
Dialoag akhir episode sebelumnya.
" Mas sanggup Fat, biar nanti Isti yang bantu bicara ke Arum. Sekalian biar bisa deketin Arum sama kakaknya Isti." ucap mas Yasin
" Beneran ?" tanyaku pada mas Yasin.
" Iya mas janji, kamu mau maafin mas aja mas udah seneng. Apa lagi kamu bersedia rawat Sidiq. Mas sangat berterima kasih padamu !" ucap mas Yasin sambil nangis.
Kemudian memelukku dan menangis haru dalam pelukanku.
Setelah peristiwa haru itu kami segera bersiap berangkat ke Jogja.
..........................
...( Fatimah pov end )...
..............................
...Yasin Pov...
.........................
Setelah terlebih dahulu berpamitan pada kedua mertuaku, Aku, Fatimah dan Khotimah segera berangkat ke Jogja.
Dalam perjalan aku lebih banyak diam. Fatimah Istriku yg tampak kelelahan, juga karena sedang berbadan dua. Aku persilahkan tidur dengan berbantalkan tas baju dipangkuanku. Sementara Khotimah di bangku sebelah juga tampak tertidur sambil duduk.
Sambil kupandangi wajah istriku, aku belai kepalanya yang tertutup hijab. Istriku tampak anggun, dengan hijab yang selalu dikenakan. Wajah keibuamya, sungguh sangat melekat erat di hatiku. "Fatimah, jika kau tak mafkan aku tak tahu untuk apa aku berjuang selama ini.
Tapi tak kusangka, hatimu begitu tulus, sampai kau mau mengurus Sidiq darah dagingku. Kau Istri yang sangat sempurna bagiku, yang penuh dengan lumpur dosa.
Kau benar benar Anugerah sempurna bagiku pemberian dari yang maha Sempurna.
Aku tak mampu menahan haruku, sampai tak terasa air mataku menetes mengenai pipinya.
" mas menangis ?" tanya Fatimah padaku.
" Iya, tapi tangis bahagia karena kau mau memaafkan aku !" jawabku pada Fatimah.
" Iya mas iya Fatimah ngerti, asal mas janjinya ditepati. Fatimah gak akan ungkit masa lalu lagi." jawab Fatimah.
" Kamu memang Istri yang sempurna sayangku." Bisikku ke Fatimah.
Fatimah hanya tersenyum dan tertidur lagi, akupun terasa mengantuk namun kutahan agar tetab bisa jagain Fatimah. Agar aman jika ngerem mendadak agar tak jatuh.
Laju bus yang cukup kencang, membuat kantukku sedikit hilang.
Dan tak terasa sudah memasuki wilayah Muntilan, bentar lagi sampai, gumamku.
Tak lama kemudian kami sampai, di terminal Jombor. Segera panggil taksi dan menuju ke rumah langsung di kawasan lereng merapi. Melalui jalur sepi meski jalan sudah beraspal. Tapi pinggir jalan yg dipenuhi kebun salak pondoh itu memberikan suasana Asri pegunungan.
Udara saat itupun cerah, secerah hatiku yang tidak jadi kehilangan istri tercintaku Fatimah.
Rasa syukurku yang tak mampu kulukiskan dengan kata kata. Setelah menghadapi prahara rumah tangga. Beruntung aku berjodoh dengan wanita yang begitu penyabar. Aku hanya mampu mengucap alhamdulillah, karena Allah telah memberikan aku istri yg Solihah.
Istri yang jadi perhiasan dunia akhirat. Bagaimana aku tak bersyukur, Fatimah yang oleh orang tuanya di manja. Tidak menjadikan dia manja. Bahkan saat awal kehidupan kami dalam mengarungi rumah tangga.
__ADS_1
Banyak sekali permasalahan yang harus dihadapi. Dari masalah finansial, ekonomi dan masalah sosial.
Semua itu kami hadapi bersama, tanpavada keluhan sedikitpun dari Fatimah.Sampai ketika awal membuka usaha jualan di kios, belum jalan. Pembeli masih sepi, usaha jual bibit tanaman juga belum jalan. Tak sedikitpun Fatimah mengeluh apalagi menuntut.
Lama aku merenung mengingat memori awal pernikahanku dan awal pasca nikah. Tahu tahu sudah hampir sampai rumah. Kubangunkan Fatimah istriku juga Khotimah adik sepupunya.
" Bangun sayang, sudah hampir sampai !" kataku membangunkan Fatimah.
" Sudah dekat ya mas, Fatimah cape banget !" sampai dari awal jalan tidur terus.
" Iya gak papa, bangunin tuh Khotimah !" ucapku pada Fatimah.
" Khot bangun udah sampai !" ucap Fatimah.
" Hhooeemm udah sampai ya mbak Fatim ?" tanya Khotimah.
" Udah deket, tu rumah depan yng warna biru iti belok kanan ada masjid rumahnya pas depan masjid. " jelas Fatimah.
Akhirnya sampailah kami dirumah, dan disambut oleh Amir dan Heri yang langsung mengambil alih membawa semua bawaan.
Istriku, yang hamilnya sudah mulai tampak pelan pelan kugandeng masuk rumah.
"Aah lega sudah sampai dirumah ini !" ucap Fatimah.
"Ada yang perlu kami persiapkan bu ?" tanya Amir pada Fatimah.
" Iya, tolong buatin minum mir semuanya!" seru Fatimah.
" Khotimah dingin mbak !" ucap Khotimah.
" Emang disini dingin Khot, nanti biar dibuatin jahe hangat sama Amir !" jawab Fatimah.
" Iya mas !" jawab Fatimah dan langsung menghubungi Isti.
Aku tinggalkan Fatimah yang sedang Vc dengan Isti.
Aku minta tolong Amir & Heri untuk membersihkan dua kamar untuk Isti dan ibunya serta Khotimah.
Dan aku ambil alih tugas membuat minuman itu. Aku hari ini akan memanjakan Istriku, biar dia mersa nyaman disisiku. Air sudah mendidih, aku menyeduh teh untuk Semua plus Jahe panas buat Khotimah dan kopi pahit buatku sendiri. Kemudian aku hidangkan di ruang tamu.
" Ini yang di porong teh manis, Khotimah Jahe hangat kan ?" tanyaku pada Khotimah.
" Lah kok mas Yasin yang bikin bukanya tadi mbak Fatim nyuruh orang lain ?" tanya Khotimah.
" Mereka aku minta bersihin kamar buat kamu dan Isti. Jadi tugasnyakuambil alih." kataku pada Khotimah.
Tiba tiba Fatimah ikut bicara.
" Loh mas kamu yang bikin minum ? tanya Fatimah.
" Iya, Amir dan Heri kuminta bersihin kamar, buat isti dan ibunya satu lagi buat Khotimah nanti." ucapku pada Fatimah.
" O iya mas, tadi dah telpun Isti. Dia dan ibunya sedang menuju kemari diantarbpak Yadi katanya " ucap Fatimah.
" Ya kebetulan, nanti malam kita mulai mujahadah bersama. Biar suasana kampun kita aman serta masalah yang ada segera tuntas !" kataku pada Fatimah.
__ADS_1
Kemudian kami menyeruput minuman hangat bersama. Diikuti Amir dan Heri ikut minum."
Tak lama kemudian rombongan Isti dan lainya datang.
"Assalaamu 'alaikum...!" ucapan salam Isti.
" Wa 'alaikummussalaam... ya Allah Isti...!" seru Fatimah langsung bangkit peluk Isti, dengan tangis bahagia keduanya.
Aku lebih memilih bimbing ibu Isti untuk duduk istirahat di kursi. Kubiarkan dua sahabat itu saling berpelukan melepas kangen.
" Monggo pak Yadi, silahkan duduj. mau minum apa ?" tanyaku padapak Yadi.
" Makasih pak, tapi saya langsung pulang saja. Masih ada tugas lain, untuk personil yg kita bicarakan dulu nanti sore datangnya pak !" kata pak Yadi.
" Owh begitu, baiklah pak semoga semua sesuai rencana !" sahutku..
" Aamiin pak, kalo begitu saya permisi dulu. Assalaamu 'alaikum !" salam pamit pak Yadi.
" Wa 'alaikummussalaam...!" sahutku.
Fatimah dan Isti masih saling pelukan sambil nangis.
" Udah nangisnya, kasihan ibu mu Is sama adikmu Khotimah Fat !" seruku.
Membuat mereka berdua sadar, jika banyak orang disitu.
" Owh iya mas, ini adik sepupumu Fat, cantik juga !" ucap Isti sambik menyalami Fatimah.
" Aah biasa saja mbak Isti !" jawab Khotimah.
Kemudian kami mengobrol seputar kejadian akhir akhir ini. Seputar persidangan Rofiq dan ancaman atau terror yang dilakukan pihak lawan terhadap Rofiq.
"Jadi begitu mas, sidang kemarin hampir saja ricuh." ucap Isti memberi penjelasan.
Fatimah sampai menitikan air mata mendengar cerita Isti.
" Ada berapa personil yang membuat rusuh ?" tanyaku.
" Banyak banget mas, hampir separo jumlah jumlah pengikut sidang !" jawab Isti.
" Kalo begitu kalian harus benar benar hati hati, jangan keluar keluar dulu. Diam dirumah saja, jika perlu apapa cukup bilang biar dicarikan Amir / Heri !" ucapku.
Fatimah dan yang lain tampak tegang, tak mampu berucap sepatah katapun.
...bersambung...
...Jangan lupa dukungan berupa :...
...Like...
...Komen...
...&...
...Vote nya...
__ADS_1
...Terimakasih...
...🙏🙏🙏...