Isyaroh

Isyaroh
Kelompok dukun berencana balas dendam pada Yasin


__ADS_3

🌷🌷🌷


Reader tercinta, mohon maaf jika masih banyak typo karena Auto teks ataupun murni salah ketik.


Semoga tetap bisa menghibur.


🌷🌷🌷


Selamat membaca


...........


Episode lalu


“Udah bobok dulu yuuk, nanti habis subuh gak usah ikut Semaan dulu kalo Fatimahh pingin , tapi sekarang bobok dulu mas capek banget.” Kataku.


“Malu dong mas kalo habis subuh masa yang lain  ngaji kita malah….” Kata Fatimah.


“Yaudah nanti sebelum subuh deh, tap istirahat bentar ya, mataku udah ngantuk banget nih.” Ucapku.


“Iya deh mas, sini sambil Fatimah pijitin, mas istirahat saja.” Kata Fatimah istriku jika lagi berkehendak jadi super care pokoknya….????


*****


Episode ini


“Ah kamu kalo ada maunya begitu deh, yaudah mas ngalah tapi diurut sebentar ya biar pegelnya hilang. Sama yang kemerin disemparnakan terapinya….!” Kataku sambil senyum.


“Iya pastilah, kan sekalian diuji soalnya takut masih disfungsi e***si mas !”  ucap Fatimah.


“Gak sih kayaknya masih normal saja.” Jawabku.


Begitulah percakapan kami yang akhirnya akupun menuruti apa keinginan Fatimah istriku. Meski sebenarnya capek tapi memenuhi kebutuhan batin istri itu juga ibadah. Bahkan ketika sebenarnya suami kurang mood pun ketika istri sudah ingin jika mau suami tetap member itulah ibadah suami. Juga bila yang terjadi sebaliknya maka itu menjadi ibadah istri.


Meskipun keduanya tetap dinilai ibadah, bukan sekedar menuntaskan hasrat semata. Mungkin kedengaran agak aneh, akupun awalnya juga berpikir begitu. Hal seperti itu kok dibilang ibadah, namun akhirnya bisa memahami. Karena jika dilakukan bukan dengan istri atau suami hukumnya haram, meniggalkan yang haram adalah wajib. Maka aturan agama itu sangat indah bukan menghilangkan nafsu sama sekali hanya mengatur dan mengendalikan agar tidak menjadi budak nafsu.


Jika kita mampu mengendalikan Nafsu, nafsu yang akan menjadi budak kita, yang harus mengikuti Iman. ,namun jika tidak bisa mengendalikan nafsu maka kita lah yang akan menjadi budak nafsu dan kita berbuat berdasarkan nafsu.


Aku dibangunkan Fatimah istriku beberapa saat sebelum subuh, kemudian aku segera kekamar mandi untuk bersuci kemudian berwudhu dan melaksanakan Sholat Subuh.


Setelah subuh dilanjutkan semaan Al-Quran, aku mencoba membaca di awal namun baelum setengah juz mataku sudah perih dan berair. Sehingga aku terpaksa berhenti pada tanda ruku’ ( mungkin semacam alenia ) rupanya mataku belum sembuh sepenuhnya.


Kemudian aku serahkan Sena untuk meneruskan membaca, dan aku sendiri untuk menyimakpun ternyata belum mampu karena factor mata yang belum sembuh. Akhirnya aku hanya mendengarkan dari ruang tamu saja sambil beraktifitas rutin ngopi.


Tiba tiba Fatimah menyusulku ke ruang tamu menemani aku yang duduk sendirian.


“Mas masih harus terus diobati itu penglihatanya ( orang jawa jarang bilang mata karena dianggap kasar ) biar segera sembuh. Selain dengan kembang samber nyawa juga perlu di rambang dengan air sirih mas.” Ucap istriku.


“Iya, tapi aku gak mau kalo kamu buat tak bisa bergerak lagi, mending juda kamu pegangin kek biar member support aku bukan membiarkan aku kesakitan saat diobati.” Kataku pada Fatimah.


“Mas sih suka bikin gregetan gitu, masa udah mau punya anak masih suka muncul kolokan nya kayak anak kecil aja.” Jawab Fatimah.


“Mas kasih tahu ya, mas dulu memang manja saat kecil tapi disaat menginjak remaja justru jauh dari kasih sayang karena kasih sayang orang tua mas sudah tercurah ke Rendy cucu pertama bapak ibuku. Udah gitu bapaknya Rendy dari dulu selalu bikin ulah dan menyusahkan saja. Jadi sebenarnya mas ini haus kasih sayang makanya dulu larinya ke hal negative. Dan sekarang aku mendapatkan kasih sayang yang lama gak aku dapatkan. Yaitu kasih sayang dari kamu dan dari bapak ibu kamu. Jadi kalo aku sedikit manja jangan diketwain lah, itu bentuk terimakasihku pada kamu dan bapak  ibuk kamu yang sekarang juga jadi bapak ibukku juga.” Jawabku pada Fatimah.


“Owh begitu, maaf yam as Fatimah gak ngerti soalnya apa yang mas Rasakan. Kalo tahu begitu Fatimah gak akan ngetawain kamu mas. Iih malah jadi mellow dengerin cerita kamu mas.” Ucap Fatimah.


“Tapi jangan sampai orang tahu, aku malu nanti. Lagian itu juga bukan salah orang tuaku saja, seandainya aku dulu tidak lari ke hal negative yang mencoreng nama bapak ibuku mungkin aku juga gak akan kehilangan kasih sayang mereka.” Ucapku.


“Iya mas iya, Fatimah gak akan kasih tahu sam siapapun juga.” Jawab Fatimah.


Sambil ngobrol aku dan Fatimah seseekali mendengarkan yang sedang baca Al-Quran.


“Eeh siapa tuh yang baca suaranya merdu banget ?” tanyaku pada Fatimah.


“Itukan suara dik Nurul, kan dia emang Qori mas suaranya emang bagus.” Jawab Fatimah.


“Alhamdulillah Sena dapat istri yang sholihah juga sama seperti istriku.” Kataku memuji Fatimah.

__ADS_1


“Menhgibur apa menghina, mentang mentang Fatimah suaranya gak bagus ?” kata Fatimah.


“Loh gak gitu, sholihah kan gak ada hubunganya sama suara, dan kelebihan kamu bukan pada suara tapi pada Hal lain yang aku butuhkan.” Jawabku.


“Maksutnya ?” Tanya Fatimah.


“Yang aku butuhkan bukan suara yang bagus, tapi ya semua yang ada padamu bahkan termasuk kekuranganmu yang suka sewot pun aku butuh.” Jawabku tersenyum.


“Yaah ujung ujungnya juga ngeledek itu sih mas.” Kata Fatimah.


“Gak juga, itu serius kok kalo orang sudah merasa cinta itu perubahan sedikit dari orang yang dicintai akan terasa beda kok gak seperti biasanya. Jadi kalo kamu tiba tiba jadi berbeda itu aku justru merasa kok bukan kayak Fatimah yang aku kenal.” Jawabku pada Fatimah.


“Aah udahlah mas mah paling bisa kalo ngeles, Fatimah siapin ramuan obat nya dulu yam as siap siap aja diobatin. Pilih sama Fatimah saja atau sama yuyut dan ibuk ?” Tanya Fatimah.


“Sama kamu ajalah, malu kalo ada ibu, masak kalo kesakitan terus mau peluk ibu kalo yang ngobatin ibuk.” Candaku pada Fatimah.


“Yee dasaar mas ni ganjen banget jadi orang….!” Gerutu Fatimah.


Akhirnya aku diobatin Fatimah dengan cara seperti kemarin, entah karena memang Fatimah cara mengobatinya lebih lembut atau memang racun di mataku sudah banyak berkurang. Yang jelas saat diobati sudah tidak terlalu sakit. Hanya meraskan sedikit perih dan berair saja, gak bikin kaget karena perih yang sangat seperti sebelumnya.


“Kok sekarang gak sesakit yang kemarin kemarin ya, apa kamu ngobatinya dengan cinta ?” rayuku ke istriku.


“Mas aja yang kepedean, itukan baru air sirih belum air kembang samber nyawa yang kemarin.” Ucap Fatimah.


“Jadi masih harus ditesesin lagi ?” tanyaku.


“Iya dong, ini tadi sekedar buat ngebersihin saja. Baru di tetesin obat yang ini.” jawab Fatimah menunjukan kembeng samber nyawanya.


Aah kirain udah dikasih yang itu, aku jadi agak deg degan ketika mau di tetesin kembang itu lagi.


“Duh perih banget gak ya Fat ?” tanyaku sambil menhan tangan Fatimah yang sudah siap mengobati aku.


“Ayolah mas, jangan begitu biar lekas pulih dan bisa baca Quran lagi.” Ucap Fatimah menyingkirkan tanaganku yang menahanya.


“Yang kanan dulu saja yang gak terlalu sakit kemarin.” Pintaku pada Fatimah.


“Uuuh masih perih banget yang kiri.” Kataku.


“Jangan dikuecek lo mas bahaya, ditahan saja biarin keluar sendiri racunya bersama air mata mas.” Ucap Fatimah berusaha menenagkan aku.


Meski sakitnya masih terasa gak beda jauh dari sebelumnya, namun ketika yang mengobati Fatimah istriku aku bisa merasa lebih tenang dari pada yang ngobati orang lain. Karena bisa negosiasi dan yang jelas saat terasa perih gak sungkan meluk dia sebagai penenang diri.


Singkat cerita ketika waktu berangkat ke persidangan sudah tiba aku Rofiq, dan Sena bersiap untuk berangkat ke Kantor Pengadilan.


Sebelumnya Yuyut memberikan pesan pesan dahulu.


“Nanti saat sidang berlangsung kalian harus tetap waspada, firasat Yuyut mengatakan masih mungkin ada gangguan kecil yang bisa rugikan kalian. Dan Rofiq kamu hati hati, dalam hal ini kamu masih labil, bawalah rajah ini sebagai sarana saja agar kamu tidak diganggu makhluk ghoib.” Kata Yuyut menyerahkan bungkusan kain kecil yang dijahit berisi rajah doa tertentu.


Kemudian kami bertiga berangkat dengan mobil Sena menuju ke kantor pengadilan. Untuk keamanan dirumah masih ada yuyut dan Khotimah jadi aku bisa berangkat dengan tenang.


Sampai dilokasi masih agak sepi, karena dari pihak lawan belum ada yag datang, aku bertiga masuk keruang sidang dan duduk dikursi tunggu. Suasana cukup mencekam karena sidang dinyatakan terbuka untuk umum.


Ada perasaan khawatir atau was was juga yang menghinggapi hatiku. Bagaimana nasip Rofiq nanti ketika dia mengakui sudah memebrikan keterangan palsu pada saat awal sidang. Yang menyeretku kedalam kasus ini, dan sekarang berusaha melepaskan aku dari tuduhan itu. kemudian menceritakan siapa yang telah membayarnya untuk melakukan keterangan palsu tersebut.


Meskipun kami bertiga dijaga ketat oleh petugas namun aku tetap merasakan was was seakan ada yang sedang mengawasi kami bertiga. Kemudian aku memberikan kode kepada Sena untuk meningkatkan kewaspadaan diri.


Sena yang tanggap segera memejamkan mata sebentar dan mengatakan jika dia merasakan kehadiran seseorang yang berniat tidak baik. kemudian akupun segera membuka lathoif Nafsiku, dalam pandangan batinku aku melihat hadir Anggada yang dulu pernh duel dirumahku saat dia mencoba mengusik ketenangan keluargaku. Dalam pandanganku ternyata Anggada mengalami cacat tangannya yang dulu terkena pukulan double stick ku.


Tapi dia membawa seseorang yang tidak aku kenal nampaknya dia masih menaruh dendam padaku dan kana membuat perhitungan balas dendam kepadaku dengan membawa temannya, pikirku.


Tak apalah ruand sidang juga sudah mulai ramai pengunjung yang akan mengikuti jalanya sidang. Ada yang menarik perhatianku yaitu kehadiran keluarga korban yang langsung menghampiriku dan Rofiq. Bahkan dia menyalami aku dan beramah tamah sebentar denganku.


“Bagaimana kabarnya mas, semoga kasus ini cepat selesai dan mas Yasin cepat  lainya sesuai agama dan  lepas dari ksus ini.” ucap ayah korban.


“Terimakasih pak doanya, kita ikuti saja persidangan ini dan semoga kebenaran bisa segera terungkap. Sehingga jelas mana yang benar dan mana yang salah.” Jawabku.


Kemudian para Hakim dan semua petugas pengadilan masuk dan menduduki tempatnya masing masing.

__ADS_1


Kemudian pembukaan sidang dilanjutkan dengan pembacaan sumpah bagi Saksi dan keyakinan masing masing.


*****


Di padepokan Joyo Maruto


Author Pov


Joyo Maruto yang masih menunggui Mento Rogo yang masih tergeletak lemah meski sudah sadar tapi masih mengerang kesakitan karena belum diobati dengan ritual khusus oleh joyo Maruto.


Dengan pelan pelan Mento Rogo menceritakan kejadian yang menimpanya sehingga bisa diketahui kehadiranya oleh keluarga yasin.


Dengan sesekali berhenti karena harus menahan rasa sakit akibat pukulan yang dilakukan Rofiq dan Akibat luka bakar yang menggalkan luka melepuh pada sebagian kulit dan juga kepalanya yang nyaris menghabiskan rambutnya juga.


“Ini tidak bisa dibiarkan. Kita harus membuat perhitungan denga mereka semua. Aku tidak akan membiarkan Yasin bisa tersenyum bahagia sementara muridku menderita seperti ini.” Ucap Joyo Maruto sambil mengepal bgepalkan tanganya.


“Saya juga punya Dendam khusus karena murid saya Anggada juga sampai cacat tanganya.” Sahut Maheso Suro.


“Kalo begitu, sekarang kita bertindak atas nama balas dendam bukan lagi sebagai tenaga bayaran. Jika kemarin dilarang membunuh Yasin karena akan di jadikan tersangka dan dipaksa mengaku dengan menculik keluarganya. Maka sekarang kita lepas dari itu semua, target kita sekarang adalah balas dendam menghabis yasi. Apa ada yang tidak setuju ?” sahut Ajar Panggiring.


“Bagaimana dengan perjanjian kita dengan orang yang membayar kita kemarin ?” Tanya si Soma.


“Persetan dengan itu semua, apa kamu gak lihat kakak seperguruanku samapai begitu. Kemudian Anggada murid Ki Maheso juga jadi cacat. Apakah kamu maih mikirin perjanjian itu ?” bentak Ajar Paanggiring pada si Soma.


“Sudah, kalo pertimbanganya hanya uang banyak yang akan membayar kita untuk melakukan sesuatu. Jadi aku setuju abaikan perjanjian itu. soal uang yang sudah kalian terima, anggap saja itu jerih payah kalian selama ini. dan sekarang konsenlah dengan misi baru kita misi balas dendam.” Ucap Joyo Maruto.


Suasana hening tak ada yang berani berkata membantah, takut dengan Joyo Maruto. Akhirnya semua terpaksa menyetujui. Bahkan Maheso Suro pun hanya tunduk pada Joyo Maruto. Dan kepemimpinan sekarang berpindah dri Maheso suru ke Joyo Maruto.


“Lantas bagaimana dengan anak buahku yang aku minta mendatangi sidang itu, apakah harus saya suruh pulang atau gimana ki Joyo ?” Tanya Maheso Suro.


“Tidak usah suruh pulang, kalo perlu kamu temani sekarang pancing agar Yasin mau keluar. Aku Yakin pukulanku semalam cukup membuat dia kesakitan. Jika bisa memncing dia keluar kita habisin anak itu, kemudian gentian aku yang akan berhaapan dengan musuh  besarku Siti Aminah.” Ucap joyo Maruto.


Akhirnya semua sepakat untuk merubah misi bersama cari uang sekarang misinya adlah balas dendam.


Jika kemarin mereka menyerang Yasin sekedar gertakan maka sekarang mereka sepakat menerang yasin dengan tujuan balas dendam jika Yasin terpaksa harus dibunuh pun  mereka tak segan lagi untuk melakukan itu.


Kemudian Maheso Suro disuruh menyusul muridnya Anggada untuk memancing Yasin keluar.


Maka berangkatlah Maheso Suro untuk memancing agar Yasin mengejarnya dan akan dibawa ke suatu tempat yang sudah disepakati. Dan disana Yasin nanti akan dihabisi beramai ramai oleh kelomoknya Joyo Maruto…..?!?


...bersambung...


Terimakasih atas dukungan dari Readers semuanya.


Komentar readers semangat Author


Author akan berusaha terus memperbaiki, bahasa retorika dan lainya.


Semoga dapat menghibur Readers semua.


...Jangan lupa dukungan berupa :...


...Like...


...Komen...


...&...


...Vote nya...


...Terimakasih...


...🙏🙏🙏...


 


 

__ADS_1


__ADS_2