Isyaroh

Isyaroh
Memancing khodam panggiring sukma


__ADS_3

🌷🌷🌷


Reader tercinta, mohon maaf jika masih banyak typo karena Auto teks ataupun murni salah ketik.


Semoga tetap bisa menghibur.


🌷🌷🌷


Selamat membaca


...........


Episode Lalu


Dari bait ini, intinya adalah ayat A’udzu bikaliamttillahittammah min Syari ma Kholaq ( Aku berlindung dengan kalimah Allah yang sempurna dari  godaan semua Makhluk.)


Yaa Allah kenapa aku baru ingat sekarang, aku harus banyak membaca doa tersebut untuk memperkuat membentengi rumah dari semua gangguan makhluk, baik yang Nampak maupun yang tidak namapak, aku segera mendekati Sena.


“Sen… Sena… Sena….?” Panggilku ke Sena yang tiba tiba menghilang dalam sekejap.


“Kemana Sena tadi, barusan aja disampingku…!” kataku dlam hati.


*****


Episode ini


“Ada apa mas, maaf sena baru saja mengejar sesosok bayangan yang hendak masuk rumah ?” kata sena.


“Aah kamu ini bikin panik aja, bilang kek kalo mau pergi biar gak bikn panik.” Gerutuku.


“Maaf tadi Sena lihat mas Yasin lagi focus mikirin sesu atau atau mungkin  sedang membaca amalan tertentu kukira, jadi sena gak mau ganggu.” Jawab Sena.


“Owh,,, terus ketagkep gak sosok itu ?” tanyaku.


“Gak mas tapi dia gak bisa sampai masuk kerumah kok.” Jawab Sena.


“Bisa jadi dia memang tidak berniat masuk rumah tapi memang sengaja mau kabur.” Jawabku.


“Maksutnya ?” Tanya Sena.


“Aku barusan menemukan sebuah rahasia teka teki kecil dari kidung kolo sebo itu Sena !” kataku.


“Rahasia ap itu mas ?” Tanya Sena penasaran.


“Pertama memang harus dari ashar kita mulai seaman, kedua dari bait akhir kidung itu intinya kita disuruh hanya belindunga pada Allah, dengan kalimat Allah yang sempurna dari semua godaan makhluk, baik yang kasat mata maupun yang tidak kasat mata.” Jawabku.


“A’udzu bikalimattillahittammah min Syari ma kholaq ? itu maksutnya mas ?” Tanya Sena.


“Iya bener itu, tapi ada hal lain lagi.” Kataku.


“Apa lagi mas ?” sena makin penasaran.


“Aku punya pemikiran zaman dulu orang diberi kidung ini sebagai japa mantera. Yang sebenarnya adalah doa. Hanya saja rata rata gak faham maksutnya sehingga akibatnya gak makbul karena hanya menikmati irama an keindahan syairnya. Ada baiknya mereka yang suka mendengar dan mendendangkan paham maksutnya agar lebih bermakna. Kemudian kita undang kerumah ini warga yang suka. Biar membantu doa bersama. Makin banyak yang berdoa makin bagus kan.” Kataku.


“Berarti mas Yasin mau bikin acara dirumah ini ?” Tanya Sena.


“Iya kita bikin sedekahan, sedekah kan menjauhkan bala. Kemudian kita undang palig tidak 40 orang warga kita ajak berdoa bersama, dan melantunkan kidung itu. tap sebelumnya kita jelaskan masutnya, biar mereka faham. Doa 40 orang muslim \= 1 orang soleh. Doa 40 orang soleh  doanya Wali Allah.” Kataku.


“Iya sih mas, apa perlu aku bawa personil dari tempatku ?” Tanya Sena.


“Makin banyak makin bagus, gak papa kalo tidak merepotkan kamu.” Jawabku ke Sena.


Tak terasa sudah hampir subuh, sudah terdengar tarhim dari masjid terdekat.


“Masuk rumah yuk, kita subuh dulu.” Ajakku paa Sena.


“Hayuk,,,!” jawab Sena.


Kemudian kami berdua masuk kedalam rumah kembali keruangan mujahada, sudah tersedia minuman hangat. Rupanya para wanita sudah pada bangun, termasuk istiku juga sudah bangun.


Sambil ngopi dan ngeteh, kami melanjutkan obrolan dengan Sena.


“Berarti Sena nanti pulang pagi saja mas, biar Sena siapkan orang orang untuk ikut acara sedekahan besuk.” Ucap Sena.


“Boleh tapi istirahat dulu lah habis subuh, jangan sampai ngantuk dijalan saat berkendara itu berbahaya bagi kamu dan bagi orang lain juga.” Kataku.

__ADS_1


“Iya mas.” Jawab Sena.


Begitu kumandang Adzan Subuh kami segera melakukan Sholat subuh jamaah dirumah. Memang selama dalam masa ancaman ini kami selali jamaah dirumah. Kecuali Sholat jumat saja karena wajib hukumnya gabi laki laki jumatan di masji.


Usai sholat subuh aku lanjutkan seaman Al Quran sementara Sena aku persilhkan istirahat dulu sebelun pulang. Ini saudara tapi kenapa justru baru ketemu dan tahu kalo saudara pada saat sudah sama sama dewasa, apa karena salahku yang dulu jarang silaturahim dengan saudara saudara dari kedua orang tuaku ? sehingga silaturahim hampir terputus.


Untung pernikahanku dengan Fatimah istriku bisa mempertemukan aku dengan Sena, dan mungkin juga dengan saudara saudara yang lainya, batinku.


Usai Semaan Alquran aku mengantarkan Sena sampai ke halaman depan rumah.


“Salam buat Istrimu ya Sena, maaf kemarin kami merepotkan dia.” Kataku pada Sena saat akan hendak berangkat pulang.


“Iya mas, gak usah bilang begitu kita kan saudara. Dengan istri mas juga ada hubungan saudara dengam mas sendiri juga jelas masih ada hubungan Saudara.” Ucap Sena.


“Iya sih, tapi kan gak enak saja ketemu saudara pertama kali malah bikin repot, yaudah hati hati di jalan ya.” Kataku.


Sena pun segera menjalankan mobilnya pelan menuju kejalan raya. Sementara akau kembali berjalan menuju ke rumah.


Belum lima menit aku duduk, tiba tiba bapak ibu mertuku bersaama Yuyut juga pamitan hendaak pulang. Wah kenapa pulangnya bersamaan begini sih, batinku.


“Lah kok gak nunggu besuk saja sih pak, bu kan besuk saya mau mengadakan sedekahan tulak bala. Masa gak ditngguin bapak ibu dan yuyut.” Kataku belum rela mereka pulang.


“Ibu tahu nak, tapi kami juga ada pekerjaan dan tanggungan ke masyarakat yang harus di selesaikan, jadi tidak bisa menemani kalian lama lama disini.” Kata ibu mertuaku.


“Yang penting, lakukan yang harus kamu lakukan seperti yang Yuyut bilang kemarin. Juga yang kamu terima dari kakekmu lewat mimpi itu.” ucap Yuyut.


“Bapak hanya pesan satu hal saja, sepenting apapun urusanmu yang harus keluar rumah, saat ini lebih pentingkanlah urusan di dalah rumah tanggamu sendiri. Saat ini keberadaanmu lebih banyak dibutuhkan di rumah ini.” pesan bapak mertuaku singkat.


“Njih pak, bu juga Yuyut saya siap makasih atas semua bantuan, doa dan dukunganya. Pengestu (Restu ) nya saja yang selalu saya mohon.” Jawabku sambil mencium tangan tanda hormatku pada beliau beliau.


Sementara Fatimah masih sesenggukan menangis akan ditingggal pulang bapak ibu dan Yuyutnya.


“Wis nduk,(Sudah nak) gak usah nangis besuk kami juga akan kesini lagi kalo kamu mau melahirkan disini.” Ucap ibu mertua yang tampak bahagia dengan kehamilan Fatimah putrid semata wayangnya.


“Iya yung,,, cepet temen sih balike yung?” ( Iya bu, cepat amat sih pulangnya, dalam bahasa ngapak yg membuatku agak geli menahan tawa.)


Akhirnya aku dan Fatimah menghantar rombongan mertuaku sampai ke jalan raya dan memanggilkan kendaraan rental untuk menghantar beliau bertiga.


Setelah memastikan mereka naik kendaraan dan berangkat aku dan Fatimah berjalan kembali kerumah.


Sesampai dirumah aku jadi berpikir, mala mini aku hanya bisa patrol sendirian. Karena Fanani aku kasih cuti ngurus rujuk dengan istrinya sementara Ardian biar konsen dijaga rumah saja. Tambahan personil dri pak yadi untuk menggantikan Dicky dan Hanif belum juga ada. Mungkin juga dirasa sudah gak terlalu bahaya secara fisik, hanya tinggal ancaman supra natural yang masih suka terjadi batinku.


*****


Setelah asar sesuai usul Sena aku memulai seaman alquran sampai maghrib dan dilanjutkan sholat maghrib Isya dan sekaligus Mujahadah.


Setelah usai Khotimah mengajukan usul untuk ikut patrol bersamaku.


“Mas kalo mau keliling rumh Khotimah ikut ya ?” ucap Khotimah.


“Gak boleh dong Khot, kamu kan cewek masa mau ikutan muter keliling rumah.” Jawabku.


“Gak papa mas, ada pesan dari Yuyut yang harus Khotimah lakukan, tapi kalo sendirian masih ngeri.” Jawab Khotimah.


“Memang Yuyut pesen apa sama kamu ?” tanyaku pada Khotimah.


“Nanti saja saat jalan mas akan tahu sendiri.” Jawab Khotimah.


“Tapi kamu yakin gak akan terjadi apa apa nanti ?” tanyaku. Merasa khawatir karena kemarin saja Khotimah hampir mencelakai Isti karena terkena ilmu ‘panggiring sukma’.


“Insya Allah gak papa mas..!” jawab Khotimah mantap.


“Kalo begitu sekarang saja biar gak kemalaman.” Kataku pada Khotimah.


Maka Khotimah pun ikut aku keluar rumah setelah ijin dengan Fatimah istriku.


“Kenapa sih Khotimah mau ikutan aku patrol Fat ?” tanyaku berbisik pada Fatimah.


“Gak papa mas, jangan remehin Khotimah yang sekarang. Dia bakal jadi pewaris Yuyut, yang akan meneruskan perjuangan Yuyut.” Jawab Fatimah.


“Baiklah, aku sebenarnya agak risih bagaimanapun dia hanya ipar Fat apa kata orang ?” jika lihat kita berduaan.


“Udah gak usah sungkan mas, Fatimah tahu mas gak enak sama Fatimah aja kan. Tapi Fatimah tahu kalian bisa jaga diri, dan Fatimah pun tetap akan mengawasi dari dalam rumah. Karena Fatimah lagi hamil maka digantikan Khotimah dalam mendampingi mas Yasin.” Ucap Fatimah.


Aku agak lega mendengar jawaban Fatimah, jujur saja alasanku sebenarnya adalah menjaga perasaan istri, karena hal itu sebenarnya gak pantas dan gak bisa ditiru.

__ADS_1


*****


Fatimah POV


Setelah suamiku keluar bersama Khotimah, aku mengajak Isti ikut keluar rumah meski perlahan lahan karena kehamilanku. Dalam hati aku sebenarnya juga menggerutu dengan perintah Yuyut ini. diminta mengawasi perilaku suamiku dengan Khotimah tanpa sepengathuan mereka berdua.


Lambat aku berjalan bersama Isti, mengikuti suamiku dengan Khotimah.


“Is jangan cepet cepet jalanya, kaki Fatimah berat buat melangkah.” Kata Fatimah.


“Iya Fat, yuk aku papah aja biar enteng.” Bisik Isti padaku.


“Iya Is, kita sambil baca doa yang diajarkan Yuyut kemarin. Sambil jalan baca dalam hati saja.” Kata Fatimah ke Isti.


“Iya Fat, Isti masih ingat kok. Eeh Fat itu kenapa Khotimah malah berantem sama suamimu ?” kat Isti.


Kemudian Fatimah juga lihat Khotimah seperti sedang berlatih kanuragan dengan suamiku.


“Itu mereka hanya berlatih Is, bukan berantem.” Kata Fatimah.


“Kok kamu tahu, memang kamu pernah juga belajar begitu Fat.” Tanya Isti.


“Pernah Is, dulu juga Khotimah itu sparing partner Fatimah saat berlatih. Tapi bukan itu yang harus kita bahas saat ini. tapi kita harus awasi Khotimah dan mas Yasin agar tidak samapi terkena ilmu ‘panggiring sukma’ salah satu atau keduanya. Sudah kamu siapkan juga kan ramuan penidurnya, jika sampai mereka atau salah satunya terkena ilmu itu ?” kata  Fatimah.


“Sudah kok, tapi kenapa mas Yasin dan Khotimah yang di jadikan umpan oleh Yuyut dan kita berdua yang disuruh ngawasin. Bukanya mas rofiq yang laki laki atau Ardian yang juga bisa lihat makhluk halus.” Tanya Isti.


“Kalo itu gak tahu Is, tapi mungkin Isti mau melihat sejauh mana Khotimah dan suamiku bisa bertahan menghalau khodam ilmu itu.” jawab Fatimah.


“Iya juga sih, tapi jika terjadi sesuatu dan nanti Isti yang mendekati mereka kemudian isti gagal. Apakah yuyut akan datang tepat waktu. Dan sebenarnya Yuyut dan bapak ibumu tadi kemana dan sekarang sembunyi dimana sih ?” Tanya Isti makin penasaran.


“Mereka dirumah Sena mengatur strategi disana dan katanya berangkat kesini habis Sholat Isya. Mudah mudahan mereka cepat datang. Menurut Yuyut, Khotimah dan mas yasin cocok dijadikan umpan saat mereka berlatih biasanya konsen dalam kanuragan sehingga bisa dengan mudah dirasuki khodam ‘panggiring sukma’.” Jawab Fatimah.


Cukup lama Fatimah melihat Khotimah adik sepupuku beradu pukulan dengan suamiku. Meski awalnya kulihat suamiku setengah hati melawan Khotimah adikku tapi makin lama kulihat suamiku harus meningkatkan kemampuanya untuk mengimbangi gerakan Khotimah.


Dalam hati Fatimah berkata, ‘kan udah Fatimah bilangin mas, jangan remehkan Khotimah sekarang keteran kan kamu” kataku dalam hati.


Sementara Khotimah justru semakin terlihat ganas dalam berlatih, seakan sedang bertempur sungguhan. Mas Yasin suamiku bahkan beberapa kali harus melompat mundur menghindari serangan Khotimah yang keras dan mematikan.


“Khot ini hanya latihan bukan bertempur beneran, gak usah dengan kekuatan penuh.” Teriak suamiku sambil melompat mundur menghindari serangan Khotimah.


Namun Khotimah seakan tidak mau dengar bahkan seranganya semakin gila, Fatimah sendiri mulai curiga jangan jangan ini sudah masuk perangkap.


“Is, siapin bubuk penidurnya sebentar lagi kamu lari kesana sebarkan pada keduanya, tunggu aba abaku.” Kata Fatimah.


Dan pada jurus berikutanya Khotimah sudah tak terkendali, tidak hanya tangan kosong bahkan sudah menggunakan sepotong dahan digunakan sebagai senjata. Sehingga suamiku benar benar kewalahan, bahkan tak diberi kesempatan untuk mundur menghindar serangan. Dan pada salah satu pukulan yang dilancarkan Khotimah dengan dahan yang dia jadikan senjata. Tak dapat lagi dihindari suamiku sehingga harus dia tangkis dengan kedua tanganya.


Karena pukulan Khotimah dilandasi inner power yang kuat kulihat mas Yasin sampai terpental beberapa langkah ke belakang dan sampai terbatuk dan jatuh.


“Khot tunggu, jangan gunakan tenaga dalam kamu sembarangan, teriak suamiku. Namun Khoyimah tidak mendengar dan justru kembali melancarkan pukula kali ini bahkan mengarah ke kepala suamiku.


“Is, cepat lakukan sekarang jangan sampai terlambat….!” Kataku pada Isti.


Isti segera berlari namun lebih cepet pukulan Khotimah sehingga mas Yasin terpaksa menangkis dengan tanganya lagi dengan dilandasi inner power juga. Sehingga keduanya terpental namun Khotimah cepat bangun sementara suamiku masih belum bisa bangkit sempurna. Sehingga saat Khotimah melancarkan pukulan lagi, suamiku tidak mungkin lagi melakukan perlawanan.


Sementara Isti masih juga belum bisa menaburkan bubuk itu, aku menjadi semakin panik.


...bersambung...


Terimakasih atas dukungan dari Readers semuanya.


Komentar readers semangat Author


Author akan berusaha terus memperbaiki, bahasa retorika dan lainya.


Semoga dapat menghibur Readers semua.


...Jangan lupa dukungan berupa :...


...Like...


...Komen...


...&...


...Vote nya...

__ADS_1


...Terimakasih...


...🙏🙏🙏...


__ADS_2