Isyaroh

Isyaroh
ditahan dengan pasal pembunuhan


__ADS_3

" Ah gimana ya....


Aku hanya sedikit minder sama kamu sayang..."


" Minder kenapa mas ? "


" Ya Karena kamu itu baik dari kecil, rajin solat rajin ngaji dari kecil. Sehingga begitu sempurna bagiku say. Sedangkan aku..." kataku.


" Aduh so sweet banget sih mas, tapi nulisnya kok berhenti. sedangkan mas kenapa ?


Punya masa lalu buruk


Dulu suka mabuk dll ? "


" Iya.... dan ibaratnya baru ngerti Agama kemarin..."


" Gak papa mas, suamiku tercinta.


Suamiki adalah kamu yg sekarang, bukan mas yg dulu...! "


Dulu mau gimana mana Fatimah gak peduli.


Yang penting mas yg sekarang seperti ini sudah bikin Fatimah bahagia... !"


" Serius ya... Janji nih....! "


" Iya mas Fatimah janji...!"


" Yaudah sun dulu dong say. "


eeemmmmmhhhuuaaaachh....


" Iiich panjang amat Fatimah sampai merinding mas...! "


emmhuuaahh


" Ok gitu dulu ya say..."


" Iya mas hati hati...!"


Campur aduk rasa dihatiku, bahagia, sedih, bangga, malu dan takut.


Pokoknya susah sekali diungkapkan dengan kata kata.....!


Dan aku hanya terdiam tak berbuat apapun.


Beberapa saat aku hanya merenungi apa yg terjadi. Kenapa aku dulu bisa sekeji itu. Kenapa saat aku dan Fatiamah istriku bisa saling mencintai, harus terpisah karena kondisi. Kenapa saat bisa beradaptasi dengan kondisi, muncul Arum dengan anaknya yg berarti juga anakku.


Kenapa kemarin harus ketemu Pak Sastro..???


Kenapa menyanggupi datang kesana, hingga harus ketemu Arum & Anaknya.


Eeh tapi bagaimanapun anaknya Arum juga anakku.


Kalo aku sampai tidak tahu, dosaku juga akan semakin besar.


Karena menelantarkan anak kandungku.


Meski dengan aku tahu itu, suatu saat Fatimah juga akan tahu. Dan resikonya dia bisa marah atau berbalik membenciku.


Aku bisa mendiamkan Arum, tapi tak bisa mendiamkan anakku.


Aku bisa berusaha mencarikan suami buat Arum. Tapi Sidiq itu tetap anakku.


Dan Fatimah harus tahu....!


Tapi jangan sekarang, kasihan dia sedang hamil. Jika dia tahu sekarang, saat melahirkan nanti akan terganggu. Bahkan janin nya pun bergantung pada Fatimah.


Semua ini karena ulahku sendiri di masa lalu. Aku jadi teringat kata kata yuyut saat mengobatiku dan kata kata ibu Fatimah setelah itu.


................


Flash back


Saat dirumah mertua...


Jadi ibu sudah tahu semuanya ? "


" Iya nak, dikasih tahu yuyut tadi, trrmasuk langkahmu yg dulu pernah keliru dan melakukan taubat "


Aku tak berani komentar tentang itu..


" Jujur ibu tadi sempat agak kecewa sama kamu, dengar cerita masa lalumu "


Aku semakin deg degan.


" Tapi melihat keseriusanmu dalam bertaubat dan bertabiat. Serta ibu lihat kamu dn Fatimah sudah begitu dalam cinta kalian. maka ibu memutuskan...."


Jantungku berdegub kencang.


" Ibu memutuskan untuk tetap menganggap mu sebagai menantu ibu dan bapak. Tapi ibu tetap mohon, jangan pernah sekalipun kecewakan Fatimah...!!! "


"Insya Allah bu, matur nuwun... Saya akan lindungi sayangi dan cintai Fatimah dengan segenap jiwa raga saya bu "


" Iya nak ibu percaya, ibu hanya mengingatkan dan menegaskan. Buat kamu Fatimah. Cintai Suamimu yg sekarang, pandang suamimu yg sekarang. Jangan pedulikan masa lalunya.....!


" Iya bu Fatimah sudah tahu kok, Suamiku punya masa lalu yg kelam. "


...............


Apakah Yuyut bisa tahu kalo aku sudah punya anak ?


Kalo sudah apakah hal itu dicertakan ke ibunya Fatimah ?


Kalo Fatimah, aku yakin belum tahu sejauh itu.


Aahhh... hampir saja aku teriak melepas beban hidupku ini.


Tiba tiba datang mbak surti, ibunya Amir.


"assalaamu 'alaikum pak...!" ucapan salam mbak Surti.


" wa 'alaikummussalaam....


Masuk mbak surti, tumben kesini sore sore...?! " kataku.


" Ini pak mau setoran uang kios, sudah numpuk banyak takut hilang lagi. Sekalian mau tanya, karena nanti pada Mujahadah. Dan ibu gak dirumah, untuk minum dan snacknya apa perlu saya yg siapin ? " tanya mbak Surti.


Aku baru ingat, jika ini malam jumat.


" Astaghfirullahal 'adzim.


Aku sampai lupa ini malam jumat.


Untuk snack beli aja mbak surti tolong belikan. Ini uangnya, untuk duit kios buat nambah isi warung dulu saja mbak. Biar nambah item !" kataku ke mbam Surti, ibunya Amir.


" Sama ini pak.." ucap mbak surti terpotong.


" Apa lagi mbak ? "


" Sebenarnya saya prihatin dengan fitnah yg melanda keluarga bapak. " katanya.


" Owh itu... gak usah dipikirin mbak, biarin saja " sahutku.


" Tapi tiap hari, orang selalu menggunjing bapak ! " sahut mbak Surti.


" Terus kenapa ? Kita gak perlu ngurusin omongan orang mbak jika kita tidak bersalah ! " kataku.


" Yang mereka tuduhkan itu keji banget pak..! " katanya.


" Apa saja yg mereka tuduhkan mbak, tentang saya dituduh selingkuh dengan tukang bubur ? Atau tentang istriku yang dituduh minggat, karena gak betah dirumah ? "tanyaku.


" Gak cuma itu pak.. tapi tuduhan terakhir sungguh sangat keji. Tentang mayat yg ditemukan dulu itu. Bapak yg dituduh melakukan pembunuhan dan pemerkosaan...!" kata mbak Surti.


Mbak surti sampai menitikkan air mata


" Kenapa mbak Surti yg sedih, saya aja tenang tenang saja kok. Saya yakin yg benar akan kelihatan yg salah akan mendapatkan karmanya. Becik ketitik olo ketoro "


kataku ke mbak Surti. "


Tiba tiba Amir datang.


" Bu... Kok nyusul Amir !?? " Tanya Amir pada ibunya.


" Gak kok, cuma mau setor, takut hilang lagi " jawab mbak surti.


" Owh...! " seru Amir singkat.


" Kamu duduk sini sekaliyan Mir, aku mau bicara ! " ucapku.


" Njih pak " jawab Amir Singkat.


" Aku nanti habis Isya' ada acara, nanti untuk Mujahadah yg malam kamu yg pimpin, yg habis maghrib aku bisa " kataku.


" Iya pak, tapi sebagian dilarang ikut oleh orang tuanya !?! "

__ADS_1


Jawab Amir sedih.


" Di Laraang ? " Tanyaku kaget.


" iya pak, sudah banyak yg terhasut fitnah itu. Bahkan mengatakan mujahadah kita itu sesat. hanya kedok untuk menutupi kejahatan bapak. Itu kata mereka, sehingga melarang anak anaknya ikut Mujahadah disini." jelas Amir.


Aku hanya menghela nafas panjang. Begitu dahsyatnya fitnah. Tidak hanya menuduh, tanpa bukti tapi sungguh dampaknya luar biasa.


Sampai kegiatan Mujahadah yg aku lakukan dianggap kedok saja. Kalo dianggap kedok sebenarnya aku masih maklum. Tapi ini dibilang sesat, apa hubunganya....???


Kalo hanya aku yg dituduh sesat gak papa, resiko mereka tanggung sendiri.


Tapi kalo Mujahadahnya yg dibilang sesat, gak bisa di biarin. Ini salah satu benteng untuk memagari dusun. Dan Alhamdulillah dusun ini masih selamat.


Tapi kenapa malah di bilang sesat ???


Keterlaluan, gak pada lihat realita dusun lain gimana ?


Tapi ya sudahlah, memang tindakan yg kulakukan tidak ada bukti empirisnya.


" Ya sudah yg mau saja, yg gak mau gak usah dipaksa. Biar dibilang sesat yg penting kita terus mohon pada Allah, biar mereka sadar....! " kataku.


Karena sudah terdengar adzan maghrib, aku segera ambil wudhu & siap siap solat maghrib diruang mujahadah.


Sampai iqomah dikumandangkan Amir, yg datang hanya 6 orang. Mungkin benar apa yg dikatakan Amir, sebagian dilarang orang tuanya. Mungkin lbh suka anaknya mabuk mabukan seperti dulu sebelum ikut aku. Mungkin yg begitu malah dianggap tidak sesat. Aah sudahlah.


Segera Aku memimpin solat maghrib.


Aku sampaikan beberapa hal sebelum Mujahadah.


" Anak anak ku, aku tahu saat ini sedang jadi gunjingan masyarakat. Kelak semua akan terbukti mana yg benar mana yg salah.


Tidak bermaksut membela diri, tapi kalian lihat dan rasakan sendiri. Apa yg selama ini aku sampaikan. Benar atau salah kalian nilai sendiri. baiklah sekarang kita mulai mujahadah ba'dal maghrib. Untuk ba'dal Isya' nanti Amir yg pimpin."


Aku segera ambil posisi pimpin mujahadah.


.............


...jalanya sidang...


Aku datang di bali dusun sudah banyak sekali orang disana. Bahkan sampai diluar balai dusun. Agak grogi juga aku,ingat waktu dulu dihajar masa.


Namun aku tetap berusaha tenang, meski ada sedikit rasa gentar juga.


Dan kulihat disitu, Lurah Desa dan beberapa perngkat juga hadir.


Begitu aku duduk, acara pun langsung di buka. Setelah pembukaan basa basi, aku langsung di beri pertanyaan menohok.


Dengan pertanyaan yg menyudutkan aku.


" Saudara Ahmad Sidiq, Anda dulu terkenal dengan anak yg nakal. Hingga meninggalkan dusun ini.


kemudian pulang ke kampung ini, dengan pernyataan sudah bertaubat.


Namun beberapa waktu setelah Anda pulang banyak terjadi keonaran. Dan banyak di datangi para preman, teman teman anda.


Tolong jelaskan hubungan anda, dengan peristiwa peristiwa yg terjadi akhir akhir ini !?! " kata pak Dukuh.


" Betul...!!!"


" Betul.... " Betul....!!! "


Teriak warga yang hadir secara bersahutan, membuat diriku semakin terpojok.


" Memang saya akui, saya punya masa lalu yg buruk. Tapi saya benar benar ingin bertaubat.


Dan saya mencoba untuk berbuat baik serta menggalkan kebiasaan buruk saya dimasa lalu.


"Bohooong...! " teriak beberapa warga memotong ucapanku.


Lurah Desa angkat bicara :


" Mohon tenang, kita beri kesempatan pd saudara Ahmad Sidiq untuk bicara.Silahkan dilanjutkan mas....! "


" Baik pak terimakasih, saya lanjutkan...!


Jadi begini bapak bapak yg saya hormati.


Saya sudah merasakan betapa hidup saya yg dulu begitu kelam. Banyak menyakiti dan merugikan orang.


Selalu bikin onar, dan sering kali merepotkan warga dusun ini. saya sadar betul akan hal itu.


Maka saya berusaha, merubah jalan hidup saya. Saya mengajak anak anak muda untuk melakukan hal hal yg baik. "


" Aah itu cuma kedok, kamu pengikut aliran sesat. buktinya banyak orang sampai mati misterius. sebelum ini tidak pernah terjadi ! " Seru seoarang warga.


" Tho thok thok....! " suara palu.


" Semua harap tenang.


Kita dengarkan sampai selesai dulu. baru kasih komentar....!!! " paj Lurah berteriak.


" Sudah langsung hukum saja usir dia ! " Sahut yg lain.


" Usir...Usir Usiir...!!! " warga makin tidak terkendali, aku tidak menyangka jika akan seperti ini. Kukira sidang tidak dihadiri warga seperti ini.


Wah ini bisa gawat jika warga tidak terkendali. Bisa bonyok yg ketiga kalinya, karena aku tidak mungkin melawan dan menyerang warga dusunku sendiri.


Aku hanya bisa bertahan dan menghindar jika terjadi amuk masa.


Tulit...tulit....tulit...


Tiba tiba beberapa Polisi datang menenngkan warga. Alhamdulillah...


Aku bersyukur keadaan menjadi tenang kembali.


Lurah Desa menyuruhku melanjutkan, namun kembali terjadi keributan.


Warga ingin ikut masuk ke balai dusun, namun di cegah polisi.


Akhirnya dari hasil negosiasi diberi kesempatan wakil warga 3 orang boleh masuk.


" Silahkan di lanjutkan mas, yg lain harap tenang dulu..." kata Lurah Desa.


Aku melihat dari 3 orang yg masuk itu, salah satunya adalah ayah Rendy. Hal itu membuat darahku naik. Yg semula berusaha tenang dan sabar. Kini emosiku naik ke ubun ubun...!


" Saya rasa sudah cukup jelas saya menjelaskan. Dan untuk kejadian kejadian yg terjadi disekitar dusun kita. Itu tidak ada hubunganya dengan saya." kataku mengakhiri penjelasanku.


" Bohong, kamu pasti yg berbuat itu dengan aliran sesatmu. " kata salah satu wakil warga...!


"Dan kamu juga yg menjadi pelaku pembunuhan, pada mayat yg ditemukan itu. bener kan ? " ucap lainya.


" Harap disertakan bukti atau saksi yg menguatkan tuduhan itu, jangan asal tuduh !!! " seorang anggota polisi menyela bicara wakil warga tersebut.


Tiba tiba ayahnya Rendi suami dari kakak kandungku almarhumah ikut bicara.


" Begini pak polisi dan bapak bapak semuanya. Apa yg dituduhkan dari teman teman wakil warga ini memang " belum" ada bukti.


Aku dengarkan omongan ayah Rendi, mau kemana arah bicaranya...?


" Ahmad Sidiq ini adalah adik dari istri saya yg dulu, saya lama kenal dia.


Saya tidak berpihak pada siapapun, saya hanya bicara apa adanya.


Saya ulangi, tuduhan itu belum terbukti tapi kita lihat masa lalunya.


Bagaimana sifat dia yg memang beringas, bahkan saya sendiri kakak iparnya pernah dipukuli.


Dari situ monggo bapak bapak simpulkan sendiri. " ujarnya.


...............


Rasanya ingin memukul orang itu, inget kakak kandungku dulu dianiaya, tapi...


Lurah desa :


" Saudara Ahmad Sidiq, apa benar demikian ? Dan kapan anda memukuli kakak ipar anda " tanya pak Lurah.


" Benar pak, itu saya lakukan dulu waktu saya masih kelas 2 SMA. Dan masih suka mabuk mabukan, dan saya waktu itu kondisi mabuk. " Jawabku.


" Huuuuu dasar tukang mabuk ya tetep aja tukang mabuk...! "


" Yang diluar harap DIAM.." Bentak Pak lurah.


" Waktu itu anda kelas 2 SMA dan kondisi mabuk, apa alasan kamu memukuli ? " tanya Lurah Desa.


" Dari awal dia suka menganiaya istrinya yg kakak kandung saya, dan terakhir saat kakak kandung saya meninggal dengan muka lebam bekas pukulan. Maka emosi saya naik langsung memukuli dia " sahutku.


" Apa benar yg dikatakan sdr Ahmad Sidiq ? " tanya Lurah Desa ke kakak Iparku.


" Tidak pak, istri saya meninggal karena sakit, bukan karena saya aniaya " katanya.


" Sakit apa ? " tanya pak Lurah.


" Saya tidak tahu, karena 3 hari sebelumnya saya tinggal pergi " jawab ayah Rendy.

__ADS_1


" Pergi kemana ? " desak pak Lurah.


" Keluar rumah pak polisi " jawabnya.


" Pergi itu ya keluar rumah, tujuanya atau yg dituju mana ? " tanya pak lurah lanjut.


Ayah Rendi tidak menjawab.


" Ayo dijawab..." Bentak pak Lurah.


" Maaf pak boleh menyela ? " Sergahku.


" Silahkan jika ada kaitanya dengan ini " kata pak Lurah.


" Baik pak terimakasih...


Jika " bekas kakak ipar" saya tidak mau jawab. Silahkan tanya Pak dukuh, perginya waktu itu kemana dan ngapain. Karena waktu itu perginya sama pak dukuh sekarang. Yg waktu itu belum menjabat..! " kataku.


Pak dukuh kaget, aku bilang begitu.


" Gimana Pak dukuh ? " tanya pak Lurah.


Pak dukuh : " iya pak waktu itu saya belum jadi dukuh. kita pergi main judi, dirumah temen !" jawabnya.


"Huuuuu.....!!! "


Teriak warga kompak...!


" Yasudah itu masa lalu " Kata Pak Lurah.


" Sekarang kita kembali ke masalah sdr Ahmad Sidiq, ada yg mau bertanya ? Tapi yg tertib siapa ?"


Salah satu wakil warga unjuk jari,


" Silahkan, gunakan waktu bertanya dengan baik.." kata pak Lurah.


" Iya pak...


Hei Ahmad Sidiq, kamu sendiri tukang mabuk dan judi dulunya. Gak usah bawa bawa Pak dukuh " katanya.


Sebelum aku jawab, pak lurah mendahuluiku bicara.


" Tolong pertanyaanya yg ada kaitanya dengan masalah, jangan melebar." kata pak Lurah.


" Iya pak.


Kamu pura pura baik sok suci sok ngajak mujahadah ngaji dll. Bagiku itu cuma topeng, karena kamu masih saja memperkosa dan membunuh orang dan mayatnya kamu buang dipinggir dusun.


Buktinya kamu masih berhubungan dengan preman preman yg sekarang suka datangi dusun ini dan bikin resah warga. Kamu Mujahadah tapi buat cari pesugihan saja. Kamu nganggur dapat duit dari mana ? ayo jawab " gertak orang tersebut.


Lurah Desa : " Kamu bukan bertanya tapi menuduh, ganti yg lai....?! "


" Maaf Pak lurah, biar saya tanggapi tidak apapa.." kataku.


"Ya silahkan " Jawab pak lurah.


" Terima kasih pak Lurah.


Saya bukan orang suci dan tidak sok suci. Saya juga tidak butuh dianggap suci oleh manusia. Yang menganggap mujahadah saya sesat hanya topeng dll silahkan.


Soal saya dapat uang dari mana saya rasa itu bukan urusan bapak. dan soal tuduhan bapak saya yg melakukan perkosaan dan pembunuhan, silahkan dilaporkan ke polisi jika punya bukti. Mumpung disini juga ada polisi.


Kita buktikan nanti dipengadilan, apakah tuduhan bapak terbukti. Atau hanya sekedar Fitnah, silahkan jika bapak berani, tapi kalo tidak berani lapor polisi tolong cabut tuduhan bapak. Atau saya yg lapor polisi dgn pasal pencemaran nama baik. Bapak berani tidak " pancingku.


Sambil bicara kutunjuk muka orang itu biar emosi dan laporan resmi ke polisi. Karena itulah misi sesungguhnya dari sidang kasus ini.


Orang itu tampak emosi tapi juga ragu, kutatap matanya biartambah emosi.


" Berani berani berani....!


"Lapor lapor lapor......!


Warga yg lain mulai mengompori orang itu. Dan orang itu yg sudah terpancing emosinya berteriak " Berani siapa takut " katanya.


" Ya sudah sekarang juga kita ke kantor polisi, bikin laporan Resmi ! " justru pak lurah yg panik.


" Tahan tahan dulu jangan gegabah lapor polisi secara resmi " kata pak Lurah.


Aku justru deketin 3 Wakil warga tadi dan ku bisikan " Buktikan kalian bukan pecundang, ayo lapor polisi, kalo gak berani berarti kalian cemen alias banci. pulang saja ganti rok dan pakai gincu " ejekku.


Ditengah keributan warga yg teriak teriak tersebut tidak ada yg tahu apa yg kulakukan dan kubisikan pada 3 orang tersebut.


Dan tepat disaat warga mulai tenang, dan tiga orang tersebut selesai berunding. salah satunya berteriak kencang


" Ayo kita buktikan, kita buktikan memang dia pelakunya. Besok akan aku datangkan Saksi, copot dia sebagai rois dan usir preman sesat itu...." teriaknya.


" Usir usir usir lapor lapor lapor..! "


" Silahkan lapor ke kantor polisi sekarang juga, saya tunggu disini sekarang, cepat jgn cuma berani ngomong....! " kataku.


Entah aku akting marah atau marah beneran atau marah setengah akting.


Yg jelas 3 orang tersebut berjalan menuju kantor polisi.


Setelah agak sepi, tinggal pak lurah pak Rt Rt Dan pak dukuh...


Pak lurah : " Wah mas jengan terbawa emosi."


Pak Dukuh : " Kamu harusnya sadar, masa lalumu bagaimana. jangan cuma emosi "


" Loh memangnya Pak dukuh gak punya masa lalu, ingat pak waktu saya masih sekolah dulu. kita pernah satu kalangan main judi dan mabuk bareng pak" kataku.


Aku bicara dengan nada tinggi, pak lurah pun hanya diam. Justru pak dukuh yg terpancing Emosinya


Pak Dukuh : Kamu jangan ungkit ungkit masa lalu !!! "


" Tapi kenapa pak Dukuh ungkit masa lalu saya..? Apakah kalo pak dukuh boleh ungkit masa lalu saya. Tapi kalo saya tidak boleh ungkit masa lalu pak dukuh." kataku dengan nada tinggi.


Terjadi pertengkaran mulut antara aku dan pak dukuh. Sampai pak dukuh mengancamku.


" Awas kamu ya, saya ini sudah kenyang dengan kekerasan. Tapi kalo kamu ngotot saya tidak peduli, main kekerasan juga aku siap. " Kata pak dukuh.


Aku hanya senyum dan berkata santai.


" Saya juga tahu pak dukuh itu dulu gimana. Dan pak dukuh juga pasti tahu, saya dulu bagaimana. Jadi bukan waktunya kita pakai cara lama pak.


Sudah bosan saya, kalo soal keberanian saya percaya pak dukuh pemberani. Tapi pak dukuh juga pasti tahu kalo saya lebih berani. Gak perlu saya ingatkan to pak dukuh ? " kataku.


Akhirnya Pak dukuh cuma diem, ingat waktu lg judi digropyok polisi tak sembunyiin dan aku yg hadapi polisi waktu itu.


Akhirnya semua kembali duduk,


Pak lurah " Ini gimana mas Ahmad, kok jadi kacau begini ? "


" Saya rasa memang harus demikian pak Lurah, kalo saya dituduh sesat, mujahadah dan ngaji cuma kedok atau topeng. Itu saya sudah denger sendiri dari sebagian warga.


Semua itu tidak saya anggap, tapi menuduh Mujahadahnya yg sesat saya tidak terima.


Bahkan sampai ada yg melarang anaknya ikut Mujahadah karena dituduh sesat.


Padahal kalo tidak ikut mujahadah, biasanya pada mabuk.


Apa lbh baik mabuk, dr pada mujahadah.


Intinya gini pak lurah juga pak dukuh dan semua pak Rt yg ada.


Saya ikuti sebagian keinginan warga.


Copot saya sebagai Rois, saya tidak keberatan sama sekali. Bahkan terima kasih.


Tapi soal mau usir saya, monggo jika bisa buktikan saya salah. Dan saya akan pergi dari dusun ini selamanya tidak akan kembali.


Tapi sebelum ada bukti tidak satu orangpun, bisa mengusir saya dari rumah saya.


Dan tidak ada yg berhak melarang saya untuk melaksanakan Mujahadah dirumah saya.


Itu saja pak yg perlu saya sampaikan. monggo pak dukuh, pak lurah atau pak Rt. " kataku setengah mengancam.


Pak lurah : Masalah ini tadi awalnya muncul gimana ? "


Pak dukuh : " Awalnya warga Laporan, kalo Mas Ahmad sekarang kembali seperti dulu,mabuk mabukan terus menyusul istrinya disuruh minggat dan seterusnya ya sidang ini tadi.." kata pak dukuh.


" owh gitu, lah mas Ahmad bener bener siap jd tersangka ? " tanya pak Lurah.


" Siyap pak, seandainya malam ini harus ditahan pun saya siyap !" jawabku mantab.


" Yasudah kita tunggu saja " kata pak Lurah.


Belum lama kami selesai bicara, datang rombongan warga tadi bersama tiga orang polisi.


" Selamat malam,saudara Ahmad Sidiq saudara kami tahan atas tuduhan pembunuhan berencana. ini surat penangkapanya " kata polisi itu.


.............


...bersambung...

__ADS_1


__ADS_2