
🌷🌷🌷
Reader tercinta, mohon maaf jika masih banyak typo karena Auto teks ataupun murni salah ketik.
Semoga tetap bisa menghibur.
🌷🌷🌷
Selamat membaca
...........
Episode lalu
“Itu kamu yang bilang, bukan aku yang minta sekarang rasakan ilmu kelabang Sayutoku.” Ucap Ajar Panggiring sambil mengetrapkan manteranya kemudian menyentuhkan kedua telapak tanganya kepadaku dan kepada Farhan. Sambil berteriak nyaring mengucapkan ajaianya
“Terimalah ajianku elabang Sayuto…!” teriak Ajar Panggiring.
Namun baik aku maupun Farhan tak merasakan apapun selain darii sentuhan tangan Ajar panggiring.
Aku kerjain saja ini Ajar panggiring, biar dia sadar diri sukur mau berhenti ikut memuja jin, batinku.
Kemudian aku mengedipkan mata kepada Farhan untuk member kode pura pura kesakitan. Farhan pun mengangguk tanda faham dan setuju.
Kemudian aku dan Farhan pura pura menjerit kesakitan, sampai Sena pun hampir tertipu dan mengira aku dan Farhan beneran kesakitan
“AAkkkhhhh……!” teriakan pura puraku……???
*****
Episode ini
“Ha ha ha… rasakan kesombongan kalian sendiri….!” Tawa Ajar Panggiring.
Kemudian aku menjerit makin keras dan pura pura jatuh dari posisi dudukku. Namun saat menjatuhkan diri kaki kananku menendang Ajar Panggiring hingga jatuh terjengkang. Spontan Sena dan Farhan jadi ngakak Ajar Panggiring jatuh terjengkang karena kutendang.
“AAAAkkkkhhhha ha ha ha kau tertipu Ajar Panggiring,,,,,!” kataku ikut ngakak.
Ajar Panggiring yang terjengkang berusaha bangkit dan mencoba ilnu ilmu sesat lainya, namun kami bertiga hanya membiarkan dia berbuat semau dia. Sampai akhirnya Ajar panggiring putus asa.
“Tidak tidak mungkin ilmu yang ku pelajari bertahun tahun musnah dalam sekejap.” Teriak Ajar Panggiring.
Kemudian kau dekati dan ku jitak kepala Ajar Panggiring.
Jetaak..
Suara kepala Ajar panggiring yang ku jitak keras dengan ruas sendi jariku.
“Aduuh ampuun sakit…!” kata Ajar Panggiring.
“Sakit, mau membanggakan ilmu Babi kamu lagi ?” tanyaku pada Ajar panggiring.
“Gak, aku sudah ngaku kalah ilmuku sudah musnah semua.” Jawab ajar Panggiring.
“Sudah bagus bagus jadi manusia malah pingin jadi babi, kalo gak mau dicubit ya jangan nyubit begitu saja jadi orang tuh. Gak usah sok sok an pingin bisa terbang kayak burung, pingin keras kayak batu gunung. Sekalian saja pingin gak ngerasin laper, gampang tuh makan aja semen biar perutmu gak ngerasa laper lagi…!!!” bentakku pada Ajar panggiring.
Sementara Sena dan Farhan malah senyum senyum saja mendengar aku ngomongin ajar panggiring.
“Udah masuk rumah yuk, sementara kamu saya kurung di kamar kalo kamu mau coba lari coba aja. Dengan mudah aku akan menangkapmu dan mengikatmu seperti Babi yang kamu puja puja itu.” ucapku pada Ajar Panggiring.
Kemudian kami masuk rumah, ternyata semua sudah tertidur. Alhamdulillah berarti semua tidak khawatir lagi sekarang jika aku harus keluar rumah dalam misi khusus ini.
Ajar Panggiring aku suruh masuk ke kamar dan aku jaga dari luar. Tadinya mau aku kunci tapa masak iya aku harus bukain tiap kali dia mau buang hajat.
“Terus bagaimana sekarang ini rencana untuk mencari leluhur kita sampai level 7 diatas kita ?” tanyaku pada Farhan.
“Masing masing dari kita menulis leluhur seingatnya dulu, kemudian kita bermujahadah bersama kita hadiayahkan Fatihah untuk orang tua kita kakek nenek kita dan seterusnya. Kemudian kita mohon kepada Allah agar diberi petunjuk untuk menemukan urutan leluhur kita sampai kepada yang namanya eyang Mustholih. Dari beliaulah akhirnya menurunkan anak cucu yang banyak sehingga sampai ke kita bertiga. Konon katanya putra eyang mustholih ada 11 dari du istri beliau yang bernama Siti Nurjanah dan istri keduanya Endang pertiwi ( dulu endang \= anak Begawan / pertapa ).” Kata Farhan yang tahu labih banyak dari kami berdua.
“Berarti istri kedua Eyang Mustholih itu anak seorang Pandito ( Begawan ) ?” tanyaku Heran.
“Iya, dan ceritanya sangat panjang menurut Abah Guru Armin guru ngajiku.” Ucap Farhan. Aku jadi agak sungkan dengan Farhan meski statusnya adik secara Nasab. Namun pengetahuanya jauh diatasku dalm hal Nasab, dan beberapa hal lainya.
__ADS_1
“Kok bisa beliau beristrikan anak seorang Begawan ?” tanyaku.
“Menurut Abah Guru Armin, Eyang Mustholih bersahabat baik dengan Begawan Sanjoyo yang bergelar Begawan Sardulo Seto ( Sardulo \= Macan Seto \= Putih ) meskipun mereka berbeda keyakinan. Dan Begawan Sardulo Seto mempunyai anak perempuan yang bernama Endang Pertiwi. Suatu ketika putrinya Endang Pertiwi sakit keras dan Begawan Sardulo Seto tidak bisa mengobati. Karena beliau lebih menguasai ilmu kanuragan / kesaktian.” Kata Farhan terjeda.
“Tunggu tunggu kok nama Begawan itu mirip kakek dari ibuku Kakek Jafar Sanjaya ? apa jangan jangan kakek Jafar Sanjaya adalah keturunan dari eyang Endang Pertiwi ?” tanyaku penasaran.
“Ya memang begitu ceritanya, tapi tugas kita adalah mencari urutan yang hilang dari kakek kakek kita sampai dengan Eyang Mustholih itu.” jawab Farhan.
“Terus ceritanya bagaimana sampai Eyang Mustholih bisa menikahi Endang Pertiwi yang berbeda keyakinan itu ?” Tanya Sena ikut penasaran juga rupanya, batinku.
Dalam hal ini Farhan lah yang menjadi nara sumber karena dia yang lebih banyak mengetahui sejarah dan silsilah keluarga besar kami.
“Karena Begawan Sardulo Seto tidak begitu mengetahui ilmu pengobatan maka putrinya Endang Pertiwi diserahkan ke Eyang mustholih untuk di obati. Awalnya eyang Mustholih menolak secara halus dengan mengatakan. Meski kita sahabat baik akan tetapi dalam hal keyakinan kita berbeda, aku takut jika sampai menyinggung perasaanmu. Karena aku punya keyakinan dan syariat yang berbeda denganmu. Tapi Begawan Sardulo Seto yang sangat mencintai putrinya itu tetap ngotot dan memaksa eyang Mustholih merawat anaknya.” Jelas Farhan.
“Lah terus bagaimana cerita selanjutnya kok bisa jadi istri eyang Mustholih, tentunya kan usianya terpaut jauh, karena dia Putri dari sahabatnya. Bisa dibilang Endang Pertiwi itu kan lebih pantas jadi anaknya ?” tanyaku penasaran atau kepo tingkat dewa istilah sekarang.
“Itulah rahasia Allah, meskipun usia beliau berdua terpaut sekitar 20 than lebih. Setelah tinggal di padepokan ( Pesantren ) eyang Mustholih. Endang Pertiwi yang pada waktu itu sakit keras dan tidak bisa apa apa. Dirawat oleh santri santri eyang Mustholih yang putri. Dari soal makan tiap hari di suapin, mandi bahkan sampai buang hajat pun di urusin oleh para santri putri. Eyang Mustholih sendiri hanya membacakan doa untuk kesembuhan Endang pertiwi, dan ditiupkan ke air yang setiap hari di pakai untuk mengusap wajah dan tubuh Endang pertiwi. Yang dilakukan oleh santri putri kadang juga oleh eyang putri Siti Nurjanah.” Jelas Farhan.
“Wah berarti Eyang Putri masih hidup saat eyang Mustholih menikahi Endang Pertiwi ?” tanyaku.
“Hussh itu leluhur kita mas, jangan asal sebut nama gak Sopan.” Ucap Sena.
Aku juga baru sadar jika aku berlaku gak sopan. Tapi untuk menutupi rasa malu ku aku masih berdalih.
“Kan ceritanya belum jadi istri eyang Mustholih, kalo ceritanya udah jadi istri eyang Mustholih baru jadi eyang kita juga.” Kataku asal ngomng sebenarnya.
“Ya gak gitu juga dong mask an udah tahu kalo akhirnya jadi istri eyang mustholih dan menurunkan Kakek Jafar Sanjaya kakek mas dari ibu mas !” sanggah Farhan.
“Iya maaf, maaf Eyang putri Endang Pertiwi gak sengaja.” Jawabku dari pada ceritanya gak dilanjutin.
“Terus bagaimana setelah itu ?” Tanya Sena yang jiwa keponya juga sudah menjangkit.
“Baiklah aku lanjutkan sampai akhir, mohon kalian sabar mendengarkan ceritaku yang panjang ini.” ucap Farhan.
Kemudian Farhan mulai bercerita :
“Beberapa bulan kemudian Eyang Endang Pertiwi sudah bisa berjalan dan beraktifitas seperti biasa. Beliau sudah sembuh total. Namun beliau tidak mau pulang, bahkan oleh Eyang Mustholih ketika diberi ruangan khusus untuk ibadah sesuai keyakinan orang tuanya. Beliau menolak dan lebih suka mengikuti santri santri putri ikut mendengarkan ngaji. Meskipun beliau belum mengucap Syahadat waktu itu.
Eyang Mustholih kemudian menemui Begawan Sardulo Seto dan member tahu jika putrinya Endang Pertiwi sudah sehat dan dipersilahkan untuk dibawa pulang kembali. Namun saat Begawan Sardulo Seto menjemput Eyang Endang Pertiwi, eyang Endang Pertiwi menolak bahkan menyatakan sikapnya untuk mengikuti ajaran Eyang Mustholih.
Begawan Sardulo Seto pun tampak murung sejenak, kemudian beliau pun minta waktu dan tempat untuk bermeditasi sejenak. Kemudian ditunjukkan tempat yang tadinya dipersiapkan untuk eyang Endang Pertiwi jika hendak melakukan ritual sesuai keyakinannya.
Dan Begawan Sardulo Seto bertanya kepada eyang Mustholih, ini ruangan siapa kok nuansanya seperti tempat ibadahku, kemudian Eyang Mustholih menjelaskan jika itu dipersiapkan untuk eyang Endang Pertiwi ketika sudah mulai bisa jalan.
Kemudian Begawan Sardulo Seto masuk ke ruangan itu dan melakukan meditasi dan ritual sesuai keyakinannya disitu. Setelah beberapa saat melakukan ritual kemudian Begawan Sardulo Seto keluar menemui eyang Mustholih lagi.
Beliau berkata kepada eyang Mustholih, “ saudaraku Mustho ( panggilan Begawan Sardulo Seto kepada eyang Mustholih ) aku relakan anakku mengikuti ajaranmu. Karena itu muncul dari hati dia sendiri, aku tahu kamu tidak pernah memaksakan ajaran kamu ke anakku. Maka aku serahkan anakku kepadamu seutuhnya saat ini.” kata Begawan Sardulo Seto.
Tiba tiba eyang Endang Pertiwi mengajukan satu permintaan lagi kepada Ayahandanya.
“Ampun Romo Begawan, sejujurnya Pertiwi sudah bersumpah saat sakit dulu Romo.” Ucap eyang Endang pertiwi.
“Apa sumpahmu nduk anakku, katakana saja Romomu ini siap mendengarkan.” Jawab Begawan Sardulo Seto.
“Ampun Romo, Pertiwi sudah bersumpah apa Romo lupa ketika Pertiwi mengucapkan sumpah di depan Romo waktu itu. ketika pertiwi tidak dapat bangkit dari pembaringan berhari hari.” Ucap Eyang Endang Pertiwi.
Begawan Sardulo Seto tampak merenung sejenak, tampak keraguan memancar dari wajahnya.
“Anak ku Nduk Endang Pertiwi, Romo masih ingat Sumpah kamu itu. namun kamu tahu sendiri jika sumpahmu itu menyangkut orang lain juga. Jadi Romo tidak bisa membantumu, kecuali sahabatku Mustho sendiri yang bisa mengabulkan permintaan kamu.” Jawab Begawan Sardulo Seto.
Suasana saat itu menjadi hening, baik eyang Endang Pertiwi maupun Begawan Sardulo Seto tidak bisa berkata kata apapun.
“Ada apa wahai saudaraku, kenapa kalian menjadi diam dan tadi menyebut nyebut namaku ?” Tanya Eyang Mustholih.
Begawan Sardulo Seto tampak menitikkan air matanya,membuat Eyang Mustholih pun menjadi iba.
“Katakanlah wahai saudaraku, jika aku mampu membantu pasti aku akan membantumu.” Ucap Eyang Mustholih.
“Berat bagiku untuk mengatakannya, karena bisa jadi ini nanti menyinggung perasaan keluarga kamu Mustho ?” jawab Begawan Sardulo Seto.
“Seberat apapun katakanlah, kita ini hanya ‘titah sak lumrah sik butuh pitulungan sepodo podo’ ( kita ini hanya manusia biasa yang membutuhkan pertongan orang lain.) “ ucap Eyang Mustholih.
__ADS_1
“Waleh waleh opo, sejatine anakku Pertiwi nate kaul ( arab Qoul \= mengucap \= maksutnya bersumpah ) yen to ono sik iso namabani larane, yen wadon bakal dianggep kadang sinorowedi. Yen kakung bakal disuwitani tekaning pati.” Jawab Begawan Sardulo Seto.
(Jujur saja, sebenarnya anakku Pertiwi < Nama Aslinya sedangkan Endang adalah julukan karena anak seorang Begawan \= Endang > pernah bersumpah kalo ada yang bisa menyembuhkan dia, jika perempuan akan dianggap saudara dekat. Dan jika lelaki maka akan dijadikan suaminya.)
Jelas saja semua menjadi kaget dengan pernyataan itu namun tidak bagi Eyang Endang Pertiwi. Beliau malah menambahkan keterangan dari ayahandanya.
“Ampun bopo ( panggilan kepada EYang Mustholih ) Pertiwi tidak bermaksut merusak rumah tangga bopo dengan ibu Nurjanah. Ibarat Pertiwi hanya dijadikan pembantu pun pertiwi siap, asalkan dijinkan mengabdi di keluarga ini. karena itu sudah merupakan sumpah seorang anak Begawan. Ibarat pepatah ‘Sabdo Pandito Ratu’ ucapan seorang anak Begawan tidak boleh ditarik ulang apapun resikonya harus di terima. Keculai jika memang permintaan Pertiwi ini di tolak maka biarkan Pertiwi kembali menderita lumpuh seperti kemarin. Agar tidak terkena karma sampai keanak cucu pertiwi nanti.” Ucap Eyang Endang pertiwi saat itu yang masih dengan keyakinan lama nya.
“Aduh Nduk, ojo koyo ngono Romo ora tego ndeleng awakmu oro.“ kata Begawan Sardulo Seto Sedih.
(Aduh nak, jangan begitu bapak tidak tega melihat kamu sakit.)
“Pertiwi bocah ayu, bopo duwe anak lanang kang wus dewoso, saumpomo sliramu tak dadekke mantuku wae piye ?” Tanya Eyang Mustholih.
(Pertiwi anak Yang cantik, bapak punya anak lelaki yang sudah dewasa. Seandainya kamu kujadikan menantuku saja bagaimana )
“Pangapunten Bopo, Pertiwi puniko putro Pandito menopo ingkang sampun dipun ucap boten kepareng dipun blenjani.” Jawab Eyang Pertiwi.
(Maaf Bopo, Pertiwi itu anak Begawan yang sudah diucapkan tidak boleh di ingkari)
Semua menjadi bingung dengan tekat dan keinginan Eyang Endang Pertiwi. Sampai Eyang Siti Nurjanah ikut berbicara.
“Anakku Endang Pertiwi, ibu ora kabotan saumpomo sliramu bakal melu suwito karo garwaku. Ananging opo sliramu uwis menggalihake kanti wening yen sliramu isih mudo okeh poro ksatriyo kang karep mengku kalawan sliramu.” Ucap Eyang Siti Nurjanah.
(Anakku Endang Pertiwi, ibu tidak keberatan seandainya kamu ingin jadi istri suamiku, akan tetapi apa sudah kamu pikir masak masak dengan pikiran jernih jika kamu itu masih muda banyak perjaka yang hendak meminang kamu )
“Sampun ibu, Pertiwi boten bade kuciwo lan boten bade nguciwaaken bopo kaliyan ibu. Pertiwi naming gadah pangajab suwito kaliyan bopo suwargo nunut neroko katut.” Jawab Eyang Endang Pertiwi.
(Sudah ibu, Pertiwi tidak akan kecewa dan tidak akan mengecewakan bapak dan ibu. Pertiwi hanya punya satu keinginan mengabdi kepada bapak dan ibu ke surge ikut keneraka juga terbawa.)
“Yaudah kalo begitu nunggu apa lagi, saat ini juga kamu Ucapkan kalimat Syahadat dan menikahlah dengan suamiku. Biar aku cari orang yang akan menikahkan.” Kata Eyang Siti Nurjanah waktu itu entah dengan perasaan seperti apa.
“ Tapi yang jelas akhirnya Eyang Endang pertiwi resmi dinikahi oleh Eyang Mustholih dan melahirkan tiga orang anak. Zaid, Husein dan Abu bakar. Dari eyang Zaid menurunkan Kakek Sidiq Ali dari Eyag Husein Menurunkan kakek Jafar dari Kakek Abu Bakar menurunkan Yuyut siti Aminah. Hanya garis keturunan penghubungnya itu yang harus kita cari sekarang.
Begitulah Akhir cerita yang disampaikan oleh Farhan terkait silsilah yang terputus itu, kami bertiga lah yang diberi kewajiban Tugas untuk menghubungkan tali garis keturunan tersebut. Agar dapat menyempurnakan dalam berdoa mengirim leluhur kami.
*****
“Aku gak nyangka sama sekali kalo kita ini ternyata berasal dari satu garis keturunan.”Komentarku.
“Tapi bagaimana cara kita mencari saudara saudara kita yang mungkin sudah tercerai berai itu ?” Tanya Sena.
“Tunggu, orang dulu itu biasanya melakukan perkawinan saudara. Misalnya seperti kita aku punya anak Cowok sena punya Anak Yasin karena anak anak kita bukan mahrom kemudian dinikahkan. Artinya gak terlalu sulit jiak kita mau berusaha mencari garis keturunan kita. Dan menurut aku ini bukan sekedar tugas mencari garis nasab saja. Akan tetapi ini ada hubunganya dengan penyelesaian masalah yang kita hadapi. Karena kita harus mencari Gong Simo ludro untuk menghadapi musuh terbesar kita nanti. Sedangkan yang kita hadapi sekarang ini belumlah seberapa meski itupun sudah menyulitkan kita.” Kataku pada Sena dan Farhan.
“Siapa musuh terkuat nanti mas ?” Tanya Farhan.
“Dia bukan dari golongan manusia tapi Jin yang mempunyai ribuan atau bahkan puluhan ribu pengikut dan pemuja. Sehingga kesaktianya sangat besar, namanya dalan Anyi anyi, dia disertai sosok Tujuh Naga dan Tujuh Harimau. Aku sekali mimpi bertemu denganya dan berhadapan denganya, yang sakitnya terasa meski sampai bangun tidur sekalipun.” Kataku kemudian.
“Tujuh Naga dan Tujuh Harimau….???” Tanya Sena dan Farhan berbarengan.
...bersambung...
Terimakasih atas dukungan dari Readers semuanya.
Komentar readers semangat Author
Author akan berusaha terus memperbaiki, bahasa retorika dan lainya.
Semoga dapat menghibur Readers semua.
...Jangan lupa dukungan berupa :...
...Like...
...Komen...
...&...
...Vote nya...
...Terimakasih...
__ADS_1
...🙏🙏🙏...