
🌷🌷🌷
Readers Tercinta, mohon maaf jika masih banyak tipo karena Auto teks ataupun murni salah ketik.
Semoga tetap bisa menghibur.
🌷🌷🌷
Selamat membaca
...........
Bukanya kemarin mas Yasin sudah memberi peringatan bahkan katanya ancaman juga ke mereka ?” kata pak lurah.
“Itu kan saya pak, dari pihak pemerintah Desa harusnya yang menegur. Kalo hanya saya mereka hanya tidak akan mengganggu keluarga dan orang orang yang saya kenal. Tapi ke orang ain mereka akan mungkin tetap berbuat sama. Kalo saat ini mereka memang baru berpikir, tapi saat kejadian apa mereka berpikir pak. Kalo saya tidak bersikap tegas dan berani mungkin mereka akan berpikiran cukup dengan kata maaf jika nanti mereka berbuat hal yang sama lagi. Itupun kalo saya gak bilang sebagai bekas orang jalanan, kalo kalian menyenggol saya akan balas memukul. Mungkin mereka tidak akan jera pak.” Jawabku panjang lebar.
“Peringatan seperti apa mas, saya enggan dengan warga sana yang agak bar bar.” Kata pak Lurah.
“Kalo Pak Lurah Takut, apa perlu saya yang member peringatan dengan cara sendiri ?” tanyaku.
Pak Lurah tampak ragu ragu untuk menjawab, mungkin ingat ketika aku disidang tetua kampong dulu dan tahu bagaimana aku memgang prinsip.
“Eeh mungkin gak perlu lagi mas, saya rasa mereka sudah cukup jera dengan kejadian ini. jujur saja wktu menemui saya beberapa orang yang datang kerumah bersama pak Margono sudah tampak seperti ketakutan mas. Saya rasa itu sudah cukup menjadi peringatan bagi mereka.” Jawab pak Lurah.
Sebenarnya aku gak puas dengan jawaban pak Lurah yang seperti itu,tapi walau bagaimanapun aku harus menghormati beliau sebagai kepala Desa diwilayahku. Dan mungkin memang benar jika peristiwa kemarin memang cukup member peringatan dan pelajaran kepada Margono cs. Minimal sudah gak akan merasa sebagai orang atau kelompok yang paling ditakuti, tidak ada yang berani melawan mereka. Mungkin selama ini hanya belum pernah ada orang yang berani melawan, karena sudah takut dengan nama besarnya saja. Padahal kenyatanya nyali mereka sangat kecil, dan aku cukup hafal dari dulu sebenarnya.
Hanya saja dulu memang gak pernah ada yang berurusan langsung denganku, saat ada tetanggaku yang disakitipun waktu itu aku juga diam saja. Karena waktu itu aku juga dimusuhi orang sekampung, jadi memang aku biarin.
Dan dari situ mungkin mereka beranggapan bahwa orang di kampungku tidak ada yang berani melawan mereka. Sehingga mereka berbuat seenak mereka sendiri di kampungku.
“Saya ras sekedar peringtan Lisan tetep perlu pak, soalnya kalo tanpa peringatan takutnya mereka mengulang lagi nanti. Bukan saya mau membesar besarkan masalah tidak pak, tapi tolong hentikan kebrutalan mereka. Kalo memang diarasa perlu boleh pakai nama saya pak, jika mereka masih mengulangi lagi perbuatan mereka yang bar bar saya dan seluruh teman saya siap menghadapi mereka semua. Namun jika mereka mau berubah maka masalah Rendy juga tidak akan saya perpanjang. Cukup para pelaku menjenguk Rendy dan minta maaf pada Rendy. Semua harus datang termasuk yang sekedar ikut rombongan juga harus minta maaaf. Kalo ada satu orang pun yang tercecer maka saya anggap masalah belum selesai.” Tegasku padaa pak Lurah.
“Bik mas nanti saya sampaikan seperti itu, dan mudah mudahan mereka mau menerima sarat itu.” jawab Pak Lurah.
“Ya klo itu hrus pak,kalo gak mau menerima berarti mereka memilih lewat jalur hukum. Pilihanya Cuma itu saja gak ada negosiasi lagi pak.” Jawabku menegaskan.
“Yaudah saya mau menyampaikan pesan ini sekarang juga, biar mereka bisa mengadakan rapat terbatas untuk mengambil sikap.” Kata Pak Lurah.
“Owh iya silahkan pak, satu hal lagi saat mereka ke tempat Rendy untuk minta maaf harus sepengetahuan saya. Karena saya pingin lihat langsung mereka minta maaf.” Tambahku pada pak Lurah.
“Baik nanti saya sampaikan , saya permisi dulu ini mau langsung mau menmui mereka.” Kata Pak Lurah.
“Monggo pak, maaf ya pak kalo saya dinilai terlalu keras dalm ini. soalnya ini adalah prinsip pak.” Kataku.
“Iya mas, gak papa kok.” Kata pak Lurah sambil melangkah pergi.
Sepeniggal pak lurah, aku kembali duduk kumandang adzan Asar sudah lewat karena tadi pas Adzan Asar pas Pak Lurah ada Dirumah jadi aku belakangan melakukan Sholatnya. Sementara yang lain sudah pada Sholat Asar.
“Mas Asar dulu gih, udah pada sholat yang lainya.” Ucap Fatimah.
“Yan anti duku, lagi nanggung Bgopi dan ngerokok nih.” Jawabku.
“Dulukan Sholat dong Mas, masa kalah sama ngopi ?” protes Isti.
Kesempartan buat ngerjain Isti dan Fatimah nih, lumayan buat ngilangin stress gara gara kasus Margono yang gak bisa langsung aku balas sendiri.
“Lah Is, bukanya Sholat itu no dua ?” kataku memancing emosi Isti.
“Gak dong mas, sapa bilang Sholat no dua ?” protes Isti.
“Iih iya nih mas Yasin asal saja ngomongnya.” Sambung Fatimah ikut sewot.
“Lah memang kenyataanya gitu kok, yang ngomong ya aku Is.” Jawabku santai.
“Mana Bisa begitu mas, sholat itu no Satu gak bisa ditawar lagi.” Ucap Isti sambil melotot. Kena lo aku kerjain, batinku.
__ADS_1
“Itulah salah kamu bilang Sholat itu no Satu.” Jawabku membuat Isti dan Fatimah makin Emosi bahkan marah beneran. Padahal aku bicara juga sambil senyum senyum saja.
“Hati hati mas kalo bicara, malah menyalahkan kami lagi.” Bentak Isti sambil melotot dan wajahnya tegang.
“Aku tu Cuma meluruskan saja. Kalo No satu itu Syahadat, baru no dua Sholat ketiga Puas kemudian Zakat dan Haji. Itu urutan Rukun Islam yang bener bukan Sholat baru Syahadat.”jawabku sambil melanglkah pergi takut diamuk dua wanita dihadapanku tadi.
“Huuuu dasaaaar….!!!” Gerutu Fatimah dan isti beriringan. Namun aku sudah menjauh dari mereka takut diamuk.
Segera aku melaksanakan Sholat Asar karena memang sudah cukup lama Adzan berkumandang dan yang lain sudah Sholat semua tinggal aku sendiri. Disamping menghindari kejaran dua wanita yang suka ngamuk tadi, pikirku.
Setelah Sholat asar, aku kembali ke ruang tamu. Ternyata benar dua wanita itu masih mengejarku tidak puas tadi aku kerjain.
“Mas ini ya, tiap hari bikin masalah melulu sama kita, dan sama semua orang. Tadi pak lurah diomelin gitu, habis itu nggerjain aku sama Isti sampai kami beneran kesel. Masih kurang puas dulu ngerjain seluruh santri wati pondok.” Seru Fatimah kepadaku.
“Owh masih ingat masalah itu toh, berarti kamu dulu ikut jadi korban juga ya Fat. Terus kalo temen kamu itu ikut jadi korban juga gak Fat ?” tanyaku menunjuk ke Isti.
“Jangan kurang ajar ya mas, isti marah beneran nih kalo kamu masih ngungkit masalah itu !” ucap Isti dengan mimic wajah serius.
“Loh siapa yang mengungkit masalah itu, kan Fatimah bukan aku.” Jawabku santai.
“Mas tu beneran kebangetan usilnya.” Jawab Fatimah.
“Itukan dulu, kenapa masih dibawa samapi sekarang sih.” Jawabku.
“Isti udah pernah bilang kan mas, gak semua orang terima dengan perlakuan usil kamu itu.” ucap Isti.
“Ya maaf, tapi itukan beneran kejadian masa lalu saat aku awal awal di pesantren jadi masih proses adaptasi kan.” Jawabku.
Meski begitu juga gak terus seenaknya juga kali mas.” Ucap Fatimah membela Isti.
“Ok kalo sama isti aku dulu udah minta maaf kan, sekarang aku juga minta maaf padamu Fat. Karena dulu bikib heboh dipesantren terutama para Santriwati.” Kataku pada Fatimah.
Fatimah pun tak mampu menahan tawanya karena teringat peristiwa masa lalu dimana hampir semua santriwati kena jebakan yang aku buat.
“Udah Fat, urus tuh suamimu Isti lagi sebel sama dia.” Ucap Isti sambil pergi meninggalkan kami.
“Eeh Fat, kamu dulu juga ikut jadi korban juga ya kata Isti.” Tanyaku pada Fatimah.
“Iih mas tu keterlaluan banget waktu itu, hampir semua termakan bualan mu termasuk aku dan Isti. Samapi waktu pada sadar semua pada mengutuk kamu waktu itu termasuk Fatimah dan Isti juga mas.” Kata Fatimah.
“Senenarnya aku Heran saja, kalian sudah lama ngaji masih saja bisa dikerjain santri yang baru saja masuk.” Kataku.
“Ya waktu itu orang tahunya mas tu deket sama kang Salim, jadi pada percaya ketika mas bilang santri wati kalo solat gak boleh memakai BRA. Eeh gak nyangka saat disidang mas jawabnya enteng banget. Kan gak boleh memakainya saat sholat, kalo sebelum sholat gak papa karena kalo pas sholat memakkai BRA batal. Ya iyalah mas, melakukan gerakan lebih dari tiga kali dalam satu rukun jelas batal. Kalo memakai BRA saat sholat berapa gerakan ?” jawab Fatimah.
“Nah itu tau, kenapa dulu gak berpikir begitu ?” kataku pada Fatimah.
“Ya gak kepikiran saja lah mas, tapi dasar mas ni mang kebangetan kalo bikin ulah selalu menghebohkan. Saat itu Fatimah benci banget sama kamu mas. Merasa dipermalukan seperti itu. dan kalo mas mau tahu, yang mengusulkan mas dihukum waktu itu adalah Fatimah dan Isti. Sampai saat itu Fatimah dan Isti mengkoordinir mau mengusulkan agar mas diusir dari pesantren saja.” Kata Fatimah Istriku.
Aku sampai gak kuat menahan tawaku ingat betapa dulu aku dikucilkan oleh semua santri putrid karena peristiwa itu. bahkan termasuk Fatimah yang sekarang menjadi istriku pun pada saat itu sangat membenci aku.
“Tapi kan asik Fat, bisa jadi hiburan santri laki laki waktu itu. sayangnya pas kejadian aku pas gak ikut jamaah jadi gak tahu peristiwanya. Tahu tahu malam harinya dipanggil dan sidang terus dihukum tiap malam disruh wirit di makam eyang guru. Jadi gak punya waktu lagi buat ngerjain kalian, dan ketika hukuman selesai udah gak minat ngerjain kalian lagi.” Kataku.
“Memangnya kenapa sih mas kok kamu dulu Usil banget begitu, padahal di dalam pesantren kok mas berani beraninya begitu ?” Tanya Fatimah.
“Jujur waktu itu aku gak betah tinggal di pesantren jadi memang sengaja bikin ribut biar diusir saja. Tapi aku gak ngerti tiap bikin masalah yang menurut orang lain aku bakal diusir tapi ternyata gak diusir. Meski tetap dihukum juga, tapi gak pernah sampai diusir. Bahkan ketika aku bilang kalo semua pakain dalam santri wati yang dijemur ada yang kasih Rheumason (Balsem panas) sampai katanya semua CD santri wati pada diciumi sebelum dilipat tapi gak ada yang bau rheumason. Aku dimaki habis habisan tapi juga gak diusir.” Kataku.
“Iya mas keterlaluan sekali lah, sampai semua yang jemur pakaian saat itu nyiuminn CD masing masing. Eeh gak tahunya Cuma dibohongi, karena kan bisa dibayangin kalo dipakai ada Rheumasonya pasti pada kepanasan. Mas tu kelewatan memang kalo ngerjain orang.” Jawab Fatimah.
“Sekarang kan sudah gak sayang. Udah jadi masa lalu kan itu semua ?” kataku.
“Apaan barusan tadi yang bilang Sholat no dua ? yang bikin Fatimah dan Isti sampai hampir marah beneran ?” sahut Fatimah.
“Klo itu kan Cuma ngetes kecerdasan kalian saja, ternyata kalian masih mudah dikibulin, wkakaka…!” jawabku.
“Jangan begitu lah mas, masak istri sendiri juga dikerjain begitu kan sebel aja tadi.” Ucap Fatimah.
__ADS_1
“Aah gak apa kali Fat, bir hidup gak jenuh perlu juga candaan candaan begitu.” Jawabku.
Aku jadi ingat saat dulu sering bikin heboh di pesantren, dan yang kau heran berkali kali aku kerjain tapi masih saja pada percaya saat aku bohongi waktu itu. termasuk Fatimah istriku ini. entahlah apa yang ada dibenak mereka waktu itu hingga begitu mudah aku bohongi berkali kali.
Aku dan Fatimah kemudian melanjutkan obrolan di ruang mujahadah sambil menunggu saat maghrib.
Semua sudah berkumpul disitu termasuk Isti Khotimah dan Rofiq.
“Mas tadi Isti sudah sampaikan ke Fanani jika besuk Winda dn ayahnya akan kesini untuk melanjutkan mediasi. Dn Fanani bilang gak usah melibatkan keluarga Fanani karena malah takut terjadi perang mulut saling menyalahkan. Karena Fanani beneran berharap bisa rujuk dengan Winda, dan Fanani siap mengikuti kemauan Winda. Bahkan ketika harus tinggal dirumah Winda.” Kata Isti.
Aku melliht ada seberkas guratan kekecewaan pada wajah Khotimah mendengar keterangan Isti. Mungkin Khotimah baru menyadari jika selama ini di hanya menjadi tempt pelarian saja. Fanani tidak benar benar mencintainya, itu signal yang aku tangkap pada pancaran wajah Khotimah yang mengeluarkan Signal kekecewaan dan dendam.
Aku berusha untuk meredam dan menglihkan pembicaraan.
“Iya nanti aku sampaikan ke istri Fanani, tapi yang lebih penting dri itu saat ini kita smua harus selalu berdzikir/ingat kepada allah agar tidak mudh terkena ilmu ‘Panggiring Sukma’ karena apa bila yang ada kena ilmu tersebut. Bisa dikendlikan orang untuk melakukan hal hal yang diinginkan oleh pengendali termasuk mencelaki keluarga sendiri. Dan penangkalnya adalah ingt kepada Allah agar tidak mudah dikenai ilmu tersebut.” Kataku pada semuanya.
“Bisa gak Zain kita cari saja orangnya kemudian kita hajar saja biar gak melakukan itu. aku udah gak sabar menunggu terlalu lama lagi.” Kata Rofiq protes.
“Gak semudah itu bang, bisa bisa kita yang masuk perangkap mereka nanti. Kita keluar malah mereka menyerang keluarga kita saat kita sama sama gak dirumah.” Jawabku pada Rofiq.
“Terus apa langkah kita selanjutnya ?” Tanya Rofiq lagi.
“Gak ada hal lain kecuali hanya selalu ingat pada Allah dan minta perlindungan kepada-Nya.” Jawabku.
Kumadang Adzan Maghrib terdengar dan kami semua segera bersiap melakukan Sholat Maghrib. Namun dikejutkan kedatangan Amir dan Rendy.
“Maaf lek, Rendy mengganggu sebentar. Lek ditunggu pihak dri kampong sebelah saat ini dirumah Rendy.” Kata Rendy masih sambil meringis menahan sakitnya.
Ini oran pada gak mikir ini waktu maghrib atau gimana sih, pada gaksopan amat malah Rendy yang sakit harus nyusul aku kesini udah gitu waktu maghrib lagi. Sponta emosiku langsung naik dan aku bilang ke Rendy.
“Telpon salah satu dari mereka suruh pulang dulu ini waktu maghrib saat nya orang melakukan Sholat suruh mereka balik lagi nanti, jangan sem\=naknya juga nyuruh nyuruh orang begitu. Kamu lagi sakit malah disuruh suruh kesini lagi. Bilang saja suru kerumah ini dan minta maafnya dirumah ini saja.” Kataku pada Rendy.
“Kalo mereka gakmau kesini gimana lek ?” Tanya Rendy bingung.
“Kalo mereka gak mau kesini maka aku saja yang akan nyameprin mereka satu persatu. Bialng saja begitu.” Kataku pada Rendy.
Inisih sudah keterlaluan malah berani nyuruh Rendy yang baru sakit, kayak raja aja bener bener harus dikasih pelajaran kalo begini Sih, kataku dlam hati.
“Udah mas gak usah diperpanjang kenapa ? urusan kita masih lebih banyak.” Ucap Fatimah.
‘Gak bisa begitu, mereka sudah sangat keterlaluan rendy yag masih sakit malah disuru suruh bukanya mita tolong anggota rombongan merka.” Jawabku pada Fatimah yang membuat semua jadi tertunduk
“Yaudah Zain kita sholat dulu habis itu kita samperin saja mereka, kayaknya memang harus kita yag turun tangan. Mungkin pikiran mereka beku jadi harus kita pukuli biar pikranya agak encer.” Kata Rofiq penuh emosi.
...bersambung...
Terimakasih atas dukungan dari Readers semuanya.
Komentar readers semangat Author
Author akan berusaha terus memperbaiki, bahasa retorika dan lainya.
Semoga dapat menghibur Readers semua.
...Jangan lupa dukungan berupa :...
...Like...
...Komen...
...&...
...Vote nya...
...Terimakasih...
__ADS_1
...🙏🙏🙏...