
🌷🌷🌷
Reader tercinta, mohon maaf jika masih banyak typo karena Auto teks ataupun murni salah ketik.
Semoga tetap bisa menghibur.
🌷🌷🌷
Selamat membaca
...........
Episode lalu
Eis langsung merangkul Fatimah dan mengatakan kalo Eis juga sudah hamil sekarang. Hingga keduanya saling menangis haru. Aku juga mengucapkan selamat kepada Samsudin.
“Selamat Bother akhirnya kita sama sama akan menjadi bapak sekarang.” Ucapku.
“Lah bukanya kamu memang udah jadi bapak ?” gurau Samsudin.
“Kampret lo din” kataku dalam hati.
Belum sempat menjawab tiba tiba Fatimah menjerit kesakitan.
“Maasss Fatimah udah gak tahan.” Jerit Fatimah.
Kemudian aku papah maksutnya mau aku ajak ke kamar. Tiba tiba rum berteriak keras.
“Mass… itu air ketuban istrimu sudah pecah, cepat bawa kerumah sakit sekarang juga jangan saampai kekeringan nanti…..!!!” teriak Arum.
*****
Episode ini
Aku segera gendong istriku dan minta tolong Khotimah memanggil ambulance segera. Sambil melangkah keluar rumah sementara yang lain menyiapkan baju ganti buatku dan Fatimah karena kemungkinan Fatimah segera akan melahirkan pikirku.
Aku berangkat duluan bersama Fatimah sedangkan Khotimah menyusul belakangan kemudian Arum Sidiq Eis dan Samsudin juga akhirnya menyusul setelah istirahat Sejenak dirumahku.
“Mas Pak de dan bu de dalam perjalanan kesini, tapi mungkin nanti akan menuju kerumah dulu. Jadi Khotimah tinggal pulang dulu ya, biar nanti kalo pakde dan bude datang ada orang dirumah.” Kata Khotimah.
“Iya Khot, gak papa jangan lupa mintakan doa restunya ya biar Fatimah dan bayinya sehat.” Kataku sambil mondar mandir gelisah. Sampai semua hanya bengong melihat aku yang kelihatan sangat gelisah.
“Tenang bro, Insya Allah istri dan anak kamu semua selamat.” Kata Samsudin.
“Masalahnya Fatimah tampak begitu kesakitan, aku jadi gak tega melihatnya Din. Ketubanya udah hampir habis, terus bidan bilang kalo jam 12 siang nanti gak bisa lahir harus di rujuk ke rumah sakit untuk operasi.” Jawabku ke Samsudin.
“Iya maaf ini ada ‘Rumput Fatimah’ rendam sampai mekar di gelas kemudian airnya kasih minum Fatimah. Insya Allah memudahkan persalinan istrimu nanti.” Ucap Samsudin.
“Iya makasih, Din.” Aku segera melakukan apa yang dibilang Samsudin tersebut. Dalam kepanikan karena waktu sudah menunjukkan jam sepuluh lebih dua puluh. Limit waktu yang diberikan tinggal sebentar lagi, batinku.
Setelah aku memberikan air dari rendaman ‘Rumput Fatimah’ aku sudah gak bisa meninggalkan Fatimah sedikitpun. Dan waktu berjalan terasa lebih cepat dari biasanya, tahu tahu sudah jam sebelas seperempat dan Fatimah makin kesakitan sehingga aku harus memegangi tanganya memberikan dukungan moril agar Fatimah bisa kuat dalam membantu bayi itu keluar dengan mengerahkan tenaganya.
Dan tepat saat aku mendengar kumandang adzan luhur pukul 11:40 Wib kudengar tanngis bayi. Yaa anakku lahir dengan tangis yang sangat keras. Akhirnya Fatimah gak jadi dioperasi dan Fatimah tersenyum bahagia.
Setelah bayi dibersihkan dan di potong tali puasarnya kemudian di serahkan kepadaku untuk dikumandangkan adzan dan iqomah di telinga kanan kirinya. Agar kalimat yang dia dengar pertama kali adalah kalimat yang mengagungkan Asma Allah.
Setelah itu anak bayiku kuserahkan ke Fatimah agar bisa dilihat oleh Fatimah.
“Mas anak kita ganteng banget ya, beneran anak laki laki terus namanya siapa mas yang diberikan Abah Guru kita dulu ?” Tanya Fatimah bahagia. Seperti tak ingat saat berjuang antara hidup dan mati saat mau melahirkan tadi.
“Nama pemberian Abah adalah Jafar Sidiq, kemudian sama kakek Jafar ditambahi Amin. Jadi anak ini aku beri nama Jafar Sidiq Amin. Panggilanya Jafar karena kakaknya sudah di panggil Sidiq.” Jawabku pada Fatimah.
“Kok ada nama Amin mas, kalo Jafar dan Sidiq kan memang nama dari Abah diambil dari nama dua kakekmu mas “ Tanya Fatimah.
“Iya, dan Nama Amin itu dari nama Yuyut Siti Aminah, itu perintah kakek Jafar.” Kataku pada Fatimah.
Aku sangat bahagia, dan sekarang sudah menjadi bapak dari dua anaka laki laki Sidiq Sekartadji dan Jafar Sidiq Amin. Semoga keduanya nanti bisa akur dan saling menyayangi meski berbeda ibu, kataku dalam hati.
Selang tiga jam dari kelahiran anakku itu Fatimah sudah diperbolehkan pulang setelah lebih dulu mendapat perawatan dijahit pada organ vitalnya akibat melahirkan. Karena anak yang dilahirkan luar biasa berat dan tingginya lahir 4kg dan panjangnya juga diatas rata rata bayi.
Pantas istriku sampai kesakitan dan dulu dikira kembar oleh Arum ternyata anak yang dikandung Fatimah sangat subur pertumbuhana didalam kandungan Fatimah. Serta memiliki postur tubuh yang lebar dan tulang yang besar. Anak yang sehat batinku.
Sesampai dirumah kedua mertuaku ternyata sudah menyiapkan ‘Brokohan’ sebuah tradisi sedekah saat melahirkan bayi. Yang dibantu mbak Surti ibunya Amir. Kemudian aku menanam Ari ari anakku di depan pintu sebelah kanan karena anak lelaki jika perempuan disebelah kiri.
Stelah selesai maka aku bersimpuh dihadapan ibu dan bapak mertuaku mengungkapkan rasa sukur yang tak terhingga sampai ibu mertuaku pun menangis dan membelai rambutku. ( karena menantu \= mahrom jadi tidak ada masalah ) begitu juga dengan bapak mertuaku yang sangat bahagia mendapatkan seorang cucu kandung laki laki yang sehat dan sangat tampan.
Semua memberikan ucapan selamat kepadaku termasuk Arum ibunya Sidiq, juga Eis dan suaminya, Samsudin.
Aku begitu terharu sampai menangis bahagia melihat semua sangat berbaik hati memperdulikan istri dan anakku, termasuk Eis juga Arum wanita yang pernah tersakiti olehku.
Banyak kerabat dan tetangga yang kemudian datang memberikan ucapan Selamat sehingga Rumahku saat itu menjadi ramai bahkan yang datang pun silih berganti. Sampai sampai aku tidak sempat untuk beranjak barang sebentar kecuali untuk sholat.
__ADS_1
Untunglah ada mbak surti yang membantu semuanya, dari menyiapkan ‘Brokohan’ sampai dengan membagikannya ke para tetangga.
“Kok Isti belum datang ya, apa belum dikasih tahu ?” tanyaku pada Khotimah.
“Udah mas, katanya mau kesini nanti agak maleman.” Jawab Khotimah.
Suasana di rumahku waktu itu sangat ramai dan penuh kebahagiaan. Dan benar selepas isya isti datang bersama Rofiq kakaknya. Kemudian Isti asik mengobrol dengan Fatimah istriku sedangkan Rofiq juga ngobrol dengan Arum calon Istrinya. Kemudian beberapa saat setelah kedatangan Isti dan Rofiq datang juga Candra yang sudah dikasih tahu juga oleh Arum. Rumahku kembali ramai sekarang, menambah kebahagiaan hidupku sebagai seorang kepala Rumah tangga.
*****
Author POV
Di tempat lain Joyo Maruto dan murid muridnya semakin giat berlatih ilmu kanuragan untuk persiapan ballas dendam kepada Yasin yang saat ini sedikit lengah karena kebahagiaan atas lahirnya anak yang dikandung Fatimah istri Yasin.
Tanpa Yasib sadari bila musuh sedang memersipkan diri untuk membuat perhitungan balas denam padanya.
“Sebentar lagi aku rasa kemampuan kalian jika digabung akan dengan mudah melumpuhkan Yasin. Maka dari itu berlatihlah secara giat dan dalam waktu dekat kita akan segera melakukan pembalasan kepada Yasin.” Ucap Joyo Maruto.
Dan disambut teriakan murid muridnya terutama yang sudah merasakan dendam kepada Yasin secara langsung. Terutama Ajar Panggiring dan Mento Rogo yang dendamnya sudah memuncak sampai ke ubun ubun karena luka bakar yang di alaminya menjadikan dia tak berani membuka caping penutup kepalanya.
Mento Rogo sudah berniat membunuh atau dibunuh sekalian dari pada hidup menanggung malu.
“Tunjukan sampai dimana perkembangan ilmu kanuragan kalian masing masing.” Perintah Joyo Maruto.kemudian satu persatu menunjukkan kemampuan olah kanuragan mereka masing masing.
Mento Rogo :
“Baiklah guru, murid akan mencoba ilmu ‘Rapal Tameng Wojo’ pemberian guru, minta bantuan adi Ajar panggiring untuk menguji ilmu saya. Silahkan gunakan senjata yang ada untuk menguji ilmuku.” Ucap Mento Rogo.
Kemudian Ajar Panggiring mengambil sebuah parang besar dan menunjukkan ketajaman parang itu dengan menebas dahan dahan pohon hanya dengan sekali tebas maka terbelah lah dahan dahan itu.
Kemudian Ajar panggiring mendekati kakak seperguruanya itu dan mengayunkan parang itu untuk menebas tubuh Mento Rogo berkali kali. Sehingga baju Mento Rogo sampai terkoyak, namun sedikitpun kulit tubuhnya tidak tergores sama sekali.
Semua berdecak kagum dengan kemampuan Mento Rogo yang dianggap sudah hampir sempurna ilmu ‘Rapal Tameng Wojo’ nya.
Kemudia berikutnya gentian Ajar Panggiring pada giliran berikutnya.
“Ajar Panggiring siap menunjukkan ilmu ‘ MUstikaning Babi’ guru” kemudian Ajr Panggiring tampak komat kamit menbaca Mantera yang diajarkan gurunya Joyo Maruto.
Sesaat kemudian Ajar Panggiring berlari menghampiri sebuah pohon yang cukup besar dan menyeruduk pohon itu seperti akan bunuh diri. Namun yang terjai adalah justru pohon itulah yang tumbang dan batang pohon itu hancur dan terbelah.
Ajar panggiring merasa puas, dan disambut tepuk tangan yang lain.
Maheso Suro pun berdiri dan membungkuk member hormat kepada Joyo Maruto.
“Maaf Guru sebagai Murid baru, saya akan menunjukkan ilmu dari guru sebagai penyempurna ilmu yang sudah aku dapatkan sebelumnya. Dan sekarang Saya akan meenunjukkan ilmu ‘Giling Wesi’ yang diajarkan Guru.” Ucap Maheso Suro.
Kemudian Maheso Suro melakukan derakan jurus nya dan sambil melafdzkan mantera mantera khusus yang dia dapat dari guru barunya Joyo Maruto. Kemudian mengambil sebuah golok yang cukup besar dan dengan kedua tanganya yang sudah memerah seperti bara apai itu. kemudian Maheso Suro meremas golok tersebut hingga mengeluarkan asap dan golok itu seperti lumer ditangan Maheso Suro.
Kembali riuh tepuk tangan mewarnai atraksi yang dilakukan Maheso Suro.
Disusul kemudian oleh ki Soma yang menunjukkan keahlian lain dari yang lain. Ki Soma mengambil sebuah kelapa muda yang baru saja dipetik dari pohon nya. Kemudian menyiapkan sesaji dan uborampe yang dibutuhkan. Seperti Jarum silet potongan besi dan lainya.
Kemudian ki Soma merapalkan mantera teluh yang dia dapatkan juga dari Joyo Maruto. Kemudian mengeluarkan sebilah golok dan menebas kelapa muda tersebut dan langsung terbelah menjadi dua.
Kemudian menjukkan isi dari kelapa muda itu yang sudah penuh berisi denga jarum silet dan lainya dari ubo rampe yang disiapkan tadi. Semua peralatan teluh tadi sudah berpindah ke dalam kelapa muda tersebut.
Begitulah atraksi yang dilakukan murid murid joyo Maruto dalam persiapan balas dendam kepada Yasin.
“Ha ha ha… cukup menggembirakan perkembangan ilmu kalian, Aku yakin jika kalian bergabung nanti maka Yasin tak akan mampu melawan kalian.” Ucap Joyo Maruto.
Disambut tepuk tangan murid muridnya.
“Mento Rogo kamu sebagai Tameng dari kawan kawanmu dalam menghadapi Yasin. Ajar panggiring dan Maheso Suro kalian menyerang Yasin dari dua arah. Kemudian Soma kamu dibalik layar menyerang Yasin dengan teluh ( santet kamu ) jadi kita serang Yasin nanti secara Serempak dak bersamaan. Aku sendiri akan mengamati dari kejauhan jika kalian masih kerepotan aku akan menyerang dia dengan kelabang sayuto ku dari jarak jauh.” Ucap Joyo Maruto.
“Baik Guru.” Ucap semuanya berbarengan.
“Nanti malam aku akan membekali kalian semua dengan ilmu kelabang sayuto tingkat dasar dulu. Namun meski tingkat dasa ilmu ini bisa melumpuhkan lawan dengan sekali sentuh meski tidak bisa dilakukan dari jarak jauh. Pada tingkat ketiga nanti baru bisa dilakukan dari jarak jauh.” Ucap Joyo Maruto penuh semangat.
Kemudian semua muridnya disuruh mencari kelabang dan harus dalam keadaan hidup sebagai sarana untuk ritual pewarisan ilmu tersebut.
Hingga semua muridnya serempak mencari kelabang yang akan dibuat sarana proses ritual nanti malam. Setelah mendapatkan puluha kelabang maka kelabang itu di taruh dalam toples yang dilubangi kecil kecil agar tetap hidup sampai Nanti malam.
Dan pada malam Harinya mereka melakukan ritual untuk perwarisan ilmu tersebut pada tingkat dasar.
“Jika ilmu ini sudah masuk pada kalian maka, jika kamu pakai daunpun akan kering jika kamu sentuh.” Ucap Joyo Maruto yang akan memulai ritual tersebut.
Kelabang yang sudah di taruh dalam Toples diletakkan di depan murid murid Joyo Maruto yang duduk melingkar. Kemudian joyo Maruto menyiramkan kembang kepada murid muridnya serta membacakan mantera mantera.
“…..sun warisi siro ngelmu kang biso kanggo ngasorake musuh kelawan epek epek siro kang mowo wiso. Wiso kelabang kang tan keno di usadani. Sopo kang kademok epek epek siro bakal biso sirno magolayu kerono keno wiso kang banget panase….”
(…..aku turunkan kepadamu ilmu yang bisa untuk mengalahkan lawan dengan telapak tanganmu akan berakibat mati karena terkena racun yang sangat panas……”
Kemudian Joyo maruto membuka tutup toples yang berisi kelabang itu, dan seperti diperintah kelabang kelabang itu menyengat murid murid Joyo maruto hingga semua menjerit kesakitan, namun anehnya justru semua kelabang itu kemudian menjadi mati dan mengering. Seakan semua racun dan cairan kelabang itu dimasukan kedalam tubuh murid murid Joyo Maruto.
__ADS_1
Semua menjerit menahan sakit terkena sengatan kelabang kelabang itu, sampai sampai kelihatan racun kelabang itu yang berupa fosfor dan menyala kehijau hijauan itu menjalar keseluruh pembuluh darah murid murid Joyo Maruto.
Setelah jeritan mereka berhenti dan tubuh mereka berhenti bergetar menahan Sakit maka Joyo Maruto menyuruh mereka untuk berdiri dan mencari daun pisang muda satu orang satu.
Setelah itu semua diminta membaca mantera khusus dan sesudah itu disuruh memegang daun pisang muda itu. dan yang terjadi kemudian daun pisang itu seketika menjadi layu bahkan kering berubah warna menjadi coklat.
Joyo maruto meras puas dengan apa yang dicapai oleh murid muridnya yang dirasa sudah hampir saatnya menyerang Yasin secara bersamaan untuk balas dendam.
*****
Yasin POV
Di rumah Yasin
Pada saat anakku berumur sepasar ( Lima hari ) aku mengadakan acara tasyakuran dan sekaligus member nama secara resmi pada anakku Jafar Sidiq Amin. Disaksikan tetangga kanan kiri dan beberpa kerabat dekat.
Saat itu bapaknya Rendy juga istri dan Rendy sendiri juga ikut hadir. Dan bapaknya Rendy sudah agak berubah sikap setelah keluar dari penjara wakti itu.
Acara potong rambut belum aku laksanakan menunggu anakku berumur selapan hari ( tiga puluh lima hari ) sekalian nanti pelaksanaan Aqiqog menyembelih dua ekor kambing karena anakku laki laki.
“Mas besok kalo Aqiqoh gak sekalian buat Sidiq ?” Tanya Fatimah padaku.
“Lain kali saja, soalnya Sidiq udah doyan daging kambing. Jadi besuk Aqiqoh buat Sidiq gak dimasak dirumah takut Sidiq pingin ikut makan juga.” Kataku.
“Tapi kalo ibunya Sidiq besuk lihat Jafar di Aqiqohi dan Sidiq Belum bagaimana ?” Tanya lanjut Fatimah sambil menyusui Jafar.
“Nanti aku yang bilang ke ibunya Sidiq mudah-mudahan dia bisa memahami.” Jawabku.
“Aku pingin gendong Jafar nih, udah belum nyusuinnya ?” tanyaku ke Fatimah.
“Belum mas, Jafar kuat banget minumnya sampai rambut Fatimah banyak yang rontok nih.” Kata Fatimah.
“Mang ada hubungannya ?” tanyaku.
“Kata ibu sih begitu.” Jawab Fatimah yang masih ditungguin ibunya waktu itu. meski aku sendiri gak risih untuk mengganti popok maupun mandiin Jafar. Tapi oleh ibu mertuaku tugas itu sering diambil alih.
Gak papalah, ini kan cucu pertama beliau yang sudah lama dinanti. Mungkin ada kebahagiaan tersendiri bagi beliau merawat Jafar seperti itu, pikirku.
Setelah acara Tasyakuran selesai dan semua tamu tetangga kanan kiri sudah pulang. Kemudian aku diajak ngobrol oleh ibu mertuaku, bersama Fatimah dikamarku.
“Nak selama istrimu dalam masa Nifas ( mengeluarkan darah setelah melahirkan ) kamu tidur diluar saja ya. Biar Fatimah ibu temenin dikamar karena ada hal hal yang harus aku bicarakan dengan Fatimah sebagai sesame wanita.” Kata ibu mertuaku.
“Njih bu, tapi saya suka pingin gendong Jafar juga bu. Jadi sesekali boleh ya kalo saya yang mandiin Jafar bu.” Ucapku ke ibu mertuaku.
“Jangan buat alasan buat deketin istrimu aja ya !” Ucap ibu mertuaku. Beliau memang tahu jika aku sangat mencintai anaknya itu sehingga kadang ucapan beliau terkesan menggoda aku.
Namun malam itu ak mengalah tidur dikamar lain menemani Sidiq, karena Arum sudah kembali ke rumahnya tinggal bersama keluarganya lagi. Bersama Candra dan bapaknya, kadang Sidiq juga dibawa Arum kerumahnya. Biar bagaimanpun memang Arum ibu kandungnya jadi aku persilahkan saja bila Sidiq dijemput Arum dan Candra. Kadang juga hanya Candra sendiri yang jemput, meski hanya sekedar alasan mau ketemu Khotimah saja sebenarnya.
Hingga ibu mertuaku membuka obrolan tentang kelanjutan Khotimah dan Candra.
“Itu Candra kakaknya Arum kayaknya sudah ngebet sama Khotimah, apa gak sebaiknya segera dinikahkan saja ?” Tanya ibu mertuaku.
“Sebaiknya memang begitu bu, coba nanti saya bicarakan lagi dengan Candra. Tapi masalahnya Arum dan Rofiq juga harus segera dinikahkan bagaimana nanti tanggapan masyarakat bu. Bila dalam setahun mantu dua kali dalam waktu yang deket pula ?” tanyaku pada ibu mertuaku.
Ibu mertuaku tampak kaget dengan pertanyaanku itu….???
...*****...
Up lbh awal malam ada giat 🙏
...bersambung...
Terimakasih atas dukungan dari Readers semuanya.
Komentar readers semangat Author
Author akan berusaha terus memperbaiki, bahasa retorika dan lainya.
Semoga dapat menghibur Readers semua.
...Jangan lupa dukungan berupa :...
...Like...
...Komen...
...&...
...Vote nya...
...Terimakasih...
...🙏🙏🙏...
__ADS_1