
🌷🌷🌷
Reader tercinta, mohon maaf jika masih banyak typo karena Auto teks ataupun murni salah ketik.
Semoga tetap bisa menghibur.
🌷🌷🌷
Selamat membaca
...........
Episode lalu
“Kok bisa begitu ya, bertiga bisa satu arah pemikiran dan dalam waktu yang bersamaan serta sama sama punya keinginan saling bertemu.” Ucap Pak Yadi.
“Itu menunjukan tanpa peran ( Andil / Kehendak ) Allah maka gak mungkin terjadi pak.” Jawabku.
Belum selesai kita mengobrol tiba tiba ponsel pak Yadi bordering.
Kemudian pak Yadi mengngkat telpon dan keluar rumah sebentar.
“Maaf pak saya keluar dulu ada telpon dari Komndan saya.” Kata pak Yadi.
Beberapa menit kemudian pak Yadi masuk lagi.
“Tambah satu kasus yang sama pak, laporan anak hilang dan satu kasus baru ada kesurupan masal bersamaan di dua tempat yang berbeda.” Kata pak Yadi.
*****
Episode ini
“Innalillahi wa inna ilaihi roji’un…!” ucapku spontan.
Pak Yadi malah bingung, dengan ucapanku
“Maaf pak Yadi, maksutnya kasus itu musibah jadi ucapan itu ( Tarji’ ) bukan hanya untuk orang yang meninggal saja.tapi saat ada musibah pun itu yang kita ucapkan.” Jelasku.
“Owh gitu ya pak, terus kita akan gimana pak ? apa kita bagi pak Yasin ke satu tempat mas Sena ke tempat satunya ?” Tanya pak Yadi.
“Gak usah, kita bersama ke satu tempat dulu baru ke yang satunya, dimulai dari yang terdekat dulu saja pak.” Kataku.
“Baiklah kita berangkat sekarang saja pak ?” ucap pak Yadi.
Kemudian kami bertiga berangkat kesebuah sekolah yang mengaami kesurupan Masal. Setelah aku berpamitan ddengan Fatimah dan ibu mertuaku.
Sesampai di sekolah puluhan siswi mengalami kerasukan ada yang menjerit ada yang menangis ad juga yang teriak teriak tidak jelas.
Aku dan sena berwudhu dan mengambil sedikit air didalam gelas untuk media doa. Kemudian air itu kami percikan ke siswi siswi yang pada kerasukan tersebut. Kemudia siswi siwi itu terkulai lemas dan dirawat oleh guru guru putrid dan siswi lain yang tidak kerasukan.
Tidak menunggu lama kami pun segera menuju ke lokasi lain yang juga mengalami kesurupan masal, yg juga menimpa siswi siswi sekolah. Tak satupun siswa yang kerasukan. Dengan cara yang sama Aku dan Senapun kemudian mengusahakan agar para siswi itu sadar. Namun ada satu Siswi yang begitu sulit dan paling melawan. Ketika diberi percikan air yang sudah dibacakan doa doa rukyah pun dia tetap gak mau pergi. Sehingga aku harus meminta tolong guru putrid dan beberapa Siswi untuk megangi siswi terakhir yang belum juga mau sadar itu.
Kemudian aku ajak dialog dengan sebelumnya aku ucapkan salam dan sapaan kepada Jin yang merasukinya.
“Kamu siapa beraninya mengganggu urusanku dengan cucu cucuku.” Ucapnya.
“Dari mana kamu dan siapa nama  kamu kok mengganggu anak anak tak bersalah ?” tanyaku pada sosok yang berlindung di balik jasad siswi sekolahan tersebut.
“Aku Nyai kemangsan, saudara Nyai kenanga yang kamu kembalikan ke laut kidul.” Ucap sosok itu dengan media anak sekolah tersebut.
“Apa maksut kamu mengganggu anak anak sekolah disini ?” tanyaku.
“Aku mau ambil satu persatu anak disini untuk Tumbal Agung.” Ucap Sosok itu.
“Owh jadi kamu pengganti Nyai kenangan yang sekarang sudah aku buang itu, apa kamu juga mau aku buang sekarng ?” tanyaku.
Sosok itu hanya menggeram nanun seakan akan hendak menyerangku, namun dipegangi oleh beberapa teman dan gurunya.
“Biarkan lepaskan dia Sekarang !” kataku pada siswi siswi dan guru yang memegangi anak itu.
“Gak berbahaya pak ?” Tanya mereka.
“Sudah kalian lepaskan saja.” Kataku sambil membaca doa doa dalam hati.
Kemudian siswi bandel itu dilepaskan dan hendak menyerangku, namun dengan berbekal doa doa penangkal aku tetap tak menghindari tengangan dan pukulannya. Sehingga ketika dia mau mencekik leherku baru aku pegangin dua tangannya dan kubacakan tiga srat terkhir dalam Al-Quran berkali kali hingga anak tersebut merasa lemah dan ampir jatuh.
Kemuddian aku tangkap dan aku usapkan kedua telapak tangannya ke wajahnya sendiri. Dan seketika itu juga anak iti tersadar.
*****
Aksi uji coba ki Soma
Author POV
“Sudah saatnya kita membalas dendam kepada Yasin sekarang. Untuk itu kita harus pancing dia keluar agar kita lebih leluasa untuk melampiaskan dendam kita.” Ucap Joyo maruto.
“Caranya bagaimana Guru ?” Tanya Ajar Panggiring yang sudah tidak sabar menanti berhadapan dengan Yasin sekaligus mencoba ilmu barungya.
“Itu tugas ki soama untuk memancing anak itu keluar, biar kita buat kekacuan agar anak itu keluar. Karena dia pasti dibuttuhkan jika ada kekacauan ada banyak anak yang esurupan.” Ucap Joyo Maruto.
__ADS_1
“Baik guru akan saya buat beberapa sekolah siswi siswinya jadi kerasuka masal. Biar saya sebar dulu beras kuning yang sudah dimanterai khusu agar siswi siswi besuk pada kesurupan.” Ucap ki Soma.
Sejenak kemudian ki Soma mempersiapkan ubo rampe untuk disebar lebih dahulu di sekolah yang dimaksut.
Dan esuk harinya dua sekolah terbukti mengalami kesurupan masal. Dan mengundang Yasin yang ternyata datang bersama Sena.
“Apa aku bilang, dengan sedikit kekacauan dia pasti muncul dan ternyata bersama dua orang itu.” Kata Joyo Marutu.
“ia saudara Yasin yang dulu ikut mengeroyok aku sampai jadi seperti ini.” Ucap Mento Rogo.
“Kita lihat saja aksi mereka. Kemudian kalo memungkinkan pancing mereka keluar dususn ini dan kita serbu ramai ramai saat jauh pemukiman penduduk. Dan kita habisi saja mereka jika memungkinkan. Kata Joyo Maruto.
“Mungkin belum bisa sekarang Guru, mengingat ini di tempat ramai dan banyak Polisi yang berjaga ditiap jengkal sekolah ini.” ucap Ajar panggiring.
“Yaudah kita kembali ke markas dulu saja, yang penting si Soma sudah berhasil membuat anak anak itu kesurupan. Tinggal mengatur siasat berikutnya nanti di markas. Ucap Joyo Maruto.
Kemudian mereka kembali ke markas mereka.
*****
Yasin POV
“Bagaimana Mas ?” Tanya Sena.
“Sudah jelas pengirimnya adalah kawan Lama Joyo Maruto, terakhir tadi adalah sebagai pasangan untuk proses ritual agung. Dan masih saudara dari yang kita larung dulu itu.” kataku pada Sena.
“Baiklah, bisa jadi mereka selama ini menyusun kekuatan jadi kita juga sebaiknya bersiap siap juga mas.” Jawab Sena.
“Tak bisa ditunda lagi, nanti malam kita selidiki dimarkas mereka Sena, jangan sampai jatuh korban lagi.” Kataku pada Sena.
“Kita butuh tambahan personil mas, sepertinya gak cukup kita berdua saja.” Ucap Sena.
“Kan dibantu pak Yadi juga ?” kataku.
“Maksut Sena bukan itu mas, tapi yang bisa membantu secara spiritualis.” Jawab Sena.
“Owh itu, aku gak ada Gambaran saat ini.” Jawabku.
“Sena tahu orang yang tepat mas,masih family mbakyu Fatimah dan mbakyu Khotimah juga.” Jawab Sena.
“Siapa ?” tanyaku.
“Namanya aku agak lupa mas, tapi pernah bertemu dan masih satu dusun dengan mbakyu Fatimah juga. Biar nanti Sena yang menanyakan ke mbakyu Fatiamah atau mbakyu Khotimah.” Jawab Sena.
“Asal gak kamu jadikan deketin mbakyumu Khotimah saja.” Uraku pada Sena.
Kemudian kami segera diantar pulang oleh pak Yadi dan meneruskan pembicaraan di rumahku.
“Fat, kata Sena kamu punya saudara yang bisa diajak melakukan kegiatan spiritualis untuk menghadapi serangan supra natural ?” tanyaku ke Fatimah.
“Maksutnya siapa ?” Tanya Fatimah.
Mbakyu Khotimah yang faham mbakyu, dulu aku dikenalkan oleh mbakyu Khotimah juga kok.” Ucap Sena.
“Sidiq sayang, panggilin bulek khotimah sebentar ya !” ucap Fatimah menyuruh Sidiq yang dari tadi nempel Fatimah godain Jafar adiknya.
“Iya bunda…!” jawab Sidiq kemudian ke dapur menyusul Khotimah.
Sesaat kemudian Sidiq datang lagi sendirian.
“Bulek Khotimah mana ?” Tanya Fatimah.
“Masih dibelakang, kan Sidiq jalanya cepet bunda gak kayak bulek yang pelan banget.” Jawab Sidiq mearas bangga.
“Lama lama kulihat Sidiq ini mirip banget sama kamu mas, adaa sifat manjanya juga.” Ucap Fatimah spontan gak sadar ada orang lain mungkin.
“Enak aja ngatain aku manja.” Gerutuku.
“Ada apa mbak Fatim ?” Tanya Khotimah yang ternyata sekalian membawa minuman buat tamu.
“Ini tadi kata dik Sena kamu pernah kenalkan dik Sena dengan saudara kita yang bisa diajak melakukan kegiatan Spiritualis menghadapai serangan supra Natural, siap Khot ?” Tanya Fatimah.
“Loh masak mbak Fatim gak kenal ?” Tanya balik Khotimah.
“Bukanya gak kenal, siapa yang kamu maksut saja mbak gak tahu kok !” jawab Fatimah.
“Itu mbak mas Farhan, yang tinggalnya di deket mushola itu.” jawab Khotimah.
“Owh… bilang dik Farhan dari tadi kek. Kan lama aku gak ketemu dia Khot, dan gak pernah tahu perkembangan dia bagai mana.” Jawab Fatimah.
“Sebentar kayaknya aku gak asing dengan nama itu, owh iya aku pernah ketemu dan dia mengenalkan dirinya sebagai family jauh kamu Fat, iya namanya Farhan. Orangnya kalem banget kan ?” kataku.
“Iya tu mas yasin malah tahu.” Kata Khotimah.
“Kebetulan saja pernah ketemu saat aku ikut jamaah ke Mushola waktu itu.” jawabku.
“Nah kebetulan kalo begitu Sena juga sekarang ingat namanya Farhan. Ajak saja dia mas.” Ucap Sena.
“Mas Farhan mah orangnya gak pernah adu fisik dik Sena dia gak pernah mau berantem gak kayak…..!?!” kata kata Khotimah terpotong tapi sambil melirikku.
__ADS_1
“Terusin saja ngomongnya gak perlu di sensor Khot…!” gerutuku.
“he he he maaf tapi emang nyatanya begitu kok.” Jawab Khotimah.
“Wah bagus itu malah semakin menguatkan kita nanti pak. Soalnya lawan kita juga ada yang menggunakan serangan supra natural. Jadi kita juga harus punya specialis yang menangani spiritual.” KOmentar pak Yadi.
“Lah memang ada apa lagi pak ?” Tanya Fatimah bingung.
Akhirnya terpaksa aku ceritakan juga apa yang aku dan sena mimpikan dan kejadian barusan yang kami alami saat menangani kasus kesurupan masal.
“Yaa Allah,,, baru juga istirahat sebentar sudah ada masalah lain lagi.” Ucap Fatimah.
“Kayaknya memang kita harus selalu waspada lagi saat ini pak. Mungkin dengan kejadian tadi mereka ingin menunjukkan bahwa mereka masih eksis dan merasa sudah mempersiapkan sebuah rencana.” Ucapku.
“Maaf mbakyu, Sena rasa ini saatnya kita satu keluarga ini bersatu jadi undang mas Farhan kesini kita butuh bantuan mas farhan juga saat ini.” ucap Sena.
“Aku gak punya no kontaknya, dia jarang sekali komunikasi soalnya.” Ucap Khotimah.
“Apa lagi aku hampir gak pernah ketemu dan komunikasi.” Jawab Fatimah.
“Ibu punya nomernya Farhan…!” jawab ibu yang tiba tiba muncul.
“Ibu….?” Ucapku dan Fatimah bersamaan.
“Ibu dengar pembicaraan kami ?” tanyaku pada ibu mertuaku.
“Iya ibu dengar semuanya, dan ibu memang sengaja mendengarkan pembicaraan kalian. Mungkin memang sudah waktunya Farhan bergabung kesini sekarang.” Ucap ibu mertuaku.
Al hasil saat itu semua sepakat untuk menghubungi Farhan agar membantu menyelesaikan masalah yang kami hadapi.maka segerra ibu mertua yang menghubungi Farhan agar ikut membantu permasalahan yang kami hadapi.
*****
Persiapan Joyo Maruto membuat serangan kedua
Author POV
“Gertakan pertama tadi cukup Sukses, akhirnya anak itu muncul lagi sekang.” Kata Joyo Maruto.
“Langkah berikutnya apa Guru ?” Tanya Mento Rogo yang sudah tidak sabar untuk balas Dendam dengan Yasin.
“Buat kekacauan di beberapa titik yang lebih banyak dan jika perlu sampai ada korban jatuh. Agar anak itu muncul serta jangan disiang hari agar tidak terlalu ramai.” Ucap Joyo Maruto.
“Caranya bagaimana Guru ?” Tanya Ajar panggiring ikut berkomentar.
“Tentukan Korban agar dibuat sakit setengah mati oleh Soma dan kita pancing Yasin keluar dan berikan jadikan Ajar panggiring umpan untuk memancing Yasin mengejarnya. Namun jangan kamu lawan sendiri pancing dia ke tempat yang kita sepakati dan disitu kita kurung dia dan kita hadapi bersama sama. Aku ingin lihat anak itu gak sekedar mati, tapi aku ingin lihat dia menyesal telah lahir di dunia ini.” ucap Joyo Maruto.
“Saya sepakat Guru.” Jawab semuanya.
Kemudian mereka segera menentukan korban yang akan dijadikan alat untuk memancing Yasin datang, dan menentukan tempat untuk membantai Yasin serta merencanakan bagaimana agar Ajar Panggiring bisa memancing Yasin keluar dan mengejarnya dengan melawan Yasin tapi sekedar memancing agar Yasin mengejar Ajar panggiring dan akan dikeroyok bersama sama.
Begitulah rencana licik yang disusun oleh Joyo Maruto dan murid muridnya.
*****
kembali ke rumah Yasin
Yasin POV
“ibu, saya mohon doa restunya mala mini saya Sena dan beberapa teman Pak Yadi akan menyelidiki ke padepokan Joyo Maruto.
“Hati hatilah, ibu selalu mendoakan kamu. Pesan ibu hanya satu kamu jangan terpancing emosimu jangan menuruti amarahmu jalankan sesuai rencana saja. Jangan keluar dari rencana yang sudah di buat.” Ucap ibu mertuaku.
“Njih bu.” Jawabku singkat.
...bersambung...
Terimakasih atas dukungan dari Readers semuanya.
Komentar readers semangat Author
Author akan berusaha terus memperbaiki, bahasa retorika dan lainya.
Semoga dapat menghibur Readers semua.
...Jangan lupa dukungan berupa :...
...Like...
...Komen...
...&...
...Vote nya...
...Terimakasih...
...🙏🙏🙏...
Â
__ADS_1