Isyaroh

Isyaroh
Khotimah Kerasukan


__ADS_3

🌷🌷🌷


Readers Tercinta, mohon maaf jika masih banyak tipo karena Auto teks ataupun murni salah ketik.


Semoga tetap bisa menghibur.


🌷🌷🌷


Selamat membaca


...........


Inilah yang aku khawatirkan, beberapa hari seperti sudah aman tapi kita sedikit lengah mereka malancarkan serangan tiba tiba.


“Mbak Faatiim…!” terdengar jeritan Khotimah.


Mendengar jeritan Khotimah aku jadi naik pitam, kenapa pada saat seperti ini mereka menyerang dan seakan tahu kondisi keluargaku yang sedang banyak problem internal maupun eksternal.


Aku jadi berpikir apakah masih terus diawasi terus kondisi rumahku ini, sehingga responya begitu cepat saat kami sedang dalam masalah begini langsung mendapat serangan ghaib. Atau apakah ada juga mata mata yang berada disekitarku, selain Saputro bapaknya Rendy dan damar yang sudah tertangkap.


Ataukah sudah dipasang lagi orang lain yang mengawasi keadaan rumahku yang memanfaatkan orang orang disekitarku. Karena jujur aku mengakui, meski aku sudah berubah tidak seperti dulu, tapi masih ada barisan orang sakit hati yang menaruh dendam kepadaku.


“Mas tolong Khotimah, dia kejang kejang gak sadar.” Teriak Fatimah.


Rasanya amarahku sudah naik keubun ubun mendengar Khotimah tertimpa masalah akibat dari permasalahanku. Aku merasa berdosa dengan Khotimah, sepupu kesayangan istriku itu. aku landsung mendekati Khotimah yang pandangan matanya kosong, jelas ini bukan sorot mata Khotimah adik sepupu istriku, batinku.


Akumengucapkan salam dan Khotimah tak mau menjawab, bahkan melotot padaku. Aku membaca ayat kursiy justru Khotimah menjerit kencang. Aku heran kenapa bisa ada makhkluk astral yang bisa masuk rumahku setelah kang Salim ikut membuat pagar ghaib di rumahku. Apakah ada diantara anggota keluarga yang tinggal ada yang melanggar syariat dan melakukan sebuah dosa yang menjadi pantangan. Aku jadi berpikir macam macam namun aku kesampingkan dulu semua itu. lebih Fokus pada kondisi Khotimah yang butuh pertolongan, agar cepat sadar.


Untunglah dia adik sepupu istriku, dan istriku juga ada disitu sehingga aku tidak risih dan malu ketika harus memegang Khotimah yang tenaganya jadi berlipat ketika berontak dari pegangan tangan Fatimah dan Isti.


“Fat, bantu aku baca doa kamu juga Isti.baca doa doa rukyah yang biasa kit abaca saat mujahadah. Jangan sampai kelamaan kasihan Khotimah.” Kataku pada Isti dan Fatimah.


Alhamdulillah akhirnya Khotimah akhirnya sadar dan menangis, namun entah dia sadari atau tidak justru memeluk aku dan menangis. Kemudian dia berkata menceritakan apa yang dia alami.


“Mas Khotimah takut, tadi ada yang datang mengancam Khotimah dan seluruh isi keluarga ini. katanya semua akan dia bunuh satu persatu.” Kata Khotimah.


“Tenang saja Khot, tidak akan terjadi seperti itu. tapi tolong lepasin dulu mas sampai gak bisa Nafas kamu dekap begini.” Kataku yang sebenarnya gak enak saja sama Fatimah dan malu sama isti yang melihat adegan itu. namun aku heran karena Fatimah justru hanya senyum senyum saja kayak gak ada rasa cemburu sama sekali. Dan istipun juga tidak menampakkan reaksi apapun, sampai Khotimah menyadari jika dia tadi memelukku tanpa sadar.


“Gak usah kikuk mas, gak usah GR juga, Khotimah begitu karena reaksi ketakutan saja. Gak ada maksut lain kok.” Bisik Fatimah padaku.


“Iya, aku hanya takut kamu mikir aku ambil kesempatan saja Fat. Aku paham kondisi Khotimah yang sangat ketakutan tadi.” Jawabku berbisik.


“Udah pada diem, kasihan Khotimah tuh perlu disuport bir gak ketakutan.” Seru Isti.


“Kamu gak papa kan khot, maksutnya sekarang sudah tidak diganggu makhluk itu lagi ?” kataku pada Khotimah.


“Iya mas, hanya masih ketakutan saja. Maaf ya tadi Khotimah reflek merangkul mas Yasin.” Ucap Khotimah.


“Iya, gak usah dibahas ka nada Fatimah dan isti juga mereka tahu kamu sangat ketakutan kok.” Kataku menghibur Khotimah.


“Mas, boleh gak aku mala mini minta ditemenin mbak Fatim khotimah ketakutan kalo hanya sendiri.” Pinta khotimah.


“Atau mau sama ibuku aja Khot !” tawaran Isti.


“Biarin gaka papa Is, biar aku diruang mujahadah saja tidurnya sekalian ada sesuatu yang harus aku kerjakan nanti.” Jawabku pada Isti.


“Owh yaudah kalo gitu. Tapi mas Rofiq kemana ini kok gak kelihatan ?” Tanya Isti menyadarkan aku jika Rofiq tidak muncul dari awal peristiwa.


Kemudian kami bersama mencari Rofiq kekamar dia dan kamar ibunya, tapi tidak ada. Isti dan ibunya yang terbangun pun menjadi panik. Aku segera menenangkan dan mencoba mencari Rofiq diluar Rumah.


Aku heran dengan semua yang terjadi ini, ada apakah sebenarnya sehingga beberapa masalah beruntun harus terjadi dalam waktu yang hampir bersamaan. Apakah ini ujian bagiku atau karena teguran karena sebuah kesalahan yang kami lakukan.


Sambil mencari keberadaan Rofiq ditemani Ardian aku mencoba memecahkan permasalahan ini.

__ADS_1


“Ardian, menurut kamu apakah ada hal hal yang aneh terjadi seputar rumah ini ?” tanyaku pada Ardian. Personil polisi yang memiliki kemapuan khusus yang dia peroleh sejak kecil.


Sementara aku sendiri melafadzkan doa yang diajarkan kang Salim kepadaku dan Samsudin ketika disini.


“Astaghfirrullah…!” aku kaget ternyata banyak makhluk astral yang berkeliaran disekeliling rumahku.


“Ardian, apakah kamu tidak merasakan semua ini ? kenapa kamu diam saja ?” tanyaku pada Ardian.


“Maaf pak, tadi belum ada apa apa, sepertinya ini mereka barusan saja datang atau dikirim kesini.” Ucap Ardian.


“Kerahkan kekuatan dan indera batinmu Ardian, bantu mencari keberadaan Rofiq. Sekaligus kamu harus amati keadaan sekeliling minta bantuan teman teman kamu amankan sekitar kita dalam radius yang bisa dijangkau peluru. Aku akan keliling rumah mencari keberadaan Rofiq.” Belum selesai aku berkata mataku menatap tubuh seseorang yang seperti tertidur di atas rerumputan.


Dengan hati hati aku mendekati tubuh itu dengan Ardian.


Betapa kagetnya aku melihat bahwa itu adalah Rofiq yang tertidur dengan pulasnya, tadinya kupikir pingsan tapi hanya tertidur. Karena kudengar dengus nafasnya yang teratur tidak menunjukan sebagai orang pingsan.


Dengan hati hati aku mencoba membangunkan dia.


“Bang,,, bang Rofiq ngapain tidur disini ?” tanyaku pada Rofiq saat Rofiq terbangun.


“Apa, mana orang itu…?” Tanya Rofiq tiba tiba.


“Siapa bang, apakah bang Rofiq melihat hadirnya seseorang tadi ?” tanyaku.


Rofiq baru sadar kalo dirinya tadi tertidur diluar rumah, kemudian aku ajak masuk dan aku minta untuk menjelaskan apa yang telah menimpanya.


Isti dan ibunya lega,melihat kehadiran Rofiq yang tak kurang suatu apapun.


“Alhamdulillah nak, kamu gak papa, ibu dan adikmu sangat khawatir tadi nak.” Ucap ibunya Rofiq sambil menangis.


“Mas Yasin temukan dimana mask u ?” Tanya Isti, yang lebih tenang dari ibunya.


“Tertidur diluar rumah, kayaknya kena Sirep dia tadi !” jawabku berbisik pada Isti.


“Nanti saja kita bicara di depan, ini ada rangkaianya dengan apa yang menimpa Khotimah kayaknya.” Bisiku pada Isti.


“Owh yaudah bu, ibu istirahat lagi saja bu. Biar mas Rofiq kami ajak ngobrol dulu sambil ngopi biar tenang.” Ucap Isti pada Ibunya.


“Baiklah, makasih nak Yasin sudah menemukan anak lelaki saya.” Ucap ibunya Rofiq sambil terisak.


“Njih bu, gak usah sungkan ibu sudah saya anggap ibu kandung saya sendiri.” Ucapku.


“Mas Yasin temukan mas Rofiq dimana ?” Tanya Isti yang lebih tenang dari ibunya.


“Tadi tertidur di luar rumah, kayaknya kena sirep kakakmu. Dan ini ada kaitanya dengan kejadian Khotimah yang dirasuki makhluk astral tadi.” Jawabku pelan pada Isti.


“Yang isti heran,kenapa makhluk Astral bisa masuk rumah ini mas. Padahal sama kang Salim juga sudah di perkuat pagar ghaibnya.” Kata Isti.


“Itu juga yang aku heran, ada kemungkinan satu diantara kita sudah ada yang melanggar norma agama Is.” Jawabku.


“Maksutnya gimana mas ?” Tanya Isti bingung.


“Mungkin perselingkuhan, meski belum sampai perzinahan tapi sudah mengarah kesitu sehingga membawa aura negative dan merusak pagar ghaib. Atau kemungkinan perbuatan dosa lainya entah apa itu. dosa karena Munkar ( sesuatu yang kita tahu itu salah tapi tetap menerjang ).” Jawabku pada Isti.


“Apa mungkin,….?” Kata Isti terhenti tidak dilanjutkan.


“Aku tahu arah pembicaraanmu, namun belum berani menyimpulkan Is. Kita lihat saa nanti. Yang jelas ini teguran buat kita semua, jika ingin rumah itu berkah dan aman hindari perbuatan maksiat dirumah kita. Baik kita sendiri maupun orang lain.” Kataku pada Isti.


“Maaf mas, Isti gak mau menjadi Fitnah kalo meneruskan ucapan Isti tadi.”  Kata Isti.


“Yaudah kita tunggu Rofiq diruang tamu yuk.” Ajakku pada Isti.


Kemudian aku dan Isti berjalan menuju keruang tamu, dan setelah Rofiq datang Isti kebelakang membuatkan kami kopi.

__ADS_1


“Gimana bang ceritanya tadi kok sampai tertidur diluar begitu.” Tanyaku pada Rofiq.


“Gak tahu, sejak mujahadah aku sudah merasa sangat mengantuk sampai setelah selesai mujahadah langsung tertidur. Namun dalam tidur aku seperti dipanggil panggil dan rasanya tidak dapat menolak panggilan itu. tahu tahu sudah kamu bangunin tadi ?” kata Rofiq.


“Panggiring sukma ?” kataku dalam hati.


Masih adakah orang yang menjalakankan ilmu itu ? aku jadi bertanya Tanya, karena konon katanya ilmu itu tidak sembarang orang yang bisa meiliki atau menggunakanya. Berarti lawanku kali ini bukan lawan yang remeh batinku. Ada sedikit perasaan was was juga dalam hatiku.


“Kok kamu diam saja, apa kamu gak percaya sama aku Zain ?” kata Rofiq.


“Bukan bang, tapi ada hal lain yang mengganggu pikiranku !” jawabku.


 Tiba tiba Isti datang membawa kopi untukku dan Rofiq.


“Ngopi dulu mas, biar seger.” Kata Isti sambil menaruh kopi didepanku dan didepan Rofiq.


“Makasih ya Isti, kamu jadi ikut repot dirumahku.” Kataku.


“Mas Yasin gak usah bilang gitu kenapa mas ? Bukankah kita saling bahu membahu dalam menagani masalah ini. gak usah bilang gitu lah ?” kata Isti.


“Sudah sudah lanjutin tadi, apa yang ada dalam pikiranmu Zain tentang ceritaku tadi ?” Tanya Rofiq penasaran.


“Abang terkenba ilmu panggiring sukma bang, abang seperti diarahkan menuju ke suatu tempat dengan dikendalikan dari jauh. Seperti yang dialami Fanani dan lainya dulu itu.” jawabku pada Rofiq.


“Apa mas, ilmu panggiring sukma. Itu kan ilmu orang jaman dulu yang sudah langka, apa masih ada orang ynag begitu ?” kata Isti.


“Kenyataanya masih Is, sudah dua kali diantara kita terkena ilmu seperti itu. jadi mau gak mau kita harus melaksanakan mujahadah dan baca hizib Nashor tiap malam.” Jawabku.


“Berarti bisa tiap malam kita begaang dong mas kalo begitu, maaf bagaimana dengan Fatimah istrimu apakah bisa menerima keadaan ini jika tiap malam mas tinggal begadang. maaf sekali lagi, bukan Isti lancing atau kurang ajar. Tapi itukan real kebutuhan seorang suami Istri mas.” Kata Isti.


“Santai saja Is, itu bisa diatur nanti yang jelas kita sekarang harus jauh lebih waspada jangan lengah sedikitpun.” Jawabku.


“Masalahnya yang kamu tangani banyak mas, kasus Fanani dan Khotimah, ponakan Kamu Rendy belum lagi pak Sastro yang baru saja meninggal masak kamu gak nengok kesana sama sekali ?” kata isti.


Aku juga bingung sebenarnya, namun aku juga gak mungkin menunjukkan kebingunganku kepada yang lain. Justru akan membuat suasana semakin tegang. Aku berpikir sejenak agar dapat menemukan cara menghadapi semua ini.


“Mas. Kalo kamu merasa kerepotan minta bantuan kepada yang lain deh. Jujur Isti gak tega lihat kamu sama Fatimah mengalami banyak masalah begini.” Kejar Isti malah membuatku semakin bingung saja.


... bersambung...


Terimakasih atas dukungan dari Readers semuanya.


Komentar readers semangat Author


Author akan berusaha terus memperbaiki, bahasa retorika dan lainya.


Semoga dapat menghibur Readers semua.


...Jangan lupa dukungan berupa :...


...Like...


...Komen...


...&...


...Vote nya...


...Terimakasih...


...🙏🙏🙏...


 

__ADS_1


__ADS_2