Isyaroh

Isyaroh
Rendy dikeroyok / Rencana Fanani tertunda


__ADS_3

🌷🌷🌷


Readers Tercinta, mohon maaf jika masih banyak tipo karena Auto teks ataupun murni salah ketik.


Semoga tetap bisa menghibur.


🌷🌷🌷


Selamat membaca


...........


episode 113


Dalam hati aku berkata.


“Kamu adalah istri yang sempurna, tidak aka nada yang mampu menggantikan. Tidak yang kurang juga tidak juga yang lebih. Jika bukan kamu itu bukan cintaku, kamulah yang pas dihatiku tidak kurang dan tidak lebih.” Kataku dalam hati. Sebelum akhirnya aku pun tertidur dibalik selimut yang kami gunakan bersama. 


Saat aku terbangun aku mencari istriku ternyata sudah lebih dulu bangun, aku segera menuju kamar mandi dan segera melaksanakan solat sunah dan menunggu waktu subuh.


Setelah solat subuh kemudian aku menjalankan aktifitas rutinku setiap pagi, ngopi, kali ini aku ngopi diruang tamu bersama Rofiq, sambil menunggu Fanani memberi keteranggan jam berapa mau kerumah mertuanya menemui Istri dan mertuanya untuk menyelesaikan masalah rumah tangganya.


Beberapa saat kemudian Fanani datang dan mengajak untuk berangkat jam 06. Pagi agar bisa bertemu dengan anggota keluarga istrinya. Meskipun belum bisa dipastikan bisa melakukan pembicaraan saat itu juga. Kemungkinan bisa lain hari dengan membuat janji terlebih dahulu.


“Apakah gak bisa bikin janji dengan telpon dulu, kalo kesana masih harus buat janji kan dua kali kerja namanya.” Kataku pada Fanani.


“No saya sudah diblokir pak oleh semua anggota keluarganya. Jadi saya gak bisa menghubungi istri saya maupun keluarganya.” Jawab Fanani.


Separah itukah permasalahan keluarga Fanani, bagaimana pula karakter istri dan keluarganya nanti aku juga belum tahu sama sekali. Benar benar harus berhati hati menghadapi keluarga istri Fanani. Salah ngomong dikit saja bisa malah membuat masalah semakin runyam. Bukan mendamaikan tapi malah bisa makin memperkeruh keadaan,pikirku.


“Kamu coba hubungi dengan no ku saja kalo no kamu di blokir !” kataku pada Fanani.


“Percuma pak, kalo tahu yang telpon saya nanti juga langsung dimatiin dan no tersebut langsung diblokir juga.” Jawab Fanani.


Benar benar rumit masalah yang Fanani hadapi ini, mana aku juga gak kenal dengan keluarga istrinya bahkan istrinya juga gak tahu siapa namanya,gerutuku. Ternyata gak semudah yang aku bayangkan sebelumnya, ada ada saja permasalahan manusia. Serta macam macam permasalahan yang dihadapi, masing masing orang berbeda beda permasalahanya.


“Terus menurut kamu sebaiknya bagaimana ?” tanyaku pada Fanani.


“Maaf pak, jika tidak keberatan bapak yang bicara lewat telpon saja. Kalo yang ngomong saya gak bakalan mereka mau menerima.” Jawab Fanani.


“Sbenarnya ada masalah lain gak sih, kok kayaknya masalah kalian rumit banget. Sampai keluargamu dan keluarga istrimu saling memproteksi kalian begitu. Bukan maksutku ingin tahu lebih dalam masalah kalian, tapi aku gak mungkin bisa bicara kalo tidak tahu permasalahan sesungguhnya. Jadi kalo kamu percayakan aku untuk membantu maka aku butuh tahu gambaran permasalahan kalian sesungguhnya. Meskipun tidak harus detail, tapi minimal jangan ada yang di sembunyikan.” Kataku pada Fanani.


Fanani tampak terdiam sebentar, agak ragu dalam menjawab pertanyaanku. Mungkin juga ada hal yang dia rahasiakan yang belum dia ceritakan.


“Istri saya itu cemburunya sangat besar pak, intinya dia mengira jika saya sedang bertugas seperti sekarang ini misalnya, dia menuduh saya ada main dengan wanita lain. Dan itu keluarganya percaya dengan perkataan istri saya pak.” Jawab Fanani.


Dalam hati aku berkata,”memang kamu juga ganjen sih, gak bisa lihat cewek cantik. Untung saja Khotimah bisa aku kasih tahu.” Batinku.


“Cemburu itu wajar lah, namanya juga cinta. Tapi cemburu yang berlebihan itu juga gak baik, tapi kecemburuan istrimu yang sampai segitunya itu pasti ada penyebnya juga kan. Atau mungkin kamu memang pernah melakukan kesalahan dalam hal itu dan kepergok istrimu atau keluarganya ?” tanyaku mencoba mengorek keterangan yang sebenarnya.


Fanani agak tersipu malu mendapat pertanyaan dariku seperti itu.


“Sebenarnya hanya salah faham saja pak, saya memang pernah makan berdua dengan seorang cewek yang dulu juga pernah deket sama saya. Tapi itu hanya kebetulan kami bertemu diwarung makan saja. Bukan janjian ketemuan, dan itu ketahuan istri saya hingga marah besar dan langsung marah serta pulang kerumah orang tuanya hingga sekarang.” Jawab Fanani.


Wah hampir saja aku terjebak cerita Fanani semalam, aku kira hanya masalah seperti semalam yang terjadi ternyata ada masalah lain, dan mungkin juga masih ada lagi batinku.


“Yaudah, mana no istri kamu biar aku coba bicara. Sama siapa nama istri kamu biar aku gak canggung nanti bicaranya.” Kataku. Meski aku sendiri masih berpikir harus memposisikan diri sebagai apa ketika menghubungi istrinya nanti. Agar istri fanani mau mendengarkan dan mau diajak mediasi, pikirku. Apa mungkin aku harus mengaku sebagi pihak mediator yang akan mencoba menjadi penengah, karena proses perceraian sebelum divonis cerai biasanya ada proses mediasi lebih dahulu.


“Saat kamu menerima gugatan cerai dari istrimu sudah pernah ada proses mediasi atau belum ?” tanyaku pada Fanani.


“Belum pernah terlaksana pak, dulu dari pihak sana mengirimkan orang mengajak mediasi tapi saat itu saya emosi jadi gak mau ada kehadiran pihak ke tiga.” Jawab Fanani.


“Ya itu slah kamu, dalam proses perceraian memang harus ada langkah mediasi. Keculai kalo penyebab perceraian itu memang dirasa fatal dan tidak mungkin dilakukan mediasi. Kalo masalah kalian kan hanya masalah salah faham saja, gak terlalu parah. Makanya harus ada mediasi, siapa tahu masih bisa rujuk kembali. Yaudah aku minta ijin kamu, aku akan mengaku sebagi pihak yang akan melakukan mediasi nanti ke istri dan keluarga kamu.” Kataku pada Fanani.


“Silahkan pak, gak papa kalo itu yang terbaik.” Jawab Fanani.


“Ya tapi mungkin dalam mediasi awal hanya diwakili dari pasangan, artinya kamu dan istrimu mungkin tidak ikut dalam mediasi tersebut. Takut jika ikut yang terjadi adalah perang mulut dari pasangan, jika dirasa ada perkembangan ke arah rujuk baru kalian diikut sertakan.” Kataku menjelaskan pada Fanani.


“Iya pak saya ikut saja, berarti gak jadi hari ini kerumah istri saya pak ?” Tanya Fanani.


“Belum bisa saat ini, aku kira semalam masalah kamu tidak sekompleks ini jadi aku sarankan kamu temui istrimu. Kalo kamu beneran berangkat kesana malah bisa bisa masalah jadi semakin runyam, karena ternyata keluarga istrimu pun marah kepadamu.” Jawabku.


“Ya sudah pak, ini no istri saya dan ini namanya Windayanti.” Kata Fanani menyerahkan kertas bertuliskan no hp istrinya berikut nama istrinya.


“Ya, tapi gak sekarang aku telponya masih terlalu pagi. Dan aku juga harus berpikir mencari cara ngomong yang tepat agar mereka mau diajak mediasi. Kamu banyak banyak berdoa saja, semoga semua lancer.” Jawabku.


Kemudian Fanani pergi meninggalkan aku dan Rofiq, Rofiq yang dari tadi hanya mendngarkan setelah Fanani keluar dia angkat bicara.


“Lo buka prosfesi baru jadi penasehat perkawinan mang Zain ?” ucap Rofiq mengejek aku. Mungkin dendam semalam dia belum hilang, batinku.


“Ah nggak juga, kenapa memangnya bang, apa mau konsultasi juga terkait rencana lamaran dan pernikahan abang dengan Arum besuk ?” tanyaku sambil senyum.


“Ogah, aku bisa sendiri Zain.” Jawab Rofiq.


“Serius bisa sendiri, gak perlu ditemenin saat lamaran nanti ?” godaku.


“Ya gak gitu maksutnya, tapi aku ngerasa gak perlu konsultasi banyak padamu.” Jawab Rofiq.


“Yaah serius amat, mang aku juga mau nerima konsultasi dari kamu bang. Aku juga ogah, ujung ujungnya juga paling nyerempet masa lalu aja.” Guruku pada Rofiq.


Kami tertawa mengingat masa lalu bersama dulu, saat saat yang paling memalukan sebenarnya.


Hingga tak terasa matahari sudah semakin tinggi sudah hampir waktunya pada mulai grafting. Mungkin sebentar lagi Amir dan heri juga datang bersama Rendy yang sudah mulai gabung mengingat Rendy sekarang memikul tanggung jawab mencari nafkah menggantikan ayahnya yang masih di tahan.


Aku jadi terpikir, kapan masalah ini selesai agar maslah tidak semakin melebar kemana mana. Ingin rasanya segera menemui orang yang bernama Maheso Suro itu. jika memang harus melakukan pertikaian baik fisik maupun supra natural juga gak papa. Dari pada masalah ini tidak kunjung selesai, meskipun sejak peristiwa penggrebekan sekaligus penyelamatan pak Satro waktu itu mereka bubar kehilangan markas. Namun itu pasti hanya sementara, saat inipun mereka pasti punya markas baru lagi, tapi dimana belum tahu.


Dan juga kondisi yang cukup tenang seperti ini justru malah membuat aku lebih waspada, karena bisa jadi mereka sengaja membuat kami lengah dan akan menyerang disaat yang tepat dan saat dimana kami benar benar lengah. Itu yang aku khawatirkan meskipun tidak pernah aku ucapkan kepada siapapun, takut malah menambah kepanikan anggota keluargaku.


Belum juga aku selesai berpikir, ikejutkan suara Amir dan Heri yang datang hanya berdua dengan tergopoh gopoh.


“Assalaamu’alaikum pak…!” sapa Amir dan Heri dengan terengah engah.


“Wa’alaikummussalaam, ada apa kok terengah engah kalian ?” tanyaku heran.


“Anu pak, Rendy…!” Amir menjawab dengan agak tergagap.

__ADS_1


“Duduk dulu, atur nafas baru cerita yang jelas, Rendy kenapa ?” tanyaku pada Amir dan Heri.


“Begini pak, tadi kami menghampiri Rendy untuk kami ajak kesini sama sama. Tapi ternyata Rendy sakit, semalam habis dikeroyok warga kampong sebelah.” Heri yang menjelaskan.


“Dikeroyok warga kampong sebelah, kampong mana ?” tanyaku pada Heri.


“Kampung alm pak joni itu pak, yang dulu bapak diminta tolong ngurusin jenazahnya karena pada ketakutan itu.” jawab Heri.


“Lah kenapa, ada masalah apa kok Rendy dikeroyok ?” tanyaku.


“Katanya Rendy dituduh merusak areal perkebunan warga sana pak kemarin ?” jawab Amir kemudian.


“Kemarin ? Bukanya kemarin Rendy sama kalian seharian disini ?” kataku.


“Iya pak, itu juga yang membuat kami bertanya Tanya, kayaknya gak mengkin. Tapi kata Rendy, ada warga sana yang katanya lihat pelakunya adalah Rendy.” Jawab Heri.


“Yaudah, biar aku nanti kerumah Rendy kalian siap siap kerja saja.” Kataku.


Kemudian Heri dan Amir segera berlalu meninggalkan kami.


“Lo kayak langganan masalah Zain, satu belum kelar datang lagi maslah lain ?” ucap Rofiq.


“Gak tahu lah bang, jalanin saja.” Jawabku santai. Meski dalam hati juga juga was was, dan pikiran pun cukup pusing atas semua masalah yang muncul berurutan.


Aku mulai berpikir sebaiknya masalah Rendy biar ditangani yang berwajib saja. Masih banyak masalah yang harus aku tangani, bukan menyepelekan masalah Rendy. Tapi aku pikir masalah yang lain jauh lebih penting, karena melibatkan sebuah jaringan residivs. Meskipun aku juga sadar kampong yang dimaksut adalah kampong yang memang cukup bar bar. Satu orang yang bermasalah satu kampong bisa turun semua tidak memandang  warganya bersalah atau tidak.


Tapi hal itu masih tergolong masalah kecil disbanding masalah yang lain, pikirku. Aku berpamitan pada rofiq untuk menemui Rendy, serta member tahu Fatimah istriku.


“Fat, Rendy baru ada masalah aku akan kesana menjenguk dia. Katanya habis dianiaya orang.” Kataku pada Fatimah.


“Masyaa Allah, dianiaya gimana mas. Memang ada masalah apa, terus urusan Fanani gimana ?” Tanya Fatimah langsung memberondong dengan beberapa pertanyaan. Itulah salah satu kelemahan istriku yang harus aku terima, karena masih banyak kelebihan yang jauh lebih besar dari kelemahanya.


“ Aku juga belum tahu pastinya makanya mau kesana sekalian melihat keadaanya. Soal Fanani gak bisa hari ini karena aku harus menghubungi Istrinya atau keluarganya untuk membuat janji bertemu mediasi kedua belah pihak. Karena ternyata masalahnya tidak sesederhana yang kita kira.” Jawabku pada Fatimah istriku.


“Maksutnya gimana mas ?” Tanya Fatimah kemudian.


Aku terpaksa harus menceritakan kejadian sebenarnya menurut cerita versi Fanani barusan. Bahwa masalh ini ada kaitanya dengan kecemburuan istrinya yang memergoki Fanani seang makan berdua dengan wanita lain.


“Tapi itu bukan Khotimah adik kita kan mas ?” Tanya Fatimah Khawatir.


“Ya bukan lah, Khotimah kan gak pernah keluar karena dalam pengawasan kita juga. Dan itu kejadianya jauh sebelum Fanani dirumah kita.” Jawabku.


“Sukurlah kalo begitu.” Kata Fatimah.


“Iya kita memang harus bersukur, karena kita tahu disaat yang tepat. Coba kalo kita tahu Fanani begitu saat sudah menikah dengan Khotimah, bisa lebih runyam urusanya.” Kataku.


“iya ya mas, untung saja kita cepat tahu masalah ini.” kata Fatimah.


“Yaudah aku berangkat dulu mumpung masih pagi, sekalian mau mampir warung bawa oleh oleh. Kamu masih pegang unag kan , aku pinjam dulu.” Kataku.


“Ngapain pinjam sih mas, pakai saja kan uangku juga uang mas juga.” Kata Fatimah.


“Ya gak gitu, itu kan uang kios jadi beda pembukuan. Nanti kau ganti kalo udah ada pembayaran pembelian tanaman buah.” Kataku.


“Yakin, buka uang kios ? Bukanya kemarin sudah buat belanja dan baytar jasa mbak surti ibunya Amir ?” kataku.


“Masih ada sisa kok, kan gak semua langsung Fatimah habiskan, cukup lah buat beli oleh oleh sama ninggalin Rendy biar buat pegangan dia.” Kata Fatimah.


“Yaudah kalo begitu, tapi beneran ya bukan duit kios ?” kataku memastikan.


“Iya mas, Fatimah udah nyisihin kok. Uang pembelian bibit tanaman biar buat persiapan lahiran nanti saja jangan dipakai yang lainya.” Kata Fatimah.


Kemudian aku segera berkemas dan berangkat ke rumah Rendy, sengaja aku mengajak Fanani. Untuk teman sekaligus ngobrol seputar masalahnya serta mau mita tolong melaporkan masalah Rendy ke kantor polisi dengan pasal penganiayaan.


Samapi dirumah Rendy aku langsung disambut ibu tirinya Rendy, agak kaget dia melihat kedatanganku. Karena selama ini memang hampir gak pernah aku kerumahnya. Mengingat hubunganku dengan ayah Rendy yang tidak baik, bukan memutus silaturahim tetapi sekedar menghindari pertikaian atau perang mulut.


“Maasuk dik, maaf tempatnya berantakan.” Kata ibu tiri Rendy yang menyebutku dengan sebutan dik ( Adik ).


“Iya mbak, makasih bagaimana keadaan Rendy ?” tanyaku langsung ke permasalahan.


“ Masih tiduran dikamarnya, cukup babak belur juga kemarin dikeroyok satu keluarga, ayah dan anak soalnya.” Jawab ibu tiri Rendy.


“Boleh aku lihat kondisinya Rendy, o iya ini ada sedikit bawaan dari istriku mohon di terima dulu mbak.” Kataku sambil menyerahkan bingkisan oleh oleh.


“Owh iya makasih, masuk saja ke kamar Rendy, anaknya gak tidur kok. Cuma belum bisa bangun dari tempat tidur saja.” Kata ibu tiri Rendy.


Aku dan fanani segera masuk ke kamar yang ditunjukkan oleh ibu tiri Rendy itu. sampai di kamar Rendy aku cukup kaget dan hampir saja amarahku keluar secara spontan melihat wajah Rendy yang bonyok. Bagaimanaupun dia adalah anak dari almarhumah kakak kandungku, jadi melihat kondisi dia begitu naluriku sebagi lelaki terusik. “Kurang ajar juga orang yang mukulin Rendy begitu, apa gak tahu kalo dia keponakan aku. Ini sih namanya membangunkan harimau tidur.” Kataku dalam hati. Namun aku tetap berusaha tenang, mungkin juga Rendy ada salah pikirku.


“Kamu kenapa Rendy, kok bisa sampai dikeroyok orang begitu ?” tanyaku pada Rendy dengan datar.


“Saya dituduh merusak tanaman orang kampong sebelah lek. Padahal kemarin seharian saya kan dirumah pak lek. Rendy sudah jelaskan semuanya, tapi malah dibilang Cuma cari perlindungan nyebut nama pak lek. Malah mereka mengancam begini, aku gak takut sama pak lek mu gak takut sama siapapun. Kamu sudah merusak tanamanku jadi kamu harus menanggung akibatnya. Kemudian mereka langsung memukuli aku pak lek. Banyak yang dengar kok mereka bilang gitu bukan Rendy mau memanas manasi pak lek.” Kata rendy.


“siapa saja yang dengar Rendy ?” tanyaku sambil menahan amarah agar tidak ketahuan oleh rendy.


“Pak masalah ini biar saya yang urus, dengan pasal penganiayaan jika kemarin Rendy tidak membalas.” Kata Fanani.


“Kamu melakukan perlawanan tidak Rendy ?” tanyaku.


“Tidak pak lek, mereka kesini rombongan jadi Rendy takut kalo melawan malah mereka semakin brutal nanti.” Kata Rendy.


“Yaudah kalo begitu biar  dilaporkan ke polisi saja, tapi kamu beneran gak merusak tanaman mereka kan ?” tanyaku memastikan.


“Tidak lek, Rendy sudah bersumpah atas nama Tuham kemarin. Dan saksinya Amir dan Heri kalo seharian Rendy bersama mereka dirumah Pak lek.” Jawab Rendy. Aku melihatkejujuran pada Rendy saat itu. makanya aku persilahkan Fanani menangani masalah ini agar dilaporkan ke polisi saja.


Aku akan berpamitan dengan ibu tirinya Rendy, amun ternyata ibunya Rendy sudah menyiapkan minuman buat aku dan Fanani. Sehingga aku terpaksa duduk lagi dan minum minuman yang sudah dihidangkan ibu tirinya Rendy. Untunglah ibu tirinya Rendy cukup baik mau merawat Rendy yang bukan anak kandungnya.


Aku juga ampir lupa menyerahkan sedikit uang kepada Rendy tadi, uang yang sudah aku masukan ke amplop itu akhirnya aku serahkan saja ke ibunya Rendy. Biar dia yang membelanjakan kebutuhan, termasuk mungkin beliin rokok buat Rendy.


“maaf mbak, ini sedikit rezeki buat beli obat Rendy, dan buat beli rokok Rendy.” Kataku menyerahkkan amplop sambil pamitan.


“Owh makasih ya dek, malah jadi ngrepotin kamu ini.” kata ibu tiri Rendy dengan kalimat standart orang orang dusunku saat jmenerima sesuatu dari orang lain.


“Gak kok mbak, urusan Rendy adalah urusan saya juga gak usah sungkan. Malah saya yang berterimakasih mbak mau rawat Rendy dengan baik.” jawabku.


Kemudian aku dan fanani langsung pulang kerumah.

__ADS_1


“mau langsung pulang atau kekantor polisi laporan dulu pak ?”  Tanya Fanani.


“Langsung pulang saja, nanti kamu sendiri saja yang laporan ke polisi kalo butuh saksi atau pealpor biar Amir atau Heri saja. Aku masih ada kerjaan yang harus aku selesaikan, belum juga nanti harus telpon istri kamu buat rencana pertemuan mediasi.” Jawabku.


“Baik pak, biar nanti saya ajak Amir saja, mungkin dia nanti yang melapor asal tadi bukti Visum dari rumah sakit jangan sampai hilang pak.” Kata Fanani.


“Iya, tadi sudah aku bilang ke Rendy juga untuk disimpan.” Jawabku pada Fanani.


Singkat cerita, fanani mengajak salah satu atau Heri untuk diajak melapor ke kepolian terkait penganiayaan terhadap rendy oleh keluarga Marjono, dan anaknya yang bernama Bardi dan satu orang lagi saudara sepupu Bardi.


Beberapa saat kemudian fanani dan Amir kulihat sudah berangkat menuju ke kantor polisi. Sementara aku masih duduk nyantai di ruang tamu, kemudian Fatimah istriku datang menghampiriku.


“Gimana mas keadaan Rendy ?” Tanya Fatimah.


“Ya begitulah, namanya habis dipukilin orang ya wajahnya sedikit memar tpi gak ada luka yang serius kok.” Kataku.


“Sebenrnya ada masalaha apa sih, kok langsung main pukul begitu ?” Tanya lanjut Fatimah.


“Rendy dituduh merusak tanaman dukebun mereka kemarin.” Jawabku.


“Kok bisa, bukanya kemarin Rendy seharian dirumah kita, pulangnya juga sudah habis maghrib malah.” Kata Fatimah istriku protes.


“Ya gak tahu kalo itu, ini sedang diurus Fanani dan Amir mereka baru lapor ke polisi biar ditangani polisi saja. Aku udah agak malas berurusan dengan warga kampong sebelah itu.” jawabku.


“Sukurlah, Fatimah justru khawatir kalo mas sendiri yang mau menyelesaikan.” Ucap Fatimah.


Aku hanya diam sudah tahu arah pembicaraan Fatimah yang takut jika aku main fisik juga.


Kami terdiam beberapa saat, sebelum Isti dan Khotimah ikut nimbrung disitu.


“Lagi bahas rahasia gak nih, kalo isti gabung ganggu gak ?” kata Isti.


“Gak lagi bahas apa apa kok is, dari tadi kami juga Cuma diem dieman saja.” Gurauku pada Isti.


“Haalaah kalian diem dieman juga palingbicara dengan bahasa hati kalian aja, boleh aku gabung ?” kata Isti lagi.


“Silahkan saja, orang udah gabung juga masih nanya boleh gak.” Gurauku.


“Ya kali aja kalian mau ngusir aku gak enak.” Jawab isti.


“Ah kamu bisa aja is, Rofiq mana kok gak kelihatan ?” tanyaku pada isti.


“Tqadi mas Rofiq katanya mau ikut belajar grafting mas, tadi sempet ngobrol dikit sama Khotimah kalo dia juga pingin belajar grafting. Mau ikutan buka usaha begini, buat pekerjaan nanti katanya.” Khotimah yang menjawab pertanyaanku.


“Boleh, malah bagus itu biar nanti bisa kerja sama dengan kita.” Kataku.


Sessat kami mengobrol dihentikan denga kedatangan Fanani dan Amir yang barusan datang dari kantor kepolisian.


“Sudah beres pak, saat ini juga sudah dilakukan penjemputan terhadap pelaku penganiayaan.” Kata Fanani melapor.


“Secepat itu kah prosesnya, apa dibantu pak Yadi disitu ?” tanyaku. Gak mau jika sampai diisrimewakan oleh pak Yadi karena yang melapor amir dan korbanya Rendy yang nota bene adalah orang orangku. Apa lagi datangnya juga bersama Fanani.


“Tidak pak, semua berjalan sesuai prosedur, hanya saja bisa cepat karena semua berkas yang dibutuhkan sudah lengkap. Jadi kasus ini langsung ditindak lanjuti.” Jawab Fanani.


“Owh begitu ya sudahlah, yang penting jangan memanfaatkan suatu kondisi untuk kepantingan pribadi saja.: kataku.


“Siap pak, semua sudah sesuai prosedur yang berlaku.” Jawab fanani.


Belum selesai aku menerima laporan dar Fanani yang menceritakan proses laporan Amir ke kantor polisi tiba tiba aku dikejutkan dengan kehadiran tamu yang dari kampong sebelah. Yang merupakan perwakilan dari terlapor, untuk mengajak musyawarah secara damai terkait kasus penganiayaan Rendy.


“Assalaamu’alaikum pak, maaf boleh saya minta waktu untuk bicara sebentar ?” Tanya orang itu.


Aku member kode pada Fatimah dan lainya ntuk menyingkir dulu dari situ.


“Owh ya, silahkan masuk apa yang dapat saya bantu pak ?” tanyaku pada orang itu.


“Begini pak, saya dimintai tolong  bapak nya bardi, untuk berembuk masalah kasus nak Rendy secara kekeluargaan. Karena sudah dapat surat panggilan dari kantor kepolisian atas dugaan kasus penganiayaan.” Kata orang itu.


“Masak sih pak, Margono bilang mau ngajak berembuk kekeluargaan, bukanya dia gak takut sama siapapun. Dan katanya juga kemarin menyebut nama saya dan mau ngajak berantem saya. Kalo saya sebenarnya gak mau ribut pak, Cuma kalo diajak juga gak nolak kok saya.z’ kataku membuat orang itu semakin tertunduk.


“Maaf pak, mungkin kemarin pak Margono baru emosi jadi lepas kendali.” Kata orang itu.


“Kemarin bapak lihat gak peristiwanya ?” tanyaku.


“Lihat pak.” Jawabnya singkat.


“Bapak lihat saat ponakan saya dianiaya dan bapak diam saja. Sekarang datang kesini mau ngajak dami gitu saja ? bagaimana kalo dibalik pak, sekarang Bardi atau bapaknya margono saya pukiln dulu sampai saya puas baru saya mau damai, tolong saampaikan begitu dengan Margono. Bukanya dia kemarin bilang gak takut sama siapapun juga.” Kataku sekedar menggertak sebenarnya. Karena aku merasa orang itu kalo gak digertak selamanya akan beranggapan bahwa tidak ada orang yang akan berani melawan ereka meskipun benar.


Belum sempat orang itu menjawab datang Rofiq tiba tiba, mungkin dikasih tahu Isti jika aku sedang memarahi sesorang.


“Kalo gak biar dengan saya saja pak urusanya, kalo Yasin jangan sampi lah. Dengan saya saja yang memang saat ini masih berstatus tahanan luar. Kalo mau ngajak ribut urusanya dengan saya saja.” Kata rofiq tiba tiba. Membuat orang yang diutus itu mejadi semakin ciut nyalinya.


...bersambung...


Terimakasih atas dukungan dari Readers semuanya.


Komentar readers semangat Author


Author akan berusaha terus memperbaiki, bahasa retorika dan lainya.


Semoga dapat menghibur Readers semua.


...Jangan lupa dukungan berupa :...


...Like...


...Komen...


...&...


...Vote nya...


...Terimakasih...


...🙏🙏🙏...

__ADS_1


__ADS_2