Isyaroh

Isyaroh
Minta kejelasan hubungan Khotimah dan Fanani


__ADS_3

Maksutnya mau melamar siapa mas, kamu tadi bilang mas Candra mau melamar melamar siapa ?” Tanya Fatimah.


“Aku bisikin sini, Candra naksir Khotimah dan mau melamar Khotimah !” bisikku di telinga istriku.


“Haaah terus Fanani gimana ?” kata Fatimah sambil melotot.


“Aku juga belum tahu, nanti kita tanyakan ke Khotimah saja. Bagaimana kelanjutan hubungan dengan Fanani. Kalo hanya dibuat menggantung tanpa ada kejelasan mending terima saja lamaran Candra. Jelas dia serius, masih perjaka dan yang jelas makin merekatkan persaudaraan. Tapi kalo hubungan Khotimah dengan fanani gak jelas, kalo hubungan Khotimaah dengan Fanani sudah jelas atau ada kepastian aku akan sampaikan ke Candra.” Kataku.


“Iya sih mas, kadang Fatimah juga mau nanya ke Khotimah juga gak enak. Tapi Fatimah juga Khawatir kan siapa dan bagaimana Fanani kita belum tahu, rumahnya dimana juga belum tahu.” Kata Fatimah.


“Yaudah, nanti habis mujahadan kita Tanya saja Khotimah. Kalo masih menggantung sekalian kita kasih tahu kalo Candra juga berniat melamar dia.” Kataku pada Fatimah.


“Iya deh terserah mas saja, Fatimah percayakan pada mas soal Khotimah. Kalo menurut mas lebih baik Candra ya Fatimah ikut saja. Dan kalo menurut mas lebih baik Fanani juga Fatimah ikut saja. Tergantung Khotimahnya sendiri yang akan menjalani nantinya.” Kata Fatimah istriku.


“Iya sayang, aku juga tidak akan memaksa hanya ingin adik kita segera menemukan jodohnya biar nanti bisa hidup dengan bahagia bersama keluarganya.” Kataku pada Fatimah.


Kemudia kami segera masuk dan menunggu waktu sholat Isya tiba.


Setelah Sholat Isya dan mujahadah bersama keluarga besar aku dan Fatimah mengajak Khotimah untuk berbicara bertiga. Sementara yang lain masih meneruskan berbincang di ruang mujahadah termasuk isti, Rofiq dan ibunya.


“Ada apa sih mbak kok harus bicara bertiga saja ?” Tanya Khotimah yang masih penasaran dengan apa yang akan kami bicarakan.


“Begini Khot, kamu dulu bilang kamu menjalin hubungan khusus dengan Fanani tapi kamu masih bingung karena Fanani dulu sudah pernah menikah. Mbak mau nanya saja, saat ini sudah sejauh mana pembicaraan kalian terkait hubungan kalian. Kok mbak tunggu tunggu sampai sekarang belum ada perkembangan atau kamu belum pernah bicara sama mbak tentang itu ?” kata Fatimah membuka pembicaraan.


Khotimah Nampak bingung dan terlihat agak murung wajahnya, seperti menyimpan sebuah kesedihan atau kegelisahan.


“Maaf mbak dan mas, Khotimah masih bimbang soal itu. karena tiap kali Khotimah Tanya pada mas Fanani soal rencana kedepan mas Fanani bilang belum bisa memberikan kepastian.” Jawab Khotimah sambil tertunduk lesu.


“Maaf Khot, aku ikut campur urusan pribadi kamu ya. Karena orang tuamu sudah tiada, dan aku sama pak de kamu dan juga bude kamu yang menjadi pengganti orang tuamu sudah dipasrahi untuk menjaga kamu. Jadi aku terpaksa ikut campur yang seharusnya menjadi urusan pribadimu.” Kataku sebelum masuk kepada inti pembicaraan.


“Iya mas gak papa, mas yasin juga sudah Khotimah anggap kakak kandung Khotimah sendiri kok.” Jawab Khotimah.


“Makasih kalo begitu, artinya kamu sudah member ijin jika aku sedikit mencampuri urusan pribadi kamu kan ?” tegasku pada Khotimah.


“Iya mas, Khotimah nurut saja sama mas Yasin karena Khotimah sadar belum banyak pengalaman hidup. Jadi merasa perlu belajar pada mas Yasin dan mbak Fatim.” Jawab Fatimah.


“Jadi aku dan Fatimah ini sangat peduli dengan kamu, makanya kamu aku ajak kesini untuk belajar budi daya tanaman buah. Untuk bekal kamu hidup di masa depan. Kamu sudah cukup dewasa dan harus memikirkan masa depan kamu Khot. Tanpa melupakan kodrat kamu sebagai wanita, yang suatu saat akan menjadi ibu rumah tangga seperti Fatimah kakak kamu juga.” Kataku ku jeda sesaat.


“Dan saat ini kurasa umur kamu juga sudah sepantasnya untuk mulai memikirkan berumah tangga. Oleh karena itu aku dan Fatimah kemarin menanyakan hubungan kamu dengan Fanani. Dan kamu kemarin sudah memberikan jawaban yang menurutku masih belum bisa dikatakan jawaban pasti. Karena baik kamu dan Fanani belum membuat sebuah kesepakatan mau kemana arah hubungan kalian. Sehingga saat ini aku dan Fatimah kakakmu mau menanyakan itu. kami tidak mau jika hubungan kalian tidak jelas kemana arahnya, sementara kamu wanita yang boleh dibilang sudah cukup umur. Mau sampai kapan jika sampai saat inipun belum ada kepastian rencana ?” tanyaku pada Khotimah.


“Iya mas, Khotimah juga berpikir begitu tapi mas Fanani belum juga member kepastian. Padahal maksut Khotimah hanya ingin kepastianya dulu, bukan sekedar ungkapan suka dengan Khotimah tapi tidak ada pembicaraan tentang rencanan ke depan.” Jawaban Khotimah  terhenti sesaat. Tampak ragu ragu mau melanjutkan bicara.


“Kamu gak usah sungkan, disini ada aku dan Fatimah yang siap menjaga dan membantu kamu jika kamu memang butuh bantuan kami.” Kataku pada Khotimah member support agar Khotimah mau berterus terang.


“Sebenarnya Khotimah sudah pernah bilang ke mas Fanani, bahwa Khotimah tidak mempermasalahkan status dia yang sudah pernah menikah. Jika memang serius mau menikahi Khotimah, tapi mas fanani selalu bilang bahwa dia masih belum siap untuk menikah lagi, bahkan untuk bicara nikah lagi pun masih belum siap katanya.” Cerita Khotimah dengan agak berkaca kaca.


Aku sebagai kakaknya, meski dia hanya sepupu dari istriku merasa  kasihan melihat Khotimah bersedih begitu.


“Bagaimana Fatimah menurutmu, kalo aku pribadi tidak tega jika nasib Khotimah digantung seperti itu. minimal ada kepastian jika Fanani serius dengan Khotimah. Meski mungkin butuh waktu juga bagi Fanani untuk mempersiapkan diri.” Kataku.


“Sama aja mas, menurut Fatimah juga harusnya begitu. Tapi kita tanyakan saja langsung pada yang bersangkutan. Sebaiknya bagaimana menurut dia sendiri. Bagaimana Khot, rencana kamu sendiri apakah masih mau menjalin hubungan dengan Fanani atau kamu puya pemikiran lain sekarang ?” Tanya Fatimah istriku.


Sebuah pertanyaan yang cukup bagus utuk mengorek isi hati Khotimah.


“Sebenarnya khotimah juga tidak terlalu buru buru menikah mbak. Tapi hanya butuh kepastian apakah mas Fanani serius mau menikahi Khotimah entah kapan. Atau sekedar menjadikan Khotimah ini sebagai tempat curhat dan sebagai teman saja. Karena selama ini kalo diajak bicara tentang rencana ke depan mas Fanani masih berusaha berkelit dan mengalihkan pembicaraan terus.” Jawab Khotimah.


“Mengalihkan pembicaraab bagaimana maksutnya Khot ?” tanyaku minta penjelasan pada Khotimah.


“Ya selalu bilang, itu soal besuk lah, sekarang kita ngomong yang lain saja. Begitu terus jawab mas Fanani tiap kali Khotimah menanyakan, apakah dia serius mncintai Khotimah atau hanya sekedar mencari teman buat curhat. Karena dia selalu membicarakan mantan Istrinya, sehingga Khotimah merasakan bahwa mungkin mas Fanani itu maih belum rela bercerai dengan istrinya.’ Jawab Khotimah.


“Lah kok bisa begitu Khot ? Kamu harusnya tegas dalam bertanya, kalo memang dia serius harusnya juga sudah mulai membicarakan tentang masa depan kalian bukan hanya s\=ngobrol gak jelas arah pembicaraanya !” sahut Fatimah agak menaikan intonasi bicaranya.


“Tenang dulu fat, jangan terbawa emosi nanti bisa mempengaruhi keputusan Khotimah.” Kataku pada Fatimah.


Justru Khotimah yang kemudian penasaran dan bertanya kepadaku.


“Keputusan apa mas, kok Khotimah gak faham maksutnya.” Jawab Khotimah.


Aku sendiri merasa keceplosan dengan bicara begitu, maka mau gak mau aku harus bicar terus terang tentang rencana Candra yang akan meminag Khotimah jika Khotimah belum dipinang orang lain. Namun tentu saja harus menyusun kalimat yang baik agar tidak menyinggung harga diri Khotimah sebagai wanita.

__ADS_1


“Begini Khot, kamu ini gais yang di anugerahi wajah yang cukup cantik. Bahkan kecantikanmu itu cukup menarik perhatian lelaki. Memang selama kamu tinggal bersama yuyut dulu, kamu jarang bergaul sehingga tidak banyak mengenal laki laki. Buktinya begitu kamu disini ketemu beberapa lelaki banyak kan yang suka dengan kamu termasuk Fanani. Nah sebenarnya bukan hanya Fanani yang suka dengan kamu tapi masih ada lagi yang suka dengan kamu dan berniat menikahi kamu.” Kataku pada Khotimah.


“Ah mas Yasin bisa saja menghibur hati Khotimah. Awas mbak Fatim marah nanti.” Katanya sambil senyum senang kubilang cantik dan balik menggoda aku dan Fatimah.


“Gak mungkin lah Khot, mbak mu ini marah dan cemburu sama kamu. Kalo suamiku hanya bilang kamu cantik, apa lagi bilangnya didepanku juga. Jadi gak mungkin berniat yang gak baik.” jawab Fatimah Istriku.


“Tuh kan, denger sendiri kata istriku tercinta Khot ? kalo dia gak cemburu dan tahu aku tidak bermaksut kurang ajar. Karena Kakak sepupumu tahu kalo aku ini orang yang setia sama istri.” Kataku bangga pada Khotimah.


“Haalaah mas Yasin ini, biasa menggombal pastinya bikin mbak Fatim jadi begitu.” Goda Khotimah.


“Lah kok malah jadi ngomongin aku dan istriku, kan sekarang ini lagi ngomongin kamu Khot ?” kataku mengembalikan lagi ke pembicaraan.


“Ya habisnya mas Yasin yang mulai menggombal, memang siapa yang suka sama Khotimah mas ? “ Tanya Khotimah penasaran.


Kesempatan buatku juga untuk menggoda dia sebelum masuk ke pembicaraan inti.


“Nah muali penasaran ya, mulai kepo nih Khotimah kamu aja yang jawab Fat.” Kataku sengaja mebuat Khotimah penasaran dulu.


“Gak aah mas Yasin aja yang bicara, Fatimah kan gak tahu secara pasti takutnya malah salah bicara.” Jawab Fatimah Istriku.


“Lah kok malah saling lempar, bikin Khotimah jadi penasaran saja mabk Fatim dan mas Yasin ini !” gerutu Khotimah mulai jengkel karena merasa kami permainkan.


Kami berdua jadi tertawa mendengar kata kata Khotimah yang begitu polo situ.


“Gak kok Khot, mas gak bohong beneran ada yang mau melamar kamu. Tapi sementara ini aku tahan menunggu keterangan hubunganmu dengan fanani. Tapi kalo dari Fanani tidak ada ketegasan maka aku akan persilahkan laki laki itu untuk melamar kamu dan selanjutnya akan melamar langsung kepada pakdemu sebagai wali nikahmu. Jika kamu bersedia, bahkan dia siap untuk langsung menikah denganmu juga.” Kataku.


“Lah iya tapi siapa mas orangnya, Khotimah kan jadi penasaran kalo begini ?” jawab Khotimah dengan mode kepo nya.


“Saat ini kurasa belum saatnya kamu tahu Khot, tapi yang jelas orangnya juga tampan muda dan cukup mapan, artinya sudah punya penghasilan tetap meski juga gak kaya raya.” Jawabku membuat Khotimah maki penasaran.


“Siapa sih mbak, kalo Tanya mas Yasin pasti jawabnya muter muter malah bikin makin penasaran saja ?” kata Khotimah balik bertanya pada istriku.


“Ya Tanya mas Yasin lah, mbak juga gak tahu siapa yang dimaksut ?” jawab Fatimah ikut menggoda adik sepupunya Khotimah.


“Aah kalian ini kompak kalo nggodain Khotimah !” gerutu Khotimah mulai tampak jengkel karena merasa dipermainkan.


“Gak kok Khot, gak Cuma saat godain kamu saja. Tapi kami selalu kompak dalam segala hal.” Jawabku pada Khotimah. Membuat Khotimah malah semakin sebel mendengar jawabanku.


Aku da Fatimah yak dapat menahan ketawa melihat ekspresi Khotimah yang manyun penuh kejengkelan pada kami. Sehingga wajahnya yang cantik malah jadi kelihatan lucu dengan ekspresi jengkelnya yang manyun itu.


“Gak Khot, suamiku gak bohong kok memang ada yang mau melamar kamu. Dan jujur saja menurut mbak orang itu justru lebih cocok denganmu. Masih perjaka juga dan serius ingin menikahi kamu. Bukan hanya sekedar bilang suka tapi tidak mau bicara rencana pernikahan.” Kata Fatimah istriku.


“Bodo ah, Khotimah gak peduli kalo gak dibilangin Khotimah gak mau lanjuitin bicara lagi.” Kata Khotimah penuh dengan ancaman kejengkelanya.


“Aku suka sekali kalo lihat adik sepupumu ini manyun macem begitu Fat, asli mukanya jadi lucu banget. Bibirnya kalo manyun begitu udah kayak Donald bebek saja.” Kataku menggoda Khotimah.


“Biarin mau kayak Donald bebek atau siapa bibir juga bibir Khotimah ini bukan bibr mas Yasin.” Sahut Khotimah yang sudah gak sabar menunggu jawabanku.


“Oke aku kasih tahu tapi saratnya harus senyum dulu, mas gak mau jawab kalo wajah kamu manyun begitu jadi jelek tahu ?” godaku pada Khotimah.


“Bodo ah,jelek juga biarin biar jelek juga tetep adiknya mbak fatim istri kamu !” jawab Khotimah mulai ketus.


Aku tertawa dalam hati melihat eskpresi adik sepupu istriku itu, kulihat Fatimah muali mengedipkan matanya member isyarat agar aku segera member tahu siapa orang yang aku maksut.


“Serius pingin tahu orangnya tidak Khot ?” tanyaku pada Khotimah dengan nada serius.


“Mas Yasin pikir dari tadi khotimah Tanya itu gak serius apa, masih bertanya begitu ?” Tanya balik Khotimah masih dengan nada jengkel dan sedikit amarah.


“Ya kalo mau dengerin harus senyum dulu, masa aku harus ngomong sama orang manyun begitu gak enak banget deh.” Jawabku.


“Udah aah mas Kasihan Khotimah udah kepo tingkat dewa begitu masih juga dicandain melulu.” Kata Fatimah istriku.


“iya tuh,suami mbak Fatim kalo gak godain Khotimah mungkin gatel kali.” Sahut Khotimah.


“Lah kenapa malah pada nyalahin aku, kan aku hanya menyampaikan yang sebenarnya, gak enak lah ngomong sama orang yang lagi manyun begitu.” Jawabku.


“Bilang aja kenapa sih mas, atau Khotimah pergi aja nih ?” ancam Khotimah sambil berdiri mau pergi.


“Yee jangan gede ambek begitu lah Khotimah adikku yang paling cantik. Duduk dulu yang tenang aku ceritakan semuanya sekarang, serius.” Kataku.

__ADS_1


“Dari tadi kek mas, gak bikin Khotimah sebel begini.” Kata Khotimah.


“Iya maaf, kan kamu sudah hafal sifat mas mu ini kenapa dimasukin kehati begitu juga.” Kataku.


“Ya sebel aja sukanya godain terus sama Khotimah.” Jawab Khotimah.


“Iya jadi begini Khot, ada orang yang bertanya padaku. Dia menanyakan apakah kamu itu sudah punya pacar atau belum. Jika belum dia mau meminangmu dan akan menikahi kamu. Dan karena kamu adalah adikku maka aku bilang apa adanya, karena kupandang dia cukup baik dan lelaki yang cukup bertanggung jawab dan melindungi wanita. Terlihat dari ketulusan dia yang berniat mempersuntingmu, dan aku cukup kenal dengan dia. Tapi aku juga mengatakan semua itu terserah pada kamu yang akan menjalani. Disamping kamu saat ini juga sudah punya kedekatan dengan fanani.” Kataku membuka penjelasan kepada Khotimah.


“Terus siapa orang itu mas ?” kembali Khotimah menanyakan perihal siapa orang itu.


“Nanti dulu, dengerin ceritaku dulu. Jadi intinya mas dan mbak Fatimah mu ini ingin ketegasan dari kamu. Apakah hubungan kamu dengan Fanani mau dilanjutkan atau tidak. Jika mau dilanjutkan, maka segerlah Fanani untuk membicarakan minimal kepada Aku dan Fatimah. Sukur langsung kepada pak de dan budemu. Tapi kalo tidak mau ya orang lain yang kan melamar kamu lebih dulu. Meskipun itu semua juga terserah kamu mau menerima atau tidaknya.” Penjelasanku ku jeda lagi menunggu respon Khotimah dulu tentang komentarku tentang hubungan dia dengan Fanani.


“Khotimah juga bingung mas, tapi mau maksa juga gak mungkin. Malah kesanya Khotimah ngebet sama dia, tapi menunggu kepastian juga belum ada sampai sekarang. Jadi sekarang Khotimah nurut saja harus bersikap bagaimana dengan status hubungan dengan mas Fanani itu. tapi bilang dulu kek, siapa orang itu.” kata Khotimah tapai tidak dengan nanda jengkel lagi.


“Iya deh, aku kasih tahu tapi menanggapi perkataanmu itu dulu. Aku sarankan jika kamu harus berani bilang ke Fanani. Kamu beri waktu dua minggu jika tidak mau membicarakan serius tentang hubungan kalian maka aka nada orang yang akan melamar kamu. Dan jika kamu mau tahu siapa orang itu, dia adalah orang yang tadi sore datang kesini bersamaku yang kamu buatkan minum sore tadi.” Jawabku.


“Maksut mas Yasin mas nya mbak Arum, mas Candra ?” Tanya Khotimah kaget.


“Iya, apakah kamu keberatan atau tidak suka dengan orang itu, itu hak kamu Khot ?” jawabku.


“Khotimah tahu dia memang tampan mas, tapi bagaimana mungkin Khotimah menikah dengan orang yang pernah memukuli kakak iparku. Apakah tidak mungkin orang seperti itu suatu saat juga akan memukuli Khotimah ?” Tanya Khotimah.


“Semua terserah kamu Khot mau atau tidaknya, hanya saja kamu perlu tahu. Aku justru menilai dia baik dalam melindungi wanita karena dia dulu menghajarku yang telah menodai adiknya. Maaf kalo dia tidak begitu justru aku anggap dia bukan laki laki yang bertanggung jawab dengan adiknya. Kalo dengan adik kandungnya saja tidak tanggung jawab bagaimana dengan istrinya yang boleh dibilang orang lain. Jika aku yang jadi dia pun waktu itu, mungkin aku juga akan bertindak dengan tindakan yang sama.” Kataku memberi penjelasan pada Khotimah.


“Tapi kan mas dulu sudah datang baik baik tapi dia tetap menghajar mas sampai luka parah ?” sahut Khotimah. Aku tidak menyangka jika Khotimah justru masih menaruh amarah dengan Candra yang dulu menghajar aku. Padahal dia hanya endengar kisahnya tidak melihat secara langsung kejadianya.


“Iya aku athu, tapi hikmah dari itu aku bisa masuk pesantren dan menemukan jalan hidupku saat ini, sampai dengan aku bisa menjadi suami dari Fatimah kakakmu ini. jadi semua yang terjadi dulu iti memang sudah kehendak Allah. Jangan terlalu diungkit atau menyimpan dlam dendam berkepanjangan.” Jawabku pada Khotimah.


“Bener Khot kata suamiku, mbak aja bisa maafin semua itu bahkan bisa menerima keberadaan Sidiq dan mau menganggap dia sebagai anakku juga. Masak kamu yang tidak terdampak langsung malah bersikap begitu. Kalo kamu tidak mau sama dia itu hak kamu, tapi jangan karena itu kamu menolaknya. Dan jika kamu masih tetap mau menunggu Fanani pun itu juga hak kamu, mbak dan suami mbak juga gak akan maksa.” Kata Fatimah.


Aku justru terharu dengan kata kata istriku waktu itu, spontan aku memeluk dia dan mengucapkan terimakasih atas kebesaran hatinya.


“Terimakasih sayang, kamu memang istri yang paling baik aku sangat bersukur punya istri seperti kamu.” Kataku sambil memeluk dan mencium pipi Istriku didepan Khotimah.


Aku tidak bermaksut apa apa, selain itu ungkapan rasa haru atas kebesaran Istriku. Aku juga hanya ingin menunjukkan pada Khotimah bahwa laki laki seperti aku saja bisa lembut jika menghadapi istri yang lembut seperti Fatimah istriku. Agar hati Khotimah bisa terbuka, bahwa dulu Candra berbuat kasar terhadapku didorong rasa sayangnya sama adik kandungnya, meski juga berlebihan. Akan tetapi itu bukan karakter asli Candra, karena sudah terbukti dia mau mengakui juga salah dan meminta maaf serta mau beritikat baik datang kerumah untuk berkunjug sebagai saudara.


“Mbak, mas saat ini Khotimah malah jadi bertambah bingung. Khotimah tidak bisa berpikir jernih, Khtiomah minta waktu untuk berpikir dulu agar tidak salah dalam mengambil keputusan. Maaf jika Khotimah mengecewakan mas Yasin dan Mbak Fatimah, tapi secara jujur mungkin hati Khotimah tidak sebaik mbak Fatimah dan tidak bisa sesabar Mbak Fatimah. Meski Khotimah juga berusaha sabar seperi mbak Fatimah. Tapi kali ini Khotimah bener bener belum bisa untuk berpikir seperti mbak Fatimah, Khotimah mita waktu berpikir dan sekarang Khotimah permisi dulu mau beristirahat dulu.” Jawab Khotimah sambil menangis dan keluar dari kamar kami.


Aku dan Fatimah istriku membiarkan saja Khotimah pergi dengan mata sembab, biarlah dia merenung dulu memang bukan perkara mudah yang dia hadapi. Mungkin saat ini yang ada dihatinya memang Fanani, namun dia juga hrus berpikir realistis bahwa urusan pernikahan itu tidak sekedar urusan cinta semata. Akan tetapi juga butuh pertimbangan realistis bukan sekedar mengikuti bisikan nafsu semata. Jika ternyata yang dicintai ternyata lebih mencintai wanita lain itu akan lebih menyiksa. Biarlah besuk Fatimah yang menjelaskan, yang sudah berpengalaman bagaimana menata hati seorang wanita dalam menjalani hidup berumah tangga dengan lelaki yang awalnya tidak saling cinta. Namun dengan berjalanya waktu bisa saling mencintai bahkan sangat sangat mencintai satu dan lainya.


“Besuk tugas kamu memberikan penjelasan pada Khotimah yan sayang, saat ini kita istirahat dulu saja. Mas kangen bagnget sama kamu sebenarnya, beberapa malam kamu harus tidur sendirian dari saat keberangkatan Arum dan lainya ke pondok kang salim sampai dengan hari ini.” kataku.


“Iya mas, Fatimah juga kangen tapi  Fatimah tahu kok kalo senua ini karena keadaan sehingga waktu kita berdua jadi berkurang. Fatimah gak papa, yang penting masih ada waktu buat Fatimah.” Jawab Fatimah.


Aku langsung memeluk dan menciumi istriku yang beberapa malam selalu tidur sendirian.


...bersambung...


Terimakasih atas dukungan dari Readers semuanya.


Komentar readers semangat Author


Author akan berusaha terus memperbaiki, bahasa retorika dan lainya.


Semoga dapat menghibur Readers semua.


...Jangan lupa dukungan berupa :...


...Like...


...Komen...


...&...


...Vote nya...


...Terimakasih...


...🙏🙏🙏...

__ADS_1


 


__ADS_2