
Bagian akhir episode lalu
" Ya Allah mas, begitu berat ternyata ujianmu dan Fatimah...!?! " Teriak Isti disertai isak tangisnya.
" Bagiku gak masalah Is, ku anggap itu kafarotku atas dosa dosa masa laluku. Tapi Fatimah istriku jadi ikut menanggung akibat dari perbuatanku itu yg aku sedih. " kataku yg ikut larut dengan keharuan Isti.
" Terus mas bisa sembuh dari luka bakar, gimana ceritanya ? " Tanya Isti kemudian.
" Itu semua tidak lepas dari peran Abah guru Is ! " jawabku.
" Peran Abah ? " Tanya Isti minta penjelasan.
Kemudian aku ceritakan saat aku terbakar di gubuk dan dibawa ke pondok.
...............
...flashback...
Aaah kok kepalaku pusing dan badan serta wajahku panas sekali.. ? " keluhku
" .Jangan banyak gerak dulu, kamu habis dicelakai Aki Japra " kata kang Salim.
Si Japra....? Jadi semalam itu beneran si japra... ?
" Certinya gimana kang Salim " tanyaku.
" Saat kamu lagi wirit, gubuk dibakar japra. Untuk ketahuan anak anak, kamu bia ditolong dan japra bisa diringkus "terang kang Salim.
Aku tidak tertarik bahas japra, iblis berbentuk manusia itu.
" Terus Aku lulus gak kang ? " tanyaku.
" lulus sih, tapi pulangnya ya tetep nunggu sembuh, dan kamu ceritakan dulu kejadian malam itu gimana " pinta kang Salim.
Akupun cerikan semua yg terjadi, dari kemunculan perempuan, macan sampai si japra... ?
Kang Salim mendengarkan dengan seksama.
" Iya intinya kamu lemah dalam psikogis karena Trauma masa lalu. kalo soal pasrah / tawakalnya udah bagus.
Lebih banyak dzkir, biar hatimu makin lembut. " kata kang Salim.
"Iya kang, terus berapa hari aku bisa sembuh ini kang ? " tanyaku.
" Kalo pastnya Wallahu a' lam, kalo yg trrbakar hanyakulit ari, paling besuk udah sembuh " jawab kang salim.
" Ya mudah mudan kang, aku kepikiran dusunku, gimana keadaanya... ? " kataku.
" Udah tenang saja, masih terpantau, tapi.... " kata kang Salim terpotong.
" Tapi apa kang ? sergahku.
" Masalah akan timbul saat kau pulang nanti. Dan kamu harus sabar. jika nanti ada fitnah besar untukmu.Tapi fitnah itu jadi tolok ukur bahwa tugasmu akan selesai. Dan Fitnah itu dari manusia.
" Makanya yg bisa melukaimu si japra, manusia bukan yg lain. Kan aku sudah kasih clue hati hati japra, mungkin dendam xsama kamu." kata kang Salim
Aku baru ingat, kang Salim sudah mengngatkan itu.. Yaudah, sudah terlanjut.... !
" Ini diobatin apa kang wajahku, kok warnanya putih putih.." tanyaku
" Owh itu tepung terigu..." sahut teh Atikah.
" Haah.... tepung terigu ? Kayak tempe mendoan ditempat istriku dong teh. ditepungin, hehehe... adduuh..." gurauku.
Gurauku sambil nahan sakit.
" Allaaah.. bilang aja udah kangen istri tuh.... " sahut teh Atikah
Teh Atikah menimpali gurauanku...
Badanku sampai berguncang nahan tawa.
Sementara kang Salim hanya senyum senyum.
" Kamu ini... Lagi sakit juga masih aja bercanda. Tepung terigu itu bagus buat luka bakar, kalo gak sampai bag dalam ( ke kulit jangat ) hanya kulit arinya yg terbakar. Biar gak melepuh, ntar kalo melepuh wajahmu jd kaya monster. Boro boro istrimu kangen, lihat juga jadi takut..." kata kang Salim
Semua yg disitu jadi tertawa, bisa juga kang Salim bercanda pikirku. Tapi benarkah, kulitku gak melepuh nanti ?
Kalo melepuh terus beneran jadi kayak monster kasihan Fatimah istriku.
Aku jadi kepikiran yg tidak tidak.
Sudah bekas luka lukaku yg ada aja bikin kurang nyaman bagiku ( kalo lg kumpul sama istri, up's.. keceplosan lagi.
Apa lagi kalo sampai luka bakar ini meninggalkan bekas yg.
Aduuuh gak tahu deh entar.
" Tuh jatah buat bikin lauk anak anak, malah buat obatin kamu. Tar anak anak makan gak pakai lauk tempe tepung daah...."seloroh Teh Atikah.
Membuat aku tersenyum geli, meski menahan sakit panas dan perih..
Tapi yg lebih menyakitkan lagi jika ternyata kulitku jadi benar benar melepuh...
Gak kebayang gimana jadinya nanti.
Tidak terasa air mataku menetes, untung tidak begitu nampak. Karena terserap borehan tepung terigu yg mirip maskeran cewek atau ibu ibu.
Kayak apa ya penampakan wajahku sat itu ???
" Tu si Japra mau diapain, sekarang masih disekap anak anak... ? " tanya kang Salim.
Tanya kang Salim padaku.
" Udah lepasin saja kang, aku malas berhubungan dengan orang itu. Lihat orangnya saja udah enneg.... " jawabku.
__ADS_1
Marah banget sih sama dia, tapi rasanya rugi kalo aku melampiaskan amarahku. Juga gak akan merubah keadaan.
Lebih baik memikirkan kondisiku biar cepet sembuh dan pulih seperti semula.
Satu persatu mereka meninggalkanku.
Saat sendiri itu aku gunakan untuk merenungi apa yg terjadi.
Dari awal, kang Salim sudah mengingatkan aku.
Godaan akan datang dari Jin dan manusia.
Hati hati dengan japra, yg mungkin menaruh dendam padaku.
Semuanya terbukti, hanya aku yg kurang tanggap saja.
Tapi kenapa japra memilih membakar gubuk itu ? Bukan menghampiri aku, menusukku atau memukulku atau yg lain....? Kenapa memilih membakar aku hidup hidup... ?
Itu harus aku selidiki atau tanyakan nanti pada kang Salim.
Sungguh jenuh, hanya bisa berbaring, tak dapat berdiri dan jalan jalan....!
Aaah.... semalam, Semua penampakan tidak membuatku takut dan goyah...
Dari yg berujut hantu kuntilanak, pocong dan sebagainya.
Tapi kenapa ketika berujut Arum daan Fatimah membuat kesadaranku hilang....?
Sekuat apapun aku mengontrol keadaan, akhirnya gagal / hampir saja gagal....?!?
Saat sakit itu menyerang fisiku, aku masih bisa mengontrol.
Tapi kenapa, saat perasaanku yg diserang aku tak mampu bertahan.
Ini juga harus aku tanyakan kepada kang Salim.
Apakah ini termasuk karma ?
Atau balasan atas dosa dan kesalahanku dimasa lalu...?
Aaahh... Kenapa juga dulu gak bisa membedakan mana yg baik mana yg buruk...?
Kenapa juga nasehat nasehat baik dulu kudengar, justru aku abaikan...?
Dulu karena keangkuhan & kesombonganku merasa tak ada sesuatupun yg bisa menghalangi keinginanku.
.....
Lama merenung.
Antara Sadar dan tidak
Seperti melihat kehadiran Abah guruku.
Dan saat itu juga tiba tiba tubuhku jadi kaku. Lidahku pun kelu, tak mampu mengucapkan salam untuk bliau.
Abah berdiri mendangi tubuhku daeri kepala sampai ke kaki.
Kemudian tampak memanjatkan doa sebentar, kemudian tangan beliau Tampak mengambil sesuat dari tubuhku. Dan memasukkan sesuatu itu dalam sebuah pundi.
Kemudia mengeluarkan pundi yang lain, dan mengeluarkan sesuatu dari pundi itu.
Kemudian memasukkan isi pundi itu dalam tubuhku.
Sesaat kemudian, Abah mengambil surban nya, kemudian di tutupkan kewajahku. Beliau tarik kebawah sampai melewati kakiku.
Saat lidahku bisa berucap dan tubuhku kembali bisa bergerak.
Abah sudah Tak nampak lagi.
" Baaah.... " sapaku
.................
...flashback off...
" Terus Abah bilang apa mas ? " Tanya Isti antusias banget.
" Gak usah melotot juga kali Is tar jatuh cinta ma aku loh ! " Godaku ke Isti.
" Dasar kamu mas, lagi serius juga. Isti tu baru saja kagum dengan perjuanganmu. Malah bikin ilfill ! " Bentak Isti kesal.
" Santai Is, jangan dimasukin hati tar jatuh cinta beneran repot ! " kelakarku.
Tak kuduga Isti ngambek beneran, Kakiku ditendang pas tulang keringku.
" Adduuh sakit Is..! " Keluhku.
" Gak usah nyebelin gitu ah mas, lagi serius juga ! " Seru Isti dengan mimik serius.
" Iya iya ah, aku gak bisa kalo terlalu serius. Masalah apapun kubawa selow saja Is.. " kilahku.
Kemudian aku ceritakan sampai tuntas apa yg terjadi dan kualami di pondok kang Salim. Sampai dengan cerita teh Atikah tentang kronologis aku dinikahkan dengan Fatimah. Berikut Alasan aku dipisahkan dengan Eis dan justru dinikahkan dengan Fatimah.
__ADS_1
Isti yg semula cemberut aku jahilin, saat itu berubah sendu. Bahkan matanya berkaca kaca.
" Owh jadi itu alasan Mas dinikahkan dengan Fatimah. Yang sempat menimbulkan Dhon ( prasangka ) yg gak baik pada mas dan Fatimah. Isti baru tahu sekarang mas. Maaf dulu sempat berburuk sangka. ! " Ucap Isti disela derai air matanya.
" Udah santai saja, gak usah nangis gitu kali. Jadi jelek kamu kalo nangis, wkakaka ! " kelakarku.
Isti jadi sewot dan berkata,
" Mas tu aneh banget, lagi ngomongin hal serius gitu masih aja bisa bercanda. Kayak gak punya perasaan saja, semua dianggap enteng. " Seru Isti sambil bersungut marah.
Bukanya aku gak berperasaan, aku hanya gak ingin larut dengan susana haru. Jadi memang sengaja aku buat suasana canda meski membahas hal yg serius.
" Ok Isti, jadi intinya seperti itu. Aku menangani hal hal yg berbau mistis, lalu Fatimah aku amankan dulu dirumah mertua. " Ucapku mulai serius.
" Jadi Fatimah beneran mau mas jemput ? " Tanya Isti meyakinkan.
" Iya besuk, jadi pas sidang besuk aku gak bisa dampingi kamu dan Rofiq kakakmu. Dan sementara kamu tinggal dirumah pak Yadi. Nanti kalo aku sudah pulang bareng Istriku, baru kamu dan ibumu tinggal dirumahku. Ikut bantuin doa melawan makhluk astral dengan Fatimah dan anak anak. " Jelasku pada Isti.
" Apa tidak memberatkan kalian mas ? Dengan kehadiran Isti dan ibukku di rumahmu ? " Tanya Isti yg tampak ragu.
" Kamu anggap aku dan Fatimah itu saudara bukan ? " tanyaku.
" Ya pasti lah mas, kaliyan saudaraku Insya Allah dunia akhirat kita saudara mas ! " ucap Isti serius.
" Kalo begitu, jangan sekali kali bilang merepotkan. Jika anggap kami saudaramu, jujur aku gak suka kau bilang gitu " Tegasku agar Isti tidak sungkan. Isti terdiam sesaat memikirkan ucapanku.
" Kamu itu karakter aneh banget mas. Satu sisi Isti sebenarnya sebel sikapmu yg selengekan. Tapi sisi lain Isti haru dengan sifat dan sikapmu. " Komentar Isti tentang diriku.
" Sebenarnya gak gitu Is, yg ada kamu yg masih terlalu polos. Sehingga belum faham betul kehidupan di dunia luar. " Jelasku pada Isti.
" Maksutnya ? " tanya Isti.
" To the point aja aku jelasin ! " Kataku pada Isti.
Kemudian aku masuk pada point bahwa Isti dalam bahaya. Jadi target penculikan, untuk di jadikan sandera. Demi mencapai tujuan pelaku utama pembunuhan agar bebas. Dengan menekan salah satu saksi kuncinya, yaitu Rofiq kakak Isti. Situasi itu dimanfaatkan oleh saingan Rofiq si Gembul yg punya dendam pribadi dengan Rofiq.
Sekaligus memang profesinya seorang Germo. Atau penyedia / pensuplay wanita yg dijadikan PSK. Aku juga bilang, jika menurut info dari pak Yadi kasus mistis yg terjadi ada kaitanya dengan kasus ini.
Aku melihat raut wajah Isti yg tampak sangat ketakutan. Wajahnya pun jadi pucat, bahkan tanganya gemetar hebat.
" Mas gak sedang nakut nakutin Isti kan ? " Tanya Isti dengan suara gemetar.
" Kamu lihat wajahku, apa tampak kebohongan diwajahku Isti ? " Aku balik bertanya pada Isti.
" Tidak sih mas, tapi Isti ngeri saja dengerin cerita mas Yasin. " Jawab Isti gemetaran.
" Itulah Is dunia luar pesantren yg penuh dinamika. Yang mungkin bagi orang sepertimu hanya pernah dengar dan baca berita. Tapi bagi aku dan kakakmu Rofiq, pernah masuk dalam lingkaran setan tersebut ! " Jawabku menjelaskan Isti.
" Terus Isti harus bagaimana mas Yasin ? " Tanya Isti lanjut.
" Kamu ikuti saja apa yg disarankan pak Yadi. Dan apa yg akan direncanakan nanti. Yang pasti, aku juga tidak akan tinggal diam. Karena kakak kandungmu baru dalam tahanan karena aku. Maka aku yg akan mengambil alih tugasnya ! " Jelasku menghibur dan menenangkan Isti.
Saat kami sedang ngobrol aku lihat serombongan orang yg gelagatnya tidak baik.
Aku bilang ke Isti untuk segera kembali masuk ke polda. Setelah membayar makan kami pun meninggalkan warung. Tapi rombongan orang itu mengejar kami.
Kemudian Isti aku suruh lari duluan.
" Kamu lari masuk cepat, biar kuhadang mereka ! " perintahku pada Isti.
" Tapi mereka banyak mas ! " kata Isti.
" Udah jangan bandel cepat lari ! " Aku berkata membentak.
Isti pun segera lari, aku mencoba menghalangi 2 orang terdepan yg mengejar.
Seorang diantaranya membawa doble stick senjata ala bruce lee.
Dan satunya membawa golok kecil.
Benar kata pak Yadi, Keluarga Rofiq dalam ancaman, batinku.
Ketika dua orang semakin dekat, kutengok Isti sudah memasuki hal polda aku agak lega. Tinggal berpikir cara hadapi mereka.
Dua di depan harus ditahan dulu, supaya Isti Aman. Adanya hanya batu, yg bisa jadi senjata bertahan. Kumbil batu yg ada, ketika jarak semakin dekat segera kulempar batu itu kearah kaki salah satu orang itu.
Mengenai tulang kering kakinya hingga jatuh. Teman satunya menolong, aku berlari menghindar menyusul Isti.
Tapi tiba tiba ada orang dibelakang dua orang tersebut. Yang mengendarai motor berhasil menghadangku. Kemudian menghentikan aku, dengan menodongkan senjata tajamnya ke leherku.
Kulirik Isti sudah masuk bangunan polda, sudah aman pikirku.
Aku ikuti saja mau mereka.
" Ikut kami atau mati ! " Ancam orang itu.
" Ok, mau kaliyan apa ? " tanyaku.
" Ikat dia cepat bawa ke markas. " Perintahnya pada yg lain.
Tiba tiba tengkukku ada yg memukul.
Buukk....
Tiba tiba gelap, aku tak sadar.
.....................
...bersambung...
...Jangan lupa...
...Like...
...Komen...
__ADS_1
...Vote...
...Terimakasih...