
🌷🌷🌷
Reader tercinta, mohon maaf jika masih banyak typo karena Auto teks ataupun murni salah ketik.
Semoga tetap bisa menghibur.
🌷🌷🌷
Selamat membaca
...........
Episode lalu
Aneh sekali rasanya badanku lebih segar dari biasanya, bahkan seperti tidak pernah mengalami berjuang hidup di tengah laut hingga kelelahan hampir putus asa. Dan merasakan langkah kaki yang berat seperti di bebani puluhan kilogram saat mencoba mengankat kaki untuk melangkah. Ini gak wajar, mimpi tadi gak wajar, pikirku.
“Cukup…!” teriak Yuyut.
“Kenapa yut ?” tanyaku.
“Itu memang jurus jurus Kakekmu Jafar Sanjaya…!” ucap Yuyut.
*****
Episode ini
“Benarkah yut ? apakah maksut Yuyut itu tadi bukan mimpi biasa ?” tanyaku pada Yuyut.
Kemudian Yuyut berdiam sejenak Nampak kesedihan di wajah Yuyut.
“Kenapa Yuyut murung Yut ?” Tanya Fatimah.
“Yuyut jadi teringat dengan Jafar Sanjaya dan Sidiq Ali. Keduanya sahabat Yuyut sayang semua sudah dipanggil yan Maha Kuasa. Tinggal Yuyut sendiri yang menunggu panggilan itu.” ucap Yuyut.
“Yuyut jangan bicara begitu Yuyut, Fatimah masih pingin Yuyut mendampingi Fatimah, melihat anak Fatimah nanti Yut.” Ucap Fatimah sambil menangis.
“Kamu pikir Yuyut sudah mau mati sekarang, maksut Yuyut hanya ingin ziaroh kemakam dua orang tersebut.” Ucap Yuyut.
Aku jadi menahan geli mendengar jawaban Yuyut, yang sempat membuat Fatimah salah Faham. Tapi akupun jadi ingat akan pesan kakekku dalam mimpi jika aku ingin bertemu kakek Sidiq Ali aku disuruh kemakamnya dan membaca amalan yang dulu kakek Sidiq Ali sukai.
“Owh iya Yut, saya mau Tanya amalan apa yang dulu disukai oleh Kakek Sidiq Ali ?” tanyaku pada Yuyut.
“Kenapa kamu bertanya begitu ?” Tanya balik Yuyut.
“Kakek Jafar bilang, jika aku ingin bertemu kakek Sidiq Ali disuruh ziaroh ke makamnya dan membaca amalan yg dulu selalu beliau baca tiap hari.” Jawabku pada Yuyut.
“Nanti kita bicarakan dirumah saja soal itu, sekarang kamu berdua Yasin sama Fatimah boleh jalan jalan sebentar sebelum kita pulang. Ba’da dhuhur kita nanti pulang. Kalian turunlah ke pantai yang banyak dikunjungi orang. Dan Yasin hari ini tidak boleh marah pada siapapun juga, karena apapun jug. Supaya kamu bisa faham dengan maksut kata ‘Suro Diro Joyo Ningrat Lebur Dening Pangastuti’ kalian akan mendapat pencerahan langsung dengan keadaan bukan sekedar ucapan.” Kata Yuyut.
Kemudian aku dan Fatimah berjalan berdua menuju area pantai yang biasa dukunjungi wisatawan.
Masih agak sepi karena memang masih cukup pagi, hanya satu dua orang yang sudah berwisata. Dan beberapa orang yang habis melaut tampak membawa hasil tangkapan ikanya dalam kapal kapal nelayan.
Aku dan Fatimah mencoba mendekati kapal nelayan yang membawa beberapa jenis tangkapan ikan, dari mulai lobster, Rajungan dan ikan lainya.
“Kamu mau fat, masak ikan laut kayak waktu dirumah kamu dulu itu ?” tanyaku pada Fatimah istriku.
“Mahal gak sih mas ?” Tanya Fatimah berbisik takut didengar nelayan yang baru pulang melaut.
“Tanya saja, kalo mau kita beli nanti kita masak dirumah.” Kataku.
“Mas Yasin pingin ikan apa, kalo Fatimah pingin Lobster tapi pasti mahal ya ?” Tanya Fatimah.
“Mboten kok bu, gak mahal gak sampai 100rb kok perkilonya.” Jawab nelayan itu.
“kalo 100rb ya mahal pak, jadi berapa perkilonya ?” Tanya Fatimah.
“Buat jenengan 50rb saja gak papa bu, hitung hitung saya kasih bonus buat calon puteranya.” Kata nelayan itu.
“Aah itusih harga wajar (saat itu ), tapi gak papalah biar nelayan itu puas gak perlu nawar.” Kataku dalam hati.
“Ya pak makasih, minta dua kilo saja pak.” Kataku.
Kemudian kupilih lobster yang besar besar, untuk ditimbang. Setelah selesai membeli ikan hasil tangkapan nelayan aku dan Fatimah melanjutkan jalan jalan mendekat ke tepian pantai.
“Katanya mau menyentuh air laut, ayuk aku temenin sekalian nanti pulangnya jadi aku gendong biar kamu puas keinginan kamu tercapai.” Kataku pada Fatimah.
“Gak jadi ah mas, takut mas gak kuat Fatimah kan berat badanya nambah 20kg lebih.” Kata Fatimah.
__ADS_1
“Gak masalah masih kuat aku gendong kamu dari sini sampai ke tempat Yuyut.” Kataku pada Fatimah.
“Gak ah gak jadi, takut diketawain Yuyut nanti.” Kata Fatimah tersipu malu.
Setelah Fatimah puas bermain air laut dia mengajak kembali ketempat Yuyut, untuk segera pulang kerumah.
“Masih pagi Fat, kan Yuyut ngajak pulangnya habis dhuhur nanti.” Jawabku.
“Gak papa lah, kita kumpul disana saja mas. Perasaan Fatimah gak enak, ingat yam as gak boleh marah pada siapapun hari ini.” kata Faatimah mengingatkan aku.
“Iya aku juga masih ingat kok.” Jawabku pada Fatimah.
Kami berjalan santai menuju ke tempat kami tadi berkumpul, sambil menjinjin kantong plastic berisi Lobster yang beberapa kali dipandangi Fatimah. Seperti anak anak yang baru mendapat mainan baru, sampai sampai dia meleng hingga menabrak seorang pengunjung hingga dia marah besar karena sungut lobster tersebut menggores kulit tanganya.
“Kalo jalan tu pakai mata jangan meleng, lihat nih tanganku sampai luka” bentak pemuda itu hingga terdengan kawan kawan rombonganya. Ternyata orang itu beserta rombongan beberapa pemuda yang dri penampilanya menunjukkan kalo mereka bukan anak baik baik. sayang aku hari ini dilarang marah oleh Yuyut, batinku.
“Mohon maaf mas, istri saya memang salah dia meleng gak lihat mas yang berjalan di depanya.” Katku mencoba bicara sesabar mungkin. Agar emosiku tidak naik, meski tadi kulihat pemuda itupun jua salah sama sama jalan gak lihat depan.
“Owh kamu suaminya, ajarin istri kamu tuh jangan jelalatan kalo jalan. Untung dia wanita baru hamil lagi. Coba kalo itu kamu sudah aku gebukin dari tadi.” Ancam pemuda sombong itu.
“Iya mas maaf, maafkan saya saya mengaku salah tidak memperingatkan istri saya tadi.” Jawabku pelan. Meski sebenarnya pingin menampar wajah anak itu.
“Yaudah cepat pergi aku udah muak lihat wajah wajah kalian yang dekil kayak gembel.” Ucap pemuda itu.
“Yaa Allah beikan hamba-Mu ini kesabaran.” Ucapku dalam hati.
“Iya mas, maaf saya permisi dulu.” Ucapku menghindari konflik.
“Tunggu….!” Ucap salah satu temanya.
Aku dan Fatimah pun menghentikan langkah kami.
“Ada apa lagi mas ?” tanyaku pelan sambil menahan gejolak amarahku.
“Apa yang dibawa istrimu itu, kenapa sampai bisa melukai kawanku ? jangan jangan bawa senjata tajam kalian mau merampok ya ?” ucap pemuda itu hampir saja memancing amarahku. Untung masih ingat pesan yuyut, tidak boleh marah hari ini pada siapapun dank arena apapun. Mungkin ini ujian kesabaran bagiku.
“Bukan mas, itu bukan senjata tajam hanya lobster kebetulan istriku pingin dan baru saja tadi beli dar nelayan.” Kataku.
“Coba lihat, jangan jangan kamu bohong !” kata orang itu.
Aku menyerahkan kantong plastic yang dibawa Fatimah dan kuserahkan pada pemuda pemuda itu. dengan harapan bisa segera lepas dari urusan gak penting ini dan segera bisa berkumpul dengan kedua mertua dan Yuyut.
Tapi kembali para pemuda itu melemparan kelaut lagi seakan menjadi bahan mainan mereka.
“Aku pinjam dulu buat ganti rugi karena melukai tanganku.” kata pemuda yang terluka tadi.
Aku dan Fatimah berniat pergi meninggalkan mereka, udahlah Cuma lobster ini bisa beli lagi nanti, pikirku.
“Kita pergi saja yuk, biarin mereka gak usah diladenin.” Bisiku pada Fatimah.
Kemudian kami melangkah pergi meninggalkan mereka. Namun tiba tiba salah satu dari mereka berteriak.
“Hei jangan kabur dulu, urusan kita belum selesai.” Teriaknya.
“Jangan di ladenin mas, percuma Cuma anak anak kecil.” Kata Fatimah.
“Iya kita lanjut saja.” Jawabku sambil berjalan dan menggandeng tangann Fatimah agar tidak ketinggalan.
Tiba tiba kulihat beberapa orang dari pemuda itu justru mengejarku, aku mempercepat jalanku.
Kemudian Fatimah aku suruh duluan jalan, agar tidak disentuh para pemuda itu, jika itu terjadi jelas kau gak bisa membiarkan mereka semua, pikirku.
Dan benar saja beberapa dari pemuda itu sudah hampir mendekati aku. Fatimah aku suruh jalan terus, dan aku sendiri berhenti.
“Ada apa lagi mas ?” tanyaku menghentikan langkah mereka. Sementara Fatimah terus berjalan, setengah berlari.
“Kalian gak bisa pergi begitu saja, kalian harus ganti rugi tangan kawanku yag terluka.” Kata salah seorang pemuda itu.
“oke berapa saya harus ganti rugi ?” tanyaku lebih mementingkan kondisi Fatimah yang lari dalam kondisi hamil besar dari pada uang, pikirku.
“Sebenarnya untuk gnti rugi harus bayar satu juta rupiah totalnya, namun karena aku lihat kamu penampilanya mirip gembel begitu aku yakin gak aka nada uang segitu. Udah gini aja, kamu ada uang 300rb kulepas kalo gak ada kamu dan istrimu harus menunggui kami bermain dipantai kalo kami cape biar kamu dan istrimu yang mijitn. Hitung hitug kami sewa tukang oijat dipantai.” Kata anak itu diikuti tawa yang lainnya.
Hampir saja aku kehilangan kesabaran mendengar ucapanya yang sangat menyinggung martabatku dan istriku. Tapi sudahlah, kan Cuma minta uang 300rb saja sudah beres, batinku.
‘OK saya oilih bayar 300rb saja, dan ijinkan kami pergi.” Kataku sudah dengan raut muka berbeda.
Kemudian aku meyerahkan sejumlah uang yang mereka minta, namun belum sempat uag itu diterima terdengar teriakan orang ber ramai ramai mendatangi aku dan para pemuda itu. siapa mereka apakh gerombolan pemuda pemuda ini pikirku.
__ADS_1
Setelah dekat barulah aku tahu jika mereka adalah para nelayan dan penduduk setempat. Yang kemudian meringkus para pemuda itu dan sebagian yang berusaha melawan langsung dihajar oleh warga dan nelayan itu.
“Sudah pak cukup pak, mereka masih anak anak, gak perlu dihajar sampai seperti ini.” kataku melihat beberapa orang dari pemuda itu sudah bonyok wajahnya. Kemudian orang yang tadi sempat terluka itu mengahmpiriku mohon mohon maaf padaku.
“Amppuun pak, saya ngaku salah tolong lepaskan kami pak, kami janji tidak akan megulangi lagi.” Kata pemuda tersebut.
“Kalian telah membuang lobster bapak ini, sekarang harus kalian cari atau kalian ganti dengan yang baru…!” ucp nelayan yang tadi kami beli ikanya.
“Sudah pak gak papa sudah dibuang ya sudah, nanti saya bisa beli lagi, kok.” Kataku.
Kemudian ku lihat Fatimah datang dipapah dua orang wanita muda.
“Fat,,, kamu keenapa kok harus dipapah begitu ?” tanyaku pada Fatimah.
“Gak kenapa kenapa kok mas, tadi Fatimah hanya terkilir saat lari. Untung ditolong mbak mbak nya ini.” jawab Fatimah.
“Hati hati dong harusnya tadi gak usah lari kan.” Kataku.
“Fatimah takut mas gak sabar terus main pukul sama anak anak itu kan kasihan mereka masih anak anak. Kenapa mas masih mukulin mereka mas, kan udah dijanji sama Yuyut hari ini gak boleh marah ?” ucap Fatimah salah sangka, dikira aku yng mukulin anak anak tersebut.
“Mas kan udah janji gak akan gunakan kekerasan kenapa masih mukulin anaka anak. Mereka bukan tandingan kamu mas, kasihan mereka lah.” Ucapan lanjut Fatimah seakan gak memeberi kesempatan padaku untuk menjelaskan
“Tunggu Fat, bukan aku yang mukulin anak anak itu, tapi mereka tadi melawan saat hendak diringkus baoak bapak ini jadi terpaksa dilumpuhkan bapak bapak ini.” jawabku pada Fatimah.
“Betul buk, bapak ini gak ngapa ngapain tadi bahkan sempat mau dipalak mau menyerahkan sejumlah uang pada mereka untung kami cepat datang. Dan mereka ini memang seringnya bikin onar dipantai dan sekitar sini.” Kata salah satu nelayan yang mewakili rombongan warga.
“Owh begitu ya pak, maaf soalnya suami saya ini orangnya sangat temperamental biasanya. Makanya saya sangat khawatir pak.” Ucap Fatimah.
“sekarang begini saja, kalian buang kemana ikan bapak ini tadi, ambil atau kalian ganti yang baru. Apa gak lihat ibu ini lagi hamil masih saja kalian mau aniaya.” Kata peimpin nelayan itu.
“Sudah gak papa pak, saya ikhlash,jujur saja saya baru saja menjalaankan ritual semalam dilautan untuk memberisihkan diri dan mendekatkan diri kepada Allah. Jadi saya gak ingin bermaslah hanya gara gara maslah sepele. Masalah yang lebih besar sedang kami hadapi jadi saya tidak mau mempersulit diri kami dengan masalah spele seperti ini. untuk itu saya mohon ijin pulang. Masalah anak anak ini dengan saya sudah saya maafkan, dan untuk urusan dengan warga saya serahkan ke bapak. Saya sudah ditunggu keluarga saya pak.” Kataku mohon pamit.
“Baiklah kalo begitu pak, silahkan bapak kembali ke keluarga bapak. Anak anak ini biar kami yang urus, papakah keluarga bapak memnuggu di pantai ini juga ? dan ibu masih belum bisa jalan normal pak apa perlu kami bantu ?” Tanya Pemimpin nellayan itu.
“Gak usah pak, saya masih sanggup membawa istri saya sendiri. Keluarga saya menunggu didekat pantai ini juga kok pak.” Jawabku.
Kemudian aku menggendong Fatimah kembali ke tempat Yuyut dan bapak ibu mertuaku menunggu.
Sesampai disana langsung disambut ibu mertuaku.
“Apa apaan sih Fat, kok malah minta gendong suamimu yang semalam barusan berjuang hidup dan mati ?” Tanya ibuk mertuaku.
“Fatimah terkilir bu, jadi terpaksa saya gendong pulangnya.” Jawabku.
“Owh kok bisa sampai terkilir kenapa, sini ibi benerin mana yang terkilir ?” kata ibu.
“Kaki yang kanan bu ?” jawab Fatimah.
Belum sempat ibu mertuaku mengurut kaki Fatimah yang terkilir dikejutkan dengan rombomgan pemuda yang tadi mengganggu kami.
“Itu orangnya ayo sebelum mereka pergi….!” Teriak salah satu rombongan itu….!!!
...bersambung...
Terimakasih atas dukungan dari Readers semuanya.
Komentar readers semangat Author
Author akan berusaha terus memperbaiki, bahasa retorika dan lainya.
Semoga dapat menghibur Readers semua.
...Jangan lupa dukungan berupa :...
...Like...
...Komen...
...&...
...Vote nya...
...Terimakasih...
__ADS_1
...🙏🙏🙏...