
Episode 92
Kemudian semua dibawa keruang mujahadah, ketiganya menatapku
dengan tatapan kosong. Seperti kebingungan dan ketakutan, bahkan memberontak
tidak mau diajak masuk. Untung dibantu beberapa personil dan juga Rofiq
kakaknya isti ikut membantu.
Saat diruang mujahadah ketiganya meraung dan menjerit
sekeras kerasnya, kang Salim berbisik padaku.
“Kamu istirahat saja dulu, biar aku dan Samsudin yang
menangani.” Kata kang Salim pelan.
Aku mundur karena memang kondisiku juga baru saja pulih,
Samsudin maju mendampingi kang Salim. Ketiganya di baringkan di ruang
mujahadah, dan kang Salim segera melafadzkan doa dibantu Samsudin. Dengan media
air putih ketiganya diusap wajah dan kedua tangan dan kakinya.
Spontan ketiganya kejang dan berikutnya terdengar jeritan
aneh dari ketiganya.
“HOaaaaarrrghhh……!!!”
Semua yang mendengar menjadi panik
melihat respon dari ketiga orang tersebut.
“Kaliyan harus mati ditanganku… kaliyan harus mati… semua
harus mati…!” tiga orang itu berteriak dengan kencang.
Kamg Salim segera mengambil air putih yang sudah dibacakan
doa yang sebagian untuk mengusap wajah orang orang itu.
“Saham maneh, Asup kadiyeu moal permisi. Gera balik mun
henteu urang asupken dina botol.” Kata kang Salim sambil memercikan air tadi
pada tiga orang tersebut.
Dan akhirnya ketiga orang itu secara bersamaan menjadi lemas
dan berteriak, “ampuun panas tobaat…!” kemudian pingsan.
Kemudian kang Salim menyuruh beberapa orang untuk
membaringkan ketigatanya di tempat mujahadah. Dan semua dipersilahkan berdoa
sebisanya hingga ketiganya tersadar.
Dari hasil keterangan ketiganya mengatakan jika saat
mujahadah kemarin, mereka seperti dipanggil panggil orang dan tak mampu menolak
keinginanya. Mereka hanya mengikuti kemana arah suara itu, dan tiba tiba mereka
dibawa kesebuah kerajaan yang megah. Dan disuguhi makanan dan minuman yang
mewah. Serta diperlihatkan tarian tarian dari gadis gadis muda yang sangat
cantik.
Mereka ditawari tinggal dan begabung dengan mereka, serta
diberikan imbalan besar jik mau bekerja sama. Untung diantaranya ada Ardian yang pertama kali tersadar dan
melarang teman temanya meminum dan makan hidangan yang di sajikan. Karena
dimata Ardian yang disajikan bagi mereka adalah serangga serangga hidup yang
menjijikan. Serta minuman yang dihidangkan adalah darah dan nanah.
Karena mereka menolak akhirnya mereka ditawan dipenjara
bawah tanah, sampai suatu saat mereka mendengar suara cambuk yang kemudian
membakar kerajaan itu. An akhirnya mereka lari melepaskan diri, namun mereka
tahu tahu berada di aliran sungai yang berhulu di merapi. Dan sungai itu
terkenal sangat angker. Karena mereka kelelahan dan kelaparan akhirnya pingsan
dan ditemukan oleh warga sekitar. Serta dilaporkan ke bayan (Dukuh setempat)
akhirnya pak Yadi datang menjemput mereka dan dibawa kerumahku.
“Hmm suara cambuk yang mampu membakar Istana ? apakah itu
cambuk kyai pamuk yang dalam mimpi juga menyelamatkan aku dari serangan gundolo
sosronya dalang anyi anyi waktu itu ?” pikirku.
Lama aku termemnung memikirkan atau menebak kemungkinan yang
terjadi, hingga aku dikagetkan suara kang Salim.
“Ulah ngelamun kang, coba kamu cari tasbih yang kemarin
menjadi pelindung kamu dari peluru waktu itu.” Perintah kang Salim.
Aku yang waktu itu belum tahu apa yang terjadi menjadi
kaget, tasbih yang melindungi aku dari peluru, maksutnya apa, pikirku.
“Owh itu saya yang simpan pak, karena waktu itu pak yasin
gak sadarkan diri. Jadi saya yang menyimpan. Sebentar saya ambilkan.” Pak Yadi
tiba tiba menyahut.
Kemudian pak Yadi keluar mengambil sesuatu di mobil
dinasnya, dan masuk kembali menyerahkan kepadaku.
Tapi sebelum bungkusan kain itu kubuka, kang Salim lebih
dulu berkata.
“Bukaknya nanti malam habis mujahadah saja. Sekarang kamu
simpan dulu dikamar kamu.” Perintah kang Salim.
Aku mengikuti apa yang disampaikan kang Salim.
Setelah beberapa waktu, Fanani dan kawan kawanya
dipersilahkan makan karena sudah tampak sangta kelaparan. Dan benar saja mereka
makan sangat lahab, hampir dua hari mereka gak makan.
Aku iseng melirik Khotimah yang tampak cemas melihat kondisi
Fanani, ah anak ini tampaknya beneran sudah saling jatuh cinta,pikirku. Tapi
aku biarkan saja, karena ada kang Salim kalo mau jahilin Khotimah bisa bisa aku
juga kena semprot nanti.
Aku hanya berbisik pada Fatimah.
“Lihat Khotimah dari tai memperhatikan Fanani terus.
Kayaknya memang harus segera dinikahkan itu anak.” Bisiku pada Fatimah.
“Ya emang mas, dari kemarin kemarin udah begitu. Nanti kalo
bapak ibu datang kita bicarakan lagi saja.” Balas Fatimah setengah berbisik.
Sesaat kemudian, terdengar sapa salam dari pintu depan.
“Assalaamu ‘alaikum…!” suara salam di depan rumah.
“Kok kayak suara bapak ibuk Fat, yuk kita samperin.” Kataku.
“Iya mas, ayuk..!” jawab Fatimah.
“Permisi kang Salim, mau jemput Bapak dan Ibu mertua di
depan.” Kataku.
“Sok atuh, persilahkanmasuk sana !” kata kang Salim.
Kemudian aku dan Fatimah diikuti Khotimah menjemput bapak
ibu mertuaku di depan. Kemudian aku persilahkan duduk diruang tamu.
“ Kamu udah sehat nak ?” Tanya bapak mertua.
“Alhamdulillah pak, sudah sehat tadi pagi pulangnya dari rumah
Sakit.” Jawabku.
“Hmm rumah kamu jadi meriah sekali nak, banyak orang
sekarang.” Komentar ibu mertuaku.
“Iya bu, Fatimah jadi gak merasa kesepian dan ketakutan
sekarang.” Sahut Fatimah.
“Ada kang Salim dan the Atikah juga kok bu, dibelakang.” Kataku.
“Owh ya, boleh bapak dan ibu ketemu Lurah pondok ?” Tanya
ibu.
Kemudian Fatimah masuk menyampaikan pada kang Salim jika
bapak ibunya mau bertemu. Beberapa saat kemudian kang Salim dan teteh Atikah
datang menyapa bapak dan ibu mertuaku.
“Assalaamu’alaikum bapak dan ibu. Gimana sehat sehat saja
kan ?” sapa kang Salim dan teh Atikah.
“Alhamdulillah, nak Salim kami sehat sehat saja. Maaf
semenjak minta tolong menikahkan anak saya baru kali ini bertemu lagi ya ?”
kata ibu pada kang Salim dan teteh Atikah.
“Iya gak papa bu, Alhamdulillah keinginan ibu dan bapak
untuk segera menimang cucu insya Allah segera terkabul.” Ucap teteh Atikah.
__ADS_1
“Iya nak, Alhamdulillah. Fat kandunganmu sehat sehat aja kan
nak ?” Tanya ibu mertuaku pada anak semata wayangnya.
“Iya bu, ini dah mulai kerasa gerak gerak juga.” Jawab
Fatimah.
“Alhamdulillah, mudah mudahan sehat semuanya. Nak yasin juga
udah sehat beneran kan, kemarin gimana kok bisa terjadi begitu ?” Tanya bapak
mertua ikut menyambung pembicaraan.
“udah kok pak, ya biasa lah pak, baru ada musibah saja.
Padahal juga sudah berhati hati tapi masih juga kena. Tapi Alhamdulillah gak
papa kok pak,buk.” Jawabku.
Setelah cukup kami beramah tamah dan mempersilahkan semuanya
untuk bersantap, tiba tiba bapak dan ibu mertuaku pamitan pulang. Karena Yuyut
juga baru dalam keadaan sakit katanya. Namun Fatimah menahan sebentar dan
mengajak bapak dan ibu mertuaku masuk kekamar. Aku mengikuti dari belakang
mereka.
“Mas, mas Yasin saja yang bicara.” Kata Fatimah padaku.
“Iya, jadi begini pak dan buk. Saya dan Fatimah mengamati
Khotimah sekarang sudah menjalin hubungan dekat dengan seorang lelaki yang juga
baik baik. maksut saya, sebagai bentuk tanggung jawab kami kepadanya mungkin
lebih baik segera kita resmikan saja. Mengingat keduanya juga sudah cukup
dewasa dan yang laki laki sudah bekerja. Punya penghasilan yang bisa untuk
menafkahi keluarga.” Kataku pada bapak dan ibu mertuaku.
“Bapak dan ibu ikut kalian saja yang lebih tahu tentang
keduanya, soal peresmian itu gampang. Tapi ada hal yang justru mau ibu
sampaikan kepada kaliyan.” Kata ibuk mertuaku.
“Apa itu buk ?” Tanya Fatimah.
“Terkait anakmu Sidiq nak, kalo bisa biar tinggal ditempat
jauh dulu. Itu tadi pesan dari Yuyut. Meski sakit tapi Yuyut masih bisa
berpesan seperti itu.” Kata ibuk mertuaku.
Aku hanya terdiam, bingung mau disuruh tinggal dimana yang
aman. Tapi demi melegakan kedua mertuaku aku bilang iya saja.
“Injih bu, saya siap gak papa sampai kondisi betul betul
aman bagi Sidiq.” Jawabku.
Setelah pembicaraan selesai ibu segera pulang kembali
kerumahnya.
“Wah bapak dan ibu pasti kemaleman nanti Fat, sebenarnya gak
tega aku.” Kataku pada Fatimah.
“Iya sama saja mas, Fatimah juga masih kangen, tapi gimana
lagi yuyut sedang sakit.” Jawab Fatimah.
Kami melepas kepergian Bapak dan ibu mertuaku, kulihat
Fatimah sempat berkaca kaca juga. Wajarlah bertemu Cuma sekejab, akan tetapi
tak lama kemudian kami dikejutkan kehadiran Samsudin dan Eis dibelakang kami.
“Ehhm.. gangguin gak nih kalo kita mau ngobrol.” Kata
Samsudin.
“Jelas gangguin lah Din, kamu dari dulu sukanya gangguin aku
aku aja ?” gurauku pada Samsudin.
“Gak kebalik apa, yang suka Jahil siapa ?” balas Samsudin.
Aku sebenarnya berkata begitu untuk menghilangkan kekakuan
antara Samsudin dengan Fatimah juga antara aku dan EIs.
“Ada masalah apa kalian berduaan mengganggu kami ?” tanyaku
sambil bercanda.
“Iih mas gak sopan amat bilang mereka mengganggu, mereka kan
tamu kita mas.” Protes Fatimah.
“Gak papa Fat, kayak gak kenal bahasa suami kamu saja. Kan
dia memang gitu kalo sama yang sudah akrab.” Jawab Eis.
gitu kan gak sopan.” Ucap Fatimah.
“udah belum bertengkarnya, kalo udah biar Samsudin mau
bicara kasih kesempatan dong.” Kataku.
“Iya kang, aku ada perlu sama kalian. Tapi aku mau bicara
empat mata sama kamu dulu kang Yaasin.” Kata Samsudin.
“Gk usah pakai kang napa Din, sok formal amat kamu ni ah !” kataku.
Begini Yasin, bisa kita bicara empat mata, biar para istri
juga bicara empat mata saja.” Kata Samsudin. Aku tahu jika sebenarnya Samsudin
hanya masih sungkan dengan Fatimah. Demikian juga mungkin sebaliknya. Karena
aku sendiri juga merasakan hal sama terhadap Eis.
Kemudian aku dan Samsudin bicara di belakang rumah dekat
tanaman bibit buah buahan dan Eis dengan Fatimah aku persilahkan bicara di
kamarku.
“Ada apa din, kayaknya penting banget sampai harus bicara
empat mata segala.” Kataku.
“Iya memang, tapi apa yang akan aku bicarakan padamu ini
intinya sama dengan apa yang akan dibicarakan istriku dengan istrimu.” Kata
Samsudin.
“Lah kenapa harus sendiri sendiri begini Din ?” tanyaku pura
pura gak faham maksut Samsudin.
“Kamu gak faham beneran atau Cuma pura pura aja nih ?”
protes Samsudin.
“Bukan gitu sih, Cuma kaget aja tumben kamu tiba tiba agak
cerdas bisa menemukan ide begini.” Sahutkua.
“Aah sialan kamu Yasin, masa dari dulu gak berubah sih sikap
kamu ?” kata Samsudin.
“Ya gak perlu berubah kali Din, selamanya aku ya seperyi
ini. Udah mau ngomong apa langsung saja !” kataku.
“Maaf nih sebelumnya, aku nanya dulu jangan marah, apakah Sidiq
itu anak kamu dengan Arum ?” Tanya Samsudin. Aku yang gak siap mendapat
pertanyaan seperti itu enjadi sangat kaget. Sampai beberapa saat terdiam tak
mampu bicara.
Samsudin iukutan terdiam,mungkin takut aku tersinggung
dengan pertanyaanya.
“Ceritanya sangat panjang Din, tapi intinya benar memang
Sidiq itu anak biologisku dengan Arum. Dan karena peristiwa itulah yang menjadikan aku sampai di
pesantren kita dulu.” Jawabku.
“Udah gak papa, cerita masa lalu kamu bagiku gak penting.
Yang jelas aku dan istriku berniat meminjam anakmu Sidiq untuk kami rawat
barang sebulan. Mmaksutnya untuk ikhtiar saja, barangkali dengan kami merawat
anak Allah member kami berkah sehingga istriku bisa hamil.” Kata Samsudin.
Aku awalnya mendengarkan dengan serius, tapi begitu masuk
keinti pembicaraanya aku jadi tidak bisa menahan tawa.
“Ha ha ha ha ha …. Kamu gak lagi bercanda kan Din ?” tanyaku
sambil ngakak.
“Aku serius lah Yasin, maksutnya bercanda gimana ?” Samsudin
yang terlalu polos bagiku tampak bingung dengan ucapanku.
“Gak kok, beneran istrimu belum hamil ?” tanyaku sedikit
serius.
“Ya kalo udah ngapain juga aku ikhtiar begitu, Yasiiin ?”
jawab Samsudin kesel.
“Wkakaka,,,, kali aja kamu gak bisa bikinya Din.” Gurauku pada Samsudin.
Membuat dia semakin merasa dikacangin.
__ADS_1
“Aku serius nih, suek kamu ah. Kemarin begitu Eis lihat
Fatimah perutnya udah besar dia langsung pingin segera hamil juga. Pingin
segera punya anak juga.” Kata Samsudin.
Aku sebenarnya masih ingin menggoda sahabatku ini, tapi
melihat wajahnya yang tiba tiba sedih aku jadi gak tega. Iya apalah arti
keluarga tanpa kehadiran seorang anak, pastilah akan terasa sepi. Akhirnya
akupun serius menaggapinya.
“Din, aku doakan kalian segera punya momongan, kalo Sidiq
anakku memang bisa menjadi wasilah agar istrimu bisa Hamil aku ppersilahkan.
Tapi dia punya ibukandung yang selama ini mengandung, melahirkan dan
merawatnya. Jadi dia yang lebih berhak memutuskan, apakh boleh kamu rawat
sebentar ataupun tidak.” Jawabku serius pada Samsudin.
“Iya aku tahu, dan aku juga Eis sudah bicara juga dengan
Arum Ibunya Sidiq.” Jawab Samsudin.
Aku kembali terbelalak kaget, rupanya sudah sejauh itu
langkah dan upaya Samsudin juga Eis. Aku jadi iba mendengarnya. Bagaimanaupun
Samsudin adalah sahabat setiaku saat dipesantren, dia yang sering menemani aku
jika bolos ngaji untuk mancin. Sementara Eis istrinya adalah orang yang selalu
aku mintai tolong untuk memasak bahkan selalu menambahkan berikut nasi dan
sayurnya. Terlepas apakah antara aku dan Eis dulu ada perasaan atau tidak.
Mereka adalah sahabat sahabat terbaikku selama ini.
“Ok din, aku akan bantu bujuk sidiq agar mau ikut bersama
kamu, hanya saja kau mohon, selama kamu ajak didik dia dengan agama. Kamu tahu
sendiri kan, kalo dia lahir tanpa proses perkawinan. Tapi itu adalah dosa kami
orang tuanya, bukan dosa anak itu din. Dan aku sudah melakukan taubatan Nasuha
atas semua ini. Semoga ibunya nanti juga melakukan taubatan nasuha juga. Jika
sudah menikah biar dibimbing suaminya.” Kataku serius.
“Memang Arum sudah ada calon ?” Tanya Samsudin.
“Sudah, Fatimah, Isti dan aku yang mencomblangi Arum dengan
Rofiq kakaknya Isti !” kataku.
“Owh jadi, dia akan jai kakap iparnya Isti ?” Tanya
Samsudin.
“Yaaah yang kayak gitu masa harus di jelasin Sin, makanya
aku tadi heran tumben kamu agak pinter, eeh sekarang kambuh lagi deh lolanya.”
Kataku menggoda Samsudin.
“Sialan kamu aah, btw Eis sama Fatimah udah selesai belum ya
bicaranya ?” Tanya Samsudin.
“Apa perlu kita samperin ke kamar ?” tanyaku.
“Gimana ya, jujur nih kamu masih merasa sungkan gak klo sama
Eis istriku.” Tanya Samsudin tiba tiba.
Wah reseh juga ni anak yang kaya gitu ditanyain,pikirku.
“Gak,ngapain juga sungkan. Atau jangan jangan kamu yang
masih menyimpan rasa sama istriku nih, mau kuhajar apa ?” gurauku dengan mimic
pura pura serius.
“Gak lah, dulu aja aku yang dorong dia mau nikah sama kamu.”
Kata Samsudin.
“Lagian kamu ini, yang begituan kamu anggap serius. Eeh tapi
ada baiknya kita mualai membiasakan diri agar diantara kita gak ada lagi
perasaan sungkan. Eis adalah masa laluku dan menjadi masa depanmu. Sedang
Fatimah adalah masa lalumu dan sekarang adalah menjadi masa depanku. Bisa gak
kamu bersikap begitu Din ?” tanyaku.
Samsudin hanya tersenyum, kemudian mengangguk.
“Iya, ayuk kita samperin dan kita ngobrol berempat
sekarang.” Kata Samsudin.
*******
Eis dan Fatimah
Fatimah POV
”Ada apa Eis, kok kayaknya suamimu mau bicara serius banget
sama suamiku. Kalian gak ada masalah kan ?” tanyaku pada Eis.
“Gak kok Fat, Cuma pingin ngobrol nostalgia saja. Seperti
halnya Kita boleh kan bicara nostalgia Fat ?” kata Eis yang membuat Fatimah
bingung, apa yang dimaksut Nostalgia. Kalo yang imaksut nostalgia tentang cinta
jelas itu akan sangat berat bagi semuanya, bisa menumbuhkan cerita cinta lama
yang bisa berubah jai prahara, pikirku.
“Nostalgia apa Eis ?” tanyaku binngung.
“Santai aja kali Fat, yang jelas gak ada hubunganya dengan
masa lalu yang gak perlu kita ungkap. Kita sudah sama sama tahu kan, dan itu
sudah sama sama kita kubur juga.” Kata Eis, membuat Fatimaah sedikit lega.
“Owh iya Eis, maksutku apa yang akan kita bicarakan tapi
yang jelas aku berterinmakasih banyak padamu Eis. Pertama kamu lah yang dulu
menyelamatkan aku dari pandangan sinis temen temen pesantren. Yang awalnya
beranggapan aku merebut….!” Kata kataku dipotong Eis.
“Sssssssst… kan Eis dah bialng, gak mau ungkit masa lalu
yang itu Fatimah.” Kata Eis datar.
Membuat Fatimah justru semakin mengingat betapa tegarnya Eis
waktu itu, hingga tanpa kusadari aku telah memeluk Eis dan Eis membelaiku dan
mengatakan.
“Fat, aku iri padamu sebenarnya.” Kata Eis.
“Iri kenapa Eis, kalo Fatimah bisa bikin Eis bahagia Fatimah
akan lakukan apapun itu Eis. Kamu udah lebih dari saudara bagi Fatimah. Bahkan
jika kamu disakiti suamimu Fatimah yang akan bilang padanya untuk mencintai
kamu Eis.” Ucap Fatimah dalam keharuan.
“Bukan itu Fat, Eis iri karena kamu sudah mengandung
sementara Eis belum ada tanda tanda sama sekali. Makanya Eis mau minta tolong.
Bujukin suami kamu agar Eis boleh merawat Sidiq sebagia ikhtiar agar Eis bisa
Segera Hamilseperti kamu. Biarlah Sidiq kami rawat beberapa lama, sampai Eis
mengandung Fat . tolong ya Fatimah saduaraku.” Kata Eis yang tiba tiba menangis
juga dalam pelukan kami bersama.
“Apakah kalian sudah tahu, Sidiq itu siapa, dan apa
hubunganya dengan kami ?” tanyaku pada Eis.
“Iya, kami sudah tahu bahkan tahu sejak masih di pesantren
dulu tentang masa lalu suamimu. Terutama Eis sendir karena suamimu dulu sering
cerita masa lalunya dengan Arum sehingga suamimu dibawa ke pesantren.” Kata Eis
masih dalam tangisanya.
Namun apa yang disampaikan Eis itu justru membuat Fatimah
kaget, bahkan sedikit geram. Karena kemarin mas Yasin bilang tidak tahu jika
Arum sampai melahirkan. Tapi keguguran. Ini Eis cerita jika sudah tahu sejak di
pesantren dulu. Fatimah jadi jmeras dibohongi oleh mas Yasin. Kenapa dengan Eis
dia bisa jujur, tapi dengan Fatimah yang sudah resmi jadi istrinya harus
berbohong. Fatimah harus tanyakan ini pada mas Yasin. Atau jangan jangan sampai
saat ini pun hatinya tetap hanya untuk Eis. Api cemburu sudah mempengaruhi
Fatimah waktu itu,ingin rasanya marah marah pada mas Yasin saat itu juga,
sayangnya yang dihadapan Fatimah adalah Eis bukan mas Yasin.
Saat sedang meremung tiba tiba kudengar suara mas Yasin dan
mas Samsudin di depan pintu kamar, seperti mau masuk. Kebetulan sekalian harus
Fatimah selesaikan saat ini juga, selagi ada Eis juga mas Smsudin. Apa mau
mereka sebenarnya…!!!
Bersambung
__ADS_1