
Episode 78
“ Sejauh ini aman, yang perlu dikhawatirkan jika musuh menggunakan kekerasan atau intimidasi ke Tuti. Tapi kalo itu tugas saya dan rekan rekan kepolisian pak. Bapak konsen di doa untuk Tuti dan lainya saja. Biar semuanya aman selalu."
“ Baik pak, saya juga akan berusaha sebaik mungkin, semoga semua bisa selamat."
“ Satu hal lagi pak, dari hasil pantauan kami, melalui pemantauan telpon masuk ke Tuti. Salah satu jaringan residivis, berada di dusun bapak. Tapi belum jelas siapa orangnya, hanya no hpnya yang tercatat. Beserta titik koordinatnya menunjukkan orang itu tadi berada di dusun bapak. Hati hati dengan orang sekitar, terutama pendatang baru, yang pura pura kos di dusun bapak.”
“ Orang di dusun ini ? no Hpnya tercatat pak ? Boleh saya minta untuk cek siapa dia ?” tanyaku ke pak Yadi.
Aku ada sedikit curiga apakah itu bapaknya Rendi, tapi kenapa dia yang yang telpon Tuti untuk membujuk Tuti, makin penasaran aku.
“ Mmmm boleh saja pak, tapi maaf, bapak tidak boleh ambil tindakan apapun. Karena kami sudah membuat sebuah rencana besar untuk ini.” Jawab pak Yadi.
Kemudian pak Yadi memberikan no hp yang dimaksut tadi. Kemudian aku cek ternyata no tersebut bukan no hp bapaknya Rendy. Meski bisa saja dia buat akun baru, dan sayangnya pp nya pun bukan wajah seseorang. Melainkan sebuah gambar angka 7 dengan tulisan dengan huruf Jawa dibawahnya.
Sayang aku gak bisa baca huruf jawa tersebut, meski aku asli orang jawa. Tapi aku harus tanyakan arti tulisan tersebut pada orang yang tahu.
“ Maaf pak Yadi, tadi saya sempat memikirkan seseorang di dusun ini tapi ternyata bukan dia. Dan kalo boleh nanya, pak Yadi tahu gak bacaan huruf jawa di pp itu. Barang kali bisa jadi petunjuk.” Tanyaku ke pak Yadi.
“ Itu juga yang baru saya selidiki pak, huruf jawa itu dan pp wa penelpon Tuti, semuanya sama pak. Semacam sebuah identitas kelompok, tapi apa artinya saya belum tahu.” Jawab pak Yadi.
“ Waduh, sayangnya saya gak bisa baca huruf jawanya pak, kalo bisa mungkin saya bisa mencari tahu makna dibalik symbol itu.” Kataku agak kecewa.
“ Tenang dulu pak, nanti saya tanyakan ke ibu saya, kalo ibu saya bisa membaca huruf jawa.” Kata pak Yadi.
“ Iya pak, soalnya dalam kalimat huruf jawa ini banyak menggunakan pasangan ( huruf pengganti dalam aksara jawa ) jadi saya kesulitan membaca. Kalo masih standart saya sedikit bisa mengeja.” kataku.
“ Mending itu Pak, saya malah sama sekali tidak bisa.” Kata pak Yadi.
Kami terdiam sejenak, meski telpon belum ditutup. Sama sama mengamati dan mencoba memahami arti symbol dari profile tersebut.
Angka 7 Tujuh, huruf pertama sih huruf MO ( aksara jawa ) kedu NO ketiga gak ngerti dan huruf berikutnya pun banyak yang gak ngerti. Jadi susah untuk mencoba merangkai menjadi sebuah kalimat yang bermakna.
Yang aku tahu di huruf terakhir aksara jawa tersebut adalah huruf TO ( T dalam aksara jawa ) dengan ada tanda wulu ( tanda diatas huruf ) berarti dibaca Ti disuku kata terakhir kalimat. Hanya itu sementara yang mampu aku baca dari susunan huruf jawa tersebut.
“ Gimana pak Yadi, ada gambaran makna dari symbol tersebut ?” tanyaku pada pak Yadi.
“ Wah Buntu pak, sama sekali saya gak faham.” Jawab pak Yadi.
“ Saya juga Pak, belum mampu memecahkan teka teki tersebut.” Sahutku.
“ Ini harus melibatkan sesepuh pak, kita harus mengakui kita punya kekurangan. Sebagai orang jawa gak bisa membaca aksara ( huruf ) Jawa.” Kata pak Yadi.
Kami berdua jadi tertawa, menyadari kebodohan kami.
“ Yaudah pak, begitu saja dulu, assalaamu ‘alaikum…!” ucap pak Yadi mengakhiri telpon.
“ Wa ‘alaikummussalam.” Jawabku.
Selesai telpon aku kembali mengamati huruf Jawa tersebut, tetapi tetap saja belum mampu memecahkan teka teki tersebut.
“ Lihatin apa sih mas, kok kayaknya serius banget ?” Tanya Fatimah istriku.
“ Ini mencoba memahami huruf jawa, apa kamu bisa membaca ?” tanyaku.
“ Gak bisa mas.” Jawabnya.
“ Coba Tanya ibuku mas, mungkin bisa.” Kata Isti.
“ Iya juga ya, tolong kamu tanyain Is, apa maknanya kalimat huruf jawa tersebut.” Pintaku. Sambil menyerahkan hp ku ke Isti.
Kemudian Isti masuk kekamar ibunya untuk menanyakan bacaan dan makna yang terkandung didalam kalimat tersebut.
Sesaat kemudian Isti datang dan kembali duduk diruang tamu disamping Fatimah istriku.
“ Apa kata ibu Is ?” tanyaku.
“ Kok artinya mengerikan ya, * Manunggaling Kawulo Gusti* kayak sebuah aliran yang salah memahami ajaranya syaikh Siti Jenar ?” kata Isti.
“Apa, Manunggaling Kawulo Gusti ? ajaran tersebut banyak orang yang salah dalam memahami, bukan ajaranya yang salah. Tapi pemahaman orangnya dan cara mengamalkanya yang salah.” Jawabku.
“ Maksut mas Yasin ?” Tanya Fatimah dan Isti bersamaan.
“ Manunggaling Kawulo Gusti itu kan ajaran Sufi, penjabaran dari kalimah thoyibah Laa illaha illallah mengakui semua yang terjadi itu atas kehendak Allah. Bukan menyatu ( Manunggal ) seperti dua benda menjadi satu, tapi seperti bubuk besi yg menempel pada magnet. Terlalu panjang jika dijabarkan. Tapi sebagian orang menganggap Manunggaling kawulo Gusti itu diartikan bahwa orang yang sudah Manunggal itu bebas dari Syariat.” Jawabku.
“ Bebas dari syariat bagaimana maksutnya ?” Tanya Isti lebih Lanjut.
“ Dia merasa sudah manunggal dengan sang Pencipta, jadi merasa bebas melakukan apa saja tidak terikat hukum halal haram. Karena dia menganggap dialah hukum, dialah yang menentukan hukum.” Penjelasan lanjutku.
“ Berarti orang yang begitu sesat dong mas ?” kata Fatimah.
“ Ya jelas sesat, tapi kalo manunuggaling kawulo Gusti dengan pemahaman yang benar tidak seperti itu. Manunggal yang dimaksut adalah menyatukan diri dan jiwanya dengan semua ketentuan Allah, mentaati semua perintah dan menjauhi semua larangan-Nya.” Kataku.
“ Memang ada yang seperti itu ?” Tanya Isti.
“ Ada lah Is, tapi memang kebanyakan yang salah mengartikan dan memahami.” Jawabku.
“ Ciri cirri perbedaanya apa mas ?” Tanya Isti lagi.
__ADS_1
“ Jika orang Muslim yang sudah merasa tidak perlu puasa Ramadhan, tidak perlu sholat lima waktu itu jelas Sesat.” Jawabku.
“ Namun jika masih menganggap itu wajib, Insya Allah dia gak sesat.” Lanjutku.
“ Berarti orang yang memusuhi kita dari kelompok itu mas ?” Tanya Fatimah.
“ Analisa sementaraku begitu, tapi tunggu dulu disitu ada angka tujuh. Mungkin juga bermakna bersatunya 7 ( Tujuh ) aliran kebatinan / perguruan menjadi satu kesatuan untuk melawan kita. Masih terlalu dini untuk menyimpulkan.” Kataku.
Tak terasa kumandang Adzan pertanda masuk waktu asar sudah terdengar.
“ Kamu kumpulkan semua, kita jamaah Sholat Asar, semua yang tidak berhalangan. Termasuk Sidiq, ajak dia Sholat biar kenal Sholat dulu. Agar membekas di hatinya, supaya kelak mau mendirikan Sholat.” Kataku sambil bangkit untuk ambil air wudhu.
Saat semua sudah berkumpul, termasuk Fanani dan kawanya kami segera melaksanakan sholat Asar.
Selesai Sholat asar Arum memarahi Sidiq, karena main main saat Sholat.
“ Sidiq gak boleh ikutan kalo Cuma main main !” ucap Arum.
“ Jangan begitu mbak Arum, namanya anak anak biasa begitu. Kasih pengertian saja jangan dilarang !” sahut Isti.
“ Ya gak enak kan ganggu yang lain jadi pada gak khusuk Is. “ jawab Arum.
Aku biarin saja mereka berdebat, sambil melihat respon kedua belah pihak.
“ Gak ngaruh mbak, gak ada Sidiqpun kita juga belum bisa khusuk kok. Dan memang anak seusia Sidiq itu sudah harus di kenalkan Sholat, istilahnya sudah Tamzys ( tidak pipis disembarang tempat ) sudah harus dikenalkan.” Jawab Isti.
“ Begitukah,,, kalo yang lain jadi terganggu gimana ?”
“ Pertama harus maklum, itu adalah anak kecil, yang akan melanjutkan kita bersujud pada Allah. Kedua itu salah satu cara mendidik anak anak untuk mengenalkan sholat.” Terang Isti.
“ Owh begitu, maaf Arum gak tahu soalnya.” Kata Arum.
“ Gak papa mbak, kita sama sama belajar.” Jawab Isti.
“ Nah begitu saling berbagi, kan enak di dengernya.” Sahutku.
“ Ini tugasmu mendidik Sidiq mas, biar dia jadi anak yang baik !” kata Isti.
“ Iya, makanya aku ajak untuk ikut jamaah.” Jawabku.
Sering kali sehabis jamaah sholat dikeluarga, dilanjutkan dengan dialog ringan seperti itu. Aku merasa bersukur karena dari dialog seperti itu bisa saling mengisi dan melengkapi.
Ketika sebagian sudah meninggalkan tempat sholat tinggalah aku, Istriku, Arum Isti dan Khotimah. Melanjutkan pembicaraan sebelumnya tadi.
“ Jadi bagaimana dengan yang disampaikan pak Yadi tadi mas ?” Tanya Fatimah istriku.
“ Owwh iya, ada berita bagus Is besuk kakakmu Rofiq sudah bisa bergabung disini bersama kita.” Kataku pada Isti.
“ Gak besuk diantar pak Yadi kesini, kamu sama ibu tetep belum boleh keluar dulu.” Jawabku.
“ Mas Ibu Isti pingin jadah tempe sebenarnya, besuk bisa minta tolong siapa buat beliin ?” Tanya Isti.
“ Kenapa gak bilang dari kemarin, apa perlu aku beliin sekarang ?” kataku.
“ Gak usah besuk saja, sekalian buat menyediakan buat mas Rofiq. Dia dulu sukanya itu.” Kata Isti.
“ Iya boleh, sekarang banyak yg jualan kok. Sepanjang jalan.” Kataku.
“ Owh iya mas, mau dibuatin apa buat buka puasa nanti ?”Tanya Fatimah.
“ Bikin teh manis aja, sama gorengan gak usah macem macem.” Jawabku.
“ Kamu puasa mas ? Puasa apa ?” Tanya Arum.
“puasa sunnah lagi pingin puasa saja kok.” Jawabku.
Kemudian Isti dan Khotimah menyiapkan sesuau di dapur untuk persiapan aku buka puasa.
“ Besuk kita mau puasa, ikut gak Rum “ Tanya Fatimah pada Arum.
“ Boleh deh, pingin ikut puasa juga. Niatnya gimana ?” Tanya Arum.
“ Ya niat puasa sunah saja buat taqorub ilallah ” Jawab Fatimah.
“ Apa itu ?” Tanya Arum.
“ Mendekatkan diri pada Allah maksutnya Rum.” Aku yang menjawab.
Tiba tiba Sidiq ikut bicara “ Sidiq juga ikut ya mah ?”
“ Ikut apa Sidiq ?” tanyaku.
“ Ikut taqorub juga.” Jawab Sidiq polos.
Kamipun jadi tertawa mendengar perkataan bocah polos itu.
Sampai waktu maghrib datang, aku segera membatalkan puasa ditemani orang orang terdekatku. Kemudian melaksanakan Sholat Maghrib berjamaah. Dan wirid sebentar sambil menunggu Isya.
...***********...
__ADS_1
Pak Yadi POV
“ Hampir maghrib, mending aku pulang habis maghrib sekaliyan. Banyak sekali informasi masuk. Artinya pancingan berhasil.” Gumamku.
Setelah selesai membackup data informasi dan melaksanakan Sholat maghrib aku segera pulang. Sesampai dirumah baru saja duduk dan meminum kopi buatan Istriku, dilayar hp monitoring signal pak Yasin kulihat no yang mencurigakan tadi menghubungi pak Yasin.
“ Siapa Orang ini, titik koordinatnya juga di dusun pak Yasin. Apakah pak Yasin juga mengenal orang ini ? bahaya jika pak Yasin tidak menyadari hal tersebut.” Bisikku dalam hati.
“ Ada apa pak, kok wajahnya jadi tegang begitu ?” Tanya Siska Istriku.
“ Owh ini bu, ada yang mengancam keselamatan pak Yasin dan keluarganya. Tapi pak Yasin belum menyadari. Nanti aku mau kerumah pak Yasin sebentar boleh ya ?” tanyaku pada Istriku.
“ Tapi gak nginep sana kan pak ?” Tanya Siska.
“ Gak lah, disana juga penuh orang. Kasihan pak Yasin sekarang menanggung banyak kepala dirumahnya.” Jawabku.
“ Memang gak ada Subsidi untuk itu pak ?”
“Ada sih, tapi dana nya belum turun juga, pak Yasin sih gak mengeluh tapi aku yang gak enak.” Jawabku.
“ Kalo begitu, nanti bawain beras sama apa, kan anak buah bapak juga disana makan minum disana.” Ucap Siska Istriku.
“ Iya ya, siapin saja beras sama kopi dan gula juga mie instan pasti bermanfaat disana.” Jawabku.
“ Iya pak, tapi nanti pulangnya jangan terlalu larut ya, Siska sekarang sering takut kalo dikamar sendirian.” Kata Siska Istriku.
Aku cukup tanggap dengan maksutnya, semenjak ngobrol dengan pak Yasin dulu itu sikap Istriku banyak berubah tidak kaku lagi seperti dulu. Pak Yasin memang punya pengalaman lebih soal wanita dibanding aku. Sampai sampai mantan pacarnya saja bisa tinggal serumah tanpa ada masalah, bagiku itu cukup gila. Gak bisa membayangkan jika itu terjadi padaku, bagaimana Siska akan mengamuk. Namun ternyata tidak bagi pak Yasin dan Istrinya.
Entah yang luar biasa itu pak Yasin atau Istrinya, aku juga gak tahu, bisikku dalam hati.
“ kok malah melamun sih pak ?” kata Siska istriku.
“ Gak kok, Cuma inget pak Yasin saja ?” kataku.
“ Inget pak Yasin atau inget yang dirumah pak Yasin ni ?” Tanya istriku sewot.
“ Gak lah, kan aku udah punya kamu Siska !” jawabku meniru gaya pak Yasin.
“ Kirain mulai genit, ngikutin pak Yasin jaman dulu !” ucap Siska.
“ Gak dong, pak Yasin saja sudah berhenti masa aku mau ngikutin.” Jawabku.
“ Iya deh Siska percaya, tapi awas kalo bohong !” seru siska.
Siska mengajak makan dulu sebelum aku berangkat kerumah pak Yasin. Aku perkirakan saja nanti sampai habis mujahadah, kalo mengejar ikut mujahadah gak akan cukup waktu.
Setelah makan Siska menyiapkan oleh oleh yang akan dibawa ketempat pak yasin. Kemudian aku segera berangkat kerumah pak Yasin.
Biar lebih cepat aku menggunakan sepeda motorku saja, dari pada bawa mobil dinas malah kelamaan nanti, bisikku dalam hati.
Pak Yadi POV end
...*********...
Yasin POV
setelah melaksanakan Sholat Isya, sebelum memulai mujahadah aku makan sebentar. Karena tadi buka puasa baru minum dan makan gorengan. Saat baru makan tiba tiba terdengar suara Hpku bordering tanda panggilan masuk.
Aku segera mengambil Hpku, “ kok nomor yang diberikan pak Yadi tadi siapa dia ?” kataku dalam Hati.
Takut nanti pembicaraan memanas, aku keluar rumah untuk angkat telpon.
“ Assalaamu ‘alaikum, maaf dengan siapa saya bicara.”
“ Siapa aku itu gak penting. Yang jelas aku peringatkan kamu jangan macam macam. Aku sudah suruh orang bayaran untuk mengawasi rumah kamu. Jadi jangan melakukan hal hal yang bisa merugikan kamu.”
“ Hei pengecut… aku gak peduli siapa kamu. Jika kamu berani macam macam kamu yang akan aku habisi nanti.”
“ Ha ha ha… kamu saat ini ada didepan pintu kan, kalo aku mau bisa menembakmu dari sini. Karena jarak ku denganmu masih dalam jangkauan peluru.”
...bersambung...
Terimakasi atas dukungan dari Readers semuanya.
Author akan berusaha terus memperbaiki, bahasa retorika dan lainya.
Semoga dapat menghibur Readers semua.
...Jangan lupa dukungan berupa :...
...Like...
...Komen...
...&...
...Vote nya...
...Terimakasih...
__ADS_1
...🙏🙏🙏...