Isyaroh

Isyaroh
Aku hampir diusir dari kampung


__ADS_3

" Begini mas, maaf sebelumnya...


Saat ini saya anggap Mas Ahmad sebagai warga saya. Bukan saya posisikan sebagai Pak Rois. jadi saya panggil mas saja." kata pak dukuh.


" Iya pak dukuh, tidak masalah panggilan apapun..." jawabku.


Sebenarnya aku juga sudah tahu arah pembicaraan mereka.


" Lah ini Istrinya kemana kok dirumah sendirian ? " pak RT berbasa basi tanya, mungkin beliau agak sungkan terhadapku.


Karena selama ini aku cukup membantu kegiatan RT. Dan menggerakkan para pemuda.


Tapi ya gimana lagi, desakan atau tuntutan jabatan dia sebagai RT.


" Baru di rumah orang tuanya pak RT." jawabku.


" Apa lagi marahan mas ? Maaf saja ini, karena saya dengar dari warga. Kalo mas Ahmad sekarang kembali ke komunitas yg dulu.


Sebenarnya kami sudah percaya, kamu sudah berubah kemarin. Tapi tadi jadi pembicaraan warga, karena ada temanmu yg datang kesini.


Sudah pakaianya berantakan, pakai anting, udah gitu malah minum minum disini juga katanya "


penjelasan pak Dukuh.


Pak dukuh langsung saja menceramahi aku.


" Sebenarnya begini pak dukuh, teman saya itu kesini mau bertaubat juga katanya. Dan ini tidak ada hubunganya dengan istri saya. dia pulang karena pingin istirahat karena baru hamil muda.


Demi menjaga kandunganya...! " jelasku.


" Yaudah gini saja, masalah ini akan kita bahas di Forum LPMD. Biar clear semuanya. Kamu siapkan saja jawaban atau klarifikasi kamu. Jika warga bisa menerima berarti kita anggap tidak ada masalah.


Tapi kalo warga tidak bisa menerima, ya saya dan jajaran LPMD tidak bisa berbuat apa apa terserah maunya warga saja." kata pak Dukuh.


Rupanya kalo Pak dukuh sudah terprovokasi, tapi gak papa.


" O njih pak, saya ikuti aturan dan Tatip kampung saja." jawabku.


" Yah tunggu undanganya saja, kami pulang dulu, " pamit pak Dukuh.


" O njih pak, monggo ndereaken " jawaku.


Rencana pertama berjan lancar, jika aku sudah dikucilkan maka Rofiq Cs akan berpesta ria. Merayakan kemenangan, sedikit mengurangi kewaspadaan dan gerakan mereka. Maka saat itu juga Sidang kasus pembunuhan itu digelar.


Jika aku dijadikan tersangka, maka langkah berikutnya mengamankan Jendul. Sementara ditahan dulu, sampai kasus usai.


Sehingga saat sidang aku putarkan rekaman Audio dari jendul. Mereka akan kaget, dan akan mencari jendul. Tapi jendul sudah diamankan.


Mereka panik, Rofiq panik saat itu juga dia dan gang ditangkap. Kemudian Setelah aku terbukti tidak bersalah. Saat itulah Tuti dihadirkan, untuk menjelaskan kronologisnya. Menurut info dari Lia sebagai saksi kunci. Dan keberadaan Lia dirahasiakan sidang akhir putusan hakim.


Hmmm jitu juga rencana polisi polisi itu, setelah itu baru aku menangani kasus kasus mistis. Untung Fatimah di rumah orang tuanya. Kalo dia bersamaku, pasti dia sudah ketakutan.


Eeh iya aku belum vc hari ini, mumpung masih sore vc dulu ah.


Kangen juga gak lihat wajah istri...


" Halo sayang...! "


Kusapa via pesan dulu...


kulihat Fatimah langsung ngetik..


Kok lama Amat ngetiknya ya..?


" Maaf mas ini khotimah...


Mbak Fatim lagi cek kehamilan.


Tadi udah pesen, kalo mas telpun suruh angkat dulu.


" Owh.. yaudah nggak papa kan tapi kandunganya ?


Yg meriksa cowok apa cewek ? "


" Diih segitunya... Cemburu ya mas ? " goda Khotimah.


" hehehe... namanya juga istri dek...! "


" Tenang saja mas, Khotimah jagain kok Ini periksa di bidan kok, perempuan. " katanya.


" Owh sukurlah makasih ya dik...! "


" Kok gak pakai emhhhuah emmhuah


hehehe bercanda loh...! "


" Yg itu buat Fatimah, biar nanti Fatimah yg waklilin aku saja....!


😜😜😜


bye....


Begitulah chat ku dengan sepupu Fatimah, agak ganjen tapi lucu dan tulus sama Fatimah.


Aku ke makam sajalah.


Dengan sepeda motor usangku, aku menuju pemakaman keluargaku di dusun sebelah. yg jaraknya kurang lebih 2km. Dari Rumah tinggalku, rumah warisan dari orang tuaku.


Hanya sekitar 5mnt aku sudah berada di depan sebuah pemakaman umum.


Terang bulan.... gumamku...


meski bukan bulan purnama, tp cahaya bulan cukup memberi penerangan. Karena memang makam itu tidak ada peneranganya sama sekali.


Jarak dari perkampungan tidak terlalu jauh sebenarnya. Tapi mungkin sudah menjadi hal lumrah makam tanpa penerangan. Mungkin mikirnya penghuninya tidak protes, hehehe.


Aku lebih dulu mengubah ponsel ke mode pesawat, agar tidak terganggu.


Sekaligus saat baca Alquran, dari ponsel biar cukup terang dari cahaya Hp.


Aku pilih baca surat At Taubah stelah lebih dulu kirim fatihah.


Dan dilanjutkan bacaan Tahlil, ditutup doa.


Aku tidak langsung pulang setelah selesai. Tapi memilih duduk duduk di pinggir makam kakek nenek ku.


Konon katannya kakek ku adalah Pendakwah di zaman nya. Itu kakek nenek dari bapak ku.


Demikian juga dengan kakek dari ibuku, yg meninggal dibunuh saat mau sholat malam di masjid. Dan dilakukan di dalam masjid juga. Pada masa PKI Mungkin. Aku juga tidak begitu jelas.


Yang aku dengar, sifatku menurun spt kakek dari ibuku. Keras dan temperamental, gak kenal rasa takut. Kata orang sih.


Aku setengah berbisik.


" Mbah kata orang simbah dulu ulama yang cukup disegani kawan dan lawan.


Aku ingin melanjutkan perjuanganmu. Dengan caraku sendiri, yg tentu berbeda dengan cara simbah.

__ADS_1


Karena zaman sudah berubah, maka metode juga harus diubah. Aku tak perlu jadi pendakwah yg sering ceramah di masjid dan mushola. Tapi aku akan sampaikan kebenaran pada siapa saja dan dimana saja.


Tak perlu panggung dan mimbar, karena kehidupan sudah kuanggap panggung dan mimbar.


Aku berkata seperti itu spontan dan mengalir begitu saja. Bahkan tanpa terasa mataku berkaca kaca.


" Akung dari ibuku meninggal dibunuh secara keji. Jadi untuk apa aku takut mati. Meski yg akan kuhadapi katanya adalah anak buah Sabdo Palon."


Selesai berkata begitu angin berhembus kencang. Dan kulihat Rembulan tertutup mendung, suasana jadi gelap. Mungkin mau turun hujan, dan tak lama kemudian hujan deras. Aku terpaksa harus berteduh di cungkup.


Cungkup adalah semacam bangunan kecil yg didalamnya makam sesepuh bisanya. Aku tak tahu itu makam / cungkup siapa, yg ptg bisa buat berteduh.


Suasana semakin hening, hanya tetesan air hujan yg terdengar. Tiba tiba kilatan cahaya dari langit menyambar sebuah pohon kelapa.. disusul suara menggelegar. Dan yg tadinya terlihat lampu lamu rumah penduduk.


Saat itu hanya gelap malam yg seakan akan tak mau ditembus mata. Gelap gulita.


Aku sampai merasakan merinding, seperti inikah gelapnya alam kubur ? Atau lebih gelap lagi malah...!?!


Ah kenapa bawa rokok saja koreknya ketinggalan.


Aah sudahlah, Nunggu agak reda dulu.


Dalam gelap gulitanya malam.


Tiba tiba...


Tercium bau kembang yang sangat menyengat.


Wah ada ada saja, saat gini malah bau kembang. Ujut apa yg bakal gangguin gelap gelap gini.


Aaah kenapa juga bulu buluku merinding semua begini.


Padahal lihat penampakan, apapun pernah. Bahkan gk cuma lihat, lbh dari lihat.


Klotak...


Kayak ada yg lempar kerikil ke dalam cungkup. Owh iya aku ka bawa Hp ? Kenapa gk aku nyalain dari tadi.


Aku merogoh hp di kantong celanaku, sementara hujan semakin deras saja.


Suara jatuhnya air begitu keras, seakan melengkapi suasana yg mencekam.


Aah mana Hp aku tadi, kok gak ada..


Apa mungkin ketinggalan di makam simbah tadi ? Aaah ada ada aja.


Sayup sayup aku dengar suara seperti orang bernyanyi, tapi siapa hujn hujan gini...???


Bapak pocung...


Manungso kang kumalungkung


Ojo sok rumongso...


Koyo satriyo pilih tanding..


....


Aku tambah merinding saja..


Mana makin dingin, jaket juga kulepas karena basah. Saat hujan deras tiba tiba tadi. Meskipun jaraknya tidak jauh tapi tetap saja jaket basah.


Owh iya mungkin hp ku di saku jaket.


Tapi jaketku aku taruh diluar cungkup tadi.


Aku berjalan merambat, dengan pelan


Dengan susah payah akhirnya kutemukan jaketku. Beneran HPku disaku jaket, semoga tidak basah.


Ku Nyalakan lampu layar hp untuk menyalakan batrei.


Dari nyala lampu layar hp, tiba tiba nampak sosok berbaju kebaya rambut di sanggul. Dan mengenakan jarit ciri khas wanita jawa zaman dulu.


Aku kaget dengan kemunculanya yg tiba tiba. Ternyata yg bersenandung itu diya, tapi tadi suaranya kayak diluar. Aku segera menyalakan lampu senter di hp ku agar lebih terang. Dan mengarahkan pancaran cahayanya ke tembok agar sosok tsb tidak tersinggung. Pantulan cahaya batrei dari tembok, cukup menerangi wajah sosok tersebut.


Tidak menunjukkan wajah seram sama sekali wajah dan penampilanya.


Namun aura nya sungguh kuat, tampak berwibawa. Jauh lebih terasa merinding daripada sosok pocong ataupun lainya.


Aku sampai bergetar ketika memandang wajahnya. Tatapan matanya seakan mampu menembus kedalam batinku. Seandainya ini masih manusia, tentulah sangat berwibawa dan di hormati.


" Maaf mbah, jika kehadiran saya menganggu ketenanganya. Saya hanya numpang berteduh. " kataku.


Sosok itu tidak menjawab, tapi seakan makin tajam tatapan matanya. Sulit menggambarkan tatapan matanya, ramah tidak, marah tidak mengerikan tidak tapi menggetarkan hati juga.


" Baik mbah, jika tidak berkenan saya akan pergi." kataku lagi.


Aku mau melangkah pergi meski masih hujan. tiba tiba Sosok itu berbicara..


" Tunggu..." serunya.


Aku kembali membalikkan badanku.


" Di dalam tubuhmu ada energi kuat, apakah keturunan dari Sidiq Ali...? " tanya sosok itu.


Sidiq Ali ?


Tahuku cuma mbah Ali.


" Sidiq Ali tu siapa mbah ? mbahku namanya memang Ali " tanyaku.


" Yg tadi kamu ziroh i ! " katanya.


" Owh iya mbah, mbah kenal ? Apa bisa saya ditemukan dengan mbah saya ? " tanyaku.


" Kamu pertemuan dua darah yg sama sama kuat. Sidiq Ali dan Sepupunya Jafar Sanjaya, garis dari bapakmu dan ibumu. Keberanianmu garis keturunan Jafar kecerdasan dari garis keturunan Sidiq. Sudah saatnya sudah saatnya.


Kamu akan bertemu jika saatnya nanti.


Saat ini keduanya sedang mempersiapkan sesuatu buatmu..." terang sosok itu.


Aku terdiam belum mengrti maksutnya.


" Kamu akan jadi pewaris bende Simo Ludro. Carilah di sumur batu gong..! " ucapnya.


Tiba tiba sosok itu lenyap.


Aku bergegas melangkah pulang.


.............


Sesudah mandi dan ganti baju, aku kembali keruang tamu.


Duh lupa hp masih mode pesawat, bisa ngambek nih Fatimah.


Aku segera aktifkan data, dan begitu aktif. Fatimah 4x tlpun Pak Yadi dan wa dari Jendul, Tuti dan Lia..

__ADS_1


Sudah pasti ngurus istri dulu.


Maaf say...


barusan pulang dari makam, td di makam hujan deras


lupa aktifin data.


eemmhuuuuah


Kemudian balas tuti dan Lia, yg menanyakan kapan sidang dilaksanakan


kujawab sabar dulu, mungkin bentar lagi.


Sedangkan pak Yadi tadi ngajak ngobrol


Jendul laporan


" Rofiq dah mulai suruh orang cari Lia."


Waduh tambah beban pikiran lagi.


Lebih baik hub pak yadi, sapa tahu belum tidur.


" Maaf pak tadi hp off baru di makam baru saja pulang." chat ku kepak yadi.


Semua gak ada jawaban, mau ngapain nih malam ini. Kulihat waktu menunjukkan pukul 00.17 WIB.


Ah ternyata sendiri itu tidak enak, dikamar berbaring susah tidur. Beginikah yg dirasakan istriku jika aku tinggalkan kemarin. Tidak ada yg diajak bicara, apalagi dipeluk. Hanya bantal guling yg bisu dan beku menemaniku.


Pagi hari, setelah aktifitas rutin Sholat subuh dan mandi. Rutinitas lain adalah ngopi.


Jam 5.45 sudah siap kopi di mejah beserta rokok kretek filter. Ada yg kurang nih, biasanya kalo ada istri ada pendamping ngopi selain rokok.


Sampai kopi habis Amir belum juga datang. Mau masak sendiri baru agak malas. Keluar cari sarapan ah.


...........


Pagi pagi enaknya cari bubur ayam saja. Murah meriah cukup buat ganjal perut.


Kujalankan motorku mencari penjual bubur ayam.


Makan disini saja lah, kalo bawa pulang repot harus cuci piring sendiri.


" Bubur 1 mbak, makan disini saja." pintaku.


" Pakai sambal ? "tanya penjualnya.


" Ya " jawabku.


Saat makan masih aku sendiri yg diwarung itu, warung kaki lima.


Beberapa menit kemudian, sudah datang 5 pembeli lain yg datang tidak bersamaan.


Sambil menikmati bubur, melihat lalu lalang kendaraan yg mulai ramai. "Jam masuk kantor dan sekolah, batinku.


Berarti hampir jam 7 nih. Harus buru buru pulang.


Saat hendak pulang, aku melihat rombongan kecil pemotor yg ugal ugalan.


" Sepertinya anak buah rofiq..." batinku.


Aku berbisik pada diri sendiri.


Pasti mau ke dusunku, mau bikin ulah.


Atau mau cari info tentang keberadaan Lia ?


Wah gawat, aku harus hub pak Yadi.


Ah.. Hp Dirumah lagi, sejak bangun gak pegang hp. Kebiasaanku selalu begitu, org nya kemana hp nya dimana gak jelas


Buru buru aku pulang, sambil mengikuti rombongan yg mencurigakan tsb.


Kuikuti dari jarak aman, untung pakai helm dan slayer menutupi wajah. Jd mereka tidak akan mengenalku.


Kuamati mau kearah mana rombongan itu. Kalo lurus kearah fila itu aku harus segera kontak pak yadi. Tapi ternyata belok kiri kearah kamungku, ah lbh tenang dr pada lurus ke arah fila itu.


Ah kalo cuma mo fitnah aku silahkan, artinya justru mereka masuk perangkap.


Begitu tahu mereka menuju dusunku, aku berhenti untuk isi bensin di warung bensin eceran. Yang tepat didepan jln utama masuk dusunku jika dari arah jln kaliurang.


" Bensin 2 liter bu...! " pintaku.


Tanpa menjawab, ibu penjual bensin itu menuang bensin ke tangki motor ku.


" Sama rokok Gg nya bu sebungkus, ini uangnya " kataku.


Masih tanpa menjawab, menyerahkan sebungkus rokok padaku besrta kembalianya.


" Gak biasanya ibu ini jutek, apa lg ada masalah keluarga kok juteknya sama pembeli." batinku.


Kulihat di balik etalase suaminya juga roman mukanya masam, mukanya ditekuk macam dompet kosong.


" Makanya pak e, jadi orang tu yg lumrah saja. Kalo sudah terbiasa hidup di jalanan susah baliknya. Meski nyantri juga, sampai istri saja pilih pulang kampung. Anakmu pak dibilangi jangan sampai gitu. Amit amit jabang bayi..." sindir ibu itu.


Owh jadi ibu itu jutek dan suaminya juga cemberut lihat aku. Karena sudah dengar gosip itu....


Luar biasa cepat berita itu menyebar, saking hebatnya yg menybarkan atau saking gak ada nya kegiatan lain selain ngegosip bagi orang orang tertentu ya.


Ah biarin lah pura pura gak denger aja.


Mending segera pulang.


Sampai dirumah aku berpikir, sudah sejauh manakah gosip itu tersebar. Nyaris belum genap 24 Jam saja sudah bertambah point.


Istriku pulang kampung karena gak betah, besuk tambah apa lagi nih...Pikirku.


Belum juga semenit dari waktu aku berpikir. Kudengar suara.


" Mir... Amir.... Tiap hari nyiramin tanaman, jualan tanaman kok gak pernah lihat orang datang beli....? "


Owh Amir lagi nyirami tanaman.


Kuintip dari dalam siapa itu ?.


Owh ternyata rombongan ibu ibu gosip.


Aku dengerin dan Intip aja dari dalam rumah.


" Iya Mir, jangan jangan jualan tanaman cuma buat kedok. Diluar bisa aja ngrampok, Nyopet begal. Kamu ngerti gak dulunya gimana "


Bahkan Amir pun tak diberi kesempatan menjawab atau bicara.


" Hati hati mir... Tadi aja anakku wa, katanya boss kamu lg berduaan sama tukang bubur yg janda itu. Dan juga Istrinya sekarang minggat kan ? "


seru seorang ibu.

__ADS_1


Hadddewh.... Cape ngurusin biang gosip, mendingan kutinggal ke belakang siapkan sarana grafting durian dan anggur....


...bersambung...


__ADS_2