
Bagian akhir episode sebelumnya
Assalaamu 'alaikum...
apa ini beneran mas Yasin ? "
Tanya Isti di telpun.
"wa ' alaikummussalaam..
" Iya Is aku cuma mau bilang au gak papa. Kamu dan ibu kamu dirumahak Yadi dulu. Biar semua aman. Nanti aju telpun lagi ya.
Assalaamu ' alaikum...."
Tanpa menunggu jawaban aku tutup telepun, karena aku melihat orang yg sempat serang aku di Polda tadi.
Aku hendak kejar tapi dia pakai motor ngebut.
Aku nunggu polisi datang lagi saja lah.
" Ada apa mas Yasin kok panik banget gitu !?"
" Tadi lihat orang yg mencelakai saya tadi sebelum di culik. " Kataku sambil atur nafas.
Tiba tiba sirine polisi datang.....!
Kulihat para penculikku tadi semua sudah tertangkap.
Pak Yadi dan beberapa personil polisi mendatangiku.
" Coba jenengan cek pak, apakah betul itu orang orangnya ? " Tanya pak Yadi.
" Betul pak, tapi ada kurang jumlahnya pak, tadi ada 5 orang pak. " jawabku.
" Jadi satu orang suudah kabur duluan. Gak papa pak Identitas pelaku sudah di ketahui. " Jjawab pak Yadi.
" Biar orang orang ini kita amankan juga pak. Panjenengan jadi pulang dengan kami atau pak Sastro ? " Tanya pak Yadi.
" Biar nanti saya bareng pak Sastro saja pak kami masih ada urusan. " Kataku ke pak Yadi.
Kemudian pak Yadi melangkah menuju mobil polisi dan melaju ke kantor polda.
Kemudian pak Sastro menghampiriku dan mengajakku ke rumahnya. Disana anakku Sidiq dan ibunya Sidiq sudah menunggu.
Tidak terlalu lama kami pun samoai dirumah pak Sastro.
Sidiq tampak bahagia melihat kedatanganku. ( Begitupun aku Ayah biologisnya )
Aku bermain main sejenak dengan Sidiq,sebelum melakukan pembicaraan dengan pak Sastro.
Di saat pertemuan dengan pak Sastro. Aku tak menyangka Arum ibunya sidiq juga Sidiq ikut gabung bicara.
" Begini mas Yasin, saya butuh bantuan lagi dari mas Yasin. Kali ini kaitanya dengan Sidiq dan ibunya sidiq ! " kata pak Sastro.
Penjelasanya itu membuat jantung ku berdegup kencang. Apa pak Sastro sudah tahu ya ? batinku dalam hati.
" Ada masalah apa ya pak ? " Tanyaku bergetar.
Tiba tiba Arum yg menjawab.
" Begini mas, Arum kan bulan depan ketrima kerja. Jadi Sidiq rencana mau aku pondokkan, baiknya dimana ? " Tanya Arum datar, tapi menbuatku lebih tenang.
Aku jadi ingat rencanaku dengan Isti untuk menjodohkan Arum dengan Rofiq.
...................
Sayangnya Rofiq masih dipenjara, pikirku. Kalo tidak ini kesempatan yang bagus.
" Mas Yasin punya pandangan tidak ? Bukanya mas juga pernah nyantri !?! " Seru Arum.
Aku agak bergetar mendengar niat Arum seperti itu.
" Iya ada, dan tempanya gak jauh jauh amat dari sini. Mungkin bisa ku jadwalkan dia bisa datang kesini " jawabku.
" Kebetulan kalo begitu mas ! " Sahut pak Sastro kemudian.
Aku mengingat obrolanku dengan Isti.
........................
flashback...!
" Ada apa lagi ? kok kayaknya serius banget. Gak lagi bikin guyonan lagi kan ? " tanya Isti.
" Kali ini serius gak bercanda Is. Kamu ingat waktu aku curhat lewat chat waktu itu ? " Tanyaku membuka pembicaraan.
" Yang tentang masa lalu mas, ternyata saat ini sudah punya anak itu ? " Isti memastikan.
" Iya Is bener, gimana kalo abangmu kita kenalkan Arum ? " tanyaku.
" Sebentar kalo masalah itu, jangan dibicarakan diwarung. Kita bicara disini saja ! " pinta Isti padaku.
" Ok, disana aja bawah pohon agak teduh. " usulku.
" Ya sih tapi terlalu mojok takut dikira kita pacaran mas. ! " jawab Isti.
" Yg penting kan terbuka Is tempatnya, orang tetep bisa lihat kita ngapain. Dan tujuan kita juga cuma ngobrol. " kataku.
__ADS_1
" Iya deh ayuk Isti ikut saja ! " katanya.
Kamipun berjalan menuju pohon itu.
"Maksut mas Yasin, Mas Rofiq kita jodohkan dengan Arum ? " tegas Isti
" Iya arahya kesitu, tapi kita buat seakan semua berjalan alami. biar mereka saling kenal dan saling suka dengn sendirinya. " terangku ke Isti.
" Apa bisa begitu mas ? " tanya Isti.
" Kalo soal itu aku sudah merasakan dan membuktikan. Kamu juga pasti sudah tahu kan ?!? " jawabku.
" Oeh iya maaf, bukan maksut Isti ngingetin yg dulu. Maksutnya apa bisa diatur begitu ? " jawab isti.
" Ya kita Usahakan soal hasil ya serahkan pada Nya. " jawabku.
Isti diam tapi tampaknya setuju !
flashback off.
.......... ...
Kami berdua berjalan keluar kearah pintu diikuti Sidiq dan Arum di belakangku.
Tiba tiba, Sidiq teriak.
" Om Yasin kepalanya kenapa kok berdarah ? " Tanya Sidiq.
Rupanya luka pukulan itu mengeluarkan darah lagi.
" Kamu kenapa mas ? Darahnya sampai menetes gitu ? " Tanya Arum panik, tapi justru aku yg makin panik dengan ucapan Arum yg bisa mencurigakan.
Pak Sastro langsung melihat bagian belakang kepalaku.
" Wah mas harus di tutup dulu lukanya, duduk dulu aku beli perban dan obat dulu ! " kata pak Sastro.
Aku lantas kembali duduk, ditemani Arum dan Sidiq.
" Mang kenapa mas, kepalanya ? " Tanya Arum.
Aku lantas menjelaskan kronologisnya.
...............
...flashback...
Saat kami sedang ngobrol aku lihat serombongan orang yg gelagatnya tidak baik.
Aku bilang ke Isti untuk segera kembali masuk ke polda. Setelah membayar makan kami pun meninggalkan warung. Tapi rombongan orang itu mengejar kami.
Kemudian Isti aku suruh lari duluan.
" Tapi mereka banyak mas ! " kata Isti.
" Udah jangan bandel cepat lari ! " Aku berkata membentak.
Isti pun segera lari, aku mencoba menghalangi 2 orang terdepan yg mengejar.
Seorang diantaranya membawa doble stick senjata ala bruce lee.
Dan satunya membawa golok kecil.
Benar kata pak Yadi, Keluarga Rofiq dalam ancaman, batinku.
Ketika dua orang semakin dekat, kutengok Isti sudah memasuki hal polda aku agak lega. Tinggal berpikir cara hadapi mereka.
Dua di depan harus ditahan dulu, suaya Isti Aman. Adanya hanya batu, yg bisa jadi senjata bertahan. Kumbil batu yg ada, ketika jarak semakin dekat segera kulempar batu itu kearah kaki salah satu orang itu.
Mengenai tulang kering kakinya hingga jatuh. Teman satunya menolong, aku berlari menghindar menyusul Isti.
Tapi tiba tiba ada orang dibelakang dua orang tersebut. Yang mengendarai motor berhasil menhadangku. Kemudian menghentikan aku, dengan menodongkan senjata tajamnya ke leherku.
Kulirik Isti sudah masuk bangunan polda, sudah aman pikirku.
Aku ikuti saja mau mereka.
" Ikut kami atau mati ! " Ancam orang itu.
" Ok, mau kaliyan apa ? " tanyaku.
" Ikat dia cepat bawa ke markas. " Perintahnya pada yg lain.
Tiba tiba tengkukku ada yg memukul.
Buukk....
Tiba tiba gelap, aku tak sadar.
flshback off....
......................
Aku tadi sadar sudah berada di gudang itu. Dan untung bisa lari dari gudang itu. Kemudian ketemu lek mu itu.
" Jadi Mas tadi diculik ? " tanya Arum.
" Ya begitulah, o iya gimana kalo Sidiq diprivat ngaji dulu aja ? " Usulku pada Arum.
__ADS_1
" Terserah kamu saja mas, maaf bagaimanapun kamu adalah bapaknya. Arum tidak bermaksut unkit masa lalu kita ! " kata Arum.
" Iya aku faham kok Arum, aku mengakui aku punya dosa yg besar padamu ! " sahutku.
" Ya salah kita berdua juga mas, walau bagaimanapun. Waktu itu kita melakukan atas dasar suka sama suka. O iya ini darahnya kok masih ngalir terus. Boleh gak Arum bersihin mas ? " tanya Arum.
Aku bingung harus bilang apa ? bilang boleh gimana, karena antara kami berdua pernah ada cinta. Bilang tak boleh juga gak enak.
Akhirnya aku persilahkan Arum membersihkan luka di kepalaku.
" Kalo kamu gak keberatan gak papa Rum ! " jawabku.
" Gak kok, tapi rambutnya harus di gunting sekitar luka ini mas " seru Arum.
" Iya gak papa Rum ! " sahutku.
Mulailah Arum memotong rambut disekitar lukaku.
" Memang di pukul apa tadi mas, kok lukanya panjang ? " tanya Arum.
" Ya gak tahu juga, dipukul dar belakang tadi. Tiba tiba gela gak inget apapun. O iya Sidiq mana kok gak kelihatan, aku kangen dia ! " kataku.
" Serius mas punya rasa kangen sama Sidiq ? " tanya Arum gak percaya.
" Demi Allah Arum, aku sayang sama Sidiq. Dia juga darah dagingku. " kataku.
Tiba tiba Arum menangis, aku tak tahu kenapa dia menangis.
" Mas Arum boleh nanya, tapi mas jangan marah ya ! " Arum berkata dengan terisak.
" Mau tanya apa sih ? " desakku pada Arum.
Arum terdiam sejenak, menyiapkan mental untuk bicara.
" Iya mas, tapi sebelumnya Arum mohon maaf. Apapun jawabanmu tidak akan merubah sikap Arum. ! " Kalimat Arum terjeda, aku menahan rasa penasaran dan gejolak hati yg tak karuan.
" Sejujurnya, Arum berharap mas bersedia mengasuh Sidiq. Arum ingin cari kerja dilain daerah. Untuk melupakan masa lalu Arum. Tapi Arum sadar itu sulit bahkan hamir tak mungkin. "
Arum berhenti bicara, menahan isak tangisnya. Sambil menyeka air matanya. Aku pun turut larut dalam kesedihan itu.
" Arum... aku tetap tanggung jawab terhadap Sidiq. Hanya menunggu saat yang tepat bicara dengan istriku. Bahkan ibu mertuaku pun sudah tahu jika aku sudah punya anak biologis. Tapi ibu mertuaku melarang aku cerita ini, ke Fatimah istriku karena lagi hamil. " jawabku.
" Ibu mertuamu tahu dari mana mas, terus sikapnya gimana ? " tanya Arum penasaran.
" Tahu dari mananya gak dapat aku jelaskan. Tapi ibu dan bapak mertuaku sangat baik jadi tidak marah. Karena itu adalah masa laluku. " jawabku.
" Ceritanya gimana mas bisa begitu ? " Arum masih belum yakin dengan keteranganku.
Kemudian terpaksa aku jlaskan.
...flashback...
Aku melangkahkan kakiku dengan berat. Ternyata ibu mertuaku mengikutiku dan menghentikan aku diluar.
" Nak kamu menantuku satu satunya. Ibu bahagia kamu dan Fatimah begitu saling mencintai. Namun ibu tahu, kamu masih menyembunyikan sesuatu di masa lalu mu.
Ibu sudah tahu, dan Ibu minta kamu gak usah kasih tahu Fatimah dulu. Jika kamu sudah mempunyai putra. Gak usah kaget, ibu tahu dari Yuyut. Tapi ibu percaya jika kamu sudah berubah total.
Ingat ya jangan bilang Fatimah, biar ibu yg bicara pelan pelan ! " seru ibu mertuaku.
Aku langsung bersimpuh dikaki ibu mertuaku.
Tapi dilarang disuruh langsung berangkat.
Akupun melangkah mantap, satu masalah terselesaikan.
...flasback off...
........................
" Begitulah ceritanya Rum, jadi kamu gak usah khawatir. Aku pasti akan mengangkat Sidiq sebagai anakku dan memang dia anakku. " Aku menjelaskan panjang lebar pada Arum.
" Ini sudah mas, tinggal nunggu perban nya saja. " Kata Arum.
" Owh ya makasih banyak Rum ! " kataku.
" Mas mungkin Arum gak tahu diri mas. Tapi Arum harus ngomong. Bahwa sejujurnya Arum masih berharap bisa bersatu denganmu. Tapi setelah mendengar ceritamu tadi, Arum jadi sadar itu tidak mungkin. Jadi Arum sekarang sudah bulat mau melupakan semua masa lalu kita. Meski sungguh berat rasanya. Tapi Arum yakin, Arum pasti bisa mengikuti jejak mu mas. Arum mau hijrah ke jalan yg lurus ! " kata Arum sambil terisak.
" Maafkan aku Arum, yg tak mampu memenuhi keinginanmu yg itu. Jujur secara manusiawi aku tidak tega. Tapi itulah jalan terbaik buat kita. "
Aku bicara sambil menahan sesak di dada. Namun aku harus bicara apa adanya.
" Demi Sidiq, mungkin tidak kita menikah. meski setelah nikah aku kamu ceraikan gak papa mas. Agar Sidiq bisa punya status punya ayah kandung ? "
Bagai disambar petir aku mendengar pertanyaan Arum seperti itu.
Aku tak mampu menjawab, sungguh berat rasanya menggerakkan bibir dan lidahku.
...bersabung...
...Jangan lupa...
...Like...
...Koment...
...dan vote nya...
__ADS_1
...Terima kasih...
...🙏🙏🙏...