
Episode 89
“Durung wayahe, kowe mlebu omah kui
!” ( Belum saatnya kamu memasuki Rumah
itu ) ucap seseorang yang aku kenali suaranya. Yaah itu adalah suara Abah
guruku, aku berbalik menghampiri beliau. Kemudian aku menyalami beliau dan
mencium telapak tangan beliau tanda ta’dhim seorang santri kepada kyai nya.
“Ayo pulanng sekarang, ini belum waktunya kamu meninggalkan
duniamu.’ Kata abah guruku yang kemudian mendekapku dan kemudian tahu tahu aku
sudah berada dikerumunan orang orang yang menagisi aku. Tiba tiba aku eras
didorong oleh sebuah kekuatan yang entah dari mana membuat aku seakan terjatuh
kedalam sebuah lorong panjang dan terhempas dengan kencangnya. Dan tersedot
kedalam lorong itu yang membuatku menjerit ketakutan karena aku merasakan sebuah
tarikan kuat yang membuat seluruh badanku terasa sakit.
***********
Yasin POV
Sampai aku terjatuh di sebuah tempat
yang sempit, membuat tubuhku terbentur sesuatu sehingga aku terbatuk.
“Uhhuuk…” aku terbatuk dan merasakan
sakit yang luar biasa di dadaku.
Sku membuka mata kulihat orang orang
mengerumuni aku, pertama yang tampak adalah dokter yang memegangi alat pengejut
jantung.
Sementara aku memandang sekeliling
dan kulihat diluar ruangan ruangan dari kaca jendela satu persatu wajah wajah
kerabat dekatku berkumpul. Mereka tampak habis menangis, kemudian dokter yang
disampingku berkata.
“Sukurlah Pasien masih bisa
diselamatkan, biarkan dia beristirahat dulu.” Katanya.
“Dokter, biarkan keluarga saya masuk
saya rindu istri dan anak saya.” Pintaku.
“Tapi bapak masih lemah, belum boleh
banyak bicara. Besuk kalo sudah pulih baru boleh bicara banyak.” Kata dokter
itu.
“Percaya saya dokter, saya sudah
cukup kuat untuk menemui mereka.” Kataku.
Kemudian para medis itu saling
berpandangan, mungkin dalam hatinya berkata. “ baru siuman sudah bisa berbicara
lancer.
Wajar karena mereka tidak tahu apa
yang terjadi dialam bawah sadarku tadi, sehingga ada kekhawatiran aku kenapa
napa. Sementara aku yang mengalami kejadian dialam bawah sadar justru merasa
tenang dan merasa masih diberi kesempatan hidup lebih lama.
“Bapak yakin sudah merasa baikan
sekarang .” Tanya dokter itu.
“Seperti yang dokter lihat, saya
sudah bisa menggerakkan tangan dan kaki sekarang.” Jawabku sambil mengangkat
tangan dan kakiku. Meski masih merasakan sedikit nyeri di bagian dadaku.
Aku jadi teringat kejadian yang
menimpaku saat sedang mencari keberadaan Fanani dan kawan kawanya.
“Ada sesuatu yang harus saya
sampaikan kepada mereka, penting terkait kasus yang sedang terjadi saat ini
dokter.” Kataku meyakinkan dokter itu.
“Baiklah, tapi sementara hanya anak
Istri anda dulu yang boleh masuk. Dan tidak boleh terlalu banyak bicara dulu.”
Kata dokter itu.
“Iya dok, yang penting aku ingin
bicara dengan istriku dulu.” Jawabku.
Sesaat kemudian dokter itu keluar
dan member tahukan jika aku sudah sadar.
********
Fatimah POV.
“Pak Yasin sudah sadar, sekarang
ingin bertemu dengan istrinya “ kata dokter yang menangani mas Yasin.
“Alhamdulillah…!” ucap kami semuaa bersamaan. Dan aku
menangis bahagia mendengar suamiku sudah sadar dan ingin berbicara denganku.
“Fat, kamu cepat masuk temui suamimu sana cepat.” Ucap Eis
menyadarkan aku. Fatimahpun segera masuk menemui mas Yasin.
“Alhamdulillah mas, kamu sudah sadar, kami semua sangat
khawatir tadi.” Kataku sambil mengusap keringat di dahi mas Yasin.
“Iya Fat, berkat doa kalian semua. Apakah diluar ada kang
Salim Samsudin dan juga Eis. Selain Isti dan Arum juga ?” Tanya suamiku.
Fatimah merasakan mas Yasin agak ragu menyebut nama Eis, mungkin dia agak gak
enak denganku.
“Iya mas, semua khawatir padamu karena dari semalam kamu gak
sadar juga. Sampai Eis tadi mendonorkan darah padamu juga.” Jawab Fatimah pada
mas Yasin.
Mas Yasin justru terdiam mendengar kalo Eis mendonorkan
darah untuknya.
“Kenapa harus Eis Fat, bukan yang lain. Aku kan gak enak
sama Samsudin jadinya !” jawab mas yasin kemudian.
“Kondisi darurat dan hanya Eis yang darahnya cocok mas. Jadi
gak ada pilihan lain, kang Salim yang menyarankan.” Ucap Fatimah menenangkan
mas Yasin. Biar tidak terlalu terbebani hutang budi dengan Eis dan merasa gak
enak denganku juga tentu. Sementara Fatimah sendiri sangat menerima keadaan
itu, karena Fatimah tahu mas Yasin tidak akan berpikir aneh aneh.
“Sukurlah kalo itu perintah kang Salim, mas jadi gak terlalu
risau jadinya.” Kata suamiku.
“Iya mas tenang saja, Fatimah juga tidak apa apa. Bahkan
berterima kasih sama Eis sudah menyelematkan suami Fatimah.” Kataku sambil
tersenyum. Kulihat mas Yasin pun ikut tersenyum.
“Kamu memang istriku yang solehah Fatimah.” Jawabnya
singkat, tapi kulihat air matanya yang hamper tumpah disudut matanya.
Aku jadi terharu dan ikut melehkan air mataku mendengar
ungkapan tulus dari suamiku. Meski kami saat itu sedang bergejolak karena
disamping kami ada pasangan suami istri. Dimana keduanya dulunya adalah kekasih
hati masing masing dari kami. Namun untungnya kami semua dapat membedakan, mana
masa lalu dan masa sekarang serta masa depan. Sehingga masing masing kami dapat
mengendalikan diri. Saling memahami dan menyadari posisi masing masing, justru
begitu indah terasa hubungan kami berempat. Apalagi saat ini darah Eis mantan
mas Yasin juga mengalir ditubuh mas Yasin suamiku.
Dan aku sangat bisa memahami keadaan yang memang sudah
dikehendaki Allah seperti itu. Artinya aku Fatimah tidak sedikitpun merasa
cemburu terhadap Eis, bahkan karena Eis juga lah yang mendorong agar Fatimah
__ADS_1
menerima pernikahan kami dulu. Meskipun Fatimah tahu, saat itu sangatlah berat
bagi Eis juga Fatimah. Namun karena kami boleh dikatakan “dididik dan dibesarkan
dalam satu pesantren yang sama” sehingga kami semua dapat saling memahami.
“Mas, itu sudah kewajiban Fatimah sebagai istri harus
berbakti pada suami. Jadi gak usah berlebihan begitu, Fatimah jadi malu.”
Jawabku pada mas Yasin.
“Gak Fat, jujur gak mudah menemukan jodoh sepertimu. Makanya
aku bersukur banget atas karunia Allah berupa istri solehah seperti kamu.” Mas
Yasin kembali menyanjungku. Membuat hati Fatimah bergetar tak menentu.
“Udah mas, mas k an harus banyak istirahat dulu. Atau mau
ketemu Eis dan Samsudin ?” tanyaku.
“Apa kamu gak cemburu fat ?” Tanya suamiku.
“Gak lah, kan Eis sama suaminya juga. Kalo sendirian baru
Fatimah cemburu.” Kataku sambil senyum.
Fatimah sangat bahagia saat itu, melihat mas Yasin sudah
semakin baik kondisinya. Ada juga rasa heran, karena beberapa menit sebelumnya
sudah putus asa melihat detak jantung suami di layar monitor sudah terhenti.
Tapi sekarang sudah bisa bercakap dengan lancer, seperti tidak terjadi sesuatu.
Beberapa kali dokter datang menjenguk tapi melihat kondisi suamiku sudah
membaik tidak menyuruh Fatimah keluar. Bahkan mengijinkan yang lain bergantian
menjenguk.
Fatimah pun keluar sebentar mempersilahkan kang Salim dan
the Atikah masuk sebelum Eis dan mas Samsudin. Karena kang Salim lebih dituakan
diantara kami semua.
******
Yasin POV
Setelah Fatimah keluar meninggalkan aku, maka gentian kang
Salim dan the Atikah yang masuk menjengukku.
“Kumaha kang Yasin, tos damang ayena ?” sapa kang Salim yang
sering kali mengajakku bicara dengan bahasa sunda satu dua kalimat.
“Alhamdulillah kang, berkat doa semuanya Yasin sudah baikan
sekarang.” Jawabku.
“Ada Eis juga tuh diluar, masih mau ketemu gak ?” goda teteh
Atikah.
“Aah teteh bisa aja, Eis kan sudah jadi saudara teh.”
Jawabku.
“Iya, darah Eis sudah mengalir ditubuh kamu, sekarang.”
Sambung kang Salim.
“Iya kang, Fatimah tadi sudah cerita kok. Aku sangat
bersukur dipertemukan dengan teman teman satu pesantren dulu.” Kataku tulus
pada kang Salaim dan teh Atikah istrinya.
“Gimana ceritanya kamu bisa begini ?” Tanya kang Salim.
“Seperti dejavu saat aku dibakar si Japra dulu kang. Konsen terhadap mahluk Astral, lengah
terhadap musuh yang kasat mata. Owh iya kang, si Japra pun ikut dalam komplotan
yang memusuhi kita !” kataku pada kang Salim.
“Ya biasanya memang orang seperti itu akan dikumpulkan
dengan yang sesamama mereka. Karena satu frequensi, mereka akan dikumpulkan.
Seperti halnya kita dikumpulkan juga dengan orang orang yang sama pecinta
ulama.” Jelas kang Salim.
Aku mencoba mencerna apa yang disampaikan kang Salim
tersebut, ingat sebuah teori frequensi garpu tala. Yang akan menghantarkan
gelombang apa bila garpu tala tersebut satu frequensi.
“Yaudah, beberapa hari ini kamu akan kami temani sampai kamu
kang Salim dan teteh Atikah keluar dan gentian Eis dan Samsudin yang masuk
menjengukku.
“Kenapa kang kamu bisa terkena musibah seperti ini ?” Tanya
Samsudin padaku.
“Gak tahu juga nih Din, rasanya masalah selalu muncul
bergantian.” Jawabku pada Samsudin.
Aku agak kikuk untuk menyapa Eis, dan tampaknya Eis pun sama
sepertiku merasa kikuk untuk menyapa. Hingga Samsudin yang mencoba memecah
kekakuan kami dengan menyuruh Eis menyapaku.
“Kamu gak ucapin apa apa ke Yasin neng ?” Tanya Sammsudin ke
Eis.
Eis kaget mendapat pertanyaan seperti itu dari Samsudin,
sehingga aku yang membuka omongan lebih dahulu.
“Owh iya, harusnya aku yang mengucapkan banyak terimakasih
atas bantuan Istrimu Din. Karena telah mendonorkan darah untuk aku. Jadi saat
ini istrimu sudah kuanggap saudara atau adikku sendiri. Makasih Eis, kamu sudah
menyelamatkan nyawaku tadi.” Kataku membuka kekakuan diantara kami.
“Iya sama sama, memang sudah seharusnya begitu. Untung kang
Salim ajak Eis kesini, jadi Eis bis donorkan darah Eis ke mas Yasin.” Jawab Eis
yang sudah mulai cair suasana hatinya. Tidak terlalu kikuk dengan keadaan ini.
“Iya Eis, tapi apapun itu aku wajib berterimakasih padamu.
Owh iya, ngomong ngomong sampai sini jam berapa tadi kalian ?” tanyaku
mengalihkan pembicaraan.
“udah dari kemarin kita.” Gurau Samsudin.
“Diih Aa’, jangan bercanda kali kasihan mas yasin masih
sakit juga diajak bercanda. Gak kok tadi sekitar jam 2 siang kami sampai sini.
Dan ini sudah hamper waktu maghrib.” Jawab Eis. Sementara Samsudin hanya senyum
senyum.
“Dasar lo Din, kirain dari kemarin beneran, kalo bener
begitu berarti aku pingsan lama dong ?” kataku meyakinkan.
“Gak kok, kamu hanya pingsan sehari saja.” Kata Samsudin.
“Kayaknya aku dah baikan sekarang, mau minta pulang saja
nanti pingin berada dirumah saja.” Kataku.
“Jangan maksain lah, nunggu keputusan dokter saja.” Kata
Samsudin.
“Gak maksain, tapi beneran sudah baikan sekarang, hanya luka
bekas peluru ini saja yang masih terasa. Dan masih banyak yang harus aku
selesaikan dirumah Din.” Kataku.
“Jangan buru buru mas, kasihan istri kamu yang lagi hamil
tuh. Tadi aja Eis sampai gak tega, lihat Fatimah sedih begitu. Sampai pingsan
beberapa kali.” Kata Eis.
Jadi apa yang aku lihat dialam bawah sadarku itu tadi
beneran terjadi kah, kataku dalam hati. Apakah aku tadi mengalami yang namanya
mati suri,pikirku.
“Tadi apakah aku mengalami sesuatu ?” tanyaku pada Samsudin.
“Iya, detak jantung kamu tadi berhenti cukup lama. Sampai
sampai Fatimah pingsan beberapa kali. Kenapa kamu Tanya begitu ?” Tanya balik
Samsudin.
Kemudian aku menceritakan, apa yang aku alami saat tiba tiba
merasa disebuah taman yang sangat indah sampai dengan bertemu Abah guru dan
__ADS_1
disuruh pulang. Kemudian seperti tersedot dalam sebuah pusaran dilorong dan
akhirnya tersadar.
“Apakah itu yang namanya mati suri ya, seperti apa rasanya
?” komentar Samsudin.
“Gak tahu juga lah Din, yang jelas aku juga melihat kalian
dan semuanya. Bahkan aku juga melihat saat Fatimah beberapa kali pingsan. Saat
itu aku juga merasa kasihan melihat Fatimah begitu, aku juga melihat tubuhku
sendiri yng sedang diberi kejut jantung oleh dokter. Tapi aku tak sanggup
melakukan apa apa, sampai Abah datang dan mendekapku dan menyuruh pulang.”
Kataku menceritakan apa yang ku alami dialam bawah sadar.
Begitulah percskapanku dengan Samsudin dan Eis, sampai
akhirnya aku kembali ditinggalkan sendirian. Dan aku diberi obat dan suntikan
oleh para medis, hingga aku tertidur.
******
Fatimah POV
“Kata dokter, jika kondisi mas Yasin sampai besuk tetap
stabil sudah boleh pulang kang Salim.” Ucapku pada kang Salim.
“sebenarnya pulang sekarang pun sudah gak papa, hanya saja
kita tetap harus mengikuti aturan rumah sakit. Jadi besuk saja kita bawa
pulang. Besuk pakai mobilku saja, gak usah pakai ambulance. Akang yakin Yasin
sudah kuat berdiri dan jalan sendiri.” Ucap kang Salim.
Semua ikut bersukur mendengar ucapan kang Salim tersebut.
Semakin Fatimah merasa lega atas semua ini. Tinggal menunggu kedatangan Bapak
ibuku beserta Yuyut yang justru sampai malam begini belum datang. Padahal
seharusnya lebih dulu mereka dengan kang Salim.
Terdengar suara bordering di Hpku, ada panggilan masuk yang
ternyata adalah telpon dari ibuku.
“Assalaamu ‘alaikum bu.” Sapaku di telpon.
“Wa’alaikummussalaam, bagaimana kondisi suami kamu nak. Ibu dan bapak belum
jadi berangkat. Tiba tiba Yuyutmu tadi jatuh sakit juga.” Ucap Ibu tampak
panik.
“Yuyut kena bu, mas Yasin sudah sadar sekarang, mungkin
besuk sudah boleh pulang.” Ucapku pada ibu.
“Gak tahu nak, tadi ibu bilang kalo suamimu kena musibah.
Kemudian Yuyutmu diam seperti menerawang sesuatu. Tiba tiba Yuyut mu jatuh
pingsan, ini baru saja sadar tapi masih lemah. Jadi gak bisa ditinggalin.” Ucap
ibuku.
“Yaudah gak papa bu, ibu rawat yuyut saja, mas Yasin sudah
baikan kok sekarang.” Kataku pada ibuku.
“Baiklah Fat, maafin ibuk dan bapak belum bisa jenguk
kalian. Jaga diri baik baik ya terutama kandunganmu.” Ucap ibuku.
“Iya bu, ibu juga hati hati dan jaga diri ya. Fatimah pingin
ibu nungguin saat Fatimah nanti melahirkan buk.” Ucap Fatimah.
“Iya nak, Insya Allah ibu usahakan mendampingi kamu nanti.”
Kata ibuku.
“Iya bu makasih, salam buat bapak dan yuyut buk.” Kata
Fatimah.
“Iya Fat, Assalaamu ‘alaikum..!” kata ibuk mengakhiri
telpon.
“Wa’alaikummussalam.” Jawabku.
Fatimah agak curiga kenapa Yuyut bisa jatuh pingsan saat
mendengar mas yasin kena musibah. Pasti ada sesuatu yang lain, atau mungkin
juga Yuyut mencoba menerawang keadaan mas yasin dan ada perlawanan dari
kelompok lain yang menyerang semua kekuatan yang mencoba mengawasi keluarga
kami.
“Udah Fat, Yuyut kamu pati baik baik saja kok.” Kata kang
Salim yang seakan tahu apa yang Fatimah pikirkan.
“Iya kang, hanya heran gak biasanya Yuyut sampai begitu.”
Ucap Fatimah.
“Saat ini memang, pergerakan orang yang menyerang suamimu
cukup kuat. Dan Akang kesini bukan tanpa sebab, melainkan langsung
diperintahkan Abah guru kita. Untuk membantu perjuangan suamimu, dan juga Abah
guru lah yang tadi ikut menyelamatkan suami kamu.” Ucap kang Salim mengejutkan
Fatimah dan yang lain.
“Maksut kang Salim ?” Tanya Fatimah penasaran.
“Tadi Abah gurulah yang berhasil menyelamatkan Suamimu dari
mati suri. Dan saat itu yuyutmu sedang menerawang suamimu, sehingga dia syok.
Dan akhirnya pingsan, jadi kamu gak usah khawatir, Insya Allah, Yuyutmu juga
akan baik baik saja.” Kata kang salim.
“Hanya saja, kedepan suamimulah yang harus berhati hati
lagi, karena sampai sekarang dia masih menjadi incaran orang. Masih banyak
ujian yang harus dia hadapi nanti. Tapi jangan panik, semua akan berlalu dengan
sendirinya. Dan kalian nanti akan menemukan kedamain setelah semua ini
berlalu.” Kata kang Salim.
Fatimah pasrah saja, dan menyerahkan semua ini kepada Allah.
Apapun yang akan terjadi, Fatimah akan selalu menghadapi. Hanya satu yang
Fatimah inginkan saat ini. Fatimah saat melahirkan nanti bisa didampingi ibu
dan suami.
Saat sedang merenung tiba tiba kami dikejutkan dengan suara
pak Yadi.
“Assalaamu’alaikum...!” sapa pak Yadi pada kami.
“Wa’alaikummussalam pak Yadi.” jawabku.
“Mohon maaf, apa benar pak yasin sudah sadar ?” Tanya pak
Yadi.
”Iya pak, tapi sekarang baru tertidur habis disuntik dan
diberi obat.” Jawabku.
“Sukurlah, soalnya kami butuh keterangan pak Yasin, terkait
hilangnya Fanani dan lainya.” Ucap pak Yadi.
“Mereka saat ini ditawan dan dikurung dengan kekuatan
mistis, serta dipagari oleh kekuatan ghoib. Besuk setelah Yasin pulang, biar
saya yang akan menjemput mereka.” Ucap kang Salim.
“Owh iya pak, perkenalkan beliau ini namanya kang Salim,
senior kami di pesantren dan lurah pondok pesantren kami.” Kataku pada pak
Yadi.
“Owh iya, makasih pak, kami sangat membutuhkan bantuan
bapak, mencari tiga rekan kami yang hilang secara misterius.” Ucap pak Yadi.
“ Insya Allah, Besuk mereka akan pulang, tapi mereka butuh
waktu untuk memulihkan kesadaran mereka.” Ucap kang Salim.
Bersambung
Mohon dukungan,
berupa
Like
Komen &
__ADS_1
Vote
Terimakasih