
🌷🌷🌷
Reader tercinta, mohon maaf jika masih banyak typo karena Auto teks ataupun murni salah ketik.
Semoga tetap bisa menghibur.
🌷🌷🌷
Selamat membaca
...........
Episode lalu
Saat aku melihat dia sedikit meleng karena memperhatikan sena yang sedang mencari dahan atau ranting, secepat yang aku bisa aku melompat menyerang sosok itu dengan ranting yang langsung aku arahkan ke kedua mata sosok tersebut.
Dan saaat itu pula sosok itu hendak mencabuk Sena, aku harus lebih cepat sebelum sena terkena cambuk itu. karena kulihat Sena juga agak meleng ketika mencoba memetik ranting yagternyata masih ulet susah di patahkan.
“Sena Awas…!” teriakku sambil menusukan ranting yang akau bawa kearah salah satu mata sosok itu.
*****
Episode ini
“Laa haula wa laa Quwata illa billah…!” sambil berteriak mengucap kalimah hauqola aku menghentakkanselruh kempuanku agar lebih dulu seranganku mengenai sosok itu.
Dan diluar dugaanku sama sekali Sena yang tadi kulihat masih membelakangi makhluk ini spontan dia melompat dan berputar arah menyerang makhluk ini juga.
Sehingga hanya beberapa detik setelah serangku berhasil mengenai sosok itu. pukulan Sena pun mendarat tepat di dada mhkluk yang tengah meraung kesakitan karena matanya tertancap ranting kering yang aku tusukan.
Tanpa membuang kesempatan lagi aku mencekik leher makhluk itu dan Sena ikut memegang dan menarik rambut makhluk itu hingga menggelapar tangan dan kakinya seraya mohon mohon untuk dilepaskan.
“Ampuun aku tobat, aku akan mengaku gong itu ada disebuah sumur dikaki gunung merapi. Dan sumur itu ada di dalam gua di kaki salah satu bukit. Hanya itu yang aku tahu selebihnya aku tidak tahu.” Ucap makhluk itu yang tiba tiba menghilang dan berubah menjadi asap kemudian lenyap.
“Kamu gak papa Sena ? Aku tadi khawatir kamu hampir kena cambuk mahkluk tadi.” Tanyaku ke Sena.
“Iya gak papa, tadi sena merasakan desiran yang kuta dibelakang Sena sehingga secara reflek Sena menghindar. Seperti ketika merasakan desiran biji kapok Randu alas tadi.”Ucap sena.
“Owh pantas yuyut menyuruh kita begitu tadi, tapi sukurlah kamu berhasil kalo aku belum bisa merasakan apa apa tadi.” Ucapku jujur ke Sena. Jika dalam hal kepekaan Sena memang lebih baik dari aku. Kinestesisnya lebih kuat dari aku sedang aku sendiri tidak bisa seprti Sena.
Kemudian Aku dan sena segera duduk bersila dan membaca doa berupa surah Al-Fatihah Ikhlas, al falaq dan Annas serta solawat dan doa lainya. Hingga kami tersadar kembali berada dibawah pohon randu alas di pinggir belik.
“Alhamdulillah kita sudah berhasil mengetahui keberadaan Gong itu Sena. Makasih kamu sudah rela meninggalkan anak istrimu demi membantu aku.” Ucapku tulus pada Sena.
“Iya mas, santai saja Sena bukan orang lain. Tapi Gong itu untuk apa nanti mas ?” Tanya Sena.
“Kalo itu ceritanya panjang Sena, nanti saja aku ceritakan dirumah. Sekarang sebaiknya kita pulang dulu menemui yuyut.” Kataku pada Sena.
“Baiklah, kira kira sudah selesai atau masih ada tugas lain lagi ya ?” Tanya Sena.
“Gak tahu juga aku, kamu yang lebih mengenal Yuyut mungkin bisa menduga apakah kira kira sudah selesai atau masih ada tugas lainya.” Jawabku sambil melangkah kembali kerumah. Sekaligus melihat apakah Yuyut dan lainya sudah pulang atau belum.
Ternyata di lapangan sudah sepi tak ada orang, berarti semua sudah pada masuk ke rumah, batinku.
Aku dan Sena pun segera masuk kerumah, dan menuju keruang Mujahadah tempat yang paling cocok untuk membahas hal hal penting seperti ini.
Mas Yasin sama dik Sena baru pulang ?” Tanya Khotimah yang belum tidur.
“Iya mbakyu, kok mbakyu belum istirahat ?” jawab Sena.
“Khotimah tentu belum bisa tidur mikirn tadi habis dilamar Sena ?” jawabku bercanda.
__ADS_1
“Enak aja, Khotimah masih ngobrol sama Yuyut dan Mbak Fatim dan Mbak Isti dikamar Yuyut.” Jawab Khotimah.
“Lah terus Rofiq kemmana ?” tanyaku.
“Tidur kali mas, dia kecapean tadi habis disuruh fisik sama Yuyut.” Jawab Khotimah.
“Wah bisa jai Rofiq tadi juga habis dihajar Khotimah juga kali.” Kataku dalam hati.
“Khot kalo kedapur minta tolong bikini kopi wekalian domg, mas kedinginan nih sama Sena.” Pintaku pada Khotimah.
“Iya ni baru juga rebus air, memang sengaja mau bikin minum. Yuyut juga kedingina disini, makanya minta jahe hangat. Dik Sena jahe hangat atau kopi ?” Tanya Khotimah.
“Jahe boleh mbakyu.” Jawab Sena.
Kemudian Sena melanjutkan pertanyaan tentag gong tadi.
Kemudian aku jelaskan jika penabuh gong itu sudah ada padaku sengaja untuk persiapan nanti menghadapi alang Anyi anyi sebagi puncak dari penyelesaian masalah ini.
“Jadi puncaknya bukan ilmu ‘panggiring sukma’ itu mas ?” Tanya Sena.
“Bukan Sena, meskipun ilmu itu juga gak bisa dianggap enteng juga, tapi bukan itu puncaknya. Sesuai ISYAROH yang aku terima puncak dari pertempuran nanti ketika berhadapan dengan raja Jin yang berjuluk Dalang Anyi anyi. Dan aku sekali pernah berhadapan denganya, meski lewat mimpi. Dia punya ilmu gundolo sosro ( seribu halilintar ). Dalam mimpi itu kalo aku tidak di tolong oleh……. Seseorang ( aku enggan menyebut didepan Sena jika aku ditolong oleh sosok yang mengaku sebagai kanjeng Sunan Kali jaga ) mungkin aku sudah tewas. Bahkan saat bangun pun aku masih merasakan efek dari serangan gundolo sosro itu.” penjelasanku pada Sena.
“Seseorang itu siapa mas ? Apa mas mengenalnya ?” desak Sena. Membuat aku kebingungan harus bilang apa. Jujur mimpi seperti itu tak layak diperbincangkan jika tiak aa kompetensinya dan atau tidak membawa manfaat. Cukup dikonsumsi sendiri sebagai pengalaman perjalanan spiritual pribadi seseorang yang bermimpi.
“Aku tidak berani memastikan, hanya aku diberi cemeti kyai Pamuk untuk menahan serangan ilmu Gundolo Sosro itu. meski dibilangi itu tidak untuk mengalahkan dalang Anyi Anyi tapi sekedar menahan ilmu gundolo sosro miliknya. Dan masih ada ilmu dalang Anyi Anyi yang lain yang harus ditanggulangi dengan goong dan penabuh pasanganya itu.” jelasku pada Sena.
“Ni mas Kopinya dan ini jahe hangat untuk dik sena, mas Yasin Khotimah nyela sebentar ya ?” Tanya Khotimah.
“Ada apa Khot, bilang saja gak papa.” Kataku pada Khotimah.
“Maaf ya dik Sena obrolanya terpotong, Begini mas terkait rencana mas Yasin besuk kerumah mas Candra, Khotimah gak usah ikut kan. Pokoknya Khotimah sudah pasrah sama mas Yasin. Bahkan tadi Yuyut juga bilang begitu. Soal lamaran diserahkan ke mas Yasin saja untuk menjawabnya.” Ucap Khotimah.
“Khotimah sduah bertekat mas, sudah mantap untuk mengikuti apa kata mas Yasin. Jujur melihat keharmonisan mas Yasin dengan mbak Fatim membuat Khotimah ingin mengikuti kalian dalam membina rumah tangga nanti. Pokoknya ikut saja sama mas Yasin.” Ucap Khotimah sambil membawa minuman hangat juga buat Yuyut dan Lainya. Biarlah mereka melakukan dialog sendiri dengan Yuyut, aku mengobrol lagi dengan Sena.
Sebuah tanggung jawab yang berat bagiku, tapi aku yakin jika Candra itu orangnya baik sebenarnya. Kalaupun dulu sangat membenciku itu juga karena salahku. Aah sudahlah aku gak mau mengingat masa laluku lagi. Sudah kukubur dalam dalam semua kenangan masa laluku.
“Kamu gak ngantuk Sena ?” tanyaku sebelum melanjutkan bicara.
“Belum mas, masih penasaran dengan cerita mas Yasin tadi.” Jawab Sena.
“Aku kagum padamu Sena, kamu begitu cepat menerima ilmu dari Yuyut tadi saat diminta menagkap biji kapok Randu Alas. Dalam waktu singkat kamu bisa langsung berhasil.” Ucapku ke Sena.
“Sena juga gak tahu mas, tapi Sena juga kagum sama kamu mas saat melawan Makhluk tadi tindakan mas sangat jitu sistematis dan akurat.” Jawab Sena.
“Kalo itu hanya pertimbangan logika saja Sena, setelah berhasil memecah konsentrasi makhluk itu dan dia lengah maka kuambil tindakan yang cepat dan tepat. Sehingga makhluk itu bisa kita lumpuhkan bersama.” Jawabku.
“Ya itu maksutku mas, Sena heran dengan mas Yasin yang bisa dengan cepat berpikir logis meski dalam kondisi bertempur sekalipun.” Kata Sena.
“Ya kalo itu, memang tiap orang punya kelebihan dan kekurangan masing masing. Kamu punya kelebihan dalam mengasah reflek sedangkan aku lemah disbanding kamu dalam hal itu. sedangkan dalam berlogika mungkin aku ada sedikit lebih dari kamu. Aku rasa hal itu wajar lah pembawaan orang masing masing.” Jawabku.
“Tapi kebanyakan orang yang suka berurusan dengan hal supranauturl seperti mas Yasin kadang pemikiranya cenderung selalu kearah mistis. Sedang Sena lihat mas Yasin gak begitu, pemikiran logikanya selalu ada.” Kata Sena.
“Lah kita ini kan sama sama pernah belajar di pesantren, jadi pasti pernah diajarin ilmu Mantiq ( Logika ) meski kadarnya mungkin hanya sedikit. Atau minimal pernah mendengar bahwa para mufasir ( Ahli tafsir ) selain menguasai Asbabul nuzul Ayat ayat Quran, kemudian ilmu bayan ma’ani dan lainya juga menggunakan ilmu Mantiq. Jadi logika itu tidak bisa ditinggalkan, meski tidak semua harus dilogika.” Jawabku.
“Misalnya apa mas yang gak harus dilogika ?” Tanya Sena. Entah beneran Tanya atau hanya sekedar ngetes saja.
“Yang paling gampang dan Mutlak adalah Keberadaan Allah Swt, gak usah dilogika dimana, dan seperti apa. Karena itu adalah ranahnya Iman bukan ranah logika.” Kataku.
Tidak terasa obrolan kami sudah cukup lama sehingga segelas kopi sudah aku habiskan dan beberapa batang rokok juga sudah memenuhi asbak.
“Istirahat dulu saja Sena, besuk masih ada tugas banyak, dan habis Subuh mulai semaan Al-Quran dari awal lagi. Sudah itu harus ke rumah Candra yang meminag Khotimah, kamu besuk ikut ya habis semaan kita berangkat.” Ajakku pada Sena.
__ADS_1
Beberapa hari kurang istirahat membuat kantukku tak dapat ku tahan lagi, sehingga begitu masuk ke kamar dan berbaring disamping istriku yang sudah duluan dikamar aku langsung tertidur pulas.
*****
Dimarkas baru Maheso Suro
“Kali ini kita tak mungkin lagi melakukan serangan secara Fisik, karena patrol dilakuakan semakin ketat. Bagai mana rencana selanjutnya ki ageng ?” Tanya ki Soma pada Maheso Suro.
“Yang mungkin bisa melakukan adah Ajar panggiring dengan ‘Panggiring Sukmanya’ buat orang yang ada disana yang melakukan dibawah kendali kita. Jika perlu libatkan gurumu Ajar panggiring.” Ucap Maheso Suro.
“Gak mudah ki untuk melibatkan guruku dalam urusan ini. dan seandainya beliau maupun saratnya sangat berat hampir gak mungkin bisa dipenuhi permintaanya.” Kata ajar panggiring.
“Memang apa saratnya ?” Tanya Maheso Suro.
“Selain persyaratan potongan kuku dan rambut calon korban, guruku juga pasti minta darah perawan yang lahir malam jumat kliwon atau selasa kliwon agar menambah kekuatan dalam memanggil prewangan ( Khodam ) yang khusus agar bisa menembus pagar ghaib yang ada sekarang.” Kata Ajar Panggiring.
“Darah Perawan gimana maksutnya, pingin meniduri perawan atau tumbal darah gadis yang masih perawan ?” Tanya Maheso suro penasaran.
“Dua duanya ki, ya ditiduri yan akhirnya jadi persembahan untuk ritual dan bisa berujung kematianya.” Jawab Ajar panggiring.
“Wah berat juga kalo begitu, sama saja harus memikirkan meculik orang dan harus ada pembunuhan lagi. Kalo sekedar bantuin kamu agar lebih kuat lagi bias tidak ?” Tanya Maheso Suro lanjut.
“Mungkin bisa, tapi sama saja pakai sarat yang hampir sama hanya tidak harus yang pasaran jumat kliwon atau salasa Kliwon.” Ucap Ajar Panggiring.
“Kalo itu masih mungkin meski juga gak gampang. Sekarang gini aja deh, kita berangkat kepada grumu biar aku yang nanti akan matur kepada gurumu eyang Joyo Maruto.” Kta Maheso Suro.
“Tapi sekali kesana menemui beliau tidak ada istilah gagal, atau tidak jadi ki. Kalo misalnya eyang Joyo Maruto meminta sarat itu artinya harus, tidak ada istilah gak jadi atau batal. Kalo batal yang membatalkan akan dibuat meninggal seperti bunuh diri kesanya.” Jawab Ajar panggiring.
“Sudah kepalang basah, kita mundur juga hancur kita maju juga mungkin lebur. Gak ada pilihan lain, kita harus kesana bersama sama apapun resikonya ya kita tanggung bersama. Kalo eyang joyo maruto minta sarat begitu ya kta banti semaksimal mungkin agar tercapai tujuan kita.” Ucap Maheso suro.
“Baiklah kalo begitu kita berangkat hari ini saja.” Ucap Ajar panggiring.
Mereka pun segera berkemas berangkat ke guru ajar panggiring untuk meminta bantuan. Karena merasa kerepotan menghadapi yasin yang dibantu Yuyut dan lainya.
Bakalan bertambah lagi kekuatan musuh, pantas dulu kang Salaim mengingatkan Yasin jika kekutan musuh yang sekarang seratus kali lipat dari Raja jin Sosro Sukmo.
...bersambung...
Terimakasih atas dukungan dari Readers semuanya.
Komentar readers semangat Author
Author akan berusaha terus memperbaiki, bahasa retorika dan lainya.
Semoga dapat menghibur Readers semua.
...Jangan lupa dukungan berupa :...
...Like...
...Komen...
...&...
...Vote nya...
...Terimakasih...
...🙏🙏🙏...
__ADS_1