Isyaroh

Isyaroh
Fitnah dari manusis mulai bermunculan


__ADS_3

" Iya deh... Anggap saja apa yg terjadi dulu itu dinamika hidup mas. Antara Fatimah dan Mas Samsudin dan Mas dengan Eis. Kita kubur dalam dalam saja. Bagaimanapun jodohku adalah kamu, dan jodoh Eis adalah mas Samsudin. Itu yg harus kita terima " kata Fatimah


Aku sampai terbatuk batuk mendengar ucapan Fatimah.


"Ehuuk huuk.."


" Ringan banget kamu bicaranya, bagi orang lain gak segampang itu pasti menerimannya " kataku.


" Ya habis gimana lagi, kita kan gak mampu melawan Takdir ? " jawab Fatimah


" iya bener, tapi kalo mas sama Eis memang gak ada komitmen pacaran. Mas gak pernah bilang cinta ke Eis, pun sebaliknyya Eis juga gak pernah bilang cinta ke mas. Hanya saling menunjukkan kepedulian masing masing " kataku.


" Ya sama saja, dari sikap orang bisa menilai kan ? " seru Fatimah.


" Maksutnya ? " tanyaku.


" Satu pesantren tahu kalo mas Sama Eis dulu saling suka, org gak harus nanya ada komitment apa gak kan ? " jawab Fatimah.


" Iya sih " kataku.


" Mang awalnya gimana ceritanya dulu mas ? " tanya Fatimah.


" Kenapa harus diungkit sih " protesku.


" Bukan mengungkit, Fatimah hanya ingin tahu. Apa yg membuat mas dulu bisa suka sama Eis. Barang kali Fatimah bisa berikan yg mas suka " kata Fatimah.


" Ah gak usah gitu, aku cinta kamu sebagai mana kamu sekarang, tidak usah berusaha menjadi Eis. Jadi Fatimah saja, begitupun aku. Tidak akan menjadi Samsudin, maka cintailah aku sebagai aku.Jangan cintai aku sebagai orang lain " jawabku.


Istriku hanya diam dan tersenyum


" Iya mas... ,Memang jawaban itu yg aku tunggu...." katanya.


Fatimah pun hanyut dalam dekapanku.


Dan tak terasa kumandang adzan maghrib tiba.


" Kita jamaah dirumah saja yuuk terus kirim doa untuk kedua orang tuaku yang sudah alm ! " ajakku pd istriku.


....


Usai sholat maghrib dan kirim doa, lanjut jamaah isya. Setelah itu Fatimah aku ajak makan malam diluar. Karena tadi gak sempat masak. Dan orang tua Fatimah gak dirumah.


Sambil jalan jalan lihat suasana, kan udah jadi orang sini.


" Mau makan apa mas ? " tanya istriku.


"Cari rumah makan padang aja " jawabku.


" Agak jauh ini kan di dusun mas " jawab Fatimah.


" Gak papa Sambil muter muter, lihat suasana malam disini " kataku.


" Pakai motor bapak aja, bapak kan naik angkot ke brebes nya " kata Fatimah.


" Yaudah Ayuuk..." jawabku.


Kami pun keluar rumah mencari warung makan, Fatimah dibelakang pegangan badanku.


Aku sengaja bawa motor pelan pelan, mengingat istriku lagi hamil muda.


" Pertigaan depan belok kanan mas, ada rumah makan padang " kata Fatimah.


Aku ikuti komandonya tanpa menjawab.


Ternyata benar, baru jln 50 meter sudah kelihatan Rumah Makanya.


" Itu depan mas kiri jalan " seru Fatimah.


" Iya sudah tahu..." jawabku.


Setelah turun dari motor Fatimah langsung masuk nemui pelayan. Yaudah aku langsung cari tempat dipojokan yg sepi, biar bisa ngobrol bebas. Aku yakin Fatimah udah tahu apa yg ingin aku pesan kalo dirumah makan padang. Iso babat dan daun singkong pakai sambal hijau.


Tak lama Fatimah menyusulku.


Diikuti pelayan yg di depan tadi.


" Malam mas, perkenalkan saya Khotimah sepupu kak Fatim. "ucap pelayan itu sambil menyodorkan tanganya. Aku pun menyambut jabat tanganya, karena memang terbiasa jabat tangan dgn lawan jenis.


Aku jabat tangan pelayan itu sambil sebut namaku ( Nama pemberian abah )


" Sepupu kamu say... ?" tanyaku ke Fatimah.


Istriku tampak melotot,...!


" Ngapain disini panggil say, malu banyak orang ? " protesnya.


" Lah kenapa emang, kan emang aku sayang kamu " jawabku keras.


Fatimah cuma nunduk malu, Sepupunya Khotimah cuman senyum senyum.


" Mau minum apa mas " tanya sepupu Fatimah.


" Jeruk hangat saja mbak.." jawabku.


" Panggil nama saja mas, saya kan masih adik sepunya mbak Fatim " katanya.


" Owh ya, jadi panggilanya kalo dirumah Fatim ya dik " kataku.


" Iya mas, memang kalo diluar panggilanya siapa " tanya Khotimah.


" Kalo gak disini panggilanya sayang..." jawabku.


" Apaan sih...." Fatimah protes sambil mencubitku.


" Jangan genit ah mas kalo disini, Fatimah malu iih... " lanjutnya.


" Gak papa santai saja, kita kan bukan pacaran lagi, kenapa harus malu " jawabku.


Tiba tiba Hp Fatimah berbunyi.


" Mas no kamu, mungkin Amir yg telpun penting. Kamu angkat gih " kata Fatimah.


Aku pun melangkah keluar sambil angkat telpun.


Setelah jawab salam.


..." Ada apa mir....?"...


..."Pulang kapan pak ?"...


..." Insya Allah besuk sore sampai Rumah, kenapa "...


..."Ruko nya pak, rukonya dibobol maling."...


..."Owh cuma itu saja ?"...


..."ada lagi pak, pak yadi telpun terus nyari bapak ! "...


..." Pak Yadi polisi itu ?"...


..."Iya pak, katanya penting terkait penemuan mayat itu."...


..."Iya bilang saja besok sore aku sampai rumah, sudah ?"...


..."Eeeeh yg lain besuk saja pak kalo sudah sampai rumah."...


..."Assalaamu ' alaikum..."...


..." Wa ' alaikummussalam...."...


Ah kenapa ya pak Yadi nyari aku, dan kata Amir tadi selain ruko dibobol maling. Ada hal lain yg akan disampaikan jika aku sudah dirumah.


Ada apa ya ?


Tiba tiba selera makanku hilang.


Aku kembali ke meja makan, menu sudah disiapkan, tapi Fatimah belum mulai makan.


" Kok gak makan say ? " tanyaku.


" Nungguin suami lah.." jawabnya.


" Minta dibungkus saja, kita bicara dirumah " pintaku.


" Ada apa mas, Amir kenapa ? " tanya Fatimah.


" Udah nanti dirumah aja bicaranya." jawabku.


Setelah membayar aku buru buru pulang, gak sempat pamitan sama seupunya Fatimah.


Ketika hampir memasuki halaman rumah, tiba ada kucing lari melintas di depanku. Sebenarnya aku gak ngebut, meski lebih cepat dari berangkatnya tadi. Tapi kemunculan kucing yg tiba itu membuatku kaget. Kalo aku rem mendadak aku khawatir istriku jatuh.


Akhirnya hanya aku tabrakan ke rumpun tanaman pagar yg aman.


" Aduh... kenapa mas ? " tanya Fatimah.


" Ada kucing lewat, mau di rem mendadak takut kamu jatuh " jawabku.


" Kucing..? Perasaan dari tadi gak ada kucing " serunya.


" Masa kamu gak lihat ? Tapi sudahlah yg penting kita selamat. Tapi kayaknya malam ini kita harus puasa, atau makan mie instan saja nanti " kataku.


" Kenapa ? " tanya Fatimah.


" Tuh lihat bungkusan makanan kena ranting pohon jadi berantakan " jawabku.


Istriku malah tertawa.


" Salah mas sih, genit sama sepupu Fatimah...! " guraunya.


" Ciye ciye cemburu ma sepupu sendiri " candaku.


" Gak cemburu, cuma malu aja dipanggil sayang didepan umum. yaudah ayuk pulang aku masakin mie instan aja " katanya.


" Spesial ya ! " pintaku.


" Iya spesial pakai cium ntaaarrr " jawab Fatimah menggoda.


" Tahu aja maksutku... hehehe.." jawabku.


" Ya pasti tahulah kebiasan suaminya gimana....! " balas istriku.


" Ehhm..." aku berdehem.


Sebenarnya ada rasa was was tapi aku sembunyikan di depan istriku.


Bagaimana nanti ngomongnya ya ?


" Mas duduk dulu aja, aku masakin dulu " kata Fatimah.


" Iya sayang,..." jawabku.


Aku harus menyembunyikan rasa was was ku didepan istri. Agar dia gak ikut was was...!


Sementara istriku didapur, aku berpikir gimana cara ngomongnya nanti.


Aku gak perlu certakan semua, cukup bilang kalo ruko dibobol maling aku harus pulang untuk dimintai keterangan.

__ADS_1


Masalah lain Fatimah gak perlu tahu.


" Nih udah mateng mie nya ! " kata istriku.


" Minumnya air putih aja ya, jangan kebanyakan kopi " katanya.


" Susu gak ada emang ? " tanyaku menggoda.


" Kan buat entar,..? " jawabnya.


" Halaah diluar sok alim, dirumah gitu..." godaku.


" Ya gak papakan, namanya juga suami istri ! " jawabnya sambil senyum.


" Iya iya... Aku juga suka, btw ni banyak amat mang 2 bungkus ya ? " tanyaku.


" Bukan dua bungkus tapi 3 kn buat bertiga ? " jawab istriku.


" Kok bertiga ? " tanyaku.


" Iya... kan Mas, Fatimah sama anak kita ? " jawabnya genit bikin deg deg ser, hihihi...


" Owh iya ya, berarti kamu yg 2 Porsi aku 1 Porsi. Kan yg bawa anak kita kamu " jawabku.


" Gak dong, sebagian dari anak ini masih ada ditubuh mas, jadi kita bagi dua. karena tubuh anak ini masihbanyak yg di suamiku, mas yg 2 porsi, hehehe.." katanya makin menggoda.


" Ah kamu nii...! " jawabku salah tingkah.


" Biar kuat mas, ntar kalo laper jadi gak khusuk dong... " ucapnya sambil senyum.


" Aku suapin mas dulu 2 sendok, kemudian aku 1sendok " katanya.


" Terserah lah, asal kamu bahagia saja..." sahutku senang.


Setelah selesai makan.


" Tadi Amir ngapain telpun, kok gak jadi makan diluar " tanya Fatimah.


" Besuk aku disuruh pulang, ruko dibobol maling..." jawabku.


" Terus gimana mas....? "tanya Fatimah.


Istriku sudah panik, apa lagi denger masalah yg lain.


" Namanya sudah dicuri yaudah gimana lagi. besuk aku mau dimintai keterangan saja " jawabku.


" Cuma itu aja kah ? " desaknya.


" Ya cuma itu saja... ? " jawabku bohong.


" Terus besuk gimana aku jualanya mas, kalo semua barang di ambil ?" tanya Fatimah.


" Kamu fokus jaga anak kita saja dulu. Besuk soal warung, aku ada dari hasil jualan tanaman online kita. " jawabku.


" Mudah mudahan yg mau beli kemarin jadi, aku lupa gak tanya Amir tadi " lanjutku.


" Iya lah mas, mungkin ini ujian cinta kita mas ? ! " ucapnya lebih tenang.


" Asalkan kita usaha pasti ada jalan sayang " jawabku.


" Ya mas, kita lanjut ngobrol dikamar yuk udah malem " ajak istriku memberi kode.


" Ngobrol doang kah...? " godaku.


" Ya sambil ngapain aja juga boleh.." jawabnya.


Beginilah jika sudah rindu berat. sudah tahu sama tahu.


...


Malam itu saat pulang dari warung makan, aku sudah merasa was was. Pikiranku sudah dirumah terus, sejak terima telpun dari Amir.


Kios istriku dibobol maling.


Ditunggu Pak Yadi terkait mayat yg di temukan itu.


Belum lagi, masalah yg belum disampaikan Amir. Menunggu aku sampai rumah, masalah apa lagi ya ?!?


Aku jadi teringat pesan kang Salim.


Jika aku akan mendapatkan ujian dari Fitnah manusia.


Kemudian saat aku pamitan mereka berkaca kaca.


Ditambah tadi, aku hampir celaka karena menghindari kucing nyebrang.


Tapi istriku tidak melihat, katanya.


Apakah semua ini ada hubunganya ?


Aku mencoba menguarai dengan tetap menggunakan logika.


.


Aku lirik istriku sudah tertidur sambil tetap memelukku.


Aku selimuti badanya, biar gak kedinginan. Sedangkan aku susah sekali memejamkan mata.


Hembusan nafas istriku lembut terasa seperti tiupan lembut di dadaku.


Aah pulas sekali tidurnya, bahkan saat ku belai rambutnya pun tidak bangun.


Malah semakin erat memelukku.


Kasihan sekali istriku ini, anak tunggal hidupnya malah penuh masalah sejak menikah denganku.


Bahkan hampir saja dibenci teman teman santriwati karena kesalah fahaman.


Tanpa terasa ucapanku membangunkan istriku..


" Ada apa sih mas.. kok kayaknya ada masalah berat banget. cerita dong, aku ini kan istrimu " katanya.


Kata istriku sambil membenarkan posisi tidurnya. Yang sekarang kepalanya di taruh lenganku, dan wajahnya dihadapkan ke aku.


" Apa.. gak ada apapa, cuma mikir kios kita kok..." jawabku berbohong.


" Gak mungkin maas... Fatimah ngerasa mas dari tadi nyimpen masalah sendiri. Gak mau cerita ? " desak istriku.


" Gak ada apapa sayang, hanya ingat rumah dan kios saja " kilahku.


" Mas jangan bohong, tadi aja nampak kurang gairah, gak seperti kemarin ? " katanya.


" Gak kok biasa saja, mungkin cape aja kemarin di pondok kang salim banyak ngobrol kurang istirahat " jawabku.


" Beneran gak ada apapa ? " desak istriku terus.


" Iya sayang...? " jawaku.


" Ya udah istirahat, bobo mas ayuk kita bobo sambil pelukan. " katanya sambil peluk aku.


Aku peluk dan cium istriku, biar tidur lagi.


..................


Aku sampai dirumah sudah ditunggu banyak warga.


" Ini dia biang keladinya datang...." teriak seorang warga.


Aku kaget banget, siapa yg dimaksut...?


Tiba tiba beberapa warga sudah mengepungku. Dan ada yg mulai memukul aku, dikuti yg lainya. Nyaris aku jadi korban amuk warga tanpa tahu masalahnya apa.


Untung satuan kepolisian datang menolongku, tapi bukan diajak kerumah. Melainkan dibawa ke balai kalurahan untuk di Sidang...?!?


Apa gerangan salahku ?


Dengan kondisi bibirku yg masih berdarah. Aku disidang Aparat desa dan tokoh masyarakat dihadiri anggota polisi.


Aku kaget ketika tuduhan dibacakan. Aku disidang dengan tuduhan, pembunuhan yg mayatnya di temukan beberapa hari yg lalu.


Hanya atas dasar, aku ini dulunya adalah sampah masyarakat. Ketika aku memberi Argument dan Alibi, bahwa pagi itu baru pulang dari luar kota. Tidak ada yg percaya karena tidak bisa menunjukkan tiket bus kepulanganku.


Dianggap itu akal akalanku untuk membung jejak. Dan ketika aku tanya, apa ada bukti yg mengarah bahwa pelakunya adalah aku.


Jawabnya hanyalah ,


Karena aku ini dulunya b*****an, sekali b******an tetap lah b*****an. Kalo bukan kamu siapa lagi.


Diwilayah ini tidak ada yg sebejat kamu katanya.


Karena aku sudah tak dapat menahan amarahku, aku berteriak...!


"Kaliyan jangan percaya fitnah, ini pasti fitnah


Aku berteriak teriak


" Ini Fitnah.... Fitnah...."


" Mass mass... kamu kenapa mass.." tanya istriku.


Owh untung cuma mimpi....!


" Astaghfirrullahal ' adhim... Aku mimpi buruk sayang...." jawabku.


" Jam berapa ini ? " lanjutku.


" Baru jam 2.30 mass " jawab istriku.


" Mas mau mandi dulu, mau sholat malam..." kataku.


" Fatimah ikut mas, ikut sholat juga. Mas mandi dulu Fatimah bikinin kopi ya mas ? " kata istriku.


" Iya boleh..." sahutku.


Aku selesai mandi gantian istriku mandi. Aku nunggu sambil ngopi, pikiranku jd gak karuan.


ngopi pungak bisa merasan nikmat.


" Fatimah dah wudhu, ayuk sholat bareng mas, Fatimah makmum. Kan boleh sholat sunah berjamaah..! " katanya.


" Iya ayuukkk... " jawabku.


" Kita sholat hajat, mohon pada Allah. Semoga kita semua dan warga desa kita dijauhkan dan diselamatkan dari bala bencana. " kataku.


Tanpa menunggu jawaban Aku langsung Takbiratul ihrom.


..........


Usai berdoa Aku dan istriku, menunggu subuh. Tanggung mau tidur lagi.


" Mas takut batal gak,, ?" tanya istriku.


" Kenapa emang ? " jawabku heran.


" Gak papa, kalo gak takut batal Fatimah pingin nyandar aja, tapi kalo takut batal ya gak usah ! " jawab Fatimah.


Karena kita pengikut madzab syafi'iyah, bersentuhan kulit lawan jenis ya batal meskipun istri / suami.

__ADS_1


Kalo menurut madzhab Malikiyah tidak batal.


" Aaah kamu ini, batal ya tinggal wudhu lagi, gitu aja kok repot " jawabku.


( ngikutin kata Gus Dur, hehehe...)


" Iya sih, takutnya malas wudhu lagi " balas istriku.


" Itu sih beda perkara, namanya males saja. Menjaga wudhu memang berpahala, tapi menyentuh istri juga pahala besar kan. Karena sentuhan suami itu bisa menentramkan istri. Sini tapi lepas dulu Mukenanya. batal gak papa say.." kataku pada Fatimah.


" Senengnya punya suami yg peramah sama istri." puji istriku.


" Iya lah, istrinya juga pengertian kok, coba istrinya banyak nuntut Pasti Suaminya pemarah sama istri " kataku balas memujinya.


Agak plong setelah sholat, mungkin tidur dalam keadaan junub mudah diganggu jin. Mungkin loh ini, hanya pendapat pribadi saja, hehehe.


" Bapak ibu nanti sampai rumah jam berapa ya Aku harus pamitan sebelum pulang ke jogja. " kataku.


" Gak besuk aja mas, kan ini hari jumat, emang gak jumatan ? " katanya.


" Kan musafir bukan mukimin sayang, boleh diganti sholat dhuhur " jawabku.


" Iya sih.... Tapi ada yg gak bisa diganti " kata Fatimah.


" Apaaa ? " tanyaku bingung.


" Rasa kangenku, hihihi...." godanya.


" Iiih dasar...! " seruku.


Aku pites hidungnya yg mancung..


" Adduuhhh mas jangan kenceng kenceng sakit, gak bisa nafas " rengeknya.


" Tenang nanti kuberi nafas bantuan " godaku.


" Ah maass nih... emang dari dulu kalo sama cewe gitu ya " protesnya.


" Apa an sih, ngomongin gituan melulu, Bapak ibu besuk pulang jam berapa belum dijawab ! " kataku.


" Owh iya... Paling sekitar jam 9 pagi " jawabnya.


" Wah cukup siang ya, berarti habis subuh tar mau tidur lagi aja ah " jawabku.


" Eee gak boleh habis subuh tidur lagi ! " seru Fatimah.


" Kenapa emang..? " tanyaku heran.


" Ya masak istri mau ditinggal di anggurin aja.." katanya menggoda.


" Kan semalem udah ? " kataku.


" Iih mas kok gitu sih itungan banget sama istri, ngasih sekali aja..." protesnya.


" Iya iya iih... Kan semalam masih cape " kataku.


" Berarti kalo habis subuh nanti dah hak cape kan, udah bisa kaya malam sebelum kesini itu kan ? " rengek istriku manja.


" Diiih kok kamu sekarang jadi gitu sih, kaya ada yg aneh " kataku.


"Gak aneh kok mas, kan sudah kodrat manusia punya nafsu. Kalo sekarang kita sudah resmi suami istri. Ya gak papa, kalo belum sah tu baru dosa. Kalo kitakan sudah bebas, apa lagi sekarang gak ada halangan tiap bulanya, hehehe..." katanya sambil senyum manis.


Baiknya aku godain aja nih biar sewot, batinku.


" Kok malam pertama dulu kamu nolak ? " godaku sambil senyum.


" Yeeee Males ah kalo ngomongin yg dulu mas,..." gerutunya


" Wkakaka.... Ciyee cemberut tuh


Tapi mang kita tu ibarat pengantin yg terlambat bulan madunya ya, hehehe..." godaku.


" Ya gak papa mas dari pada bulan madu dulu baru jadi pengantin. Atau bahkan bulan madu tapi gak jadi pengantin, bisa kena adzab Allah mas..." ucapnya.


Jlleeebbbb....


Kata kata istriku sangat mengena, aku jadi terdiam. Itu lah aku dulu sayang, batinku.


" Mas kok diem, marah ya ? " tanya istriku.


" Owh nggak nggak... itu suara Tarhim kirain dah adzan subuh " jawabku bohong.


" Wudhu yuk udah masuk imsak, bentar lagi subuh..." ajakku.


Padahal aku hanya menghindari pertanyaan lebih lanjut dari istriku.


.....


Setelah sholat subuh aku masuk kamar, sementara istriku ke dapur. Ah pura pura tidur aja, aku suka sekali godain istriku sekarang ini. Aku merasa sudah benar benar jatuh hati dengan gadis pilihan guruku ini.


Bener bener kayak baru bulan madu, tiap hari selalu indah bersamanya maksutnya Bukan hanya soal ranjang saja, tapi dalam semua aktifitas berdua terasa indah. Sayangnya saat ini masalah besar menanti.


Tapi minimal aku bisa rasakan kebahagiaan bersama saat ini.


Masalah nanti dirumah, biarlah jadi urusanku.


Saat ini yg bisa membahagiakan aku hanya ketika melihat istriku tersenyum, tertawa bahagia. Istriku gak cantik cantik amat tapi punya pesona tersendiri.


Jadi jangan sampai dia tahu jika sebenarnya aku baru dihadapkan masalah yg cukup besar. Bahkan bisa membahayakan hidupku. Tapi saya pikir lelaki manapun akan mengambil sikap sepertiku.


Karena sudah kodrat Nya, jika laki laki itu melindungi wanita ( anak istri nya )


" Mass dih kok tidur beneran sih jahat aah...! " katanya.


Istriku ngebangunin aku yg pura pura tidur.


" Awas ya kalo pura pura tidur...! " katanya.


Aku diem menahan tawa.


Mataku pura pura tertutup rapat, nafasku kuatur seperti orang tidur beneran.


Tiba tiba istriku mencium bibirku, lantas kupeluk dan kubalas ciuamanya.


" Emmhh ah mas jahat godain terus, tar dulu Fatimah lagi masak air. bikin jamu buat mas biar gak emmh


Mas kompornya takut emmmh aah ntar dulu iiih..." protesnya jengkel.


Aku tertawa lihat reaksi istriku.


" Iiih seebbbel tau.. matiin kompor dulu." katanya.


"Mau minum dulu gak " tanya Fatimah.


" Gak ah entar aja..." jawabku.


...Aku menahan geli. Aku terbangun Sudah jam 8.30......


Kucari istriku sudah gak di tempat tidur.


Aku bangkit membenahi pakaianku.


Aaah ternyata istriku ini....?


Aku merasa beruntung punya istri Fatimah.


" Owh dah bangun mas, sudah aku masakin air buat mandi. Sana buruan mandi takut bapak ibu pulang " katanya.


" Aah masih ngantuk cape tar ajalah.." godaku.


" Buruan takut bapak ibu keburu pulang," katanya.


" Emang kalo keburu bapak ibu pulang ngapain ? " godaku.


" Ya malu lah jam segini baru bangun mandi, dikira gak sholat subuh nanti " gerutunya.


" Gampang... Nanti kubilang tadi startnya habis subuh kok pak....! " jawabku asal sambil nerima handuk dari istri.


" Dassaaaarrrr.. " pekik istriku sambil nyubit.


" Aduh saakiiit..." teriakku.


" Iya iya... Aku cepet kok kalo mandi " ucapku.


Gak Sampai 15 menit aku dah selesai mandi.


" Eeh ada bubur ayam beli apa masak " kataku pada istri.


" Nitip tetangga tadi yg ke pasar " jawab Fatimah.


" Kamu gak mandi sayang...." tanyaku.


" Enak aja... dah dari tadi kale waktu mas tidur... " jawabnya.


" Enak tidurnya ? " tanya istriku.


" Gak " jawabku.


" Kenapa mas ? " tanya istriku dengan mimik serius.


" Enakan sebelum tidur tadi kataku sambil tertawa..." jawabku.


"Iiiihh mas ini gak kapok kapok dicubitin tiap hari, masih godain terus." gerutunya.


Aku menjerit sakit sambil tertawa, tapi istriku malah nyubitnya pindah pindah tempat. padahal cubitanya beneran sakit, terasa panas dan perih..


Tiba tiba Eeehhemmm.


Bapak ibu mertuaku sudah di depan pintu...!


" Eeh Bapak dan Ibu... sudah kondur ? maaf gak tahu...! " kataku


" Udah gak usah grogi, kita juga pernah muda kok...?kata ibu mertuaku sambil senyum.


" Kamu pulang kapan nak, ? "tanya bapak mertua.


" Kemarin sore pak " jawabku masih agak grogi.


" Owh pantesan Fatimah wis ngguya ngguyu.. ! " seru ibu mertua.


Pantas Fatimah udah ketawa ketawa..


" kamu juga menantuku, kok pinter pilih waktu pulang yg pas "timpal ibu mertuaku.


" Gak kok bu kebetulan saja " kataku.


Aduh malah keceplosan.


" Maksut saya kebetulan sudah selesai urusan disana " ulangku.


" La iya itu bisa pas kan pinter namanya, kemarin kamu gak ada, Fatimah manyun aja gak pernah ketawa." guraunya.


" Eeh tadi udah terdengar tawanya. ya sudah jangan ditinggal tinggal lagi sekarang. Bapak ibu mau cuci muka dulu sebentar ! "


Fatimah hanya tersipu sipu, aku yg bingung karena rencanaku Fatimah mau aku titipin disini dulu.


Gimana nanti jelasinya ya....?!?

__ADS_1


.....


...bersambung...


__ADS_2