
🌷🌷🌷
Reader tercinta, mohon maaf jika masih banyak typo karena Auto teks ataupun murni salah ketik.
Semoga tetap bisa menghibur.
🌷🌷🌷
Selamat membaca
...........
Episode lalu
“Tembang iki minongko pepeling kanggo manungso, supoyo Hameteg nafsu angkoro kang ngujo marang haedaning ponco. Kanti linambaran sih kawelasan sang Hyang jati pengeran. Supoyo sengkolo iso mukso lan sirno. Saenggo besuk yen sowan marang sang hyang wenang biso koyo dijamsi tirto kang suci. Iku saripatine. Wondene makna kang lengkape mengkene ngger,…!”
“Tembang ini merupakan pengingat buat manusia, agar menahan hawa Nafsu angkkara murka yang mengumbar keinginan panca Indera saja. Dengan berbekal rasa kasih sayang dari sang hyang wenang ( yang maha Berkehendak \= Allah swt ) agar ‘Sengkolo’ bisa sirna dan mati, sehingga besuk kalo menghadap yang maha berkehendak bisa seperti habis di mandikan denga air yang suci. Itu esensinya, sedangkan makna lengkapnya begini…..!?” ucap kakek tersebut.
*****
Episode ini
Rumekso ingsun laku nisto ngoyo woro
Kujaga diri dari perbuatan nista dan sesuka hati
Kelawan mekak howo, howo kang dur angkoro
Dengan mengendalikan hawa, hawa nafsu angkara
Senadyan setan gentayangan, tansah gawe rubeda
Meski setan bergentayangan, selalu membuat gangguan
Hinggo pupusing jaman
Sampai akhir zaman
Hameteg ingsun nyirep geni wiso murko
Sekuat tenaga saya memadamkan api, bisanya kemurkaan
Maper hardening ponco, saben ulesing netro
Mengendalikan panca (lima) indera dalam setiap kedipan mata
Linambaran sih kawelasan, ingkang paring kamulyan
Dilandari rasa welas asih Sang Pemberi Kemuliaan
Sang Hyang Jati Pengeran
Sang Maha Sejati Tuhan
Jiwanggo kalbu, samudro pepuntoning laku
Bertahta di kalbu, samudera pemandu perbuatan
Tumuju dateng Gusti, Dzat Kang Amurbo Dumadi
Menuju kepada Tuhan, Dzat yang tidak ada asalnya
Manunggaling kawulo Gusti, krenteg ati bakal dumadi
Menyatunya hamba dengan Tuhan (Maksutnya menyatu \= merasa tak bisa lepas dari peran serta Tuhan dalam kehidupan kita bukan mengaku sebagai tuhan ) , kehendak hati akan terjadi
Mukti ingsun, tanpo piranti
Saya jaya, tanpa syarat (alat)\= kaya tanpa harta \= kaya hati maksutnya.
Sumebyar ing sukmo madu sarining perwito
Menyebar ke jiwa madu sarinya perwita
Maneko warno prodo, mbangun projo sampurno
__ADS_1
Aneka warna prada, membangun diri yang sempurna ( Prodo \= semacam tinta berwarna emas dalam batik tulis )
Sengkolo tido mukso, kolobendu nyoto sirno
Kesialan pasti musnah, musibah matapetaka nyata hilang ( Waqulil jaa alhaqo wazahaqol bathil \= dan katakana kebenaran telah datang kebathilan akan musnah QS Al Isryro ayat 80 )
Tyasing roso mardiko
Timbullah rasa merdeka atau bebas ( terlepas dari kungkungan hawa nafsu )
Mugiyo den sedyo pusoko Kalimosodo
Semoga dengan ucapan pusaka kalimat syahadat
Yekti dadi mustiko, sajeroning jiwo rogo
Benar-benar jadi mustika di dalam jiwa raga
Bejo mulyo waskito, digdoyo bowo leksono
Beruntung mulia waskita, digdaya dan berwibawa
Byar manjing sigro-sigro
Byar terwujud gilang-gemilang
Ampuh sepuh wutuh, tan keno iso paneluh
Sakti tua utuh, tidak bisa disantet (diteluh)
Gagah bungah sumringah, ndadar ing wayah-wayah
Gagah riang gembira, merekah di sepanjang waktu (Bahagia karena tahu sangkan paraning dumadi \= asal muasal dan akan kemana manusia setelah mati. Bahwa hidup dan kehidupan diberi Allah dank an kembali dipanggil Allah \= Inna lillahi wa Inna ilaihi Roji’un \= sesungguhnya kita berasal dari Allah dank an kembali ( dipanggil ) Allah.
Satriyo toto sembodo, Wirotomo katon sewu kartiko
Kesatria tata sembada, wiratama seperti seribu bintang \= ksatria punya tatakrama ( Adab ) perbuatanya utama seperti bintang ( Kartiko )
Kataman wahyu … Kolosebo
Tertimpa (mendapatkan) wahyu kalaseba \= berita dari langit wahyu, kolo \= waktu Sebo \= menghadap \= waktu melakukan ibadah ( Sholat lima waktu )
Saya memuji dengan menghadap maha tinggi
Segoro gando arum, suhrep dupo kumelun
Laut berbau harum seperti dupa semerbak
Tinulah niat ingsun, hangidung sabdo kang luhur
Mengolah niat saya, mengidung (melantunkan) sabda (kata-kata) yang luhur \= membaca ayat ayat suci alquran.
Titahing Sang Hyang Agung
Perintahnya Sang Maha Agung
Rembesing tresno, tondho luhing netro roso
Merembesnya kasih sayang, pertanda air mata rasa
Roso rasaning ati, kadyo tirto kang suci
Rasa perasaan hati, seperti air yang suci
Kawistoro jopo montro, kondang dadi pepadang
Diwujudkan japa mantra ( Doa doa ), hebat jadi penerang (penerang hati )
Palilahing Sang Hyang Wenang
Ridhonya Sang Maha Berwenang
Nowo dewo jawoto, tali santiko bawono
Sembilan wujud dewa ( Menggambarkan Wali songo ), tali kekuatan dunia (semesta)
Prasido sidhikoro, ing sasono asmoroloyo
Abadi memuji di singgasana surga
__ADS_1
Sri Narendro Kolosebo, winisudo ing gegono
Sang Raja (Sulthonul aulia \= Rajanya para Wali Allah ) Kolosebo, diwisuda di angkasa
Datan gingsir … sewu warso
Tidak akan tenggelam (lengser) … seribu tahun
Begitulah penjelasan panjang lebar dari kakeku Sidiq Ali yang teduh dan lembut tutur katanya berbeda dengan penampilan kakekku Jafar Sanjaya yang keras dan suka bertarung. Sehingga menimbulkan pertanyaan paa diriku. Dan aku beranikan diri bertanya pada kakekku Sidiq Ali.
“Ngapunten mbah, benten sanget kaliyan wejanganipun mbah Jafar ?” ( Maaf kakek, berbeda sekali dengan ajaran kakek Jafar ) tanyaku memberanikan diri. Meski kakekku Sidiq Ali tidak galak seperti kakek Jafar tapi pancaran sinar matanya seakan mampu menembus hatiku. Dan memiliki wibawa yang sangat besar.
“Ora bedo ngger, mik seje panggonane.” ( tidak berbeda ngger, hanya lain posisinya ) jawab kakek Sidiq Ali.
“Masutipun kados pundi mbah ?” (Maksutnya bagaimana mbah ) tanyaku minta penjelasan.
“Mbahmu Jafar tugase Nahi Munkar \= mencegah kemungkaran mulane kudu wani bondoyudo. Yen Ingsun tugase ngajak Apik ( Amar ma’ruf ) mula kudu nganggo roso welas asih.” Kakekmu Jafar tugasnya Nahi Munkar maka harus berani bertarung, kalo aku tugasnya mengajak kebaikan makanya harus pakai kasih sayang ) jelas Kakek Sidiq Ali.
“ kok mboten dados setunggal amar ma’ruf Nahi munkar mbah ?” ( Kok tidak disatukan amar ma’ruf dan Nahi munkar Kek ?” tanyaku lanjut.
“Yo didadekke siji, tapi ono khususone.” ( Ya distukan tapi ada specialistnya ) jawab kakek Sidiq Ali.
“Lajeng menawi kulo kedah nderek sinten mbah ?” ( terus kalo saya harus mengikuti siapa kek ) tanyaku lagi.
“Sliramu kudu biso amakili mbahmu kekarone, iku tantangan akhir zaman. Ananging Amar ma’ruf nahi munkar kekarone kudu bil ma’ruf ( dengan cara yang baik ) datan oleh mekso datan oleh mulosoro.” ( Kamu harus bisa mewakili kedua kakekmu, ini tantangan akhir zaman. Kan tetapi Amar ma’ruf Nahi munkar harus dua duanya harus bil ma’ruf. Tidak boleh memaksa tidak boleh dengan kekerasan ( Mulosoro ).
“Njih mbah sendiko dawuh, lajeng babagan kidung wau. Kok suraosipun katah ingkang saking Al quran mbah ?” ( Ya kek, saya siap melaksanakan, selanjutnya masalah kidung tadi kok banyak mengandung isi ayat Al quran.) tanyaku menayakan tentang kidung tadi.
“Bener kandamu ngger, iku kidung kanjeng Sunan Kalijogo ingkang Nganggit. Mulane nganggo boso jowo, Sang hyang wenang ( Yang Maha Berkendak ) lan sak piturute iku kabeh minongko gambarane Asma Allah kang tinulis ing Asmaul khusna, kang den artekke nganggo ukoro jowo. Kareben kabeh uwong podo paham maksute. Yen nganggo istilah, yaa Jabar, Yaa Malik lan liyane ilate wong jowo kangelan anggone ngucap.” (“Benar katamu ngger, itu kidung Kanjeng sunan kalijaga yang membuat, makanya menggunakan bahasa Jawa, Sang Hyang Wenang dan lain lain itu semua merupakan arti dari Asmaul khusna. Yang di translate dalam kata kata bahasa Jawa. Biar semua orang paham maksutnya. Kalo pakai istilah Yaa Jabar, Yaa Malik dan lainya orang Jawa kesulitan dalam melafadzkan/ mengucapkan.
Begitulah penjelasan kekeku Sidiq Ali dalam menjabvarkan Kidung dan memberikan wejangan alam menghadapi tantangan kehidupan di zaman sekarang. Hanya dengan disuruh memahami kidung atau tembang jawa yang ternyata begitu sarat makna Islami, tanpa aku sadri sebelumnya.
Aku menduga sebelumnya itu hanyalah sekedar seni budaya jawa saja. Yang tidak mengandung makna apapun, namun ternyata setelah dijelaskan oleh kakek Sidiq Ali begitu dalam makna yang tersimpan di dalamnya. Dalam hati aku berkata, “Sungguh sangat bijak wali songo dulu yang memasukan ruh Islam dalam disri manusia tanpa harus merubah tradisi dan budaya mereka. Pantas Islam sangat mudah diterima oleh masyarakat.
Sehingga masyarakat bisa mengenal Islam justru dari seni dan budaya yang disisipkan nilai nilai Islami. Meski cara melafadzkan bacaan bacaan masih kental lidah jawanya. Sehingga banyak yng maksutnya membaca bismillah jadi semillah, la haula walaa quwata jadi wolo wolo kuwato dan sebaginya. Akan tetapi itu hanya soal lidah atau pengucapan saja maksut mereka juga benar akan tetapi kemap[uan lidah mereka memang seperti itu.
Seandainya para wali dulu tidak bijak mungkin orang takut masuk Islam karena mengucapkan doa saja harus dituntut mengucapkan dengan benar. Harus belajar makhrojul huruf, tajwid, nahwu, shorof dan lain lain padahal mereka dulu penyembah pohon batu besr dan lain lain.
Berbeda dengan zaman sekarang yang dari kecil sudah dikenalkan huruf hijaiyah ( huruf Arab) dan banyak sekali para pengajar Alquran. Namun semua itu tak akan terjadi jika kakek nenek mereka dulu tiak memulai dengan mengucap Bismillah dengan Semillah dan lain lain.
Aku bertambah mengerti dengan apa yang dimaksut oleh Kakek Sidiq Ali, serta bisa memahami peran Kakek Jafar yang berbeda cara atau system dalam Amar Ma’ruf Nahi Munkar. Keuanya tampak berbeda namun tetap satu tujuan. Dibuktikan mereka berdua berbesanan dan akhirnya melahirkan aku.
“Ngger, wus sawetoro wektu sliramu neng kene, wus wayahe sliramu bali neng alam mu isih akeh tugas kang kudu tok emban. Ngati ngati anggonmu jogo awakmu lan keluargamu, wis kono ndang bali.”
( Ngger, sudah cukup lama kamu disini, sudah saatnya kamu kembali kea lam mu masih banyak tugas yang harus kamu laksanakan. Hati hati dalam menjaga diri dan keluargamu, sudah sana pulang.) begitu pesan terakhie kakekku Sidiq Ali. Setelah itu aku seperti terbangun dari tidur dan melihat Yuyut dan Sena yang sudah lebih dulu selesai berdoa.
“Ayo kita pulang kalo sudah selesai berdoa dan mendoakan leluhur kalian.” Ucap Yuyut membuatku tersadar.
“Astaghfirrullahal Adzim, aku tertidur Yut maaf kalo sampai harus nunggu aku bangun.” Ucapku pada Yuyut.
Sementara Sena hanya senyum senyum saja melihatku terbengong.
“Ayo mas pulang, aku juga tertidur kok tadi.” Jawab Sena. Kemudian kami bertiga berjalan pulang, entah kenapa aku sempat melihat Yuyut agak sedih dan meitikkan air mata meski hanya terlihat dalam temaram lampu yang tidak jelas, namun kelihatan titik air mata Yuyut yang terkena sinar lampu meski remang namun meantulkan cahaya dari titik air matanya itu.
“Yuyut kenapa sedih ya ?” kataku dalam hati…..!!!
...bersambung...
Terimakasih atas dukungan dari Readers semuanya.
Komentar readers semangat Author
Author akan berusaha terus memperbaiki, bahasa retorika dan lainya.
Semoga dapat menghibur Readers semua.
...Jangan lupa dukungan berupa :...
...Like...
...Komen...
...&...
...Vote nya...
...Terimakasih...
__ADS_1
...🙏🙏🙏...