
Episode 82
“ Boleh saja bang, gerakan sudah mengarah pada perbuatan criminal murni, percobaan penembakan pada anggota keluarga. Kemarin ibunya Sidiq yang hamper jadi korban. Dan dua polisi sudah terkena tembakan juga. Terakhir tadi Hanif, sampai dibawa ke rumah sakit.” Jawabku.
“ Itu sih gak bisa dibiarkan, anak buahku dulu harus kuberi tahu.” Kata Rofiq.
“ Bang, anak buahmu banyak yang gabung sama Gembul. Mana yang masih ikutan sama kamu aja belum jelas.” Kataku.
Tiba tiba Rofiq marah dan berteriak keras, sehingga membuat yang lain pada datang.
“ Kuraaang ajaaaar mereka semua, akan aku habiskan meraka semua nanti…!!!” teriak Rofiq.
“ Ada apa mas Rofiq ?” Tanya Isti
“ Ini sudah gak bisa dibiarkan, harus diambil tindakan sekarang juga.” Seru Rofiq.
“ Sabar bang, kita masih harus mencari siapa kawan siapa lawan. Lawan kita belum jelas siapa saja. Aku sudah mencari Gembul tapi dia saat ini dalam perlindungan orang orang suruhan.” Kataku.
“ Kita bagi tugas saja Zain, Gembul urusanku kamu urus yang lain.” Kata Rofiq.
“ Mereka bersatu bang, kita gakmungkin melawan mereka sendiri harus kerja sama dengan yang berwajib. Seperti peristiwa tadi pagi, kalo gak ada satuan polisi. Habislah kita bang.” Seruku pada Rofiq.
“ Benar kata mas Yasin mas Rofiq, mas jangan terpancing emosi begitu. Akan merugikan kita sendiri karena bergerak sendirian. Mereka terorganisir.” Kata Isti.
“ Bener tu bang, mereka terorganisir kita juga harus berkoordinasi dengan baik.” Sahutku.
“ Aku sudah tidak sabaringin menghajar mereka Zain, kita samperin saja ke markas.” Ucap Rofiq.
“ Markas mana bang, markas sudah bubar gak ada orang. Beberapa hari lalu aku sudah kesana, sebagian ikut gembul karena diancam sebagian lagi pilih diam karena gak berani ambil sikap. Sebagian ikut Gembul karena bujukan akan diberi sejumlah uang.” Kataku menyadrkan Rofiq akan posisinya saat ini yang sudah tidak banyak anak buah.
“ Lalu kita harus gimana ?” Tanya Rofiq yang sudah mulai sadar akan keadaan dan menurun Emosinya.
“ Kita bertahan dirumah sementara, sekaligus menjaga keselamatan anggota keluarga kita. Biarkan pihak yang berwajib yang bergerak, agar semua berjalan sesuai prosedur hokum bang.” Jawabku.
Rofiq hanya terdiam, aku tahu dia masih tidak puas jika tidak menangani Gembul dengan caranya sendiri. Namun disatu sisi dia juga mengakui saat ini sudah tidak mempunyai anak buah seperti dulu. Dan untuk bisa menemui Gembul secara pribadi sangatlah sulit saat ini.
“ Tinggalkan kami berdua Is, biar aku leluasa bicara dengan kakakmu.” Bisikku pada Isti.
Maka Isti pun mengajak yang lain untuk menyingkir, kemudian aku mulai berbicra pelan pada Rofiq.
“ Bang, kita bukanya takut atau menyerah dengan keadaan. Tapi kita perlu strategi untuk menghadapi mereka. Karena lawan kita selain dari jumlah juga mempunya dana dan kekuatan yang lebih besar.” Kataku pada Rofiq.
“Strategi yang seperti apa yang akan kita gunakan ?” Tanya Rofiq.
“ Kita biarkan mereka bergerilya, untuk menteror kita. Kita hadapi mereka saat bergerak kesini dan di bantu oleh pihak kepolisian. Sampai dengan otak intelektual mereka turun tangan, sehingga saat siding yang akan datang semua bukti kejahatan mereka semakin terungkap.” Jelasku pada Rofiq.
“ Sidangnya juga belum pasti kapan akan dilanjutkan Zain, sampai kapan kita akan tetap bertahan seperti ini ?” kata Rofiq.
“ Kita berdoa saja bang, tiap malam kita melaksanakan mujahadah. Karena mereka tidak hanya menyerang secara fisik, tapi juga secara supra natural bang.” Kataku.
Rofiq kembali terdiam, baru menyadari betapa lawan tak bisa ianggap enteng. Berbeda dengan lawan lawan yang pernah dihadapi sesame Gangster dulu.
“ Baiklah, aku ikut saja, yang penting keluargaku selamat. Soal dendamku pada Gembul akan aku urus belakangan.” Kata Rofiq.
“ Nah begitu dong bang, jangan larut pada dendam masa lalu, saat ini abang masih punya adik yg harus diselamatkan. Juga Ibu yang harus dilindungi, jangan terpancing mereka nanti malah kita yang kecolongan.” Kataku.
Akhirnya Rofiq mau menuruti apa saranku, dia lebih banyak diam sekarang. Tak lagi mudah teriak teriak meluapkan emosi. Dan pada saat mujahadahpun Rofiq tampak khusuk mengikuti, bahkan air matanya menetes menyesali apa yang sudah dilakukan selama ini.
Beberapa hari Rofiq bersama kami, dan satuan polisi yang bertugas kali ini ada pergantian personil. Hanif digantikan Ardian, polisi belia yang belum lama bergabung. Ardian mempunyai satu keahlian khusus yang merupakan bakat turunan. Dia mampu melihat keberadaan makhluk Astral, sebuah kemampuan yang jarang dimiliki seseorang. Dan itu adalah bawaan dia sejak lahir.
...*******...
“ Pak, mala mini malam jum’at Kliwon. Menurut kepercayaan orang jawa, malam jumat kliwon merupakan malam yang biasa digunakan untuk ritual bagi semua penganut kepercayaan.” Kata Ardian padaku.
“ Iya terus , apa yang menurutmu harus kita lakukan ?” tanyaku.
“ Belum ada rencana pak, hanya mala mini sepertinya akan kembali ada serangan batin pak. Setelah beberapa hari lalu serangan fisik yang mereka lakukan, sekarang mereka tampaknya akan melakukan serangan secara batin lagi.” Kata Ardian.
Aku menghela nafas, sebelum menjawab kata kata Ardian.
“ O iya, kamu punya kemampuan seperti itu dari mana Ardian ?” tanyaku mencoba menggali informasi tentang Ardian.
“ Saya juga tidak tahu dari mana pak, tahu tahu sudah begini saja.” Jawab Ardian, tampaknya dia merahasiakan sesuatu tapi nukan hal yang sangat penting juga untuk diketahui.
“ Owh begitu, baiklah nanti malam aku focus dengan Mujahadahku yang merupakan sebuah usaha batin juga. Memohon pada allah agar kita semua diberi keselamatan. Sedang Usaha Lahiriahnya aku serahkan pada kalian, dan khusus kamu Ardian, gunakan kemampuanmu itu untuk menambah kekuatan penjagaan.” Kataku pada Ardian.
“ Siap pak, kata pak Yadi nanti malam juga akan hadir ikut mujahadah disini juga.” Sahut Ardia.
“ Baguslah kalo ada Pak Yadi juga, O iya sekalian sampaikan ke pak yadi. Nanti benda peninggalan kakeknya suruh bawa kesini ya !” pintaku pada Ardian.
__ADS_1
“ Benda apa pak ?” Tanya Ardian.
“Udah bilang begitu saja pada pak Yadi, nanti beliau sudah tahu. Aku juga nanti akan bilang via Wa ke beliau. Tapi kamu juga sampaikan seperti itu biar beliau tidak lupa.” Kataku.
Hari semakin larut dan waktu mendekati waktu sholat maghrib. Aku masuk kedalam rumah, setelah ngobrol lama dengan Ardian di teras rumah. Dementara yang lain masih kularang untuk keluar rumah, terutama malam hari mengingat peristiwa yang terjadi sebelumnya.
Saat didalam rumah hatiku bergetar, melihat Rofiq yang sedang bercanda dengan Sidiq. Cepat sekali mereka Akrab, apa karena Rofiq juga sebenarnya sudah pingin punya anak, pikirku.
Ternyata gak hanya dengan Sidiq, bahkan dengan Arum pun Rofiq sudah Akrab. Entah apa yang aku rasakan saat itu, ada perasaan senang dan bahagia namun ada juga sedikit rasa cemburu melihat Arum akrab dengan Rofiq.
Astaghfirullahal ‘adhim….
Aku mengucap istighfra dalam hati, bukankah Arum sudah bukan apa apa aku lagi, bukankah aku ini adalah suami dari Fatimah istri sahku. Dan bukankah aku dan Isti memang mau mendekatkan Arum dengan Rofiq. Kenapa aku masih merasakanseperti ini.? Aku mengutuk diriku sendiri di dalam hati.
Mungkin rasa ini juga yang dirasakan Arum juga Fatimah selama ini, hanya saja mereka mampu menyembunyikan pperasaanya. Aaah alangkah egoisnya diriku selama ini, yang tidak mampu merasakan perasaan dua wanita itu.
Sukurlah dengan peristiwa kecil itu mampu menyadarkan aku, aku segera mengambil Sidiq ku ajak persiapan maghrib. Biar memberikan kesempatan Arum dan Rofiq ngobrol berdua. Meski jujur rasa cemburu itu masih ada, namun aku harus mampu mengalahkan itu.
“ Ayyo Sidiq ikut Ayah, kita siap siap maghrib biar mamah nyiapin minuman.” Ajaku pada Sidiq. Sekedar basa basi, karena aku tahu minuman sudah siap.
“ Ayah mau kemana ?” Tanya Sidiq.
“ Gak kemana mana Sidiq, hanya pingin gendong Sidiq saja, boleh kan ?” kataku sambil meninggalkan Arum dan Rofiq.
“ Sidiq, ku ajak dulu ya. Aku kangen beberapa hari gak sempat gendong dia. Biar kuajak ngobrol sama bundanya ( Fatimah istriku maksutnya ).” Iya Mas jawab arum.
Kemudian aku ajak Sidiq masuk ke kamarku disana Fatimah sedang rebahan, dengan perutnya yang semakin membesar.
“ Kenapa mas, jam segini malah ikutan masuk kamar ?” Tanya Fatimah.
Aku tersenyum dulu sebelum menjawab.
“ Kok malah senyum senyum begitu ?” kata istriku.
“ Gak papa, kayaknya rencana kita akan berhasil.” Bisiku pada Fatimah.
“ Rencana apa mas ?” Tanya Fatimah Penasaran.
“ Arum dan Kakanya isti mulai ada PDKT makanya Sidiq aku ajak.” Kataku berbisik pada Fatimah.
“ Haah mas baru tahu ? udah dari kemarin kali mas, itu hasil usaha keras Isti dan Fatimah yang mendekatkan mereka !” jawab Fatimah.
“ Ya gak tahu lah mask an dari kemarin sibuk bicarakan soal rencana melawan musuh dan lainya. Mana perhatiin hal hal kecil begitu !” kata Fatimah setengah protes. Karena selama beberapa hari juga aku kurang perhatian sama Fatimah.
“ Wah nyindir nih, beberapa hari aku diemin maaf deh nanti malam aku beri waktu buat Fatimah.” Kataku menggodanya.
“ Iiih apan sih, gak juga kali, Fatimah juga lagi cape mas.” Jawab Fatimah.
“ Serius, yaudah nanti aku akan patroli semalaman lagi sama Pak Yadi juga.” Godaku.
“ Yeee ngambbekkk nih, btw mas lihat Arum sama mas Rofiq akrab merasa cemburu gak ?” Tanya Fatimah tiba tiba membuatku terkesiap kaget. Seperti mendengarkan suara 7 halilintar bersuara bareng.
“ Apa ?” tanyaku kaget.
“ Mas cemburu gak, lihat Arum dan Mas Rofiq akrab begitu ?” Tanya ulang Fatimah.
“ Enggak lah…. Kan memang itu sudah direncanakan.” Kataku sok cool, padahal memang ada sih rasa itu dikit.
“ Sukurlah kalo begitu, kirain masih ada rasa cemburu aja mas.” Ucap Fatimah.
“ Gak kok sayang, aku hanya milikmu saat ini.” Jawabku.
“ Ayah dan Bunda biacara apaan Sidiq gak tahu ?” kata sidiq.
Aku dan Fatimah jadi malu, sampai lupa aku mengajak Sidiq kekamar. Aduh paham gak ini anak ya, batinku,
“ Gak kok sidiq, Ayah sama Bunda lagi bicara masalah nanti malam mau mujahadah, Sidiq ikut ya nanti ?” kataku berbohong pada Sidiq.
“ Iya Ayah, nanti Sidiq ikut ?” jawab Sidiq.
“ Rasain mas, gak sadar bawa anak kecil ya, ngomongnya gak dikontrol.” Bisik Fatimah padaku.
Aku hanya tersipu sipu mendengar perkataan Fatimah, yaa lumayanlah menghilangkan ketegangan akibat masalah yang timbul. Masih bisa bercanda ria dengan anak istriku, meski juga masih selalu harus selalu waspada dari serangan musuh, baik serangam lahiriah maupun batiniyah.
...**********...
Saat pelaksanaan mujahadah.
Setelah melaksanakan solat Isya, aku mengajak semua untuk ikut mujahaah kecuali satuan polisi yang bertugas. Tiba tiba pak Yadi datang.
__ADS_1
“Assalaamu ‘alaikum pak.” Sapa salam pak Yadi.
“ Wa’alaikummussalaam pak Yadi, mari masuk pak. Kami baru mulai mujahadah.” Kataku.
“ Rencananya tadi juga mau ikut pak, tapi maaf ini ada instruksi darurat buat personil kami disini. Jadi belum bisa ikut mujahadah sekarang pak. Silahkan pak Yasin mulai mujahadahnya, biar saya dan kawan kawan berjaga jaga saja disini pak.” Kata pak Yadi.
Akupun segera mempersilahkan beliau untuk duduk di ruang tamu untuk melakukan koordinasi dengan anak buahnya. Aku sendiri segera memulai kegiatan Mujahadah.
Semua ikut Mujahadah termasuk Sidiq, meski sambil tiduran dipangkuan Mamahnya. Mujahadah berjalan lancar seperti biasanya tanpa ada gangguan apapun sampai dengan selesai mujahadah.
Tapi aku jadi teringat akan ucapan Ardian tadi siang, aku harus tetap waspada. Bisa jadi lawan menunggu terlena baru melancarkan serangan. Semua aku mohon stay di ruang mujahadah. Aku menghampiri pak Yadi diruang tamu yang masih memberikan beberapa instruksi pada anak buahnya.
“ Maaf mengganggu tidak pak saya ikut gabung ?” tanyaku pada pak Yadi.
“ Owh silahkan kan, sudah selesai mujahadahnya ?” Tanya pak Yadi.
“ Sudah pak, o iya pesanan saya dibawa tidak pak ?” tanyaku pada pak Yadi.
“ Iya pak saya bawa, ini pak.” Kata pak Yadi smbil menyerahkan bungkusan dari kain Mori.
“Itu isinya dipinjamkan saja kepada petugas jaga pak. Bukan apa apa, hanya sebatas wasilah saja sebagai salah satu bentuk permohonan untuk keselamatan.” Kataku pada pak Yadi.
“ Jadi fungsi benda ini apa pak ?” Tanya pak Yadi.
“ Itu hanya benda biasa pak, tidak ada kekuatan apa apa. Tapi benda itu hasil riyadhoh sesepuh pak Yadi dulu. Dan biasa dijadikan symbol untuk memohon keselamatan pada Allah. Salah satunya ada yang namanya Besi kuning. Dari kata qona’ah artinya menerima apapun yang diberikan Allah pada kita !” kataku.
“Jadi membawa benda benda begitu bukan sirik pak ?” Tanya Ardian padaku.
“ Tergantung niat kamu, kalo kamu menganggap benda itu punya kekuatan itu sirik, tapi jika kamu meyakini kekuatan itu hanya Allah yang memiliki maka tidak Sirik. Seperti hanya kalian membawa senjata api, jika kamu menganggap senjata itu yang melindungi kalian itu salah. Tapi senjatta itu bisa kamu gunakan sebagai alat, melindungi diri.” Kataku lanjut.
“ Tapi kalo senjata kan jelas bisa untuk bertahan dari serangan musuh pak.” Tanya Dicky.
“ Iya tapi tidak menjamin kamu selamat, benda itupun tidak menjamin kamu selamat tapi bisa menjadi wasilah atau perantara saja. Karena benda itu hanyalah benda yang juga makhluk tidak punya kekuatan apa apa.” Agak sulit juga aku menjelaskan kepada mereka.
Namun akhirnya mereka mau menerima dan membawa benda benda peninggalan kakeknya pak Yadi itu. Dengan satu pesan penting bahwa itu hanyalah benda peninggalan yang harus di hormati bukan untuk dipuja dan dianggap memberikan keselamatan.
Setelah itu pak Yadi mohon pamit pulang, karena situasi dianggap aman, sampai beliau pamit pulang.
“ Baiknya saya pulang saja dulu pak, sudah malam. Semoga sampai besuk pagi semua aman terkendali.” Pamit pak Yadi.
Namun belum sempat aku menjawab tiba tiba terdengar suara seperti batu batu yang menghujani rumahku. Bergelotak dan dalam jumlah yang yang banyak.
“ Maaf pak Yadi, terpaksa saya tahan jangan keluar dulu. Maaf ini bukan hujan batu biasa, tapi ini serangan supra natural, Ardian kamu coba gunakan kemampuanmu, melihat sekitar rumah ini ada apa. Dari dalam rumah saja gak usah keluar.” Kataku.
Kemudian Ardian memejamkan matanya sesaat setelah itu dia berkata.
“ Rumah ini dikepung makhluk Astral pak.” Kata Ardian.
...bersambung...
Satu komen readers adalah seribu semangat bagi Author.
Terimakasi atas dukungan dari Readers semuanya.
Author akan berusaha terus memperbaiki, bahasa retorika dan lainya.
Semoga dapat menghibur Readers semua.
...Jangan lupa dukungan berupa :...
...Like...
...Komen...
...&...
...Vote nya...
...Terimakasih...
...🙏🙏🙏...
__ADS_1