Isyaroh

Isyaroh
Bentrokakan fisik Maheso Suro


__ADS_3

Seiring berjalanya waku


Tanpa terasa Ramadhan sudah masuk sepertiga akhir.


Author mengucapkan


Selamat menjalankanrangkaian ibadah bulan Ramadhan


Bagi yang menjalankanya.


Bagi yang biasa melakukan I’tikaf


Di sepertiga akhir Ramadhan


Selamat ber I’tikaf


Doakan bngsa kita ini segra terlepas dari Covid 19.


Agar kehidupan kembali normal.


……………….


Next Episode


Author POV


Begitulah saat saat perpisahan Yasin dengan keluarga Samsudin juga Sidiq anaknya. Suasana penuh haru itu membuat Yasin dan semuanya menjadi sedikit lengah, sehingga ada sepasang mata yang mengawasi mereka dari kejauhan tidak mereka sadari.


“Kurang ajar, rupanya mereka merubah jadwal keberangkatanya jadi mala mini, aku harus lapor sekarang.” Bisik orang itu.


Orang yang mengawasi itu yang tak lain adalah ayahnya Rendy, yang lepas dari pengamatan karena orang berpikir dia adalah saudara ipar dari Yasin.


Memang akan selalu ada pengkhianatan dalam sebuah perjuangan, namun perjuangan yang tulus akan selalu membuahkan hasil. Meski terkadang juga harus menimbulkan korban, namun bukanlah korban yang sia sia tentunya.


Ayahnya Rendy mencoba menghubungi dammar, namun untungnya hp Damar tidak aktif. Sehingga saat mengirim pesan pun tidak dapat masuk dan terbaca.


“Wah si Damar pasti lagi ngamar, ketagihan sama sinden tengil itu.” Umpat ayahnya rendy.


Berkali kali mencoba menghubungi Damar sampai dengan menelpon no selulernya pun tetap tidak dapat tersambung. Akhirnya ayahnya Rendy memilih untuk pulang terlebih dahulu. Untuk menunggu Hp Damar aktif, atau mencari cara lain.


Saat itu barulah selesai solat Isya, masih cukup sore dan seb


Gian warga masih ada yang beraktifitas diluar rumah.


Saat ayahnya Rendy berjalan sempat berpapasan dengan beberapa orang.


“Dari mana pak Saputro “ sapa warga yang berpapasan dengan ayahnya Rendy.


“Aah gak dari mana mana Cuma jalan jalan saja kok.” Jawabnya tampak gugup.


Ada sebagian warga yang merasa curiga dengan apa yang dilakukan ayahnya rendy, yang tiba tiba muncul dari arah rumah Yasin. Padahal mereka tahu tidak biasanya atau bahkan tidak mungkin Saputro ayahnya Rendy mengunjungi Yasin.


“Aneh, mencurigakan dari mana dia kok muncul dari jalan ini. Padahal ini kan akses jalan menju rumahnya pak Yasin.” Komentar seorang pemuda.


“Dri rumah pak Yasin mungkin.” Jawab satunya.


“kayak gak ngerti aja hubungan mereka, gak mungkin dia kerumah pak Yasin.” Jawab orang pertama.


“Gak ada yang gak mungkin kan, bisa saja mereka sudah baikan atau minimal hubunganya sudah membaik sekarang ini.” Sahut pemuda satunya.


“Udah lah bukan urusan kita juga ini.” Jawab pemuda yang lain lagi.


“kita bilang ke Amir saja besuk, sapa tahu amir disana mungkin bisa tahu ayahnya Rendi dari sana apa gak ?”


“Yaudah besuk kita Tanya saja ke Amir.” Jawab lainya.


“Jam segini bukanya baru pada mujahadh biasanya.” Kata seorang pemuda.


“Iya ya,, kan kamu juga biasanya juga ikut kesana ?”


“Sejak ada kejadian kejadian Aneh itu, untuk warga mujahadahnya diliburkan dulu. Apa lagi disana penuh orang.” Jawab pemuda yang biasa ikut mujahadah itu.


“Owh, iya kudenger pak Yasinya kemarin juga sempat kena tembak ya ?” Tanya salah satunya.


Sampai dengan pukul 20.15 para pemuda itu jalan keliling kampong untuk sekedar berjaga jaga mengantisi pasi perbuatan jahat.


...*****...


Dirumah Yasin


Pelaksanaan mujahadah dilangsungkan setelah rombongan Samsudin pergi meningalkan rumah Yaasin. Untuk menuju ke tempat atau pondoknya kang Salim.


Setelah mujahadah selesai dan disitu pak Yadi pun ikut bermujahadah, pak Yadi Rofiq dan Yasin pun kemudian melanjutkan dengan obrolan.


“Ini rombongan bu Arum sudah dalam perjalanan, dan sampai saat ini kondisi aman. Setiap satu jam mereka saya minta melaporkan perkembangan hingga dipastikan sampai ditujuan dengan aman.” Kata pak Yadi membuka pembicaraan.


Mudah mudahan saja dengan keberangkatan mereka yang diajukan musuh tak sempat mengetahui pak.” Kataku mengomentari pak Yadi.


“Kamu tahu dari mana Zain jika musuh tahu rencana Arum akan ppergi ?” Tanya Rofiq.


Aku merasa tak perlu membuka aib keluargaku yakni ayahnya Rendy yang justru berpihak ke musuh untuk menjebakku.


“Dari feeling saja bang, karena mereka selalu menyebar mata mata yang menghalalkan berbagai macam cara pasti akan dilakukan.” Jawabku pada Rofiq.


“Mereka memang memiliki jaringan yang kuat pak Rofiq. Yang senantiasa bergerak sembunyi sembunyi dan melakukan tindakan apapun demi tercapainya tujuan.” Sambung pak Yadi.


“Apakah ada orang dikampung ini yang menjadi kaki tangan mereka ?” Tanya Rofiq kemudian.


“Yah bisa jadi begitu, bisa jadi juga memasang orang lain dikampung ini atau memanfaatkan informasi warga melalui pembicaraan warga kampong yang biasa membicarakan apapun yang terjadi.” Jawabku.


“Bisa juga sih, kebiasaan masarakat membahas sesuatu itu dijadikan sumber informasi.” Kata Rofiq.


“Sekarang yang harus kita lakukan adalah selalu waspada, semua rencana kita hanya kita yang boleh tahu.” Jelas pak Yadi.


“Betul pak, bukan curiga tapi kadang orang tanpa sengaja membicarakan hal sebenarnya tidak perlu dibicarakan sehingga berita begitu cepat menyebar.” Sahutku.


“Mala mini kita harus selalu stay agar tahu perkembangan rombongan yang berangkat sampai mereka sampai ke tujuan.” Kata Rofiq.


“Kalo mereka terus berjalan tanpa berhenti, seharusnya sekitar subuh sudah sampai daerahnya kang Salim. Hanya saja perjalanan menuju ke pondoknya membutuhkan waktu juga.makanya tadi saya sampaikan untuk mengabari kang Salim agar mereka di jemput oleh santri santri kepercayaan yang cukup memiliki kemampuan olah kanuragan.” Kataku.


“Yah mudah mudahan semua berjalan sesuai rencana, tentunya jika sudah sampai sana mereka akan aman didalam pengawasan senior pak Yasin.” Kata pak Yadi.


“Aamiin.” Jawabku dan Rofiq bersamaan.


Kami hening sejenak masing masing sibuk dengan lamunanya masing masing.

__ADS_1


“Ada baiknya kita bergantian keliling rumah pak, siapa tahu mereka masih melakukan tindakan terror disaat kita lengah sedikit.” Kata pak Yadi.


Belum sempat aku dan Rofiq menjawab, tiba tiba Fanani masuk dan mengabarkan bahwa ada yang mencari aku.


“Pak Yasin, ada pemuda sini bernama Amir mencari bapak. Yang biasa ikut bantu bantu disini itu pak.” Kata Fanani.


“Owh ya biarkan dia masuk kesini,barang kali ada info penting yang akan dia sampaikan.” Jawabku.


Kemudian setelah Fanani keluar Amir masuk.


“Assalaamu ‘alaikum pak.” Salam sapa dari Amir.


“Wa’alaikummussalaam, ada apa Amir malam malam kok kesini ?” tanyaku.


“Maaf pak, tadi adaa yang bilang ke Amir katanya bertemu dengan pak Saputro ayahnya Rendy. Kata temen temen dari arah rumah bapak, apakah benar tadi pak Saputro kesini ?” Tanya Amir.


Kami terdiam semuanya, karena tidak ada satu orangpun yang datang kerumah ini semenjak pak Yadi dan temenya datang tadi.


“Kayaknya gak ada orang yang datang kesini dari tadi.” Jawabku.


Keterangan Amir membuat kami terdiam menduga duga kemungkinan kemungkinan yang terjadi.


“Maaf pak, apa hubungan bapak dengan ipar bapak kurang harmonis ?” Tanya pak Yadi.


“Ya seperti yang bapak pernah dengar ketika saya disidang Tokoh Masyarakat dulu itu pak.” Jawabku.


Mau gak mau ketidak cocokan aku dengan ayahnya Rendy harus doketahui orang lain. Yaah bagaiman lagi, bukan bermaksut membuka aib saudara tapi karena ini berhubungan dengan kasus yang tengah diselidiki dan menimpa keluarga besarku.


“Wah agak terlambat sebenarnya pak saya tahu, sehingga yang bersangkutan lepas dari pengamatan. Kami mengira masalah yang dulu hanya sebatas kesalah fahaman keluarga saja. Rupanya ada permasalahan lain yang mungkin jadi pemicunya.” Komentar pak Yadi.


“Apa yang tadi siang kesini itu anaknya orang yang dimaksut  Zain ?” Tanya Rofiq.


Dengan terpaksa aku harus menjawabnya.


“Ya, gak salah lagi memang dia bang !” jawabku.


“Lah kalo itu orangnya, kan memang dari dulu tapi aku belum hafal betul orangnya. Meski mungkin juga pernah bertemu.” Jawab Rofiq.


“Sudahlah, dan soal anaknya yang tadi siang kesini, mungkin juga dia gak menyadari jika hanya diperalat oleh bapaknya.” Kataku.


“Ah sampai lupa, mari pak Rofiq kita lihat keadaan diluar dulu sapa tahu ada hal hal yang bisa jadi petunjuk. Biar mas Amir dan pak Yasin ngobrol dirumah dulu.” Ajak pak Yadi kepada Rofiq.


Setelah pak Yadi dan Rofiq keluar tiba tiba Fatimah datang.


“Loh ada tamu kok gak bilang bilang mas, baru mau nawarin dibuatin kopi gak.” Ucap Fatimah.


“Gk usah bu, Amir brusan minum tadi.” Kata Amir.


“Gak usah ditawarin, langsung buatin saja. Dan kamu Amir, kamu tidur disini saja malam ini. Dan mulai besuk lanjutkan lagi graftingnya.” Kataku pada Amir.


“Iya pak, sebenarnya saya kesini disuruh ibu juga untuk memberikan uang setoran kios. Sudah numpuk banyak soalnya.” Kata Amir.


Aku sampai lupa jika memiliki kios yang di kelola ibunya Amir selama ada masalah ini. Juga lupa belum memberikan upahnya untuk bulan ini. Amir menyerahkan amplop berisi sejumlah uang berikut rinciannya. Meski catatan sederhana tapi aku bisa maksut dengan pembukuan sederhana yang dibuat oleh ibunya Amir.


“Aduh maaf ya Mir, sampaikan ke ibumu aku sampai lupa memberikan hak nya ibumu. Dan ibumu juga belum mengambil hak dia nih. Nanti kamu aja yang bawa ya.” Kkataku pada Amir. Kemudian kebelakang menyerahkan uang itu ke istriku. Sekalian aku pesan untuk mengambil sebagian dan diserahkan pada Amir agar disampaikan ke ibunya.


“Yang bulan ini belum mas kasih ibunya Amir ?” Tanya Fatimah.


“Ya belum aku bahkan sampai lupa kalo ada kios dipasar yang dikelola ibunya Amir.” Kataku.


“Jadi yang bulan ini dikasih sekalian untuk 4 minggu mas ?” Tanya istriku.


“Yaudah nanti Fatimah, siapin dulu sekalian bawa kopi kedepan.” Jawab Fatimah.


Kemudian aku kembali menemui Amir.


“Ibumu sehat sehat saja kan Mir, aku bener bener lupa soal kios iyu.” Kataku.


“Alhamdulillah ibu sehat kok pak ?” jawab Amir.


Sesaat kemudian Fatimah datang membawa kopi beberapa gelas.


“kopi dulu Mir, ini yang punya mas Yasin gak pakai gula.” Kata Fatimah menyisihkan kopi khusus buatku.


Kemudian Fatimah duduk disampingku dan ikut ngobrol sebentar.


“Maafin kami ya Amir, kemarin karena kesibukan kami sampai lupa memberikan hak kepada ibu kamu. Jadi ini kami berikan sekalian untuk bulan ini sekalian.” Kata Fatimah.


“gak papa bu, ibu sangat memahami keadaan bapak dan ibu disini.” Jawab Amir.


Kemudian Fatimah menyerahkan amplop kepada Amir hak ibunya yang telah menjalankan kios milik Fatimah.


 “Sambil diminum kopinya Mir.” Kataku.


“Ya pak, makasih.” Jawab Amir.


“Lah ini pak Yadi sama mas Rofiq kemana mas kayaknya tadi ikut ngobrol disini ?” tanya Fatimah.


“Baru keliling rumah sebentar kataku, Isti dan Khotimah lagi ngapain ?” tanyaku ke Fatimah.


“Khotimah lagi ngaji sama Isti, belajar tentang kitab fiqih dan masalah darah serta istihadhoh ( darah kotor ).”  jawab Fatimah istriku.


“mang gak pernah kamu ajarin dia ?” tanyaku.


“Malu kalo sama saudara sendiri, biar sama Isti saja.” Jawab Fatimah.


“Owh gitu, ya gak papa buat kegiatan isti juga biar ilmu yang didapat bisa ditularkan.” Kataku.


“Udah dari beberapa hari yang lalu mas, bahkan Arum juga kemarin tiap habis mujahadah juga ikut.” Kata Fatimah.


“Sukurlah, semoga itu jadi lahan ibadahnya Isti juga bermanfaat bagi Khotimah dan Arum.” Jawabku.


“Yaudah Fatimah mau lihat Isti dan Khotimah dulu, sapa tahu dah pada selesai ngajinya. Kasihan ibunya Isti juga sendirian dikamar, kalo isti kelamaan.” Kata Fatimah.


Fatimah segera meninggalkan aku dan Amir. Menuju ke kamar Khotimah yang sedang belajar mengaji kepada Isti.


Pas Fatimah mauk datanglah pak Yadi dan Rofiq yang baru saja keliling rumah.


“Wah pas kopinya udah datang nih, mari pak Yadi dan bang Rofiq takut keburu dingin.” Kataku.


“ Makasih sekali pak, kebetulan udara juga cukup dingin mala mini.” Kata pak Yadi.


 “Gimana pak. Apakah aman aman saja mala mini ?” tanyaku pada pak Yadi.


“sejauh ini tidak ada yang mencurigakan, tapi kita tetap harus waspada. Pertama memantau rombongan yang baru dalam perjalanan. Yang kedua antisipasi adanya tindakan terror dari musuh.” Kata pak Yadi.

__ADS_1


“Iya pak, mohon maaf apakah pak Yadi mala mini bisa bermalam disini sekalian. Biar kita sama sama bisa memantau rombongan yang dalam perjalanan.?” Tanyaku.


“Bisa pak, saya juga sudah ijin jika besuk kekantor siang, karena mala mini sedang dalam pemantaun sampai rombongan dipastikan selamat sampai tujuan.” Jawab pak yadi.


“Wah terimakasih banyak pak, saya lebih tenang kalo begitu.” Jawabku.


Malam itu kami mengobrol sambil memantau perjalanan rombongan Arum dan lainya. Ternyata mobil yang dipakai berangkat sudah dilengkapi gps sehingga bisa dipantau dari hp oleh pak yadi pergerakan mereka. Disamping juga kontak via chat.


Hal yang sebelumnya tidak terpikirkan olehku sama sekali, sehingga sedikit menambah rasa tenang dihatiku. Sebuah perkembangan tehnologi yang positif dan sangat bermanfaat,pikirku.


“Jadi mereka bisa dipantau begitu ya pak ?” tanyaku.


“Iya pak, makanya selain dengan kendarran pribadi lebih aman juga bisa kita pantau seperti ini.” Jawab pak Yadi.


Kami mengobrol semalam suntuk sambil memantau dan menunggu informasi lewat chat dari anggota rombongan Arum dan lainya.


...*****...


... ...


Di rumah ayah Rendi ( Saputro  )


Author POV


“Sialan kena tipu mentah mentah nih, ternyata mereka berangkat hari ini juga. Kenapa Rendy tadi bilangnya besok ?” pikir ayah Rendy.


“Tapi kenapa kayak perjalananya jauh begitu, dan banyak orang yang ikut. Apa mereka mau pergi kesuatu tempat dulu dan besuk pagi Sidiq dan ibunya  baru akan pulang. Ini gara gara Rendy gak valid infonya.” Kata ayahnya Rendy dalam hati.


Sambil berjalan Saputro ayah rendy bergumam dalam hati mengomel karena meras terpedaya. Sampai dirumah ayahnya Rendy langsung merabahkan dirinya dikursi tampu.


“Dari mana pak ?” Tanya Rendy  


“Cari angin saja keluar rumah.” Jawab ayahnya Rendy.


“Rendy mau kepos Ronda dulu pak.” Pamit Rendy keluar rumah.


“Hmm…” hanya itu jawaban ayahnya Rendy yang sibuk memikirkan harus bagaimana.


Beberapa saat ayahnya Rendy merenung memikirkan langkah apa yang harus diambil. Sementara no Damar belum juga aktif.


“Pak, uang belanja udah habis, buat bekanja besuk sudah gak ada !” kata ibu tiri Rendy.


“Ya ntar aku cari duit dulu.” Jawab ayahnya Rendy dengan muka ditekuk. Istrinya atau ibu tiri Rendy hanya diam saja kalo suaminya sudah melipat wajahnya seperti itu. Kasihan juga sih ibu tirinya Rendy ini, dapat suami yang tidak tanggung jawab hanya memikirkan kesenanganya sendiri. Lebih kasihan lagi sampai sekarang belum mendapat keturnuan juga. Tapi semua sudah terlambat, dulu terpikat olleh ayahnya Rendy yang katanya punya bisnis diluar kota, padahal Cuma berjudi kerjaanya.


“Mau minum gak pak, kalo bisa cari kerjaan yang pasti saja lah pak. Gak usah mimpi terlalu tinggi.” Ucap ibu tiri Rendy pada suaminya. Namun justru dampratan yang dia dapatkan.


“Gak usah cerewet kamu, perempuan tahu apa ?” ucap ayah Rendy.


Akhirnya ibu tiri Rendy hanya diam dan meninggalkan suaminya sendirian.


Ayah rendy kembali mencoba menghubungi Damar kembali. Dn kali ini sudah bisa tersambung hp Damar sudah aktif.


“Ngapain aja dari tadi dihubungi gk aktif. Cepet baca pesanku dan segera kemari.” Ucap ayahnya Rendy pada Damar.


“Tadi baru rapat besar bro, ok aku baca dulu.” Kata Damar.


Begitu membaca pesan dari ayahnya Rendy Damar langsung melaporkan kepada Ajar panggiring. Tidak berani langsung kepada Maheso Suro.


“Gawat ki, ternyata Sidiq berangkat malam ini tidak jadi besuk pagi !” kata Damar yang membuat heboh semuanya.


Begitu Maheso Suro dengar dia langsung meminta semua anak buahnya malam itu juga menyerbu ke rumahnya Arum (Pak lek nya Arum ? Pak Sastro ) untuk mengambil paksa Sidiq baik dengan cara halus maupun kasar. Karena mereka sudah mengenal pak Sastro yang dulu juga ikut diundang bergabung namun tidak mau hadir.


Dan mereka akhirnya tahu bahwa ibunya Sidiq adalah keponakan pak Sastro setelah posisi Arum tinggal dirumah Yasin. Oleh karena itu mereka berprinsip jika pak Sastro menghalangi maksut mereka maka pak Sastro dianggap berpihak pada lawan dan kalo perlu harus dihabisi sekalian.


Malam itu juga mereka berangkat menuju kerumah pak Sastro karena mengira rombongan Arum menuju kerumah pak Sastro.


Dengan personil yang komplit mereka menuju kerumah pak Sastro malam itu juga.


Sementara pak Sastro pak leknya Arum tidak merasakan sedikitpun jika dirinya dalam bahaya karena menjadi target alternative. Karena Arum dan Sidiq ada dirumahnya.


Singkat cerita sampailah mereka dirumah pak Sastro, tanpa sopan santun langsung masuk kerumah pak Sastro dan langsung dipimpin oleh Maheso Suro.


“Dimana ponakan kamu dan cucu ponakan kamu ?” bentak Maheso suro kepada pak Sastro.


Pak Sastro yang merasa tidak dihargai sebagai tuan rumah tersinggung dan balas membentak Maheso Suro.


”Kamu ini siapa, gak ada adab sama sekali masuk rumah orang tanpa permisoi dan datang datang main bentak !” kata pak Sastro lantang tanpa rasa Takut.


“Sabar mbah Sastro, beliau ini ki Ageng Mheso Suro pimpinan kami.”kata Damar mencoba meredakan suasana. Karena Damar juga mengenal pak Sastro meski juga jadi anggota / anak buah Maheso Suro.


“Kamu gak usah ikut campur Damar, dan kenapa sekarang kamu ikutan rombongan orang orang tak punya adab ini ?” kata pak Sastro kepada Damar. Membuat Maheso Suro tersinggung dengan ucapanya.


“Sekali lagi kamu bicara, aku pecahkan kepalamu Sastro !” bentak Maheso Suro.


Ajar panggiring yang melihat gelagat tidak baik itu mendekati Maheso Suro.


“Jangan diapa apakan sebelum mendapat keterangan dimana ibu dan anak itu disembunyikan.” Bisik Ajar panggiring.


Ucapan Ajar Panggiring cukup meredakan emosi Mahesso Suro, karena tujuan mereka memang bukan untuk memusuhi pak Sastro. Tapi untuk mencari Sidiq anak Arum.


“Hmm baiklah, kamu katakana saja dimana ponakan dan cucu ponakanmu. Setelah itu kami pergi gak akan bikin urusan denganmu lagi.” Kata Maheso Suro.


“Ciih mulutmu kalo ngomong gak bisa diatur. Mau datang dn pergi begitu saja. Kamu pikir bisa seenaknya begitu.” Ucap pak Sastro yang merasa tersinggung dengan sikap Maheso Suro yang merendahkanya. Sehingga maheso Suro pun kehilangan kesabaran dan dengan segenap kemampuan lahir dan batinya, Maheso suro menghantam tubuh pak Sastro hingga pak Sastro jatuh terpental dan menimbulkan kegaduhan dirumah itu.


...bersambung...


Terimakasih atas dukungan dari Readers semuanya.


Komentar readers semangat Author


Author akan berusaha terus memperbaiki, bahasa retorika dan lainya.


Semoga dapat menghibur Readers semua.


...Jangan lupa dukungan berupa :...


...Like...


...Komen...


...&...


...Vote nya...


...Terimakasih...

__ADS_1


...🙏🙏🙏...


    


__ADS_2