
🌷🌷🌷
Reader tercinta, mohon maaf jika masih banyak typo karena Auto teks ataupun murni salah ketik.
Semoga tetap bisa menghibur.
🌷🌷🌷
Selamat membaca
...........
Episode Lalu
“Aku bukan menangis meratapi kepergian mereka, hanya menyesali masa laluku yang membuat mereka semua malu…!?” jawabku.
“Sudahlah mas, itukan asa lalu memang tugas kamu berat karena punya masa lalu yang suram. Namun Farhan Yakin mas bisa kok. Buktinya mas sudah berubah sekarang kan.” Kata kata Farhan menghiburku.
Namun belum sepenuhnya membuat aku lupa akan kesedihanku. Dan bayangan wajah anakku Jafar dan Sidiq justru terlintas di hadapanku. Bagaimana aku mendidik mereka nanti. Jangan sampai mereka tahu masa lalu ayah mereka, agar tidak beranggapan kesalahan itu biasa. Meski pintu taubat masih terbuka, namun siapa yang bisa menjamin kita sempat untuk bertaubat.
Akupun makin terisak membayangkan itu semua, sehingga Farhan dan Sena terpaksa menunggu aku tenang sebelum mulai mendoakan kedua orang tuaku dan kakek nenekku….???
*****
Episode ini
Beberapa saat kemudian akhirnya aku bisa menguasai perasaanku, dan akhirnya kami bertiga memulai membaca doa untuk mengirim orang yang sudah meninggal. Dari umum ( Mu’minin mu’minat dan muslimin muslimat ) sampai ke khususon ( menyebut nama leluhur / kedua orang tua dan kakek nenekku.) karena kau khawatir tak mampu menguasai perasaanku saat berdoa aku minta Farhan untuk memimpin doa. Meskipun seharusnya aku yang keturunan langsungnya. Namun demi kelancaran aku memaksa Farhan menggantikan aku memimpin doa.”nanti gentian jika dimakam orang tuamu dan kakekmu gentian aku yang pimpin doanya.” Kataku pada Farhan.
Farhan memimpin doa kami bertiga sesuai dengan ijazah yang dia terima dari Gurunya, meski ada sedikit perbedaan dalam formula doanya dengan yang biasa aku baca dan dengan sena juga. Namun perbedaan kecil itu bagi kami tidaklah menjadi masalah karena semua ada dasar dan sumbernya.
Kami sadar jika ilmu itu sangat luas dan hanya sedikit sekali yang kami tahu, sehingga ketika ada perbedaan sedikit itu justru menunjukkan ‘keluasan ilmu’ itu sendiri bukan fanatic dengan golongan atau kelompok. Dan menyalahkan orang lain yang berbeda cara dengan kita.
Karena sewaktu di pesantren dulu dijelaskan bahwa cara membaca quran saja ada banyak versi yang semuanya benar. Makanya ada qiroah sab’ah ( Tujuh ) yaitu 7 cara membaca Quran yang berbeda dan semua dibenarkan dan boleh dibaca saat Sholat. Ada juga yang boleh dibaca hanya diluar solat.
Saat melantunkan kalimah thoyibah tahlil suasana mendadak berubah menjadi sagat dingin dan mencekam. Sampai kami bertiga pun merasakan bulu kuduk kami berdiri semua. Namun sampai selesai membaca doa itupun kami tidak mengalami apa apa.
Kami istirahat sejenak diluar makam sambil berbincang sejenak.
“Farhan merasakan ada yang aneh dengan makam Eyang dan pakde juga bude.” Kata Farhan membuka obrolan.
“Aku juga merasakan keanehan, biasanya kalo ziaroh dan memberikan salam khusus aku merasakan seperti adanya respon dari yang aku beri salam tapi ini tadi tidak.” Sahutku.
“Wah kirain Hanya Sena yang merasakan begitu.” Ucap Sena.
“Jadi kita bertiga merasakan hal yang sama ?” Tanya Farhan padaku dan Sena.
“Kayaknya memang begitu.” Jawabku.
“Apa kira kira yang menyebabkan seperti itu ?” Tanya Sena.
__ADS_1
“Kalo aku pernah mendengar kisah dari seorang yang Waskito ( \= seorang Waliullah ) pernah melakukan ziaroh ke beberapa tempat namun saat masuk makam pertama keluar lagi tidak jadi kemudian ke makam berikutnya juga begitu. Sampai terakhir kali beliau baru berhenti dan memanjatkan doa.” Jawabku tertahan, menghisap rokok sebentar.
“Teruss ?” Tanya Sena gak sabar.
“Saat santrinya bertanya, jawabnya makam yang pertama dan selanjutnya itu baru kosong yang bersangkutan sedang tidak ada disitu. Artinya bisa saja makam itu ditinggalkan oleh pemiliknya yang tidak menjalani siksa kubur. Dan di alam barzah (Alam Kubur) tidak semua mengalami siksa kubur. Bagi orang orang soleh memang bisa mengetahui itu. sedangkan kita mungkin masih terlalu banyak dosa dan keinginan duniawi jadi gak mampu mengetahui itu.” jawabku.
“Berarti memang ada kemungkinan yang kita ziarohi itu sedaang bepergian ?” Tanya Farhan.
“Menurut yang aku ketahui seperti itu, tapi gak usah kecil hati. Paket doa khususon kita tetap akan sampai. Sedangkan yang umum ya dibagi untuk muslimin muslimat mu’minin mu’minat di makam ini.” Sambungku.
“Wah Sena baru denger kali ini mas soal ini. tapi memang sepertinya dalam kitab Arruh nya imam Syafi’I ada membahas masalah doa bagi mayit juga.” Ucap Sena.
Saat kami tengah berbincang dan diskusi tiba tiba ada angin daatang semilir kearah kami dan sekejab kemudian seperti antara sadar dan tidak kami bertiga melihat ada empat Sosok mendatangi kami. Dan ternyata empat sosok itu adalah kedua orang tuaku dan kakek nenekku. Mbah Sidiq Ali dan mbah salamah yang pernah menjumpai kami.
“Assalaamu’alaikum…!” sapa mereka mengagetkan kami.
“Wa’alaikummussalaam… mbah kakung mbah putri kalian bapak ibu ? menopo estu puniko panjenengan ?” sapaku kepada mereka.
( Mbah kakung mbah putrid dan bapak ibu ? apa bener ini kalian )
“Iyo ngger kabeh wae, pancen bener opo sik mbok omong kui mau. Ngger putuku kabeh, sliramu kabeh di tunggu mbahmu Munatsir, jare arep Ziaroh rono durung teko tekan saiki. Ndang selakno rono mumpung ijik ono wektu cukup. Iki mau Nembe wae bapak ibumu lan mbahmu yo sowan rono. Sliramu tetelune ndang budalo sesuk menyang panggonane mbahmu Munatsir lan mbah mu Jafar ngger, panggonane mik jejer. Wis simbah kalawan bapak ibumu arep bali sumare. Ojo lali sesuk sliramu budalo rono mundak kesuwen.” Ucap mbah Sidiq Ali tidak memberikan kami bercakap cakap dengan kedua orang tuaku dan mbah Putri Salamah.
(Iya nak semua saja, memang benar apa yang kamu bilang itu. nak cucuku semua, kalian semua di tunggu eyang kalian Munatsir, katanya mau kesana belum datang sampai sekarang. Cepat luangkan waktu kesana mumpung masih ada waktu longgar. Ini tadi kami juga habis dari sana. Kalian ketiganya berangkatlah ke (Makam) mbah Munasir dan mbah Jafar Sanjaya nak, tempatnya berdampingan. Sudah mau istirahat jangan lupa besuk berangkat jangan kelamaan.)
Seketika itu juga ujut beliau beliau lenyap, aku merasa sedih kenapa bapak ibuku gak mau menegurku, apakah beliau masih marah kepadaku. Karena saat beliau meninggal aku gak sempat menghadiri pemakaman mereka dua duanya. Saat bapakku meninggal aku masih dalam penjara dan saat ibuku meninggal aku juga baru minggat dari rumah. Betapa menyesalnya aku sekarang ini, sampai bertemu ruhnya pun gak mau menegur aku.
Aku hampir saja larut dalam kesedihan lagi kalo tidak ditepuk Sena.
“Yaudah kita pulang saja, kita lanjutkan dirumah nanti obrolanya.” Jawabku.
Dan kami pun segera berangkat menuju kerumahku, masih untung kali gak jalan kaki seperti ketika diperintah Yuyut dulu. Harus jalan kaki. Sehingga sesaat kemudian kami sudah sampai dirumah.
Namun belum sampai kami memasuki rumah tiba tiba terlihat kilatan bola api yang nyaris menyambar kami bertiga. Serta rumah kami pun seperti dihujani batu batu kerikil yang banyak.
“Farhan ini tugas kamu, biar aku sama sena keliling rumah.” Kataku pada Farhan.
Kemudian Farhan masuk kerumah langsung ke ruang mujahadah setelah berwudhu. Sementara aku dan Sena lebih dulu mengitari rumah takut terjadi sesuatu atau ada ancaman secara fisik juga selain serangan supra natural.
“Sena gunakan Indera keenam kamu !” kataku pada Sena.
Sesaat kemudian aku dan Sena membuka mata Batin, dan kami melihat puluhan makhluk Astral melempari rumah kami dan sambil berteriak “lepaskan Ajar…Lepaskan Ajar…Lepaskan Ajar,,,,” teriak makhluk itu bersahutan.
“Mas biar cepat selesai mas gunakan penabuh gong itu saja kasihan Jafar dan Sidiq jika kelamaan mereka disini.” Ucap Sena.
Aku baru tersadar dan segera lari masuk kerumah, dan member tahu Fatimah dan lainya agar tetap tenang. Sementara Khotimah aku maintain tolong bersiaga penuh jika ada sesuatu “gunakan ilmu dari Yuyut” kataku.
Aku segera keluar menyusul Sena yang sedang mencoba menghalau makhluk astral yang Hendak menerobos pagar gaib rumahku. Kemudian aku membantu Sena dulu untuk mengusir sesosok makhluk astral yang akan menerobos masuk itu.
Beberapa saat kemudian terlihat lapisan tipis cahaya putih mengelilingi rumah kami,.
__ADS_1
“Hmm Farhan sudah melantunkan doa doanya.” Pikirku.
Kemudian aku bersama Sena menghalau makhluk makhluk astral itu kemudian untuk mempercepat aku menggunakan penabuh gong itu untuk mengusir makhluk makhluk itu. namun usahaku kali ini agak terganggu karena muncul bola bola api yang menyerangku seperti teluh brojo atau santet yang dikirimkan seseorang. Sehingga aku harus bergerak menghindar karena hawa panas dari bola api itu sangat mengganggu aku.
“Sena kita bagi tugas, kamu yang memakai penabuh gong atau mengusir teluh braja ini ?” kataku.
“Mas Yasin saja yang pakai penabuh gong itu, sena akan usir bola bola Api itu.” kata Sena.
“Tapi bola api itu mengejar aku terus bukan kamu ?” kataku.
Akhirnya aku ingat satu ayat, sambil menghindari bola bola api itu aku melafadzkan ayat khusus itu.
“….wa ma romaita idz romaita wall kinnallaha roma…” aku baca terus dengan niatan memukul mundur orang yang mengirim teluh tersebut.
Ketika salah satu bola api hampir mengenai aku,secara reflek aku memukulnya dengan penabuh Gong itu. dan dampaknya justru luar biasa. Semua bola api yang menyerangku tadi jatuh bersamaan dengan bergemuruh menimbulkan suara mengerikan.
Serta makhluk Astral yang ada pun menjerit dan kabur menghilang, namun aku sendiri juga terjatuh akibat benturan penabuh gong dan bola api tadi menguras cukup besar energiku.
“Mass…!” teriak Sena menghampiriku.
“Gak papa aku Cuma kecapaian mengeluarkan banyak energi tadi.” Ucapku.
Namun begitu ternyata aku susah bangun dan akhirnya harus di papah sena masuk ke rumah. Tentu saja seisi rumah kaget melihat kondisiku yang sangat kacau, karena terkena abu ledakan bola bola apai yang menyerangku tadi.
“Mas Yasin Kenapa…?” Tanya Khotimah.
...bersambung...
Terimakasih atas dukungan dari Readers semuanya.
Komentar readers semangat Author
Author akan berusaha terus memperbaiki, bahasa retorika dan lainya.
Semoga dapat menghibur Readers semua.
...Jangan lupa dukungan berupa :...
...Like...
...Komen...
...&...
...Vote nya...
...Terimakasih...
...🙏🙏🙏...
__ADS_1