
🌷🌷🌷
Readers Tercinta, mohon maaf jika masih banyak tipo karena Auto teks ataupun murni salah ketik.
Semoga tetap bisa menghibur.
🌷🌷🌷
Selamat membaca
...........
Yang bisa emosi itu bukan Cuma Pak Margono pak, saya jauh lebih bisa emosi. Kalo kemarin pak Margono bilang gak takut sama siapapun. Saya lebih tidak takut lagi pak, semua pasti tahu kan siapa saya dimasa lalu ? Klo sekarang saya diam bukan berarti takut. Saya baru berusaha menjadi orang yang sabar, tapi kalo ada yang mengajak dan memaksa saya menggunakan cara cara lama saya dulu, terpaksa saya ladenin. Silahkan pak Margono yang kemarin koar koar gak ada yang ditakutin sekarang maunya bagaimana ?” kataku yang sudah tidak mampu lagi menahan emosiku mendengar jawaban Margono yang seenaknya sendiri bicara.
Tak satupun orang yang bersuara, terlebih yang namanya Margono.
“Mohon maaf jika saya harus bersikap keras seperti ini. saya gak pernah mengusik kalian, bahkan saat dulu pun saya tidak pernah mengganggu satu orangpun dari kalian. Karena saya dari dulu pantang mengganggu orang yang saya kenal. Tapi kenapa kalian mengganggu keluargaku, bahkan beramai ramai mengeroyok anak anak. Bukanya yang tua melerai malah mensponsori aksi brutal kalian. Udah gitu pakai kalimat menantang segala. Padahal ponakan saya sudah bilang jika seharian dirumah saya dan saya siap jadi saksinya. Tapi apa yang kamu lakukan, malah menuduh ponakanku jual namaku dan kamu bilang gak peduli gak takut. Kemudian tanpa diselidiki langsung main pukul.sekarang siapa yang melihat langsung ponakan saya yang merusak kebun kamu, tunjukkan orangnya. Biar dia bicara, aku tidak akan berbuat apa apa hanya pingin tahu keterangan yang dia buat seperti apa ?” kataku lebih kutujukan pada Margono.
Kemudian dihadirkan salah seorang yang kemarin katanya melihat pelaku perusakan adalah Rendy. Dengan wajah yang agak pucat, dan sedikit gemetar seorang pemuda yang ternyata masih sangat belia bahkan masih bocah boleh dibilang. Mereka ajukan sebagai saksi.
Aku kecewa sekali dengan itu semua, mana mungkin aku akan menangani anak yang masih usia SMP seperti itu. semarah marahnya aku juga masih bisa berpikir waras dan gak akan tega menangani anak itu. atau mungkin itu siasat mereka aku juga tidak tahu.
“Kamu melihat sendiri kalo yang merusak kebun pak Margono adalah Rendy poakan aku ?” tanyaku pada bocah itu.
“Saya tidak mengatakan begitu pak, saya hanya mengatakan kalo orangnya seperti Rendy. Bukan mengatakan Rendy yang merusak.” Jawab anak itu.
“Kamu gak usah takut padaku, jika yang kamu lihat memang Rendy katakan saja bahwa yang merusak adalah Rendy.” Kataku pada anak itu datar. Agar dia tidak ketakutan untuk bicara jujur.
“Saya hanya sekilas melihatnya pak, karena saya sedang mengendarai motor sama temen saya dan dalam kecepatan tinggi.” Jawab anak itu.
“Dari jarak berapa meter kira kira kamu melihat ?” tanyaku.
“Sekitar 100 meter pak.” Jawab anak itu.
“Kemudian kamu naik motor dengan kecepatan berapa km/jam ?” tanyaku lanjut.
“Kira kira sekitar 70 s/d 90 km/jam pak.” Jawab anak itu.
“Nah bapak bapak semua sudah mendengar keterangan anak ini kan. Pertama dia hanya mengatakan bahwa pelaku perusakan mrip Rendy tidak mengatakan pelakunya adalah Rendy. Kedua anak ini melihat dari jarak kurang lebih 100 meter dalam posisi mengendarai motor dengan kecepatan 70 s/d 80 km/jam. Dari situ bisa disimpulkan bahwa anak ini tidak dapat memastikan wajah orang yang merusak karena dari jarak tersebut dan kecepatan dia berkendara tidak mungkin mata manusia biasa bisa mengenali secara detail wqjah sesorang. Intinya adalah apa yang dilakukan pak Margono itu tindakan ngawur hanya berdasarkan emosi tanpa berpikir panjang. Lebih disayangkan lagi itu didukung oleh beberapa orang tua lainya sehingga terjadi kasus penganiayaan kepada ponakan saya.” Kataku panjang lebar menjelaskan kesalahan mereka yang terlibat.
“Tidak semua terlibat kasus penganiayaan pak, saya tidak ikut mengeroyok ponakan bapak. Saya hanya ikut rombongan itu yang katanya mau mencari orang yang merusak kebun pak margono.” Katanya protes.
“Bapak tidak ikut mengeroyok, tapi membiarkan teman bapak dan anaknya mengeroyok dan memukuli panakan saya. Itu sama saja karena bapak juga ikut dalam rombongan itu. kalo bapak gak ikut dalam rombongan memang bapak tidak bersalah. Tapi bapak dalam rombongan dan membiarkan penganiayaan itu terjadi.” Kataku.
Orang itu kemudian diam tak berani bersuara, aku kembali menanyai anak itu kembali.
“Setelah kamu melihat ada orang yang merusak kebun pak Margono kemudian apa yang kamu lakukan ?” tanyaku lanjut.
“Saya lapor ke pak margono pak ?” jawab anak itu.
“Bagaimana kamu melaporkan itu, dan jam berapa kamu melihat kebun pak Margono dirusak ?” tanyaku lanjut.
“Sekitar jam empat sore pak, saya bilang ke pak Margono kalo ada yand merusak tanaman di kebunya. Kemudian pak Margono Tanya siapa orangnya, dan saya jawab saya tidak tahu persis. Hanya saja postur tubuhnya mirip Rendy anaknya pak Saputro. Kemudian pak Margono bilang, ya pasti Rendy itu karena niru kelakuan bapaknya yang suka bikin ribut. Udah kita cari sekarang orangnya.” Keterangan anak itu cukup komplit.
“Kemudian kamu ikut cari Rendy ?” tanyaku.
“Pertama lihat kebun pak Margono dulu pak, melihat seberapa parah rusaknya. Ternyata hanya beberapa pohon yang ditebang dan diambil daun dan batangnya. Kemungkinan untuk member makan kambing dan buat kayu bakar.” Jawab anak itu.
“Terus setelah itu ?” tanyaku kemudian.
“Kami mencari Rendy kerumahnya tapi Rendynya gak ada, baru malam harinya kamu kesana lagi dan bertemu Rendy dan setelah itu saya tidak tahu lagi. Tahu tahu rendy sudah dipukuli.” Jawab anak itu.
Aku jadi berpikir, kenapa juga orang kampungku tidak ada yang mencoba melerai minimal menolong Rendy agar tidak dianiaya.
“Apakah waktu itu tidak ada orang yang mencoba melerai ?” tanyaku.
“Ada tapi setelah Rendy kena pukul pak, awalnya hanya pada melihat. Baru setelah itu ada warga kampong bapak yang melerai. Sebelumnya tidak ada yang melerai, hanya pada melihat saja.” Jawab anak itu.
Apakah karena mereka pada benci dengan bapaknya Rendy sehingga membiarkan Rendy dipukuli atau memang pada tidak berani menghaapi rombongan orang orang ini. aku berpikir keras memecahkan teka teki ini.
“Sekarang saya mohon ada yang mau menanggapi tentang ini. apakah tindakan pak Margono itu sudah benar menurut bapak bapak disini, atau bagaimana. Saya pingin tahu pendapat bapak bapak, supaya kita bisa ada titik temu.” Kataku yang sudah banyak bicara dari awal siding ini.
Kemudian ada beberapa orang yang mencoba angkat bicara menanggapi kejadian dan persaksian dari anak tersebut. Yang intinya mereka saat itu menganggap apa yang dilakukan Margono itu salah. Tak ada satupun yang mengatakan Margono sudah benar, bahkan semua mengakui bahwa tuduhan itu saja sudah salah dan mengakui jika pelakunya bukanlah Rendy.
“Yaudah kalo begitu biar adil proses hokum biar jalan, karena berkas sudah masuk kekantor polisi maka biar masalah ini diselesaikan dengan jalur hokum saja.” Kataku sambil melihat respon Margono yang sudah mulai pucat wajahnya.
“Kalo bisa tolong pak, diselesaikan secara kekeluargaan dulu tidak usah dibawa ke jalur hokum. Karena kasihan juga pak Margono dan anaknya jika harus berurusan dengan hokum.” Kata salah satu sesepuh disitu.
__ADS_1
“Sebenrnya saya juga gak suka kalo dikit dikit jalur hokum pak, kalo masih bisa diselesaikan dengan kekeluargaan. Tapi maaf saya lebih tidak suka lagi pada orang yang dikit dikit main kekerasan mengandalkan bisa marah dan main keroyok. Jadi menurut saya orang seperti itu pantasnya ya diselesaikan secara hokum. Mungkin kalo menuruti emosi saya lebih suka diselesaikan dengan hokum rimba. Kemarin ponakan sya dipukuli sekarang saya balas memukuli orang yang memukuli ponakan saya. Kalo kemarin tiga orang yang mukuli maka tiga tiganya itu sya pukuli. Kalo suruhg damai begitu saja kayaknya saya gak bisa terima. Kecuali mereka menebus dengan tinggal dipenjara.” Kataku yang sudah agak lepas control karena tuduhan yang begitu ngawur dari Margono.
 Aku sudah lupa dengan apa yang dipesankan istriku bahwa harus menghindari keributan daan sebagainya. Yang ada dalam pikiranku saat itu jika ada yang menentang dan mengarah pada ajakan ribut aku sudah siap. Demi menjaga kehormatan keluargaku yang sudah di injak injak harga diriku oleh Margono.
Sebenci bencinya aku dengan Saputro, tapi dengan Rendy aku gak bisa benci. Karena ibunya Rendy adalah kakak kandungku. Makanya ketika Rendy yang tidak bersalah dianiaya aku jelas sangat tidak terima. Masak cukup dengan kata maaf saja, bisa jadi mereka akan selalu begitu. Itulah yang membuatku saat itu sampai tidak pedulikan segalanya, sifat asliku memang keras meski sudah berusaha sabar sekalipun. Dalam kondisi tertentu spontanitas sifat kerasku selalu muncul. Dan aku sangat menyadari itu semua, namun aku jujur belum mampu mengendalikan emosiku pada saat saat seperti itu.
Suasana jadi Nampak tegang, tak satupun yang bersuara. Mau membela Margono juga tidak berani dan tidak akanmenemukan celah. Tapi mau menyalahkan Margono secara total itu sama saja menyalahkan mereka juga. Karena tindakan Margono itu juga secara tidak langsung sudah di ketahui sebelumnya dan setengahnya sudah direstui oleh mereka. Satu dengan lainya diantara mereka hanya saling pandang, sekan saling meminta pendapat satu dengan lainya dengan bahasa Isyarat.
Aku sendiri merasa sedikit tegang juga, karena hanya sendirian disitu. Sementara yang aku hadapi ada sekitar 9 orang dewasa, dan Fanani yang aku ajak juga jaraknya cukup jauh dengan balai dudusun tempat aku berembuk.
Suasana yang saling diam itu membuat semakin tegang, namun aku sudah bersiap dengan segala kemungkinan yang terjadi. Dan aku sengaja tidak membuka suara lagi, benar benar menunggu apa reaksi yang akan diberikan mereka.
Setelah beberapa saat dari mereka muali ada yang berbisik bisik, entah apa yang dibisikan. Aku hanya tetap diam menunggu, dengan segala kewaspadaan jika sampai ada kelebatan gerakan yang mengancamku. Aku sudah menyiapkan diri dengan segala kemungkinan yang terjadi.
Mataku tak mau lepas dengan segala gerak gerik mereka, satu persatu kuawasi jika bergerak. Gerakan kaki dan tangan mereka sampai dengan sorot mata mereka semua selalu dalam pengawsanku.
Tetua dusun itu ( dukuh ) kemudian mulai bicara, dengan agak wsedikit tegang juga.
“Jadi keinginan mas Yasin bagaimana sekarang ?” Tanya pak dukuh. Yang waktu itu pernah ngobrol denganku saat pemakaman pak Joni.
Aku sedikit menaruh hormat padanya, karena dia tidak sama dengan lainya. Masih ada sifat kemanusiaan dan sebenarnya juga tidak menyetujui tindakan dan sikap beberapa warganya. Namun selalu kalah dalam rapat, sehingga tidak dapat berbuat banyak.
“Maaf pak dukuh, saya tidak punya keinginan apapun. Biar masalah ini diproses secara hokum saja.” Kataku datar.
“Apakah tidak bisa diselesaikan disini secara damai saja ?” Tanya lanjut pak dukuh itu.
“Sudah berapa kali pak, warga bapak seperti ini. Dan selalu terulang, kalo sekarang damai begitu saja saya yakin itu sama saja mereka mendapat perlindungan hokum degan dalih damai. Sehingga suatu saat akan mengulangi lagi, karena tiap melakukan hal seperti itu selalu diselesaikan dengan melindungi mereka dengan dalih damai kekeluargaan. Kalo seperti itu mereka kan terus begitu pak.” Jawabku pada pak dukuh itu.
“Begini saja pak, saat ini siding saya bubarkan dulu mungkin lain waktu bisa kita lanjutkan lagi dengan suasana yang lebih baaik.” Kata pak Dukuh.
“Saya hanya ikut saja pak, yang jelas saat ini saya belum bisa menerima kata damai begitu saja.” Jawabku, masih dalam kondisi menahan amarahku.
“Kalo begitu sebaiknya kita bubar dulu saja, kita lanjutkan lain waktu.” Kata pak dukuh mengakhiri pembicaraan.
Akhirnya sidang malam itu pun bubar tanpa ada hasil yang pasti alias masih menggantung. Akupun segera pulang kerumah bersama Fanani, dan sesampai dirumah sudah ditunggui istriku yang menunjukan wajah tegangnya didampingi Isti dan Khotimah. Sementara Fanani langsung meninggalkan aku begitu melihat ada Khotimah juga disitu. Mungkin masih enggan untuk bertemu, dan sekilas kulihat Khotimah juga sempat kaget melihat aku dan Fanani.
“Aduh mas, lama amat sih gak terjadi apa apa kan ?” Tanya Fatimah istriku khawatir.
“Iya gak ada terjadi apa apa kok, santai saja kan Cuma musyawarah saja.” Kataku pada Fatimah.
“Iya tadi lupa gak sempat buka HP padahal istri Fanani juga mau kasih kabar mala mini katanya. Tapi aku belum buka HP dari sore tadi.” Jawabku. Aku gak sadar menyebut istri Fanani di depan Khotimah, sehingga kulihat wajahnya sedikit berubah.
Bahkan Fatimah dan Isti melihatku seakan menyalahkan aku yang salah ngomong.
“Owh kamu tadi way a Fat, maaf gak sempet buka soalnya lagi serius bicara disana. Semua terkendali kok, gak ada masalah kamu tenang aja lah.” Ucapku.
“Hampir saja tadi mas Rofiq Isti suruh nyusul kesana, karena Fatimah khawatir kamu dihubungi gak bales bales mas.” Ucap isti.
“Ya memang begitu Is suamiku, gak peduliin orang yang nunggu dan mikirin dirumah. Tanya saja sama Khotimah tu, waktu aku masih tinggal dirumah bapak ibu. Sementara mas yasin disini sendiri. Kalo gak duluan di hubungi gak pernah menghubungi duluan.” Protes Fatimah.
“Gak gitu juga kali, aku juga kadang duluan telpon. Inget gak waktu aku telpon yang angkat Khotimah karena kamu lagi periksa kandungan itu ?” kataku membela diri.
“Yaah sekali itu doang mas, selebihnya aku telpon berapa kali kamu baru angkat kalo udah beberapa kali aku telpon.” Ucap Fatimah.
“Iya mas, udah mas Yasin ngaku aja deh memang sering bikin orang rumah khawatir. Bahkan Khotimah juga sering ikut sedih kalo lihat mbak Faatim gelisah mikirin mas Yasin. Eeh yang dipikirin malah santai santai saja.” Sahut Khotimah ikut nimbrung. Aku hanya tersenyum, dalam hatiku aku senang karena Khotimah sudah bisa bercanda seperti sebelumnya. Artinya dia sudah bisa mulai melupakan Fanani.
“Iya yaudah aku ngaku salah, kalo kakak adik sudah menyerang aku begini aku ngalah saja deh. Apa lagi didukung Isti, mana mungkin aku akan menang melawan kalian.” Gurauku.
Kemudian Fatimah menanyakan jalanya pertemuan di kampong sebelah. Dan aku menjelaskan dengan hati hati yang mengatakan bahwa intinya pertemuan akan diadakan sekali lagi karena semalam belum tuntas. Tanpa mengatakan jalanya pertemuan yang diwarnai sedikit ketegangan.
Isti dan Khotimah lebih dulu meninggalkan ruang tamu, hanya aku dan Fatimah yang masih ngobrol disitu.
“Beneran mas gak ada masalah disana ?” Tanya Fatimah.
“Iya sayang, kamu lihat sendiri kan mas gak papa. Yang terjadi hanya pertengkaran mulut saja gak sampai ada kontak fisik. Kan Fanani juga disana, jadi pada tahudiawasin Polisi juga.” Kataku sedikit bohong.
“Terus soal Fanani gimana, istrinya sudah kasih kabar belum ?” Tanya Fatimah.
“Itu juga yang aku mau bicarakan padamu, tapi jangan disini lah dikamar saja takut ada yang dengar.” Bisikku pada Fatimah.
“Di kamar mau ngobrol apa mau yang lain nih ?” goda istriku.
“Ya dua duanya lah sayang, mang kenapa ?” tanyaku.
“Gak papa sih mas, hanya heran saja kok mas sekarang semangat banget ada apa ?” Tanya Fatimah istriku.
“Semangat apa ?” tanyaku bingung.
__ADS_1
“Semangat begitu, biasanya kalo Lebih sering Fatimah yang minta kok sekarang sebaliknya mas yang terus terusan minta ?” kata Fatimah berbisik.
“Udah bicara dikamar saja lah, Rofiq mana kok gak kelihatan dri tadi ?” tanyaku.
“Tadi habis mujahadah langsung tidur, mungkin cape siang tadi ikut grafting seharian dan bantuin muat tanaman yang akan dikirim juga.” Jawab Fatimah istriku.
“Owh yaudah kalo Cuma cape, memang kalo pas lagi banyak kerjaan kerasa capeknya. Aku juga kalo pas banyak kerjaan sering kecapean apa lagi dulu hanya berdua dengan Amir.” Jawabku.
Kemudian aku dan Fatimah masuk ke kamar untuk membahas permasalahan Khotimah dan Fanani. Terutama rencana mediasi Fanani dan istrinya.
“Fanani itu ternyata kasusnya cukup rumit, istrinya tidak sekedar keberatan tinggal dirumah Fanani karena keluarganya yang kurang welcome pada Winda istri Fanani. Tapi selain itu Winda juga pernah mergoki Fanani dengan wanita lain diwarung. Sehingga Winda memilih pergi meninggalkan Fanani. Udah gitu saat Winda mengutus saudaranya untuk mengajak Fanani berembuk/mediasi malah Fanani mencaci maki orang tersebut.” Kataku membuka pembicaraan.
“Terus intinya istri Fanani mau gak rujuk kembali dengan Fanani ?” Tanya Fatimah khawatir jika istri Fanani gak mau rujuk, artinya akan bisa menjadi masalah bagi rencana pinangan Candra ke Khotimah adik sepupunya itu.
Aku menghela nafas sebentar sebelum menjawab pertanyaan Fatimah istriku.
“Itu aku belum bisa menjawab sekarang, karena permintaan istri Fanani berubah. Kalo tadi siang mau dipertemukan angsung dengan Fanani sekarang atas permintaan keluarganya hanya mau bicara dengaanku dulu, tanpa ada Fanani. Itu artinya rasa sakit hati keluarga Winda pada Fanani ikut menjadi hal yang memberatkan rujuknya mereka. Kalo hanya Winda saja mungkin masih lebih mudah menyatukan mereka kembali. Tapi saat ini keluarga Winda sakit hati dengan Fanani plus keluarga Fanani. Gak Cuma dengan Fananinya saja.” Lanjutku menjelaskan pada Fatimah.
 “Waduh kok rumit amat sih mas, Fatimah kadang merasa kasihan sama kamu mas. Banyak sekali masalah yang kamu hadapi masih harus ngurusin masalah orang lain begini. Dan masalahmu sendiri saja berat banget, bahkan belum ada titik terang sampai sekarang.” Kata Fatimah dengan wajah yang sedih.
“Justru karena masalahku sangat berat, kalo aku hanya mengandalkan otakku saja gak akan mampu Fatimah. Maka aku membantu menyelesaikan masalah orang lain, dengan harapan Allah akan membalas membantu kita menyelesaikan masalah kita jika kita bisa ikhlash.” Jawabku pada Fatimah.
“Tapi bagaimana kita bisa tenang mas, perasaan justru pada saat kita sudah bisa saling mencintai malah terus saja berdatangan masalah yang mendera rumah tangga kita.” Ucap Fatimah.
“Anggap saja itu ujian cinta kita sayang, semakin tinggi ujianya maka akan semakin besar pula yang kan kita peroleh. Kalo ujian itu hanya ringan mungkin kita termasuk orang yang biasa biasa saja. Tapi ketika kita diuji dengan ujian yang berat berarti kita juga levelnya naik.” Jawabku pada Fatimah.
“Mask lo ngomong enteng banget, jalaninya yang susah tahu ?” ucap Fatimah.
“Ya memang Fat, tapi kita gak punya pilihan lain selain dari menjalani apa yang sudah digariskan. Seperti kita saat dinikahkan dulu, kita sama sama sulit menerima. Kamu pacar sahabatku dan aku pacar sahabtmu. Tapi kita gak punya pilihan lain harus menjalani, dan akhirnya sekarang terbukti kita saling mencintai bahkan sangat mencintai satu sama lain. Apakah kita dulu mengira jika kita akan saling mencintai seperti sekarang ? yang ada dulu kita saling curiga, aku curiga kamu masih memikirkan dan mencintai mantan kamu. Sebaliknya kamu juga pasti berpikir jika aku masih memikirkan dan mencintai mantan pacarku yang sekaligus juga sahabatmu.” Jawabku.
“Sudah mas, sudah gak usah ngomongin itu Fatimah jadi malu kalo ingat itu semua. Iya Fatimah mengakui ucapan ma situ benar, hanya masalah kita yang kita hadapi ini terasa berat sekali.” Jawab Fatimah.
“Gak papa Fat, aku dah percaya sama kamu bahwa saat ini kamu hanya mencintai aku. Sebaliknya aku juga begitu. Dan masalah yang kita hadapi saat ini memang aku rasakan sebagai ujian bagi kita. Meski berat, atau berat banget bahkan. Tapi kita harus percaya jika Allah tidak akan menguji hamba-Nya dengan ujian yang melebihi kemampuanya. Jadi kalo kita diberi ujian yag berat Insya Allah kita termasuk orang orang yang kuat.” Kataku menghibur sekaligus menyadarkan Fatimah tentang bagaiana mensikapi ujian yang dihadapi.
“Iya mas, Fatimah ngerti tapi kan manusiawi jika Fatimah sekedar berkeluh kesah dengan suami.” Jawab Fatimah.
Belum sempat aku menjawab dikejutkan dengan suara dri atap rumahku yang seperti dilempari batu. Sampai sampai Fatimah ketakutann hingga wajahnya pucat dan memelukku erat.
“Mas, jangan jangan itu ulah orang orang yang ikut siding tadi, mereka gak terima terus mengganggu kita.” Ucap Fatimah.
“Bukan sayang, itu hanya ulah anak buah Maheso suro rupanya dia mulai melancarkan serangan ghoibnya lagi. Kalo begitu aku akan kembali keruang mujahadah, kamu ikut kesana saja biar aman. Dan peringatkan semua jangan keluar rumah dulu mala mini.” Kataku pada Fatimah.
Ternyata setelah aku sampai diruang mujahadah Isti sudah disana dan lebih dulu melakukan sholat dan membaca doa tulak balak. Aku dan Fatimah pun segera melakukan sholat sunnah dan bersama sama membaca doa tulak balak dan doa doa rukyah yang merupakan doa pengusir makhluk astral yang mengganggu.
Suara dari atap rumah yang seperti dilempari batu kerikil masih terdengar saat kami memanjatkan doa. Meski lambat laun mulai berkurang, namun setelah suara itu berhenti justru disusul suara dentuman keras dari atap rumah yang membuat semua penghuni rumah terbangun saking kerasnya.
Inilah yang aku khawatirkan, beberapa hari seperti sudah aman tapi saat kita sedikit lengah mereka melancarkan serangan tiba tiba.
“Mbak Faatim….!” Terdengar jeritan Khotimah.
...bersambung...
Terimakasih atas dukungan dari Readers semuanya.
Komentar readers semangat Author
Author akan berusaha terus memperbaiki, bahasa retorika dan lainya.
Semoga dapat menghibur Readers semua.
...Jangan lupa dukungan berupa :...
...Like...
...Komen...
...&...
...Vote nya...
...Terimakasih...
...🙏🙏🙏...
Â
Â
__ADS_1