
🌷🌷🌷
Reader tercinta, mohon maaf jika masih banyak typo karena Auto teks ataupun murni salah ketik.
Semoga tetap bisa menghibur.
🌷🌷🌷
Selamat membaca
...........
Episode Lalu
kembali ke rumah Yasin
Yasin POV
“ibu, saya mohon doa restunya malam ini saya Sena dan beberapa teman Pak Yadi akan menyelidiki ke padepokan Joyo Maruto.
“Hati hatilah, ibu selalu mendoakan kamu. Pesan ibu hanya satu kamu jangan terpancing emosimu jangan menuruti amarahmu jalankan sesuai rencana saja. Jangan keluar dari rencana yang sudah di buat.” Ucap ibu mertuaku.
“Njih bu.” Jawabku singkat.
Episode ini
Aku juga berpamitan dengan Fatimah istriku tentunya, dan Fatimah pun mengijinkan aku dengan tenang. Gak seperti biasanya dulu, yang selalu khawatir dan banyak pertanyaan.
“Iya mas hati hati, ingat keselamatan harus dijaga, Sidiq dan Jafar masih membutuhkan kasih sayangmu.” Jawab Fatimah.
“Tentu saja, aku juga masih pingin melihat Jafar dan Sidiq tumbuh sampai dewasa, jangan terlalu khawatir.” JAwabku ke Fatimah.
Tak lama berselang pak Yadi pun sudah datang menjemput bersama dua personil kawan pak Yadi.
Satunya Ardian yang satunya lagi orang baru yang kata pak Yadi ahli strategi. Maka berangkatlah kami mencari markas Joyo Maruto barang kali masih ditempat yang dulu.
Aku juga membawa senjata batu pembuka dua dimensi dan penabuh gong sebagai persiapan jika dibutuhkan. Demikian juga pak Yadi dan dua kawannya membawa senjata pistol untuk berjaga jaga. Dan juga dengan perlengkapan rompi anti pelurunya.
Begitu mendekati lokasi markas Joyo Maruto yang dulu, yang harus ditempuh dengan jalan kaki. Kami memarkirkan mobil dinas pak Yadi didekat gerumbulan semak yang cukup tinggi, agar tidak terlihat jika ada yang melintas.
Kami berlima kemudian jalan mengendap mendekati markas yang dulu pernah kami bakar. Untuk melihat apakah mereka masih berada di situ. Tentu saja aku dan Sena terlebih dulu membuka mata batin kamu. Sementara Ardian juga mengerahkan kemampuan dia yang dapat melihat makhluk astral.
Ketika sampai di tempat pengintaian yang dulu, kami melihat masih ada sorot lampu dalam rumah bilik yang menjadi markas Joyo Maruto. Namun belum melihat ada aktifitas disitu, dan kami masih menunggu beberapa saat sambil mengamati lingkungan sekitar padepokan.
“Biar saya dan Sena berjalan memutar dulu pak, bapak dan lainya tunggu sebentar di sini.” Kataku pada pak Yadi.
Kemudian aku dan Sena berjalan untuk mengitari padepokan Joyo Maruto dengan rute yang berbeda. Sena berputar ke kiri dan aku berputar ke kanan direncanakan bertemu tepat dibelakang padepokan yang dulu dibakar Sena.
Saat hampir separo jalan aku berputar tiba tiba melihat ada sorot Lampu dari jarak yang lumayan jauh dari padepokan itu. dan sorot lampu berupa ‘oncor’ ( lampu dari bamboo bersumbukan kain dan bahan bakar minyak tanah.
Aku ingin berusaha mendekat, namun aku berpikir lebih baik menunggu Sena yang juga sedang menuju ke arahku. Jika tidak menemukan sesuatu pasti sebentar lagi Sena akan sampai disini, pikirku.
Ternyata benar, tak lama kemudian Sena datang.
“Aku melihat sebuah keanehan di dalam padepokan itu tadi.” Ucap Sena.
“Keanehan apa ?” tanyaku.
“Di bagian belakang rumah yang dulu aku bakar itu sekarang dijadikan teras, namun terlihat ada semacam bekas galian tanah yang baru. Tadi ada beberapa, bekas galian tanah baru yang kesemuanya sudah diratakan lagi, namun terasa tadi tanah itu masih terasa empuk seperti tanah yang baru beberapa hari habis di gali dan di uruk lagi.” Kata Sena.
Aku jadi agak merinding mendengarnya, rasa suudzonku muncul.
“Jangan jangan mereka sudah pernah melakukan ritual Agung dan itu adalah….?!?” Kata kataku terhenti ketika melihat sekelebat bayangan yang bergerak terkena sinar lampu oncor di kejauhan.
Kemudian diikuti kelebatan bayangan yang lainya menuju ke areal tempat oncor oncor itu dinyalakan. “Sena, berani tidak kita mendekat ke tempat yang di terangi oncor tersebut. Siapa mereka yang menuju ke tempat itu.” Tanyaku kepada Sena.
“Sebaiknya jangan semuanya mas, harus ada yang jaga tempat ini satu orang. Ajak Ardian dan Pak Yadi saja. Teman pak Yadi yang satunya biarkan menunggu wilayah sekitar tempat ini.” Jawab Sena.
“Iya, boleh kalo begitu aku atau kamu yang memberi tahu pak Yadi ?” Tanyaku pada Sena.
“Aku saja mas, tunggu saja dulu sebentar.” Ucap Sena sambil jalan menuju ketempat pak Yadi yang dipakai mengintai tadi.
Pandanganku focus ke sebidang tanah yang diterangi oncor itu.
Dari jarak agak jauh terlihat dua bayangan yang salin bertempur, namun tak terlihat jelas siapa mereka. Apakah mungkin mereka sedang bertempur dan berniat saling menjatuhkan atau sekedar melakukan latihan olah kanuragan, batinku.
Cukup lama aku memperhatikan dua bayangan itu dari arak yang agak jauh. Tiba tiba Sena datang bersama Ardian dan pak Yadi.
“Kita dekati saja lahan yang diterangi oncor itu biar kelihatan siapa mereka dan kenapa mereka saling bertempur.” Kataku.
Kemudian kami berjalan mengendap endap agar jangan sampai ketahuan. Dan setelah jarak kami cukup dekat,, aku kaget dan segera member isyarat agar semua berhenti.
“Jangan terlalu dekat keberadaan kita bisa diketahui nanti, ternyata mereka hanya berlatih. Itu Joyo maruto dan murid muridnya. Kita mundur lagi agar dengus nafas kita tidak terdeteksi oleh Joyo Maruto.” Bisikku ke mereka.
Dengan pelan sekali kami bergerak mundur, feelingku mengatakan jika joyo Maruto akan mampu mendeteksi keberadaan kami dari hembusan nafas kami.
“Atur nafas kalian jangan sampai hembusan nafas kita terdeteksi oleh Joyo Maruto.” Kataku membisikan agar mengatur nafas agar hembusan nafas menjadi halus.
Kemudian aku membaca doa doa khusus dari surah Yasin agar keberadaan kami tidak diketahu oleh Joyo Maruto, disamping usaha lahiriah juga kami lakukan. Tampak Ajar panggiring sedang berlatih tanding dengan sesorang bercaping yang wajahnya cukup mengerikan.
Keduanya saling pukul dari mulai tangan kosong hingga dengan Senjata tumpul sampai dengan senjata tajam. Dan suatu kesempatan pukulan Ajar Panggiring yang tak mampu ditangkis mengenai kepala lawan tandingnya hingga capingnya terpental.
Aku hampir saja berteriak kaget, melihat wajah orang yang menjadi lawan tanding Ajar Panggiring yang ternyata adalah Mento Rogo.
“Maaf kakang, saya tidak bermaksut mempermalukan kakang Mento rogo.” Ucap Ajar Panggiring.
“Tidak apa apa Adi, ini kan hanya kita saja yang tahu, sebaiknya kita lanjutkan dengan menguji ilmu pertahanan kita dengan saling menggunakan ajian terbaru kita.” Ucap mento Rogo.
“Baiklah kakang, aku siap menerima pukulan dari kakang lebih dahulu.” Jawab Ajar Panggiring.
Kemudian Mento rogo menyimpan goloknya dan mengambil balok kayu sebesar betis orang dewasa.
__ADS_1
“Kerahkan semua kekuatan aji mustikaning Babimu adi Ajar.” Ucap Mento Rogo.
Sesaat kemudian Ajar Panggiring komat kamit dan memundurkan kaki kananya kemudian kedua tanganya menapak ketanah sehingga Ajar panggiring seperti mau merangkak atau mau melompat. Sekejab kemudian Ajar Panggiring melompat dan menyerang Mento Rogo dengan menyeruduk layaknya Babi yang sedang menyeruduk musuh.
Bersamaan dengan itu, Mento Rogo juga komat kamit merapalkan ilmunya dengan merentangkan kedua tangannya kesamping. Kemudian menyilangkan di depan dadanya dengan tangan kananya tetap membawa balok kayu yang dia siapkan.
Ajar panggiring menyeruduk dada Mento Rogo yang hanya dilindungi kedua tangannya. Benturan keras terdengar jelas, Mento Rogo surut selangkah ke belakang dan Ajar Panggiring terpental beberapa langkah namun segera bangkit lagi.
“Ilmu Tameng wojomu luar biasa kakang, sekarang silahkan uji ilmu mustikaning Babi milikku.” Kata Ajar Panggiring.
Dalam sekejab Mento Rogo memukulkan balok kayu tersebut ke kepala Ajar panggiring.
Dan…..
Praaaaak….
Suara benturan balok kayu menghantam kepala Ajar panggiring.
Namun Ajar Panggiring tidak bergeming sedikitpun, bahkan balok kayu tersebut yang hancur sampai sampai serpihan dari kayu tersebut berhamburan.
“Membanggakan sekali Adi Ajian kamu, jelas kita akan mampu menghabisi si Yasin. Makanya jangan sampai gagal lagi besuk untuk memancing Yasin dibawa ke tempat tertentu dan kita hajar bersama disana.” Kata Mento Rogo.
Aku menggigit gerahamku samapi gemeretak mendengar percakapan itu, ternyata ini mara bahaya yang dimaksut. Dan memang aku akui jika perkembangan ilmu kanuragan mereka sangat mengalami perkembangan yang luar biasa.
Terakhir Adalah Mahesa Suro yang di suruh latih Tanding oleh Joyo Maruto.
“Soma, kali ini jangan gunakan santet kamu tap gunakan kanuragan yang kamu milik dan yang menjadi andalanmu selama ini.” kata Joyo Maruto.
Awal mereka berlatih dengan jurus jurus fisik semata baru kemudian masin masing menggunakan ilmu kesaktian mereka masing masing. Namun bagiku tidak terlalu menarik. Maka aku mengajak untuk kembali ke tempat pengintaian.
Dan ami pun balik kanan kembali ke tempat kami mengintai tadi.
Namun dalam perjalanan aku mengajak memeriksa tanah yang dilaporkan Sena Tadi.
Dan ternyata ada tiga titik yang tanahnya seperti baru saja digali dan di timbun rata lagi. Namun dari bentuk dan ukuranya aku makin curiga jika itu adalah tempat untuk mengubur jasad manusia yang dijadikan Tumbal oleh Joyo Maruto dalam proses ritual Agung.
“Seandainya cukup waktu ingin rasanya menggali tanah ini membuktikan apa yang ada didalam sana.” Kata pak Yadi.
“Jangan pak, mungkin mereka sebentar lagi akan segera kembali ke sini.” Kataku.
“iya pak, tidak hari ini, tapi nanti harus dibongkar tempat ini agar tahu apa isi di dalam tanah yang digali tersebut.” Jawab Pak Yadi.
“Baik pak, kita pulang ulu saja untuk mempersiapkan rencana besuk bagaimana, jangan sampai mereka menyerang lebih dulu atau sampai menimbulkan korban lain lagi.” Kataku.
“Iya pak kita pulang dulu sebelum mereka menyadri bahwa kita telah menyelidik tempat ini.” jawab pak yadi.
Kemudian aku mengambil potongan daun kelapa, aku gunakan untuk menghapus jejak kami di tanah yang bekas digali itu agar tidak meninggalkan jejak yang mencurigakan.
Setelah itu kami pun segera meninggalkan tempat itu, dalam perjalanan aku berpikir bagaimana membuat sebuah tipuan agar bisa mementahkan rencana mereka agar tidak terjebak dan harus mengikuti permainan mereka tanpa adanya perlawanan, pikirku.
Sesampai di rumahku pak Yadi langsung pamit pulang karena memang sudah cukup pengamatan dan pengintaian.” Kata pak Yadi.
Kemudian aku dan Sena masuk rumah, Fatimah sudah menunggu dan mengatakan jika dari tadi Jafar anakku rewel terus.
“Gak mas, badanya gak panas tapi sepeninggalmu tadi Jafar nangis terus. Ibu juga sudah capai bujukin Jafar dari tadi.” Kata Fatimah.
Kemudian Jafar Aku gendong dan aku nacakan Al-Fatihah,, ayat kursy dan sholawat kemudian aku usap dan ktiup ubun ubunya, barulah Jafar mau diem dan kembali bobok setelah di susui ibunya.
Kenapa Jafar jadi rewel ketika aku pergi, padahal disana aku aman aman saja, pikirku.
Apakah ada makhluk astral yang mengganggunya, kataku dalam hati.
“Kenapa mas ?” Tanya Sena.
“Aku heran saja kenapa Jafar anakku rewel padahal kita tadi disana aman aman saja kan ?” tanyaku pada Sena.
“Iya sih mas, atau mungkin ada hubunganya dengan galian tanah yang diurug dan diratakan lagi itu mas ?” Tanya Sena padaku.
“Maksutnya ?” tanyaku.
Mungkin jika galia itu adalah beneran makam orang mungkin Jafar merasakan aura negative yang membuat dia rewel. Atau Karena merasa Ayahnya dalam bahaya, karena ikatan batin dan kepekaan bayi itu kuat mas.” Jawab Sena.
“Bisa jadi sih…!?” aku terdiam sesaat sebelum kembali melanjutkan obrolan.
“Besuk kalo Farhan sudah gabung maka itu biar ditangani Farhan saja mas. Besuk kita focus kepada hal lainya.” Kata Sena.
“Kok kang Salim sampai sekarang belum kasih info apa apa ya ?” bisikku namun terdengar oleh Sena.
“Mungkin juga baru mencari jalan keluar yang terbaik mas, karena memang ini buka hal Yang mudah.” Ucap Sena.
“Yaudah, kita istirahat saja, aku mau istirahat diruang mujahadah saja.” Kataku pada Sena.
Kemudian kami berangkat istirahat agar besuk bisa fresh ketika harus beraktifitas.
*****
Author POV
Usai melakukan latih tanding semua dikumpulkan oleh Joyo Maruto dan diberi saran dan masukan oleh Joyo Maruto. Serta memberikan catatan catatan tentang kekurangan dan kelebihan dari masing masing muridnya.
Kemudian mengatur strategi untuk memancing Yasin agar mengejar Ajar panggiring dan masuk perangkap. Tanpa mereka ketahui jika Yasin sudah tahu rencana mereka, sehingga bisa lebih berhati hati.
“Besuk malam, kita mulai mencari mangsa untuk korban persembahan terakhir guna memancing Yasin agar turun tangan . Dan Ajar panggiring besuk bantu aku memanggil korban itu.” kata Joyo Maruto.
“Baik guru, siapa yang kira kira akan dijadikan korban agar Yasin mau keluar dan terpancing mau mengejar saya guru.” Tanya Ajar Panggiring.
“Laras,,,, orang yang sudah dikenal Yasin agar dia mau mengejar kamu sampai dapat, dan bisa masuk perangkap kita.” Ujar Joyo Maruto.
“Jadi tugas saya apa saja guru selain memancing Yasin besuk ?” tanya Ajar panggiring.
“Bantu aku memanggil Sukma Laras, kemudian setelah Laras aku kuasai Sukmanya kamu pancing dia. Agar meyakinkan dan memudahkan Yasin masuk perangkap, besuk Ajar Panggiring didampingi oleh Soma. Namun Soma tidak boleh ketahuan harus dari arak jauh dan mengamati saja. Biar Ajar Panggiring yang memancing Yasin agar mengejarnya.” Ucap Joyo Maruto.
__ADS_1
Terus tugas saya apa lagi Guru ?” Tanya Soma kepada Joyo Maruto.
“Pastikan Yasin mau mengejar Ajar Panggiring sampai masuk dalam perangkap kita. Jika keadaan darurat kamu baru boleh menampakkan dan membantu Ajar panggiring. Dan Ajar panggiring sebelum sampai ke tempat jangan terlalu serius dalam menghadapi Yasin. Setelah sampai tempatnya barulah kerahkan seluruh kemampuanmu.” Ucap Joyo Maruto.
Ajar Panggiring sudah Tanggap dengan maksut gurunya tersebut. Sehingga Ajar panggiring hanya mengiyakan perintah gurunya saja. Kemudian setelah selesai mereka baru kembali ke padepokan Joyo Maruto.
Mereka tidak menemukan kejanggalan karena bekas atau jejak kaki sudah dihapus oleh Yasin. Sehingga tidak menyadari jika Yasin dan kawan kawannya sudah mencurigai tanah yang dia gunakan untuk mengubur jasad korban ritual Tumbal Agung.
Begitulah rencana yang diatur oleh Joyo Maruto, agar memancing emosi Yasin dengan kembali akan memanggil jasad Laras yang sudah pernah hampir menjadi korban. Namun bisa diselamatkan Yasin, Sena dan pak Yadi.
Tentu saja dengan kembali Laras yang akan dijadikan korban akan membuat emosi Yasin memuncak. Dikarenakan Yasin merasa berhutang budi pada bapaknya yang sudah bersedia menjadi saksi yang akhirnya membuat pelaku pembunuhan sebenarnya tertangkap. Meskipun Yasin juga sudah berjasa menyelamatkan laras dari Joyo Maruto waktu itu.
Sebuah strategi yang super licik sebenarnya namun namanya juga budak Iblis maka segala cara akan ditempuh demi ambisinya.
*****
Yasin Pov
Kedatangan Farhan Family jauh Fatimah.
Setelah semalam melakukan penyelidikan Sena dan Aku kemudian membahas soal strategi musuh yang akan menjebak aku agar masuk perangkap. Yasin menceritakan kembali rencana Joyo Maruto semalam meskipun waktu itu Sena juga sempat mendengarnya.
“Strategi harus dilawan dengan strategi juga.” Ucapku.
“Terus rencana kamu apa mas ?” Tanya Sena.
“Karena mereka mau menjebakku, maka kita juga harus membuat jebakan juga.” Kataku Pada Sena.
“Jebakan sperti apa mas ?” Tanya Sena.
“Ajar panggiring akan dijadikan umpan untuk memancingku mengejarnya. Maka kamu harus ikut andil, saat aku pura pura mengejar Ajar panggiring, kamu sudah menghadang Ajar panggiring sebelum mendekati tempat yang akan mereka jadikan jebakan buatku.” Kataku pada Sena.
“Kita kan belum tahu mas, bagaimana Ajr Panggiring akan memancing mas Yasin dan dimana mereka akan menjebak mas Yasin ?” kata Sena.
“Ya memang belum tahu, tapi yang jelas untuk menjebakku pasti satu tempat yang dekat dengan markasnya. Jadi dimanapun nanti mereka membuat ulah, kamu harus segera mencegat Ajar panggiring untuk bisa samapi kea rah markas mereka. Agar Ajar panggiring jai kebingungan mau lari kemana. Sehingga kita bisa menangkapnya.” Ucapkuu paa Sena.
“Assalaamu’alaikum….!” Sapa seseorang.
“Wa’alaikummussalaam…!” ucapku dengan Sena bersamaan.
“Alhamdulillah mas Farhan sudah sampai, gak bingung nyari alamatnya kan mas ?” Tanya Sena.
“Tidak, Khotimah sudah kasih lokasinya jadi gampang nyarinya sekarang.” Jawab Farhan.
“Aah masih ingat gak Farhan, kita pernah bertemu di mushola dan berkenalan waktu itu ?” kataku pada Farhan.
“Ya jelas masih lah, dan sekarang aku sudah memenuhi permintaanmu untuk menjengukmu disini. Jadi suatu saat kamu juga harus kerumahku juga kalo berkunjung ke mertua kamu !” jawab Farhan.
“Insya Allah Farhan, kalo tahu dari sebelumnya mungkin aku juga sudah berkunjung kerumah kamu, btw kamu dah keluarga belum sih ?” tanyaku pada Farhan.
“Belum dulu hampoir tapi gagal” jawab Farhan.
“Kenapa kok gagal ?” tanyaku lanjut
“Mungkin bukan jodoh saja.” Jawab farhan kalem.
Sesaat kemudian terdengar Jafar menangis kemudian dibawa keluar oleh Fatimah istriku.
“Loh ini mbakyu Fatimah sudah melahirkan ? Kok gak kasih kabar sekalian kemarin bude ?” kata Farhan.
“Mungkin lupa dik Farhan, karena ada urusan yang lebih penting yang harus disampaikan.” Jawab Fatimah.
“Owh iya, terus apa yang bisa Farhan klakukan mbakyu ?” Tanya Farhan.
“Tanya suamiku kalo itu, aku gak ngerti rencananya.” Jawab Fatimah.
“Owh gitu, itu putranya habis rewel ya ?” Tanya Farhan.
“Iya semalam lama banget nagisnya, sekarang masih rewel lagi padahal semalam sempat tenang.” Ucap Fatimah.
“Itu kena sawan orang meninggal mbakyu kayaknya coba Farhan gendong dulu sini.” Ucap Farhan.
Kemudian Fatimah menyerahkan Jafar kepada Farhan.
Aneh begitu di pegang Farhan Jafar malah tersenyum gak rewel lagi.
“Anak ini kuat kok, gak papa sudah ditempa keadaan dari semenjak dalam kandungan. Hanya saja bapaknya semalam habis nginjak injak tanah makam gak cuci kaki dan tangan dulu pasti ?” ucap Sena.
“Nginjak Tanah kuburan ?” tanyaku heran….???
...bersambung...
Terimakasih atas dukungan dari Readers semuanya.
Komentar readers semangat Author
Author akan berusaha terus memperbaiki, bahasa retorika dan lainya.
Semoga dapat menghibur Readers semua.
...Jangan lupa dukungan berupa :...
...Like...
...Komen...
...&...
...Vote nya...
...Terimakasih...
__ADS_1
...🙏🙏🙏...