
Episode 77
“ Permisi pak, saya harus bersiap menuju TKP, semoga yang mendekati umpan adalah Kakap bukan sekedar teri.” Kata pak Yadi.
“ Boleh saya ikut pak ?” tanyaku.
Tiba tiba Fatimah istriku datang ikut bicara.
“ Jangan mas, katanya mau bicara sama Yuyut…???” cegah Fatimah.
“ Tapi ini darurat Fat, kuharap kamu bisa mengerti !” sahutku.
Aku agak kecewa dengan kekhawatiran Fatimah yang berlebihan.
“ Tidak mas, Fatimah bilang jangan ikut dulu !” kata Fatimah.
“ Ini demi kita semua juga Fat, bukan sekedar ikut ikutan saja. Tapi untuk keamanan kita semua, termasuk kamu juga !” kataku pada Fatimah.
“ Terus rumah mas tinggalin begitu saja, coba ingat semalam mas. Kalo mas jadi pergi dan orang yang datang kedua setelah Japra itu kemari mas gak ada,apa yang akan terjadi ?” Argumentasi Fatimah melarangku pergi.
Aku tak bisa menjawab, karena ada benarnya juga apa yang dibilang Fatimah barusan.
“ Maaf pak, Ibu benar lebih baik bapak di rumah dulu saja. Biar kali ini menjadi urusan polisi, ada kemungkinan kelompok itu juga bersenjata api. Makanya biar kita yang menghadapi.” Ucap pak Yadi.
Mau gak mau aku harus mengikuti, apa yang menjadi permintaan Fatimah. Meski dalam hatiku ingin sekali membuat perhitungan pada Gembul cs termasuk kelompok supranatural yang ada dibalik layar.
“ Baiklah pak, saya di rumah saja nanti jika ada sesuatu yang aneh tolong hubun gi saya secepatnya.” Jawabku pada pak Yadi.
Setelah pak Yadi berlalu, kembali berdialog dengan Fatimah kali ini didampingi Isti juga.
“ Tampaknya mas Yasin ini lebih dominan mengikuti amarahnya dari sekedar meindungi keluarga.” Isti membuka omongan.
“ Iya Is. Itulah yang kadang bikin Fatimah sedih. Disaat Fatimah butuh perlindungan seorang suami mas Yasin asik dengan kehidupanya sendiri.” Sahut Fatimah.
“ Bukan begitu Fat, tapi yang aku lakukan itu demi menjaga semuanya. Mas gak bisa berdiam diri terus, hanya menunggu mereka berbuat.” Jawabku.
“ Mas Yasin emang keras kepala dari dulu, ingat mas Istrimu butuh keberadaanmu disampingnya saat ini. Istrimu butuh kasih sayangmu sebagai calon ayah bagi anak yang dikandungnya.” Kata Isti semakin menyudutkan aku.
Tiba tiba ibunya Isti datang dan ikut nimbrung pembicaraan kami.
“ Maaf nak Yasin, jika Isti anakku ikut campur urusan rumah tanggamu. Dan ibu juga merasa terpanggil untuk ikut bicara, karena kalian sudah ibu anggap anak anak ibu sendiri.” Kata ibunya Isti.
Aku merasa semakin terpojok dengan kehadiran ibunya Isti, yang gak mungkin aku membantahnya. Aku merasa sungkan dengan beliau yang sudah sepuh, dan sudah kuanggap ibu kandungku sendiri. Apalagi aku merasa dulu telah membuat kedua orang tuaku menderita karena aku.
“ Injih bu, gak papa kok, Isti juga sudah saya anggap adik saya sendiri. Apalagi ibu, sudah seperti ibu kandung saya sendiri. Saya nderek ( ikut ) saja apa nasehat ibu.” Jawabku dengan tertunduk.
Fatimah dan Isti merasa menang dan tersenyum, mungkin juga ini sudah di scenario mereka pikirku.
“ Nah begitu kan enak didengar mas, aku sebagai istri benar benar merasa terharu. Jika suamiku tidak lagi keras kepala.” Ucap Fatimah.
Aku hanya diam tak menjawab karena ada ibu nya Isti dihadapanku.
“ Sudahlah nak Fatimah, suamimu sebenarnya niatnya juga baik. Hanya saja jalan yang akan dipilih kurang tepat. Jangan diolok olok lagi nak, kasihan suamimu.” Kata ibunya Isti.
“ Tapi bu, Fatimah begitu juga karena sayang sama suaminya. Biarin saja Fatimah sama mas Yasin bicara, Isti sudah hafal sifat keduanya dari sejak di pesantren. Mas Yasin memang keras kepala kok.” Sahut Isti membela Fatimah.
“ Isti, gak baik kamu ngomong begitu dia kan lebih tua darimu sopanlah kalo bicara padanya.” Kata ibunya Isti.
“ Ah ibu jangan belain mas Yasin, nanti dia makin keras kepala bu. Isti begini karena sudah tahu dari Fatimah, beberapa kali mas Yasin membahayakan dirinya sendiri. Sampai hamper kehilangan nyawa, tapi gak jera juga kok.” Jawab Isti.
“ Benar begitu nak ?” Tanya ibunya Isti kepadaku.
Aku benar benar measa tersudut dengan pertanyaan ibunya Isti. Aah dasar Isti pandai memanfaatkan moment yang membuatku jadi semakin tak mampu berkata. Harus kuakui kecerdasan Isti ini mampu membuatku tak berkutik di depan banyak orang.
“ Gak begitu kok bu, yang saya alami kemarin itu karena memang itu yang harus terjadi. Dan saya bisa mengambil hikmah dari apa yang sudah terjadi.” Jawabku berdiplomasi.
“ Ambil hikmah apaan mas, berapa kali mas hamper celaka, menyimpan rahasia kalo gak ketahuan Fatimah bisa bisa mas gak tertolong lagi kan.” Sahut Fatimah setengah Emosi.
“ Sudah nak, ibu tahu kalian ini pasangan yand sangat serasi sebenarnya, tapi masing masing masih mau mencari menangnya sendiri. Yang penting sekarang, nak Yasin jangan ambil resiko yang bahaya dan membahayakan keluarga. Apalagi istrimu sedang hamil kan ? dia butuh kasih sayang dan perhatian yang lebih.” Ucap ibu nya Isti.
“ Injih bu, saya yang salah kok, Fatimah dan Isti tidak bermaksut gak sopan, saya juga tahu mereka semua dari sejak di pesantrren orangnya baik. Meski Isti memang nada bicaranya dari dulu selalu begitu kok bu. Gak masalah, saya sudah hafal juga.” Jawabku pada ibunya Isti, sambil nyindir Isti dan Fatimah juga.
“ Sukurlah kalo begitu, semoga kalian baik baik saja. Maaf ibu mau istirahat sebentar, nungguin waktu asar.” Kata ibu nya Isti mengakhiri pembicaraan.
“ Njih monggo bu.” Kataku.
Kemudian ibunya Isti masuk ke kamar, tapi aku yakin beliau tidak tidur. Hanya memberi kesempatan pada kami untuk saling bicara.
“ Mentang mentang ada yang belain, ngatain aku keras kepala sampai berkali kali.” Gerutuku pada Fatimah dan Isti. Mereka hanya tersenyum berdua sambil menahan tawa.
“ Kalo gak digituin mas gak akan berhenti.” Jawab Fatimah.
__ADS_1
Isti hanya menahan tawa merasa menang bisa menyudutkan aku di depan ibunya dan Fatimah istriku.
Sekali lagi aku dikalahkan dua santri seniorku, sebenarnya aku gak terima tapi harus kuakui Isti lebih pintar dari aku. Yaudah lah kali ini aku harus menuruti keinginan mereka.
...************...
Pak Yadi POV
“ Perhatikan terus gerak gerik orang yang mendatangi kos an si Tuti. Jangan sampai sedikitpun lengah. Dan cari tahu jumlah dan siapa saja personil yang datang.” Perintahku pada petugas sandi yang kutempatkan di dekat kos an Tuti.
“ Siap laksanakan !” jawabnya.
Akupun segera menuju kearah lokasi Kos an si tuti. Sengaja tidak mengubunginya tapi terus memantau pergerakan titik merah signal no hp Tuti. Mengamati no yang memanggilnya.
Ada beberapa no yang menghubungi, beberapa no sudah tercatat di data sebagian lagi no baru yang masih asing. No yang sudah tercatat, rata rata rekan seprofesinya dulu dan no teman kampus Tuti. Sementara aku abaikan dulu, focus pada nomor nomor baru yang mencurigakan.
Ada beberapa nomor yang semat diangkat tuti, dan durasi bicaranya cukup lama. Dari situ aku memantau letak titik koordinat pemanggil. Ada beberapa nomor yang pantas dicurigai, karena titik koordinatnya tidak jauh dari lokasi kos an Tuti. Mungkin dia pikir bisa mengecoh, padahal dia disekitar lokasi kos an Tuti.
Aku segera memerintahkan pasukan Sandi untuk mencari orang yang sekiranya mencurigakan di titik koordinat tersebut. Setelah itu aku menghubungi pasukan sani yang lain untuk mengamati keadaan kos an tuti dari dekat.
Ini yang leluasa mendekat lokasi kos an tuti adalah peran pedagang bakso. Aku segera kontak pasukan sandi untuk memerintahkan pasukan yang berperan pedagang bakso untuk mendekati lokasi kos an Tuti.
Dalam waktu kurang dari 10 menit, semua rencana sudah berjalan. Di titik koordinat penelpon Tuti sudah ada yang mengawasi, dan tepat didepan kos an Tuti petugas sandi yang menyamar penjual bakso sudah beraksi menjajakan bakso pada warga di tempat itu. Meski sebagian juga petugas sandi yang lain.
Aku hanya tinggal menunggu laporan dari masing masing petugas sandi, sesuai peran dan tugasnya masing masing. Saat sedang santai sambil menunggu info dari petugas sandi, tiba tiba aku melihat komandanku datang,
“ Sore ndan, ada perintah ?” sapaku.
“ Besuk Rofiq resmi jadi tahanan luar, boleh kamu tempatkan jadi satu dengan ibu dan adiknya. Dirumah informan dan dan saksi kunci kita Yasin !” kata Komandan.
“ Siap Laksanakan komandan !” jawabku.
Setelah itu Komandan segera pergi meninggalkan aku diruang IT, aku kembali mengamati pergerakan titik merah signal HP Tuti. Yang teernyata sampai sekarang masih menerima telpon dari no yang sedang ku awasi. Memang saat itu belum bisa menyadap pembicaraan. Hanya sekedar memantau no yang masuk dan keluar dari hp Tuti. Tapi itu sudah cukup membantu kami mengawasi pergerakan Tuti dan orang orang yang akan mencelakainya.
Bahkan tanpa sepengetahuan pak Yasin pun no beliau dan Istri dan semua anggota keluarganya pun dalam pantauan kami. Gak tahu juga, ini kurang ajar atau tidak, tapi demi melindungi mereka dari tindak kejahatan ini harus aku lakukan.
Drrrrt….drrrrt….drrrrt…hp ku bergetar ada chat masuk, lalu kubuka.
“ Siang pak. Melaporkan dari titik koordinat penelpon tuti, sedang melakukan pemantauan. Indikasi penelpon sudah ditemukan, tapi hanya orang suruhan dari Mr.XX untuk membujuk dan mempengaruhi Tuti. Agar mau mengatakan dimana keberadaan saksi kunci. Dengan iming iming imbalan berupa hadiah, rumah dan mobil serta fasilitas yang lain. Sekian laporan selesai.”
Chat dari petugas Sandi pertama.
Gawat nih, kalo Tuti sampai tergiur dengan iming imingnya, bisa berbelok arah dia. Meski iming iming itu juga belum tentu akan diberikan betulan, kataku dalam hati.
Aku kembali mengamati pergerakan signal hp Tuti,sudah landai. Tidak ada panggilan masuk ataupun panggilan keluar.
...Pak Yadi POV off...
...**********...
Yasin POV
“ Kamu dah jadi Tanya ibu belum, kalo kita mau konsultasi sama Yuyut ?” tanyaku pada Fatimah.
“ Udah maaass, sabar dulu nunggu jawaban dari ibu. Kapan bisa disambungkan sama Yuyut.” Jawab Fatimah.
“ Yeee mas juga cumin nanya, kok jawab Fatimah gitu ?” kataku.
“ Yah habis Fatimah masih kesel sama mas Yasin tadi, dibilangin konsen dirumah saja kok, masih mau keluar juga.” Jawab Fatimah.
“ Diiih gitu aja sewot amat, hmm jangan jangan bawaan bayi dalam kandunganmu nih ?” kataku sambil mengeluss perut Fatimah.
“ Apaan sih mas, malu ada Isti juga kok !” cegah Fatimah.
“ Owh iya maaf, jadi gak sadar aku ada Isti.” Kataku sambil menahan malu.
Sementara Isti malah tersenyum senyum saja, seakan gak masalah.
“ Santai saja, itu sih hal biasa suami pegang perut istrinya yang lagi hamil.” Jawab Isti.
“ Tapi kan malu Is, dilihat orang mas Yasin tu suka gitu.” Jawab Fatimah.
“ Udah gak usah diperpanjang, udah hamper asar, nanti suamimu mau kamu siapin buka puasa apa ?” Tanya Isti mengalihkan pembicaraan/
“ Mau buka puasa apa mas ?” Tanya Fatimah.
“ Bikin aja the manis sama gorengan, gak usah macem macem.” Jawabku.
“ mang puasa dalam rangka apa mas ?” Tanya Isti.
Aku sempat ragu menjawab, tapi kalo Isti yang Tanya pasti akan mengejar jika jawabanya tidak bisa dia terima. Akhirnya aku terpaksa cerita, jika semalam saat semua terkena sirep. Aku inget pesan Abah, salah satu cara menahan kantuk ( Termasuk Sirep ) adalah dengan menjaga agar perut tidak penuh / kenyang. Karena perut yang kenyaang mudah sekali mengantuk.
__ADS_1
Mendengar jawabanku itu Fatimah dan Isti malah kembali menyalahkanaku.
“ Tuh kan, mas itu sesuatu selalu diam gak pernah cerita sama Istri.” Omel Fatimah.
“ Kalo memang ada dawuh Abah seperti itu kenapa gak mau bilang sama kita. Kan kita juga bisa nemenin puasa. Bahkan yang lain pun Isti yakin mau ikutan puasa.” Kata Isti menyalahkan aku.
“ Maaf, semalam niat itu muncul sudah lewat tengah malam. Kalian baru tidur, jadi aku belum sempat ngomong saja. Kalo besuk mau ikutan puasa juga boleh.” Jawabku.
“ Puasa sunnah kan bisa niat saat sudah habis subuh, gak seperti puasa Ramadhan mas. Jadi kamu bilang habis subuh pun asal belum makan dan minum kita bisa ikutan puasa.” Kata Isti.
“ Iya aku tahu, tapi kan kalo gak sahur kasihan kalian.” Jawabku.
“ Memangnya kita anak kecil, kalo gak sahur gak kuat puasa sunnah ?” kata isti.
“ Ya gak gitu juga, yaudah besuk aja kalo mau ikutan puasa ikut puasa aja.” Kataku.
“ Fatimah boleh ikutan puasa gak mas ?” Tanya Fatimah.
“ Terserah kamu, jika tidak merasa mengganggu kandungan kamusilahkan. Tapi jika dirasa berat gak usah gak papa.” Jawabku.
“ yaudah, besuk coba Fatimah ikutan puasa, tapi kalo merasa berat Fatimah berbuka.” Jawabnya.
“ Begitu juga boleh.” Jawabku.
Saat kami sedang berbicara tiba tiba pak Yadi telpon. Aku langsung angkat telpon dari pak Yadi.
“Assalaamu ‘alaikum pak Yadi.”
“ Wa’alaikummussalam, sedang sibuk gak pak ?”
“ Gak kok pak, ini baru ngobrol sama Istriku dan juga Isti adiknya Rofiq.”
“ Begini pak, ada info besuk Rofiq berstatus tahanan luar jadi bisa ikut gabung dengan pak Yasin dirumah.”
“Serius pak ?”
Isti yang ikut mendengar karena aku loud speaker ikut mengucap sukur.
“ Alhamdulillah Yaa Allah.” Ucap Isti.
“ Kemudian satu hal lagi pak, yang perlu mendapat perhatian dan penanganan pak Yasin.”
“Apa itu pak ?”
“ Tuti udah dikembalikan ke kos an dia, dan langsung disambar oleh mangsa. Dan saat ini sudah di temukan beberapa orang yang munkin terlibat dalam jaringan si Gembul dan jaringan mafianya pak.”
“ Alhamdulillah kalo begitu pak, biar kasus ini cepat tuntas.”
“ Tapi ada yang perlu jadi kewaspadaan pak, ternyata Tuti diiming imingi rumah mobil dan fasilitas lain. Jika mau menunjukkan persembunyian saksi kunci kita.”
“ Apakah Tuti tergiur dengan itu pak ?”
“ Belum tahi pak, maksut saya justru mau minta tolong pak Yasin agar Tuti tidak terpengaruh bujukan mereka, tolong diusahakan doa dan usaha batiniyahnya pak.”
“ Insya Allah pak, saya akan bantu doa, kalo untuk kondisi Tuti sendiri sekarang masih aman aman saja kan pak ?”
“ Sejauh ini aman, yang perlu dikhawatirkan jika musuh menggunakan kekerasan atau intimidasi ke Tuti. Tapi kalo itu tugas saya dan rekan rekan kepolisian pak. Bapak konsen di doa untuk Tuti dan lainya saja. Biar semuanya aman selalu.
“ Baik pak, saya juga akan berusaha sebaik mungkin, semoga semua bisa selamat.
“ Satu hal lagi pak, dari hasil pantauan kami, melalui pemantauan telpon masuk ke Tuti. Salah satu jaringan residivis, berada di dusun bapak. Tapi belum jelas siapa orangnya, hanya no hpnya yang tercatat. Beserta titik koordinatnya menunjukkan orang itu tadi berada di dusun bapak. Hati hati dengan orang sekitar, terutama pendatang baru, yang pura pura kos di dusun bapak.”
...bersambung...
Terimakasi atas dukungan dari Readers semuanya.
Author akan berusaha terus memperbaiki, bahasa retorika dan lainya.
Semoga dapat menghibur Readers semua.
...Jangan lupa dukungan berupa :...
...Like...
...Komen...
...&...
...Vote nya...
...Terimakasih...
__ADS_1
...🙏🙏🙏...