
🌷🌷🌷
Reader tercinta, mohon maaf jika masih banyak typo karena Auto teks ataupun murni salah ketik.
Semoga tetap bisa menghibur.
🌷🌷🌷
Selamat membaca
...........
Episode lalu
Kemudian aku membuka berkas berkas lain yang mungkin ada kaitanya dengan Rahman. Gadis sebaya Rahman dengan initial R juga, nama Retno. Warga kampung pak Yasin juga, aku jadi terbelalak karena dari sekian berkas laporan tersebut. Yang merupakan warga dusun dimana pak Yasin tinggal ada 4 orang sendiri, satu cowok tiga cewek. Sedangkan yang lain tersebar di beberapa dusun dan ada beberapa juga yang dari luar wilayah sektor.
Berarti aku harus memulai penyelidikan dari dusun pak Yasin sendiri, kataku dalam hati.
Dan Akupun segera minta ijin komandan untuk memulai penyidikan ke kampungnya pak Yasin. Sudah barang tentu tujuan pertama kaliku adalah rumah pak Yasin.
Dn setelah mendapat ijin dari komandan akupun segera menuju ke rumahnya pak Yasin. Untuk memulai penyelidikan mencari dan mencocokan identititas korban yang ditemukan dan mencocokan dengan hasil tes DNA nantinya dengan keluarga pelapor….!!!
*****
Episode ini
Yasin POV
Saat selesai makan pagi bersama aku bermaksut menghantar kang Tohari sampai ke jalan raya untuk pulang ke rumahnya. Karena sudah beberapa hari tinggal dirumahku. Namun baru saja aku membuka pintu pak Yadi sudah datang ke rumahku. Sehingga aku hanya bisa menghantar kang Tohari sampai dipekarangan rumah. Selanjutnya kang Tohari diantar oleh Sena dan Farhan. Sedangkan Zulfan menemaniku menemui pak Yadi.
“Maaf kang aku hanya bisa mengantar sampai disini, gak enak ada tamu yang juga bawa berita penting.” Kataku kepada pak Yadi.
“Iya gak papa, kamu hati hati ya jika ada sesuatu jangan sungkan hubungi aku. Entah kamu yang harus kesana atau aku yang akan kesini nanti.” Jawab kang Tohari.
“Iya kang, Insya Allah kalo memungkinkan biar aku yang kerumah kang Tohari dan mbakyu saja.” Ucapku.
Kemudian kang Tohari segera melangkah meninggalkan pekarangan rumahku. Aku dan Zulfan menemui pak Yadi.
Setelah kami duduk bersama diruang tamu aku membuka pembicaraan terlebih dahulu.
“Bagaimana pak Yadi, tampaknya ada yang begitu penting sehingga pagi pagi sudah sampai kesini ?” tanyaku ke pak Yadi.
“Betul sekali pak, dari hasil berkas laporan kasus orang hilang ternyata semua ada tujuh belas orang. Satu aki laki bernama Rahman dan enam belas lainya anak gadis usia antara 1 s/d 23 th. Dan empat dari tujuh belas itu ternyata adalah warga dusun ini, termasuk laki laki yang bernama Rahman itu. dan usianya juga sepantaran dengan bapak. Apakah bapak mengenal Rahman ini ?” Tanya pak Yadi yang to the point.
Aku terkejut menerima keterangan dari pak Yadi itu, kemudian mengingat Nama Rahman. Siapa itu Rahman, kayaknya aku belum pernah bertemu apa lagi mengenalnya, pikirku. Tapi kok katanya warga kampung ini juga ? padahal aku juga kelahiran sini. Dan besar disini juga, masak kalo orang sini aku gak kenal.
“Maaf pak, apa data yang ada sudah dipastikan jika korban terutama yang bernama Rahman itu orang sini ?” tanyaku kepada pak Yadi.
“Sudah pak, ini data laporan tertulisnya dari empat kasus orang hilang yang beralamat di kampong ini.” Kata pak Yadi sambil memperlihatkan berkas tersebut kepadaku.
Aku terbelalak membaca berkas tersebut
1. Laporan kehilangan anak gadis bernama Retno wulansari binti Suhadi. Umur 23 th Hilang tanggal xx bulan xx/ th xx. 3 th yang lalu.
2. Rahman bin Nursamsi umur 25 tahun hilang seminggu setelah Retno.
3. Sumarni binti tarsono umur 19th hilang 4 tahun sebelum Retno
4. Wiwin Dyah Asri binti Subekti umur 20 tahun hilang tujuh tahun yang lalu.
“Innalillahi wa inna ilaihi roji’un, kalo Rahman dan Retno saya tidak tahu pak, sungguh. Nanti saya coba panggil Amir barangkali dia tahu. Tapi kalo Sumarni saya kenal, tapi tidak tahu kalo dia hilang 4 tahun yang lalu. Dan Wiwin ini adalah teman sekolah saya di SMA dulu. Meski gak begitu akrab. Dan saya baru denger ini jika dia hilang tujuh tahun yang lalu.” Kataku sambil gemetar.
Bagaimana mungkin Wiwin teman sekolahku dulu hilang sampai aku tidak mengetahuinya. Meskipun hubungan kami gak begitu akrab tapi dia termasuk yang tidak terlalu membenci aku. Yang tidak mencibirku meski hampir semua orang di dusunku dulu mencemooh aku.
Mungkin juga salahku yang selama ini tidak begitu peduli kepada lingkungan atau bagaimana ? sampai tidak mengetahui banyak peristiwa besar yang terjadi dan aku tidak tahu sama sekali.
Tujuh tahun yang lalu saat itu aku memang sudah meninggalkan rumah, sudah hidup di jalanan tanpa arah tujuan. Hampir tak pernah pulang kerumah, seandainya pulang pun hanya sekejab dan pergi lagi. Dan akhirnya aku diusir warga beberapa tahun kemudian karena dianggap selalu bikin masalah.
Yaah wajar aku jadi ketinggalan banyak informasi penting. Karena aku kembali kerumah ini setelah beristrikan Fatimah. Dan saat awal aku yang minder bertemu warga sehingga jarang bergaul, baru beberapa bulan kemudian ikut bergaul tapi itu juga lebih banyak dengan anak anak remaja sebaya Amir.
“Tampaknya bapak gak tahu info tentang ini semua ya pak ?” Tanya pak Yadi.
“Maaf pak Yadi, baiknya kita telusuri info ini dari orang tuanya Wiwin ini pak, mari saya antar kesana sekarang juga. Sekaligus nanti kita tanyakan sipa itu Rahman disana.”kataku pada Pak Yadi.
“Baiklah pak, kalo tidak mengganggu waktu bapak.” Ucap pak Yadi.
“Tidak pak, justru sekalian saya mengunjungi orang tua Wiwin dan ikut berduka atas apa yang menimpa Wiwin.” Jawabku ke pak Yadi.
__ADS_1
Berangkatlah kami kerumah orang tua Wiwin yaitu bapak Subekti.
Sesampai disana bapaknya Wiwin tampak kaget melihat kedatanganku bersama pak Yadi yeng berseragam komplit.
“Assalaamu ‘alaikum pak, masih ingat sama saya pak ?” sapaku pada pak Subekti.
“Wa’alaikummussalam,,, ya masih lah kamu yang dulu selalu bikin onar di kampung ini. masak bapak lupa, ada apa kok tumben kesini bawa temen Polisi lagi ?” Tanya pak Subekti.
“Boleh saya bicara di dalam saja pak ? Ada hal penting yang harus saya dan pak Polisi ini bicarakan.” Tanyaku ke pak Subekti.
“Owh iya, boleh ayo masuk dulu.” Kata pak Subekti yang sudah kelihatan sepuhnya. Berbeda sekali dengan beberapa tahun yang lalu saat aku masih sekolah. Tubuhnya Atletis bahkan wiwin pun diajarkan pencak silat oleh beliau juga meski cewek.
“Duduk Ahmad sebentar aku panggil ibu dulu, biar ikut dengar.” Kata pak Subekti.
Kemudian aku dan pak Yadi duduk di kursi ruang tamu pak Subekti. Pak Subekti datang lagi dan membuka pembicaraan.
“Ada apa kok kayaknya penting banget, bapak gak nyangka kalo kamu bisa berubah begini Ahmad. Kalo lihat kamu dulu bapak saja pingin sekali menghajar kamu, kalo gak mengingat bapak kamu.” Ucap pak Subekti sambil bercanda. Aku jadi bingung mau memulai dari mana, kata kata yang sudah aku rencanakan pun tiba tiba hilang.
“ Owh iya pak, perkenalkan temen saya ini bernama pak Yadi beliau adalah seorang Polisi. Dan biar beliau saja yang menyampaikan sesuatu. Karena bukan kewenangan saya untuk Matur.” Kataku.
Pak Subekti Nampak mengerutkan dahinya penasaran dengan apa yang aku katakana.
“Lah silahkan sampaikan saja gak papa, mau kamu atau temen kamu gak masalah.” Ucap pak Subekti.
“Maaf pak sebelumnya, jika kehadiran kami yang tiba tiba ini mengejutkan bapak. Jadi kami kesini ingin memastikan, apakah bapak pernah kehilangan putrinya yang bernama Wiwin Dyah Asri ?” kata pak Yadi pada pak Subekti.
Pak Subekti kaget dan mendadak sedih dan berkaca kaca. Kemudian istrinya datang sambil membawa minuman dan mempersilahkan kami minum lebih dahulu.
“Silahkan di minum, Ahmad ayo diminum sukurlah ibu ikut senang kamu sekarang sudah jauh berubah. Tapi ibu dengar kamu baru dapat banyak masalah ya ?” Tanya ibunya Wiwin.
“Makasih bu, iya bud dan kedatangan kami kemari juga ada kaitannya dengan masalah yang saya hadapi kemarin juga sedikit mungkin menyangkut keluarga ini.” jawabku.
“Ada apa memangnya kok menyangkut keluargaku segala. Apakah ada masalah yang melibatkan kami ?” Tanya ibunya Wiwin panik.
“Bu,,, ibu duduk dulu biar ikut mendengarkan. Pak Polisi tadi itu menanyakan apakah benar kita punya anak yang bernama Wiwin Dyah Asri. Bapak belum jawab terus ibu datang, jadi pembicaraan terputus.” Kata pak Subekti.
Kemudian pak Yadi menceritakan asal muasal peristiwa sampai dengan penggalian makam korban di markas Joyo Maruto kemarin. Sampai dengan kembali membuka berkas kasus lama yang sempat menjadi misteri. Dan juga sampai dengan peristiwa ditemukanya tujuh belas kerangka dan mayat yang dikubur tidak selayaknya jasad manusia.
Namun begitu itu semua belium bisa dipastikan bahwa salah satunya adalah WIwin putrinya. Dan kedatangan ini hanya untuk meminta Sample rambut dari bapak ibunya Wiwin untu pengeceka DNAnya.
“Apakah bisa diartikan jika anak saya Wiwin sudah meninggal pak Polisi ?” Tanya bapaknya Wiwin yang cukup tegar. Sementara Ibunya hanya menangis tak mampu membendung air matanya.
Kami terlibat pembicaraan serius dan aku melihat kesedihan kedua orang tua Wiwin yang meski berusaha tegar. Namun peristiwa tujuh tahun yang lalu itu kini harus terusik, karena kedatangan kami. Dan aku juga berharap jika wiwin tidak termasuk salah satu korban dari tujuh belas kerangka yang ditemukan itu. semoga Wiwin termasuk yang empat orang lain dan dapat ditemukan dalam keadaan hidup. Meski sekecil apapun kemungkinan itu tapi kita sebagai manusia tidak boleh sampai putus asa.
“Maaf pak bu, bukan saya mau ikut campur urusan keluarga bapak ibu. Tapi saya ingin tahu kronologis hilangnya Wiwin, barang kali kami bisa membantu. Seandainya dan saya sangat berharap Wiwin buka termasuk yang ditemukan kerangkanya kemarin.” Kataku.
Bapak Subekti tampak ragu untuk menjawab, mereka sempat saling berpandangan seperti saling minta persetujuan. Dan akhirnya ibunya Wiwin yang angkat bicara.
“Begini Ahmad, dulu Wiwin itu kan kamu tahu sendiri meski dia cewek suka sekali berlatih bela diri dan belajar ilmu Kanuragan seperti itu.” kata ibunya Wiwin membuka cerita.
“Iya bu saya juga ingat, kalo Wiwin suka beladiri waktu jaman sekolah dulu.” Sahutku.
“Nah suatu ketika, dia minta ijin untuk ikut berguru kepada seseorang yang berilmu tinggi katanya. Tapi bapak sama ibu kan melarang, karena bukan hanya permainan jurus yang dipelajari tapi juga ilmu ilmu klenik yang gak jelas. Yang katanya ilmu itu ilmu langka, dan sangat dahsyat sehingga Wiwin terpikat oleh temennya itu.” kata ibunya Wiwin.
“Selanjutnya bu ?” tanyaku.
“Suatu sore, ada seorang lelaki yang datang kesini dan meminta Wiwin untuk diajari ilmu kanuragan dan sekaligus akan dijadikan istrinya. Dan kami jelas menolak sebab status orang itu juga sudah punya istri. Namun entah kenapa Wiwin waktu itu ngotot mau menjadi istri keduanya, dan setelah lelaki itu pergi. Malam harinya pun Wiwin ikut hilang pergi tanpa pesan.” Kata ibunya Wiwin sambil menangis.
Semoga saja Wiwin memang tidak termasuk yang tujuh belas itu. sehingga masih ada kemungkinan dia hidup, batinku.
Kemudian kami menanyakan tentang Rahman dan Retno itu siapa. Dan kami mendapat keterangan jika Rahman dan Retno itu keduanya adalah keluarga pendatang dan sebenarnya mereka akan menikah. Tapi sebulan sebelum pernikahan Retno menghilang, dan kurang lebih seminggu kemudian Rahman ikut menghilang.
Kemudian kedua keluarga itu akhirnya tidak betah tinggal di kampung ini kemudian kembali ke tanah kelahiran masing masing. Orang tua Retno kembali ke jawa tengah dan orang tua Rahman kembali ke jawa barat. Karena kedua keluarga tersebut hanya sewa rumah dikampung ini.
Orang tua Rahman pedagang pakaian dari bandung, dan orang tua Retno pedagang peralatan rumah tangga. Sempat haru juga ketika kedua calon besan yang gak jadi itu saling berpamitan. Namun karena kedua anaknya menghilang tanpa jejak mereka jadi ketakutan tinggal dikampung ini. menganggap kampung ini tidak aman.
Begitu keterangan yang kami dpat dari ibunya Wiwin. Selanjutnya kami menanyakan berita terkait hilangnya Sumarni.
“Kalo soal Sumarni kayaknya gak ada orang yang tahu sebabnya apa pergi. Sama seperti hilangnya Retno tapi Sarmini duluan. Dan itu juga yang membuat kedua orang tuanya Retno dan Rahman menganggap kampung ini semacam kena kutukan dan tidak aman.” Kata ibunya Wiwin.
Setelah mendapat cukup keterangan kami pun segera mohon pamit dan pulang kerumahku.
Aku dan pak yadi segera menuju kerumahku untuk melanjutkan sedikit pembicaraan meneruskan keterangan dari ibunya Wiwin.
“Berarti untuk data keluarga Rahman dan Retno harus nanya pak dukuh dulu ini pak. Bisa ikut kesana gak pak Yasin ?” Tanya pak Yadi.
“Waduh kalo ke pak dukuh pak Yadi sendiri saja ya pak ? Pak Yadi kan pasti tahu kalo pak Dukuh sama saya itu bagaimana, inget waktu saya disidang para Thomas dulu kan ? Takutnya malah terulang lagi seperti dulu pak, mohon maaf.” Kataku pada pak Yadi.
__ADS_1
“Owh iya saya sampai lupa kalo waktu itu hampir terjadi keributan. Saya dengar dari personil yang datang kesana.” Jawab Pak Yadi.
“Maka dari itu pak, mohon maaf jika kesana saya gak bisa mengantar. Kalo ke pak lurah sekalian malah gak papa saya antar.” Jawabku.
“Yaudah pak lain kali saja, jadi intinya ada kemungkinan ada lebih dari satu penyebab orang hilang itu pak. Semoga yang empat bukan menjadi tumbal dari Joyo Maruto. Tapi itu sama saja akan ada kasus baru lagi dong pak ?” kata pak Yadi sambil bercanda.
“Yaah bagaimana lagi pak, tapi saya berharap yang lain tidak berbau mistis sehingga tidak perlu melibatkan saya lagi apk.” Balasan candaku ke pak Yadi.
Dan akhirnya kami berdua tertawa bersama, sekedar menghilangkan kepenatan menghadapi masalah yang cukup rumit ini.
*****
Ditempat Joyo Maruto sembunyi
Author POV
Setelah meletakkan Maheso Suro dan Mentorogo Di Altar karena terluka setelah bertempur. Maka Joyo Maruto meminta ki Soma untuk membantunya membaca mantera mantera memanggil sesembahan Joyo Maruto. Dan keduanya pun segera merapalkan mantera mantera untuk memanggil jin yang dipujanya.
Setelah sekian waktu maka munculah asap tipis yang kemudian berubah ujud menjadi sebuah sosok yang wajahnya sungguh memuakkan. Muka bopeng dan rahang bawahnya lebih maju sedikit dari rahang atasnya. Dikuti oleh derai tawa dari jin itu yang semakin membuat muak yang mendengarkan.
“Ayyyyyyiii……aaayyyiiiiiii…….ayyyyyiiiiiii anak manusia, ada apa lagi kalian mengganggu istirahatku ? Ayyyyyyiii……aaayyyiiiiiii…….ayyyyyiiiiiii ” Tanya sosok itu.
“Ampun ki dalang…. Saya mohon bantuan agar kedua muridku itu bisa sembuh dan makin sakti juga kami berdua mohon tambahan ilmu kesaktian.’ Ucap Joyo Maruto.
“Ayyyyyyiii……aaayyyiiiiiii…….ayyyyyiiiiiii…. asalkan mau beristijrot dan bersumpah setia kepadaku maka aku akan kabulkan permintaanmu. Dan kalian akan aku beri ilmu yang tidak akan terkalahkan. Ayyyyyyiii……aaayyyiiiiiii…….ayyyyyiiiiiii….” Ucap sosok dalang Anyi Anyi itu.
“Baik ki dalang kami bersedia bersumpah…. Yang penting kami bisa membalas dendam kami…!” kata Ayyyyyyiii……aaayyyiiiiiii…….ayyyyyiiiiiii Joyo Maruto.
“Ayyyyyyiii……aaayyyiiiiiii…….ayyyyyiiiiiii……anak manusia kalo ada maunya memang begitu… aku gak maksa, kalo kamu gak bersedia kamu boleh pergi sekarang sebelum terlambat karena setelah sumpah diangkat jiwa ragamu adalah milikku, Ayyyyyyiii……aaayyyiiiiiii…….ayyyyyiiiiiii…!” kata Dalang Anyi anyi itu.
“saya sudah siap ki dalang apapun resikonya saya akan terima…!” ucap Joyo Maruto.
Kemudian Joyo Maruto dan ki Soma mengucap sumpah setia menjadi pengikut dalang Anyi anyi. Dan setelah mengucap sumpah keduanya ikut berbaring di altar bersama Maheso Suro dan Mento Rogo. Kemudian dalam waktu sekejab tubuh mereka disiram dengan cairan yang berbau hanyir dan kental kemudian di taburi kembang berbagai macam.
Setelah itu mereka berempat bangkit termasuk Maheso Suro dan Mento Rogo. Namun mereka semua berteriak bersamaan layaknya empat ekor serigala yang sedang meraung.
“AAuuuuuuunggggggggggg……!” teriak keempatnya.
“Aauuuungg ampun ki dalang mengapa kami semua jadi seperti in aaauuunggggi ?” Tanya Joyo Maruto
“Ayyyyyyiii……aaayyyiiiiiii…….ayyyyyiiiiiii…. bukankah sudah kubilang aku tidak memaksa, sekarang mau gak mau kalian harus terima dan itu adalah mahar kalian untuk bisa sakti tak tertandingi. Ayyyyyyiii……aaayyyiiiiiii…….ayyyyyiiiiiii…..!” ucap dalang Anyi anyi kemudian menghilang.
Kemudian keempat orang itupun berjalan layaknya seekor serigala dan bersuara juga seperti suara serigala. Meski masih bisa berkata seperti manusia juga.
Mereka melompat berlari dengan cepat laksana serigala yang sedang bermain. Dan menghancurkan apapun yang mereka terjang, termasuk pohon dan batu besarpun dapat mereka hancurkan. Bahkan mampu mengangkat batu besar dan saling melempar satu sama yang lain hingga batu batu disekitar tempat hancur berantakan, pohon besar tumbang.
Dalam sekejap tempat disekitar itu menjadi luluh lantak akibat ulah keempat orang manusia pemuja iblis tersebut.
“Ayo hancurkan musuh kita sekarang juga….!” Ucap Joyo maruto…..!!!
...bersambung...
Terimakasih atas dukungan dari Readers semuanya.
Komentar readers semangat Author
Author akan berusaha terus memperbaiki, bahasa retorika dan lainya.
Semoga dapat menghibur Readers semua.
...Jangan lupa dukungan berupa :...
...Like...
...Komen...
...&...
...Vote nya...
...Terimakasih...
...🙏🙏🙏...
__ADS_1