Isyaroh

Isyaroh
Eis donorkan darahnya buat Yasin


__ADS_3

Episode 89


“Durung wayahe, kowe mlebu omah kui


!”  ( Belum saatnya kamu memasuki Rumah


itu ) ucap seseorang yang aku kenali suaranya. Yaah itu adalah suara Abah


guruku, aku berbalik menghampiri beliau. Kemudian aku menyalami beliau dan


mencium telapak tangan beliau tanda ta’dhim seorang santri kepada kyai nya.


“Ayo pulanng sekarang,  ini belum waktunya kamu meninggalkan


duniamu.’ Kata abah guruku yang kemudian mendekapku dan kemudian tahu tahu aku


sudah berada dikerumunan orang orang yang menagisi aku. Tiba tiba aku eras


didorong oleh sebuah kekuatan yang entah dari mana membuat aku seakan terjatuh


kedalam sebuah lorong panjang dan terhempas dengan kencangnya. Dan tersedot


kedalam lorong itu yang membuatku menjerit ketakutan karena aku merasakan sebuah


tarikan kuat yang membuat seluruh badanku terasa sakit.


***********


Yasin POV


Sampai aku terjatuh di sebuah tempat


yang sempit, membuat tubuhku terbentur sesuatu sehingga aku terbatuk.


“Uhhuuk…” aku terbatuk dan merasakan


sakit yang luar biasa di dadaku.


Sku membuka mata kulihat orang orang


mengerumuni aku, pertama yang tampak adalah dokter yang memegangi alat pengejut


jantung.


Sementara aku memandang sekeliling


dan kulihat diluar ruangan ruangan dari kaca jendela satu persatu wajah wajah


kerabat dekatku berkumpul. Mereka tampak habis menangis, kemudian dokter yang


disampingku berkata.


“Sukurlah Pasien masih bisa


diselamatkan, biarkan dia beristirahat dulu.” Katanya.


“Dokter, biarkan keluarga saya masuk


saya rindu istri dan anak saya.” Pintaku.


“Tapi bapak masih lemah, belum boleh


banyak bicara. Besuk kalo sudah pulih baru boleh bicara banyak.” Kata dokter


itu.


“Percaya saya dokter, saya sudah


cukup kuat untuk menemui mereka.” Kataku.


Kemudian para medis itu saling


berpandangan, mungkin dalam hatinya berkata. “ baru siuman sudah bisa berbicara


lancer.


Wajar karena mereka tidak tahu apa


yang terjadi dialam bawah sadarku tadi, sehingga ada kekhawatiran aku kenapa


napa. Sementara aku yang mengalami kejadian dialam bawah sadar justru merasa


tenang dan merasa masih diberi kesempatan hidup lebih lama.


“Bapak yakin sudah merasa baikan


sekarang .” Tanya dokter itu.


“Seperti yang dokter lihat, saya


sudah bisa menggerakkan tangan dan kaki sekarang.” Jawabku sambil mengangkat


tangan dan kakiku. Meski masih merasakan sedikit nyeri di bagian dadaku.


Aku jadi teringat kejadian yang


menimpaku saat sedang mencari keberadaan Fanani dan kawan kawanya.


“Ada sesuatu yang harus saya


sampaikan kepada mereka, penting terkait kasus yang sedang terjadi saat ini


dokter.” Kataku meyakinkan dokter itu.


“Baiklah, tapi sementara hanya anak


Istri anda dulu yang boleh masuk. Dan tidak boleh terlalu banyak bicara dulu.”


Kata dokter itu.


“Iya dok, yang penting aku ingin


bicara dengan istriku dulu.” Jawabku.


Sesaat kemudian dokter itu keluar


dan member tahukan jika aku sudah sadar.


********


Fatimah POV.


“Pak Yasin sudah sadar, sekarang


ingin bertemu dengan istrinya “ kata dokter yang menangani mas Yasin.


“Alhamdulillah…!” ucap kami semuaa bersamaan. Dan aku


menangis bahagia mendengar suamiku sudah sadar dan ingin berbicara denganku.


“Fat, kamu cepat masuk temui suamimu sana cepat.” Ucap Eis


menyadarkan aku. Fatimahpun segera masuk menemui mas Yasin.


“Alhamdulillah mas, kamu sudah sadar, kami semua sangat


khawatir tadi.” Kataku sambil mengusap keringat di dahi mas Yasin.


“Iya Fat, berkat doa kalian semua. Apakah diluar ada kang


Salim Samsudin dan juga Eis. Selain Isti dan Arum juga ?” Tanya suamiku.


Fatimah merasakan mas Yasin agak ragu menyebut nama Eis, mungkin dia agak gak


enak denganku.


“Iya mas, semua khawatir padamu karena dari semalam kamu gak


sadar juga. Sampai Eis tadi mendonorkan darah padamu juga.” Jawab Fatimah pada


mas Yasin.


Mas Yasin justru terdiam mendengar kalo Eis mendonorkan


darah untuknya.


“Kenapa harus Eis Fat, bukan yang lain. Aku kan gak enak


sama Samsudin jadinya !” jawab mas yasin kemudian.


“Kondisi darurat dan hanya Eis yang darahnya cocok mas. Jadi


gak ada pilihan lain, kang Salim yang menyarankan.” Ucap Fatimah menenangkan


mas Yasin. Biar tidak terlalu terbebani hutang budi dengan Eis dan merasa gak


enak denganku juga tentu. Sementara Fatimah sendiri sangat menerima keadaan


itu, karena Fatimah tahu mas Yasin tidak akan berpikir aneh aneh.


“Sukurlah kalo itu perintah kang Salim, mas jadi gak terlalu


risau jadinya.” Kata suamiku.


“Iya mas tenang saja, Fatimah juga tidak apa apa. Bahkan


berterima kasih sama Eis sudah menyelematkan suami Fatimah.” Kataku sambil


tersenyum. Kulihat mas Yasin pun ikut tersenyum.


“Kamu memang istriku yang solehah Fatimah.” Jawabnya


singkat, tapi kulihat air matanya yang hamper tumpah disudut matanya.


Aku jadi terharu dan ikut melehkan air mataku mendengar


ungkapan tulus dari suamiku. Meski kami saat itu sedang bergejolak karena


disamping kami ada pasangan suami istri. Dimana keduanya dulunya adalah kekasih


hati masing masing dari kami. Namun untungnya kami semua dapat membedakan, mana


masa lalu dan masa sekarang serta masa depan. Sehingga masing masing kami dapat


mengendalikan diri. Saling memahami dan menyadari posisi masing masing, justru


begitu indah terasa hubungan kami berempat. Apalagi saat ini darah Eis mantan


mas Yasin juga mengalir ditubuh mas Yasin suamiku.


Dan aku sangat bisa memahami keadaan yang memang sudah


dikehendaki Allah seperti itu. Artinya aku Fatimah tidak sedikitpun merasa


cemburu terhadap Eis, bahkan karena Eis juga lah yang mendorong agar Fatimah

__ADS_1


menerima pernikahan kami dulu. Meskipun Fatimah tahu, saat itu sangatlah berat


bagi Eis juga Fatimah. Namun karena kami boleh dikatakan “dididik dan dibesarkan


dalam satu pesantren yang sama” sehingga kami semua dapat saling memahami.


“Mas, itu sudah kewajiban Fatimah sebagai istri harus


berbakti pada suami. Jadi gak usah berlebihan begitu, Fatimah jadi malu.”


Jawabku pada mas Yasin.


“Gak Fat, jujur gak mudah menemukan jodoh sepertimu. Makanya


aku bersukur banget atas karunia Allah berupa istri solehah seperti kamu.” Mas


Yasin kembali menyanjungku. Membuat hati Fatimah bergetar tak menentu.


“Udah mas, mas k an harus banyak istirahat dulu. Atau mau


ketemu Eis dan Samsudin ?” tanyaku.


“Apa kamu gak cemburu fat ?” Tanya suamiku.


“Gak lah, kan Eis sama suaminya juga. Kalo sendirian baru


Fatimah cemburu.” Kataku sambil senyum.


Fatimah sangat bahagia saat itu, melihat mas Yasin sudah


semakin baik kondisinya. Ada juga rasa heran, karena beberapa menit sebelumnya


sudah putus asa melihat detak jantung suami di layar monitor sudah terhenti.


Tapi sekarang sudah bisa bercakap dengan lancer, seperti tidak terjadi sesuatu.


Beberapa kali dokter datang menjenguk tapi melihat kondisi suamiku sudah


membaik tidak menyuruh Fatimah keluar. Bahkan mengijinkan yang lain bergantian


menjenguk.


Fatimah pun keluar sebentar mempersilahkan kang Salim dan


the Atikah masuk sebelum Eis dan mas Samsudin. Karena kang Salim lebih dituakan


diantara kami semua.


******


Yasin POV


Setelah Fatimah keluar meninggalkan aku, maka gentian kang


Salim dan the Atikah yang masuk menjengukku.


“Kumaha kang Yasin, tos damang ayena ?” sapa kang Salim yang


sering kali mengajakku bicara dengan bahasa sunda satu dua kalimat.


“Alhamdulillah kang, berkat doa semuanya Yasin sudah baikan


sekarang.” Jawabku.


“Ada Eis juga tuh diluar, masih mau ketemu gak ?” goda teteh


Atikah.


“Aah teteh bisa aja, Eis kan sudah jadi saudara teh.”


Jawabku.


“Iya, darah Eis sudah mengalir ditubuh kamu, sekarang.”


Sambung kang Salim.


“Iya kang, Fatimah tadi sudah cerita kok. Aku sangat


bersukur dipertemukan dengan teman teman satu pesantren dulu.” Kataku tulus


pada kang Salaim dan teh Atikah istrinya.


“Gimana ceritanya kamu bisa begini ?” Tanya kang Salim.


“Seperti dejavu saat aku dibakar si Japra dulu  kang. Konsen terhadap mahluk Astral, lengah


terhadap musuh yang kasat mata. Owh iya kang, si Japra pun ikut dalam komplotan


yang memusuhi kita !” kataku pada kang Salim.


“Ya biasanya memang orang seperti itu akan dikumpulkan


dengan yang sesamama mereka. Karena satu frequensi, mereka akan dikumpulkan.


Seperti halnya kita dikumpulkan juga dengan orang orang yang sama pecinta


ulama.” Jelas kang Salim.


Aku mencoba mencerna apa yang disampaikan kang Salim


tersebut, ingat sebuah teori frequensi garpu tala. Yang akan menghantarkan


gelombang apa bila garpu tala tersebut satu frequensi.


“Yaudah, beberapa hari ini kamu akan kami temani sampai kamu


kang Salim dan teteh Atikah keluar dan gentian Eis dan Samsudin yang masuk


menjengukku.


“Kenapa kang kamu bisa terkena musibah seperti ini ?” Tanya


Samsudin padaku.


“Gak tahu juga nih Din, rasanya masalah selalu muncul


bergantian.” Jawabku pada Samsudin.


Aku agak kikuk untuk menyapa Eis, dan tampaknya Eis pun sama


sepertiku merasa kikuk untuk menyapa. Hingga Samsudin yang mencoba memecah


kekakuan kami dengan menyuruh Eis menyapaku.


“Kamu gak ucapin apa apa ke Yasin neng ?” Tanya Sammsudin ke


Eis.


Eis kaget mendapat pertanyaan seperti itu dari Samsudin,


sehingga aku yang membuka omongan lebih dahulu.


“Owh iya, harusnya aku yang mengucapkan banyak terimakasih


atas bantuan Istrimu Din. Karena telah mendonorkan darah untuk aku. Jadi saat


ini istrimu sudah kuanggap saudara atau adikku sendiri. Makasih Eis, kamu sudah


menyelamatkan nyawaku tadi.” Kataku membuka kekakuan diantara kami.


“Iya sama sama, memang sudah seharusnya begitu. Untung kang


Salim ajak Eis kesini, jadi Eis bis donorkan darah Eis ke mas Yasin.” Jawab Eis


yang sudah mulai cair suasana hatinya. Tidak terlalu kikuk dengan keadaan ini.


“Iya Eis, tapi apapun itu aku wajib berterimakasih padamu.


Owh iya, ngomong ngomong sampai sini jam berapa tadi kalian ?” tanyaku


mengalihkan pembicaraan.


“udah dari kemarin kita.” Gurau Samsudin.


“Diih Aa’, jangan bercanda kali kasihan mas yasin masih


sakit juga diajak bercanda. Gak kok tadi sekitar jam 2 siang kami sampai sini.


Dan ini sudah hamper waktu maghrib.” Jawab Eis. Sementara Samsudin hanya senyum


senyum.


“Dasar lo Din, kirain dari kemarin beneran, kalo bener


begitu berarti aku pingsan lama dong ?” kataku meyakinkan.


“Gak kok, kamu hanya pingsan sehari saja.” Kata Samsudin.


“Kayaknya aku dah baikan sekarang, mau minta pulang saja


nanti pingin berada dirumah saja.” Kataku.


“Jangan maksain lah, nunggu keputusan dokter saja.” Kata


Samsudin.


“Gak maksain, tapi beneran sudah baikan sekarang, hanya luka


bekas peluru ini saja yang masih terasa. Dan masih banyak yang harus aku


selesaikan dirumah Din.” Kataku.


“Jangan buru buru mas, kasihan istri kamu yang lagi hamil


tuh. Tadi aja Eis sampai gak tega, lihat Fatimah sedih begitu. Sampai pingsan


beberapa kali.” Kata Eis.


Jadi apa yang aku lihat dialam bawah sadarku itu tadi


beneran terjadi kah, kataku dalam hati. Apakah aku tadi mengalami yang namanya


mati suri,pikirku.


“Tadi apakah aku mengalami sesuatu ?” tanyaku pada Samsudin.


“Iya, detak jantung kamu tadi berhenti cukup lama. Sampai


sampai Fatimah pingsan beberapa kali. Kenapa kamu Tanya begitu ?” Tanya balik


Samsudin.


Kemudian aku menceritakan, apa yang aku alami saat tiba tiba


merasa disebuah taman yang sangat indah sampai dengan bertemu Abah guru dan

__ADS_1


disuruh pulang. Kemudian seperti tersedot dalam sebuah pusaran dilorong dan


akhirnya tersadar.


“Apakah itu yang namanya mati suri ya, seperti apa rasanya


?” komentar Samsudin.


“Gak tahu juga lah Din, yang jelas aku juga melihat kalian


dan semuanya. Bahkan aku juga melihat saat Fatimah beberapa kali pingsan. Saat


itu aku juga merasa kasihan melihat Fatimah begitu, aku juga melihat tubuhku


sendiri yng sedang diberi kejut jantung oleh dokter. Tapi aku tak sanggup


melakukan apa apa, sampai Abah datang dan mendekapku dan menyuruh pulang.”


Kataku menceritakan apa yang ku alami dialam bawah sadar.


Begitulah percskapanku dengan Samsudin dan Eis, sampai


akhirnya aku kembali ditinggalkan sendirian. Dan aku diberi obat dan suntikan


oleh para medis, hingga aku tertidur.


******


Fatimah POV


“Kata dokter, jika kondisi mas Yasin sampai besuk tetap


stabil sudah boleh pulang kang Salim.” Ucapku pada kang Salim.


“sebenarnya pulang sekarang pun sudah gak papa, hanya saja


kita tetap harus mengikuti aturan rumah sakit. Jadi besuk saja kita bawa


pulang. Besuk pakai mobilku saja, gak usah pakai ambulance. Akang yakin Yasin


sudah kuat berdiri dan jalan sendiri.” Ucap kang Salim.


Semua ikut bersukur mendengar ucapan kang Salim tersebut.


Semakin Fatimah merasa lega atas semua ini. Tinggal menunggu kedatangan Bapak


ibuku beserta Yuyut yang justru sampai malam begini belum datang. Padahal


seharusnya lebih dulu mereka dengan kang Salim.


Terdengar suara bordering di Hpku, ada panggilan masuk yang


ternyata adalah telpon dari ibuku.


“Assalaamu ‘alaikum bu.” Sapaku di telpon.


“Wa’alaikummussalaam, bagaimana kondisi suami kamu nak. Ibu dan bapak belum


jadi berangkat. Tiba tiba Yuyutmu tadi jatuh sakit juga.” Ucap Ibu tampak


panik.


“Yuyut kena bu, mas Yasin sudah sadar sekarang, mungkin


besuk sudah boleh pulang.” Ucapku pada ibu.


“Gak tahu nak, tadi ibu bilang kalo suamimu kena musibah.


Kemudian Yuyutmu diam seperti menerawang sesuatu. Tiba tiba Yuyut mu jatuh


pingsan, ini baru saja sadar tapi masih lemah. Jadi gak bisa ditinggalin.” Ucap


ibuku.


“Yaudah gak papa bu, ibu rawat yuyut saja, mas Yasin sudah


baikan kok sekarang.” Kataku pada ibuku.


“Baiklah Fat, maafin ibuk dan bapak belum bisa jenguk


kalian. Jaga diri baik baik ya terutama kandunganmu.” Ucap ibuku.


“Iya bu, ibu juga hati hati dan jaga diri ya. Fatimah pingin


ibu nungguin saat Fatimah nanti melahirkan buk.” Ucap Fatimah.


“Iya nak, Insya Allah ibu usahakan mendampingi kamu nanti.”


Kata ibuku.


“Iya bu makasih, salam buat bapak dan yuyut buk.” Kata


Fatimah.


“Iya Fat, Assalaamu ‘alaikum..!” kata ibuk mengakhiri


telpon.


“Wa’alaikummussalam.” Jawabku.


Fatimah agak curiga kenapa Yuyut bisa jatuh pingsan saat


mendengar mas yasin kena musibah. Pasti ada sesuatu yang lain, atau mungkin


juga Yuyut mencoba menerawang keadaan mas yasin dan ada perlawanan dari


kelompok lain yang menyerang semua kekuatan yang mencoba mengawasi keluarga


kami.


“Udah Fat, Yuyut kamu pati baik baik saja kok.” Kata kang


Salim yang seakan tahu apa yang Fatimah pikirkan.


“Iya kang, hanya heran gak biasanya Yuyut sampai begitu.”


Ucap Fatimah.


“Saat ini memang, pergerakan orang yang menyerang suamimu


cukup kuat. Dan Akang kesini bukan tanpa sebab, melainkan langsung


diperintahkan Abah guru kita. Untuk membantu perjuangan suamimu, dan juga Abah


guru lah yang tadi ikut menyelamatkan suami kamu.” Ucap kang Salim mengejutkan


Fatimah dan yang lain.


“Maksut kang Salim ?” Tanya Fatimah penasaran.


“Tadi Abah gurulah yang berhasil menyelamatkan Suamimu dari


mati suri. Dan saat itu yuyutmu sedang menerawang suamimu, sehingga dia syok.


Dan akhirnya pingsan, jadi kamu gak usah khawatir, Insya Allah, Yuyutmu juga


akan baik baik saja.” Kata kang salim.


“Hanya saja, kedepan suamimulah yang harus berhati hati


lagi, karena sampai sekarang dia masih menjadi incaran orang. Masih banyak


ujian yang harus dia hadapi nanti. Tapi jangan panik, semua akan berlalu dengan


sendirinya. Dan kalian nanti akan menemukan kedamain setelah semua ini


berlalu.” Kata kang Salim.


Fatimah pasrah saja, dan menyerahkan semua ini kepada Allah.


Apapun yang akan terjadi, Fatimah akan selalu menghadapi. Hanya satu yang


Fatimah inginkan saat ini. Fatimah saat melahirkan nanti bisa didampingi ibu


dan suami.


Saat sedang merenung tiba tiba kami dikejutkan dengan suara


pak Yadi.


“Assalaamu’alaikum...!” sapa pak Yadi pada kami.


“Wa’alaikummussalam pak Yadi.”  jawabku.


“Mohon maaf, apa benar pak yasin sudah sadar ?” Tanya pak


Yadi.


”Iya pak, tapi sekarang baru tertidur habis disuntik dan


diberi obat.” Jawabku.


“Sukurlah, soalnya kami butuh keterangan pak Yasin, terkait


hilangnya Fanani dan lainya.” Ucap pak Yadi.


“Mereka saat ini ditawan dan dikurung dengan kekuatan


mistis, serta dipagari oleh kekuatan ghoib. Besuk setelah Yasin pulang, biar


saya yang akan menjemput mereka.” Ucap kang Salim.


“Owh iya pak, perkenalkan beliau ini namanya kang Salim,


senior kami di pesantren dan lurah pondok pesantren kami.” Kataku pada pak


Yadi.


“Owh iya, makasih pak, kami sangat membutuhkan bantuan


bapak, mencari tiga rekan kami yang hilang secara misterius.” Ucap pak Yadi.


“ Insya Allah, Besuk mereka akan pulang, tapi mereka butuh


waktu untuk memulihkan kesadaran mereka.” Ucap kang Salim.


Bersambung


Mohon dukungan,


berupa


Like


Komen &

__ADS_1


Vote


Terimakasih


__ADS_2