengan kelakuan kakamu yang memukuli anak anak jelas gak sebanding kan kalo kakakmu lawan ponakanku. Kalo kamu lawan aku atau kakakmu lawan aku mungkin baru sebanding.” Kataku pada Marjuni.


“Owh jadi itu penyebab kamu bertarung dengan kakaku ?” Tanya Marjinu kemudian.

__ADS_1


“Bukan karena itu saja !” jawabku.


“Terus karena apa ?” Tanya Marjuni kemudian.


“Awalnya kasus ini aku serahkan ke pihak yang berwajib, karena kau sendiri sebenarnya malas ngurusin hal hal kayak gini lagi, udah bosen Jun. tapi kakakmu yang cemen akhirnya ngajak damai lewat seseorang datang kesini. Dan terjadi musyawarah untuk berdamai. Intinya aku hanya minta Kakakmu dan rombonganya yang terlibat penganiayaan ponakanku minta maaf pada ponakanku dihadapanku.” Jawabku.


“Lah tapi kenapa terus kamu berantem dengan kakak ku ?” Tanya Marjuni.


“Yak arena kakak kamu songong, mau minta maaf datangnya pas maghrib, udah gitu sambil mabuk dan bawa senjata tajam pula. Aku tegur malah ngajak fight, ya kamu tahu sendiri kapan aku mundur kalo diajak fight ?” kataku pada Marjuni dengan sedikit menaikan nada bicaraku.


Marjuni terdiam sejenak, aku menunggu apa reaksinya ketika aku bilang kakaknya yang songong.


“Owh begitu ceritanya, kamu kan tahu kalo kakakku itu memang dari dulu tiap hari kerjanya mabuk.” Kata Marjuni.


“Gak Cuma kakak kamu, tapi kamu juga aku juga tahu itu. tapi bukan itu maslahnya tapi dia bukan mau minta maaf tapi malah ngajak ribut, hingga akhirnya dia dan beberapa orang terbukti membawa senjata tajam dan diamankan dikantor polisi.” Jawabku pada Marjuni.


 “Apa gak kamu coba ajak bicara baik baik dulu, bagaimanapun kita ini kan bertetangga dan kamu juga tahu kalo dia itu kakak ku.” Kata Marjuni.


“Kakak kamu juga tahu kalo yang dia pukuli itu ponakanku, terus aku juga sudah ajak dia bicara baik baik tapi jawabanya malah menantang aku. Dan kamu juga, jangan asal bisa ngomong. Kamu aja nyuruh orang buat nyari aku dan orang suruhanmu langsung melempar kaca jendelaku hingga pecah, tu kamu lihat sendiri. Jadi yang kemarin aku sebenarnya hanya sekedar member pelajaran pada kakakmu agar tidak semena mena. Dan berniat mencabut berkas pengaduan sekarang jadi berubah pikiran karena kelakuanmu sendiri.” Kataku sedikit mengancam.


“Jangan begitu lah, kita kan sudah lama kenal kalo bisa kita damai saja. Soal kerusakan rumahmu aku suruh orang ganti dan perbaiki nanti sebentar juga selesai.” Kata Marjuni.


“Gak cukup itu, ajak nanti si pitak juga kesini aku pingin lihat kamu tampar dia didepanku biar gak macem macem lagi. Karena dialah yang sudah melempar kaca jendelaku.” Kataku.


“Masak harus sampai begitu sih ?” kata Marjuni.


“Ya terserah kamu, mau kucabut berkas pengaduanya atau tidak. Kalo mau ya saratnya begitu kalo tidak ya aku lanjut. Kamu mau terima atau tidak aku gak urusan, karena memanag kenyataanya kakak kamu yang salah.” Ucapku pada Marjuni.


“Ok, asal kamu beneran janji mau cabut berkas pengauan semua sarataku penuhi, nanti sore aku kesini lagi aku ajak juga si Pitak kesini.” Ucap Marjuni.


Saat Marjuni mau pulang datang Khotimah menyajikan minuman.


“Jangan pulang dulu, sduah dibikin minum diminum dulu.” Kataku.


“Iya, istri keduaku, mau apa ?” kataku asal ngomong aja.


“Gak kok gak papa, Cuma nanya aja ? cantik istri keduamu.” kata Marjuni.


“Kalo gak cantik ya gak aku jadikan istri bego kamu !” jawabku sambil menahan tawa. Seandainya Khotimah mendengar juga dia pasti sewot kubilang istri keduaku. Tapi gimana lagi kalo kubilang adik sepupu istriku bisa bisa marjuni Tanya macem macem, aku hafal betul buaya darat kayak Marjuni.


Selesai minum barulah Marjuni pamit pulang, setelah bersalaman mengajak untuk pegang komitmen Marjuni melangkah pulang dan akan kembali habis ashar katanya.


Saat aku kembali duduk baru saja duduk sudah di damprat Khotimah.


“Enak saja ngatain aku istri kedua mas Yasin.” Ucap Khotimah yang diketawain Fatimah dan Isti.


“Dari pada kamu dijadiin istri ketiganya kamu mau ?” kataku pada Khotimah.


“Maksutnya ?” Tanya Khotimah kemudian.


“Orang itu sudah punya dua istri dan matanya jelalatan kalo lihat wanita cantik. Kalo kubilang adikku bisa bisa kamu dijadikan istri ketiganya, kamju mau ?” jawabku ke Khotimah.


“Diih gak lah, lihat orangnya aja bulet kayak gendtong gitu amit amit.” Ucap Khotimah.


Makanya dari pada urusan berkepanjangan aku bilang istri keduaku aja, biar gak Tanya macem macem. Nanti habis asar dia mau kesini lagi, kalian para wanita ngumpet aja terutama kamu isti.” Kataku pada Isti.


“Lah kok terutama Isti, kenapa mas ?” Tanya isti.


“Dari pada aku harus bilang kamu istri ketigaku.” Kataku sambil ngeloyor pergi sebelum diamuk para wanita itu.


“Dasar sableng kamu mas…!!!” bentak isti diketawain yang lain.

__ADS_1


Untung aku cepat masuk kamar, sehiingga hanya mendengar omelan Isti yang gak begitu jelas sambil menahan tawa dikamar. Puas ngerjain mereka setelah tadi membully aku habis setelah sholat dhuhur.


Aku istirahat sejenak dikamar, capek juga menghadapi masalah yang bertubi tubi ini. belum lagi masih harus berpikir keras mencari cara menghadapi ilmu’panggiring Sukma’ yang sewaktu waktu bisa mengancam aku dan anggota keluarga yang lain.


Hingga tak terasa akupun tertidur karena capek berpikir.


*****


Aku dibangankan Fatimah saat kumandang adzan asar telah dilantunkan.


“Mas udah asar, bengun yuuk kita sholat  bareng. Katanya nanti ada yang mau datang habis asar ?” Fatimah mebangunkan aku.


‘Iya sayang, makasih ya kamu baik banget sih.” kataku gak langsung bangkit tapi malah mengelus perut Fatimah yang makin membesar saja rasanya. Pingin segera melihat anakku lahir, anak yang lahir dari rahim istri sahku Fatimah.


“Kok gak segera bangun malah mainin dede didalam perut sih ?” kata Fatimah lembut.


“iya mas pingin segera lihat wajah anak kita sayang, mirip aku apa mirip kamu ya nanti ?” tanyaku pada Fatimah.


“Yee mirip siapa aja terserah mas, kalo gak mirip mas ya mirip Fatimah atau perpauan keduanya. Kan anak kita berdua.” Jawab Fatimah.


Aku kemudian bangkit dan segera mengambil air wudhu serta menjalankan sholat Asar berjamaah.


Seusai solat asra Marjuni beneran datang bersama seorang tukang yang akan mengganti kaca jendelaku yang pecah di lempar si Pitak tadi.


“Beneran datang kamu Jun, kirain lupa ?” kataku pada Marjuni.


“Gak lah, ini sekalian aku bawa si Pitak ke hadapanmu mau diapakan sekarang ?” Tanya Marjuni padaku.


“Itu sih terserah kamu jun, kan kamu yang suruh dia tadi ?” kataku.


“Aku serahin padamu aja sekarang, mau kamu apain terserah.” Ucap Marjuni.


“Gak bisa begitu dong Bro, kan aku berbuat begitu juga kamu yang suruh dan aku juga gak tahu jika kamu kenal dia.” Ucap si Pitak.


“Kamu juga kenal aku kok, terus ngapain kalo udah kenal ?” tanyaku pada Pitak.


 


@@@@*****>>>???


Mohon maaf readers, baru ada kesibukan di RL Up nya kali ini hanya pendek saja.


...bersambung...


Terimakasih atas dukungan dari Readers semuanya.


Komentar readers semangat Author


Author akan berusaha terus memperbaiki, bahasa retorika dan lainya.


Semoga dapat menghibur Readers semua.


...Jangan lupa dukungan berupa :...


...Like...


...Komen...


...&...


...Vote nya...

__ADS_1


...Terimakasih...


...🙏🙏🙏...


__ADS_2