
Ibarat mencuci panci, kalo sudah banyak kerak gak cukup dengan sabun saja. Tapi harus digosok dengan batu atau abu yang kasar agar keraknya hilang. Berbeda dengan yang kotor biasa, cukup dengan sedikit sabun kotoranya akan hilang. Begitulah gambaran untuk pembersihan diri seseorang.”
……….
……….
Lanjutan episode :
Kemudian aku ke belakang untuk menelpon, ke nomor Samsudin.
“Assalaamu ‘alaikum kami sudah samapai di pondok kang Salim Alhamdulillah aman dan lancer.” Sapa Samsudin di telpon.
“Alhamdulillah, boleh aku langsung bicara dengan kang Salim, ada hal penting yang harus aku sampaikan.” Kataku.
“Iya boleh, mang Yasin bade panggih mamang aya nu penting.” Ucap Samsudin ke kang Salim lamat lamat kedengaran di telpon.
Agak lama aku nunggu suara kang Salim tapi belum bicara juga. Justru terdengar kembali suara Samsudin.
“Punten, kata kang Salim Cuma pesen hati hati saja. Jangan terbawa perasaan dendam katanya. Kang Salim udah tahu maksut kamu, dan kang Salim juga masih nunggu isyaroh.
Aku jadi agak bingung mendengar jawaban Samsudin, apa maksut ucapan kang Salim aku harus hati hati, dan kang Salim masih nunggu Isyaroh untuk bertindak.
...*****...
Author POV
Di tempat kang Salim, inilah yang terjadi.
“Aku gak mungkin mendahului ataupun menentang kehendak Allah. Semua yang terjadi adalah atas kehendak Allah. Termasuk kedatangan Arum dan Sidiq ketempat ini juga atas kehendak Allah. Juga apa yang akan terjadi nanti di tempat Yasin adalah kehendak Allah.” Ucap kang Salim.
Semua yang mendengarkan hanya terdiam, antara faham dan tidak apa yang dimaksut dengan ucapan kang Salim. Terlebih bagi Arum yang baru sekali ketemu beliau, namun Arum pun tidak berani bertanya lebih lanjut tentang apa maksut ucapan kang Salim.
“Aa’ mah bikin bingung Arum kalo gitu mah !” ucap teteh Atikah.
“Itulah yang harus dipelajari Arum juga, melatih kemampuan dia untuk memahami makna tersirat sebuah pesan. Karena tidak smua pesan bisa disampaikan dengan bahasa vulgar.” Jawab kang Salim.
Arum yang sama sekali tidak faham dengan apa yang diperbincangkan kang Salim dan teteh Atikah hanya diam saja. Sambil memangku Sidiq yang masih terlelap tidur karena kecapean di perjalanan.
“Udah kalian istirahat dulu saja semua, nanti setelah istirahat mungkin kalian bisa berpikir dengan tenang.” Ucap kang Salim.
Rombongan Arum dan lainya termasuk rekan pak Yadi yang mengendarai mobil itu pun berangkat istirahat di kamar yang sudah di persiapkan kang Salim. Sementara kang Salim dan teteh Atikah masih bersantai di teras yang biasa buat nongkrong ngopi dan ngobrol.
“Sebenarnya teh, apa yang terjadi a’, kayaknya aa’ berat menyampaikan ke mereka tadi.” Tanya teteh Atikah.
“Namanya juga hidup pasti penuh ujian, ingat pesan Abah guru dulu kan. Jika orang mau mendekat kepada Allah di uji tiga hal :
Diuji niatnya.
Nah si Arum dan Rofiq baru di uji masalah itu.
2. Diuji Sabarnya.
Itu yang baru dialami Fatimah.
Diuji ikhlasnya
Itu yang baru dialami Yasin sekarang, Fitnah akan muncul dari orang orang terdekatnya bahkan. Dan hal itu tidak bisa dihindari, karena merupakan bagian dari proses ujian yang harus dilalui. Jadi apa yang dialami Yasin selama ini termasuk ketika dia disini dulu itu belumlah seberapa.” Keterangan kang Salim kepada teh Atikah.
“Kasihan tu anak a’, ada aja masalah yang dia hadapi dari dulu sampai sekarang.” Ucap teteh Atikah.
“Ya memang begitulah kehidupan, kalo mau membersihkan hati ya memang berat sekali ujianya. Apa lagi Yasin punya masa lalu yang begitu. Ibarat mencuci panci, kalo sudah banyak kerak gak cukup dengan sabun saja. Tapi harus digosok dengan batu atau abu yang kasar agar keraknya hilang. Berbeda dengan yang kotor biasa, cukup dengan sedikit sabun kotoranya akan hilang. Begitulah gambaran untuk pembersihan diri seseorang.” Kata kang Salim.
Begitulah komentar kang Salim terhadap kejadian yang dihadapi Yasin dan keluarga besarnya. Dan apa yang disampaikan kang Salim itu juga pernah didengar langsung oleh Yasin dari Abah gurunya. Tentang ujian ketika mau mendekat Allah yang tiga hal itu juga dalam proses membersihkan diri itu bisa jadi sangat berat, karena tumpukan dosa atau kesalahan yang telah dilakukan. Sehingga hal itulah yang membuat Yasin menjadi jera dan benar benar berniat meninggalkan dosa dosa yang pernah dilakukan dulu. Karena dari awalpun Yasin sudah mengalami beratnya diuji dari soal niat pun ujianya sudahlah sangat berat.
Hanya saja saat ini mungkin Yasin sedang lupa dengan apa pelajaran yang dia dapat dulu. Sehingga spontanitas emosionalnya masih sering saja keluar. Hal itu juga mungkin yang dirasakan kang Salim melihat Yasin, namun masih mencari cara dan timingyang tepat untuk menyampaikan.
...******...
Yasin POV
Aku kemudian kembali keruang depan menemui pak Yadi, setelah pembicaraan dengan Samsudin terputus.
__ADS_1
“Bagaimana pak, apakah rombongan sudah sampai lokasi semua dengan aman ?” Tanya pak yadi membuyarkan lamunanku.
“ Owh iya pak sudah, sudah sampai semuanya dengan selamat,” jawabku agak terbata bata.
“Ada apa pak kok kayaknya agak panik ?” kata pak Yadi.
“Gak kok pak, hanya tadi mau konsultasi ke kang Salim terputus. Mau menanyakan perihal pak Sastro.” Jawabku.
“Jadi bagaimana dengan rencana nanti pak, apakah pak Yasin tetap ikut dengan kami atau bagaimana.” Tanya pak Yadi lagi.
“Owh ikut dong pak biar bgaimanapun mereka adalah para pelaku supra natural jadi perlu waspada soal itu.” Jawabku.
“Baiklah pak, mungkin sebentar lagi akan ada yang menjemput kita.” Ucap pak Yadi.
“Oiya pak, nanti cukup Ardian yang ikut, biar yang dua orang disini saja.” Kataku.
“Boleh pak, dan nanti pak Yasin dan Ardian naik mobil pribadi yang lain pakai mobil dinas. Agar pak yasin dan Ardian tidak diperhatikan lawan, dikira orang sipil.” Kata pak Yadi.
“Saya ikut saja pak, masalah itu pak Yadi saja yang atur.” Jawabku.
Tak lama berselang berselang datanglah tiga orang rekan pak Yadi yang siap berangkat kemarkas Maheso Suro untuk menyelamatkan pak Sastro dan meringkus para penjahat.
...*****...
Author POV
Di tempat lain pada saat Damar menuju ke rumah Yasin ada seorang yang mengawasi kedatanganya kerumah Yasin. Orang itu tidak lain adalah Saputro, mantan iparnya Yasin. Ternyata kedatangan Damar telah diketahui Saputro ayahnya Rendy dan ayahnya Rendy melaporkan itu pada panggiring. Sehingga ayah Rendy itu kemudian mengawasi Damar dari jarak yang cukup jauh, tanpa diketahui Damar ataupun yang lainya.
“Ngapain si Damar kerumah itu, jangan jangan dia mau berkhianat. Atau sekedar menjalankan aksinya menculik gadis yang ada disitu ?” pikir ayah Rendy. Dia tidak tahu bahwa sebenarnya Damar hanyalah mengincar Arum ponakan pak Sastro yg sudah lama digandrungi Damar.
“Ah tapi kayaknya gak mungkin juga dia berani datang sendiri kerumah itu, kalo tujuanya seperti itu.” Bisik Saputro dalam hati.
Lama sekali dia di rumah itu, apakah Damar melakukan negosiasi tertentu disana. Atau bahkan membocorkan rahasia kepada Yasin, tapi apa tujuanya ? kembali ayahnya Rendy menerka nerka tujuan Damar kerumah yasin.
Cukup lama ayahnya Rendy mengawasi rumah yasin dan Damar, mengamati perkembangan yang terjadi. Sampai dengan kehadiran dua unit mobil, yang satu mobil dinas polisi yang satu mobil pribadi. Kemudian ayahnya Rendypun melaporkan hal itu. Sampai dengan saat orang orang itu masuk ke dalam mobil, dengan membawa Damar dalam keadaan di borgol. Semua dilaporkan kepada Ajar panggiring.
“lah kok Damar ditangkap, dasar gob**k malah masuk sarang musuh begitu.” Kata ayahnya Rendy dalam hati.
...*****...
Markas Maheso Suro
“Tertipu lagi bagaimana ?” Tanya Maheso Suro.
“Semalam kita tertipu, ternyata Sidiq tidak pulang kerumah Sastro, sekarang rupanya Damar membelot lebih memihak Sastro dan berkhianat ke kita serta melaporkan keberadaan markas kita. Kemungkinan tempat ini akan diserbu oleh polisi.” Kata Ajar panggiring.
Maheso Suro Nampak menahan amarah yang amat sangat mendengar Damar malah berkhianat membela Sastro.
“Kurang ajar si Damar, awas saja nanti.” Ucap Maheso Suro.
“Baiknya kita harus secepatnya pergi dari sini ki ageng, dari pada kita harus berurusan dengan polisi bisa merepotkan kita. Kita bawa pergi Sastro dari sini.” Kata Ajar Panggiring.
“Kita memang harus segera meninggalkan tempat ini. Tak tak perlu membawa Sastro, biarin dia mati membusuk disini pun gak ada manfaatnya. Toh dia juga gak tahu dimana Sidiq di sembunyikan. Mau hidup terserah mau mati membusuk disini juga terserah.” Kata Maheso Suro tanpa ekspresi apapun.
Begitulah sikap seseorang yang sudah tertutup mata hatinya tidak lagi mengenal prikemanusian. Bagi orang seperti itu, tujuanya sama dalam satu misi adalah kawan, tujuan beda adalah lawan. Tujuan sama dan saling bersaing jika mungkin harus dihabiskan.
Maka bergegaslah rombongan Maheso Suro pergi meninggalkan tempat itu.merka tidak mau lebih dahulu kedatangan polisi sebelum mereka pergi. Dengan meninggalkan pak Sastro yang berjuang antara hidup dan mati.
Sekitar setengah jam dri kepergian Maheso Suro dan kawan kawanya sampailah rombongan pak Yadi dan kawan kawan.
...*****...
Ku lihat pak yadi dan lainya langsung mengepung rumah yang ditunjukan oleh Damar. Dengan sigap pak Yadi dan kawan kawanya menerobos masuk rumah itu secara bergantian dan saling melindungi. Terlihat satu persatu masuk, setelah itu aku tidak dapat memantau lagi karena hanya mengamati dari dalam mobil. Dan semua personil sudah masuk ke dalam rumah.
“Damar, kondisi pak Sastro terakhir bagaimana ?” tanyaku pada Damar.
Rupanya Damar masih menaruh dendam kepadaku dia tidak menjawab pertanyaanku.
“Kamu mau aku pukul lagi, atau kamu pingin ngajak berantem secara jujur denganku. Karena kamu tadi aku pukul wajahmu ?” tanyaku pada Damar yang diam saja.
“Hehm pukulanmua tidak terlalu sakit, aku dendam sama kamu bukan karena pukulanmu. Tapi karena kamu telah merusak masa depan orang yang aku cintai dari dulu, kamu bukan Yasin. Kamu adalah Ahmad Sidiq ayah kandung Sidiq Sekartadji yang tidak bertanggung jawab.” Ucapan Damar membuat mukaku merah menahan marah. Namun masih bisa menahan diri tidak memukulnya.
“Kamu siapa ngaku ngaku sebagai pacarnya Arum ?” tanyaku.
“Aku adalah tetangga Arum yang sudah naksir dia dari masih sekolah. Sampai kemudian dengar kabar dia hamil. Ternyata lelaki pengecut itu kamu, untung pas kejadian itu aku gak dirumah. Jika ada sudah aku habisi kamu saat itu juga.” Kata Damar.
Sebenarnya aku sangat marah waktu itu, namun apa yang diomongkan Damar itu ada benarnya juga. Memang akulah yang telah menodai dan menghamili Arum, meski suka sama suka namun tetap saja aku merasa bersalah waktu itu. Maka kubiarkan Damar mengoceh semau dia sendiri.
“Kamu adalah lelaki yang hanya sok baik, padahal juga sama bejatnya dengan aku. “ lanjut Damar.
Aku masih terus diam, aku biarkan Damar mengeluarkan segala kekesalan hatinya lantaran cintanya yang tidak kesampaian pada Arum dan tahu tahu dengar Arum hamil karena hubungan gelapnya denganku.
__ADS_1
“Kalo bukan karena pak Sastro aku gak sudi melihat wajahmu pun aku jijik, mending aku yang jelas jelas mengakui orang kotor tapi tidak sok suci seperti kamu. Sok ngajak berbuat baik, mengajak orang beribadah tapi hatimu jauh lebih busuk dari aku.” Lanjut Damar memaki maki aku. Dan teap aku diamkan, malah sengaja aku panasin saja sekalian batinku.
“Owh jadi kamu dendam padaku karena kalah bersaing mendapatkan Arum waktu itu. Cintamu ditolak mentah mentah sama Arum dan kamu cemburu buta setelah Arum menyerahkan cintanya padaku bahakan tidak sekedar cintanya saja tapi juga tubuhnya. Sementara kamu tidak mendapatka apa apa dari Arum,ha ha ha… kasihan nasib kamu. Sampai mengharapkanjandanyapun kamu tidak akan mendapatkanya, karena sebentar lagi Arum akan dinikahi teman aku. Jadi ya terima saja nasib kamu menjadi laki laki yang tak laku laku sampai berjalan berliku liku juga teap saja tak laku.” Kataku memanas manasi Damar.
Dan pancinganku berhasil membuatnya sangat murka dan hamper mengamuk didalam mobil. Namun tiba tiba pak Yadi dan kawan kawanya datang, menghentikan amukan Damar yang hendak memukul aku dengan tangan terborgolnya.
“Damar…! Jangan bikin ulah atau ku jebloskan ke penjara sekarang juga !” bentak pak Yadi.
“Biarin saja pak,Cuma lelaki cemen yang tak laku ditolak wanita.” Kataku.
“Di dalam hanya ada pak Satro seorang diri, dimungkinkan yang lain sudah kabuur pak. Mungkin mereka sudah tahu kita bakalan kesini. Jadi hari ini kita hanya bisa menyelamatkan pak Sastro.” Kata pak Yadi.
“Ya pak, yang penting pak Sastro bisa diselamatkan. Langsung bawa kerumah sakit saja. Sekalian itu Damar masukin penjara sekalian saja. Sudah gak ada gunanya ngajak ngajak dia, di komunitas penjahat saja dibuang pak, apa lagi dikonunias kita.” Jawabku memanaskan kuping Damar. Namun didepan pak Yadi Damar tak berani berkata apa apa.
Tak lama kemudian pak Sastro di bopong keluar dan dinaikkan mobil, sementara Damar disuruh pindah mobil dinas yang memang biasa dipakai memgangkut tahanan. Dan pak Sastro dimasukkan ke mobil yang aku tumpangi.
Kemudian kami segera bergegas menuju rumah sakit untuk mengobati pak Sastro yang pada waktu itu kondisinya pingsan.
Sampai dirumah sakit langsung mendapatkan perawatan intensif dan segera diketahui ternyata pak Sastro terluka dalam disamping memang memiliki penyakit dalam yang sudah cukup lama, ditambah dengan pukulan yang cukup keras didadanya itu membuat penyakit paru paru pak Sastro semakin parah karena luka dalam akibat pukulan itu mengganggu saluran pernafasan beliau karena makin tersumbat darah kental akibat luka dalam yang dialami.
Tapi apapun penyebabnya, luka itu cukup serius, sehingga harus diambil tindakan operasi untuk menghilangkan gumpalan darah yang menyumbat saluran pernafasan Pak Sastro.
“Udah lakukan saja yang terbaik dok, sebisa mungkin nyawa pasien harus ditolong.” Kataku.
“Baik pak, tapi perlu saya sampaikan bahwa ini peluang selamat atau tidaknya hanya 70% & 30%.” Kata dokter itu.
“Sekecil apapun kemungkinanya jika masih ada kemungkinan lakukan saja pak, selebihnya itu kekuasaan Allah.” Jawabku.
Aku hanya berpikir, jika pak Sastro tidak selamat bagaimana nanti menyampaikan kepada Arum, bahwa lek nya yang selama ini sudah banyak membantu dan merawatnya saat orang tuanya sendiri mengusirnya karena perbuatanku. Kini leknya itu juga terkena maslah berat karena ucapanku juga.
Meskipun itu demi menyelamatkan Sidiq, tapi rasanya juga tidak seharusnya sampai menimbulkan korban orang lain.
Aku termenung, selain berpikir bagaimana nasip pak Sastro nanti, juga bagaimana dengan Arum jika tahu hal ini. Belum lagi memikirkan Sidiq ditempat kang Salim bagaimana. Istriku yang tengah hamil juga.
Tiba tiba dokter yang tadi menyuruhku menandatangani surat persetujuan, pengambilan tindakan operasi. Tanpa berpikir panjang akau langsung menandatangani. Karena aku yang menjadi penanggung jawab pasien.
Proses berjalan cukup lancer meski tidak cepat juga sebenarnya. Akhirnya aku harus membayar deposit dulu sebelum tindakan operasi dijalankan. Aku terpaksa harus minta tolong Fatimah untuk mengambilakan sejumlah uang, biar Fanani yang mengantar kerumah sakit.
Setelah proses Administrasi selesai,akhirnya pak Sastro segera dibawa keruang operas. Dan kami semua menunggu dengan harap harap cemas.
Kemudian kau ingat apa yang dikatakan kang Salim lewat Samsudin tadi pagi, bahwa aku harus hati hati jangan terpancing emosi.
Makin penasaran akan maksut dari kalimat itu aku segera kontak Samsudin.
“Din tolong tanyain ke kang Salim aku harus bagaimana, ini lek nya Arum luka parah. Tapi jangan sampai Arum tahu dulu.” Chatku pada Samsudin.
“Sebentar Yasin, ini Arum baru dihibur teh Atikah, tampaknya Arum sudah tahu keadaan pak leknya dan lagi menangis.” Balasan chat dari Samsudin.
Tahu dari mana Arum, kataku dalam hati. Aah sudahlah dari siapapun gak penting yang jelas saat ini Arum sudah terlanjur tahu.
Tiba tiba pak yadi mendekati aku dan berbisik.
“Pak sebaiknya bapak menyingkir ini orang tua dan keluarga Arum mau menjenguk pak Sastro. Takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.” Aku terkesiap mendengar itu. Dari mana juga mereka tahu jika pak Sastro kena musibah apakah mereka juga tahu jika Arum sekarang aku ungsikan. Menghindari hal yang tiak diinginkan aku segera menyingkir dari tempt itu. Mencari jalan lain agar tidak berpapasan dengan mereka. Agak bingung juga sebab jalan keluar masuk agaknya hanya satu arah saja. Bagaimana jika nanti berpapasan mereka ????
Gak ada jalan lain tetap harus berpapasan, gak papalah aku akan menunduk saja biar gak nampak jelas wajahku.
Hatiku berdebar saat kulihat dari kejauhan bapak dan kakaknya Arum yang berjalan berlawanan arah denganku.
...bersambung...
Terimakasih atas dukungan dari Readers semuanya.
Komentar readers semangat Author
Author akan berusaha terus memperbaiki, bahasa retorika dan lainya.
Semoga dapat menghibur Readers semua.
...Jangan lupa dukungan berupa :...
...Like...
...Komen...
...&...
...Vote nya...
...Terimakasih...
...🙏🙏🙏...
__ADS_1