Isyaroh

Isyaroh
Pembersihan Batin belajar Ikhlash


__ADS_3

Aku Terdiam setelah mendengar cerita kang Salim. Mencoba memahami apa yg disampaikan. Lama termenung berpikir namun belum juga dapatkan jawabanya.


" Antara fikir dan dzikir itu harus seimbang kang, kalo kamu hanya mengandalkan fikir. Kamu kehilangan dzikir ( Ingat Allah ), dan kalo kamu meninggalkan fikir maka termasuk kaum jabriyah atau sebaliknya qodariyah, yang tidak percaya qodo' qodarnya Allah ! " terang kang Salim.


Waduh keterangan kang Salim membuat aku semakin bingung.


" Aku belum faham maksut akang Salim " kataku.


" Iya... Gak papa, mungkin karena masih capek. Istirahat dulu, nanti sore bantu ngawasin anak anak latihan Silat. Masih ingat kan ? " jawab kang salim.


" Iya sedikit kang... " jawabku.


" Bantuin anak anak tingkat dasar, nanti jadwalnya.... " kata kang Salim.


" Iya kang.. " jawanku singkat.


Ah lumayan, ngawasin tingkat dasar masih enteng. Kalo yg sudah tingkat menengah apa lagi atas pasti aku gak akan mampu. Soalnya dulu, tiap kali latihan sering kutinggal mancing, hehehe..


Kang salim pun masuk kamarnya, siang itu badanku terasa fresh. Tapi batinku terasa kering seperti ada sesuatu yg hilang.


Apa karena jauh dari istri, padahal baru mesra mesranya. Udah gitu istri juga lagi hamil muda. Kalo ngidam nanti gimana ? Masak iya mertuaku yg harus repot ngurusi...! Aku yg bikin bunting masak mertuaku yg direpotin ngidam.


Aku jadi galau bin ga gabut nih..?!?


.


Ah mana Anak istri kang salim, kok gak nampak dari tadi...?


Ah mending muter muter lihat kondisi, sekitar pondok.


" Mang mamang.... " suara bocah memanggilku.


Aku menoleh.


" Kunaon jang... ? " tanyaku pada santri kang Salim.


" Diutus Abah Salim.... " kata bocah itu.


" Diutus apa ? " tanyaku.


" Punten... mang, diutus minjam cincin mamang sakedap ceuk Abah Salim " ucap bocah itu.


Beneran gak ni bocah, ini kan cincin pinjaman mertuaku. Yang diberikan buat jaga jaga saja. Tapi masa iya sih santri kang Salim boong ?


" Owh oya boleh, jeung naon jang "


( Buat apa jang / Panggilan ke anak muda. sedangkan mamang artinya adalah Paman ) jawabku.


" Dihapunten mang Ya Abdi mah teu ngarti. " kata bocah itu.


" Owh yaudah sana berikan ini " kataku sambil menyerahkan cincin.


" Hatur nuhun mang, Atos ya mang " katanya.


Aku agak bingung, Atos tu apa ya ?


Owh iya Sudah maksutnya


hatur nuhun \= Terima kasih jawa nya \= Matur Nuwun


Aah untung ngerti bahasa sunda dikit dikit. Karna dulu pernah pacaran sama Anak bandung, hehehe.. Eis... Dimana dia sekarang ya?


Astaghfirullahal 'adzim.....!


Kenapa aku jadi mikirin gadis lain selain istriku...???


Aaah tidak tidak.. tidak boleh terjadi lagi.


Kasihan istriku merindukanku, aku malah mikirin org lain...!?!


Capai putar putar, ke mushola saja ah.


Nunggu sholat dhuhur.


Habis jamaah dhuhur aku ikut makan siang dengan keluarga kang salim.


Teh Atikah istri kang Salim menghidangkan menu sayur asem lauk ikan teri dan sambal terasi. Lalapan daum jambu mete muda...


Duuh mengoda selera banget nih, bisa bisa nambah ntar. Ditambah lagi perut lapar.


" Mangga atuh Ak ngawadang.... " kata teh Atikah.


" Panggil Nama aja teh, saya kan adik nya kang salim. Jangan panggil Aak... ?" kataku.


Oiya ngawadang dari kata madang bahasa halusnya makan. bahasa kasarnya Dahar. Kebalikan dengan bahasa jawa...


" Kang kemarin nemu golok aku tidak, waktu menemukan aku di pinggir hutan ? "


" Ada aku simpan, tapi gak ada sarungnya... " kata kang Salim.


" Yaudah gak papa, mungkin jatuh saat saya menghindari serangan Ular jelmaan jin itu. o iya tadi utusan santri pinjam Cincin aku buat apa ?" tanyaku.


" Iya aku simpan dulu, dan semua barang barang kamu aku harap disimpan dulu. Tasbih golok cincin dan semua benda bertuah aku pinjam dulu selama disini." kata kang Salim.


" Kenapa kang....? " tanyaku.


" Itu perintah Abah guru, Hatimu harus di bersihkan dulu. Kata beliau hatimu kurang bersih. Masih ada hijab tebal antara kamu dengan Allah. Lebih Tegasnya sih, kamu masih banyak dosa " kata kang Salim.


Aku terdiam tak berani bantah, karena itu sangat mungkin. Dosa yg tidak kita sadari jadi penghalang / hijab kita dengan Allah.


" Kang boleh nanya satu hal lagi " ucapku.


" Apa ? " jawab kang Salim singkat.


" Soal cincin itu.... " kataku.


" Maksutmu saat di Dunia mereka gak fungsi kenapa, gitu ?? " kata kang Salim.


" Iya kang.. " jawabku singkat


" Satu karena yg masuk dunia mereka itu sukmamu, jasadmu dan cincin itu diluar dunia mereka. Dua cincin itu ber reaksi ketika ada aura negatif. saat kamu disana memang masuk zona negatif. Jadi meskipun kamu bawa cincin ya gak akan ada reaksi apapun. Cincin itu ber reaksi kalo kamu di zona netral, terus ada aura negatif mendekat. ! " jelas kang salim.


" Terus kamu tahu tidak, ketika kamu merasa masuk lorong itu ? Itu adalah proses masuknya sukmamu ke ragamu. jadi lorong itu adalah ragamu " terang kang salim.


Aku mendengarkan dengan Seksama.


" Kamu merasa susah kan masuknya ? Itu karena kamu tergoda birahi mu dengan jin wanita itu. Kalo saja kamu sampai berbuat, aku pun gak bisa bantu kamu menghalau jin jin itu. Saat sukmamu mau masuk ragamu, akulah yg menghantam mereka dengan hizib nashor. Kalo gak....." kata kata kang Salim terpotong teh Atikah.


" Udah atuh Ak.... Karunya jang Yasin bisi ceurig... ? " kata teh Atikah.


Aku sebenarnya paham apa yg diucapkan Teh Atikah, udah lah " "'mas kasian dik Yasin takut nangis. Tapi diem aja pura pura gak faham


" Kos budak letik atuh mun ceurig mah " timpal kang Salim.


" Atuh punten Aak... ya Abdi ma teu tega. Asana mah Anjenna keur loba masalah " lanjut teh Atikah.


" Ya justru eta makana akang mah ngebejaan manehna, supaya manehna teh bisa lampah sorangan. moal dibantuan ku urang jung Abah terus" lanjut kang Salim.


Inti nya yg ku tangkap seperti itu, lebihnya gak faham.


yg artinya adalah sebagai berikut...

__ADS_1


kang Salim :


kayak anak kecil dong kalo nangis


Teh Atikah :


Ya maaf kak/ mas saya hanya gak tega, kayaknya dia lagi banyak masalah


kang Salim


ya justru itu, saya ngasih tahu dia, supaya bisa jln sendiri tidak dibantuin saya dan Abah terus.


Aku pura pura gak faham aja lah dari pada tengsin, hehehe.


" Aku kan di dawuh i Abah, supaya minta tolong kang Salim bantuin menyelesaikan masalah di daerah saya. Kapan kang Salim bisa ikut... ? " tanyaku.


" Aduh kang kang.... Kamu tu santri saya juga santri nya Abah. Ya gak perlu saya kesana. Kamu sendiri yg harus menyelesaikan ! " kata kang salim.


" Tapi yg saya hadapi sekarang adalah Makhluk ghoib yg ganas, dan Saya kesini diutus Abah. Untuk minta bantuan kang Salim.." kataku.


" Emang saya belum bantu,,, ? Yang bantu ngeluarin kamu dari perangkap jin siapa " kata kang Salim.


Iya juga siih.


" Tapi kenapa gak dari saat saya diserang ular jelmaan itu kang ?" ptotesku.


" Karena memang kamu harus ditangkap mereka dulu, kamu harus masuk ke dunia mereka dulu... " kata kang Salim.


" Buat apa kang, kenapa aku harus masuk kesana dulu ? Kenapa gak langsung disuruh kesini saja " tanyaku.


" Ya buat ambil batu, pembuka dimensi itu, memang harus kamu yg ambil... " jawab kang Salim.


Aku tersentak..


Batu, owh iya aku kan keluar bawa batu dari ayahnya jin Sukmini itu...? Tapi dimana batu itu.


" Terus dimana batu itu sekarang kang Salim " tanyaku.


" Ada saya simpan, belum waktunya kamu pegang " jawabnya datar.


" Gak usah tanya tentang mimpi kamu dll. Nanti kamu cari sendiri jawabnya. Insya Allah nanti ketemu. Gak buru buru nemuin istri kan " kata kang Salim.


Kang Salim seakan tahu isi pikiranku. Sementara istri kang Salim Teh Atikah cuma senyum senyum.


" ehmm... Kasihan dong kak, pengantin baru kan. Jangan ditahan lama lama disini. Kasihan takut istrinya nangis..." ejek teh Atikah.


" Nangis gak papa itu namanya istri sayang suami. Masalahnya.... Suaminya Setiya nggak... jangan jangan malah mikirin yg dulu dulu "


" Aaah Aak tuh bisa aja.. Mang masih suka mikirin si Eis ya jang. Ya kalo masih ada rasa nikahin sekalian, kalo Fatimah juga rela, hihihi..."


Hari itu didepan Teh Eis dan Kang Salim aku benar benar tak berkutik. Bagaikan ditelanjangi kesalahanku.


Ditelanjangi....!


Kok inget ketika ditelanjangi jin betina itu ya....?


Kenapa semua serba seperti kebetulan.


" Makanya kang, Dinget inget diamalkan apa yg diajarkan Abah guru dulu. Kamu kan sudah diajarin cara membaca Isyaroh jangan di banyakin cari ikan terus, sampai istri saja di abaikan..." kata kang Salim.


Duh bener bener habis aku saat ini.


Tak sepatah kata pun yg mampu ku ucapkan.


Entah sudah berapa lama aku di ceramahi kang Salim dan Istrinya. Dan rasanya benar benar Mak Jleeb.


Untung sudah terdengar adzan asar, lumayan season pertama selesai. Nanti habis asar nemenin kang salim ngajar silat anak anak Sd Smp. Lumayan buat olahraga dan hiburan.


Kebetulan kah atau memang bisa membaca pikiranku ? Ah gak tahu lah, yg jelas aku memang gak boleh mikirin Eis Ataupun yg lain lagi.


membuka memori yg lama


Saat aku di pesantren memang pernah deket dengan Eis anak bandung. Tapi gak ada komitmen apapun sih. Memang hubunganku deket saja, ada yg bilang kami pacaran padahal juga gak ada komitmen sekedar temanan saja.


Kadang kalo aku bolos dari kegiatan pesantren untuk mancing, Pulang ke pesantren Eis yg aku suruh masakin.


Kalo gak ketemu langsung ya titipin siapa yg ada. Termasuk pernah juga titip ke Fatimah yg kini jadi istriku. Tapi itu juga hanya beberapa kali, so Fatimah sendiri gak pernah curiga sampai sekarang, kayaknya siiih.


Kalo udah dimasakin, barulah aku dikirimin mateng plus nasi dan sayurnya. jadi tinggal makan saja.


Hampir seluruh isi pondok pesantren tahu itu. Termasuk seringnya aku bolos dari kegiatan pesantren. Semua Tahu Termasuk Abah guru dan Kang Salim sebagai lurah Pondok waktu itu. Ya kang salim jadi lurah pondok sampai beliau punya istri. Bahkan sampai sekarang meski tidak mukim dipondok.


makanya Teh Atikah pun tahu tentang Aku dan Eis yg akrab banget. Tapi aku gak pernah bikin komitmen pacaran. Selain gak berani karena di lingkungan pondok, saat itu entah kenapa. Aku sudah bertekat tidak akan pacaran, kalo mau langsung nikah. Dan jujur saja, ketika ditanya Abah guru siap nikah apa belum. Kupikir mau dinikahkan dengan Eis


Eeeh gak tahunya malah dinikahkan dengan Fatimah.


Tapi itulah hebatnya Abah , mungkin Tahu Eis gak cocok denganku atau bukan jodohku. Karena sekitar seminggu aku dinikahkan dengan Fatimah. Eis pun Dinikahkan dengan lelaki satu daerah yg masih famili jauhnya. Dan konon itu sudah perjodohan antar orang tua. jadi dalam hal ini, baik aku Eis dan Fatimah tidak ada yg bersalah.


fine fine aja lah pokoknya.


Dan pastinya yg jadi istriku ya Fatimah, yg aku cintai ya Fatimah, diiih jadi melow sihhh.


Kembali ke alur cerita..


Sehabis Jamaah asar, Dilapangan anak anak sudah siap berlatih pencak silat. Kang Salim masih wirid, aku juga gak berani mendekat tanpa ijin kang Salim.


Aku nungguin di teras tempat biasa kita ngobrol saja. Sambil lihatin anak anak pemanasan. lari keliling lapangan, pushbuo sit up scot jam dll.


Jadi inget jaman masih mondok dulu.


" Kata Asin sukanya kopi item tanpa gula ya ? Ni kopi nya, sambil nunggu Aak bentar lagi dateng "


" O iya makasih Teh...."


Teh Atikah ikut duduk, aku sebenarnya sungkan kalo gak ada kang Salim. Aku hormat sama beliau berdua. Tapi mungkin karena aku sudah dianggap seperti adik sendiri jadi gak papa


Tapi tetap dengan batas batas yg sewajarnya


Teh Atikah duduknya agak jauh, sama sama memandangi anak anak yg lagi latihan.


" Rokok Aak mana mih " Kang Salim tiba tiba sudah datang.


" O iya Ak... bentar can beli, Sekalian jeung Yasin moal melina " Jawab teh Atikah.


" Gak usah teh saya masih ada rokok " jawabku


" Atu lamun meli mah sakaliyan bae atuh, duit geus aya lin " Tanya kang Salim.


" Aya keneh Ak..." jawab tek Atikah.


Sebagian yg dibicarakan faham tapi sebagian gak faham.hehehe.


" Hayuu kopina diminum " Kata kang Salim, yg kadang tanpa sadar pakai bahasa sunda.


" Iya kang, ni saya masih ada rokok, kang...! " tawarku.


" Hee boleh sambik nunggu yg beli dateng." jawab ksng Salim.


Belinya juga cuma dikoperasi pondok, yg dikelola santri. karena jauh dari pemukiman warga, maka untuk kebutuhan sehari hari santri dibuat kooperasi .


Karena sekali belanja bisa sehari waktunya, maka sekali belanja harus banyak buat persediaan dan kebutuhan koperasi santri. Sementara santri ada juga yg cocok tanam, ternak dll.

__ADS_1


Bener bener bermanfaat dunia akhirat mondok disini batinku.


" Aak ni rikoknya.. " seru teh Atikah.


" Hehhh...." jawab kang Salim.


" Umi perlu nemenin Aak apa kedapur Ak...? Tanya teh Atikah.


" Terserah nemenin juga boleh kedapur juga boleh, kan ada Yasin disini "


" Yaudah atuh, Atikah kedapur ajah ya ak ? " jawab teh Atikah.


" Hehhh " jawab kang Salim singkat.


Istri kang Salim ini hormat bgt sama suaminya. bahkan kesanya takut banget. Bagiku sih gak asik istri begitu, gak bisa diajak bercanda ria. Eeehh iya ya kalo Kang Salim kan gak suka bercanda ya wajar saja.


Kalo aku suka selengekan dari dulu. Jadi kalo istriku terlalu hormat malah aku yg risih. Jangankan istri, anak anak asuhku yg suka ngaji saja kalo terlalu hormat malah aku marahin


Jangan gitu itu namanya mengkultuskan... bentakku pada yg terlalu hormat berlebihan.


Ya meskipun karakter seperti kang Salim dan istrinya juga perlu dan harus ada. Sebuah contoh tawadhu dengan suami... Tapi karakter seperti aku juga harus ada sebagai bentuk sayang istri, ciye nyanjung diri sendiri, hahaha.


" Hayyuk kita turun ke lapangan, ganti pakaian dulu nih... ! " ajak kang salim.


Langsung nyodorin pakaian pencak silat


ada gambar dan tulisan " Cimande "


Owh ini Aliran yg diajarkan disini, beda denganku dulu.


" Ok siyap kang " Jawabku mantaab.


kang Salim lari keliling lapangan, untuk memberi contoh yg baik sportifitas tinggi.


Aku ikutan lari juga.


Setelah dirasa cukup, kita mendekati anak anak yg sedang dilatih kakak kakak seniornya.


Mereka berhenti latihan dan membentuk lingkaran dan kang Salim masuk ke lingkaran tanganku digandeng diajak ikut masuk. sebenarnyaaku sungkan tapi bagaimana lagi.


Lalu kang Salim menerima dan memberi hormat ala pendekar.


Kemudian membuka pembicaraan


السلا م علیكم و و


Bla bla bla....


Awalnya pakai bahasa sunda aku banyak gak fahami...


diakhir akhir baru pakai bahasa indonesia...


Jadi ini mang Yasin, adik seperguruanku. Jadi kaliyan harus hormat juga pada mang yasin. karena dia adalah mamang guru kaliyan.


Kalo kaliyan disuruh mang Yasin juga harus Patuh dan nurut...


ngarti anak anak " Tanya kang Salim.


" Ngarti Abah...! " jawab para murit kompak.


" Ngarti apa ? " tanya kang salim lagi.


" Harus hormat dan nurut sama Mang Yasin..." jawab anak anak kompak.


Iiih suer susana begitu paling bikin aku gugup, gak enak hati banget. Aku paling gak bisa di sanjung sanjung rasanya gimana gitu. Gak nyaman banget.


Mungkin kebiasaanku hidup cuek selengekan


Jadi lebih menikmati hidup yg biasa biasa saja. Nongkrong dengan anak anak muda bujangan ok, dengan orang tua setengah tua bahkan ansk anak juga biasa. Kalo pada sungkan denganku kan repot.


Anak anak yg ikut mujahadah dan ngaji ditempatku aja, dulu awalnya juga karena nongkrong aku temenin. Ada yg mabuk pun aku biarin. akhirnya karena mereka nyaman denganku, saat galu nemui aku, ikut mujahadah ikut sholat ikut ngaji.


Kalo terlalu hormat jadi takut bahkan, mungkin tanya ataupun mendekat saja tidak berani.


Tapi ya sudahlah, metode ku dengan kang Salim memang beda, meski satu pesantren.


Aku mengikuti anak anak latihan, tiba tiba kang Salim memintaku jd sparing partner nya anak belasan tahun.


Waduh yg bener aja, masa aku tega menyerang anak kecil. yaudahlah aku mau bertahan saja...


Setelah saling membungkuk memberi hormat.


Dan sudah siyap dengan kuda kuda masing masing kang Salim memberi komando untuk mulai. Aku tetap ditempat sambil membuka jurus pertahanan. Karenaaku membuka jurus pertahanan anak itu membuka jurus menyerang.


Slaap kaki anak yg bernama dede kurniawan itu mengarah ke perutku kutepis dengan tangan kanan sambil berputar kearah kiri. aku tidak balas memukul meski ada kesempatan. aku justru meloncat mundur mengatur jarak. Begitu sampai di ganti beberapa anak.


Aku gak tahu maksut kang salim apa,dengan semua ini. Sepintas gak ada hubunganya dengan tujuanku kesini.


jam 17.15 Latihan usai, kang Salim berbisik padaku, nanti malam kamu kembali ke tempat dimana kamu berhadapan dengan ular jadi jadian itu.


Degghhh....


Aku kaget setengah mati...


Kejadian kemarin sudah nyaris membunuhku... ini masih disuruh datang lagi...


" Tapi kang, kemarin saja aku hampir mati kalo tidak akang tolong " protesku.


" Hari ini kamu sudah dapat banyak clue...! " kata kang Salim.


Kurasa cukup untuk menghadapi 10 X lipat yg lebih kuat dari kemarin. kalo sudah lulus nanti ada tempat lain yg jauh lbh kuat yg harus kamu hadapi. Dan kalo itu sudah, baru kamu bisa mengatasi masalah di daerahmu. karena di daerahmu itu. Kekuatnya 100 X Lipat yg kamu hadapi semalam "


Terangnya Panjang lebar, membuatku merinding.


Yg semalam saja aku hampir mati konyol.


Terus hari ini sudah dapat clue.


Bisa menghadapi yg 10 X Lbh kuat dari Smalam....


masalah yg di dusunku 100 X lipat lbh kuat dari yg semalam, haddewh...!


Apa Clue nya..?


Kan cuma dilatih bahkan cuma lihat anak anak latihan silat.. ?


Apa hubunganya dengan melawan makhluq ghoib... ? Aaah pusing


Bodo amatlah, lakukan saja mau kalah mau menang urusan nanti.


Kalo gak ninggalin istri yg lagi hamil, mungkin aku gak akan sebingung ini.


Aku gak


takut dengan maut, karena maut itu sesuatu yg pasti.


Tapi pikiranku saat ini adalah istri yg lagi hamil, kalo aku mati...?


Makin kupikir makin pusing, mendngan mandi sajalah biar fresh.


...bersambung...

__ADS_1


__ADS_2