
🌷🌷🌷
Reader tercinta, mohon maaf jika masih banyak typo karena Auto teks ataupun murni salah ketik.
Semoga tetap bisa menghibur.
🌷🌷🌷
Selamat membaca
...........
Episode Lalu
Makin lama aku merasakan rasa perih hampir diseluruh tubuhku, karena mkhluk mkhluk itu bahkan ada yang menyerang dari bawah mencengkeram dan mencabik cabik kakiku bahkan sudah tak mampu lagi jika aku harus menghitung jumlah mereka. Dari kanan kiri depan belakang bahkan dari bawah pun ada yang menyerang mencabik cabik kulitku, bahkan ada yang berhasil menggigitku.
Aku benar benar terpojok, seperti seekor kerbau ditengah kepungan harimau yang kelaparan dicakar dan digigit kulit daginganya dalam keadaan hidup hidup.
Sekuat tenaga tangan dan kakiku memukul dan menendang mereka namun percuma saja, satu pergi dua datang, apa lagi yang harus aku lakukan sekarang…..???
*****
Episode ini
Penabuh Gong itu….!
Dimana benda itu, tadi kuselipkan dipinngan kiriku. Aah celaka jatuh dimana benda itu, ataukah ketinggalan di bukit saat aku mengintip tadi,kataku dalam hati. Aku harus menemukan Benda itu sebagai saran untuk mengusir makhluk makhluk Astral ini, tapi dimana benda itu ?
Sambil berusaha melawan sebisaku aku mengingat peristiwa sebelumnya dan aku ingat aku tadi sempat terpental cukup jauh, mungkin saat terpental itu benda itu jatuh. Karena aku sempat terguling, saat itu mungkin benda itu jatuh.
Kemudian konsentrasiku dalam membuka lathoif Nafsi ( mata batinku ) aku tujukan pada penabuh gong itu dan dalam pandangan batinku ternyata penabuh gong itu tergelatak tak jauh dariku saat ini. namun sulit bagiku keluar dari kepungan makhluk makhluk Astral ini. jika hanya melakukan perlawanan minim seperti ini.
Aku mengerahkan semua kemampuan batinku mencari cara bisa lepas dari kepungan makhluk astral ini. senua rasa sakit tak lagi aku hiraukan dan tiba tiba aku ingat sebait daari kidung kolosebo yang intinya perintah berlindung dari godaan semua makhluk baik makhluk dhohir maupun makhluk ghoib.
“A’udzu bikalimattillahitaamah min Syarri maa kholaq…..!” aku lafadzkan doa perlindungan tersebut dari mulai suara pelan hingga semakin keras bahkan setengah berteriak. Sehingga makhluk makhluk Astral itu kemudian menjerit menutupi telinganya. Memberikan aku kesempatan mengambil penabuh gong itu.
Dengan terus melafadzkan doa tersebut aku mengambil penbuh gong itu dengan mengandalkan penglihatan batinku. Kemudian dengan menguapkan sholawat yang diajarkan dulu aku mulai memutar penabuh gong itu sehingga makhluk makhluk Astral yang tadi menjerit dan menutupi telinga saat aku baca doa tersebut menjadi semakin Histeris jeritanya.
Aku semakin mengerahkan tenagaku dalam memutar penabuh gong itu hingga suara jeritan makhluk makhluk Astral itu sirama dengan suara yang timbul dari lubang yang ada di penabuh gong tersebut yang menyerupai dengungan ribuan lebah yang bersuara bersamaan.
Satu persatu makhluk Astral itu lari dan pergi sampai akhirnya tak satupun yang tertinggal. Dan aku bisa sedikit bernafas lega meski masih merasakan perihnya mataku yang semakin kurasa panas sekali.
Namun aku berusaha menahan rasa sakit itu, kemudian duduk berusaha menghadap ke kiblat mengandalkan mata batinku yang kubuka melalui lathoif Nafsiku. ( Lathoif \= kelembutan )
Mengulang dari awal kembali mengatur nafas dan aliran darah setelah mengalami pertarungan dengan Ajar Panggiring dan makhluk Astral tadi. Kemudian setelah aku merasakan aliran darahku dan degup jantungku kembali normal. Aku kembali membuka lathoif Nafsiku untuk melihat keberadaan Ajar panggiring dan melihat kondisnya.
Namun ternyata Ajar panggiring sudah tidak ada di tempat semula, kemudian aku lanjutkan mencarinya sampai beberapa kali namun tak juga aku temukan. Kemana perginya, jelas tadi dia tergeletak tidak berdaya gak mungkin bisa melarikan diri sampai tak terdeteksi dari jangkauan mata batinku. Kecuali ada yang membawanya pergi dari sini saat aku dikeroyok makhluk Astral tadi.
Tapi itu juga mustahil karena tidak terlalu lama aku bertarung dengan makhluk makhluk Astral itu. ada yang aneh disini, seperti ada sebuah kekuatan yang menghalangi pandangan batinku untuk menemukan dimana Ajar Panggiring berada.
Ya aku yakin Ajar Panggiring masih disekitar sini hanya tertutup tabir yang tak sanggup ku tembus dengan pandangan batinku. Berarti ada seseorang yang melindungi dia atau mungkin juga sosok ghoib yang level tinggi mencoba melindunginya. Kalo itu manusia berarti ilmunya sangat tinggi, tapi kalo itu sosok ghoib pasti selevel penguasa atau Raja.
Aku jadi ingat saat di hadapkan ke Sosro Sukmo dan dikasih tahu oleh jin pengawal Sosro Sukmo bahwa tidak semua makhluk ghoib bisa melihat yang ghoib lainya. Tergantung levelnya makhluk tersebut juga, mungkin kemungkinan kedua ini yang terjadi.
Jika kemungkinan pertama manusia sudah pasti berilmu sangat tinggi dan dengan mudah bisa menghabisiku tadi, pikirku. Sehingga aku menghentikan pencarianku pada Ajar Panggiring. Lebih memilih untuk mencari jalan pulang dan mencari sungai atau sumber air untuk mencuci mukaku agar dapat membuka mata.
Pelan pelan aku melangkah, meski menggunakan mata batin akan tetapi medan yang sulit membuat aku harus ekstra hati hati dan tetap menggunakan indera perabaku untuk memastikan benda benda yang ada didepanku bisa kulewati atau tidak.
Dengan jalan merambat pelan dan bersusah payah akhirnya aku menemukan sebuah mata air yang ada pancuran nya ( Air terjun kecil ) dan aku mencuci muka disitu, kemudian sedikit demi sedikit membuka mataku dengan berhati hati. Masih terasa sangat perih meski bisa terbuka dan terasa seperti ada yang mengganjal didalam kelopak mataku sehingga pandanganku menjadi kabur dan berbayang. Seakan benda yang kulihat menjadi dua bahkan bisa lebih dari dua dan samar samar sekali.
Apakah aku akan jadi buta beneran nanti, pikirku sedih. Kemudian aku mengambil air dengan kedua telapak tanganku dengan air pegunungan yang dingin dan jernih itu aku membersihkan mataku yang terasa mengganjal. Agak sedikit mendingan, tidak begitu samar lagi. Tapi perasaan mengganjal dan rasa perih sangat terasa.
Apakah harus diguyur langsung dari air pencuran kecil ini, batinku. Dengan memiringkan wajah aku guyurkan mata kiriku pas di air terjun itu kemudian aku kedip kedipkan mataku agar sesuatau yang mengganjal itu hilang. Dan ternyata memang agak berkurang, tak begitu pedih lagi dan tidak begitu kabur lagi pandangan mata kiriku. Kemudian ganti mata sebelah kananku dengan cara yang sama dan hasilnya cukup bbaik.
Aku kembali bisa membuka mata dan bisa melihat cukup jelas dan tidak terlalu perih lagi. Meski tidak sejelas sebelumnya dan kadang menjadi agak samar juga sehingga harus menedip ngedipkan mataku dulu baru tidak terlalu kabur pandanganku.
Kemudian dengan langkah pelan dan hati hati aku berjalan kerumah dengan mengandalkan panadanga mataku yang masih agak perih dan sedikit kabur pandanganya.
Dengan susah payah aku akhirnya berhasil memasuki dusunku, sebentar lagi aku sampai rumah batinku.
Dan sesampai dirumah ternyata semua sudah bangun dan bersiap untuk sholat subuh.
__ADS_1
“Fat, suamimu sudah pulang.’ teriak Isti member tahu Fatimah.
Ku yang lelah dan merasa perih tak menghiraukan ucapan Isti dan langsung menuju kamar mandi menggnti pakaianku yang kotor penuh debu dan rumput jarum yang menempel diseluruh bajuku.
Kemudian aku ikut jamaah sholat subuh yang dipimpin Rofiq, aku hanya berkata.
“Aku makmum saja, habis sholat mau langsung istirahat. Nanti semaan Al-Quran gak ikut dulu.” Kataku. Karena jangankan baca Al-Quran membuka mata saja sudah terasa perih.
Dan setelah sholat Subuh aku bahkan tidak ikut wirid langsung masuk ke kamar dan tidur. Sempat kulihat Fatimah istriku menengokku namun tidak jadi menyapaku karena tahu aku kecapean barang kali.
Sekitar jm 10 aku baru bangun, ternyata Fatimah menunggui aku di tepi ranjang. Aku membuka mataku pelan pelan yang masih agak perih begitu aku melihat wajah Fatimh aku jadi kaget karena matamu justru semakin kabur, hampir saja tidak mengenali wjah istriku jika tidak bersuara dan mengenali dari suaranya saja.
“Mask ok matanya masih merah banget, kalo masih ngantuk tidur lagi saja.” Ucap Fatimah.
“Gak kok, anterin ke yuyut saja ada yang harus aku sampaikan ke yuyut.” Kataku.
Kemudian Fatimah mengajakku ke kamar Yuyut, dan menghadapkan aku kepada Yuyut.
Yuyut memandangi aku dari kepala saampai kakiku. Seakan menyelidiki selurruh tubuhku, dan mengamati dengan teliti setiap inchi tubuhku dan terakhir melihat mataku yang kata Fatimah merah. Karena aku sendiri belum sempat bercermin.
“Kamu kena warangan ya, mata kamu sampai merah terus bagaimana hasil pertemuan kamu dengan Ajar Panggiring ?” Tanya Yuyut padaku.
Kemudian aku menceritakan kronologis dari awal hingga akhir, sampai dengan lenyapnyqa Ajar Panggiring dari penglihatan lahiriah maupun batiniahku. Yuyut tampak antusias sekali mendengar ceritaku.
“Jadi sebenarnya kamu juga belum bisa mengalahkan Ajar Panggiring. Ajar panggiring tidak disembunyikan makhluk ghoib tpi dibawa gurunya Joyo Maruto.” Ucap yuyut.
“Tapi Yut kalo yang menolong Joyo Maruto kenapa tidak sekalian membunuh saya Yut. Tentu sangat mudah bagi dia membunuhku saat itu ?” tanyaku pada Yuyut.
“Pertama karena dia lebih memilih menyelamatkan muridnya yang jika terlambat pasti tak akan selamat. Yang kedua dia yakin kamu akan mati dikeroyok makhluk Astral itu maka kamu dibiarkan.” Kata Yuyut.
“Maaf yut, dari mana Joyo Maruto bisa tahu kalo Ajar panggiring terluka parah ?” tanyaku heran dan sangat penasaran.
“Saat Ajar Panggiring merasa terdesak, dia memakai ‘Aji Pameling’ untuk memanggil gurunya dari jarak jauh. ( Aji Pameling \= sebuah ilmu yang digunakan untuk mengirim signal kepada orang yang juga sesame memiliki ilmu tersebut )
“Owh pantas saat itu dia tidak mengucap sepatah katapun, berarti dia memanggil gurunya kemudian melapalkan mantera mengundang makhluk astral untuk menyerangku.” Kataku.
“Lain kali jangan biarkan Ajar panggiring merapalkan mantera mantera lagi. Agar kamu tidak terganggu oleh khodam khodamnya.” Ucap yuyut.
“Kamu yang bodoh, jelas dia itu pemuja iblis keduanya, ya tentu saja yang terjadi adalah menggunakan perantara Jin untuk menyampaiakan berita. Meskipun yang di dengar Joyo maruto adah suara Ajar Panggiring dan sebaliknya. Tapi itu adalah jin yang menjadi perantaranya.” Jawab Yuyut.
“Owh pantas saja bisa begitu.” Ucapku.
‘Sudah Yuyut periksa dulu mata kamu ?” kata Yuyut.
Kemudian aku mendekat ke Yuyut dan Yuyut memandangi kedua mataku seakan sampai menembus dalam dalam ke mataku.
“Warangan itu belum menyebar luas tapi menjadi gumpalan tipis menutupi mata kamu sehingga pandanganmu jadi kabur. Dan kalo dibiarkan bisa menyebabkan kebutaan.” Ucap Yuyut.
“Terus bisa diobatin gak Yut “ Tanya Fatimah panik.
“Bisa tapi agak lama dan cukup sakit bisa bisa suamimu gak tahan dan nangis amoun ampunan nanti.” Jawab Yuyut seakan sengaja menggoda Fatimah.
‘Gak papa yut, yang penting suami Fatimah gak sampai buta.” Jawab Fatimah.
“Yaudah kamu cari daun sirih merah dan kembang samber nyawa, tiap pagi dan Sore karena harus segar baru dipetik sebelum dugunakan.” Kata Yuyut.
“Kembang Samber nyawa itu seperti apa yut tanyaku pada Yuyut. Sedang kalo sirih merah sih kayaknya saya nanam yut. Tapi kembang Samber Nyawa baru denger ini.” kataku.
“Yuyut gak bisa jelasin kayak apa, coba kamu cari sendiri bentuknya kayak apa.” Kata Yuyut.
“Baik yut nanti aku minta tolong anak anak buat nyari.” Jawabku.
“Jangan nanti sekarang cari contohnya, setelah ada baru nanti sore harinya cari lagi buat obat. Dan besuk pagi juga baru metik lagi biar masih segar.” Jawab Yuyut.
“iya Yut sekarang aku minta tolong anak anak nyari.” Kataku.
Kemudian aku meminta tolong Amir dan Heri untuk mencari daun Samber nyawa tersebut.
“Sebentar pak, saya cari referensi dulu kayak apa bentuknya.” Iya kenapa aku gak terpikir tadi, batinku. Kemudian heri mengeluarkan ponselnya dan browsing dan samber nyawa.
“ Ini ada pak, tapi kebanyakan orang menyebut bunga ini dengan bunga katarak, karena biasa digunakan untuk mengobati Katarak.” Kata heri.
__ADS_1
Kemudian aku tunjukan ke Yuyut gambar bunga samber nyawa atau bunga katarak tersebut.
“Iya memang bunga itu yang yuyut maksutkan. Jadi sekarang suruh orang ambil satu pohon nanti bunganya dipetik dirumah.” Perintah yuyut.
“Njih Yut.” Jawabku singkat.
Wah ini kolaborasi ilmu modern dengan ilmu pengobatan kuno ternyata. Kalo anak sekarang bahkan aku sendiri saja gak tahu kalo bunga itu namanya samber nyawa, ngeri banget namanya batinku.
Kemudian amir dan Heri mencari bunga tersebut yang banyak tumbuh di sekitar tempat tinggal kami. Dan sebelumnya aku sama Yuyut disuruh merambang ( membersihkan mata dengan mengedip ngedipkan mata dalam air ) mataku dengan air rebusan sirih merah yang sudah disaring dan di tiriskan biar hangat tidak panas, sampai mendekati agak dingin.
“Auw perih yut mataku yut “ teriakku saat merambang mata dengan air sirih tersebut. Aku hampir mengangkat wajahku dari air tersebut namun kepalaku justru kembali dibenamkan ke air itu lagi oleh yuyut. Sehingga aku hampir meminum air tersebut karena kaget.
“Ayo kedip kedipkan matamu biar perih sedikit di tahan nanti diobati denga kembang samber nyawa.” Kata Yuyut.
Yaudahlah aku tahan perih ini, kan gak sepedih saat kena racun semalam, dan kata yuyut nanti akan diobati dengan kembang samber nyawa, siapa tahu akan terasa sejuk lagi mataku, kataku dalam hati.
Setelah beberpa saat aku diperbolehkan mengangkat wajahku dai air itu tap tidak boleh mengelap muka biar airnya menetes sendiri, sebenarnya hanya takut jika sampai mengusap / mengucek mata saja.
Kemudian heri dan Amir datang membawa kembang samber nyawa tersebut.
“Ini yut kembangnya.” Ucap heri.
Kemudian yuyut memetik satu kembang dan kembang yang masih bergetah tersebut dmasukkan ke air hangat yang didalam gelas.
“Kamu rebahan buka kedua mata kamu keatas, biar Yuyut obati.” Perintah Yuyut.
Aku mengikuti perintah Yuyut, merebhkan diri dan pandangan keatas dengan mata terbuka.
Yuyut memandangi aku sebentar sebelum mengobati aku. Kemudian memetik satau tangkai bunga lagi dan dimasukan kedalam gelas yang sama. Kemudian kedua tangakai bunga itu yang adai air dari dalam gelas diteteskan ke dua mataku sekaligus.
Aku kaget setengah mati karena rasanya justru mataku seperti dibakar, puannnaaaas luar biasa. Sehingga aku spontan berteriak.
“Pannaaaassss yyuuuuut……!” smabil berusaha bangkit. Namun ternyata Fatimah istriku dan Yuyut sudah kerja sama dan menotok aku hingga tak bisa bangkit. Hanya terbujur kaku.
Tapi aku masih mendengar ejekan Fatimah.
“Alah mas, begitu saja teriak kayak orang diapain aja, inikan demi kesembuhanmu. Manja ih, kalo sakit dirumah sakit dikit saja manja. Malu tu sama anak anak juga diketawain.” Aku hanya diam tapi merasakan panas luar biasa di mataku sampai mengalir banyak air mataku. Kalo saja bisa mnejerit aku sudah menjerit sekencang kencangnya pasti.
Bunga / kembang samber nyawa yang biasa digunakan untuk obat katarak. Tapi rasanya sangat perih.
🙏🙏🙏
...bersambung...
Terimakasih atas dukungan dari Readers semuanya.
Komentar readers semangat Author
Author akan berusaha terus memperbaiki, bahasa retorika dan lainya.
Semoga dapat menghibur Readers semua.
...Jangan lupa dukungan berupa :...
...Like...
...Komen...
...&...
...Vote nya...
...Terimakasih...
...🙏🙏🙏...
__ADS_1