Isyaroh

Isyaroh
Yasin dan Sena tak berkutik terkena Aji Sayekti Angin


__ADS_3

🌷🌷🌷


Reader tercinta, mohon maaf jika masih banyak typo karena Auto teks ataupun murni salah ketik.


Semoga tetap bisa menghibur.


🌷🌷🌷


Selamat membaca


...........


Episode lalu


“Pemilik sejati ilmu ‘Panggiring Sukma’ Yuyut tahu dan memang dia musuh bebuyutan yuyut dan kedua kakek suamimu almarhum. Yuyut yakin nanti saat suamimu berhadapan denganya maka Insya Allah kemenangan ada pada suamimu dibantu Sena. Karena suamimu ada darah Sidiq Ali dan Jafar Sanjaya, dan Sena ada darah Yuyut atau leluhur dari Yuyut. Itulah kelemahan pemilik ilmu ‘Panggiring Sukma itu. tapi jika setelah itu Yuyut tidak bisa memabntu apa apa lagi. Selebihnya tergantung usaha dan kepasrahan suami kamu sendiri.” Ucap Yuyut.


“Kenapa Yuyut gak bisa bantu Yut ?” Tanya Fatimah.


“Karena Yuyut pun sudah tak mampu lagi jika makhluk itu sudah turun, yuyut pun tak akan sanggup.” Jawab Yuyut. Sambil berlinang air matanya, membuat hati Fatimah teriris. Bagaimana nanti nasib suami Fatimah jika yuyut saja merasa sudah tak sanggup membantu suami Fatimah….!!!???


*****


Episode ini


Fatimah pun meraskan kesedihan yang sangat, karena khawatir jika suamiku sampai kenapa kenapa.  Rasanya baru saja Fatimah merasakan kehangatan cinta dari suami, namun saat ini seperti dihadapkan dengan situasi yang sungguh sangat mencekam.


“Lalu bagaimana nasip suami Fatimah nanti Yut, kenapa Fatimah harus mengalami ini Yut ?” Tanya Fatimah sambil menangis.


“Kamu jangan terlalu khawatir Fatimah, Yuyut memang tidak bisa bantu, tapi bukan berarti tak ada jalan keluar. Yuyut yakin aka nada jalan keluarnya. Yuyut sedih hanya karena yuyut sendiri tak bisa bantu, tapi buka berarti tidak ada yang bisa membantu.” Ucap Yuyut.


“Maksut Yuyut ada orang lain yang bisa bantu selain Yuyut, sispa Yut ?” Tanyaku pada Yuyut.


“Itu yang Yuyut belum tahu, tapi nanti pasti ada.” Jawab Yuyut sedikit menenangkan Fatimah.


Beberapa hal lain juga yuyut sampaikan terkait apa yang harus dipersiapkan unttuk menghadapi situasi sekarang ini. termasuk persiapan tindakan darurat meninggalkan rumah sementara.


Aku jadi berpikir apakah mungkin Fatimah harus kembali ke rumah bapak ibu lagi, tapi kalo hanya sendiri Fatimah gak mau. Apapun yang terjadi Fatimah harus selalu mendampingi suami, mengingat dalam hal tertentu suamiku itu suka lepas kendali. Kalo tidak ada Fatimah yang kadang harus cerewet tapi demi keselamatan dia dan keluarga juga.


Fatimah pun menyampaikan itu kepada Yuyut, jika harus meninggalkan tempat ini maka Fatimah tidak mau hanya sendiri meninggalkan suami seperti dulu. Terbukti beberapa kali ada kejadian yang hampir merenggut nyawanya saat tidak bersama Fatimah karena tidak ada yang mengingatkan seperti kalo Fatimah mengingatkan.


Dan tidak terasa waktu Asar sudah tiba, addzan sudah dikumandangkan. Dan suamiku pun sudah sampai dirumah dengan selamat.


*****


Flashback perjalanan rombongan Yasin.


Yasin sudah sampai rumahnya


Yasin POV


Dalam perjalanan pulang, aku sempat mengobrol dengan Rofiq Isti dan Sena. Aku di depan dengan Sena yang mengendalikan mobil sementara Isti di bangku belakang bersama kakaknya Rofiq.


“Tinggal kamu Is kalo sudah bang Rofiq Resmi segeralah menikah.” Ucapku pada Isti.


“Insya Allah mas, doakan saja Isti juga sebenarnya udah di khitbah ( Dilamar ) tinggal menunggu kepulangan calon suami isti saja. Sekalian menunggu mas Rofiq nikah dulu.” Jawab Isti.


“Owh iya bukanya kamu dulu juga udah pernah bilang kalo sudah di Khitbah ya.” Kataku. ( Dalam episode bertemu teman satu pesantren )


“Iya mas Yasin saja yang lupa.” Kata Isti.


“Sukurlah kalo begitu, aku ikut senang saja Is, akhirnya kita bisa menjadi saudara beneran sekarang.” Ucapku.


Kemudian kami terdiam sejenak karena aku melihat Sena seperti gelisah.


“Kamu kenapa Sena ? kalo kurang enaak badan berhenti dulu mau ngopi dulu ?” tanyaku pada Sena.


“Gak kok mas, hanya firasatku gak enak saja hari ini. entah kenapa sejak peristiwa dibawah pohon randu itu aku sering merasakan hal hal yang aneh sebelum mengalami sesuatu yang tidak baik.” jawab Sena.


Mungkin inilah maksut Yuyut mengajarkan kepekaan itu, beruntung Sena sudah berhasil. Dan aku jadi ingat jika aku harus mengulangi latihan seperti kemarin sampai berhasil. Waduh alamat kedinginan lagi nanti malam nih, kasihan bini juga beberapa hari didemin saja, pikirku.


Tapi untungnya istriku sangat pengertian, jika aku sudah kecapaian begitu gak pernah minta jatah nafkah batin. Kecuali aku yang minta duluan. Berbeda jika aku gak kecapaian dia sering meminta duluan dengan bahasa halusnya member isyarat cinta, meski aku juga sebenarnya mengingankan juga.


“Itu artinya kepekaanmu bertambah Sena, kalo aku masih h arus mengulang lagi latihan tersebut Sena.” Kataku kemudian.


Cukup lama kami mengobrol dalam perjalanan sampai tak terasa sudah berada dihalaman rumahku.


Kemudian aku turun dari mobil Sena dan segera memasuki rumah. Tepat saat adzan Asar berkumandang sehingga tidak ketinggalan untuk mengikuti semaan AL_Quran nanti ba’dal Asar, pikirku.


“Assalaamu’alaikum…!” sapaku saat masuk rumah.


“Wa’alaikummussalaam…!” sahut Khotimah yang langsung menyambut kedatangan kami.

__ADS_1


“Fatimah mana Khot, kok gak kelihatan ?” tanyaku pada Khotimah.


“Tenang mas, gak usah khawatir mbak Fatim lagi sama Yuyut di kamar yuyut.” Jawab Khotimah.


“Owh kirain ketiduran. Mau tahu gak apa yang terjadi disana ?” godaku pada Khotimah.


Tiba tiba bapak dan ibu mertuaku ikut hadir menemui kami.


“Ya kamu harus cerita dong sama adikmu, kan dia yang jadi bahan pembicaraan masak nanya gitu ?” kata ibu mertuaku sambil tersenyum.


“Iya bu, maaf hanya godain Khotimah saja kok bu.” Jawabku pada ibu mertua.


“Begitulah bu de mas Yasin kalo sama Khotimah jahil melulu kerjaanya.” Protess Khotimah.


“Gak Cuma sama kamu Khot, sama siapa aja dia begitu.” Sahut Isti.


Aku dipojokkan oleh khotimah dan Isti di depan bapak dan ibu mertuaku. Sehingga merasa terpancing untuk membalas tindakan mereka.


“Eh Isti kamu gak sopan kalo panggil Khotimah dengan nama saja, sekarang kamu harus panggil dia dengan mbak dong !” kataku iseng.


“Kok bisa ?” Tanya Isti.


“Khotimah kan calon istri Candra dan Rofiq kakakmu calon suami adiknya Candra kakak kamu saja panggil Khotimah mbak nanti apa lagi kamu.” Kataku sambil senyum


“Diih gak gitu juga kali mas, biasa aja biarin mabk  Isti panggil aku Khotimah saja gak usah pakai mbak, Khotimah jadi malu nanti.” Protes khotimah.


“Sudah sudah, kalian ini kalo kumpul ribut melulu.” Kata ibu mertuaku.


“Nak Yasin kamu ceritakan saja hasil dari kunjungan tadi.” Kata bapak mertuaku.


“Njih pak.” Jawabku singkat.


Sebelum aku memulai cerita Fatimah datang sambil menggandeng Yuyut.


“Iya mas certain terus kita lanjut jamaah asar dan mulai Semaan Al-quran dari jus 6, tadi pagi Cuma dapet 5 jua karena udah agak siang mulainya.” Kata Fatimah.


“Iya ini juga baru mau cerita kok.” Jawabku singkat.


Kemudian aku mulai menceritakan kronologis dari awal kami datang sampai dengan saaat perjamuan antar keluarga dan tanggapan keluarga Arum tentang lamaran Rofiq yang akhirnya juga di terima, serta sempat minta pendapat Arum vi telpon dan Arum juga sudah mantap dipersunting Rofiq.


Semua bersyukur dengan kelancaran acara hari ini, kemudian bersama sama melaksanakan sholat Asar berjamah dan semaan Al-Quran dilanjutkan dengan sholat maghrib samapi isya dan mujahadah sebagai kegiatan rutin di rumah Yasin setiap harinya begitu.


*****


Selepas acara mujahadah aku dan Sena hanya berdua saja dipanggil yuyut.


“Kamu berdua kembali lakukan latihan di bawah pohon Randu alas seperti kemarin. Khususnya kamu Yasin, jangan pulang sebelum berhasil.” Ucap Yuyut.


“Iya Yut.” Jawabku singkat.


“Setelah itu nanti kalian akan Yuyut beri tugas lain lagi.” Kata Yuyut.


Kamipun segera berangkat ke pohon Randu Alas yang kemarin menjadi tempat kami berlatih sesuai perintah Yuyut. Meski kadang aku juga merasa khawatir jika terjadi sesuatu dirumah. Apa bila ada serangan ilmu ‘Panggiring Sukma’ tapi ada Yuyut ini lah. Pasti beliau bisa mengatasi pikirku.


Maka aku dan Sena mantap berangkat ke pohon Randu alas berdua. Untuk kembali melatih kepakaan reflek kamu serta menguatkan hati agar tidak mudah tergoda dengan apapun godaan yang ada. Baik godaan dari makhluk yang tampak maupun makhluk yang tak tampak mata ( Ghoib).


Sesampai di lokasi yang kemarin kami segera menagmbil posisi berhadapan seperti kemarin. Namun kali ini aku lebih focus gak mainmain seperti kemarin karena sduah diancam Yuyut harus berhasil sebelum pulang kerumah.


Aku ingin segera menyelesaikan misi ini agar bisa cepat pulang, selain cape juga rasanya rindu banget pingin ngobrol berdua dengan istri dikamar. Meski sekedar ngobrol saja, tidak harus sampai bermesraan, pikirku. Akupun memulai dengan focus pada pusat lathoif nafsiku, sehingga kemampuan yang ada aku pusatkan diantara kedua alisku. Dan beberapa saat setelah melafadzkan doa dan kalimah thoyibah. Seakan aku dapat memandang pohon randu alas ddibagian atas. Setiap pergerakan daun dan bijinya dapat aku lihat seperti terpampang didepan mataku melalui pandangan dari lathoif nafsiku.


Namun begitu cukup lama tak satupun biji kapok itu jatuh, tidak seperti semalam yang sering kali jatuh. Hingga hampir satu jam belum juga ada biji kapok yang jatuh. Dan tiba tiba aku melihat dari pandangan lathoif nafsiku ada dua biji kapok Randu yang jatuh hampir bersamaan. Aku segera melompat keatas dan menyahut biji kapok itu satu persatu agar tidak sampai jatuh ketanah.


“Alhamdulillah saudaraku akhirnya berhasil juga.” Ucap Sena.


“Alhamdulillah tapi mungkin berbeda cara denganmu saudaraku, tapi yang jelas aku tahumaksut yuyut sekarang. Kita disuruh melatih kemampuan kita sesuai dengan potensi kita masing masing. Kamu dengan kepakaan kinestesismu sedangkan aku menggunakan lathoif nafsiku. Namun tetap menghasilkan sebuah kolaborasi yang baik. mungkin kita berdua bisa mengalahkan ilmu ‘Panggiring Sukma’ jika berdua kerja sama.” Ucapku pada Sena.


“Insya Allah mas, karena saat ini hanya kebetulan saja yang diancam kelurga mas Yasin, kalo tidak di hentikan mungkin besuk keluarga yang lain. Bahkan mungkin juga keluarga Sena. Jadi pada hakikatnya kebathilan ini adalah musuh kita semua, bukan hanya musuh mas Yasin saja.” Ucap Sena menyejukkan.


“Sukurlah,,, aku bangga punya saudara seperti kamu.” Sahutku. Kemudian kami berdua pulang menghada Yuyut dan menceritakan apa yang kami alami berdua.


Bahwa ada perbedaan dalam menyerap ilmu yang diberikan Yuyut namun esensi dan hasilnya sama.


“Ya memang kalian ini ada perbedaan tetapi hanya dalam cara saja nanti hasilnya juga kana bermuara pada hal yang sama.” Jawab Yuyut.


“Rupanya Yuyut memang sudah tahu dengan kemungkinan yang akan terjadi padaku dan Sena Yut ?” tanyaku.


“Jiwa sena lebih lembut tapi kewaspadaan dan kecepatan pikir lebih cepat kamu, tapi kamu kurang waspada dan cenderung lebih emosional sehingga seringkali harus mengalami musibah akaibat kecerobohanmu.” Kata Yuyut menjelaskan.


 Aku dan Sena hanya tersenyum, saling menyadari kelebihan dan kekurangan masing masing.


“Sekarang kalian aku perintahkan untuk kembali Ziaroh ke makam kakekmu Sidiq Ali. Namun kali ini kamu harus mencari tahu dimana makam buyut kamu Munatsir. Itu demi menghadapi musuh terbesar kalian nanti jauh diatas pemilik ilmu ‘Panggiring sukma’ kelasnya.” Ucap Yuyut.

__ADS_1


Aku dan Sena saling berpandangan, mungkin batin sena mengingat apa yang pernah aku sampaikan jika musuh terbesar bukan ilmu panggiring sukma. Tapi ada yang lebih dari itu, bahkan juga bukan sekedar ilmu Gundolo Sosro yang dimilikinya mungkin juga ada ilmu lain yang menjadi andalanya. Dengan memiliki 7 naga dan 7 harimau sebagi pengiringnya.


“Baiklah Yut, apakah kami harus berangkat sekarang juga ?” tanyaku pada yuyut.


“Berangkatlah, sebelum subuh kalian sudah harus samapi kesini, sukur sukur lebih cepat lagi.” Ucap yuyut.


Maka segeralah kami berangkat ke makam Kakek Sidiq Ali.


Sampai dimakam Kakek aku dan sena langsung memnajatkan doa untuk mengirim kakekku Sidiq Ali yang juga eyang gurunya Sena. Karena bapaknya Sena adalah murid dari kakekku Sidiq Ali.


Seperti ketika bersama dibawah pohon randu alas kami berdua tiba tiba merasa di tempat asing. Seakan di sebuah pemukiman masyarakat jawa kuno yang masih berbau animism dan dinamisme.


Banyak pelaku penyembah pohon dan batu batu besar, kemudian langkah kami dihentikan oleh seseorang yang dari sosoknya seperti seorang pelaku supranantural.


“Kalian tidak boleh measuki perkampungan kami, kalian akan merusak apa yang menjadi mata pencaharian kami.” Ucap seorang yang menahan langkah kami berdua.


“Maaf ki, kami tidak bermaksut jahat. Kami hanya mencari makam kakek buyut kami yang bernama Munatsir.” Jawabku pada orang itu.


“Apa kamu bilang ? mencari makam Munatsir. Kalian sudah gila ya, mencari makam orang yang masih hidup, tapi kalo kalian memang memnghendaki dia cepat dimakamkan maka aku akan bantu kalian untuk membunuhnya secara Gratis. Karena dia memang musuhbebuyutanku.” Jawaqb orang itu.


Mendengar jawabanya, aku langsung naik pitam dan bersiap menantang orang itu. namun Sena mencegah aku.


“Maaf ki, kami ini adalah buyut dari eyang kami Munatsir dan kami dengar buyut kami sudah meninggal. Kalo menurut Aki masih Hidup tolong tunjukan tempatnya biar kami cari tahu benar itu orang yang kami maksut atau bukan ?” kata Sena yang masih bicara halus.


“Kamu pikir aku sudi menunjukkan rumahnya kecuali kalo kalian bersedia membunuhnya baru aku mau dan sanggup membantu.” Jawab orang itu sehingga aku benar benar sudah tidak bisa menahan diri dan langsung menghaantam orang itu sehingga dia jatuh terpental.


Namun segera bangkit lagi seakan tak terjadi apapun juga pada dirinya.


“Hah hah hah… tenaga anak muda boleh juga tapi bagiku hanya seperti terdorong angin saja, cepat minta maaf dan kuangkat jadi muridku atau kalian berdua aku kubur lebih dahulu dari pada kakekmu itu.” kata orang itu.


“Aku gak takut dan gak akan sudi kamu jadikan muridmu.” Jawabku.


“Baiklah kalo itu yang kalian minta, terimalah pukulanku sekarang.” Kata orang itu yang langsung meninjukan kedua tanganya kearahku dan sena secara bersamaan dari jarak jauh. Tidak kusangka dari pukulan jarak jauhnya mampu mendorong aku dan Sena hingga terpental lebih jauh dari dia terpental tadi. Dan terasa saat angin dari tenaga pukulanya menghantamku serasa di terpa angin besar yang menerjang aku dan Sena.


Kami terpental jauh ke belakang dan segerabangkit berdiri menahan sesak dada kami yang terkena pukulan tersebut.


“Sena Gunakan kewaspadaanmu kita berpencar.” Ucapku pada Sena.


“Yam as, Aku kiri mas Yasin kanan.” Ucap Sena. Kamipun segera berpancar mengepung satu dari kiri satu dari kanan.


Tenagan dan kekuatan yang dimiliki orang ini luar biasa, aku gak boleh lengah sedikitpun.


Saat kami mengepung orang itu malah tertawa.


“Hah hah hah… kalian pikir dengan cara itu bisa menyentuhku. Kalian akan merasakan Sayeti Anginku yang akan membuat kalian tak bisa berkutik.” Jawab orang itu.


Sesaat kemudian orang itu bergerak sangat cepat diluar kecepatan manusia normal mengahantamku dan sena yang berpencar dalam waktu yang hampir bersamaan. Pukulan orang itu membuat aku tepental dan kembali jatuh dengan dada yang sangat sesak untuk bernafas.


Bahkan kulihat Senapun demikian, dia terjatuh memgangi dadanya yang terkena pukulan orang itu. semua ini salahku, jika kau bisa mengendalikan diri mungkin Sena tidak akan seperti ini, kasihan dia jadi terlibat begini. Padahal dirmah Istri dan anaknya yang masih bayi menunggu. Aku berusaha berdiri dengan mengerahkan semua kemapuanku.


“Urusanmu hanya denganku saja, lepaskan dia biar dia pergi dari sisni. Aku yang akan melayanimu dalam ertarungan ini.” kataku menantang orang ini.


Namun tanpa sempat kulihat dengan jelas orang itu justru melumpuhkan aku dengan sekali totok diurat besar leherku. Bahkan juga Sena, dan kemudian tubuhku dan tubuh Sena dibawa dengan entengnya ke suatu tempat dan aku serta Sena dilemparkan kehadapan seseorang yang sedang duduk disebuah kursi.


Aku dan Sena taqk mampu bergerak sama sekali, bahkan bicarpun tidak mampu. Aku hanya bisa pasrah. Ternyata masih banyak orang yang memilik tingkat ilmu kanuragan yang begitu tinggi.


“Sopo iki kok, tok gowo rene Yan ?” ( SIapa ini kok kamu bawa kemari Yan ) Tanya orang tua itu.


...bersambung...


Terimakasih atas dukungan dari Readers semuanya.


Komentar readers semangat Author


Author akan berusaha terus memperbaiki, bahasa retorika dan lainya.


Semoga dapat menghibur Readers semua.


...Jangan lupa dukungan berupa :...


...Like...


...Komen...


...&...


...Vote nya...


...Terimakasih...


...🙏🙏🙏...

__ADS_1


__ADS_2