
Episode 81
Door…. Peluruku melesat dan berhasil mengenai tangan orang tersebut. Sehingga sebelum dia berhasil menarik pelatuknya yang mengarah ke Dicky, senjatanya terjatuh ketanah dari atas bangunan itu.
Aku berlari mendekati orang itu, tapi tanpa kuduga sebuah tembakan mengenai kakiku hingga aku jatuh tersungkur. Ternyata dia tidak sendirian, ada orang lain yang juga bawa senjata. Dan kini mengarahkan senjata kearahku, aku hanya bisa pasrah dengan nasib. Karena tak mampu lagi berlari menghindar. Dan tiba tiba terdengangar suara Door door…..
...******...
Aku berjalan merayap, menunjukkan pada Fanani jalur menuju lokasi Sniper bayaran bersembunyi melalui jalur melingkar. Fanani adah pemimipin dari hanif dan Dicky, yang saat ini sedang berjibaku melawan sniper bayara.
Pada Saat sampai dibelakang gedung, aku dan fanani kaget karena ada dua orang sniper bayaran disitu.
“ Wah Fan, ternyata gak Cuma satu tapi ada dua orang. Apa yang harus kita lakukan ?” tanyaku.
“ Sebentar pak, cari waktu yang tepat dulu. Jika harus bertindak biar yang baru beradu tembak duluan yang kita lumpuhkan. Yang satu kayaknya baru persiapan senjata.” Belum selesai Fanani bicara sniper yang satu tertembak tanganya. Dan sentatanya jatuh ke tanah, sehingga tinggal satu orang dan menggaantikan posisi sniper satunya.
Kedungar dia melepaskan satu tembakan secara cepat, setelah yg satu sembunyi mengobati luka tanganya.
“Rrasakan kamu,kakimu sudah kena, sekarang bagian tubuhmua yang lain yang akan jadi sasaranku.” Ucap sniper bayaran yang kedua.
Door….door…
Dua tembakan Fanani satu mengenai lengan dan satunya mengenai kaki sniper itu.
“ Ada yg tertembak pak, siapa dia ?” kata Fanani. Sambil mengendap memasuki gedung bekas sekolah yang sudah kosong itu. Kemudian secara hati hati Fanani mencoba menerobos masuk dan naik kelantai atas tempat sniper itu sembunyi.
Tak butuh waktu lama bagi Fanani untuk meringkus dua sniper yang sudah terluka itu. Aku yang hamper lepas kendali melihat Hanif, tergeletak ditanah, langsung melancarkan tinjuku pada salah satu sniper itu.
“ Sudah pak, jangan pak biar kami yg menangani mereka.” Kata Fanani.
Karena itu memang bukan wewenangku, maka akupun menuruti kata Fanani. Aku bantu meringkus dua penjahat itu dan aku ikat dengan tali seadanya. Sementara yang satu sudah diborgol oleh Fanani.
Kami giring dua penjahat itu menuju kerumah, dan bersamaan kami hamper sampai pak Yadi datang bersama dengan Rofiq kakaknya Isti.
“ Lapor pak, kami berhasil menangkap dua sniper bayaran. Namun satu petugas terluka.” Laporan Fanani kepada pak Yadi. Sementara Dicky tampak memapah Hanif yang kesakitan karena kakinya terkena tembakan.
“ Baik, borgol keduanya nanti kita bawa ke kantor berikut senjatanya sebagai barang bukti.” Kaqta pak Yadi.
Setelah laporan resmi mereka selesai barulah aku menyapa pak Yadi dan Rofiq.
“ assallamu ‘alaikum pak Yadi, bang Rofiq.” Sapaku pada mereka.
“ Wa’alaikummussalam, maaf pak Yasin agak terlambat kedatangan kami. “ sahut pak Yadi.
“ Wa’alaikummussalam Zain, ketemu lagi kita di masa dan situasi yang berbeda.” Jawab Rofiq.
“ Iya pak Yadi, gak papa anak buah bapak yg terluka dibawa kerumah sakit saja dulu. Baik bang Rofiq, obrolan kita lanjut nanti saja dirumah bersama ibu dan adik abang.” Kataku kepada pak Yadi dan Rofiq.
Kemudian Hanif dibawa masuk mobil dinas pak Yadi didampingi Dicky dan Fanani menuju rumah sakit terdeka.
Aku mengajak Rofiq masuk kerumah menemui Isti dan Ibunya. Suasana haru yang membuat aku tak tega melihat tangis Isti dan ibunya. Kemudian aku pergi kedapur untuk merebus air, aku gak mau merepotkan siapapun yang ada karena mereka baru saja sport jantung melihat adegan baku tembak secara live bukan adegan di film film.
Saat sudah mendidih barulah Khotimah dan Arum datang, untuk melanjutkan buat minuman.
“ Biar Khotimah saja mas, mask an masih cape habis ikut nangkap penjahat tadi.” Kata Khotimah.
“ Gak kok, yang bekerja keras adalah Fanani, bukan aku.” Jawabku. Mendengar nama Fanani Khotimah jadi agak malu malu.
“ Biar Khotimah sama Arum saja yang bikin, mas temui tu kakaknya Isti.” Ucap Arum langsung membantu Khotimahmenyiapkan gelas minuman.
Aku berjalanenuju ruang Tamu diamana Rofiq sedang menangis dan bersimpuh dihadapan ibundanya.
Aku lebih memilih diam takut mengganggu kekhitmatan Ibu dan Anak tersebut, sementara Isti dan Fatimah disamping mereka tampak ikut berkaca kaca.
“ Bang Rofiq maafkan aku, karena aku abang jadi dipenjara kemarin. Aku gak tahu jika abang adqalah abangnya Isti sahabatku di pesantren. Jika tahu mungkin akan lain cerita bang.” Kataku pada Rofiq.
Rofiq masih saja menangis dan bersimpuh pada ibunya.
“ Semua sudah kehendak Allah mas Yasin, mungkin dengan jalan begitu jai titik balik kembalinya mas Rofiq ke jalan yang lurus.” Sahut Isti.
“ Iya Isti, semoga kakakmu benar benar kembali sadar seperti dulu.” Ucapku yang mendapat jawaban Aamin semua yang ada disitu.
__ADS_1
Arum dan Khotimah pun ikut bergabung di ruang tamu sambil membawa minuman, berikut jadah tempe pesanan khusus ibunya Isti dan Rofiq. Yang katanya adalah kesukaan Rofiq juga.
“ Bu ini unjukan ( minuman ) dan camilan jadah tempenya.” Ucap Khotimah yang menganggap ibu nya Isti seperti ibu kandungnya sendiri.
“ Owh iya nak Khotimah, makasih ya nak.” Jawab ibunya Isti singkat.
Setelah beberapa saat Rofiq menangis dalam dekapan ibunya kini dia bisa tenang dan duduk bersama yang lain. Dan obrolan kami pun berlanjut dengan suasana penuh suka cita. Seakan lupa dengan peristiwa yang barusan terjadi. Sampai ketika nRofiq membuka obrolan denganku tentang peristiwa yang dia lihat saat datang tadi.
“ Tadi ada peristiwa apa Zain, kok ada yang terluka tembak, eeh aku panggil lo Zain atau sapa nih ?” Tanya Rofiq padaku.
Sebenarnya aku sangat tidak suka dipanggil Zain, karena mengingatkan aku akan masa lalu yang suram. Namun mengingat itu adalah panggilan akrabku dengan Rofiq dulu aku gak enak jika bilang gak mau dipanggil Zain.
“ Terserah bang Rofiq sajalah, mau panggil apa. Tapi kalo sekarang orang lebih mengenalku dengan nama Yasin.” Jawabku.
“ Owh gitu, ok aku juga ikut panggil Yasin saja, biar semua faham jika aku menyebutmu. Terus tadi ada peristiwa apa sampai ada yang terluka tembak begitu ?” Tanya Rofiq.
Kemudian aku menjelaskan kronologis dari awal pagi tadi, sampai dengan peristiwa baku tembak anak buah pak Yadi, dan tertangkapnya dua sniper bayaran dari pihak lawan. Serta tertembaknya salah satu anggota polisi.
“ Hmm… terus apa rencana kamu, menghadapi musuh yang kayaknya cukup kuat begitu ?” Tanya Rofiq.
“ Kita bertahan saja, yang penting keluarga kita selamat, biar soal penangkapan mereka kita serahkan yang berwajib saja bang.” Ucapku.
Rofiq tampak kurang puas dengan jawabanku, sampai mengernyitkan alis matanya.
“ Owh iya, perkenalkan ini Fatimah istriku yang baru mengandung, ini Khotimah adik sepupu Fatimah serta ini Arum dan ini anaknya namanya Sidiq.Fatimah juga teman Isti satu pesantren dengan aku dulu.” Kataku pada Rofiq.
“ Aku iri padamu Zain eeh Yasin, kamu sudah punya keluarga yang bahagia.” Ucap Rofiq.
“ Abang juga bakalan punya keluarga yang bahagia nanti.” Hiburku.
“ Itulah yang bikin gue jadi kayak kemarin Yasin. Impian keluarga bahagia rusak atau dirusak seseorang.” Kata Rofiq.
“ Jalan hidupku gak semulus yang abang kira bang, perjalanan hidupku jauh lebih berliku sebenarnya. Mungkin nanti kita bisa bernostalgia bang. Tapi gak dengan cara kita dulu tentunya.” Gurauku untuk mengalihkan pembicaraan tentang keluarga.
“ Lo bisa aja Zain, rupanya sifat humor lo gak hilang dari dulu ya ?”ucap Rofiq yang lupa memanggilku dengan sebutan lamaku.
“ Iya bang, tapi kayaknya lebih enak panggil Yasin, kalo Zain itu jadi ingat masa suram kita aja bang !” ucapku.
“ Owhiya maaf lupa, kebiasaan dulu manggilnya gitu.” Kata Rofiq sambil tertawa.
“ Selanjutnya hanya tinggal mengarahkan untuk kembali kejalan yang baik dan benar.” Bisiku dalam hati.
“ Owh iya bang, abang kan dulu juga pernah ngaji di pesantren, tularkan dong Ilmunya pada yang membutuhkan.” Kataku memancing reaksi Rofiq.
“ Apa masih pantas, orang seperrti aku ngajarin ngaji ?” Tanya Rofiq.
“ Apa menurut bang Rofiq, aku juga gak pantas kalo ngajarin ngaji, kan kita sama sama punya masa lalu yang juga sama bang !” kataku.
“ Bedalah, lo kan sadar terus ngaji. Kalo gue kan udah ngaji jadi tukang maksiat dan sekarang baru mau kembali lagi.” Kata Rofiq.
“ Kan intinya sama sama pernah jadi orang gak bener, Aku juga masih belajar bang jadi gak ada salahnya belajar sambil mengajarkan yang kita tahu.” Kataku.
Rofiq hanya terdiam, sambil merenungkan kata kataku. Aku berharap semoga saja dia mau mengajari Arum dan Sidiq ngaji. Sekaligus buat mendekatkan keduanya, siapa tahu bisa berjodoh. Sehingga aku bisa bertanggung jawab pada Arum tanpa harus membuat istriku cemburu.
“ Iya mas Rofiq, Isti sepakat dengan mas Yasin. Biar ilmu yang kamu dapat ada manfaatnya.” Sahut Isti.
“ Siapa juga yang mau percaya, belajar ngaji pada seorang baj****n seperti aku.” Jawab Rofiq.
“ Jangan begitu bang, aku juga mantan Baj****n, tapi aku juga ngajar ngaji anak anak sekarang.” Kataku.
“ Maksutku bukan begitu, tapi apa ada yang mau belajar ngaji sama aku ?” ucap Rofiq yang mulai merubah bahasa bukan lo gue lagi. Meskipun panggilan begitu juga gak masalah, tapi mungkin didengar ibunya jadi kurang pas, tidah familier beda dengan bahasa aku dan kamu.
“ Klao abang mau, Ini Sidiq anaku, dan Arum ibunya abang ajarin mereka ngaji. Biar ilmu abang juga bermanfaat,” ucapku perlahan.
“ Tunggu, maksut eL…. Eh kamu, Sidiq itu…?” katanya tertahan.
“ Iya bang, panjang ceritanya itulah masa lalu aku. Kuharap abang bersedia mengajari mereka ngaji.” Ucapku jujur dihadapan semuanya.
“ Bisa begitu kamu, maksutku di antara kalian statusnya bagaimana, maaf jadi kepo nih ?” Tanya Rofiq padaku.
Sebelum menjawab aku lirik mimic wajah Fatimah dan Arum dulu, pingin tahu reaksi mereka. Apakah berkenan jika aku bicara terus terang pada Rofiq, atau ada keberatan. Kulihat wajah keduanya biasa biasa saja, tidak menunjukkan sebuah keberatan atau rasa tidak senang dengan pertanyaan Rofiq.
__ADS_1
“ jadi begini bang, secara ringkas saja aku jelaskan. Toh kita sudah sama sama dewasa dan kita sudah seperti keluarga. Jadi kuharap semua bisa mengetahui, tanpa ada yang merasa tersinggung atau disakiti. Gimana Arum dan Fatimah jika aku bicara apa adanya pada bang Rofiq ?” tanyaku.
Namun justru Isti dan Khotimah yang wajahnya Nampak menjadi tegang.
Arum, “ Arum sih gak masalah, toh itu sudah terjadi dulu.”
Fatimah, “ Iya, Fatimah juga sudah bisa menerima semuanya.”
Rofiq justru semakin bingung, mungkin dia berpikir aku melakukan Polygami sehingga wajahnya Nampak bengong dan kaget.
“ Maaf bang, jangan mengira aku berpoligami. Arum adalah masa laluku dan Sidiq adalah anak biologisku. Dan karena Arumlah aku bisa masuk pesantren dan menjadi sadar. Kemudian aku menikah dengan Fatimah istriku ini. Dan setelah itu aku baru tahu jika Arum sudah mengandung dan melahirkan anakku. Dan saat itu aku sudah menikahi Fatimah dan posisi Fatimah sedang mengandung.” Penjelasanku pada Rofiq secara singkat dan berhati hati agar tidak menyinggung perasaan siapapun terutama Arum.
“ Jadi Sidiq adalah….?” Tanya Rofiq terpotong.
“ Iya bang.” Jawabku singkat.
Mendadak suasana berubah jadi hening, aku jadi agak menyesal mengatakan semua itu. Apa mungkin aku yang terlalu buru buru atau gimana, pikirku. Tapi Tiba tiba Rofiq mengucapkan sebuah kalimat yang mengejutkan.
“ Kamu sangat beruntung Yasin, belum pernah aku bertemu dua wanita yang seperti istrimu dan Ibunya Sidiq. Dua duanya wanita yang luar biasa.” Ucap Rofiq.
“ Iya bang, aku juga sadar itu, makanya aku tidak ingin menyakiti salah satunya bang.” Jawabku.
Rofiq hanya manggut manggut seakan ingin menyampaikan sesuatu tapi tak mampu keluar dari mulutnya.
Cukup lama kami mengobrol, tanpa terasa waktu dhuhur semakin deka. Dari Masjid terdengar suara tarhim, tanda hamper masuk waktu sholat kurang 10menit. Kamipun bergegas untuk bersiap sholat dhuhur berjamaah.
Setelah jamaah dhuhur, kembali berkumpul untuk makan siang bersama. Sehabis makan siang aku mengajak Rofiq untuk bicara empat mata saja. Karena ada kaitanya dengan menjaga keselamatan seluruh penghuni rumah termasuk Isti dan ibunya Rofiq. Agar tidak dibebani oleh oleh pendapat pendapat dan kekhawatiran para wanita.
...********...
“ Demi keselamatan semuanya, saat ini para wanita saya larang keluar rumah. Karena beberapa hari terakhir gerakan musuh semakin brutal. Untung dibantu para petugas dari kepolisian bang.” Kataku membuka pembicaraan.
“ Sudah sejauh mana mereka menyatroni rumah kamu Zain. Maaf saat berdua aku panggil kamu zain saja.” Kata Rofiq.
“ Boleh saja bang, gerakan sudah mengarah pada perbuatan criminal murni, percobaan penembakan pada anggota keluarga. Kemarin ibunya Sidiq yang hamper jadi korban. Dan dua polisi sudah terkena tembakan juga. Terakhir tadi Hanif, sampai dibawa ke rumah sakit.” Jawabku.
“ Itu sih gak bisa dibiarkan, anak buahku dulu harus kuberi tahu.” Kata Rofiq.
“ Bang, anak buahmu banyak yang gabung sama Gembul. Mana yang masih ikutan sama kamu aja belum jelas.” Kataku.
Tiba tiba Rofiq marah dan berteriak keras, sehingga membuat yang lain pada datang.
“ Kuraaan ajaaaar mereka semua, akan aku habiskan meraka semua nanti…!!!” teriak Rofiq.
...bersambung...
Satu komen readers adalah seribu semangat bagi Author.
Terimakasi atas dukungan dari Readers semuanya.
Author akan berusaha terus memperbaiki, bahasa retorika dan lainya.
Semoga dapat menghibur Readers semua.
...Jangan lupa dukungan berupa :...
...Like...
...Komen...
...&...
...Vote nya...
...Terimakasih...
...🙏🙏🙏...
__ADS_1