Isyaroh

Isyaroh
Rofiq mengajak Nikah Arum


__ADS_3

Hai Readers tercinta…


Sehubungan memasuki bulan Ramadhan, Author mohon maaf lahir batin, semoga kita mampu menjalankan rangkaian ibadah bulan puasa bagi yang menjalankan.


Mohon maaf jika nanti frequensi up nya berkurang, selamat membaca semoga terhibur.


...**********...


Setelah beberapa saat, barulah Arum ngomong.


“Kalo yang itu Arum gak dengar, katanya sambil kembali melangkah meninggalkan aku dan Rofiq.


“Kalo sekarang kan sudah dengar, terus bagaimana menurutmu Rum ?” tanyaku.


“Yang bersangkutan saja diam kok, mas Yasin aja Cuma bikin isu tuh.” Jawab Arum.


Rofiq yang dari tadi tertunduk tiba tiba mengangkat mukanya menatapku agak jengkel.


“Kampreet bener lo Zain, ternyata sama aja lo dari dulu gak berubah. Aku sampai keringat dingin nih.” Ucap Rofiq.


“Tapi seneng kan, sudah ada signal tuh, tinggal melanjutkan dan segera gerak cepat aja. Jangan Cuma berani nembak LC doang.”  kataku sambil tertawa.


Rofiq benar benar malu dan salah tingkah di hadapanku, mungkin juga mau marah tapi juga gak mungkin saat ini.


“Kampret bener lo, mimpi apa aku bakal lo kerjain begini ?” kata Rofiq, meski pura pura jengkel tapi kulihat roman mukanya berseri. Setelah melihat respon positif dari Arum. Akupun merasa lega, jika Arum dinikahi Rofiq nanti.


Karena pada dasarnya Rofiq itu baik, ingat saat dulu diserang gang lain ketika jendul jadi korban pengeroyokan. Hanya aku dan Rofiq yang berusaha menyelamatkan. Yang lain kabur menyelamatkan diri.


Meski dari kejadian itu, akupun terluka oleh sebuah trisula yang menancap di bahuku. Dan Rofiqpun sempat terluka meski tidak begitu dalam. Seandainya pertemuanku denganya tidak dalam waktu dan tempat yang salah, mungkin hubungan kami bisa seperti saudara dari dulu. Untung saja dia ternyata adalah kakak kandung Isti sahabatku dan juga sahabat istriku. Sehingga permusuhan kami bisa segera berakhir, saat aku bertemu Isti dipenjara waktu itu.


Sementara Arumpun wanita yang baik, bukan wanita yang mudah menerima laki laki. Bahkan dia sanggup menderita terusir dari keluarganya demi menjaga kandunganya. Bahkan sampai saat inipun tak juga dekat dengan laki laki. Jika diungkap sebenarnya justru aku yang kurang ajar, telah berbuat  tak senonoh dengan Arum dulu.


“Bang, abang serius mau menikahi Arum ?” tanyaku pada Rofiq.


“Kenapa kamu meragukan aku Zain ?” Tanya balik Rofiq.


“Gak gitu juga bang, hanya saja aku secara jujur sangat merasa berdosa padanya. Jadi ingin memastikan saja kalo bang Rofiq serius. Jangan sampai dia terluka kedua kalinya bang. Tentu rahu maksutku kan ?” kataku.


“Kamu juga sudah tahu kan, cerita yang menimpa aku dan istriku. Aku pun tak akan membuat luka wanita lain, karena itu berarti melukai diriku sendiri. Juga aku iri dengan kehidupan rumah tanggamu, aku juga ingin memiliki keluarga yang utuh sepertimu.” Jawab Rofiq.


“Iya bang, aku percaya kok Apa lagi setelah aku tahu kamu adalah kakak kandung isti. Secara bibit abang adalah orang baik, hanya kemarin sempat terjerumus ke dunia hitam, sama denganku juga terjerumus.” Kataku.


“Iya Zain, anehnya justru disaat kita hamper berhadapan sebagai musuh, justru berakhir dengan kita jadi akrab begini. Meski dulu juga cukup akrab, tapi hanya keakraban semu yang didorong oleh kepentingan sesaat saja.” Ucap Rofiq.


“Iya ya, dulu kita bisa bercanda dan bersenda gurau kalo pas sama sama lagi teller atau sedang ada misi maksiat saja. Bahkan kadang diantara kita saling berebut seuatu yang gak jelas. Dari masalah pembagian hasil malak sampai dengan berebut botol.” Sahutku sambil tertawa.


Rofiq pun ikut tertawa mengenang masa masa kekonyolan dan kegilaan masa lalu. Kami berhenti saat mendengar suara Tarhim sebelum kumandang adzan subuh.


“Dah hamper subuh bang, kita siap siap jamaah subuh dirumah. Abang yang jadi Imam ya.” Pintaku.


“gak lah kamu saja.” Jawab Rofiq.


“Jadi pemimpin orang gak bener aja berani masak jadi pemimpin solat gak berani bang ?”  gurauku.


“Beda lah Zain, jadi pemimpin prokem asal berani pasti bisa. Jadi pemimpin solat tanggung jawabnya yang berat.” Jawab Rofiq.


“Owh jadi hanya karena gak mau tanggung jawab aja nih.” Gurauku.


“Gak gitu juga, belum saatnya saja kali kalo sekarang.” Kata Rofiq.


Kamipun segera mengambil air wudhu dan segera bersiap menjalankan solat subuh.


...******...


Usai solat subuh aku lanjutkan bicara sebentar dengan Rofiq di ruang tamu sambil ngopi. Aku baru ingat jika ini hari jumat, harus istirhata sebentar nanti agar gak ngantuk saat dengerin khotbah jumat.


“Istirahat dulu bang sebentar, nanti kan jumatan.” Kataku.


“Kalo semua lelaki berangkat jumatan, siapa nanti yang ngawasin  rumah Zain ?” Tanya Rofiq.


“Ada nanti rekan pak Yadi yang non Muslim yang jagain sementara saat kita solat jumat.” Jawabku.


“Owh sukurlah jika begitu, kalo gak ada aku mau jaga rumah saja. Kondisi darurat kan, lagian aku bukan Mukimin disini.” Kata Rofiq.


“Iya bang, masih ingat juga sarat wajib solat jumat bang.” Guraku.

__ADS_1


“masih lah, pernah ngaji juga Zain, 7 sarat solat jumat termasuk mukimin ( orang yang mukim/bukan musafir ).” Jawab Rofiq.


“iya bang, pernah dikasih tahu Isti juga kok, back groung bang Rofiq dulu gimana.” Kataku.


“Yaudah sana istirahat saja.” Ucap Rofiq.


“Okbang, jangan lupa nanti habis jumatan, selesaikan urusan abang dengan Arum. Jangan sampai tertunda. Jumat berkah ni bang, baik buat meminang, meski belum ke wali nikahnya.” Kataku sambil jalan masuk kamar.


Rofiq pun segera bangkit dan masuk kamar ibunya untuk Istirahat, sementara Ibunya dan Isti berada diruang mujahadah bersama yang lainya.


Saat aku berbaring hendak tidur, tiba tiba Fatimah datang mengajak bicara.


“Mas gangguin sebentar boleh ?” Tanya Fatimah istriku.


“Ada apa, mas udah ngantuk sebenarnya, tapi gak papa kalo penting.” Jawabku.


“Kata Arum mas semalem ngomongin Arum sama mas Rofiq, dan mas Rofiq mas suruh lamar Arum ?” Tanya Fatimah istriku.


“Iya, terus tanggapan Arum bagaimana ?” tanyaku penasaran.


“Dia bingung karena orang tuanya belum mau menerima Arum.” Jawab Fatimmah.


“Yang penting Arum nya saja, kalo orang tuanya nanti tidak mau menikahkan cari paman dari ayahnya saja. Dari pada sudah saling suka tapi tidak mau menikahkan malah bisa berbahaya.” Jawabku.


“Iya sih mas, maksutnya yang akan meminang Arum keortunya Arum nanti siapa ?” Tanya Fatimah.


“Yang pasti jangan aku lah, bisa berabe nanti kalo aku ikut. Biar dipikirkan Rofiq dan Isti saja.” Kataku.


“Maaf nih mas, ganggu istirahatnya Fatimah kembali nemuin Arum dan isti lagi ya. Gak perlu ditemenin kan ?” kata Fatimah.


“Iya, gak ditemenin juga gak papa tapi mau nemenin juga boleh.” Gurauku.


Tak lama kemudian aku pun terlelap tidur, aku dibangunkan saat mendekati waktu solat jumat. Kemudian segera madi dan melaksanakan solat jumat dimasjid.


...*****...


Usai solat jumat, aku pulang kerumah bersama Rofiq. Saat sampai dirumah Fanani dan kawan kawan sudah berada di rumah. Aku segera masuk rumah setelah menyapa Fanani Dicky dan Ardian yang baru ngobrolin kejadian semalam. Biarlah itu menjadi obrolan mereka saja.


Aku lebih tertarik melanjutkan obrolan tentang Arum dan Rofiq, semoga mereka bisa menjadi pasangan dan membina keluarga yang Sakinah. Aku berharap tulus minimal mengurangi rasa bersalahku pada Arum yang telah menderita karena aku. Dan mencarikan jodoh bagi Rofiq juga, yang kehilangan istrinya karena ditipu oleh si Gembul dipaksa masuk dunia prostitusi.


Sampai diruang tamu aku langsung bertanya pada Rofiq.


“Jadi gak nih, melamar Arum secara langsung. Jika Arum mau soal pinangan resmi keorang tua nanti kta pikirkan ?” tanyaku pada Rofiq.


“Boleh, aku dah siap sekarang.” Jawab Rofiq.


“Ok, kalo begitu aku panggilin Arum biar didampingi Isti adikmua, gimana ?” tanyaku.


“Boleh kebetulan sekalian Ibu juga biar menyaksikan, nanti.” Kata Rofiq penuh semangat.


Akupun menyampaikan pada Fatimah untuk mengajak Isti dan ibunya mendampingi Arum. Tapi atas usul Fatimah malah Rofiq saja yang diajak ke ruang mujahadah karena semua sedang berkumpul disana. Biar sidiq diajak Khotimah kekamarnya agar bisa leluasa berbicara.


Aku ikutin juga usul Fatimah istriku, mungkin begitu malah lebih baik. dan Rofiqpun bersedia gabung diruang mujahadah untuk menanyakan kesediaan Arum jika mau dipinang dan di peristri oleh Rofiq.


“Udah bang Rofiq, semua sudah berkumpul dan ingin mendengar apa yang akan disampaiakan bang Rofiq. Maka silahkan sekarang bang Rofiq bicara secara terbuka saja. Tidak usah malu malu.” Kataku membuka pembicaraan.


“Baiklah, aku akan mulai bicara tentang niatan tulusku.” Ucap Rofiq terhenti.


“Aku rasa disini semua sudah dewasa, jadi tidak perlu sembunyi sembunyi lagi. Iu dan Isti adikku, saat ini Rofiq mohon doa restu. Karena Rofiq berniat hijrah kembali ke jalan yg diridhoi Allah. Dan saat ini Rofiq akan meminang Arum jika bersedia akan saya jadikan istri Rofiq. Rofiq mohon doa restu ibu, semoga Arum mau menerima pinangan Rofiq. Arum, apakah kamu bersedia jika aku mau memperistri kamu, dan akan membina rumah tangga bersama kamu. ?” ucapan Rofiq.


“Apa mas Rofiq sudah yakin mau menikahi Arum, karena Arum sudah mempunya iAnak dari hubungan terlarang. Arum bukan wanita baik baik yang mampu menjaga kehormatanya sebagai seorang wanita. Dan saat ini Arum tidak mempunyai status yang jelas, gadis bukan janda juga bukan.” Jawab Arum.


“Cukup Arum, Aku sudah tahu semua tentang dirimu. Tidak perlu kamu jelaskan lebih lanjut, aku juga bukan orang yang baik. jika kamu bersedia maka akau akan datang keorang tuamu nanti, jika kondisi sudah aman untuk meminang kamu secara resmi.” Kata Rofiq.


Mendengar percakapan itu hatiku pun terasa ikut teriris, meskipun Arum tidak menyebutkan namaku. Namun jelas semua yang ada disitu  tahu jika cerita Arum adalah melibatkan diriku, baru begini saja rasanya sudah sangat memalukan. Bagaimana nanti di akhirat saat Allah membuka semua perbuatan manusia satu persatu. Aku jadi sadar, jadi beginilah maksutnya jika menutupi aib saudara kita maka Allah akan menutub aib kita diakhirat nanti. Sungguh aib yang terbongkar itu memalukan, maka janganlah gemar membuka aib orang,kataku dalam hati.


“Iya mas, Arum bersedia jika mas Rofiq serius mau menikahi Arum.” Jawaban Arum tertahan karena isak tangisnya tak mampu ditahan.


“Hanya saja, Arum minta mas Rofiq jika serius mau menikahi Arumm maka lakukan segera saja. Jangan sampai terlalu lama,tentu mas Rofiq tahu ketakutan Arum.” Jawab Arum.


“Alhamdulillah.” ucap semua yang ada disitu.


Isti kemudian mendekaati Arum dan memeluk Arum.


“Alhamdulillah mbak, akhirnya aku bakal punya kakak ipar lagi sekarang.” Ucap Isti sambil memeluk Arum.

__ADS_1


Kulihat ibunya Isti pun ikut meneteskan air mata, bahkan semua yang ada disitu semua meneteskan Air mata bahagia. Rofiq tersenyum bahagia  sambil memandangku.


“Selamat ya bang, semoga saja kalian nanti menjadi keluarga yang Sakinah mawadah wa rohmah.” Ucapku memeberi selamat kepada Rofiq.


Diikuti Fatimah memberi selamat kepada Arum dan suasana saat itu benar benar khitmat dan haru. Kami pun melanjutkan dengan acara makan siang bersama.  Dengan menu sederhana namun penuh suasana bahagia.


...*******...


... ...


“Aku maunya Arum dan Rofiq segera dinikhakan saja, soal resepsi bisa menyusul belakangan.” Kataku pada Fatimah.


“Terus yang akan jadi wali nikahnya Arum siapa ?” Tanya Fatimah.


“Itu masalahnya, siapa yang akan jadi wali nikahnya Arum harusnya Ayahnya.kalo tidak kakak kandungnya, paman dari ayah atau kakeknya.” Jawabku.


“Nanti Fatimah bilangin ke Isti aja dulu, yang penting kasih tahu Arum saja siapa yang akan dihubungi nanti saat mau meminang dia.” Ucap Fatimah.


“Kamu sama Isti saja yang atur, mas nikut saja.” Kataku justru baru ingat tidak mungkin ikut menghadiri proses pinangan di rumah Arum. Takut akan terjadi kesalah fahaman lagi nanti.


“Mas ngelamunin apa, jangan jangan masih berat ya mau nikahin Arum dengan mas Rofiq ?” Tanya Fatimah sewot. Mengira aku masih mencintai dan memikirkan Arum.


“Jangan salah sangka dong sayang, mas Cuma mikir gak mungkin bisa ikut dalam proses pinangan Arum dirumahnya nanti. Tahu sendirikan apa yang aku khawatirkan, aku belum siap bertemu keluarga Arum.” Jawabku.


“Serius karena itu mas, bukan karena yang lain kan ?” kata Fatimah.


“Kamu gak usah khawatir, kita ini kan sudah dikaruniai anak yang jadi buah cinta kita. Jadi gak usah cemburu cemburu begitu lah.” Ucapku pada Fatimah sambil mengusap perutnya yang semakin membesar. Aah apa benar ini kembar ya,pikirku dalam hati.


“Apa beneran anak ini kembar ya sayang ?” tanyaku pada Fatimah.


“Diih gak tahu lah, katanya gak usah USG ?” jawab Fatimah.


“Gak papa nanti kalo kondisi memungkinkan kita USG saja. Sambil lihat apakah perkembangan janin normal atau tidak.” Kataku.


Begitulah siang itu seakan semua bisa melupakan masalah yang sedang terjadi, lupa dengan kejadian semalam lupa dengan segala permasalahan dan terror yang sering terjadi. Begitu mudahnya hati manusia terbolak balik, sebentar sedih sebentar bahagia. Padahal yang membuat sedih dan yang membuat bahagia itu kadang sesuatau yang belum pasti. Tapi ya begitulah manusia selalu dipengaruhi sesuatu yang semu, yang tidak pasti.


Tibalah waktu malam, sampai saat pelaksanaan mujahadah selesai. Sisa sisa kebahagian siang tadi masih tampak diwajah wajah mereka. Masih terlihat senyum senyum tipis diwajah Isti,Arum Rofiq dan semuanya. Tapi aku justru merasakan khawatir, seperti akan terjadi sesuatu.


Suasana yang begitu tenang, bahkan suara binatang malampun sama sekali tidak terdengar. Membuat perasaanku tidak enak, sitambah lagi bulu kudukku yang merinding.


“Bang, ikut aku sebentar kedepan yuuk ?” ajakku pada Rofiq.


Melihat aku memasang wajah serius semua jadi kaget dan khawatir.


“Ada apa mas ?” Tanya Fatimah padaku.


“Gak ada apa apa, kalian semua tetap disisni saja.” Kataku. Sebenarnya tidak enak membuat suasana yang baru saja berbahagia mendadak berubah jadi tegang dan menakutkan begitu.


“Bang, abang tunggu di ruang tamu dulu, aku akan menengok keluar sebentar.:” kataku.


Aku melihat tempat biasanya Fanani dan kawan kawan berjaga, tapi waktu itu tidak ada siapapun. Pada kemana mereka,pikirku. Aku mencoba berkeliling melihat keadaan sekitar, belum juga melihat keberadaan Fanani cs.  Wah gawat kalo semua tahu merka bertiga menghilang pasti tambah panik, terus apa yang terjadi dan kemana mereka menghilang. Hatiku jadi ikut was was, biasanya usai mujahadah mereka bertiga justru masuk keruang tamu tapi kok sekarang malah pada menghilang begini.


...bersambung...


Satu komen readers adalah seribu semangat bagi Author.


Terimakasi atas dukungan dari Readers semuanya.


Author akan berusaha terus memperbaiki, bahasa retorika dan lainya.


Semoga dapat menghibur Readers semua.


...Jangan lupa dukungan berupa :...


...Like...


...Komen...


...&...


...Vote nya...


...Terimakasih...


...🙏🙏🙏...

__ADS_1


__ADS_2