
🌷🌷🌷
Reader tercinta, mohon maaf jika masih banyak typo karena Auto teks ataupun murni salah ketik.
Semoga tetap bisa menghibur.
🌷🌷🌷
Selamat membaca
............
Fatimah jadi khawatir mas, bagaimana ini sebentar lagi kita kan melangsungkan pernikahan Khotimah dan mas Candra tapi kondisi masih demikian. Dan Isti juga mas Rofiq besuk sudah akan kesini katanya !” kata Fatimah.
Aku jadi ingat bahwa akan mengadakan aqiqah buat Jafar dan sekaligus menikahkan Khotimah dan Candra juga Arum dengan Rofiq…???
“Iya gak usah khawatir, tenang saja pernikahan itu sebuah ibadah juga. Dengan pernikahan berarti kita telah menghalalkan pasangan hidup bersama. Jadi pernikahan itu berkah.” Jawabku pada Fatimah istriku.
“iya tapi dalam kondisi bahaya seperti sekaran ini kan khawatir juga mas ?” jawab Fatimah.
“Apa yang dikhawatirkan dengan pernikahan ?” tanyaku pada Fatimah.
“Bukan pernikahannya mas, tapi kondisinya sekarang ini.” jawab Fatimah.
“Ingat Fat, maut bisa datang saja bahkan saat tidur sekalipun. Meski kita juga wajib menjaga keselamatan kita. Namun jangan lupakan qodho qodarnya Allah. Ketakutan berlebihan itu ( Was was ) datangnya dari Setan. Yang penting kita usaha menjaga keselamatan kita, selebihnya adalah kehendak Allah.” Jawabku pada Fatimah.
“Iya sih mas, tapi rasa takut itu kan manusiawi. Apa lagi kita punya bayi yang harus kita lindungi juga. Bagaimana jika sewaktu waktu musuh datang kemudian menyerang kita atau salah satu dari kita.” Tanya Fatimah lanjut.
“Dalam hal ini kita hanya bisa berusaha Fat, karena itu wajib. Namun menjamin atau memastikan kita selamat itu tidak mungkin. Dan yang pasti, bahaya itu bisa muncul kapan saja dan dimana saja.” Jawabku pada Fatimah.
“Fatimah juga ngerti kalo itu mas, yang Fatimah tanyakan bagaimana kita membuat perlindungan sebagai bentuk usaha kita. Kan gak boleh menyerahkan begitu saja kepada Allah tanpa usaha kita ?” Tanya lanjut Fatimah.
“Ya jelas lah kalo itu, apa yang kita lakukan selama ini baik lahiriyah maupun batiniyah itukan bentuk usaha kita.” Jawabku pada Fatimah.
“Fatimah masih khawatir saja kok, ya memang semua yang terjadi itu atas kehendak Allah Fatimah percaya.” Jawab Fatimah sambil bangkit membawa piring bekas makan ku ke dapur.
“Jafar mana Fat, aku kangen nih sama anak itu ?” tanyaku mengalihkan pembicaraan.
“Lagi sama Ibu dan Sidiq di kebun tadi.” Jawab Fatimah.
Akupun segera mencari kedua anakku tersebut, dan memang benar Sidiq sedang banyak bertanya dengan ibu mertuaku tentang banyak hal. Yang aku heran ibu mertuaku juga begitu telaten menghadapi Sidiq. Meski bukan cucu kandungnya sendiri.
Aku mengamati dari kejauhan dulu sebelum mendekati mereka, ingin mendengar percakapan anakku Sidiq dengan ibu mertuaku.
“Nenek kenapa Dedek Jafar belum boleh maem gorengan, kan dedek Jafar juga pingin maem kayak Sidiq nek ?” Tanya Sidiq pada ibu mertuaku.
“Dedek Jafar kan masih bayi, perutnya belum siap menerima makanan orang yang sudah besar. Kalo sudah sebesar Sidiq baru boleh maem gorengan.” Jawab ibi mertuaku.
“Tapi kalo dedek Jafar pingin terus nangis gimana nek, kan kasihan dedek Jafarnya ?” Tanya Sidiq.
Kemudian aku mendekati Sidiq.
“Sidiq, kok begitu sama nenek. Kan udah di bilangi kalo dedek jafar masih kecil belum bolem dikasih gorengan. Perut dedek Jafar belum bisa mencerna makanan yang sidiq makan. Nanti perut dedek Jafar sakit, Sidiq mau dedek Jafar sampai sakit ?” tanyaku pada Sidiq.
“Enggak dong Yah, Sidiq kan pinginya ngajak main dedek Jafar nanti. Gak mau dedek Jafar sakit.” Jawab Sidiq.
“Nah kalo begitu ikuti kata nenek ya ! Biar dedek Jafar gak Sakit.” Kataku pada Sidiq.
“ya yah, Sidiq cuman nanya kok tadi.” Jawab Sidiq.
“Pinter anak ayah, Sidiq udah lebih besar dari dedek Jafar jai harus bisa ikut menjaga Dedek Jafar ya !” kataku pada Sidiq.
“Iya yah.” Jawab Sidiq singkat. Kemudian ibu mertuaku ikut menyambung pembicaraan.
“Tugas kamu kholwat sudah selesai nak, besuk saat pernikahan semua bisa kumpul. Bahkan yuyut juga akan ikut kesini bersama bapakmu.” Kata Ibu mertuaku.
“Alhamdulillah berarti saya semakin mantap bu, kalo ada Yuyut. Dan katanya kang Salim pin akan ikut hadir meski mungkin agak telat kesininya.” Jawabku pada ibu mertuaku.
“Syukurlah kalo begitu, ibu juga merasa lega. Tampaknya tugas kamu juga akan semakin ringan dan akan semakin cepat selesai jika semua sudah berkumpul nanti.” Ucap ibu mertuaku.
“Alhamdulillah, doa ibu terkabul akhirnya semakin ada titik terang nanti bu.” Jawabku pada ibu mertuaku.
Kemudian aku melanjutkan obrolan seputar rencana menikahkan Khotimah dan Candra sekaligus Arum dan Rofiq. Wah bakalan ramai lagi nanti rumah ini, pikirku senang bakal ketemu sahabat sahabatku, termasuk nanti Isti Eis dan Samsudin juga mau datang saat pernikahan tersebut bersama kang Salim tentunya.
Apakah kang Salim akan datang membawa berita tentang cara menghadapi Jin laknat itu juga, atau sekedar mengunjungi pernikahan Khotimah juga Arum nanti, pikirku. Tapi gak papalah yang penting beliau bisa hadir nanti, batinku.
*****
Siang itu kulalui dengan damai, bahkan aku sempat mengajak Sidiq jalan jalan keliling dengan bersepeda motor. Kehidupan di sekitarku pada siang hari juga berjalan normal seperti tak ada kejadian apapun dan tidak sedang mengalami bahaya apapun.
Namun begitu tiba waktu maghrib keadaan berubah menjadi mencekam,anak anak muda yang belajar jurus jurus beladiri dibelakang rumahku segera bergegas pulang kerumah setelah selesai. Maksimal tiga puluh menit sebelum maghrib mereka segera berpamitan untuk pulang. Itupun pulangnya secara berkelompok tidak ada yang berani pulang sendirian menjelang maghrib.
“Yaa Allah sampai kapan kondisi malam hari akan mencekam seperti ini.” batinku.
Aku memaklumi ketakutan orang orang di wilayah ku tersebut, secara jujur akupun mengkhawatirkan keselamatan mereka dan anggota keluargaku juga. Selepas maghrib pun aku melarang mereka keluar rumah. Biar bagaimanapun kejadian kejadian yang sudah menimpa beberapa warga membuat aku harus ekstra hati hati dalam melindungi keluargaku.
Hingga sesaat setelah kami Mujahadah dan sedang berbincang dengan saudara saudaraku yang lelaki. Aku mendapat kontak telepon dari pak Yadi.
“Assalaamu’alaikum Pak Yadi..!” sapaku di telpon pada Pak Yadi
__ADS_1
“Wa’alaikummussalaam pak, bisa minta waktu sebentar pak ?” Tanya pak Yadi.
“Bisa pak, mau berbicara langsung atau cukup lewat telpon saja ?” tanyaku balik.
“Baiknya bagaimana ya ? atau saya kerumah bapak saja biar lebih leluasa ngobrolnya ?” Tanya Pak Yadi.
“Boleh pak silahkan kebetulan kami berlima juga baru berkumpul ini.” jawabku
“Baik pak, saya segera kesana, Assalaamu ‘alaikum….!” Kata pak Yadi mengakhiri telpon.
“Wa’alaikummussalaam pak Yadi, kami tunggu.” Jawabku.
Sesudah pak Yadi menutup telpon, kang Tohari mengawali cerita untuk membuka pembicaraan sambil menunggu pak Yadi datang.
“Sebenarnya musuh kita sudah berkurang satu. Karena ki Soma sudah berhasil dibinasakan oleh Sena sepulang mengantarkan kamu itu Ahmad.” Kata kang Tohari.
“Innalillahi… terus urusanya bagaimana kang ? gak ada masalah hukum kan ?” tanyaku justru mengkhawatirkan Sena.
“Tidak, karena kita mempertahankan diri dan demi menyelamatkan nyawa orang banyak. Pak Yadi waktu itu sudah bilang ini tidak masuk kasus pembunuhan. Bahkan jika terpaksa harus demikian demi menyelamatkan nyawa banyak warga yang lain pun tidak masalah jika harus terbunuh.” Jelas Kang Tohari.
“Alhamdulillah jika Sena lepas dari pasal hukum dan memang aku juga berpikir begitu kang. Namu aku masih khawatir dengan hukuman atau prosedur hukum yang ada. Karena kita hidup di Negara hukum juga.” Jawabku.
“iya lah, tapi hukum Negara kita juga tidak sekejam itu. berbeda niat membunuh dan mempertahankan diri apa lagi demi menyematkan nyawa orang banyak.” Kata kang Tohari.
“Iya ya kang, maaf aku hanya gak ingin saudaraku sampai merasakan penjara cukup aku saja yang pernah mengalaminya.” Kataku.
“Tapi jangan pingin lagi mas, kasihan Jafar dan Sidiq nanti.” Gurau Sena padaku.
“Aah kamu ini dikhawatirin malah balasnya ngejek…!” gerutuku pada Sena.
Disambut tawa yang lainnya, untunglah pak Yadi segera datang sehingga topic obrolan kemudian berganti.
“Assalaamu ‘alaikum..!” ucap salam pak Yadi dari luar rumahku.
“Wa’alaikummussalaam….!” Jawab kami serempak.
Kemudian aku sendiri yang membukakan pintu untuk pa Yadi, dan mempersilahkan pak Yadi masuk ikut bergabung dengan kami.
Setelah pak Yadi ikut bergabung kemudian beliau membuka pembicaraan kepada kami.
“Alhamdulillah semuanya berkumpul, jadi lebih mudah dalam berkoordinasi.” Kata pak Yadi membuka obrolan pada kami.
”Apakah ada perkembangan informasi baru pak ?” tanyaku pada pak Yadi.
“Betul pak, dan ini ada hubungannya dengan kasus hilangnya teman bapak yang bernama Wiwin itu ?” kata pak Yai.
Aku sampai terbelalak kaget mendengar ucapan pak Yadi tersebut, bingung dengan arah pembicaraan pak Yadi.
“Kemarin identitas ki Soma yang asli sudah kami temukan dan ternyata nama aslinya adalah, Adi Sumarno dan tinggalnya di daerah xxxx tidak begitu jauh dari wilayah kita ini pak. Dan pihak keluarga sudah mengambil jenazah korban dan dibawa pulang.” Kata pak Yadi.
“Terus hubungannya dengan Wiwin teman sekolah saya dulu apa pak ?” tanyaku penasaran
“Wiwin teman bapak itu adalah istri kedua dari ki Soma…!” kata pak Yadi.
Aku bagaikan tersambar petir mendengar ucapan pak Yadi tersebut. sungguh tidak aku sangka sahabat sekolahku bersuamikan seorang dukun sesat. Sungguh kasihan sekali nasib kamu Wiwin, aku merasa bertanggung jawab untuk mengajaknya kembali ke jalan yang benar.
“Innalillahi wa inna ilaihi raji’un…. Ya Allah Wiwin, kenapa kamu bisa terbujuk oleh rayuan si Soma ?” kataku spontan menyayangkan Wiwin yang salah mengambil langkah hidupnya.
“Sabar pak, dan dalam hal ini pihak keluarga termasuk Wiwin teman bapak sudah menerima dan tidak akan menuntut atas tewasnya ki Soma. Hanya saja Wiwin sampai saat ini belum tahu bahwa yang menjadi musuh terbesar ki Soma adalah bapak.” Lanjut pak Yadi.
“Boleh saya minta alamat rumahnya pak, dan apakah orang tua wiwin sudah tahu akan hal ini ?” tanyaku pada pak Yadi.
“Saya belum memberi tahukan hal ini kepada beliau pak, bahkan saya juga bingung apakah hal ini berita sedih atau bahagia bagi orang tua Wiwin.” Jawab pak Yadi.
Iya juga sih, bingung juga satu sisi bahagia Wiwin masih hidup tapi disisi lain tahu wiwin masuk ke dalam perangkap iblis lewat ki Soma adalah menyedihkan bagi kedua orang tua Wiwin tentunya.
“Apapun reaksi kedua orang tua wiwin kita harus memberitahukan berita ini pak. Dan seandainya kedua orang tua Wiwin mengharapkan Wiwin kembali ke orang tuanya pun kita harus membantunya.” Jawabku pada pak Yadi.
Pantas selama ada kejadian kejadian aneh seperti ini keluarga pak Subekti tidak pernah tersentuh sedikitpun. Rupanya ki Soma sungkan dengan mertuanya itu, lantas meminta kepada yang lain agar tidak mengganggu mertuanya tersebut. kenapa hal ini bisa terlepas dari pengamatanku selama ini, batinku.
Tapi memang begitulah manusia tak ada yang sempurna selalu ada sisi yang kurang atau lepas dari perhatian. Sebagai pengingat juga bahwa manusia itu tidak ada yang sempurna, agar tidak menjadi takabur.
Tiba tiba kami dikejutkan oleh auman serigala yang bersahutan dari jarak yang cukup dekat. Sehingga suaranya sangat jelas terdengar di telinga ami semua.
“Aauuuunngh…aauuuunnggh…aauuuunngh….!” Suara Serigala yang membuat bulu kudukku merinding. Dan kami semua sampai terdiam mendengarkan suara tersebut.
“Ahmad, kamu lihat keluar bersama Sena yang lain tetap waspada di dalam rumah. Gunakan seluruh kewaspadaan kalian !” perintah kang Tohari.
Aku dan Sena saling berpandangan, kemudian pak Yadi ikut menimpali.
“Apa tidak sebaiknya kita lihat bersama sama pak ? saya khawatir jumlah mereka banyak sehingga butuh personil yang cukup juga.” Sahut pak Yadi pada Kang Tohari.
“Tidak, mereka akan datang dalam jumlah banyak nanti saat bulan purnama. Karena saat itu kekuatan mereka sedang di puncak puncaknya.” Kata kang Tohari.
“Baik kang biar aku dan Sena saja yang keluar, maaf pak Yadi terpaksa pak Yadi saya tahan tidak pulang dulu demi keamanan kita pak.” Kataku pada pak Yadi.
“Iya pak, gak papa karena yang kita hadapi bukan manusia biasa.” Jawab pak Yadi yang belum tahu jika mereka sudah mengirimkan pasukan gaib yang kemarin sempat kami hadapi bertiga.
Dan suara auman itupun semakin dekat saja rasanya sehingga aku dan Sena buru buru melangkah keluar mencari arah suara tersebut dengan lebih dulu membuka mata batin kami. Agar bisa melihat keberadaan mereka yang tidak kasat mata.
__ADS_1
Aku dan Sena melangkah keluar rumah mencari cari sumber suara tersebut, agak bingung juga karena ternyata suara itu datang dari beberapa arah yang berbeda.
“Mas mereka dari beberapa arah apakah kita akan berpencar atau mencari bersama sama ?” Tanya Sena padaku.
“Jangan berpisah, kayaknya ini jebakan agar kita berpisah sehingga kekuatan dan konsentrasi kita terbagi. Kita hadapi mereka bersama, dan benar kata kang Tohari harus ada yang berjaga di dalam rumah. Kayaknya mereka memancing kita keluar semua dan akan mengincar anggota keluarga kita satu persatu saat kita lengah.” Jawabku pada Sena.
“Iya juga ya, apa lagi dirumah ada tiga balita juga Sidiq, jafar dan anakku juga.” Ucap Sena.
Kami terus mengitari keadaan seputar rumahku dan sesampai di tanah lapang yang biasa kami gunakan untuk melatih anak anak muda berlatih silat. Kami di datangi dua sosok yang sudah tidak asing lagi bagi kami yaitu Mento Rogo dan Maheso Suro yang dalam bentuk setengah manusia setengah serigala.
Disamping itu juga disertai pasukan serigala gaibnya, ada belasan serigala gaib bersama mereka.
“Sena kamu pilih yang gaib atau yang kasat mata sekarang ?” tanyaku pada Sena.
“Yang Gaib saja mas, kali ini jumlahnya tidak terlalu banyak. Sedang yang kasat mata meski hanya dua tapi ilmunya mengerikan kalo gak mas Yasin hanya kang Tohari yang sanggup menghadapi mereka.” Bisik Sena.
“Auuuunngh…. Aku belum mau menghadapi kamu sebenarnya tapi kepalang basah sudah dipertemukan sekarang. Jadi tak ada salahnya kita bertarung sekarang, aauuunngh…!” ucap Maaheso Suro terlalu PD.
“Aku juga sebenarnya gak mau mengotori tanganmu dengan melawanmu, tapi demi menghilangkan kotoran macam kalian gak papalah sedikit kotor. Nanti bisa mandi menghilangkan najis.” Kataku memancing emosi Maheso Suro.
“Auuuunngh,,,,,, mulut kamu memang harus segera disumpal agar tidak bisa bicara Sembarangan lagi, aauuuunngh…!” geram Maheso Suro yang kemudian matanya menjadi merah menyala. Namun aku sedikit heran ketika Maheso Suro mendekati aku Mento rogo hanya diam di tempat tidak ikut membantu Maheso Suro.
Apakah Maheso Suro terlalu yakin dia dapat mengalahkan aku sehingga meminta Mento Rogo dilarang membantunya. Atau dia sengaja membuat trik licik untuk bisa mengelabui aku dan membokongku, pikirku.
“Sena, kamu amati Mento Rogo saja. Selama makhluk tak kasat mata itu tidak menyerangmu maka biarkan saja. Kamu awasi Mento Rogoo jangan sampai berbuat licik. Biar aku menghadapi Maheso Suro.” Kataku pada Sena.
“Baik mas, kayaknya makhluk tak kasat mata itu juga hanya sebagai penonton saja tidak menunjukkan gerakan mau menyerang.” Jawab Sena.
“Auuuunngh… maju kamu sini saatnya kita perang tanding secara jujur satu lawan satu sekarang, auuuunngh…!” kata Maheso Suro.
“Kamu yakin akan bertanding satu lawan satu denganku Maheso ?” kataku pada Maheso sekedar ingin tahu siasat apa yang direncanakan. Namun tanpa menjawab dia langsung menyerang aku tanpa berlama lama. Dan akupun segera menghindar serangan cakarnya yang menimbulkan hawa panas.
“Benar benar sudah menyatu dengan Iblis, seranganya membawa aura kebengisan.” Batinku.
Seperti tak mau member kesempatan kepadaku untuk mempersiapkan jurus serangan Maheso Suro kembali melayangkan serangan keduanya mengarah ke dadaku dengan cakaran kuku panjangnya.
Aku terpaksa melompat mundur beberapa langkah mempersipakan jurusku, aku ambil jurus ‘JiM’ untuk menghadapi serangan Maheso Suro yang menimbulkan hawa panas diarea sekitar seranganya.
Maheso Suro terus mengejarku dengan serangan serangan liar yang tidak aku duga sama sekali. Bahkan Maheso Suro sekali sekali menggunakan taringnya hendak menggigit leherku.
“Gila sudah benar benar dirasuki iblis ini orang.” Kataku dalam hati.
Ini tidak bisa dianggap enteng aku terus meningkatkan jurusku sambil menerapkan jurus pertahanan tubuh dengan doa doa perlindungan yang aku pelajari. Dan sebuah kesempatan saat Maheso Suro lengah karena terlalu bernafsu menyerang. Aku berhasil mendaratkan pukulan ke pinggangnya sehingga dia mengaduh kesakitan dan terhuyung kebelakang.
Tiba tiba aku teringat obrolan dengan kang Tohari Semalam jika terpaksa membunuhnya pun tidak terkena pasal hukum, karena mempertahankan diri dan melindungi nyawa orang banyak. Maka tanpa member kesempatan Maheso Suro kembali menyerang. Sekarang giliranku kembali menyerangnya tanpa member kesempatan bagi Maheso suro juga untuk bersiap.
Dan dengan kecepatan dan tenaga penuh aku hantamkan kepalan tanganku ke arah Maheso suro yang sedang terhuyung.
Dan Bletaaak…
Suara pukulan tanganku mengenai Maheso Suro.
Pukulan tangan kosong sambil mengerahkan tenaga dalamku itu mampu membuat kepala Maheso Suro berputar hampir seratus delapan puluh derajat berputar ke belakang. Sampai dari mulut dan hidungnya pun mengeluarkan darah segar. Dan Maheso Suro jatuh terkapar tidak bergerak lagi.
Sekilas aku melihat Mento Rogo bergerak mendekat, secara reflek aku langsung menyerangnya sehingga dia terkejut dan menangkis seranganku dengan kedua tanganya. Dan kami sama sama terpental, namun aku segera bangkit dan bersiap menghadapinya lagi.
Diluar dugaanku ternyata Mento rogo tidak menyerangku lagi namun justru mendekati Jasad Maheso Suro kemudian jasa Maheso Suro dia lompati.
Dan aku semakin terbelalak bahkan saking terkejutnya aku sampai terkesiap tak bergerak. Melihat jasad Maheso Suro yang Tadi terbujur kaku bersimbah darah yang keluar dari mulut dan hidungnya itu kini bangkit dan segar lagi seperti tak terjadi apapun padanya.
“Aauuuunngh… saat ini kamu tak akan mampu mengalahkan kami, Auuuunngh…!” teriak Maheso Suro yang kembali segar bugar.
“Ini gila, ini beneran ilmu iblis yang dia pakai.” Kataku dalam hati yang masih ternganga melihat pemandangan aneh dan mengerikan di hadapanku. Sehingga aku kurang waspada dan sebuah tendangan dari Mento Rogo mendarat di dadaku membuat aku terpental mundur beberapa Langkah.
Untunglah saat Mento rogo mengejarku segera di hadang oleh Sena, sehingga aku ada waktu untuk bangkit dan mengatur pernafasanku menghilangkan rasa nyeri dan sesak di dadaku…???
...bersambung...
Terimakasih atas dukungan dari Readers semuanya.
Komentar readers semangat Author
Author akan berusaha terus memperbaiki, bahasa retorika dan lainya.
Semoga dapat menghibur Readers semua.
...Jangan lupa dukungan berupa :...
...Like...
...Komen...
...&...
...Vote nya...
...Terimakasih...
...🙏🙏🙏...
__ADS_1