Isyaroh

Isyaroh
Awal sidang dikacau para dukun.


__ADS_3

Bagian akhir episode sebelumnya


" Satu hal saja pak, perintah pimpinan melalui pak Yadi ! Yaitu, demi keamanan. Ibu Arum dan putranya, juga dimohon untuk tinggal disisini sementara waktu " begitu keterangan salah satu personil polisi.


Aku gak bisa berkata apapun, karena memang bahaya juga bagi Arum dan Sidiq. Tentulah pihak lawan dengan mudah mencari siapa orang orang terdekatku dan Rofiq. Yang sekiranya bisa di tawan untuk sandera agar aku atau Rofiq mau mengikuti kemauan mereka.


Sungguh rencana yang licik, untuk menghadapinya harus dengan siasat yg jitu. Dan dengan mengumpulkan target dalam satu titik dengan pengawasan full begini pasti lebih terfokus.


"Sebenarnya aku gak percaya, kalian hanya bertiga. bukan menyangsikan kemampuan kaliyan. Tapi musuh kita super licik, jadi gak mungkin hanya menugaskan kalian bertiga." kataku membuat tiga orang itu, terkejut.


" Benar pak, pengamanan ini berlapis lapis. Tidak hanyakami bertiga, tapi total personil yg mengawasi dan mengamankan mencapai belasan personil lapangan. Dengan berbagai macam tugas dan peran. Selain kami bertiga akan banyak petugas yg mengontrol melakukan patroli. Penyamaran sebagi pedagang keliling bahkan ada yg berpereran orang gila. " jelas Fanani pimpinan mereka.


" Iya aku faham sekarang, jika mau istirahat masih ada dua kamar kosong. Semoga besuk pagi bisa beraktifitas sesuai rencana. Saya mau istirahat dulu." pamitku.


Kemudian aku masuk kamar, kulihat Sidiq sudah tidur sendiri. Kutengok di ruang mujahadah, Fatimah, Isti dan Arum masih ngobrol.


"Biarin lah, aku gak perlu ikut nimbrung. Lebih baik nemenin Sidiq tidur." batinku.


Aku kembali masuk kekamar berbaring melepas penat, sambil memeluk anakku Sidiq. Entah jam berapa tiba tiba Fatimah masuk menyusul tidur.


Dan sempat berbincang sebentar, aku dan Fatimah pun kembali tidur.


..........................


Pagi setelah Subuh


"Say ajak khotimah bikin minum, aku mau beli sarapan dulu. Pagi ini gak usah masak, kan kaliyan juga masih pada capek ?" bisikku ke Fatimah.


" Iya mas, untuk siang sekaliyan beli sayuran. Nanti kita masak bareng bareng, kan ada Khotimah, Isti dan Arum juga." sahut Fatimah.


" Iya, sama aku mau bicara satu hal penting padamu Fatimah !" seruku.


" Apa mas ?" tanya Fatimah.


"Info dari tiga polisi itu, Arum dan Sidiq masuk dalam daftar yg harus di lindungi. Disarankan, mereka tetap disini. Menurutmu bagaimana ?" tanyaku pada Fatimah. Dengan kalimat yg hati hati agar tidak salah faham.


" Iya mas, gak papa. Kita semalam sudah ngobrol bertiga, kita sudah saling memahami." jawab Fatimah.


" Syukurlah, kamu memang istri yg sempurna bagiku." ucapku.


Tiba tiba pintu kamar diketuk.


tok...tok...tok...


" Mbak Fatim, mbak Arum nyariin !" suara Khotimah.


" Iya, tunggu sebentar !" jawab Fatimah.


" Yaudah gitu aja, aku langsung ke pasar. Kamu jangan kecapaian, ingat kandunganmu !" seruku.


Fatimah hanya tersenyum dan mengangguk, kemudian keluar kamar.


Aku bersiap berangkat ke pasar. Kulihat, Fatimah dan lainya di ruang mujahadah ngobrol. Sementara tiga personil polisi itu joging di depan rumah.


" Maaf saya tinggal sebentar, saya harus beli sesuatu untuk grafting nanti." kataku pada ketiga orang itu.


" Iya pak, silahkan !" jawab ketiganya.


Aku stater motor dan pergi ke pasar.


........................


Fatimah POV


Setelah keluar kamar, aku tanya ke Khotimah.


" Ada apa Khot ?" tanyaku pada Khotimah.


" Itu ditunggu mbak Arum mau pamitan, Sidiq belem bangun ?" tanya balik Khotimah.


" Belum, biarin aja masih bocah ini." jawabku.


Aku menuju ruang mujahadah, sekaligus tempat kumpul jika banyak orang. Disana sudah komplit, pada ngobrol.


" Maaf belum ada minumanya nih ?" tanyaku.


" Santai aja Fat, Isti dan Arum sudah rebus air. Tinggal tunggu mendidihnya." Isti yang menjawab.


"Iya mbak Fatim, biar nanti Khotimah yg bikin minumnya." sahut Khotimah.


" Betul, kamu jaga kandungan kamu nak !" ibu nya Isti menyahut.


" Aduh makasih ya semua, malah kalian yg repot." jawaku.


" Gak kok Fat, Sidiq belum bangun ?" tanya Arum.


" Belum, biarin dulu masih bocah ini." jawabku.


" Iya, memang biasa bangun agak siang, kalo matahari dah terbit." sahut Arum.


" O iya, kata Khotimah Arum tadi nyariin Fatimah, ada apa ?" tanyaku.

__ADS_1


" Gak papa, cuma mau pamitan nanti kalo Sidiq dah bangun aja." jawab Arum.


" Owh... tapi tadi mas Yasin bilang, kamu dan Sidiq disarankan tinggal disini dulu." kataku.


" Kenapa ?" tanya Arum.


" Menurut infonya, kamu dan Sidiq masuk daftar orang yg harus dilindungi. Gak boleh keluar keluar dulu." jawabku.


" Tapi, gimana mungkin ? Arum gak bawabekal dan ganti." sahut Arum.


" Udah tenang aja, banyak baju Fatimah, Fatimah lebih banyak berdaster sekarang. Kalo soal under wear nanti bisa beli !" jawabku.


" Siapa yg mau berangkat ? Kan kita gak boleh keluar ?" tanya Arum.


" Ada mbak surti nanti yg bisa kita mintai tolong !" jawabku.


Khotimah bangkit menuju dapur, membuat minuman hangat.


" Jangan lupa, bikinin susu buat Sidiq Khot !" ucapku ke Khotimah.


" Arum bantuin Khot !" sahut Arum.


" Iya mbak Arum !" jawab Khotimah.


Tak lama kemudian Khotimah datang membawa minuman teh hangat. Kebiasaan orang jogja, kata mas Yasin. Meski dia sendiri lebih suka ngopi.


Kami pun melanjutkan obrolan santai, setelah Khotimah kembali dari mengantar minuman ke polisi di depan.


" Mas mu kamu bikinin kopi pahit gak Khot !" tanyaku pada Khotimah.


" Aduh, lupa gak bikin kopi nya !" jawab Khotimah.


" Bikinin dulu gih, bentar lagi pulang dari pasar !" seruku.


" Kirain suamimu tidur lagi Fat ?" tanya Isti.


" Gak kok, tadi cuma nengok sidiq bentar !" jawabku.


" Mang suamimmu suka minum kopi pahit, tanpa gula Fat !" tanya Arum.


" Iya, tanpa gula mang Arum gak tahu ?" tanyaku heran.


" Ya gak lah Fat, Arum kan gak tahu sebanyak itu. Kalo dulu suka minu alkohol emang tahu !" jawa Arum.


Sambil minum teh kami asik ngobrol sesama wanita. Saat ibunya Isti menanyakan, hubungan kami dengan Arum dan Sidiq pun kami jelaskan kronologisnya.


Sampai air mata beliau menetes karena haru.


Tak lama berselang suamiku pun datang membawa belanjaan bahan makanan untuk makan siang. Beserta camilan.


...Fatimah POV end...


.........................


............................


...Yasin POV...


"Khot, mas minta tolong belanjaanya taruh dapur dong !" pintaku pada Khotimah.


" Iya, Kopi nya di meja mas !" ucap Khotumah.


" Ya makasih Khotimah !" jawabku.


Kemudian aku langsung, menyeruput kopi. Khotimah kembaki bergabung sambil bawa gorengan hangat dan lontong isi.


" Maaf, hanya dapet itu di pasar buat sarapan !" kataku.


" Mang masYasin gak malu cowok belanja gituan di pasar ?" tanya isti.


" Kenaa harus malu, belanja bukan nyuri." kataku.


"Gak, biasanya cowok tu males belanja ke pasar tradisional." ucap Isti.


" Gak bagiku sih, tanya tu Fatimah !" sahutku.


" Iya percaya kok." kata Isti.


" Ada berita nanti sidang akan di laksanakan habis dhuhur. Isti mau ikut hadir atau jaga ibu dirumah ?" tanyaku.


" Menurut mas, gimana ?" tanya balik Isti padaku.


" Menurutku dirumah lebih aman, biar aku nanti yg hadir !" jawabku.


" Sidang apa sih Isti ?" tanya Arum.


Belum sempat Isti jawab, terdengar sura Sidiq.


" Mah.... !" suara Sidiq memanggil ibunya.


" Iya sayang, yuk ke kamar mandi dulu !" ajak Arum ke Sidiq.

__ADS_1


Sekembalinya Sidiq dari kamar mandi, Sidiq ikut gabung.


" Mah mik susu botol !" pinta Sidiq.


" Iya, ni dah disiapin tante Khotimah. Bilang makasih dong, sama Tante Khotimah !" ucap Arum ke Sidiq.


"Iya tadi sidang apa Isti ?" tanya ulang Arum.


" Bentar Rum, Sidiq ikut bunda aja yuk !" kata Fatimah, menghentikan bicara.


" Kemana bunda ?" tanya Sidiq.


" Ke belakang rumah, lihat kebun anggur !" jawab Fatimah istriku.


Kemudian Sidiq jalan digandeng Fatimah.


Sebenarnya maksut Fatimah agar Sidiq tidak dengar pembicaraan orang Dewasa.


Isti kemudian menceritakan krologis kejadian, dari proses awal yg dia tahu, sampai sidang pertama beberapa hari lalu.


"Arum ikut pruhatin ya Is, mudah mudahan mas mu cepet sadar !" uca Arum.


" Iya makasih Arum !" jawab Isti.


Begitulah obrolan pagi saat itu.


Arum, Khotimah, Fatimah Isti dan ibunya.


.........skip.........


Jalanya sidang


Sidang segera akan dimulai.


Pengunjung sidang sudah penuh dihadiri. Karena ini sidang terbuka.


Pembukaan Sidang


.......bla...bla...bla........


Pembacaan Tuduhan dan tuntutan.


Tanggapan Pembela


Menghadirkan Saksi saksi, baik saksi meringankan Rofig maupun yg memberatkan dia.


Awal sidang lancar tak ada masalah, tapi saat hendak menghadirkan saksi kunci Tuti. Beberapa pengunjung sidang menjerit histeris kemudian disusul yang lain. Sehingga sidang terpaksa di skors, aku melihat sekeliling mengamati keadaan.


Kulihat sekelebat bayangan, berlari meninggalkan ruang sidang.


Aku berlari membuntiti orang tersebut. Setelah jarak semakin dekat,aku menghentikan langkah.


Tiba tiba dia berbalik menghadap aku.


" Apa yang kamu punya tak akan mampu menghentikan langkah kami. Jangan harap sidang akan berjalan lancar. Sengaja ku buat gaduh, tepat saat saksi akan hadir. Agar kami tahu, dan bisa membuntuti nanti." ucapnya.


Aku sadar, jika terkecoh. au segera berbalik lari ke gedung pengadilan tempat sidang tadi di langsungkan.


Sayup sayup kudengar dia tertawa dan berteriak.


" Terlambat tong, kamu sudah tertipu... ha ha ha ha...!" seringainya memuakkan.


Aku hubungi pak Yadi, kuceritakan kejadian ini, dan pak Yadi langsung meluncur ke TKP.


Sampai di gedung pengadilan aku jadi bingung, menolong yg kesurupan atau mencari Tuti saksi kunci. Sungguh berat, benar benar pilihan yg berat dan sulit batinku.


Tiba tiba, ada yg menepuk pundakku.


" Jenengan tangani yg kesurupan, saya mengamankan yang lain !" ucap pak Yadi.


" Owh iya pak, tapi ada yg mau ngikutin saksi pak !" ujarku.


"Jenengan tenang saja, ini sudah direncana kan ? Saksi kunci belum dihadirkan. Yang tadi adalah jebakan buat pancing mereka saja !" kata pak Yadi." aku agak lega.


Untung pak Yadi tak lihat kepanikanku.


...Bersambung...


...Jangan lupa dukungan berupa :...


...Like...


...Komen...


...&...


...Vote nya...


...Terimakasih...


...🙏🙏🙏...

__ADS_1


__ADS_2