
🌷🌷🌷
Readers Tercinta, mohon maaf jika masih banyak tipo karena Auto teks ataupun murni salah ketik.
Semoga tetap bisa menghibur.
🌷🌷🌷
Selamat membaca
Aku sendiri sampai gak tega melihat Khotimah begitu sebenarnya, tapi bagaimana lagi demi dia dimasa depan juga,pikirku.
“Maafkan mas ya Khot, mas terpaksa melarangmu menjalin hubungan dengan Fanani. Demi kebaikan kamu kedepan. Mas gak mau kamu jadi menyesal dan mederita kedepanya.” Kataku pada Khotimah.
Khotimah diam sejenak, aku memakluminya sebagai orang yang lebih tua dan pernah merasakan jatuh cinta serta harus berpisah atau menjauhi orang yang dicintainya. Tentulah sangat berat bagi Khotimah untuk mengalahkan perasaan cintanya itu.
Jujur saja aku pun sebenarnya tidak tega jika harus emisahkan Khotimah dengan Fanani orang yang dia cintai. Namun sebagai laki laki aku harus mengedepankan logika dari pada perasaan, karena kadang cinta itu menghilangkan logika berpikir.
“Khotimah mau mencoba mas, mbak meski berat rasanya, entah kenapa Khotimah merasakan ini. Khotimah sudah terbuai dan terpesona dengan mas Fanani.” Ucap Khotimah disela isak tangisnya.
“Iya Khot, mas tahu jika itu berat buat kamu Khot. Tapi perlu kamu ketahui jika kita juga harus menggunakan akal dan logika kita sebagai mahluk berakal. Seberapapun rasa cinta pada lawan jenis kita, ada saatnya rasa itu pudar. Jika tidak dibarengi dengan logika maka akan berakhir duka. Karena perasaan itu sesuatu yang abstrak yang tidak bisa divisualkan, maka harus diimbangi dengan akal dan logika. Agar tidak menjadi cinta buta apa lagi membabi buta, dan menghalalkan segala cara.” Kataku pada Khotimah.
“Dengerin Khot kata masmu itu, apa kamu gak ingat ceritaku saat menikah dengan mas mu itu. begitu banyak rintangan yang kami hadapi dari mulai kesalah fahaman dengan teman teman santri sampai dengan mengubur masa lalu kami masing masing. Karena sebelumnya kami hanya sebatas teman dan masing masing sudah mempunyai kekasih sendiri sendiri. Namun dengan modal khusnudzon kepada Allah kamu bisa lihat sendiri saat ini kami bisa saling mencintai bahkan sangat mencintai satu dengan lainya.” Sambung Fatimah istriku.
“Nah kamu sudah dengar sendiri dari kakamu Fatimah kan, dan perlu kamu tiru Fatimah kakamu itu, yang berjiwa besar mau menerima aku yang memiliki masa lalu yang suram bahkan meninggalkan bekas sampai sekarang. Yaitu mempunyai anak yang lahir diluar nikah dengan perempuan lain, namun Fatimah kakakmu tetap mau menerima aku bahkan mau menganggap anakku sebagi anak dia sendiri.” Kataku pada Khotimah sekaligus menyadarkan dia bahwa Candra yang dulu pernah memukuli aku itu jangan dijadikan penghalang dia menerima lamaran Candra. Karena itu juga sudah menjadi masa lalu kami. Sehingga tidak perlu di ungkit dan tidak perlu diingat kembali. Yang penting adalah sekarang dan masa yang akan datang, jangan terlalu terbebani masa lalu seseorang.
“Iya mbak, mas Khotimah tahu kok. Dan Khotimah akan berusaha menuruti kata kata mas Yasin dan mbak Fatim.” Kata Khotimah meski masih sambil terisak.
“Kamu memang adik yang penurut Khot, meski mas juga tahu bahkan juga sebenarnya gak tega dengan ini. karena baik aku maupun Fatimah kakakmu itu juga pernah mengalami. Jadi bukan hanya sekedar ngomong membual saja. Memang sedih banget waktu kami dinikahkan dulu Khot. Aku dan kakakmu sama sama tahu jika kita tidak saling mencintai. Bahkan pacarku adalah sahabat kakakmu dan sebaliknya pacar kakakmu juga sahabat baikku ternyata meski aku tahunya setelah aku menikahi kakakmu. Tapi toh kami semua bisa melewati itu, bahkan kemarin saat mereka datang dan tinggal dirumah ini juga baik baik saja. Juga saat ibunya Sidiq datang dan tinggal disini kakakmu Fatimah juga baik baik saja. Itulah yang namanya cinta sejati Khot, bukan sekedar cinta buta semata.” Kataku menambahkan.
Saat Khotimah diam merenung memikirkan ucapanku dan ucapan Fatimah Isti datang membawa camilan hasil olahan Isti di dapur.
“Gorengan sudah siap nih, ayo dimakan dulu semuanya. Yang satu Isti taruh depan ya Fat.” Ucap isti.
“Iya boleh, tapi habis itu kamu langsung kesini ya Is.” Pinta Fatimah istriku.
“Iya bentar aku kasih buat yang didepan dulu.” Jawab Isti.
Setelah Isti kembali maka Isti pun ikut menambahkan member nasehat pada Khotimah.
“Maaf Khotimah, Isti memang bukab siapa siapa Khotimah. Tapi Isti sudah anggap Khotimah keluarga, seperti halnya pada Fatimah kakakmu. Apa lagi kita sekarang ini tinggal satu rumah jadi kebahagian kamu juga kebahagiaan Isti. Saat mendengar kamu dekat dengan cowok Isti pun ikut bahagia, namun setelah tahu hubungan yang rumit Isti pun ikut prihatin. Dan setuju dengan pendapat Fatimah dan pendapat mas Yasin.” Kata Isti’anah.
“Sama Is, bahkan aku dulu sangat berharap Khotimah segera menikah dengan Fanani. Setelah kang Salim mengatakan bahwa ada aura pasangan pengantin di rumah ini. yang katanya tidak hanya satu. Aku pikir adalah antara Rofiq kakak kamu dengan Arum dan Khotimah dengan Fanani. Ternyata dugaanku meleset. Jodoh Khotimah ternyata bukan Fanani, mungkin akan segera datang sebentar lagi.” Kataku yang membuat semua kaget, dan ingat kata kata kang Salim waktu itu.
“Iya ya, kan kang Salim pernah berkata begitu. Isti sampai lupa !” jawab Isti.
“Fatimah juga lupa kok Is, mungkin Khotimah juga masih ingat kan ucapan kang Salim waktu itu ?” Tanya Fatimah pada Khotimah.
“Masih mbak, makanya khotimah pikir juga mas Fanani itu jodoh Khotimah. Tapi ternyata mas Yasin dan mbak fatim malah melarang Khotimah.” Ucap Khotimah.
“Begini Khot, ucapan orang orang seperti kang Salim dan orang orang yang diberi kelebihan oleh Allah itu jangan ditelan mentah mentah. Meski akupun dulunya berpikiran sama denganmu, tapi setelah tahu permasalahanmu dengan Fanani jadi berpikir lain. Karena awal kami tahu bermula dri keinginan Candra yang hendak melamar kamu. Nah mungkin itu adalah Isyaroh yang sebenarnya, yang mementahkan pikiran kita awal. Jadi mas mohon kamu jadikan pertimbangan apa bila Candra benar benar melamarmu nanti.” Kataku menyambung ucapan Isti dan Fatimah istriku.
“Wah mas Yasin sekarang sudah semakin jitu dalam membaca Isyaraoh ya.” Ucap Isti.
“Gak juga kok Is, buktinya juga hampir salah dalam menerjemahkan kukira dulu Fanani yang akan menjadi pasangan Khotimah. Tapi memang sejak digembleng kang Salim dipondoknya dulu, ada semacam pencerahan yang membuat aku semakin mudah dalam membaca isyaroh yang diberikan melalui kejadian kejadian alam.” Kataku pada Isti.
“Kalo udah begitu kamu sendiri bagaimana Khot, jika mas Candra nanti melamar kamu sungguhan ?” kata Fatimah minta ketegasan Khotimah.
“Saat ini khotimah nurut sama mas yasin dan mbak Fatim saja, karena mas Yasin dan mbak Fatim yang lebih pengalaman. Dan Khotimah yakin mas dan mbak gak akan menjerumuskan Khotimah.” Ucap Khotimah yang sudah mulai agak tenang.
“Alhamdulillah..!” sahut kami serempak mendengar jaawaban tulus dari Khotimah. Artinya satu masalah sudah terselesaikan sehingga kami bisa meras lebih lega tinggal memikirkan masalah yang lain yang juga sangat penting. Yaitu segera menyelesaikan perkara perkara yang menyeret kami kedalam bahaya ini.
“Tapi menurut Isti, Khotimah harus selesaikan dulu masalah dengan fanani. Supaya tidak terjadi salah faham nantinya. Dan kita tetap bisa berhubungan sebagi saudara tidak saling membenci karena hal ini. jika Candra melamar Khotimah nanti.” Ucap Isti.
“Owh iya, aku setuju itu Is. Biar Khotimah sendiri yang bicara, jika butuh pendamping biar aku atau istriku yang akan mendampingi atau berdua juga tidak masalah.” Kataku.
__ADS_1
“Paling tidak kamu damping mas, kalo hanya Khotimah sendiri aku yang tdak tega. Ini bukan masalah sepele soalnya.” Ucap Fatimah istriku.
“Aku sih ikut saja. Kalo memang dibutuhkan aku akan mendampingi Khotimah bicara dengan Fanani tapi kalo Khotimah merasa itu urusan privasi dia gak perlu didampingi juga gak papa.” Jawabku pada Fatimah istriku.
“Bagiaman Khot, kamu merasa butuh didmpingi atau tidak masalahnya ini bukan hal yang sembrono harus dengan bahasa dan kalimat yang baik agar tidak menimbulkan salah paham dikemudian hari.” Kata Fatimah minta persetujuan Khotimah.
“Khotimah mungkin gak sampai hati untuk ngomong langsung, jadi minta tolong mas Yasin dan mbak Fatimah saja yang bicara meski Khotimah juga akan ikut bicara nantinya.” Ucap Khotimah.
“Iya mbak akan bantu, tapi biar mas mu yang memulai pembicaraan nanti yang sama sama lelaki biar lebih mengena bahasanya.” Ucap Khotimah.
“Yaudah, kapan kita akan memanggil Fanani, kita bicara baik baik denganya agar Fanani juga tidak sakit hati dan Khotimah juga bisa lega lepas dari jertan asmara yang rumit.” Kataku.
“Waktu yang paling tepat ya nati setelah makan siang saja, saat suasana santai sehingga tidak aka nada ketegangan.” Usul Isti.
“Menurutku lebih baik nanti malam saja sehabis mujahadah biar aku yang mulai bicara, kemudian baru Khotimah dan Fatimah menyusul setelah dirasa pembicaraan bisa berjalan lancar. Bukan suudzon tapi sekedar waspada jika Fanani mungkin tidak terima atau bagaimana.” Kataku.
“Begitu juga boleh mas, Fatimah ikut saja asal nanti jangan sampai ada masalah.” Ucap Fatimah.
“Khotimah juga ikut saja mas, yang penting jangan dimarahi mas Fanani karena Khotimah juga gak tega kalo mas Fanani nanti dimarahi.” Kata Khotimah.
“Iya tenang saja Khot, bagaimanapun Fanani juga sudah seperti keluarga kita. Kita harus menjaga juga perasaan dia.” Jawabku pada Khotimah.
Setelah selesai berembuk akhirnya kami sibuk dengan urusan sendiri sendiri dan hari itu Khotimah banyak mengurung diri dikamar. Tidak seperti biasanya yang selalu mencari cari waktu untuk menemui Fanani dan ngobrol berdua. Hal itu disadari Fanani yang juga dalam pengamatanku, namun dia juga tidak berani menanyakan keberadaan Khotimah. Meski beberpa kali berpapasan denganku dan bertegur sapa seperti biasa. Akupun juga tidak menampakkna perubahan sikapku yang tetap santai dan welcome kepada semua termasuk fanani.
Hingga pada waktu yang telah disepakati, setelah kami selesai melakukan mujahadah. Aku menemui Fanani untuk aku ajak bicara berdua dulu sebelum Fatimah dn Khotimah menyusul.
Dengan terlebih dulu kami mengobrol hal diluar topic pembicaraan yang sebenarnya, agar tidak merusak suasana keakraban yang selama ini sudah terjalin.
“Bagaimana perkembangan keamanan selama beberapa hari ini terutama saat aku harus meninggalkan rumah ?” tanyaku pada Fanani membuka pembicaraan.
“Aman kok pak, tidak ada sesuatu yang mencurigakan. Semua berjalan lancer, dan setiap hari ada yang melakukan penyisiran disekitar wilayah ini.” kata Fanani.
Owh sukurlah, tapi kalo kamu tugas begini terus apa gak dicari anak istrimu Fanani ?” tanyaku memancing Fanani.
Fananipun seperti kaget mendengar pertanyaanku itu, sempat terlihat memerah mukanya dan kemudian tertunduk aerta diam beberapa saat.
“Istri kamu asli mana, kalo mungkin tinggal bersama mertuamu kan gak papa. Sampai Istrimu bisa memahami profesimu yang kadang harus dinas malam bahkan beberapa hari gak pulang.” Kataku.
“Saya yang malu pak kalo tinggal dengan mertua, masak laki laki numpang dirumah mertua.” Jawab Fanani.
“Wah kalo itu namanya kamu yang egois, gak mau sedikit mengalah dengan istri. Kalo menurutku istrimu hanya ingin kamu tinggal dirumahnya dulu sampai istrimu bener bener siap berpisah dengan orang tuanya. Mungkin memang karakter istrimu yang agak manja dan tidak pernah terpisah dengan orang tuanya. Sehingga saat jadi istri orang pun masih pingin jadi satu dengan orang tuanya.” Kataku.
“Iya pak, memang itu yang jadi sumber permasalahanya, tapi dalam keluargaku juga melarang kalo aku tinggal dirumah mertua katanya kayak lelaki yang tidak tanggung jawab,numpang dirumah mertuanya.” Jawab Fanani.
“Itu salahnya, pertama kamu kan gak numpang hanya sekedar menyenangkan hati istrimu saja. Kalo istrimu sudah siap kan kamu bisa tinggal dirumah orang tuamu sebelum punya rumah sendiri. Atau kos bila memang mau belajar mandiri, kalo istrimu siap dengan resiko hidup di rumah kos. Kaalo belum ya bagaimana lagi mending tinggal dirumah mertua dari paa rumah tangga berantakan dari pada memaksakan gengsi tapi rumah tangga bubar.” Ucapku pada Fanani.
“Bagaimana dengan keuarga saya yang melarang saya tidak boleh ikut istri pak ?” Tanya Fanani kemudian.
“Kamu kan sudah dewasa, jadi kamu berhak menentukan langkah hidupmu sendiri. Bukan harus mengikuti kemauan orang lain, meskipun itu saudara. Ibaratnya kalo sudah berumah tangga itu sudah mendirikan Negara sendiri, saudarapun tidak berhak intervensi yang kaitanya dengan urusan privasi. Boleh mengusulkan atau mengajukan pendapat tapi tidak boleh sampai memaksa.” Jelasku pada Fanani.
“Iya pak, mungkin ini juga salah saya karena dulu keluarga saya menentang saya ketika mau menikahi istri saya.” Kata Fanani.
“Nah apa lagi seperti itu,jelas saja istrimu belum biasa tinggal bersama keluargamu sampai keluargamu benar benar mengakui istrimu adalah anggota keluarganya juga. Kalo seperti itu maka siapapun yang kan jadi istrimu bisa jadi tidak akan betah, karena mungkin kamu dirumah juga masih diperlakukan seperti anak kecil yang harus diatur semuanya.” Kataku spontas menyerocos seperti sedang menasehati adiknya saja.
“Betul pak, memang semua diatur oleh bapak dan saudara saudara saya, sehingga saya justru merasa tenang jika diluar rumah karena dirumah justru saya seperti tak dihargai.” Kata Fanani.
Yaah kalo begitu wajar saja istrinya ngambek minta cerai, gimana tidak punya suami yang tidak punya harga tawar sama sekali dimata keluarganya. Sehingga semuanya harus diatur, untung saja Khotimah sudah nurut aku bilangi dengan Isti dan Arum tadi. Kalo tidak, dan menjadi istri Fanani, entah istri kedua atau setelah Fanani resmi ceraipun justru akna menambha masalah saja nantinya,pikirku.
“Kamu harus ambil sikap Fanani, jangan bimbang dan jangan membuat orang lain juga jadi bimbang karena sikap kamu.” Kataku mulai akan masuk pada topic pembicaraan.
“Maksutnya gimana pak ?” Tanya Fanani pura pura gak Faham.
“Jujur saja Fan, aku tahu kamu punya hubungan khusus dengan Khotimah. Gak usah kaget, awalnya aku kira kamu single, entah belum menikah atau duda aku gak mempermasalahkan. Namun sebagi seorang kakak, tentunya aku berhak dong tahu siapa kamu sebenarnya yang menjalin hubungan dengan adikku. Makanya aku mencari tahu tentang dirimu, dari orang lain yang kamu gak perlu tahu. Dan ternyata kok kamu sendiri statusnya masih gak jelas begitu. Seandainya kamu single maka aku tidak akan melarang kamu berhubungan dengan Khotimah adikku. Mau kamu perjaka ataupun duda beranak pun aku gak masalah. Tapi dengan statusmu sekarang ya jujur saja aku keberatan jika kamu berhubungan khusus dengan adikku. Kalo sekedar berteman silahkan saja, tapi kasihan adikku jika sampai banyak berharap sementara kamu sendiri tidak berani mengambil keputusan.” Kataku masuk pada topic pembicaraan yang sudah aku rencanakan.
“Iya pak, mohon maaf bukan maksut Fanani mempermainkan adik bapak, Fanani memang suka sama Khotimah, tapi jujur Fanani juga belum bisa melupakan Istri Fanani pak. Saya sangat mencintainya juga, karena kita sudah lama sekali berpacaran tapi justru masalah muncul saat kami sduah menikah.” Jelas Fanani.
__ADS_1
“Iya saranku saja, kamu besuk temui istri kamu minta maaf dan jika perlu kamu harus mengalah tinggal dirumah mertuamu sampai istrimu siap berpisah dengan orang tuanya dan keluargamu juga sudah bisa menerima istrimu sebagai anggota keluarganya. Juga bersikaplah tegas mski pada keluargamu sendiri, karena tegas itu bukan sebuah kesalahan. Tegas bukan berarti kasar, tapi tegas itu teguh pada pendirian sebagai lelaki kamu harus punya itu Fanani. Soal Khotimah saya rasa kamu sudah tahu harus bagaimana, karena Khotimah itu adikku dan kamu juga sudah seperti keluarga disini dan kamu juga sudah punya istri, tentunya aku gak perlu menjelaskan lebih banyak lagi kan ?” kataku pada Fanani.
Fanani hanya diam menunduk, mungkin juga merasa kehilangan teman curhat, teman berbagi dan alinya. Akan tetapi demi kebaikan Khotimah dan Fanani juga aku harus bersikap tegas seperti itu sebelum semuanya terlambat,pikirku.
Dalam keheningan dan diamnya Fanani munculah Khotimah yang didampingi Fatimah istriku juga.
“Benar apa yang dikatakan mas Yasin mas, mulai sekarang kita bersaudara saja. Khotimah juga gak ingin di cap sebagai pelakor. Khotimah juga wanita tentu bisa merasakan sakitnya istrimu bila tahu tahu kamu berhubungan dengan wanita lain sementara nasip istrimu juga masih menggantung belum jelas. Dan lagi kamu sendiri kan masih sangat mencintai istrimu. Sudah sewajarnya kamu mempertahankan rumah tanggamu dengan memperbaiki hubunganmu dengan istrimu.” Ucap Khotimah sambil menahan agar tidak menangis.
Pasti Fatimah sudah banyak memberikan pesan dan nasehat tadi, agar Khotimah kuat tidak sampai kelihatan sedih. Karena bisa saja nanti akan dimanfaatkan Fanani jika kelihatan Khotimah Sedih.
“Iya benar itu mas Fanani, Khotimah adikku jangan sampai dianggap pelakor aku kakaknya juga tidak akan tinggal diam kalo sampai begitu.” Ucap Fatimah menyambung ucapan Khotimah.
Melihat Khotimah menahan tangis yang sudah hampir tak kuasa akhirnya aku suruh ereka masuk kamar.
“Sudah kalian masuk kamar lagi saja, biar ini aku selesaikan dengan Fanani, doakan saja agar rumah tangga Fanani kembali bersatu dan rukun lagi.” Kataku pada Fatimah dan Khotimah.
Merekapun akhirnya masuk ke kamar Fatimah, mungkin Khotimah ingin menumpahkan kesedihanya dengak kakak sepupunya. Gak papalah, resiko sebagai kepala rumah tangga yang merawat adik sepupu istri. Kadang harus mengalah tidur diluar jika kondisi tertentu, hehehe…!’
Tinggalah Fanani yang masih saja terdiam tak mampu bicara, dan akhirnya aku yang membuka bicara lagi.
“Sudah lah Fanani, kamu sebaiknya juga istirahat, besuk kamu temui istri kamu minta maaf dan ajak istrimu kembali rukun jika memang kamu harus tinggal bersama orang tuanya dulu turutilah mugkin itu bisa menyenangkan istrimu. Dengan itu mungkin istrimu baru merasakan bahwa kamu itu benar benar mencintainya dibuktikan dengan kamu mau mengalahkan egomu mengalah tinggal bersama orang tuanya.”kataku hendak mengakhiri pembicaraan.
“Pak, bolehkah saya minta tolong ?” tiba tiba Fanani malah bertanya sesuatu.
“Minta tolong apa, bilang saja.” Jawabku.
“Maukah bapak besuk menemani saya menemui istri saya dan memintakan maaf serta menyelesaikan masalah diantara kami agar istriku tidak jadi minta cerai ?” kata Fanani yang otomatis harus aku sanggupi selain demi Fanani juga demi Khotimah agar tidak berharap lagi dengan Fanani sukur sukur mau menerima lamaran Candra nanti, pikirku.
“Iya boleh, besuk jam berapa mau kesana kamu kasih tahu saja, aku siap jadi juru bicaramu agar kamu dan istrimu bisa bersatu kembali.” Jawabku.
“Makasih sebelumnya pak, besuk kita berangkat pagi saja, sukur sukur bisa bertemu semua anggota keluarga istri saya.” Kata Fanani yang mulai berubah agak ceria wajahnya.
Dalam hatiku berkata, kalo hanya masalah begitu kenapa harus dengan cara mendekati Khotimah adikku sampai dia terbuai dan hampir mabuk cinta denganmu Fanani. Kalo dari kemarin kamu bilang mungkin masalahnya sudah selesai dan tidak akan meninggalkan luka hati pada Khotimah, gerutuku dalam hati. Tapi ya sudahlah semua juga sudah terjadi, mungkin disini juga ada unsur kesalahan Khotimah bahkan unsur salahku juga yang tidak dari awal mencari identitas Fanani.
“Ya sama sama, aku siap membantumu tapi ingat pesanku tadi dan harus kamu taati. Jangan permainkan hati adikku Khotimah itu saja. Soal keluargamu insya Allah aku siap bantu sampai semuanya selesai dan ada kepastian, serta aku akan berusaha menjaga keutuhan rumah tanggamu.” Kataku pada Fanani.
“Iya pak, saya janji dan saya juga sudah mendengar ucapan dari khotimah sendiri. Mulai sekarang saya tidak akan menggangu dan memberi harapan pada Khotimah lagi.” Kata Fanani.
“Ok, satu hal lagi yang kurasa kamu perlu juga tahu bahwa sebenarnya dalam waktu dekat ini Khotimah akan dilamar seseorang. Kuharap kamu bisa memahami dan jangan sampai kamu berpikir macam macam. Karena aku memutuskan untuk memberi ijin orang itu melamar setelah tahu hubunganmu dengan Khotimah yang jika diteruskan akan tidak baik. lain halnya jika kamu single, maka aku akan bilang ke orang itu jika aku akan menunggu lamaran kamu. Tapi sekarang kan ternyata tidak mungkin, makanya aku mempersilahkan orang itu untuk melamar Khotimah.” Kataku pada Fanani.
Sehingga Fanani pun tampak sedih atau bagaimana gak jelas yang jelas tampak kekecewaan diraut wajahnya. Mendengar jika Khotimah akan segera dilamar seseorang. Mungkin memang terlalu cepat baginya, tapi itu juga demi memisahkan Khotimah dan fanani agar tidak menjadi orang ketiga dalam rumah tangga Fanani. Mau dia terima atau tidak pun aku juga tiak akan peduli, yang jelas aku punya alasan mengapa memisahakan mereka dan mempersilahkan Candra untuk melamar Khotimah. Meski keputusan tetap aku serahkan pada Khotimah sendiri yang akan menjalani.
...bersambung...
Terimakasih atas dukungan dari Readers semuanya.
Komentar readers semangat Author
Author akan berusaha terus memperbaiki, bahasa retorika dan lainya.
Semoga dapat menghibur Readers semua.
...Jangan lupa dukungan berupa :...
...Like...
...Komen...
...&...
...Vote nya...
...Terimakasih...
...🙏🙏🙏...
__ADS_1
Â