
🌷🌷🌷
Reader tercinta, mohon maaf jika masih banyak typo karena Auto teks ataupun murni salah ketik.
Semoga tetap bisa menghibur.
🌷🌷🌷
Selamat membaca
...........
Episode lalu
Kemudian aku memerintahkan Farhan dan Zulfan untuk melindungi pak Yadi. Sementara Sena kuajak melawan makhluk itu dan menggiring dia ketempat kami bertempur dengan murid murid Joyo maruto kemarin.
“GHhhrrrrrrrrrrrrr….. uwwaaaa….. kalian manusia sudah merusak tempat ritual kami…!” ucap makhluk itu.
“Kamu makhluk jahanam, sudah membuat manusia sesat dengan bersekutu dan memujamu hingga lupa dengan yang Maha Kuasa.” Ucapku.
“Buka urrusaanmu….!” Kata makhluk itu yang tiba tiba menyerang aku dan Sena dengan semburan api dari mulutnya. “ hah gumbolo geni lagi.” Pikirku.
“Sena, bergabunglah kemari kita lawan aji Gumbolo geni itu bersama, aku tahu kelemahanya.” Ucapku pada Sena.
*****
Episode ini
Senapun melompat kearahku dengan satu lompatan saja dan bersiap menghadapi apa dari ajian Gumbolo Geni jin itu.
“Bacalah ayat ayat perlindungan seperti biasanya, kita lakukan bersama nanti aku lambari dengan doa ajian lembu sekilan.” Kataku pada Sena.
Sesaat kemudian jin itu sudah menyemburkan api dari mututnya, “dasar makhluk dari apa yang sombong, saatnya kamu harus dipenjarakan saat ini juga.” Batinku.
Api besar yang hampir menyambarku tertahan dengan lapisan cahaya putih yang mengelilingi kami. Meski udara menjadi cukup panas disekitarku. Dan kulihat Farhan dan Zulfan Pun semakin keras melantunkan doanya.
Namun hal itu justru membuat aku agak khawatir, jika saja jin ini kemudian mau menyerang Farhan dan Zulfan secara tiba tiba. Aku harus berpikir cepat agar segera menyelesaikan pertarungan ini, dan segera memenjarakan jin itu.
Aku meraba pinggangku dan mengambil penabuh Gong yang sudah aku siapkan sebelum berangkat tadi. Dan juga sebuah lawe ( Tali sumbu kompor ) untuk mengikat jin itu dan memenjarakan atau melarungnya nanti.
Dan kekhawatiranku hampir saja terjadi, Jin itu mungkin putus asa tidak mampu melukai aku dan Sena kemudian melompat kearah pak Yadi Farhan dan Zulfan.
Sebelum Jin itu mengeluarkan aji gumbolo Geninya aku segera melompat dan menyerang kepalanya dengan penabuh gong yang kualiri dengan segenap kekuatan dalam., dan….
Praaakk…
Suara kepala jin itu terkena penabuh gong yang aku bawa, hingga dia terkapar seperti menggigil kedinginan sambil memohon ampun untuk dibiarkan tetap lepas. Namun aku tidak mau tertipu dengan Jin yang sudah jelas sering menyesatkan manusia itu. Aku segera berdoa agar ukuran jin yang hampir dua kali ukuran manusia itu berubah menjadi kecil, bahkan lebih kecil dari boneka anak anak. Sehingga aku bisa langsung mengikatnya dengan lawe yang sudah aku persiapkan.
“Alhamdulillah tadi saat masuk kamar mau berpamitan ingat untuk membawa penabuh Gong dan Lawe untuk berjaga jaga.” Kataku.
Kemudian Farhan Zulfan dan pak Yadi menghampiriku dan Sena.
“Mau diapakan makhluk itu mas ?” Tanya Farhan.
“Kita larung saja, atau kita penjarakan tapi sayangnya yuyut yang bisa memenjarakan makhluk begini. Beliau yang punya botol ber rajah kunci untuk mengunci Jin agar tidak lepas.” Jawabku.
“Aku juga bisa mas, nanti dirumah kita syariati dan kita penjarakan lalu kita kembalikan kea lam dia.” Kata Farhan.
“Tunggu,,, kalo mengembalikan kea lam dia berarti memasukkan dia ke dimensi dia kan ?” tanyaku pada Farhan.
“Betul mas, tapi tetap harus dalam posisi terkunci.” Jawab Farhan.
“Baiklah, kebetulan aku juga menyimpan batu pembuka dua dimensi dirumahku.” Jawabku pada Farhan.
“Monggo pak Yasin dan saudara untuk urusan itu saya serahkan panjenengan semua. Dan untuk masalah tempat ini bagaimana selanjutnya pak Yasin ? Apakah jadi akan dibangunkan Mushola atau semacamnya ?” Tanya Pak Yadi.
“Kalo itu tergantung pemerintah wilayah setempat sini pak, seandainya iya saya siap mendukung dan sanggup untuk membantu memakmurkan nanti jika di butuhkan. Hanya usul saya tempat ini memang harus diberi akses jalan agar ramai oleh manusia. Soal menghilangkan aura negative yang masih ada saya dan saudara saudara saya siap membantu. Dan nantinya tempat ini bisa digunakan untuk orang yang akan istirahat untuk sholat dan sebagainya. Yang penting terawat dan untuk kegiatan positif.” Jawabku pada pak Yadi.
Setelah selesai berembuk penanganan Jin dan rencana tempat itu kami akhirnya kembali melanjutkan pencarian tengkorak kepala Rahman. Dan akhirnya kami temukan di dalam padepokan Joyo Maruto dibawah sebuah guci besar. Kemudian kami segera pulang ke rumah dan Pak yadi memanggil kawanya untuk menjemput dan membawa kerangka Rahman untuk di autopsy juga.
 Sesampai dirumah, kami sudah di tunggu oleh seluruh keluarga. Tentu saja sebelum masuk kerumah kami cuci kaki dan tangan dulu. Bahkan kemudian mandi keramasa agar semua aura negative yang mungkin muncul hilang dengan mandi besar dan berwudhu.
Baru setelah itu kami melaksanakan sholat Isya, karena yang lain juga sudah melaksanakan. Kulihat jam sudah menunjukkan pukul delapan malam lebih sedikit. Kemudian setelah kami selesai sholat Isya kang Tohari mengajak untuk sekalian mujahadah, sekaaligus memanjatkan doa Sukur karena satu pekerjaan sudah terselesaikan.
Pasca mujahadah, aku menyerahkan Jin yang yang sudah terbelenggu tali lawe kepada kang Tohari.
“Rupanya ini yang menjadi perantara Joyo Maruto sesat dan menyesatkan orang.” Kata Kang Tohari.
Kemudian oleh kang Tohari Jin itu disimpan dalam sebuah pundi kecil yang juga bertuliskan rajah untuk mengunci. Dengan kalimah kalimah suci Al-Quran, sebagai sarana permohonan kepada Allah swt.
“Itu hanya salah satunya kang, sedang pimpinanya sampai saat ini juga belum muncul.” Kataku pada kang Tohari.
“Tidak papa, kita juga masih harus menyelesaikan tugas yang lain sebelum kita semua menghadapi Jin itu nanti.” Jawab kang Tohari.
“Iya kang, dan tadi juga sempat di bahas mengenai tempat yang menjadi markas mereka kemarin untuk digunakan sebagi tempat yang positif. Agar menghilangkan aura negative yang ada.” Ucap Sena.
Kang Tohari terdiam sejenak sebelum akhirnya memberikan komentar.
__ADS_1
“Itu bagus, tapi jangan buru buru karena masuk wilayah orang lain. Nanti takutnya malah timbul Fitnah, yang penting Jin yang ada disitu sudah kalian tangkap dan tidak akan menyesatkan orang lagi. Adapun yang tersisa disana hanyalah Jin Jin yang masih level rendahan saja. Paling bisanya menakuti orang dengan menyerupai pocong, genderuwo dan lainya itu saja.” Jawab Kang Tohari.
“Aku ikut apa kata kang Tohari saja, karena aku hanya ingin melihat tempat itu tidak menjadi tempat orang memuja jin. Karena semakin dia di puja, semakin banyak sesaji yang dia minta maka akan semakin kuat dia. Dan akan dianggap bisa member manfaat dan madharat bagi manusia yang lemah imannya.” Kataku.
“Tapi di antara kalian tidak ada yang terluka kan nak ?” Tanya ibu mertuaku sambil menidurkan Jafar anakku. Sementara Sidiq malah sudah tertidur diruang mujahadah itu. dengan berbantalkan kaki Fatimah. Aku tersenyum bahagia melihat hubungan Sidiq dengan Jafar dan Fatimah. Seperti tak ada perbedaan anak tiri dan anak kandung. Ibu tiri dan ibu kandung, sungguh membahagiakan.
“Eeh Alhamdulillah ibu, berkat doa dan Restu ibu kami semua selamat.” Jawabku agak tergagap karena terpana pandangan di hadapanku Sidiq yang begitu damai tidur berbantalkan kaki Fatimah.
“Kenapa kok gugup, ngelamunin sesuatu ?” Tanya Lanjut ibu mertuaku.
“Gak kok bu, itu Sidiq tidurnya berbantal kaki Fatimah, takut Fatimah pegel biar saya pindah ke kamar dulu saja.” Jawabku.
“Gak kok mas, biarin saja tidurnya juga belum lama kok. Taku malah terbangun.” Jawab Fatimah.
“Yakin gak papa ?” tanyaku.
“Iya, nanti kalo Fatimah pegel baru di pindahin.” Jawab Fatimah.
“Kembali ke masalah penggalian korban, apakah sudah  ditemukan semua laporan kasus orang hilang terutama anak gadis perawan ?” Tanya kang Tohari kepadaku.
“Masih dalam pengumpulan berkas, karena kasusnya sebagian sudah beberapa tahun yang lalu. Kecuali tiga yang terakhir kemarin. Dan kemarin baru di identifikasi apakah tiga mayat yang ditemukan itu benar sesuai dengan kasus orang hilang beberapa waktu lalu.” Jawabku.
“Jadi belum ada hasilnya ?” Tanya kang Tohari lanjut.
“Mungkin juga sudah, tapi karena tadi seharian kami dan pak Yadi di lokasi penggalian maka belum tahu hasilnya. Mungkin besuk pak Yadi juga kasih kabar.
“Kalian istirahatlah, kelihatanya kalian cukup lelah. Aku besuk juga ijin mau pulang, tapi sewaktu waktu akau juga akan kembali datang kesini, dan kalian juga jangan luapa untuk sering ziarah ke makam kakek Munasir dan Kakek jafar, sekaligus main kerumahku juga.” Kata Kang Tohari.
“Iya kang, aku juga sudah lama gak main kerumah kakang.” Jawab Nurul.
“Baiklah kang, nati kalo sudah memungkinkan bagi kami aku akan ajak Fatimah dan anakku untuk sowan ke rumah kakang lagi. Aku masih ingat kok rumah kakang.” Jawabku.
Setelah selesai berbincang bincang diruang mujahadah kami semua berangkat untuk istirahat. Agar esuk segar dan bisa melepas kang Tohari yang akan pulang ke rumahnya.
Saat aku hendak berbaring diruang mujahadah, karena aku merasa nyaman tidur disitu jika tidak sedang dibutuhkan dan membutuhkan istriku Fatimah. Namun belum sempat memejamkan mata, tiba tiba Fatimah memanggilku.
“Mas aku sama ibu mau bicara sebentar saja.” Pinta Fatimah.
Kemudian aku masuk ke kamarku yang saat ini dipakai Fatimah dan ibunya juga Jafar kadang juga Sidiq ikut disitu.
“Ada apa bu, panggil saya ?” tanyaku pada Ibu mertuaku.
“Begini, menurut Fatimah semalam kakangmu Tohari membicarakan soal Khotimah. Dan menurut Fatimah juga, sepertinya Khotimah saat inipun sudah melupakan Pacarnya yang dulu, dan sudah menerima Candra pakdenya Sidiq. Bagaimana kalo saat aqiqoh anakmu Jafar, sekalian kita nikahkan Khotimah dan Candra. Sekaligus ibunya Sidiq dengan Kakaknya Isti temen kalian itu ?” tanya Ibu mertuaku.
“Saya sih nderek ibu saja, bagaimana baiknya yang penting Khotimah dan semuanya sudah saling sepakat. Lebih cepat juga lebih baik.” jawabku.
“Gak masalah bu, saya malah senang tempat ini digunakan untuk menikah, malah jadi berkah nanti bu.” Jawabku.
“Yaudah kalo begitu, besuk ibu besuk telpon bapak agar mengurus surat numpang nikah disini. Jadi besuk saat Khotimah pulang sama suaminya sudah membawa Surat nikah dan tinggal mengumumkan di dusun. Dan kmu tugasnya menghubungi Candra, ajak dia kesini kalo perlu biar kita bicarakan secara matang.” Kata ibuk mertuaku.
“Baik bu, besuk saya hubungi Candra biar kesini sekalian mengajak Bapak nya dan Arum. Soal Isti dan kakaknya biar Fatimah yang menghubungi Isti bu.” Jawabku pada ibu mertuaku.
“Yaudah sana kalo kamu mau istirahat, ibu lihat kamu juga kelelahan.” Ucap ibu mertuaku.
“Njih bu, saya pamit dulu mau nemenin sidiq.” Kataku.
“Bu,, Fatimah mau bicara sebentar sama suami ya. Sekalian mau pijitin mas Yasin kasihan kurang istirahat kayaknya.” Kata Fatimah.
“Ya gak papa, kalo perlu Sidiq biar tidur disini saja sekalian.” Ucap ibu mertuaku.
“Gak usah bu, Fatimah Cuma bentar kok, nanti balik ke kamar ini lagi.” Jawab Fatimah.
Kemudian aku dan Fatimah masuk ke kamar dimana Sidiq tidur. Kemudian aku betulkan posisi tidurnya Sidiq. Kemudian aku duduk ditepi ranjang bersama Fatimah yang mulai memijit tengkuk leherku.
“Mas yakin jika Candra itu baik buat Khotimah kan ?” Tanya Fatimah kepadaku. Rupanya Fatimah sangat protek terhadap Fatimah sehingga ada keraguan atau kekhawatiran jika Khotimah sampai tidak bahagia dengan Candra.
“Insya Allah,,, meski gak berani memastikan karena itu mendahului sang Pencipta. Tapi menurut pengamatanku Candra itu baik dan cocok buat Khotimah.” Jawabku sambil menahan sakit karena pijatan Fatimah di bagian tertentu terasa nyeri.
“Dasarnya mas mengatakan mas Candra dengan Khotimah Cocok apa ?” Tanya Fatimah lanjut.
“Khotimah itu lembut meski dia sekarang mewarisi ilmu, tapi juga bisa tegas.  Sedangkan Candra itu menghormati wanita, bahkan Candra itu sebenarnya pemalu dengan cewek. Sehingga kalo kedua sifat mereka digabung dan saling mengisi akan bisa saling melengkapi.” Kataku.
“Dari mana mas tahu kalo mas Candra itu pemalu sama Cewek ?” Tanya Fatimah lagi.
“Dia sempat curhat ke aku saat mau menyatakan pinangan ke Khotimah, dan dia mengakui jika gak punya keberanian buat nembak cewek. Jadi waktu itu minta tolong aku dan bertanya bagaimana caranya.” Jawabku.
“Masak sih mas bisa secepat itu Candra berubah sikap dengan mas. Bukanya dulu sangat membenci kamu ?” komentar Fatimah.
“Ya seperti itulah hidup Fat,kita aja gak pernah nyangka kan kalo bakal jadi suami istri dan saling mencintai ?” jawabku pada Fatimah.
“Iya sih, yaudah lah kalo menurut ma situ baik buat Khotimah.” Kata Fatimah.
“Ya kita doakan saj agar mereka bahagia, seperti kita… ehhem…!” kataku menggoda Fatimah.
“Mang mas Yakin Fatimah bahagia ?” godanya.
“Yakin lah, masak kalo gak bahagia begitu perhatian sama aku. Mau mijitin mau nyiapin kopi tiap hari dan mau semuanya deh…!” candaku ke Fatimah.
__ADS_1
“Iya itukan sudah kewajiban Istri mas, bukan indikasi Bahagia atau tidak.” Jawab Fatimah.
“Bisa jadi indikasi juga dong, karena orang bahagia itu melakukan dengan ikhlash. Sedangkan kalo gak bahagia sekedar melakukan kewajiban pasti ada rasa berat melakukanya.” Jawabku.
“Aah kata siapa begitu, ngarang aja mas ini !” jawab Fatimah.
“Buktinya begitu kok..!” balasku ke Fatimah.
“Bukti apaan ?” Tanya Fatimah.
“Buktinya dulu dan sekarang kan berbeda.” Jawabku agak muter bikin Fatimah makin bingung saja.
“Maksutnya apa mas ?” desak Fatimah.
“Ya kamu dulu saat belum ada perasaan dengan sekarang setelah ada perasaan denganku kan beda. Dulu kamu hanya takut dosa tidak melayani suami tapi sekarang kan merasa butuh juga kan ?” godaku sambil tertawa.
“Iih mask ok bicaranya selalu mengarah kesitu kalo sama Fatimah, kan lagi masa Nifas juga….!” Jawab Fatimah sambil mencubit kecil lenganku.
“Auww sakit dong Fat, jangan nyubit napa sih ? kan aku juga bicara apa adanya saja dan masak mau bicara begitu sama orang lain ?” jawabku geli membuat Fatimah makin sewot.
“ Bodo aah, udah ya Fatimah udah cape dan ngantuk nih. Lagian mas nya ngomongnya menjurus kesitu tahu istri habis ngelahirin juga.” Kata Fatimah.
“Ya udah bobok aja, mau book sini atau balik kekamar lagi ?” tanyaku.
“Balik ke kamar saja lah, takut disini ma nanti nakal.” Jawab Fatimah sambil senyum genit,
“Ok deh, tapi kasih cium dulu dong kan gak papa kalo Cuma cium saja.” Godaku. Tapi aku gak nyangka ternyata Fatimah benar benar memberi ciuman dan kecupan bibir padaku.
“Udah ya, met bobo.” Ucap Fatimah sambil keluar kamar.
Akupun segera berbaring sambil memeluk Sidiq anakku, dan tak lama kemudian aku pun sudah terlelap dan terbang kea lam mimpi sampai saat kumandang adzan subuh baru terbangun.
*****
Dikantor Polisi
Pak Yadi POV
“Lapor ndan operasi kemarin berjalan lancar, semua korban sudah ditemukan dan kasus yang selama ini jadi misteri sudah terungkap laporan selesai.” Laporku pada komandan.
“Laporan di terima, lanjutkan untuk proses identifikasi korban !” kata komandan.
“Siap Laksanakan.” Jawabku.
Setelah melapor dengan komandan aku segera membuka semua berkas kasus orang hilang dari beberapa tahun terakhir, ternyata total laporan kasus orang hilang ada tujuh belas laporan yang kutemukan. Sementara total mayat dan kerangka yang ditemukan ada tiga belas.
“Berarti masih ada empat kasus yang masih jadi misteri dan belum terpecahkan. Dan dari tjuh belas laporan orang Hilang itu enam belas orang gadis remaja dan satu orang laki-laki yang berinisial R. dengan alamat lengkap dan nama orang tua kandung juga ada.” Kataku dalam hati.
Kemudian aku memulai membuka laporan kasus orang hilang itu dari initial R yang satu satunya korban laki laki. Dari laporan itu memang namanya adalah Rahman, dan ini adalah warga yang tinggalnya di kampong pak Yasin. Apakah mungkin pak Yasin tidak mengenalnya, aku kemudian melihat tahun laporan itu. Ternyata baru tiga tahun yang lalu, melihat usia korban ini sebaya pak Yasin,  harusnya pak Yasin kenal dengan yang namanya Rahman.
Dan Tiga tahun yang lalu, pak Yasin masih berada di pondok pesantren. Kalo kasus ini tidak tahu wajar, tapi apa juga tidak mengenali nama Rahman. Kalo Rahman Asli warga kampong itu harusnya pak Yasin kenal.
Kemudian aku membuka berkas berkas lain yang mungkin ada kaitanya dengan Rahman. Gadis sebaya Rahman dengan initial R juga, nama Retno. Warga kampong pak Yasin juga, aku jadi terbelalak karena dari sekian berkas laporan tersebut. Yang merupakan warga dusun dimana pak Yasin tinggal ada 4 orang sendiri, satu cowok tiga cewek. Sedangkan yang lain tersebar di beberapa dusun dan ada beberapa juga yang dari luar wilayah sektor.
Berarti aku harus memulai penyelidikan dari dusun pak Yasin sendiri, kataku dalam hati.
Dan Akupun segera minta ijin komandan untuk memulai penyidikan ke kampungnya pak Yasin. Sudah barang tentu tujuan pertama kaliku adalah rumah pak Yasin.
Dan setelah mendapat ijin dari komandan akupun segera menuju ke rumahnya pak Yasin. Untuk memulai penyelidikan mencari dan mencocokan identititas korban yang ditemukan dan mencocokan dengan hasil tes DNA nantinya dengan keluarga pelapor….!!!
...bersambung...
Terimakasih atas dukungan dari Readers semuanya.
Komentar readers semangat Author
Author akan berusaha terus memperbaiki, bahasa retorika dan lainya.
Semoga dapat menghibur Readers semua.
...Jangan lupa dukungan berupa :...
...Like...
...Komen...
...&...
...Vote nya...
...Terimakasih...
...🙏🙏🙏...
Â
Â
__ADS_1