
🌷🌷🌷
Readers Tercinta, mohon maaf jika masih banyak tipo karena Auto teks ataupun murni salah ketik.
Semoga tetap bisa menghibur.
🌷🌷🌷
Selamat membaca
...........
Iya pak, ada hal lain, sebenarnya istri saya saat tahu saya makan bersama diwarung tidak langsung marah. Tapi mengawasi kami dan kemudian mengikuti kami.” Jawab Fanani.
“Terus kalian pergi kemana waktu itu ?” tanyaku menegaskan.
“Kami pergi ke sebuah penginapan pak, dan begitu kami masuk istri saya langsung menghampiri kami dan melabrak kami berdua dimuka orang banyak.” Jawab Fanani.
Hampir saja aku tak sanggup mengendalikan tanganku yang sudah kuangkat mau menampar wajah Fanani.
“Mas jangan dipukul…!” terdengar suara Khotimah yang teriak mencegahku menampar Fanani.
Aku menurunkan tanganku yang sudah gemetar menahan emosiku. Dan aku mengatur tarikan nafasku untuk menengankan diri.
“Kamu dengar ucapan Khotimah wanita yang kamu sakiti ? Itulah hati wanita, meski disakiti oleh orang yang dicintai dia tetap tidak tega melihat orang yang dicintai itu sakit. Meskipun jika aku menamparmu juga tidak akan sesakit hatinya Khotimah yang kamu beri harapan Palsu. Meski aku juga pernah menyakiti wanita, tapi gak separah kamu Fan. Ingat itu, jika ingin mengumbar nafsu semata jangan kepada wanita baik baik dan jangan mempermainkan hati wanita. Serta kamu harus berani bertanggung jawab dengan resiko yang timbul dari perbuatanmu.” Kataku menasehati Fanani.
Beberapa saat kemudian datnglah Fatimah dan Isti, Fatimah langsung memgang tanganku yang masih tampak mennggenggam kuat kepalan tanganku.
“Sudah mas, mas Yasin sudah janji gak kan memakai kekerasan dalam menangani masalah ini. Fatimah mohon mas. Itu Khotimah juga menangis melihatmu emosi tadi.” Ucap Fatimah.
“Iya mas gak akan menggunakan kekerasan kok, dan ini bukan soal Khotimah tapi masalah istri fanani yang telah dikhianati Fanani dengan wanita lain. Ternyata itu yang membuat istri fanani meninggalkan rumahnya.” Jawabku pada Fatimah.
Kemudian kulihat Isti meminta Fanani untuk menyingkir dulu, kemudian mengajak kau dan Fatimah masuk rumah.
“Kita bicarakan didalam saja, gak enak kalo ada orang lewat bicara disini dan juga suasana kan belum betul betul aman dari gangguan musuh musuh mas Yasin.” Kata Isti menyadarkanku dan segera mengajak semua masuk rumah.
Hampir saja aku lengah membiarkan Fatimah dan Isti ikut keluar rumah, jika masih ada sniper yang mengawasi bisa bisa aku menyesal seumur hidup jika terjadi sesuatu pada salah satu dari mereka.
“Jangan sampai mas mu Rofiq tahu masalah Fanani ini Is, aku takut dia juga ikut emosi malah bisa menyeretku emosi juga nanti.” Kataku pada Isti sesudah masuk kerumah.
“Iya mas, tenang saja, isti gak akan kasih tahu mas Rofiq.” Jawab Isti.
“Ada gak perkataan kang Salim yang membicarakan tentang cara menghadapi ilmu ‘Panggiring Sukma’ tersebut Is ?” tanyaku pada Isti.
“Ada sedikit mas, mas Yasin disuruh mengingat saat perjalanan menuju kepondok kang Salim sampai dengan kembali kerumah Fatimah. Perhatikan tiap detail kejadian yang mas alami karena semua kuncinya sudah diberikan kang Salim. Tinggal mas Yasin sendiri yang harus mencari kunci tiap permasalahan yang terjadi. Dengan kata lain, gunakan kemampuan mas Yasin dalam membaca ‘ISYAROH’ dengan teliti. Dan satu hal lagi pesann kang Salim, agar hati jernih hilangkan semua hal yang menjadi hijabnya hati. Karena ketajaman mata lahir tidak akan mampu melihat Isyaroh tersebut. Namun hanya dengan mata hati yang jernihlah mas Yasin bisa membacanya. Begitu pesan kang Salim.” Penjelasan Isti yang cukup panjang.
Aku terdiam sejenak memegangi kepalaku, cukup pusing mengurai teka teki dari kang Salim ini. banyak sekali kejadian yang aku alami. Dari membunuh ular yang ternyata jelmaan puetra mahkota Raja jin Sosro sukmo. Kemudian terkena racun jerat sukma, dipenjara dan digoda jin betina yang bernama Sukmini sampai dengan harus acting bercumbu dengan Sukmini untuk bisa kabur dan masih banyak lagi. Belum lagi setelah diselamatkan kang Salim dan digembleng kang Salim, begitu banyak peristiwa yang aku alami waktu itu.
Jangan jangan nanti Yuyutnya Fatimah juga menyuruh aku mengingat peristiwa dari awal aku datang dengan masih terluka dan kena racun kemudian diobati Yuyut sampai dibugil in sama Fatimah istriku untuk dilulur setelah sebelumnya di totok jln darahku oleh Fatimah dan ibunya.
Eeh iya istriku kan bisa ilmu totok darah juga, tapi bisakah dia jika hanya sendiri dan mengajari aku. Supaya kalo ada orang rumah yang terkena ilmu “Panggiring Sukma’ dan mau mencelakai yang lain bisa di totok agar tidak bisa bergerak. Aah aku baru ingat, mungkin ini juga slah satu cara juga.
“Eeh Fat, kamu kan pernah menotok jalan darahku hingga aku tak sadar dan tak bisa bergerak. Kamu masih bisa gak, dan bisa gak ngajarin aku ?” tanyaku pada Fatimah.
“Buat apa mas, Fatimah gak bisa kalo hanya sendiri Yuyut mungkin yang bisa. Ibu Fatimah juga gak bisa kalo sendiri. Karena harus menekan dua titik pembuluh darah secara kuat dan bersamaan.” Jawab Fatimah.
__ADS_1
“Yaah kirain kamu bisa melakukan sendirian.” Ucapku agak kecewa.
“Iya buat apa dulu ?” Tanya Fatimah lagi.”
“Bisa enggak sendiri ?” tanyaku.
“Gak bisa.” Jawab Fatimah singkat.
“Wah sayang sekali, padahal itu salah satu cara jika ada diantara kita yang kena ilmu ‘Panggiring Sukma’ maka harus ditotok jln darahnya agar tidak bisa bergerak sehingga mencelakai lainya atas kendali orang yang mengirim ilmu tersebut.” Kataku dengan lesu.
“Owh bisa kok mas ! kalo untuk itu bisa.” kata Fatimah sambil tertawa kecil.
“Haaddeeewwwh bilang dari tadi kalo bisa, mang kamu pikir buat apaan ?” tanyaku agak sewot pada Fatimah.
“Kirain mau balas dendam sama Fatimah, atas yang Fatimah lakukan pada mas dulu.” Jawab istriku yang maksutnya adalah menelanjangiku ketika harus melulur aku pada seluruh tubuhku tanpa kecuali.
Aku sebenarnya jengkel dengan prasangka buruk istriku ini, tapi sekaligus geli juga. Hingga aku justru tertawa.
“Dasar kamu nih, suka banget ngisengin suaminyasendiri. Mang kamu pikir aku belum pernah balas dendam apa, wkakaka…!” kataku sambil mencubit pelan pipi istriku karena gemes.
“Apaan sih yang kalian bicarakan, Isti gak faham balas dendam apaan sih.?” Tanya Isti penasaran. Jelas gak mungkin juga aku jelaskan. Inikan urusan suami istri batinku.
“Lepasin mas Iih sakit tahu, Fatimah balas cubit mau !” kata Fatimah.
“Ogah ah, kamu kalo nyubit kaya dipencet pakai gegep/tang rasanya. Ditanya Isti tuh kamu jawab tuh pertanyaan isti ?” kataku sambil senyum.
“Gak kok Is, Cuma bercanda aja gak ada dendam Cuma mas Yasin aja yang penasaran sama Fatimah. Karena Fatimah tahu yang mas Yasin gak pernah tahu.” Jawab Fatimah. Malah membuat Isti semakin bengong.
“Maksutnya apa Fat ?” Tanya Isti kemudian.
“Udah Is gak usah di dengerin Fatimah lagi kumat isengnya ya gitu. Gak usah dianggap omongan Fatimah, dia memang gitu. Kembali ke masalah totok darah itu tadi aja Fat.” Kataku mengalihkan rasa penasaran Isti.
“Jangan lah, buat aku saja gak boleh ke lelaki lain Is.” Kataku bercanda.
“Ya maksutnya kan kalo sesame wanita mas sensi amat sih jadi orang.” Jawab Isti yang paham jika aku hanya bercanda saja.
“Bercanda kali Is, gitu aja sewot. Kalo sekedar urut tangan dan kaki lelaki lain juga gak papa kalo memang gak ada yang lainya.” Kataku pada Isti.
Suasana canda waktu itu cukup menghiburku sejenak melupakan permasalah yang sedang aku hadapi. Kadang moment sederhana seperti itu yang sekilas gak ada manfaatnya kata sebagian orang. Namun bagiku justru itu adalah moment terindah dalam rumah tangga. Jika dalam rumah tangga tak ada lagi canda ria bersama keluarga, bisa jadi rumah tangga itu kurang Harmonis. Karena selalu tegang menghadapi masalah.
Oleh karena itu aku dan istriku sering kali bercanda begitu, meskipun materinya menyesuaikan lingkungan juga. Aku berkata dalam hati sambil mensukuri nikmat diberikan keluarga yang bahagia.
Tappi tiba tiba akujadi teringat dengan janji istrinya Fanani yang belum juga member kabar. Padahal kemarin janjinya adalah kemarin sore mau member kabar. Tapi sampai aku pulang dari siding di kampong sebelah bahkan sampai detik ini belum juga ada kabar.
“Kok tiba tiba murung kenapa mas ? jadi kepikiran mau balas dendam ke Fatimah ?” goda istriku.
“Aah kamu ini, malu sama Isti Fat ngomongin balas dendam. Aku jadi inget janjinya istri Fanani yang belum jadi kasih kabar sampai sekarang. Mau kapan dan dimana ketemunya, karena kemarin Cuma bilang sementara keluarganya hanya mau bicara denganku dulu gak mau ada Fanani !” jawabku.
“Ya di tanyakan dong mas,sapa tahu pihak sana juga menunggu kabar dari kamu nanti.” Ucap Fatimah. Bener juga sih, lebih baik aku yang menanyakan lebih lanjut. Bukankahkemarin bilangnya Cuma mau bicara sama aku dulu. Dan belum menentukan waktu dan tempatnya, pikirku.
“Iya bener, aku chat aja istrinya Fanani.” Jawabku.
Aku mengeluarkan ponsel dan menulis chat kepada istri Fanani.
“Assalaamu’alaikum bu Winda.
__ADS_1
Maaf mau menanyakan perihal waktu dan tempat untuk kita bisa membahas maslah mediasi antara bu Winda dengan suami bu Winda pak Fanani.
jika sudah menentukan waktu dan tempatnya mohon mengabari saya.
Terimakasih.
Hormat Saya
Yasin.”
Chatku pada Winda istri Fanani.
“Fat suamimu Chatingan sama wanita lain kamu gak marah ?” goda Isti pada Fatimah istriku.
“Yee Isti, sekarang bisa bercanda lama lama bisa ketularan suamiku kamu Is !” jawab Fatimah.
“Enak aja kamu anggap aku virus bisa menular ?” protesku pada Fatimah istriku.
“Gak papa Fat, kupikir aku juga harus belajar dengan suamimu dan kamu biar nanti kalo Isti nikah bisa akur seperti kalian.” Jawab Isti tulus. Membuat aku jadi tersanjung.
“Harusla Is, gak sia sia kamu kenal aku lelaki yang setia dan bertanggung jawab.” Candaku membuat Fatimah dan Isti berteriak bareng.
“Huuuuu GR kamu mas !” sahutnya kompak.
Candaku terhenti ketika ada balasan chat dari istrinya Fanani.
“Wa’alaikummussalaam pak.
Saya sangat menghargai niat baik bapak, untuk melakukan mediasi. Namun saat ini saya pribadi pesimis untuk bisa rujuk kembali dengan suami. Karena keluarga kami sudah sepakat menyuruh saya untuk bercerai dengan Mas Fanani. Namun untuk menghargai usaha bapak, silahkan datang kerumah orang tua saya hari ini. Kami siap untuk menjelaskan permasalahan apa yang terjadi sebenarnya. Bukan hanya cerita sepihak suami saya.
Terimakasih.”
Balasan chat dari istri Fanani seakan menutup kemungkinan mereka rujuk lagi. Dan itu artinya…?!?
...bersambung...
Terimakasih atas dukungan dari Readers semuanya.
Komentar readers semangat Author
Author akan berusaha terus memperbaiki, bahasa retorika dan lainya.
Semoga dapat menghibur Readers semua.
...Jangan lupa dukungan berupa :...
...Like...
...Komen...
...&...
...Vote nya...
...Terimakasih...
__ADS_1
...🙏🙏🙏...