
Bagian akhir episide lalu
" Ada berapa personil yang membuat rusuh ?" tanyaku.
" Banyak banget mas, hampir separo jumlah jumlah pengikut sidang !" jawab Isti.
" Kalo begitu kalian harus benar benar hati hati, jangan keluar keluar dulu. Diam dirumah saja, jika perlu apapa cukup bilang biar dicarikan Amir / Heri !" ucapku.
Fatimah dan yang lain tampak tegang, tak mampu berucap sepatah katapun.
" Nanti sore, akan ada yg datang membantu keamanan. Mas harap semua tetap tenang, kita beraktifitas seperti biasanya tapi tetap dirumah dan tetap waspad." kataku.
" Biasanya mujahadah jam berapa mas ?" tanya Isti.
" Habis jamaah maghrib langsung, kalo malam jumat sama habis Isya. Dengan tawasul khususu." jawabku.
Sesaat semua terdiam, kemudian Fatimah membuka omongan.
" Mas cari makan gih, kita makan dan istirahat sebentar nunggu wajtu sholat maghrib !" bisik Fatimah.."
" Kamu suruh Amir atau Heri aja say." jawabku berbisik juga.
Kemudian Fatimah menemui Amir untuk membeli makan, menjamu tamu.
Beberapa saat kami menunggu, akhirnya Amir datang membawa menu makan khas jogja gudeg.
Selesai makan kami persilahkan Isti dan ibu nya beristirahat di kamar. Akupun masuk kamar bersama Fatimah. Setelah, menunjukkan kamar Khotimah.
Di dalam kamar aku langsung berbaring menghilangkan penat.
" Apa yang sebenarnya terjadi mas, kok kayaknya serius amat." tanya Fatimah Istriku.
" Iya jujur saja, dibilang serius ya memang serius. Karena kasus ini bisa merembet ke kasu kasus yg lebih besar. Tapi jangan terlalu khawatir, karena tingkat pengamananya pun sangat ketat dan profesonal. " jawabku.
"Terus tugas Fatimah apa kok di harapkan bisa membantu mas Yasin ?" tanya Fatimah.
" Pertama biar Pengamanan Isti dan ibunya bisa irumah ini. Kalo gak ada kamu istriku kan jadi fitnah nanti !" jawabku.
" Terus selain itu apa lagi mas ?" tanya lanjut Fatimah.
" Ya diharapkan, kamu dan Isti bisa membantu doa dari rumah. Karena mungkin, mas akan banyak keluar rumah juga. Untuk menangani kasus yg berbau mistis !" ucapku.
" Kasus mistis seperti yang sudah sudah kemarin ?" Desak Fatimah.
"Iya, ada indikasi kasus ini adalah sebuah mata rantai yg saling berkaitan. Dari kasus pembunuhan, prostitusi dan peredaran narkoba." jawabku.
Aku berfikir sudah waktunya Fatimah tahu semua permasalahan. Maka aku ceritakan semua yg selama ini dia tidak tahu.
Termasuk, kejadian kejadian yg hampir mengancam keselamatan jiwaku.
Fatimah mendengarkan dengan serius sambil sesekali meyeka air matanya yg menetes.
" Mas kok gak pernah bilang sebelumnya kalo mengalami hal yg serius begitu ?" tanya Fatimah.
" Iya maaf, mas tu gak mau kamu sedih dan khawatir aja. Karena kamu baru mengandung, takut mengganggu pikiranmu." jawabku.
" O iya mas, Fatimah mau tanya tentang masa lalu kamu jawab jujur ya ?" ucap Fatimah.
" Aah kenapa kamu selalu menanyakan masa lalu sih ? Kita hidup kan bukan untuk masa lalu, tapi kita hidup saat ini dan untuk masa depan !" kilahku menghindari pertanyaan yg mungkin sulit aku jawab nanti.
" Iya Fatimah tahu, tapi sebagai istri kan perlu tahu basik suaminya, kesukaanya, bahkan kekuranganya mas. Biar bisa saling mengisi, dan Fatimah tidak bermaksut mencari kesalahanmu mas !" kata Fatimah.
" Iya, tapi mas gak mau mengingat masa lalu. Bahkan berusaha menguburnya, membuka lembaran baru dan mengisi dengan halaman baru !" jawabku.
Fatimah termenung sejenak.
" Satu hal saja mas, Fatimah penasaran banget !" ucap Fatimah.
" Soal apa itu ?" tanyaku.
" Fatimah merasa, mas itu orang baik tapi kenapa dulu bisa terjerumus dalam kehidupan yg kelam seperti itu ?" tanya Istriku.
" Aah ceritanya panjang, nanti aja mas ngantuk nih. Tadi jagaain kamu di kendaraan biar gak jatuh. Kan ada dua nyawa sekarang pada dirimu "" kataku mengalihkan pembicaraan.
" Aah mas gitu, ngeles terus !" sungut Fatimah.
__ADS_1
" Gak kok, mas janji cerita tapi gak sekarang. Masih banyak yg harus kita kerjakan nanti. Bobok dulu aja yuk !" ucapku sambil peluk istriku biar bisa istirahat sebentar.
Aku yg memang sudah mengantuk segera tertidur. Disamping merasa lega, Fatimah tak lagi marah tak lagi berubah. Aku masih bisa merasakan belaianya dikepalaku, serta kecupan di pipiku sesaat sebelum terlelap.
....................
" Mas bangun dah jam lima sore, mangi solat asar dulu gih !" Fatimah membangunkan aku.
" Iya say, siapin kopi ya, aku mau ngopi nanti sambil nunggu teman teman pak Yadi." kataku.
" Yaudah mas mandi dulu, terus sholat. Nanti Fatimah siain kopi nya." jawab Fatimah.
Aku pun segera mandi dan solat Asar. Usai solat asar, aku keruang tamu. Aku lihat sudah berkumpul semua disitu.
" Maaf ya bu, kalo tempatnya kurang nyaman !" ucapku pada ibu nya Isti.
" Nyaman kok nak, justru ibu minta maaf jadi ngrepotin kalian !" ucap ibu nya Isti.
" Gak kok bu, saya justru senang ada ibu disini. Karena sudah lama saya ditinggal ibu kandung saya, juga bapak saya." jawabku.
" Iya bu, suami Fatimah ini sudah yatim piatu saat menikahi Fatimah." sambung istriku.
" Owh iya nak, makasih jika tidak merasa repot." kata ibunya Isti.
" Sama sekali tidak bu !" ucapku.
Kami terlibat obrolan ringan sekedar ramah tamah. Terlihat Khotimah pun cepat akrab dengan Isti.
" Owh jadi Khotimah tu putra dari adik kandung bapaknya Fatimah ?" tanya Isti ke Khotimah.
" Iya mbak Isti, tapi kedua orang tua Khotimah juga sudah lama wafat. Jadi kemarin tinggal sama Yuyut dan paman Khotimah. Sebelum ikut bude dan pak de orang tuanya mbak Fatimah !" jawab khotimah.
Sementara Isti dan Khotimah ngobrol, Aku lihat Ibunya Isti juga ngobrol dengan Fatimah Istriku.
Ibu nya Isti banyak memberi nasehat pada Fatimah, seutar kehamilan.
" Jadi kalo di jogja, tidak ada budaya ngapati ( upacara saat kehamilan usia 4 bulan ) yang biasa dilakukan budaya mitoni ( upacara saat usia kehamilan tujuh bulan dari kata Pitu \= Tujuh jadi Mitoni ) itupun hanya kehamilan pertama. Tapi kalo Fatimah mau ngadain acara ngapati juga gak papa. Budaya asli daerahmu juga perlu di jalankan. " ucap ibunya Isti.
" Iya bu, maaf ya bu saya gak berani ngomong jawa, gak bisa jawa hakus sialnya !" seru Fatimah.
Aku hanya jadi pendengar, tidak ada lawan bicara. Aku lantas membawa kopiku ke ruang mujahadah, disana ngopi sambil menghisap rokok. Diruang tamu gak enak ada ibunya Isti.
Ternyata pesan dari Arum, duh apa lagi ini ? Aku jadi serba salah, mending Fatimah aja yg buka dan jawab dari pada salah faham.
Aku lantas panggil Fatimah.
"Fatimah kesini sebentar ! Maaf ya bu gangguin ngobrolnya sebentar." ucapku ke ibu nya Isti.
" Iya nak gak papa, nak Fatimah ke suaminya dulu sana !" ucap ibu nya Isti.
" Njih bu, maaf Fatimah tinggal sebentar." jawab Fatimah.
Fatimah kemudian menyusulku ke ruang mujahadah.
"Ada apa mas ?" tanya Fatimah.
" Maaf sebelumnya, mas mau buktikan ucapan mas. Ini ada chat dari Arum, kamu yg buka dan balas ya ! Terserah mau kamu jawab apa " kataku.
" Iya boleh !" jawab Fatimah.
Kemudian Fatimah membuka chat dari Arum.
" Assalaamu 'alaikum mas
Sudah jadi jemput istrimu ?
Maaf ini Sidiq yg pingin ngobrol, jika tidak mengganggumu."
Chat dari Arum.
Kemudian Fatimah bertanya padaku.
" Boleh gak aku telpun mas, aku vc dia tapi mas yg mulai nanti Fatimah ikut ngobrol ?" tanya Fatimah.
" Terserah Fatimah saja !" jawabku.
__ADS_1
" Kalo gitu mas yg mulai telpun, bilang kalo Fatimah istrimu mau bicara baik baik." seru Fatimah.
" Yakin kamu mau bicara baik baik, gak akan emosi ?" tanyaku ragu.
" Iya Fatimah yakin mas, sudah kupikirkan masak masak !" jawab Fatumah mantap.
Kemudian aku VC Arum.
" Assalaamu 'alaikum mas !
Sudah dirumah ?" tanya Arum di telpun. Sementara Fatimah agak menjauh dulu dariku.
" Wa 'alaikummussalaam Arum.
Gimana kabar Sidiq ?" tanyaku ke Arum. Tiba tiba Sidiq yg menyahut.
" Ayah, bunda nya mana ?" tanya Sidiq. Karena suara aku louds speaker kuyakin Fatimah dengar pembicaraanku.
" Iya Sidiq sayang, Ayah mau bicara sama mamah Sidiq dulu. Nanti disambung lagi ya !" ucapku pada Sidiq.
Kemudian Hp kembali dipegang Arum.
" Kenapa mas ? Sidiq yg pingin ngobrol tadi." kata Arum.
" Begini Arum, kamu jangan kaget dulu. Ini ada pesan dari Istriku, dia mau bicara baik baik sama kamu boleh ya ?" kataku.
Aku lihat dari layar Hp Arum nampak berubah kaget mimik wajahnya.
" Serius mas ? Arum sih gak keberatan kok !" jawab Arum.
Hp langsung aku berikan Istriku.
" Assalaamu 'alaikum mbak Arum.
Perkenalkan aku Fatimah Istri mas Yasin." ucap Fatimah membuka pembicaraan.
"Wa 'alaikummussalam mbak Fatimah. Perkenalkan juga, saya Sekar Arum ibu kandung Sidiq." jawab Arum.
" Iya mbak Arum, Fatimah sudah tahu. Mas Yasin sudah cerita banyak tentang kaliyan. Fatimah tahu itu masa lalu kaliyan. Satu hal yg Fatimah mau minta pada mbak Arum jika boleh !" ucap Fatimah.
Aku hanya diam dan berharap pembicaraan mereka akan tetap datar. Jangan sampai ada yg menggunakan Intonasi tinggi dan ribut.
" Silahkan sampaikan saja mbak, mudah mudahan Arum bisa memenuhi permintaan mbak Fatimah." kata Arum.
" Panggil Fatimah saja, jangan mbak kayaknya lebih enak begitu. sahut Fatimah.
" Baik Fatimah ada permintaan apa ?" tanya ulang Arum ke Fatimah.
" Begini mbak, mas Yasin sudah cerita masa lalu kaliyan. Dan Fatimah memaklumi itu sebagai masa lalu saja. Dan soal Sidiq, Fatimah ingin rawat Sidiq, biar selalu dekat dengan ayahnya. Dan Fatimah akan rawat dia seperti anak kandung Fatimah sendiri. Itu saja permintaanku mbak !" penjelasan Fatimah panjang lebar.
" Arum tidak keberatan, tapi jika Arum tetap diperkenankan untuk menjenguk Sidiq. Memang ada rencana Sidiq mau aku masukan ke pesantren. Tolong ajari dia agama, biar jadi anak yg baik." ucap Arum sambil terisak.
" Mbak Arum kesini aja sekarang, kita bicara tata muka langsung saja.
Saya share lok ya mbak !" ucap Fatimah ikut larut dalam haru.
" Boleh mbak ! Arum siap berangkat. Sidiq ayo kerumah Ayah sekarang." suara Arum terdengar jelas.
Fatimah menutup hp dengan mata sembab.
" Mas nanti habis Isya kita bahas masalah Sidiq, antara mas Yasin Fatimah dan Arum. Kita selesaikan hingga tuntas dulu masalah ini, sebelum menangani masalah yang lain !" pinta Fatimah istriku.
..............................
...bersambung...
...Jangan lupa dukungan berupa :...
...Like...
...Komen...
...&...
...Vote nya...
__ADS_1
...Terimakasih...
...🙏🙏🙏...