
Apa yang sebenarnya terjadi dengan adikku itu ?” Tanya bapaknya Candra to the point.
“Maaf pak, saya belum bisa matur. Tapi intinya kita semua harus terus berharap namun jangan meninggalkan tawakal kita pada Allah. Saya tidak bisa matur lebih banyak lagi.’ Kataku pada bapaknya Candra.
Bapaknya Candra hanya terdiam sementara kondisi pak Sastro yang secara fisik /Medis sudah baik tapi justru menunjukkan gejala gejala memburuk. Bicaranya semakin ngelantur, kadang lupa siapa dirinya bahkan kadang mengaku dirinya adalah penguasa sebuah wilayah ghoib dan sebagainya.
Aku mencoba untuk menenangkan dan mengingatkan pak Sastro agar selalu menyebut asma Allah.
Dan pak sastro justru melototi aku dengan nada marah dia bahkan mengusir aku agar pergi dari tempat itu.
“Lek kamu ini dirumah dia, kenapa kamu malah mengusirnya ?” kata Candra. Dia gak faham bahwa itu bukan kemauan pak Sastro. Kemudia aku berbisik pada Candra.
“Gak papa, itu bukan kemauan pak Sastro.” Bisikku pada Candra.
Kemudian aku berikan penjelasan pada Candra bahwa kondisi pak Sastro saat ini sedang diluar kendalinya. Dan aku meminta agar Candra ikut membantu doa saja.
Dengan pelan pelan aku mendekati pak Sastro dan duduk disampingnya tanpa mempedulikan omelan pak Sastro yang memaki maki aku. Aku membaca doa doa yang diajarkan oleh Abah guruku dulu untuk mengusir semua gangguan makhluk halus. Lambat laun makian pak Sastro justru semakin kencang dan semakin kasar. Sampai semua kata umpatan keluar bahkan sebutan nama binatang pun ikut keluar. Namunn aku tidak pedulikan itu semua, aku terus membacakann doa untuk pak Sastro.
Jeritan kencang dan makian pak Sastro berbarengan dengan tubuhnya yang mengejang dan matanya melotot kearahku. Setelah itu pak sastro kembali tenang namun nafasnya ngos ngosan, tapi kesadaranya telah pulih.
“Mas Yasin, saya dimana ini ?” Tanya Pak Sastro yang telah kembali sadar.
“Bapak dirumah saya sekarang, ini ada mas Candra dan bapaknya juga. Apa pak Sastro mau berbicara dengan mereka ?” tanyaku pada pak Sastro.
“Iya mas, tapi mas Yasin disini saja saya juga mau mas Yasin dengar apa yang saya bicarakan.” Kata pak Sastro.
Akupun ikut mendengarkan pembicaraan antara pak Sastro dengan Candra dan Bapaknya Candra atas permintaan pak Sastro.
“Kang apa yang sudah terjadi sebaiknya ya sudah gak usah diperpanjang. Mungkin ini sudah jalan hidupku, aku justru merasa bersukur karena saat ini aku sudah menemukan jalan mencari kasampurnaning urip ( Sempurnanya Hidup ) tahu Sangkan paraning dumadi ( asal muasal dan tujuan orang hidup ). Untung aku dipertemukan dengan mas Yasin ini yang sudah member ilham agar aku hanya pasrah kepada Allah. “ kata kata pak Sastro terpotong karena harus menghela nafas panjangnya.
“Iyo, terus sekarang apa keinginan kamu le, ( panggilan untuk seorang adik dalam bahasa jawa ). ?” Tanya bapaknya Candra.
“Kabeh sik rukun kang, antarane keluargamu karo mas Yasin ojo ono roso musuhan meneh. Garis e pepesti kudu mangkono, amrih tinemu becik e kabeh.” Kata pak Sastro yang artinya.
Semua yang rukunkang, antara keluargamu dengan mas Yasin jangan ada dendam lagi. Takdir kalian memang harus begitu, supaya menemukan kebaikan semuanya.
“Iya lek, aku sama Yasin sudah damai tidak ada dendam antara kami lagi. Bahkan aku sudah berhasil bicara dengan Arum dan saling memaafkan juga. Matur nuwun lek Sastro sudah merawat Arum selama kami khilaf mengusir dia.” Ucap Candra sambil berkaca kaca. Dalam hati aku berkata,”ternyata Candra juga berhati lembut ternyata.” Bisikku dalam hati.
“Mas Yasin, tolong saya dibantu untuk melepas semua hal yang tidak aku butuhkan lagi sekarang ini.” Kata pak Sastro.
Canra dan bapaknya tampak bingung dengan ucapan pak Sastro, kemudian bertanya kepaddaku apa maksutnya.
“Pak Sastro mau membersihkan dirinya dari semua “Khodam” (prewangan /makhluk penjaga tubuhnya ) yang selama ini dia cari.” Kataku.
“Apakah itu berarti lek Sastro sudah akan tiba waktunya ?” Tanya Candra berbisik.
“Bisa jadi begitu mas, tapi bisa juga tidak karena soal umur hanya Allah yang tahu.” Jawabku normative.
Tampak kesedihan dihati Candra mendengarkan jawabanku, namun apa boleh buat aku mengatakan hal yang semestinya. Bahwa memang umur itu ditangan Allah, tak ada satu manusiapun yang tahu kapan dia kan dipanggil menghadap-Nya.
Aku minta tolong pada Candra dan bapaknya untuk ikut mendoakan pak Sastro sebisa mereka. Sementara aku membacakan doa Akassa seperti yang aku bacakan pada mbah nya pak Yadi dulu.
Ditambah dengan membaca surat Ar ro’ad aku ulang tiga kali. Setelah selesai tampak pak Sastro lebih cerah wajahnya, namun nafasnya tampak semakin lemah. Dan ucapanya semakin lirih seperti orang berbisik saja.
“Sudah mas Yasin, sepertinya badanku sudah semakin segar. Tidak ada lagi yang memberatkan di dalam tubuhku.” Kata pak Sastro [elan.
“Iya pak, pak Sastro istirahat saja dulu jangan banyak bergerak dan bicara sampai kondisi bapak pulih betul.” Kataku pada pak Sastro.
“Tidak apa apa mas, aku merasa harus menyampaikan ini pada kakak dan ponakanku sekarang.” Kata pak Sastro.
“Apa lek, yang mau lek Sastro sampaikan ?” Tanya Candra.
“Aku urip dewe ora duwe turunan, omah secuwil karo lemah sak ceblok tak pasrahke adimu Arum. Ben dinggo sarana urip, awakmu ojo meri yo ngger. Mesakke adimu wus keronto ronto uripe, ojo nganti digawe susah meneh.” Kata pak Sastro.
Aku hidup sendiri tidak punya keturunana, rumah kecil dan tanah sempit aku berikan pada adikmu Arum. Biar dipakai sarana hidup, kamu jangan iri yan nak. Kasihan adikmu sudah susah hidupnya, jangan sampai dibuat lebih menderita lagi.
Begitu pesan pak Sastro pada Candra, kemudian pak Sastro meninggalkan pesan juga kepada bapaknya Candra dengan berbisik. Entah apa yang beliau bisikan hanya bapaknya Candra yang mendengarkan.
__ADS_1
Setelah selesai membisikan sesuatu kepada bapaknya Candra pak Sastro semakin lemah, kemudian aku membisikan ke telinga pak Sastro dua kalimat syahadat. Kemudian kakinya dingin, lalu aku membisikan kalimah Allah ditelinga pak Sastro dan diikuti dengan suara sangat lemah dan semakin lemah sampai hanya gerakan lidahnya yang kelihatan melafadzkan lafadz Allah tak terdengar suaranya. Sampai akhirnya pak Sastro menghembuskan nafas terakhirnya.
...“Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un”...
Ucapku diikuti oleh semua yang ada disitu, kemudiann kulihat Candra dan bapaknya menangis dan memeluk pak Sastro yang sudah tidak bernyawa. Akupun ikut menitikan air mata. Dan aku teringat Arum, tentulah dia sangat sedih jika mendengar berita ini. Karena pak Sastro lah yang selama ini telah merawatnya dari saat mengandung, melahirkan dan membesarkan Sidiq.
Setelah agak lama Candra dan bapaknya menagisi kepergian pak Sastro, akhirnya kedua orang itu mengajakku bicara. Sementara anggota keluarga yang lain sibuk mempersiapkan untuk proses pemandian jenazah pak Sastro.
“ Nak Yasin atau siapapun nama kamu, bapak mohon maaf sudah merepotkan kamu. Tapi biarlah nanti jenazah adikku aku makamkan di dusunku saja.” Kata bapaknya Candra.
“Njih pak monggo, tapi biar kami sucikan disini dulu saja pak. Biar dibawa kesana sudah beres besuk.” Jawabku.
“Pak, Arum mau dikasih tahu gak baiknya ?” Tanya Candra pada bapaknya.
“Yo kudune dikabari, masalah gak bisa pulang gak papa. Biar tidak terlalu sedih kalo nanti tahunya sudah terlambat.” Kata bapaknya Candra.
“Maaf pak, saya ikut campur, biar Arum nanti yang member tahu Istri saya saja. Biar menggunakan bahasa sesame perempuan, mungkin akan lebih baik.” kataku. Disambut dengan anggukan kepala Candra dan bapaknya.
Kemudian aku mengajak Rofiq dan lainya untuk memandikan jenazah pak Sastro agar esuk pagi bisa segera dibawa pulang ke kampong halamanya untuk proses pemakaman. Setelah mempersiapkan kaian kafan dan memotongnya sesuai kebutuhan aku segera dibantu Candra dan rofiq memandikan jenazah pak Sastro dan mengkafaninya setelah itu.
Dengan bantuan pak Yadi yang aku hubungi kemudian akhirnya jenazah pak Sastro diangkut dengan Ambulan dibawa kerumah orang tua Arum dan Candra untuk disemayamkan sebelum dimakamkan.
Aku dipaksa ikut oleh Candra dan bapaknya, meski agak ragu tapi akhirnya aku pun ikut juga kesana.
Sempat khawatir dengan sikap orang orang disana yang dulu ikut mengeroyokku. Anamun dengan tegas Candra menjamin bahwa dia yang akan menjamin jika tidak akan terjadi apa apa denganku. Melihat keseriusan dn ketulusan Candra akhirnya aku bersedia ikut mengantarkan jenazah pak Sastro saat itu juga setelah mensholatkan.
Baru saja aku sampai dirumah Arum, yang kondisinya tidak banyak berubah dari saat aku datang pertama kali dulu. Tiba tiba Hpku bordering ada telpon masuk.
Rupanya dari kang Salim, yang mungkin juga sudah mendengar berita ini daari Arum. Karena Fatimah istriku tadi sudah aku minta member tahu Arum.
“Assalaamu’alaikum kang Salim.” Sapaku di telpon.
“Wa’alaikummmussalaam, apa benar lek nya Arum yang kemerin diculik itu meninggal ?” Tanya kang Salim.
“Iya kang, ini saya dirumah Arum mengaantar jenazahnya baru saja sampai dirumahnya kang !” kataku.
“Iya kang, Terimakasih kang atas informasinya.” Jhawabku.
“Yaudah begitu saja, kamu bantu saja prosesi pemakaman disana. Assalaamu’alaikum.” Kata kang Salim mengakhiri telpon.
“Wa’alaikummussalaam warohmatullah kang Salim.” Jawabku.
Saat aku hendak membantu menyiapkan tempat untuk mensholatkan jenazah, bagi warga situ yang mau mensholatkan. Tiba tiba aku didorong seseorang dan langsung memarahi aku.
“Ngapain kamu disini, tidak ada yang mengharapkan kehadiran kamu disini. Cepat kamu pergi sekarang hjiga atau kamu kuhajar disini !” bentak orang itu yang aku agak lupa siapa dia atau memang aku gak pernah bertemu denganya.
Aku hanya diam tidak menjawab, hanya berharab Candra datang member penjelasan. Karena kalo aku yang menjelaskan rasanya dia kan sulit untuk percaya.
Untunglah Candra beneran datang dan menjelaskan bahwa aku kesitu atas permintaan keluarga dan Candra juga bilang jika kami sudah melupakan masa lalu dan saling memaafkan.
Akhirnya orang itu justru pergi meski masih menatapku dengan sinis, aku jadi penasaran siapa dia.
“Siapa dia mas, kok kayaknya aku belum pernah bertemu dengan dia sebelumnya ?” tanyaku.
Kemudian Candra menjelaskan bahwa dia juga warga kampong itu, salah satu orang yang dulu sempat suka dengan Arum juga selain Damar. Tapi saat ini dia juga sudah menikah dan punya anak, namun pada saat itu dia tidak mengeroyokku karena tidak berada dirumah.
Aku bisa memahami amarah dan dendam orang tersebut, mudah mudahan saja tidak ada laki laki lain yang masih dendam terhaapku. Bisa malu jika masih ada yang memakiku apa lagi dalam acara berduka cita seperti ini, pikirku.
Warga pun pada berdatangan untuk mengucapkan bela sungkawa, aku duduk di dekat Candra. Untuk menghindari hal hal yang tidak diinginkan. Karena aku melihat masih ada beberapa warga yang memandangku sinis dan berbisik bisik.
Beginilah rasanya orang yang sudah berbuat salah, sulit untuk diterima sebagai manusia baru yang sudah meninggalkan masa lalunya.
Tapi tak apalah, yang penting aku sudah benar benar meninggalkan masa lalu. Soal penilaian manusia gak aku ambil pusing, mengalah saja dari pada menjadi masalah pikirku.
Tak lama kemudian terdengar kumandang adzan subuh, sebagian warga segera pergi ke mushola sekitar seratus meter dari rumah Arum. Tapi aku lebih memilih sholat dirumah itu menjaga hal hal yang tiak iinginkan.
Setelah subuh warga kembali datang untuk membantu proses pemakaman secara Isla dan tradisi masyarakat setempat. Semakin siang para pentakziah semakin banyak, sebenarnya mataku pun sudah sangat berat namun masih aku tahan agar tidak tertidur.
__ADS_1
Sampai proses pemakaman selesai aku bisa menahan kantukku, dan aku mohon ijin untuk pamit pulang namun ditahan oleh Candra dan bapaknya. Terutama bapaknya menahanku agar tinggal dulu disitu, karena ada pesan terakhir dari pak Sastro yang harus disampaikan kepadaku. Yaitu pesan terakhir pak Sastro terakhir sebelum meninggal. Dan itu katanya ada hubunganya dengan aku dan Arum serta Sidiq.
Baru mendengar begitu saja hatiku sudah sangat was was, apa gerangan pesan pak Sastro sebelum meninggal waktu itu, pikirku.
“Kamu jangan pulang dulu, mau gak mau kamu sudah menjadi bagian dari keluarga ini. Karena anak Arum cucuku adalah anak kamu juga. Jadi kamu disini dulu, ada pesan terakhir dari almarhum yang harus aku sampaikan padamu. Dan ini ada hubunganya dengan Arum dan Sidiq anakmu !” kata bapaknya Arum.
Aku tak mampu menolak perintahnya, karena memang apa yang beliau ucapkan ada benarnya. Meski aku tidak pernah menjadi menantunya, tapi aku tetap menjadi ayah dari cucunya juga. Aku hanya bisa mengikuti dengan berdebar menanti apa yang akan disampaikan nanti.
“Njih pak, saya bersedia disini dulu sampai semuanya beres.” Kataku.
“Yaudah, kamu istirahat saja dulu kan dari kemarin kamu kurang tidur. Kulihat wajahmua sudah sangat kelelahan saat ini. Itu ada kamar kosong bekas kamarnya Arum boleh kamu pakai.” Kata bapaknya Arum.
Haddeeewwwh kenapa juga meski bekas kamarnya Arum. Mending juga diruang depan aku sudah bisa istirahat batinku.
“Maaf pak, disini saja gak papa nanti kalo ada keluarga yang lain mau istirahat malah gak ada kamar lagi.” Kilahku.
“Gak, kamu dikamar saja istirahatnya. Kalo disini ketahuan orang lain gak enak takut ada yang salah paham saat aku dan candra gak tahu.” Kata bapaknya Arum.
Mau gak mau aku terpaksa memasuki kamar yang dimaksut, yang katanya dulu adalah kamarnya Arum.
Maklumlah dulu selama aku menjalin hubungan sama Arum jangankan kamarnya, masuk rumahnya saja tidak pernah. Karena dilarang oleh Arum agar tidak usah datang kerumahnya, karena sebenarnya Arum dilarang untuk berpacaran sebelum lulus sekolah.
Dengan hati berdebar aku memasuki kamar yang dulunya dipakai Arum itu. Meski terlihat sering dibersihkan tapi tetap saja kelihatan jika kamar itu tidak pernah ditempati lagi. Aku berbaring di tempat tidur, spontan mataku melihat foto Arum dengan seragam sekolah SMUnya dulu masih tergantung Rapi di dinding kamar itu.
Entah mengapa juga akhirnya aku jadi teringat dengan masa laluku saat saat bersama Arum. Kenangan kenangan indah bersamanya seperti terpampang jelas diingatanku. Benar benar mengusik pikiranku yang sebenarnya sudah lama melupakan semua itu. Apa ini sengaja biar aku teringat dengan Arum kemudian aku disuruh tidur dikamar bekas Arum,prasangka tidak baikku muncul.
Foto rum saat SMU dengan senyumanya yang dulu sangat memikat aku. Kini terpamapang jelas di hadapan aku. Bahkan saat akumemejamkan mata pun bayangan wajah difoto itu seakan terekam jelas di bola mataku sehingga aku menjadi susah tidur.
Aku berusaha keras untuk menghapus kenangan kenangan masa laluku yang muncul tiba tiba. Akan tetapi betapa sulitnya aku menghapus kenangan itu dari pikiranku. Sampai dengan aku mengingat wajah Fatimah istriku yang saat ini sedang mengandung anakku itupun tak mampu menghilangkan kenangan yang muncul dalam otakku. Ada apa aku ini, kenapa tiba tiba teringat dengan masa lalu saat bersama Arum. Bahkan ada rasa seperti ingin mengulang masa lalu itu, apakah iya aku akan menghianati istriku, kataku dalam hati.
Tidaaaak…. Bukankah sebentar lagi Arum juga akan dipinang dan akan menikah dengan Rofiq, aku gak boleh terbawa suasana seperti ini, kataku dalam hati.
Namun kenapa justru aku malah merasakan seperti ada rasa cemburu takut kehilangan Arum, tidak rela Arum dinikahi orang lain. Ada apa ini….????
...bersambung...
Terimakasih atas dukungan dari Readers semuanya.
Komentar readers semangat Author
Author akan berusaha terus memperbaiki, bahasa retorika dan lainya.
Semoga dapat menghibur Readers semua.
...Jangan lupa dukungan berupa :...
...Like...
...Komen...
...&...
...Vote nya...
...Terimakasih...
...🙏🙏🙏***...
__ADS_1